Amazon Deals

Wednesday, August 3, 2011

SERANGAN BURUNG / BIRD STRIKE

SERANGAN BURUNG / BIRD STRIKE

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah

Bird Strike adalah tumbukan antara hewan terbang dan kendaraan terutama pesawat terbang dengan burung atau unggas terbang, tingkat kecelakaan terhadap Bird Strike cukup kecil, rasionya yaitu 1 insiden fatal dalam 1.000.000.000 (Satu Milyar) jam penerbangan. Pada kebanyakan kasus (65%) Strike Bird menyebabkan kerusakan kecil di pesawat terbang. Kebanyakan insiden yang terjadi adalah tertabraknya burung ke kaca depan pesawat terbang atau tersedotnya burung kedalam mesin pesawat. Jumlah kerusakan pesawat terbang di amerika serikat yang disebabkan oleh kecelakaan ini pertahunnya diperkirakan sebanyak 400 milyar dollar amerika, sedangkan jumlah kecelakaan di seluruh dunia yang di sebabkan oleh Bird Strike terhadap pesawat terbang komersial diperkirakan sudah mencapai 1,2 milyar dollar amerika tentunya angka ini bukanlah angka yang kecil dan herus mendapatkan perhatian serius.
Kenapa Bisa Begitu Dahsyatnya Bird Strike?
Menurut Rumus :
Jika M adalah massa, V adalah kecepatan relatif penjumlahan dari kecepatan burung + pesawat, walaupun massa burung itu kecil tetapi kalau kecepatan pesawat terbang tersebut sangat cepat maka energi kinetik yang dihasilkan akan sangat besar.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana cara menangkal atau menanggulangi birdstrike Di Lingkup Bandar Udara Soekarno – Hatta Provinsi Banten?
2. Apakah pemasangan alat pengusir burung di bandara dan pemeliharaan burung pemangsa (Bird Of Prey) berpengaruh atau tidak?
3. Apakah pemasangan ram anti burung dan pendesainan ulang bilah – bilah kipas pada mesin propeller atau mesin jet yang lebih tahan akan bird strike dapat berpengaruh atau tidak?
4. Apakah dengan penggeseran habitat burung ke suaka marga satwa terdekat yaitu di pulau Pramuka dengan cara membuat habitat buatan atau pembuatan tempat bersarang atau penyediaan tempat makan burung akan dapat berpengaruh atau tidak?

1.3 Batasan Masalah

1. Kecelakaan pesawat atau tertabraknya burung oleh pesawat (Bird Stike).
2. Pesawat yang digunakan adalah semua jenis pesawat penerbangan sipil maupun militer baik yang berawak (Manned Aerial Vehicle) maupun yang tidak berawak (Unmanned Aerial Vehicle), dan uji coba tabrakan dilakukan dengan bantuan simulasi komputer dan dilakukan juga secara simulasi di lorong angin milik PT . DIRGANTARA INDONESIA di bandara Hussein Sastranegara di Bandung – Jawa Barat.
3. Uji coba pengusiran burung dilakukan di lingkungan Bandar Udara Soekarno – Hatta Provinsi Banten.
4. Penggeseran habitat burung dilaksanakan di suaka marga satwa pulau Pramuka Provinsi DKI Jakarta.
5. Pedoman yang digunakan adalah ICAO dan ANNEX dan peraturan pemerintah tentang suaka marga satwa.

1.4 Tujuan Penelitian

1. Membandingkan jumlah burung yang ada setelah pelaksanaan pengusiran di lingkungan Bandar Udara Soekarno – Hatta Provinsi Banten.
2. Membandingkan antara pesawat standard dan yang sudah dimodifikasi dengan pemasangan ram anti burung pada saluran air intake pesawat bermesin jet dan pendesainan ulang bilah – bilah propeller pada pesawat bermesin propeller dan bilah- bilah kipas pada pesawat bermesin jet berpengaruh terhadap Bird Strike.
3. Membandingkan jumlah burung di sekitar lingkungan Bandar Udara Soekarno – Hatta Provinsi Banten sampai radius 10 Km sebelum dan setelah pelaksanaan pengusiran burung dan penggeseran habitat burung.

