Amazon Deals

Tuesday, November 8, 2011

KETIKA BUMI DIPENUHI MALAIKAT

Ketika Bumi Dipenuhi Malaikat (1)
Nadirsyah Hosen

Lailatul Qadr, betapa mulianya malam itu!
Al-Qur'an menginformasikan bagaimana para Malaikat dan Jibril turun ke bumi
atas izin Allah SWT.; bagaimana malam itu dilukiskan sebagai lebih mulia
dari seribu bulan; bagaimana bumi penuh sesak dengan kehadiran para malaikat
itu.
Rasul menganjurkan kita untuk mencari malam itu, yang saking mulianya
sehingga dirahasiakan kepastiannya oleh Allah. Rasul hanya memberi petunjuk
untuk mencarinya di sepuluh malam terakhir Ramadhan, khususnya di
malam-malam yang ganjil.

Pertanyaannya, di sepuluh malam itu apa yang sebaiknya kita lakukan?
Persiapan apa yang harus kita lakukan menunggu datangnya para tamu agung
dari langit itu, sikap apa yang harus kita ambil ketika ternyata para tamu
itu mampir ke rumah kita, dan, akhirnya, ibadah apa yang mesti kita lakukan
di saat datangnya malam itu?
Banyak riwayat yang menjelaskan hal itu, banyak pula saran dan kisah para
ulama yang bisa kita jadikan patokan. Namun, saya menyarankan untuk
melakukan dua hal.

Pertama, banyak-banyaklah berdekah. Sungguh hanya di bumi inilah kita
mendapati saudara kita yang kekurangan. Hanya di bumi orang-orang kaya
memberikan makanan kepada kaum fukara wal masakin. Kedua, merintih dan
menangislah kita untuk memohon ampunan Allah.
Dua amalan itu merupakan amalan yang malaikat tak sanggup melakukannya.
Bukankah di langit tak ada yang miskin, sehingga mustahil malaikat bisa
bersedekah. Malaikat yang suci itu tentu saja tak pernah melakukan maksiyat,
karenanya mereka adalah suci. Mereka tak pernah merintih dan menangisi dosa
mereka. Kitalah yang mampu melakukannya.

Dalam Tafsir al-Fakhr ar-Razi diceritakan bagaimana Allah berkata, "rintihan
pendosa itu lebih aku sukai daripada gemuruh suara tasbih". Malaikat mampu
melakukan tasbih, namun gemuruh suara tasbih dari para malaikat kalah
kualitasnya dibanding rintihan dan tangisan kita yang memohon ampun pada
Allah SWT.
Mari kita sambut Lailatul Qadr dengan dua amalan yang bahkan malaikat pun
tak sanggup melakukannya. Bersedekah-lah. ... kemudian menangis dan memohon
ampunan ilahi. Siapa tahu, ada malaikat yang bersedia mampir ke rumah kita;
dan malam itu menjadi milik kita, insya Allah!


Ketika Bumi Dipenuhi Malaikat (2)
Nadirsyah Hosen

Lailatul Qadr pertama kali dijumpai Nabi ketika beliau menerima wahyu untuk
pertama kalinya. Hal yang amat menarik adalah Nabi sebelum kedatangan jibril
sedang menyendiri, bertafakur dan berkontemplasi. Nabi memikirkan keadaan
lingkungan sekitarnya yang mempraktekkan adat jahiliyah. Nabi menyingkir
dari suasana yang tak sehat itu sambil merenung dan menghela nafas sejenak
dari hiruk pikuk kota Mekkah. Nabi menetap di gua hira' untuk kemudian
berkontemplasi guna mensucikan dirinya. Pada saat itulah turun malaikat
Jibril alaihis salam.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kisah ini? Pertama, di tengah
masyarakat yang tak lagi mengindahkan etika, moral dan hati nurani, kita
harus menyingkir sejenak untuk memikirkan kondisi masyarakat tersebut.
Kedua, di tengah masyarakat yang giat mengerjakan maksiyat, kita harus
menghela nafas sejenak dan mencoba untuk mensucikan diri kita sendiri
terlebih dahulu sebelum mensucikan masyarakat luas.
Ketiga, di tengah "kesendirian" kita, kita berkontemplasi untuk mencari
solusi terbaik dari persoalan yang dihadapi.

Ketika Nabi menganjurkan kita untuk melakukan i'tikaf di sepuluh malam
terakhir ramadhan, khususnya malam yang ganjil, saya menangkap bahwa
sebenarnya kita dianjurkan untuk melakukan napak tilas proses pencerahan dan
pensucian diri Nabi saat mendapati Lailatul Qadr.
Seyogyanya, i'tikaf yang kita lakukan tidak hanya berisikan alunan ayat suci
Al-Qur'an dan dzikir semata. Akan jauh lebih baik bila saat i'tikaf kita pun
memikirkan kondisi masyarakat sekitar kita, persis seperti yang telah
dilakukan Nabi ratusan tahun yang lalu di gua Hira'. Insya Allah, ketika
saat malam yang mulia itu tiba kita sudah siap menyambut dan menjumpainya.

Namun satu hal yang sangat penting untuk diingat bahwa setiap ibadah maupun
gerak hidup kita seharusnya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah semata
Silahkan anda mencari Lailatul Qadr, namun jangan menjadi tujuan anda yang
hakiki. Tujuan kita beri'tikaf dan beribadah di sepuluh malam terakhir nanti
adalah untuk mencari keridhaan Allah.
Kalau yang anda kejar semata-mata hanyalah Lailatul Qadr, jangan-jangan anda
tak mendapatkannya sama sekali. Tetapi kalau keridhaan Allah yang kita cari,
maka terserah kepada Allah untuk mewujudkan keridhaan-Nya itu pada kita;
apakah itu berbentuk Lailatul Qadr atau bentuk yang lain.

Bukankah shalat kita, hidup dan mati kita untuk Allah semata? Dan Sungguh
Allah jauh lebih mulia daripada Lailatul Qadr!

No comments:

Post a Comment