Amazon Deals

Friday, December 23, 2011

Sistem Pelatihan Raider

Joko Metode pendidikan Raider di era tahun 60 an mirip sekali dengan pelatihan komando RPKAD. Mulai nama materi sampai dengan tradisi ala secako yang tidak mengenal tanda kepangkatan dari tamtama sampai perwira. Semua digojlok dan dididik standart yang sama sebagai seorang Raider. Keras dan cenderung brutal. Semua harus bisa menjadi pemimpin di tingkat regu, peleton dan kompi. Dan medan latihan mereka berpindah pindah (tidak terkonsentrasi kepada 1 base camp). Pelatih Raider berasal dari Tim Pelatih Raider Kopassus (RPKAD), dan tim Pelatih Puslatpur (Pusat Latihan Pertempuran) KODAM setempat yang telah lebih dulu memiliki kualifikasi RAIDER. Satu kisah dari seorang purnawirawan TNI mantan Anggota Yon 510 Brawijaya (sekarang bernama Yonif 527 Brawijaya) bahwa ybs menempuh sekolah Raider tahun 1968 dilaksanakan di Dawuhan – Blitar pada tahap basis. Walaupun sebenarnya Base Camp Puslatpur Rindam VIII Bravijaya ada di Singosari Malang (Sekarang ditempati DIVISI II KOSTRAD). Total lama pendidikan Raider kala itu adalah 6 bulan. Pendidikan Raider secara garis besar menempuh 4 tahap :

- Tahap I (Basis) : Merupakan tahap indoktrinasi dan pendidikan dasar Raider, lempar pisau, baca peta, Combat SAR, BDM, Perang Jarak Dekat dan Patroli
- Tahap II (Gunung Hutan) : Tahap pendidikan Jungle Warfare, perang berlarut, jungle survival,daki serbu, menembak tepat, raid sabotase, anti gerilya, dasar intelijen tempur dan air support.
- Tahap III (Pendaratan Laut) : Materi tentang kelautan, Parimeter pantai, Raid amfibi, operasi pendaratan laut senyap, renang rintis, renang poncho, renang laut lawan arus, RALA SUNTAI (Rawa, laut, sungai dan pantai) dan sea survival.
- Tahap IV ( Berganda) : adalah materi latihan aplikasi dari semua yang telah dipelajari siswa dari tahap I s/d III dengan sistem studi kasus.
Semua tahap tersebut harus diikuti siswa. Apabila tidak lulus dalam satu tahapan maka siswa tersebut akan dikembalikan pada medan dimana tahapan tersebut dipelajari dan tidak boleh melangkah ke tahap selanjutnya. Apabila belum lulus dikesempatan ke 2 tersebut maka siswa dikembalikan kepada satuannya. Dan pada periode berikutnya harus mengulang langsung pada tahap dimana tahu lalu dia tidak lulus. Pelatihan Raider saat itu menggunakan peluru tajam dan memakan 2 korban jiwa. Namun sebenarnya 1 prajurit meninggal karena keracunan makanan di Materi Jungle Survival. 1 Prajurit lagi tertembak di dada ketika latihan RALA SUNTAI. Terdapat materi paling melelahkan dan menakutkan kenaikan dari TAHAP III ke TAHAP IV : yaitu Long March sejauh 350 km dari Blitar ke Banyuwangi dan materi kamp tawanan yang brutal. Prajurit “potong kompas” melewati 4 Gunung dengan mempraktekkan apa yang telah dipelajari. Perbekalan makanan yang diberi PUSLATPUR saat itu tak kalah menggenaskan yaitu hanya 3 liter beras dan beberapa potong ikan kering serta garam. Pelatihan pendaratan laut dilakukan pada pantai Meneng dan Boom di selat bali yang terkenal berombak besar dan bergelombang. Disamping itu terdapat sejenis pusaran di tengah laut yang bisa membuat kapal tersedot ke dalam laut. Para instruktur KKO ALRI (Marinir) yang sempat melihat latihan ini hanya bisa geleng – geleng kepala melihat kerasnya para pelatih RPKAD melatih para calon prajurit Raider ini. Mereka terbayang suasana pelatihan satuan KIPAM/Intai Amfibi yang juga dikenal sangat keras di PUSLATPUR MARINIR Karang Tekok kawasan pantai di sebelah utara Banyuwangi.

Setelah pelatihan Raider selesai maka dilakukanlah pembaretan (baret hijau) dengan lambang senapan silang korps Infanteri dan penyematan brevet Yudha Mukha (Yudha wastu Pramuka) di atas kantong sebelah kiri yang terkenal sebagai wing “gebok” dikalangan prajurit raider saat itu. Lambang, baret dan brevet itulah yang menjadi cikal bakal perlengkapan baret dan brevet prajurit Infanteri TNI AD modern. Sedang kualifikasi, baret dan brevet Raider Modern diciptakan tersendiri sebagai symbol bahwa Raider memang berbeda dengan prajurit Infanteri Reguler.