1.5 Kegunaan penelitian

1. Mengurangi kerugian dan angka kecelakaan terhadap Bird Strike.
2. Memberikan informasi mengenai pengaruh pemasangan alat pengusir burung dengan memanfaatkan frekuensi komunikasi burung.
3. Memberikan informasi mengenai pengaruh pemasangan ram anti burung pada saluran air intake pesawat bermesin jet dan pengaruh desain ulang bilah – bilah propeller pada pesawat bermesin propeller dan bilah- bilah kipas pada pesawat bermesin jet berpengaruh terhadap Bird Strike.
4. Memberikan informasi pengaruh pergeseran habitat alami burung ke pulau Pramuka terhadap populasi burung disekitar lingkungan Bandar Udara Soekarno – Hatta Provinsi Banten sampai radius 10 Km.








BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Deskripsi Masalah

Bird Strike adalah tumbukan antara hewan terbang dan kendaraan terutama pesawat terbang terutama burung atau unggas terbang, tingkat kecelakaan terhadap Bird Strike cukup kecil, rasionya yaitu 1 insiden fatal dalam 1.000.000.000 (Satu Milyar) jam penerbangan. Pada kebanyakan kasus (65%) Strike Bird menyebabkan kerusakan kecil di pesawat terbang. Kebanyakan insiden yang terjadi adalah tertabraknya burung ke kaca depan pesawat terbang atau tersedotnya burung kedalam mesin pesawat. Jumlah kerusakan pesawat terbang di amerika serikat yang disebabkan oleh kecelakaan ini per tahunnya diperkirakan sebanyak 400 milyar dollar amerika, sedangkan jumlah kecelakaan di seluruh dunia yang di sebabkan oleh Bird Strike terhadap pesawat terbang komersial diperkirakan sudah mencapai 1,2 milyar dollar amerika tentunya angka ini bukanlah angka yang kecil dan herus mendapatkan perhatian serius.
Bird Strikes kebanyakan terjadi saat pesawat sedang melakukan take off atau landing atau waktu terbang di ketinggian rendah atau sekitar 6000 meter sampai dengan 9000 meter diatas permukaan tanah. Unggas dari jenis angsa pernah terlihat pada ketinggian 10.175 meter diatas permukaan laut, ini adalah rekor unggas terbang. Kebanyakan kecelakaan terjadi di dekat airport atau didekatnya (Menurut ICAO 90%) selama take off dan landing. Merujuk kepada buku manual FAA terhadap manajemen margasatwa 2005, sedikitnya sebanyak 8% kejadian serangan terjadi dibawah ketinggian 900 meter dan 61% terjadi dibawah ketinggian 30 meter.

    Didalam Annex 14 Third edition July 1999 Halaman 125 Pasal 9.5 Dikatakan sebagai berikut :
1.1 Bird hazard reduction
1.1.1 Recommendation.— The bird strike hazard on, or in the vicinity of, an aerodrome should be assessed through:
a) the establishment of a national procedure for recording and reporting bird strikes to aircraft; and
b) the collection of information from aircraft operators,airport personnel, etc. on the presence of birds on or around the aerodrome.
Note.— The ICAO Bird Strike Information System (IBIS) is designed to collect and disseminate information on bird strikes to aircraft. Information on the system is included in the Manual on the ICAO Bird Strike Information System (IBIS).

1.1.2 Recommendation.— When a bird strike hazard is identified at an aerodrome, the appropriate authority should take action to decrease the number of birds constituting a potential hazard to aircraft operations by adopting measures for discouraging their presence on, or in the vicinity of, an aerodrome.

Note.— Guidance on effective measures for establishing whether or not birds, on or near an  erodrome, constitute a potential hazard to aircraft operations, and on methods for discouraging their presence, is given in the Airport Services Manual, Part 3.
Manual on the ICAO Bird Strike Information System (IBIS)
(Doc 9332)
1.1.3 Recommendation.— Garbage disposal dumps or any such other source attracting bird activity on, or in the vicinity of, an aerodrome should be eliminated or their establishment prevented, unless an appropriate study indicates that they are unlikely to create conditions conducive to a bird hazard problem.

Airport Services Manual, Part 3.

