Amazon Deals

Friday, December 23, 2011

SEJARAH RAIDER

Sejarah pasukan ini berawal dari munculnya tehnik tempur dan struktur organisasi infanteri modern yang dikenal dengan nama “IFGABA” (Infanteri Gaya Baru) di tubuh TNI AD yang pada saat itu berpatokan pada pelatihan dan struktur organisasi US ARMY RANGER. RANGER dikenal sebagai pasukan pemukul utama US ARMY yang bisa dioperasikan lewat darat, laut dan udara juga peperangan konvensional. Semua itu didapat dari pelatihan dan warisan senior Ranger yang dikenal loyal pada atasan tapi juga bermental baja, disiplin tinggi dan lethal. Jiwa persaudaraan para ranger yang bermarkas di Fort Benning, Georgia ini tak kalah dengan para marinir di USMC walaupun dari segi jumlah personel, Ranger hanyalah sebuah resimen infanteri ke 75 yang anggotanya tak lebih dari 3000 personel.

Awal mulanya materi pendidikan Raider hanya diperuntukkan kepada Batalyon Linud KOSTRAD. Gabungan kualifikasi Raider dan Para menghasilkan jenis keahlian tempur baru yaitu RAIDER PARA. Ini sangat cocok dengan karakteristik prajurit dan satuan KOSTRAD yang dikenal cepat, keras dan lethal dalam setap pertempuran. Tapi nyatanya pendidikan Raider diujicobakan pertama kali justru kepada personel Yonif 401. Hasilnya sangat menakjubkan! Dalam setiap operasi menunjukkan peningkatan yang sangat berarti bagi daya gempur pasukan. Maka setelah melalui beberapa inovasi dan perbaikan, pendidikan Raider mulai diadopsi oleh KOSTRAD untuk pasukan Linudnya. Karena dinilai cukup membantu dalam taktik tempur dan hasil pertempuran maka akhirnya kualifikasi RAIDER mulai disebarkan kepada satuan Infanteri non linud maupun Bantuan tempur non KOSTRAD pada tahun 1967 s/d 1970 an. Raider adalah kualifikasi pasukan bersifat khusus yang menekankan kepada kemampuan memukul cepat musuh dengan senjata minimal, perang berlarut di hutan, Perang Jarak Dekat, Operasi Raid Rala Suntai (Rawa, Laut, Sungai dan Pantai) dan pengintaian. Pasukan digerakkan dalam regu yang berjumlah 10 orang. Komposisinya mirip 1 regu Infanteri reguler hanya saja ditambah dengan ahli raid / demolisi.

Pada tahun 1950 s/d 1970 an kebanyakan prajurit AD yang ditempatkan di korps Infanteri tidak menempuh ilmu kecabangan Infanteri secara 1 atap di Depo Latihan Pertempuran milik Rindam atau Pusdik Infanteri AD. Kecuali para perwira lulusan AKMIL. Setelah pendidikan dasar, para prajurit baru yang dicabangkan ke korps Infanteri langsung dimasukkan ke batalyon. Di sanalah mereka dididik lagi (tahap II) sehingga mantap menjadi prajurit infanteri. Itupun tidak ada kurikulum terpadu dan selalu berbau karakteristik dan tradisi batalyon yang berbeda antara 1 dengan lainnya. Maka dari itu setiap latgab bersama satuan sejenis lainnya kadangkala terdapat ketidaksamaan persepsi antar pasukan. Berdasarkan kondisi tersebut akhirnya mereka langsung saja menempuh kualifikasi Raider tanpa menempuh latihan kecabangan tahap II (kecabangan Infanteri) secara resmi. Yang ada saat itu adalah latihan Pre – Raider selama 3 bulan di batalyon dan dilatih oleh pelatih intern batalyon yang telah berkualifikasi Raider sebelumnya.

Dari sinilah muncul suatu fakta bahwa sesungguhnya semua perlengkapan termasuk seragam, baret dan brevet seorang prajurit Infanteri TNI AD modern sekarang adalah kelengkapan dan seragam pasukan RAIDER di masa lalu. Brevet Yudha Wastu Pramuka, baret hijau berlogo senapan silang lambang korps Infanteri adalah perlengkapan seragam seorang Raider di masa lalu. Pada waktu itu seragam PDL pasukan batalyon Raider adalah Loreng Macan Tutul. KOSTRAD dan prajurit Infanteri non Raider tidak menggunakan seragam ini karena KOSTRAD telah mempunyai PDL sus tersendiri sedangkan Infanteri reguler yang bernaung di bawah KODAM masih memakai PDL TNI hijau polos tanpa kamuflase. Baru pada tahun 1970 PDL “IFGABA” benar - benar ada dan dipakai satuan tempur AD. PDL “IFGABA” kemudian digantikan oleh doreng Malvinas Inggris yang berlaku untuk semua angkatan sampai sekarang.

