Amazon Deals

Tuesday, August 2, 2011

PILKADA / PILKADAL / DEMOKRASI SEMU / DEMOCRAZY

Pilkada / Pilkadal

Pilkada adalah singkatan dari Pemilihan Kepala Daerah. Pada beberapa kesempatan yang bersifat informal, terkadang diplesetkan menjadi Pilkadal karena orang-orang yang dipilih bisa jadi berhati kadal. Kata yang ngomong sih, karena siapapun yang terpilih, toh kita-kita juga yang bakal dikadali. Tentunya pemikiran seperti ini adalah pemikiran yang negatif dan kurang baik untuk ditiru.


Manfaat Pilkada

1. Dengan adanya pilkada, ada banyak manfaat yang dapat dipetik masyarakat di antaranya:
2. Dapat duit, sembako, bahkan HP gratis
3. Terjadi bila ada calon yang gemar 'money politic' melalui serangan fajar.
4. Menciptakan lapangan pekerjaan baru sebagai juru kampanye, tukang cetak sablon dan tukang jual suara.
5. Buat orang susah bisa dapat tambahan t-shirt keren, buat orang berada bisa nambah kain buat lap meja.
6. Dapat hiburan gratis
7. Khususnya saat menonton acara 'debat' di TV.


Siapa Aja Yang Bisa Ikut Pilkada ?

Orang parpol, mau orang Jakarta kek, mau orang Papua kek, yang penting diberi ijin ama yang punya parpol bisa ikutan pilkada di daerah lain.
Artis, mau pelawak kek, artis panas kek, penyanyi kek, bisa ikutan, asal... cukup jadi wakil, titik !
Tentara, tentu saja boleh, sapa yang berani nolak orang yang bawa bedil? umumnya bekas tentara yang haus darah kekuasaan, biasa merintah orang jadi saat pensiun tapi masih mau merintah orang lagi.
Anggota DPR, mungkin inilah namanya korupsi jabatan, udah jelas-jelas dipilih rakyat untuk jadi anggota DPR eh masih aja mau ikutan lagi pemilihan. ah Indonesia gitu lho mana sempat merhatiin soal begituan?
Orang ahli, ahli apa saja, mulai ahli ngatasin banjir (katanya), sampe ahli korupsi, ahli nipu rakyat, ahli gusurin rumah orang juga bisa ikutan

Contreng atau Coblos?

Setelah mencoblos dinilai tidak kadalwi karena para calon kadal tidak rela fotonya ditusuk seperti orang sedang mainan voodoo, padahal modalnya cuma paku. Sistem contreng lalu diperkenalkan, lengkap dengan pulpen, tapi ternyata fotonya para calon kadal pada dicoreti gambar mesum, dan pulpennya pada dimaling. Akhirnya untuk pilkadal selanjutnya kertas suara akan diganti menjadi bahan stainless steel lengkap dengan alat las karbit juga kacamata las.


##################################################
Pilkadal Di Negeri Dongeng

sebuah novel yang penuh sindiran kepada kalangan yang hanya peduli pada kemuliaan tahta, namun tak peduli pada jeritan rakyat jelita...
-Afifah Afra-
Pilkadal di Negeri Dongeng (PND). Dari judulnya pasti temen-temen sudah pada tau apa isi dari novel yang satu ini. Kalo gitu gak usah baca donk? Eit...jangan pergi dulu, lanjutin bacanya hehehe...
Buku---dengan sampul hitam bergambar kadal di atas kotak Pilkadal---ini menarik untuk dibaca siapapun. Seperti kata Mbak Afra ”Buku ini wajib dibaca para politisi, calon politisi, atau sekedar rakyat biasa yang peduli dengan sesama” dan statement itu bener!
Berbagai gambaran realita dan kata-kata sindiran berhamburan. Hampir di setiap jengkal tulisan selalu ada sentilan-sentilan yang membuat pembaca meringis, senyum sinis, miris dan akhirnya menyimpulkan Negeri Dongeng ini adalah........
Negeri Dongeng, gambaran sebuah negeri yang sebenarnya kaya raya, tapi ternyata menyedihkan---tau lah gambaran negeri mana yang dimaksud---Buku PND mengisahkan negeri yang sedang mengalami kehebohan bernama Pemilihan Bupati. Tiga pasang calon yang dikandidatkan menduduki kursi panas (halah...)
Suryo Buwono, Bupati yang menghambakan hidupnya dengan ramalan dan hal-hal klenik, berpasangan dengan Siti Aminah, seorang cucu Kyai terhormat.
Jaka Lesmana, wakil Bupati tampan yang dipasangkan dengan wanita yang tak lain adalah kekasih gelapnya sendiri, Lestari.
Tugino, Pengusaha yang nyleneh yang berani memberi sambutan nasi jagung untuk sang bupati (Suryo Buwono), dipasangkan dengan Bahtiar seorang pejabat ’lurus’ yang prihatin dengan kondisi negeri.
Gegap gempita pilkadal ini ternyata tidak berpengaruh kepada Slamet, sosok rakyat cilik yang terhimpit berbagai masalah plus musibah—komplit---yang tak henti menerjang kehidupannya,
...tapi itulah buah dari kemiskinan. Kematian bukan sesuatu yang ditangisi, tapi malah bisa menjadi solusi. Karena kematian bisa menjadi pengurangan anggaran, kematian dianggap menjadi penambah rizki yang masih hidup.
---kutipan dari buku PND--
Tokoh Slamet dikisahkan di setiap sela-sela kehebohan Pilkadal, tokoh yang berjuang banting tulang demi sejumput uang di antara berhamburan uang yang di’buang’ untuk mensukseskan calon.