1.2 Bird hazard reduction
2.2.1 The meeting acknowledged the substantial progress made by various States as a result of
emphasis being put on the conduct of ornithological studies before deciding on the measures to avert the problem. Bird hazard control units have been established at several airports with varying level of resources based on the seriousness of the problem. Environmental management within the aerodrome and its environs has been recognized as a necessary tool towards effective reduction of the hazard.
Nevertheless, it was evident that more effort needs to be deployed as bird strikes are still recorded. Neighbouring States were advised to consider cooperative arrangements where possible to deal with the hazard especially in those cases where migratory birds were the predominant culprit and where because of the geographical realities of the States, such birds could traverse from one State to the other in a short time
2.2.2 With regard to reporting of bird strikes to the ICAO Bird Strike Information System (IBIS), it was agreed that the situation had not improved and that States must be reminded to put in place effective reporting systems not only for purposes of their own risk assessment but also for their required input to the global database. The meeting therefore reaffirmed the relevance of APIR

1.3 Bird Strike (Pengusir Burung)
_ Bird Strike (Pengusir Burung) merupakan hasil penelitian LIPI yang pada tahun 2005 telah diuji coba di Bandara Soekarno Hatta (Jakarta). Pada Tahun 2006 dengan penyempurnaan tertentu, karena jenis burung berbeda, akan diuji coba di Bandara Udara Juanda, Surabaya.
Disamping kegiatan-kegiatan yang telah dideskripsikan tersebut, dalam kurun waktu 2001 – 2006 telah dihasilkan sejumlah kajian, desain dan prototipe.









BAB III
METODOLOGI

Bird hazard reduction
1.1.1 The meeting acknowledged the substantial progress made by various States as a result of
emphasis being put on the conduct of ornithological studies before deciding on the measures to avert the problem. Bird hazard control units have been established at several airports with varying level of resources based on the seriousness of the problem. Environmental management within the aerodrome and its environs has been recognized as a necessary tool towards effective reduction of the hazard. Nevertheless, it was evident that more effort needs to be deployed as bird strikes are still recorded. Neighbouring States were advised to consider cooperative arrangements where possible to deal with the hazard especially in those cases where migratory birds were the predominant culprit and where because of the geographical realities of the States, such birds could traverse from one State to the other in a short time
1.1.2 With regard to reporting of bird strikes to the ICAO Bird Strike Information System (IBIS), it was agreed that the situation had not improved and that States must be reminded to put in place effective reporting systems not only for purposes of their own risk assessment but also for their required input to the global database. The meeting therefore reaffirmed the relevance of APIRG/15 Conclusion 15/1: Bird
hazard control and reduction and developed the following draft conclusion.


