Amazon Deals

Tuesday, August 2, 2011

Self Defence / Beladiri

Beladiri, disadari atau tidak, merupakan fitrah manusia. Sifat dasar manusia adalah ... beladiri. Sejak kita lahir, sang bayi sudah melakukan proses 'beladiri'. Bagaimana paru-parunya berusaha menyesuaikan dengan oksigen alam terbuka. Kemudian proses-proses ini berlanjut hingga seusia kita sekarang. Tiada henti. Jadi, beladiri adalah fitrah. Sesuatu yang sudah diberikan dari sononya.

Pada kenyataannya, hidup adalah proses yang amat rumit. Di dalam proses tersebut, manusia melakukan apa yang disebut dengan 'mersudi', yakni proses mencari. Ya mencari pengetahuan, mencari pemahaman, mencari ketenangan, mencari kebahagian, dan sebagainya. Semua proses diawali dengan mersudi, dengan mencari. Bukankah pengetahuan tumbuh dari proses pencarian? Teknologi canggih muncul sebagai hasil pencarian. Apa yang dicari, bergantung pada nawaitu, pada niat. Yang dicari juga ada yang obyek kasat mata dan ada yang tidak kasat mata. Mencari pacar, itu obyek kasat mata. Tetapi mencari pemahaman matematika, tidak berwujud. Hal-hal seperti pemahaman, rasa, akal, adalah sesuatu yang tidak berwujud. Tapi ia juga melibatkan proses pencarian.

Dengan demikian, falsafah MP yang 'mersudi' sangat sesuai dengan fitrah manusia. Dengan mengikuti alamiahnya sifat manusia yang senantiasa mencari, maka proses berlatih diharapkan menjadi lebih mudah. Ini yang kadang kurang disadari.

Pada MP, ketika diajarkan cara gerak dasar memukul, mata melihat, otak merekam. Kemudian diwujudkan dengan tindakan, mengikuti gerakan pelatihnya. APakah cukup demikian? Ternyata tidak. Saat melakukan gerakan berulang-ulang, terjadi proses 'mersudi'. Ada apa dengan gerakan? Disitu kita melakukan pencarian. Pada akhirnya, ketika pencarian pemahaman itu muncul, maka gerakan kita menjadi lebih tajam, lebih keras, lebih bermakna dari sebelumnya dan lebih baik dibanding yang tidak mersudi.

Secara umum, kehidupan manusia adalah kehidupan yang berisi pencarian. Mau disadari atau tidak, demikianlah adanya. Apa yang dilakukan oleh kita, semuanya adalah proses pencarian. Manusia sudah tidak bisa mencari lagi kalau ia sudah bertemu kematian. Selama belum mati, ia pasti akan terus 'mencari', seumur hidupnya.

Banyak cara di dalam 'mencari'. Terutama dalam beladiri, proses 'pencarian' bisa sangat berbeda satu sama lain, meski hasilnya bisa jadi sama. Keragaman tidak lepas dari intinya. Para biksu, pendeta, ulama, sufi, melakukan proses 'mersudi' melalui semedi atau meditasi atau tirakat. Caranya berbeda, tetapi hasil akhirnya bisa jadi sama.

Mencari, tidak hanya dengan latihan. Ia bisa dengan 'membaca'. Apa yang dibaca? Ya buku pengetahuan, pengalaman orang lain, pengalaman diri sendiri, dan termasuk ... 'membaca' alam sekitar. Maknanya bisa luas sekali karena 'sesuatu' yang dicari juga bisa sangat beragam.

'tindakan yang benar' dalam konteksi MP adalah tindakan yang didasari pada 'roso sak jroning roso'. Tindakan yang didasari pada hati kecil, pd mata hati. Pikiran bisa dibohongi, dan bisa berbohong, tapi hati kecil tidak. 'Roso sak jroning roso' tidak mungkin berbohong. Ia merupakan kebaikan dan akan selalu baik mas.

Pada hormat MP, yang menunjuk ke arah kening adalah tangan kiri. Itu simbol dari jalan yang (cenderung) bisa kurang baik. Arah kiri sering disimbolkan dengan arah yang (cenderung) kurang baik. Akal bisa diakali. Nalar bisa diutak-atik. Hasil dari akal bisa jadi tidak baik, atau menghasilkan sesuatu yang tidak baik. Tapi tangan kanan mengepal pada dada, mengarah pada rasa/roso, menunjukkan kalau rasa/roso harus kuat, harus digenggam. Itulah 'supir'-nya. Akal tanpa roso, sering berakibat buruk. Sering ngakali orang. Tangan 'kanan' sering disimbolkan dengan kebaikan. Itu artinya kalau 'roso sak jroning roso' itu akan selalu baik. Karena ia fitrah dari Tuhan.

Berlatih silat, harus dimulai dari penanaman dan pemahaman filosofi yang benar mas. Dengan demikian, apa yang kita lakukan akan jadi lebih bermakna, baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan di sekitarnya.

salam.

