Amazon Deals

Tuesday, November 8, 2011

IMAM BUKHORI LAHIR DI UZBEKISTAN

Terbelenggu Rezim Berkuasa, Penderitaan Umat Muslim Uzbekistan tak Pernah Reda
BUKU-buku geografi Islam klasik mengibaratkan Uzbekistan sebagai sebuah mutiara dalam untaian mutiara-mutiara dari timur (al jauhar fil jawahirul masyrik). Karena, bersama kawasan yang sekarang bernama Tajikistan, Turkmenistan, Kazakhstan, dan Kirgiztan, Uzbekstan merupakan "hiasan" indah bagi perkembangan sejarah umat dan agama Islam selama berabad-abad.
Di kawasan Uzbekistan sekarang pernah berjaya kerajaan Islam termasyhur, yang dibangun oleh bangsa Mongolia yaitu Dinasti Timurid (1370-1506), yang disebut "Penguasa-Penguasa Agung Samarkand" (al Akbarus Salatinus Samarkandi). Pendiri Dinasti Timurid adalah Timur Leng, yang pernah melakukan ekspansi hingga ke Asia Barat, sebelum menjadikan Samarkand sebagai pusat pemerintahannya.

Penulis kitab hadis
Di Uzbekistan pula lahir Zhahiruddin Muhammad Babur (1483-1530), yang berhasil mendirikan Dinasti Mughal atau Mogul (1526-1858), kerajaan Islam paling terkenal sekaligus terakhir di India.
Di antara mutiara-mutiara paling berkilau itu adalah Muhammad Ismail al Bukhari (810-870). Lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari, ulama ahli hadis, penulis kitab hadis "al Jamius Sahih" (kumpulan hadis). Para ulama Islam, sejak dulu hingga sekarang sepakat bahwa hadits (ucapan dan tindakan) Nabi Muhammad saw. yang dikumpulkan Imam Bukhari benar-benar paling sahih. Beliau dilahirkan di Kota Bukhara, 60 km sebelah barat Samarkand, dan dimakamkan di kota kecil Khartanak, antara Samarkand dan Bukhara. Hingga sekarang, makam Imam Bukhari sering diziarahi orang-orang yang berkunjung ke Uzbekistan.
Samarkand dan Bukhara merupakan dua kota kuno di Uzbekistan yang selalu dicatat dalam helai-helai buku sejarah. Selain itu, ada satu kota lagi, dan dianggap kota tertua di dunia di samping Jericho (Palestina). Yaitu Kiva, sebelah barat laut Bukhara, dekat perbatasan dengan Turkmenistan. Baik di Samarkand, Bukhara, maupun Kiva, terdapat banyak sekali peninggalan sejarah Islam sejak abad 10 hingga abad 19, yang menjadi daya tarik wisata internasional, karena keunikan dan keindahan arsitekurnya.
Di Samarkand antara lain terdapat mausoleum Gurri Emir tempat pemakaman Timur Leng beserta dua putranya, Khalil Miransyah dan Shah Rukh, serta dua cucunya, Muhammad Sultan dan Ulug Begh. Masjid Jami Bibi Hanoum yang berdampingan dengan lokasi makam Bibi Hanoum, istri Timur Leng, yang dibangun tahun 1399-1403. Kompleks pemakaman Shahi Zinda, tempat dimakamkan Syekh Kusam ibnu Abba, seorang imam pertama di Asia Tengah, yang dianggap wali suci. Juga beberapa madrasah, seperti Ulug Begh, Till Kari, Shir Dor, dan sebagainya.