2. EXISTING MEASURES FOR MANAGEMENT OF WILDLIFE AT JAKARTA’S AIRPORTS
2.1 In order to accumulate and analyze bird information at airports, the competent authorities established the information system for the management of wildlife of Jakarta civil aviation, which is composed of the following three subsystems.
a) Instant Inquiry System for Airport Birds
This system collected the pictures of main species of birds in Jakarta, the morphological and biological features of various birds, time of their stay in a region, their active time, food habits, quantity, degree of hazard to aircraft and prevention measures. The system provides ten types of inquiry in terms of picture, contour, color, quantity, hazard, food habits, season, remains, contents and bats, which make it convenient for the management personnel to easily and quickly identify birds in the sky above their local airports, and will offer relatively detailed introduction to the identified birds and the suggestion of preventive measures.
b) Airport Bird Information System
This system provides visualized information on topography, geomorphology and adjacent biological environment of civil airports and their bird information observation sub-areas, records information on patrolling time, meteorological conditions, bird information data, bird expelling measures and effects, monitors the bird information, bird prevention records, and activities of the main migrant birds which influence flight safety, of all sub-areas of Jakarta civil airports, and provides real time predictive bird infnrmation and preventive measures based on quantitative modelling of the threat of birds and predictive modelling of bird information.
c) Jakarta Civil Aviation Information Net for the Prevention of Bird Aircraft Strike
As a State level database of bird information and of bird strike, the core function of the network is to report, count up and analyze incidents of bird strike. The information net, taking the advantage of Internet, extensively collects, counts up and analyzes the information on incidents of bird strike, which fully reflects the characteristics of a non-punitive and voluntary reporting system. It provides timely and accurate information to CAAC, all regional administrations, airports and airlines.
2.2 nagement of Wildlife a) wildlife management technologies and measures, identified suitable methods to conduct ecological survey of airports istribution and preventive measures. b) nologies and facilities for the management of the main wildlife at airports, provide qualitative and quantitative evaluation results, identify advantages orward suggestions accordingly. c) gement of wildlife at airports, environment control, ecological surveys and bird and mammal control. pertinent suggestions for the management of wildlife at airports can be put forward. d) ecessary for the management of wildlife at airports, and will lay the foundation for strengthening the training of personnel for the management of f these personnel in this regard.
The Compilation of Technical Data of Jakarta Civil Aviation on the Ma
Guidance Manual for Management of Wildlife of Jakarta Civil Aviation The manual has provided guiding suggestions, methods and measures on the management of wildlife for airports, airlines, air traffic management departments and local governments, and made clear their respective responsibilities. It has systematically summarized and evaluated various and their adjacent areas, and in addition, summarized Jakarta’s dangerous birds, their life habits, d
Manual on Evaluation of Technologies and Facilities for the Management of Wildlife at Airports The manual has established a set of evaluation systems, which can be used to evaluate techand disadvantages of these technologies and facilities, and put f Manual on Evaluation of the Management of Wildlife at Airport This manual has established an evaluation system including the organization structure, rules and regulations and personnel for the manaThrough evaluation of the management of wildlife at airports,
Training Materials for the Management of Wildlife at Airports Training materials for the management of wildlife at airports are directed to the frontline personnel responsible for the management of wildlife at airports. They cover major knowledge n wildlife at airports, improving their work level and promoting the licensing o
2.3 The Accumulation and Sharing of the Experience in the Management of Wildlife 2.3.1 In order to bring the attention of airports to knowledge accumulation, manage wildlife at airports in a scientific manner, reinforce the research on the management of wildlife at airports, and collect, sort and share the experience of civil aviation in the management of wildlife, the Department of Airports of CAAC organized the activity of “Soliciting papers on the Management of Wildlife”. The subjects include work experience in the prevention of airport bird strike, effective measures for the prevention of birds at airports, relevant technologies of eradication of insects and rats and grass-cutting on airports, the techniques on the use of bird expelling facilities, ecological environment survey of bird information and effective preventive methods and measures, and introduction of experience of other countries with developed civil aviation in the management of wildlife at airports. The content of the papers received covers various aspectcs of the management of wildlife in civil aviation, including national legislation on the management of wildlife hazards, improvement of internal rules and regulations of civil aviation, the experience in the ecological control of airports and effective measures for prevention of specific types of dangerous birds
2.3.2 Bird strike incidents in Jakarta civil aviation have been collected and analyzed, so as to e rules on he occurrence of bird strike in Jakarta civil air transport, work out effective measures and issue them to all civil airports.

2.3.3 Seminars on the management of wildlife have been organized and personnel responsible for the management of wildlife and airport inspectors of all civil airports have been trained.countries with developed civil aviation in the management of wildlife at airports. The content of the papers received covers various aspaviation, the experience in the ecological control of airports and effective measures for prevention of specific types of dangerous birds. find th the occurrence of bird strike in China civil air transport, work out effective measures and issue them to all civil airports. for the management of wildlife and airport inspectors of all civil airports
3. W-UP MEASURES FOR STRENGTHENING THE MANAGEMENT OF WILDLIFE AT AIRPORTS
aviation will make more efforts in this regard to improve the safety level of air transport. Through the above series of measures, the risk of wildlife aircraft strike has been effectively reduced. 3.2 The improvement of legal and regulation system. Legislation will be enacted to make clear the responsibilities and obligations of the airport authorities, aircraft operators, air traffic management departments, air safety managemen
Relevant rules and regulations of civil aviation will be revised and improved, and relevant regulatory documents and management procedures formulated.
management of wildlife will be conducted, so as to identify defects and deficiencies in the prevention of wildlife strike and effectively improve the safety level of the system for the management of wildlife. training of the personnel responsible for the management of wildlife at airports will be organized and institutionalized. insti to help do a good job in the prevention of wildlife especially night birds and migrant birds. 3.6 The improvement and upgrading of the information system of wildlife management additional inquiry functions of the bird identification system inford information and bird strike incidents will be strengthened and the analyzing models of migration information of migrant birds will be established. 3.7 The establishment of bird identification lab to conduct the work of bird identification. A China civilA36-WP/219 TE/71 - 5 - ies which th exchanges both internally and internationally. A regular exchange mechanism on the management of wildlife will be established. National and regional seminars on the anagement of wildlife at airports will continue to be held and international cooperation and exchange ill be promoted at the same time.