----------------------------------------------------------------------------------------------------
Tapi bener kok, saya orang biasa saja. kebetulan sih memang selain belajar bela diri, selaku muslim saya juga mempelajari tasawuf agar bisa me-manage amarah dan segala sifat buruk dan membersihkan hati. Soalnya menurut saya pribadi sih seorang praktisi bela diri memang butuh pengendalian hati yg ekstra. Musuh terberat adalah ego dan hawa nafsu kita sendiri, dan seorang petarung terhebat adalah orang yang mampu mengalahkan egonya sendiri.

Sebagai muslim saya meneladani kisah riwayat Sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w yang membuang pedangnya di tengah pertempuran dan batal memenggal kepala musuhnya yg sudah terdesak. Hal itu terjadi karena musuhnya meludahi wajah Sayidina Ali sehingga beliau menjadi marah, dan Sayidina Ali tidak jadi memenggal kepala musuhnya karena beliau bertarung dan membunuh BUKAN KARENA AMARAH, melainkan karena Allah SWT.

----------------------------------------------------------------------------------------------------
Ya, saya sutejo dengan anda. Menghindari pertarungan bagi saya pribadi adalah pilihan terbaik. Bila saya di jalan dipalak preman di bus atau dimanapun, kalo cuma minta uang 5 ribu atau 10 ribu, mending saya kasih deh. Sambil didoain semoga dia sadar. Nah lain urusan kalo dia maksa minta semua (isi dompet + HP), kalo bisa sih kabur. Tapi kalo emang bener2 kejepit, baru deh lawan.

----------------------------------------------------------------------------------------------------
"Kalau bertahan terus kita tak akan bisa maju. Jadi ada saatnya bertahan, ada saatnya menyerang. Pengandaiannya seperti itu," katanya.

Contoh itu diambil SBY untuk mengandaikan globalisasi bagi Indonesia. Kerap kali, orang menganggap globalisasi itu sebagai ancaman, maka semua orang berlomba-lomba bertahan. Padahal, lanjutnya, serangan globalisasi bisa dilihat sebagai peluang. Mereka yang berdaya sainglah yang bisa meraih kemenangan.

"Yang tidak siap ya akan menjadi loosers. Saya senang seperti itu gimana kita memaknai globalisasi. Kalau kita lihat sebagai ancaman, kita lupa ada kesempatan," tambahnya.

Namun demikian, SBY tetap memberikan apresiasi kepada tim sepak bola Indonesia. "Memang kelasnya beda jauh. Jadi jangan anggap remeh PSSI. Kan masih bisa masukkan satu poin Makanya saya berdiri tepuk tangan," kata SBY disambut tawa para hadirin.


----------------------------------------------------------------------------------------------------
Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan "kenapa kok ane harus sekolah gan?"
Kira-kira jawaban mas wirosablenx apa tuw?
Bagi mereka yang merasa bersekolah ada gunanya, maka ia akan sekolah. Bagi yang tidak? Ia tidak perlu sekolah. Sebagaimana sekolah yang mengajarkan ilmu pengetahuan, beladiri juga mengajarkan ilmu pengetahuan. Ingin dipelajari atau tidak, itu masalah pilihan.

Semoga membantu.

----------------------------------------------------------------------------------------------------
Ingatlah pesan ini:

Kalau kamu bisa merusak, apa kamu bisa memperbaiki?
Kalau kamu bisa menyakiti, apa kamu bisa mengobati?
Kalau kamu bisa membunuh, apa kamu bisa menghidupkan?

----------------------------------------------------------------------------------------------------
"Martial artists are trained, fighters are born"

----------------------------------------------------------------------------------------------------
salah satu master dalam kyokushin pernah bilang kalo beladiri tu kayak celana dalam. maksudnya, beladiri tu sebisa mungkin diumpetin dan jangan diumbar kemana - mana.
selain reflek ada juga yg namanya 'rasa' kok

'rasa' adalah reflek yang disadari..
jadi jika udah memiliki reflek, untuk tahapan selanjutnya adalah 'rasa'

sedangkan aikido melatih 'rasa'

bro, bukannya lbh bagus beladiri tangan kosong ? kalau kita belajar beladiri senjata, ga tiap saat kita bisa bawa / ketemu senjata di jalan kan ? kalau misalnya kebetulan kita berada di tanah kosong.. kita ga bisa manfaatin benda2 dunk buat beladiri ?

----------------------------------------------------------------------------------------------------
intinya, pada akhirnya...bertarunglah hanya saat kita siap untuk kehilangan segalanya, saat bertarung jangan punya rasa iba, jika punya rasa iba..jangan bertarung...saat kita belum siap menerima kehilangan segalanya, jangan bertarung.
Menebarkan rasa takut adalah hal biasa yang dapat dilakukan oleh seorang pendekar yang mumpuni.
Menebarkan kasih sayang adalah hal yang luar biasa yang dapat dilakukan oleh seorang pendekar yang mumpuni.

Jadilah pendekar yang luar biasa.
salam 

No comments:

Post a Comment