Monumen Islam
Di Kota Kiva terdapat masjid-masjid, menara-menara, dan monumen-monumen khas Islam abad pertengahan, yang menonjolkan corak kubistik dengan warna biru laut mencolok. Yang terkenal adalah masjid dan musoleum Pahlavan Mahmud (1830).
Di Kota Bukhara terdapat Menara Kalyan, berusia 1.000 tahun. Selain berfungsi sebagai tempat mengumandangkan azan, menara itu merupakan pos jaga dan observatorium. Para ahli astronomi dari seluruh dunia, sering menggunakan menara itu untuk mengamati benda-benda langit.
Di bawah menara terdapat madrasah "Mir Arab" yang dibangun tahun 1530-1536. Tak jauh dari madrasah itu, berdiri megah masjid "Tagban Bafon" buatan tahun 1600-an. Ada pula mausoleum Ismail Samani, salah seorang raja Dinasti Samaniyah (819-1005), benteng Arkiyah yang mengitari sebagian Kota Bukhara.
Dengan kekayaan monumental tak terbilang, dan sejarah kekuasaan yang cukup panjang, umat Islam di seluruh Asia Tengah, seharusnya menikmati udara kebebasan yang amat sedap. Namun, kenyataan berbicara lain. Kawasan Lembah Fergana, yang dinamakan Turkistan, yang luas dan subur, karena berada dalam apitan dua sungai (ma wara'un nahar), masing-masing Sungai Syrdaria (Jihun) dan Sungai Amudarya (Oksus), dipecah-pecah menjadi beberapa negara kecil. Uzbekistan termasuk pecahan itu, bersama Turkmenistan, Kirgiztan, Tajikistan, dan Kazakstan, di bagian barat, masuk ke dalam cengkeraman Rusia (Uni Soviet). Sedangkan Turkistan bagian timur dicaplok Cina, dijadikan Provinsi Sinkiang, sejak tahun 1930.

Tertindas
Sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim di bawah kekuasaan Uni Soviet yang tirani dan komunis, rakyat Uzbekistan mengalami derita luar biasa. Kota Bukhara dapat dijadikan contoh penindasan rezim komunis terhadap umat Islam Uzbekistan. Kota yang oleh umat Islam setempat disebut ash sharif (mulia) dan mukarrimah (terpuja), benar-benar dihancurleburkan secara fisik dan mental. Dari 109 madrasah dan 365 masjid yang tersisa akibat embusan Perang Dunia I (1914-1918), hanya tinggal satu dua buah saja pada zaman kekuasaan Uni Soviet (sejak 1922). Antara lain madrasah "Mirr Arab" dan Masjid Kalyan sekadar pajangan untuk mengelabui pengunjung mancanegara, bahwa rezim komunis menoleransi kehidupan beragama.
Tetapi, menurut Walter Kolarz, penulis buku Communism and Colonialism (1964), rasa jijik dan kecurigaan pemerintah Uni Soviet terhadap tradisi dan perasaan nasional Uzbekistan, sangat besar. Mereka melampiaskannya melalui pemberian nama-nama jalan di Kota Bukhara. Masih dapat dianggap wajar jika nama-nama tokoh Uni Soviet yang dipajang, seperti Kalinin, Ordzhonikidze, Kirov, Zdanonv, Mikoyan atau Sverdlonov, Pushkin, Gogol, Lermontov, Mayakovski, Nikolai Tikhonor atau Maxim Gorky. Atau tokoh-tokoh komunis internasional, seperti Karl Marx, Klara Zetkin, Ernest Thaelmart (komunis Jerman), atau Marat (komunis dan seorang tokoh Revolusi Prancis). Yang sangat menyakitkan, rezim Uni Soviet memberi nama jalan protokol di Kota Bukhara "Berzbozhnaya" yang artinya "Tidak Bertuhan".