Pada tahun akhir tahun 70 an s/d 80 an Batalyon berkualifikasi RAIDER dihapus beserta brevet dan Badge “Yudha Muka” nya. Kualifikasi Yudha Muka yang kemudian menjadi Yudha Wastu Pramuka diberikan kepada pasukan Infanteri reguler dalam bentuk Badge di lengan sebelah kanan PDH / PDL. Entah apa pertimbangan saat itu. Namun ada beberapa batalyon yang seakan “tidak rela” dengan tetap memasang embel – embel RAIDER pada nama batalyonnya misalnya : KUJANG RAIDER dan BANTENG RAIDER. Hal ini karena batalyon – batalyon tersebut adalah batalyon pasukan elit yang tidak rela kebesaran RAIDER pupus begitu saja. Harus diakui dari Yonif Linud 328 dan Yonif 401 lah nama RAIDER dikenal di kalangan TNI maupun militer luar negeri. Masih ada beberapa batalyon infanteri lain eks. RAIDER yang juga tetap memasang nama RAIDER di belakang nama batalyonnya baik yang ada di Jawa maupun luar Jawa. Padahal nama Yonif Linud 328 sebenarnya adalah “Dirgahayu”

Baru pada tahun 1980, TNI AD benar – benar memutuskan untuk memusatkan pendidikan serta latihan kecabangan Infanteri di PUSDIK INFANTERI Cipatat (Untuk Pa, Ba dan Ta untuk wilayah KODAM III dll) dan Dodiklatpur Rindam di masing – masing KODAM (Untuk Ba dan Ta). Disanalah mulai muncul kerancuan istilah kualifikasi RAIDER dan YUDHA WASTU PRAMUKA pada prajurit Infanteri. Awalnya para pelatih salah kaprah menafsirkan bahwa kurikulum pendidikan Infanteri yang sekarang dulunya adalah materi pelajaran RAIDER. Padahal sebenarnya adalah sangat berbeda. Hal ini dipahami secara keliru karena nama materi memang mirip sekali tanpa dipahami dengan konsep penyajian materi sangatlah berbeda antara pasukan khusus dan pasukan reguler. Dari salah kaprah itulah yang menyebabkan ketidak samaan penggunaan badge di PDH/PDL lengan sebelah kanan diantara prajurit Infanteri (Saat itu tidak ada Brevet Infanteri - Brevet Infanteri baru digunakan lagi sejak tahun 1996). Ada yang memakai Badge YUDHA WASTU PRAMUKA namun ada pula yang pakai RAIDER. Terutama pasukan linud KOSTRAD yang batalyonnya dulu adalah batalyon RAIDER. Mereka enggan memakai badge YUDHA WASTU PRAMUKA karena terlalu “umum”. Memang, satuan boleh bubar tapi keahlian dan kualifikasi RAIDER terus dipelajari di batalyon eks. RAIDER walau tidak secara resmi. Dengan begitu mereka merasa berhak atas badge RAIDER. Padahal jelas RAIDER adalah pendidikan utama tingkat III sedang kualifikasi Yudha Wastu Pramuka adalah pendidikan tahap II. Muncul pula Badge kualifikasi bertingkat yang diatas bertuliskan Yudha Wastu Pramuka dan dibawahnya adalah kualifikasi RAIDER. Padahal badge kualifikasi pendidikan tahap II secara aturan tidak boleh dipasang bersama badge dikma tahap III. Kecuali ybs menyandang 2 kualifikasi dikma tahap III yaitu Komando dan Raider.

Kita lihat Yonif Linud 328 / Kujang Raider KOSTRAD yang walaupun sampai sekarang bukan lagi batalyon RAIDER resmi tapi komando batalyon tetap saja melestarikan tradisi dan kualifikasi “old RAIDER” bagi para prajuritnya. Tapi justru dengan kemampuan itulah Yonif Linud 328 KOSTRAD adalah nama batalyon infanteri lintas udara paling terkenal di lingkup TNI. Disamping mereka dikenal selalu bertempur dengan cepat dan efektif , batalyon inilah yang banyak melahirkan nama – nama besar di jajaran TNI AD. Mereka pulalah penyuplai terbesar calon anggota Kopassus yang diambil dari Batalyon untuk ditempatkan pada unit PARAKO atau tim khusus. Kenapa? Karena ditinjau dari berbagai aspek, prajurit 328 telah handal dalam materi ke linud-an (terjun payung, pathfinder, free fall dan jump master) dan fisik serta pengetahuan militer mereka luas karena mewarisi kualifikasi RAIDER dari Mbah-nya. Kopassus cukup menambahkan kualifikasi KOMANDO yang dengan waktu relatif singkat bisa dipelajari oleh prajurit yang telah memiliki kualifikasi RAIDER. Di jajaran KOSTRAD terdapat nama Yonif Linud 501 KOSTRAD Madiun (sekarang adalah salah satu elemen Brigif Linud 2 Trisula Malang) yang dulu juga pernah menyandang nama besar Raider. Sampai detik ini TNI AD “mengelompokkan” satuan-satuan “Old Raider” ini sebagai PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) TNI berkualifikasi airborne ditambah kemampuan pengendali tempur dan pertahanan pangkalan seperti yang dimiliki prajurit KORPASKHAS.
SOURCE : http://www.facebook.com/topic.php?uid=117927531553867&topic=34

No comments:

Post a Comment