Pelatihan Raider Modern berlangsung selama 7 bulan. Diawali dengan pelatihan calon pelatih raider yang berasal dari Batalyon calon Raider, pelatih tempur dari DODIKLATPUR masing2 KODAM dan beberapa dari mabes AD, mabes TNI dan MAKOSTRAD di Pusdik Passus dan Pusdik Infanteri. Mereka menempuh pendidikan dengan tangan dingin para pelatih Raider Kopassus yang dikenal ber standaR tinggi, fair sekaligus bisa menjadi galak luar biasa ketika siswa melakukan kesalahan. Itu karena siswa harus menyadari hakekat tugas Raider yang memang berat dan sudah di depan mata : memberangus GAM sekaligus mendidik personel Raider di batalyon. Melipat gandakan kemampuan prajurit menjadi 3x lipat bukanlah hal mudah semudah membalik telapak tangan. Selain dididik mejadi Raider para calon pelatih Raider di batalyon ini juga diajari bagaimana cara mengajarkan keahlian tempur Raider kepada calon raider di batalyon secara praktis namun tidak mengurangi standart yang telah ditetapkan. Tahap latihan New Raiders meliputi :
Indonesian soldiers from the newly formed elite Raiders parade during a ceremony marking the 58th anniversary of the Indonesian army in Jakarta on December 22, 2003. The Indonesian armed forces are currently engaged in operations to crush separatist rebels in Aceh province on the northern tip of Sumatra. REUTERS/Beawiharta
- Tahap I (Basis) : Dasar Raider dan Indokrinasi. Para calon digojlok dengan latihan fisik standart Kopassus, uji mental dan psikologi. Dasar tehnik patroli khusus.

- Tahap II (Gunung Hutan) : Jungle Warfare, Jungle Survival, Patroli tempur lanjut, PJD, lempar pisau, tehnik serangan udara dan air support dengan heli (Mobud), BDM,anti gerilya, renang militer, renang rintis dan renang ponco, lari 3 km dlm 13 menit, raid dan kamp tawanan.

Dari Tahap II ke Tahap III harus Long March 250 km selama 7 hari 7 malam dan berhenti di titik titik yang ditentukan untuk menghadapi ujian dari pelatih. Yang tidak lulus dinyatakan gugur dan harus mengulang periode berikutnya.

- Tahap III (Kelautan) : Rala suntai (Rawa, sungai, laut dan pantai) Raid amfibi,pendaratan laut senyap,penyerbuan pantai, parimeter pantai, patroli pantai dan uji raid.

- Tahap IV (Berganda) : Ujian semua materi yang telah didapat dalam studi kasus dipadu dengan operasi mobud (Mobil Udara).

Setelah semua materi dan ujian ditempuh maka resmilah pasukan ini menjadi “The Raiders”. Sebelum pembaretan pasukan harus berenang 200 meter di laut. Pembaretan di lakukan oleh komandan sekolah Raider atau yang mewakili. Pendidikan Raider untuk pelatih dan Yon Raider KOSTRAD dilaksanakan di Pusdik Passus dan Pusdik Infanteri dengan medan latihan: Situ Lembang (Gunung Hutan) dan pulau Nusa Kambangan (Pendaratan Laut) dan berganda. Sedangkan untuk anggota Batalyon Raider KODAM dididik di DEPO PENDIDIKAN LATIHAN PERTEMPURAN milik RINDAM di tiap – tiap KODAM dengan materi dan bobot yang sama. Lathhan di tingkat KODAM juga mendapat pengawasan dan asistensi Kopassus. Agar “output”nya tetap terjaga dengan baik dan berkualitas tinggi sesuai yang diharapkan. Selanjutnya 50 orang terpilih di masing – masing batalyon dididik lagi di Sepursus untuk mendalami ilmu Penanggulangan Teror dan PJD (Perang Jarak Dekat) tri media. Gunanya tim ini adalah menanggulangi teror di wilayah masing – masing dengan bekerja bersama POLRI. Mereka diajarkan menembak tepat dari stand up dari motor serta tehnik serbuan kilat anti teror dari atas gedung dengan tali serta seabrek keahlian laiinnya. Anggota Raider berhak atas Brevet Raider (brevet Yudha Wastu Pramukha tidak dipakai lagi), brevet menembak, brevet Mobud Raider, baret hijau tua Raider, seragam PDL sus (Loreng TNI - Malvinas bermotif Pixel ) Raider yang disebut ACUPAT (Army Combat Uniform Pattern) serta badge Raider berlambang pisau dan petir plus badge mobud di lengan PDH / PDL sebelah kanan. Terdapat brevet mobud kecil yang dipasang pada baret Raider sebagai tanda mereka adalah pasukan mobud. Bagi personel Raider Gultor juga berhak menyandang wing para dasar dan penanggulangan teror TNI AD. Tim Gultor Raider diajarkan juga cara bertempur dengan jarak dekat mengunakan senjata MP 5 yang terkenal itu. Biaya pelatihan pasukan Raider berjumlah 8.000 personel dan 12.500 pasukan pendukung itu menelan dana Rp. 50 M ! Dan diakui sebagai pasukan khusus dengan jumlah terbesar di dunia. Dalam mobilitasnya tim Raider juga menggunakan kendaraan buatan TNI AD bak terbuka yang juga terpasang 2 senapan mesin Minimi.
Latihan – latihan tersebut diatas ada yang diterapkan pada anak-anak petualang. pecinta alam dan pendaki gunung. Boleh dibaca untuk menambah pengetahuan.

No comments:

Post a Comment