Amazon Deals

Friday, December 23, 2011

Sub-Machine Gun

Beberapa hari lalu saya di beri sample untuk mencoba senjata serbu jenis sub-machine gun. Senjata jenis ini memang mutlak diperlukan untuk room-clearing technique. Dari berbagai komponen yang disediakan akan

saya bandingkan kegunaan serta effektifitasnya secara seksama. Beberapa

senjata tersebut adalah Heckler & Koch (HK) MP-5 versi US Navy

yang memakai kode "N" yaitu dengan tambahan Titanium dan parkerized agar

lebih tahan karat. seperti MP5-N maupun yang memakai peredam MP5-SD3.

Yang kedua adalah seperti biasa UZI

sub-machine gun. Serta yang terakhir adalah KRISS super V system.



Sedikit catatan: KRISS ternyata diambil dari nama KERIS yaitu sejenis senjata tajam berliuk seperti ular dari

Indonesia yang biasanya dianggap sebagai pusaka.



Jika dilihat secara breakdown maka perbandingan dapat dibagi dalam beberapa pokok sebagai berikut:



1. UZI-SMG produksi IMI Israel, FN Herstal maupun Norinco






* Ammo: 9mm x 19 Parabellum

* Operation: Blowback firing Open or Closed Bolt Position.

* Mode: Automatic or Semi-Auto.

* Riffling: 4 grooves, atau 1 putaran penuh tiap 254mm (twist).

* Kec. Muzzle: 375 ~ 400 m/det

* Rates of Fire 600 rds/min

* Panjang laras: 260 UZI, 197 mini UZI



Kelemahan dari UZI adalah dari operasi sistem Open-Bolt design yang sangat mempengaruhi akurasi tembakan. Sehingga grouping tembakan untuk jarak menengah-pendek akan terlihat menyebar. Oleh sebab

itu UZI hanya cocok untuk tembakan jarak dekat.





2. MP5 produksi Heckler & Koch Germany








* Ammo: 9mm x 19 Parabellum

* Operation: Recoil operated, Delayed roller locked-bolt. (Retarded blow back)

* Mode: Automatic or Semi-Auto.

* Riffling: 6 grooves right hand twist.

* Kec. Muzzle: 400 m/det (1312 ft/s)

* Rates of Fire 800 rds/min

* Panjang laras: 220mm



Senjata jenis ini memang banyak dipakai oleh banyak angkatan bersenjata di berbagai negara, termasuk

Indonesia. Terutama dipakai oleh beberapa pasukan khusus yang cukup

terkenal. Memang secara utility merupakan senjata standar room-clearing

bagi pasukan khusus seperti Navy SEALs, maupun pasukan pengawal VVIP

serta kepala negara. Hanya ada sedikit kelemahan senjata ini, yaitu

kurangnya stopping power dalam melaksanakan operasi. Padahal untuk light

infantry yang memiliki mobilitas tinggi, ketepatan menembak merupakan

proyeksi stopping power yang cukup dominan yang sangat kentara.



Dari dua senjata diatas, semuanya memiliki kaliber 9mm Para. Untuk senjata yang ketiga mempunyai kaliber

lebih besar yaitu cal .45 ACP, yang secara konotatif setara dengan

senapan mesin Thompson era WW2. Kaliber 45 memang sangat sulit

dikendalikan apalagi jika dipakai dalam mode Auto maupun Semi-Auto. Hal

ini akibat energi tolak yang cukup ter-akumulatif hingga mempengaruhi

efisiensi akurasi.



Tetapi hal ini dapat dijawab oleh senjata model baru KRISS super V system. KRISS merupakan nama yang diberikan dengan mengadopsi nama

senjata pusaka dari Indonesia yang berliuk liuk layaknya ular naga yang

sering disebut KERIS, buatan para Mpu sakti jaman dahulu.



Yang ditawarkan sangat berseberangan dengan dictum Automatic Weapon secara tradisional yaitu: Terlalu berat,

terlalu banyak moving-parts, terlalu sulit maintain tembakan,

menghasilkan unnecessary level of recoil dan muzzle climb.

Sebaliknya KRISS membuat re-directing recoil energi yang biasanya horizontal menjadi tekanan

vertikal. Kemudian dengan adanya tekanan ini mengaktifkan counter

balancing-mass untuk menyerap hentakan. Sehingga yang terjadi adalah

less recoil yang berakibat operator dapat melakukan tembakan secara

prima.



3. KRISS super V XSMG system produksi T.D.I (US)






* Ammo: .45 ACP

* Operation: V system delayed blowback

* Mode: Automatic or Semi-Auto, Single

* Riffling: N/A

* Kec. Muzzle: 375 m/det

* Rates of Fire 800 - 1100 rds/min

* Panjang laras: 5.5 inches






Dari pengalaman dengan memakai KRISS memang recoil terasa sangat "lembut" dibanding dengan recoil kaliber 9mm. Disamping itu grouping tembakan sangat sempurna. Dua

tembakan dapat menjatuhkan sasaran baja secara telak dengan jarak

projektil 3 cm antara dua tembakan tersebut. Demikian juga jika memakai

Full_Auto burst.



Saya pribadi menyukai tehnik operasi senjata ini. Disamping itu, senjata juga dilengkapi dengan surefire flashlight

tepat diatas laras yang dapat dipakai operator dalam kegelapan malam.

Forward grip, juga mantap. Tanpa ada rasa licin dipermukaan metal

tersebut, seandainya telapak tangan dipenuhi keringat. Secara

keseluruhan, walaupun senjata ini masih dalam tahap awal pengembangan,

saya sudah jatuh-cinta. Mengingat patokan yang saya yakini dalam CQB dan

room-clearing sudah tercapai yaitu dalam hal stopping power, agility,

ergonomics, serta konstruksinya yang handal.



Semper Fi,





About Writer:

Humphrey H. Samosir



was born and raised in California, USA.

From his Indonesian parents, he inherited most valuable cultures and

languages of his ancestors. Through his point of view, he always eager

to see all Indonesian aspect from every angles.

Currently serves as an Officer of US Marine.

No comments:

Post a Comment