Usir Burung, Selamatkan Pesawat Pengendalianburung di kawasan bandara menjadi syarat keselamatan penerbangan. DiIndonesia, alat pengusir burung baru ada di Bandara Soekarno-Hatta.Pengalaman tahun lalu itu masih mengendap dikepala Kapten Arief Budiman, 45 tahun. Di Bandara Eltari, Kupang, Nusa Tenggara Timur, sore baru saja bergulir, menggoreskan semburat merah senja. Kala itu Arief bertugas menerbangkan pesawat Boeing 737-200 milik Merpati, maskapai penerbangan tempat ia bekerja. Tujuannya Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Namun, mata Arief segera terpana oleh segerombolan burung kecil yang hinggap di landasan. Tatapannya tak putus. Setelah selesai memutarkan pesawatnya ke landasan, kerumunan burung tampak terbang menjauh. Arief lalu bersiap. "Ready for take-off," ucapnya kepada petugas menara. Lalu terdengar balasan, "Clear for take-off." Merasa aman, ia mulai menaikkan kecepatan pesawat secara bertahap. Tapi masalah datang saat kecepatan sudah melebihi 100 knot. Tiba-tiba gerombolan burung itu menukik kembali ke landasan, berhadapan langsung
dengan pesawat. Bruk-bruk-bruk! Tabrakan pun tak terelakkan. Kawanan burung itu ada yang menerpa kaca, juga masuk ke kedua mesin pesawat sekaligus. "Bunyi mesin terasa ada yang aneh," kata Arief. Bau amis dan gosong dari burung yang terpanggang di dalam mesin seketika
menyergap ke dalam pesawat melalui saluran air conditioner. Arief memutuskan menunda lepas landas. Ternyata keputusannya tepat. Bukan apa-apa, setelah dilongok, mesin pesawat memang mengalami kerusakan. Kejadian yang dialami Arief tak jarang dialami pilot-pilot lain. Tak hanya di Kupang, juga di bandara lainnya. "Bahkan ada rekan saya yang sudah take-off di Bandara Juanda terpaksa mendarat lagi akibat burung masuk mesin," tuturnya. Menurut Budhy Basuki, peneliti dari Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi, dan Metrologi (KIM) LIPI, insiden
seperti itu juga pernah terjadi di Bandara Soekarno-Hatta dari 2000 hingga 2001. Alhasil, PT Angkasa Pura II, sebagai pengelola Bandara Soekarno-Hatta, mendapat komplain dari beberapa maskapai penerbangan. Padahal, pencegahan bird strike-tabrakan pesawat udara dengan burung-telah menjadi syarat keselamatan penerbangan. Hal itu tertuang dalam dokumen International Civil Aviation Organization (ICAO) 9137-AN Part 3 tentang pengendalian dan pengurangan burung di landasan pacu bandara. Peristiwa itu akhirnya memicu PT Angkasa Pura II mengadakan kerja sama dengan Puslit KIM-LIPI. Maka, dari 2001 hingga 2003 LIPI mulai mengamati jenis burung di Bandara Soekarno-Hatta dan melakukan pengukuran guna menentukan spektrum frekuensi suara pesawat udara. Tujuannya, menemukan sensitivitas pendengaran burung sehingga dihasilkan alat yang mampu mengusir burung. Untuk menentukan sensitivitas burung, tim peneliti KIM-LIPI merekam spekrum frekuensi berbagai jenis pesawat, tak jauh dari lokasi berkerumunnya burung. Caranya dengan menempatkan mikrofon di dekat burung biasa berkumpul, sementara pesawat mendarat atau lepas landas. Hasilnya, suara pesawat yang diterima oleh burung tak membuat dirinya bergerak. "Ternyata rentang frekuensi suara
pesawat berada pada frekuensi rendah, kurang dari 100 Hz," kata Husein Avicenna Akil, Kepala Puslit KIM-LIPI. Padahal burung umumnya baru mulai mendengar suara pada frekuensi di atas 100 Hz. Tak mengherankan jika tingkat suara yang tinggi dari pesawat tak terdengar oleh burung. Dari pengukuran itu diketahui pula bahwa jenis burung yang banyak ditemukan di Bandara Soekarno-Hatta adalah burung kuntul kerbau dan blekok sawah. Lalu tim peneliti KIM-LIPI melakukan survei ke daerah Ciujung, Serang, Jawa Barat, tempat kedua jenis burung itu banyak bermukim. "Tujuannya," kata Husein, "untuk menemukan rentang frekuensi yang paling sensitive dan ambang batas rasa sakit pendengaran kedua jenis burung." Cara ini diyakininya cukup efisien untuk mengusir burung. Sebab, tanpa perlu membangkitkan suara terlalu keras, telinga burung sudah tersakiti. Dari pengukuran di Ciujung dapat dipastikan bahwa daerah frekuensi yang sensitif bagi kedua burung tersebut adalah 1,5 hingga 3 kHz, dengan tingkat tekanan suara minimal 85 dB (desibel). "Awalnya kami sempat menduga bahwa rentang pendengaran burung ada pada frekuensi ultrasonik. Ternyata asumsi itu salah," ujar Suwono, anggota tim peneliti dari Puslit KIM-LIPI lainnya. Hasil itu membuat tim Puslit KIM-LIPI
