Amazon Deals

Tuesday, November 8, 2011

LEBIH PINTAR

Lebih Pintar
Semua rakyat di kota Aq Syahr mengetahui bahwa Nasruddin adalah tokoh yang cerdas, pintar sekaligus bijaksana. Semua orang mengakuinya. Maka, Nasruddin banyak dimintai bantuan untuk mendidik anak-anak mereka, tidak terkecuali anak-anak pejabat.

Suatu hari, seorang pejabat menguji anaknya yang telah bersekolah di tempat Nasruddin. Betapa senangnya dia setelah melihat anaknya yang semakin pintar. Untuk mensyukurinya, maka pejabat itu menyuruh pelayannya untuk mengantarkan sebungkus roti yang lezat kepada sang guru, Mullah Nasruddin.

Sayangnya, ketika bingkisan itu datang, Nasruddin tengah mengajar murid-muridnya dan dia juga sudah ditunggu untuk menghadiri pemakaman tetangganya.

Kemudian Nasruddin punya ide, "Wahai muridku, aku hendak menghadiri upacara pemakaman. Selama kutinggal, pelajari kembali apa yang kuajarkan barusan. Oh ya, dan jangan sekali-kali kalian mengambil roti yang ada di rak buku ini, karena roti ini beracun. Jika kalian makan roti itu dan kalian mati, orang tua kalian akan menuntutku. Mengerti?"

Rupanya pesan Nasruddin kepada muridnya didengar oleh keponakannya yang bandel, yang sudah paham bahwa roti itu beracun hanyalah akal-akalan pamannya saja.

Setelah pamannya pergi, dia mengajak murid-murid yang lain untuk ikut bersama-sama makan. Semua murid mematuhi ucapan gurunya, sehingga tidak satu pun yang berani ikut. Malah mereka mengatakan tidak bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa.

"Baiklah, kalau kalian tidak ada yang berani makan roti ini, aku sendiri yang akan memakannya."


Setelah memakan roti itu, sang keponakan ini bertingkah seperti pamannya. Dia duduk di kursi pamannya dan berlagak mengajar para murid. Mereka pun bersenda gurau dan tanpa sengaja keponakan itu menjatuhkan botol tinta yang ada di meja Nasruddin.

Secara kebetulan, pada saat itulah Nasruddin datang. Nasruddin marah-marah melihat ruangan yang berserakan dan rotinya hilang. Dia bertanya, "Siapa dari kalian yang telah memakan rotiku?"

Semua murid menunjuk keponakan Nasruddin.

"Lalu siapa pula yang telah menumpahkan tinta ini?"

Semua murid juga menunjuk keponakan Nasruddin.

"Coba ceritakan bagaimana kejadiannya."

Sang keponakan itu menjawab, "Maafkan wahai paman. Setelah engkau meninggalkan tempat ini, kami semua bermain. Dan secara tidak sengaja aku menabrak meja dan menumpahkan tinta di meja ini. Karena saking takutnya, aku memutuskan bunuh diri. Aku ingat bahwa roti yang ada di rak buku itu beracun, maka kumakan roti itu agar mati. Namun, sayang paman, sampai roti itu habis aku tetap hidup."

Nasruddin memang sangat marah karena tintanya tumpah dan roti pemberian itu tidak jadi dimakan. Tetapi setelah mendengar cerita keponakannya itu, dia berkata sambil berjalan keluar, "Kamu memang lebih pintar dariku."

No comments:

Post a Comment