Amazon Deals

Thursday, October 27, 2011

720th Special Tactics Group

720th Special Tactics Group berkedudukan di Hulburt Field, Florida, yang terdiri dari Combat Controllers, Pararescuemen dan Combat Weathermen yang tergabung di dalam Special Tactics Team (STT) yang merupakan salah satu komponen yang paling terlatih dan serba bisa di bawah naungan Air Force Special Operation Command (AFSOC) dan bagian integral dari US Special Operation Command (USSOCOM). Dianggap sebagai salah satu karir yang paling menantang di tubuh Angkatan Udara AS, dengan jumlah personel berkualifikasi CCT diperkirakan kurang dari 400 personel. 720th STG sendiri memiliki tugas pokok untuk mengorganisasi, melaksanakan pembinaan kemampuan dan peralatan Special Tactics Squadron agar selalu dalam keadaan siap tempur (combat ready force) serta melaksanakan komando, pengendalian dan mengkoordinasikan pengerahan kekuatan Special Tactics Team di seluruh penjuru dunia untuk melaksanakan pengendalian darat ke udara dalam operasi khusus dengan cara:

a. Melaksanakan pengintaian, penilaian terhadap daerah sasaran dan pengendalian tempur dalam operasi penerjunan dan Serangan Udara Langsung.
b. Menyiapkan pencarian,penyelamatan dan evakuasi terhadap personel Angkatan Bersenjata AS yang hilang ataupun terluka dalam pelaksanaan tugasnya.
c. Sebagai komando pendukung dalam dalam pelaksanaan terjun tempur, selam tempur dan hal-hal lain yang berhubungan dengan Special Tactics.

Secara keseluruhan terdapat 6 Special Tactics Squadron (STS) dan 1 Combat Weather Squadron, seluruhnya berada di bawah komando langsung dari 720th Special Tactics Group, kecuali 320th Special Tactics Squadron yang berkedudukan di Kadena Airforce Base, Jepang dan 321st Special Tactics Squadron di RAF Mildenhall, Inggris, yang berada di bawah komando 352d Special Operations Group, US European Command.

Salah satu komponen yang terdapat di dalam 720th STG adalah Combat Controllers (Pengendali Tempur), unit kecil yang berkemampuan sangat tinggi, dengan motto “ First There”, atau yang pertama sekali tiba di sasaran. USAF Combat Controllers memiliki kemampuan untuk melaksanakan infiltrasi ke daerah sasaran untuk melaksanakan tugas sebagai berikut:

a. Menyiapkan zona pendaratan dan mengidentifikasi sasaran Serangan Udara Langsung.
b. Pengendalian Lalu Lintas Udara (PLLU).
c. Mendirikan jalur komunikasi, komando dan pengendalian dari daerah sasaran terhadap markas komando, pesawat udara dan pasukan darat.
d. Penghancuran rintangan yang terdapat sepanjang daerah pendaratan yang kiranya dapat mengganggu jalannya operasi penerjunan.

Dikarenakan tugasnya yang sangat kompleks, rahasia dan beresiko tinggi, Combat Controller dibentuk agar memiliki kemampuan:

a. Kemampuan infiltrasi ke daerah musuh dengan menggunakan teknik kemampuan terjun ketinggian pendek dengan static line, terjun bebas HALO dan HAHO.
b. Kemampuan infiltrasi air dengan menggunakan teknik selam tempur dan Combat Rubber Raiding Craft.
c. Kemampuan mengoperasikan special delivery vehicles, meliputi rough terrain motorcycles, specialized four wheel drive vehicles, LCR dan water craft.
d. Kemampuan infiltrasi ke daerah musuh dengan menggunakan teknik FRIES (Fast Rope Insertion Extraction System).
e. Kemampuan demolisi (diperlukan dalam rangka penghancuran rintangan yang berada di daerah penerjunan).
f. Kemampuan menembak (marksmanship), taktik regu komando dan intelijen tempur.
g. Kemampuan Pengendalian Lalu Lintas Udara (PLLU)
h. Kemampuan Keslap.
i. Kemampuan Komlek.

Tahapan pendidikan yang harus dijalani untuk menjadi seorang Combat Controller:

a. Tahap seleksi, dilaksanakan di Lackland AFB, Texas, lamanya 12 minggu.
b. Tahap selam tempur, dilaksanakan di Key West naval Air Station, Florida, lama pendidikan 5 minggu.
c. Tahap terjun para, dilaksanakan di Fort Benning, Georgia, lama pendidikan 3 minggu.
d. Tahap terjun bebas militer, dilaksanakan di Fort Bragg, North Carolina, lama pendidikan 4 minggu.
e. Tahap survival, dilaksanakan di Fairchild AFB, lama pendidikan 3 minggu.
f. Tahap PLLU, dilaksanakan di keesler AFB, Mississippi, lama pendidikan 16 minggu.
g. Tahap pengendali tempur, dilaksanakan di Pope AFB, North Carolina, lama pendidikan 12 minggu.

Bila kita total, lamanya waktu yang dibutuhkan untuk membentuk seorang Combat Controller yang siap pakai adalah 55 minggu, atau lebih dari setahun, dengan dibekali berbagai kemampuan khusus, terutama kemampuan infiltrasi Tri media, yang berarti mampu melaksanakan infiltrasi tidak hanya melalui udara (terjun) saja, tetapi juga melalui air dengan teknik selam tempur maupun Combat Rubber Raiding Craft, atau yang lebih dikenal dengan nama “Rubber Duck”.

Beralih ke Combat Controller yang ada di tubuh TNI AU, atau yang lebih dikenal dengan nama Tim Pengendali Tempur Paskhas, karena mengingat begitu kompleks dan uniknya tugas yang diemban oleh tim ini sebagai unit khas matra udara yang berperan dalam suatu operasi lintas udara, perlu kita pikirkan ke depan apakah perlu kita menggunakan pola pendidikan yang mengacu ke pola pembentukan USAF Combat Controller dalam proses pembentukan prajurit Pengendali Tempur, dalam rangka meningkatkan kualitas dan kemampuannya (versatility) , sehingga dapat meningkatkan peran, kemampuan dan harga jual Korpaskhas di dalam pelaksanaan operasi militer perang yang dilaksanakan oleh TNI.

Pemikiran lainnya adalah, personel-personel yang terdapat di kompi matra tiap-tiap batalyon Paskhas, baik yang berkualifikasi Pengendali Tempur, SAR Tempur, Jump Master dan Pengendali Pangkalan, dijadikan sumber personel untuk diseleksi menjadi anggota Detasemen Bravo Paskhas, yang memiliki tugas lebih mengarah kepada pelaksanaan perang nonkonvensional, kontra terorisme, operasi intelijen berupa penciptaan situasi dan kondisi di daerah musuh, pengumpulan data intelijen di belakang garis musuh, penggalangan terbatas (sabotase,gapdah, penculikan,dll), dan aksi khusus (direct action). Dengan dasar pemikiran tersebut diharapkan kedepan sumber prajurit Detasemen Bravo tidak lagi berasal dari prajurit Paskhas yang baru saja lulus dari Pendidikan Komando.

No comments:

Post a Comment