semakin penasaran mengembangkan alat yang dapat digunakan sebagai pengusir burung. Maka, dibuatlah dua model, yakni yang tak bergerak (fixed bird deterrent) dan yang bergerak (mobile bird deterrent). Sistem yang tak bergerak ini berupa tiang-tiang--setinggi 2 meter—yang  terpacak 100 meter di samping landasan. Jumlahnya ada enam, dan pada tiap tiang terpasang 10 speaker. Jarak antar-tiang 200 meter. "Jadi, area yang dijangkau oleh sistem ini sejauh 1,2 kilometer," kata Suwono. Tingkat tekanan suara yang dihasilkan sistem tak bergerak adalah 85 dB pada jarak maksimum 100 meter. Adapun daya jangkau speaker ke atas mencapai 100 meter. Suwono menambahkan, sistem ini dikendalikan secara wireless remote control oleh operator yang ada di menara (air traffic controller atau ATC). Sedangkan sistem yang bergerak memakai sebuah mobil. "Pada bagian atas mobil dipasang enam speaker yang memancar ke segala arah," kata Ahnan Maruf dari Puslit KIM-LIPI, yang juga terlibat dalam penelitian. Suara itu, tutur dia, dibangkitkan melalui sebuah genset. Konsekuensinya, operator di dalam mobil harus memakai pelindung telinga guna meredam berisiknya genset. Meski begitu, daya jangkau suaranya lebih jauh, yakni 200 meter, dengan tingkat tekanan suara 85 dB. Menurut Budhy, sistem tak bergerak dipasang di ujung landasan sebelah utara yang melayani penerbangan internasional. Penentuan itu berdasarkan tempat burung biasa berkerumun. Pemasangan dimulai pada Agustus 2003 dan selesai dua bulan kemudian. "Proses pemasangan dilakukan cepat karena akan ada audit dari
Association of Air Pacific Airlines (AAPA)," katanya. Audit, ujarnya, dilakukan karena asosiasi maskapai penerbangan itu ingin melihat apakah Bandara Soekarno-Hatta sudah melakukan penanganan bird strike. Biaya seluruh pemasangan Rp 800 juta. Harga itu, Budhy menjelaskan, sudah termasuk sistem tak bergerak, sistem bergerak, hingga pelatihan. "Tapi itu harga lama," katanya. Kini, alat pengusir burung tak bergerak itu diaktifkan secara periodik, yakni pagi, siang, dan sore hari. "Alat dibunyikan selama kurang lebih satu menit," ucap Hendarto S., Kepala Bidang Operasi Pengaturan Lalu-Lintas Bandara Soekarno-Hatta. Sistem bergerak yang memakai mobil diaktifkan pada malam hari. Namun, menurut dia, mobil itu sesekali membantu
wilayah yang tak tercakup oleh sistem tak bergerak. "Hasilnya cukup efektif untuk mengusir burung-burung yang berkeliaran di landasan pacu," ujarnya. Sayangnya, dari seluruh bandara di Indoensia, baru Bandara Soekarno-Hatta yang sudah memiliki alat pengusir burung. Itu pun hanya di ujung landasan sebelah utara dalam zona 1,2 kilometer. Bukan berarti rencana penambahan alat tak terpikirkan oleh pihak pengelola bandara. "Hal itu memang akan kita rencanakan," kata I Gusti Made Dordy, Direktur Operasional Teknik PT Angkasa Pura II. Namun, ia belum bisa memastikan kapan rencana itu dilaksanakan. Sejak 2004 lalu, tim KIM-LIPI sudah mendaftarkan alat tersebut untuk dipatenkan. Kini, sembari memperoleh paten, mereka terus menyempurnakan alat. Misalnya, memasang radio dan amplifier pada setiap speaker. Fungsinya agar operator di menara dapat mengaktifkan speaker pada tiang tertentu saja. "Kami juga berencana menerapkan peralatan ini di bandara-bandara lainnya," kata Husein. Bahkan pembicaraan serius sudah dibangun dengan salah satu bandara. Tujuannya: agar gerombolan burung tak membawa petaka. (Yandhrie Arvian - dikutip dari Majalah Tempo, Edisi 31 Oktober - 6 November 2005)

