Amazon Deals

Tuesday, November 8, 2011

APA YANG KITA SOMBONGKAN?

Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun
keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja;
ia mengangkuti air
dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras.
Keringatnya
bercucuran deras.
Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, "Apa
yang
sedang Anda lakukan?"

Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan
tamu
yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat
yang bermanfaat
bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun,
setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi
orang yang hebat. Kesombongan saya
mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini
untuk membunuh perasaan sombong saya."

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita
semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa
kita sadari. Di tingkat
terbawah,sombong disebabkan oleh faktor MATERI. Kita
merasa lebih
kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada
orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor
KECERDASAN. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten,
dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor
KEBAIKAN.
Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih
pemurah, dan
lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan,
semakin
sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi
sangat mudah
terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi
sombong karena
kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya
berbentuk benih-benih
halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan.
Pada
tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam
bentuk harga diri
(self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence).
Akan tetapi, begitu
kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda
sudah berada
sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga
dan sombong
tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu EGO di
satu
kutub dan KESADARAN sejati di lain kutub. Pada saat
terlahir ke
dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya
apa-apa. Akan tetapi,
seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai
keinginan, lebih dari
sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra
kita selalu
mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.

Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju
kutub
ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada
dualisme ketamakan
(ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka).
Inilah akar dari
segala permasalahan.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan
menuju
KESADARAN sejati. Untuk bisa melawan kesombongan
dengan segala
bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita
lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada
hakikatnya kita bukanlah MAKHLUK
FISIK, tetapi MAKHLUK SPIRITUAL. Kesejatian kita
adalah spiritualitas,
sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di
dunia. Kita
lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan
mati dengan
tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita
melihat semua
makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan
lagi terkelabui oleh
penampilan, label, dan segala "tampak luar" lainnya.
Yang kini kita
lihat adalah "tampak dalam". Pandangan seperti ini
akan membantu
menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi
ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan
baik
yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah
juga demi diri
kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang
lain adalah juga demi
kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi
yang
kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah.
Energi itu
akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain.
Kebaikan yang kita
lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk
persahabatan, cinta
kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang
mendalam. Jadi, setiap
berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang
berbuat baik
kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita
sombongkan?

No comments:

Post a Comment