Harapan
Ketika Uni Soviet runtuh (1990), akibat politik glasnos (keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi) yang dijalankan Presiden Mikhail Gorbachev, Uzbekistan (bersama negara-negara Asia Tengah lain) menyatakan merdeka. Republik Sosialis Soviet Uzbek berubah menjadi Republik Uzbekistan (31 Agustus 1991). Islam Karimov, mantan Sekretaris Partai Komunis Uzbekistan era Uni Soviet, dipercaya menjadi presiden. Rakyat Uzbekistan menaruh harapan baru bersama negara dan pemerintahan baru untuk menuju hidup bebas merdeka. Termasuk dalam menjalankan syariat agama.
Ternyata harapan itu meleset. Jika pemerintah Moskow segera melepaskan sistem komunisme, dan perlahan-lahan menuju demokratisasi, Islam Karimov sebaliknya. Ia malah memperkeras sikap terhadap umat Islam, bahkan lebih keras lagi daripada rezim Moskow mana pun, sejak era Stalin hingga Gorbachev. Begitu berkuasa, Karimov langsung menangkapi tokoh-tokoh oposisi. Kelompok Islam "Hizbut Tahrir (HT)" menjadi sasaran utama Karimov. Ia melarang organisasi itu, dan menjebloskan tokoh-tokohnya ke penjara. Sebagian tokoh HT melarikan diri ke negara tetangga Kirgiztan, sebagian lagi ke Eropa.
Ia juga menjalankan praktik KKN. Putrinya, Gulnara, menguasai jaringan bisnis hasil bumi, operator ponsel, kelab-kelab malam, dan pabrik semen. Huru-hara di Kota Andijan 13 Mei lalu, yang menewaskan sekira 700 orang, diduga keras akibat kegiatan para pebisnis setempat mengganggu stabilitas bisnis Gulnara.
Untuk memperkuat kedudukan, Karimov menggelar beberapa kali referendum yang dicurigai penuh kecurangan. Referendum Januari 2000 menempatkan Karimov di kursi kekuasaan hingga tahun 2007.

Sekutu AS
Kedekatannya dengan Presiden AS George W. Bush membuat Islam Karimov sulit digoyahkan. Salah satu kekaguman Bush adalah keberanian Karimov memenjarakan 6.000 aktivis Islam dengan tuduhan terlibat terorisme, serta memberi izin AS membuat pangkalan militer untuk menyerang Afganistan tahun 2002. Dari Presiden Rusia Vladimir Putin, Karimov juga mendapat pujian, karena telah berhasil mencegah militan Afganistan melintasi Uzbekistan untuk memperkuat gerilyawan Chechnya.
Duta Besar Inggris untuk Uzbekistan (2003), Craig Murray, pernah melaporkan tentang praktik penyiksaan terhadap tahanan Islam militan di penjara-penjara Uzbekistan. Tetapi, laporan itu ditanggapi dingin oleh London.
Sekarang, dunia internasional telah menyaksikan kekejaman rezim Islam Karimov. Hampir seribu nyawa melayang akibat tembakan pasukan militer. Ribuan lagi mendekam di ruang-ruang penjara. Peristiwa tragis ini seharusnya mendorong perubahan kekuasaan, seperti terjadi di bekas-bekas negara Soviet lainnya (Georgia, Ukraina, dan Kirgiztan). Kekuasan tirani tumbang akibat tindakan mereka menyakiti rakyat.
Namun bagi Uzbekistan tampaknya tak akan berpengaruh. Dukungan AS dan Rusia kepada Islam Karimov cukup kuat. Sehingga rakyat Uzbekistan -- mayoritas Muslim -- harus tetap bertahan di bawah kezaliman penguasa. Sejak zaman komunis Lenin dan Stalin, hingga zaman kemerdekaan di bawah Islam Karimov, rakyat Uzbekistan tak pernah mengalami perubahan apa-apa. Di bidang ekonomi tak ada kemajuan, walaupun Lembah Fergana dan Kota Andijan merupakan pusat penghasil kapas terbaik dan terbesar di dunia, dan kota-kota lain menjadi pusat tujuan wisata dunia. Sistem pemerintahan pun tak berubah. Tetap otoriter dan tirani.
Rezim komunisme Uni Soviet memang bisa tumbang di Moskow, tetapi tidak di Uzbekistan.

Sumber : (H. Usep Romli H.M. Penulis pernah bertugas jurnalistik ke Asia Tengah Agustus 2000)***

No comments:

Post a Comment