Upaya Menanggulanginya :
Untuk mengusir burung di beberapa bandar udara di luar negeri mereka memasang perangkat pengusir burung. Cara kerjanya adalah dengan pengeras suara yang menghasilkan suara pemangsa burung-burung yang ada di sekitar bandar udara. Dengan suara ini diharapkan burung-burung akan menyangka ada bahaya pemangsa di dekat mereka dan akan pergi ke tempat lain untuk menghindari pemangsanya tersebut.

Bandar udara tanpa perangkat canggih pun melakukan pengusiran burung dengan cara konvensional, biasanya dengan menembakkan senapan dengan suara yang keras untuk menakut-nakuti burung. Padahal suara pesawatpun sudah cukup keras untuk mengusir burung. Tapi karena biasanya suara pesawat terdengar setelah pesawat lewat maka pengusiran burung harus dilakukan sebelum pesawat lewat untuk lepas landas atau mendarat.

Cara lain untuk mengusir burung adalah dengan burung pemangsa (falcon dll), lampu, pyrotechnics (semacam kembang api), pesawat radio-controlled, lasers, anjing dan lain-lain.

TNO, sebuah institut penelitian di Belanda telah berhasil mengembangkan ROBIN (Radar Observation of Bird Intensity) untuk Royal Netherlands Airforce. ROBIN adalah hampir real-time monitoring system untuk memantau pergerakan burung terbang. ROBIN mengenali kumpulan burung dari radar systems yang besar. Informasi ini digunakan untuk penerbang AU Belanda sewaktu lepas landas dan mendarat. Tabrakan pesawat militer Belanda dengan burung berhasil dikurangi sampai 50 % dengan sistem ini. Sayangnya belum ada sistem yang sama yang digunakan oleh sipil.

Dari sisi penerbang, pada saat terbang sewaktu lepas landas dan biasanya sampai ketinggian 10 ribu kaki, dan pada waktu akan mendarat mulai dari 10 ribu kaki, penerbang menyalakan lampu pendaratan pesawat. Selain berguna untuk melihat dan dilihat oleh penerbang dari pesawat lain, guna yang lain adalah untuk menghindari burung. Biasanya mereka akan menyingkir jika ada cahaya yang lewat. Bahkan bagi manusiapun, dari kejauhan lampu pendaratan pesawat akan terlihat pertama kali sebelum kita melihat pesawatnya secara utuh.

SOURCE :
Annex, 14 Third edition July 1999.
Airport Services Manual, Part 3.
ICAO Bird Strike Information System (IBIS).


##################################################
AIRCRAFT BIRDSTRIKE AVOIDANCE RADARS

MERLIN and the MERLIN logo are registered trademarks of DeTect, Inc.Birdstrikes pose a significant safety hazard to aviation and, according to government studies, cost military and commercial aviation over $2 billion each year due to aircraft loss and damage, out-of-service delays and lost lives.

bulletDeTect's MERLIN™ Bird Radar System

MERLIN Aircraft Birdstrike Avoidance Radar System installtion at Bagram Airfield AfghanistanDeTect’s MERLIN Aircraft Birdstrike Avoidance Radar system is the most advanced, proven and widely used bird radar technology available for bird-aircraft strike hazard (BASH) management and for real-time detection and tracking of hazardous bird activity at commercial airports, military airfields, and military training and bombing ranges. The MERLIN bird radar is proven, production model technology with over 80 bird radar systems currently operating at sites worldwide in aviation safety and environmental applications with documented results in reducing bird strikes, increasing safety and reducing aircraft damage and delay costs. MERLIN is the most widely used bird radar system in the world and is the only production-model bird radar in operational use for real-time, tactical bird-aircraft strike avoidance at commercial airports and military airfields with a documented record in reducing birdstrikes. MERLIN is the only bird radar system to have been evaluated and certified for real-time, tactical flight safety use by the US government (includes USAF ATTLA certification) and is the only bird radar approved for use in a commercial airport control tower.

No comments:

Post a Comment