##################################################
Pilkadal: Merusak Persatuan Bangsa

emilihan Kepala Daerah secara Langsung (Pilkadal), yang "diluncurkan" seiring dengan pelaksanaan Pilpres yang juga langsung beberapa waktu lalu. Katanya, Pilkadal dilaksanakan agar warga dapat langsung memilih pemimpinnya. Ini yang disebut demokratis.


Demikian diungkapkan Brodin, sang lakon saat ngopi di warung mbah thoyib bersama sejawatnya Ka Djin, Ka Chung dan Ka Mief.


"Tapi Din, dibeberapa daerah kok malah rusuh. Bahkan di Depok, hasil Pilkadal dianulir," protes Ka Chung.


"Itulah proses pembelajaran demokrasi. Jika tidak maka Indonesia tidak akan berkembang," bantah Brodin.


"Demokrasi lagi . Demokrasi lagi yang lain dong alasannya," saut Ka Djin.


Sejenak perbincangan mereka terhenti, Brodin menghisap rokoknya dalam-dalam sementara yang lain masih nyeruput secangkir kopi. Perbincangan mereka diilhami oleh kejadian-kejadian yang terjadi di beberapa daerah. Diantaranya, di Banyuwangi. Sebelum pelaksanaan Pilkadal, "aroma" perseteruan sudah mencuat. Termasuk isu agama juga digunakan. Kini, usai Pilkadal Banyuwangi, giliran anggota Dewan tidak menerima hasilnya.


Kemudian lagi, di Jember. Bahkan Kantor KPUD menjadi sasaran amuk massa, sehingga rusak. Itu beberapa catatan yang masih "terekam" di pikiran mereka. Sebenarnya tidak hanya di dua tempat itu, didaerah lain pun sempat memanas. Beberapa pendukung cenderung untuk "adu fisik" dan yang lebih mengherankan lagi Kantor KPUD ada yang diduduki. Akibatnya anggota KPUD ada yang "lari" menyelamatkan diri.


"Kalau demikian, apa bisa dikatakan demokrasi," ujar Ka Chung.


"Saya khan sudah menegaskan, itu sebagai prses pembelajaran," tutur Brodin menirukan logat anggota Dewan.


"Nah! Kalau melihat serentetan peristiwa itu, perlu dipertanyakan arti demokrasi. Sehingga tidak salah persepsi satu dengan yang lain," kata Ka Mief dengan bijaksana.


Untuk itu, lanjut Ka Mief -yang masih berstatus mahasiswa sebuah PTS ternama di kotanya ini- pelaksanaan Pilkadal saat ini perlu dikaji, dievaluasi dan diramesi. Sehingga pada tahun-tahun berikutnya -jika Pilkada masih langsung- tidak terjadi "adu massa", adu pendukung atau hanya memperbesar tim sukses saja. "Tapi persatuan dan kesatuan bangsa serta perdamaian dan kebersamaan warga juga harus dipikirkan. Jangan hanya memburu 'aku harus bisa ' eh salah aku harus menang! saja," tegas Ka Mief yang juga gandrung demo ini.


"Bener itu. Pasalnya, banyak warga yang usai Pilkadal malah 'plirak-plirik' sesama tetangga. Jadi perlu dikaji ulang pelaksanaan Pilkadal itu," tambah Ka Djin.


"Nah itu yang seharusnya kamu tanyakan, kamu ungkapkan," ujar Brodin menyetujui ungkapan sang aktivis.


Sekarang kita kembalikan kepada mereka para penguasa. Pelaksanaan Pilkadal tetap dipertahankan dengan mengorbankan persatuan dan menumbuhkan bibit-bibit permusuhan. Atau dikaji dan dievaluasi. Jika tidak layak diteruskan, ya distop dulu di daerah-daerah yang belum melaksanakan Pilkadal. Daripada membawa korban yang sis-sia. Tentunya para petinggi alias penguasa harus intospeksi dan belajar dari daerah yang sudah melaksanakannya. Sehingga tidak menambah daftar hitam bangsa.


Bagaimana menurut Saudara? ***


##################################################
Menurut penulis seharusnya indonesia tidak menganut demokrasi dari amerika yang disamarkan dengan nama demokrasi pancasila yang notabene tidak cocok dengan kultur orang timur (asia pada umumnya dan indonesia pada khususnya).
atau apakah sebaiknya indonesia ahrus dikembalikan ke musyawarah untuk mufakat?
ataukah harus dikembalikan ke sistem kerajaan pada era majapahit dahulu yang notabene adalah masa emas nusantara?

No comments:

Post a Comment