Amazon Deals

Sunday, February 12, 2012

Israel Akan Serang Iran???

Akhir Desember 2011 Israel Akan Serang Iran

Dalam sebuah wawancara dengan Televisi Israel saluran II pada Sabtu 5 November 2011 Presiden Israel Shimon Peres memberi sinyal akan adanya serangan dari israel dan negara-negara lain seperti Inggris, Amerika Serikat (AS) serta negara-negara sekutu lainnya terhadap Iran. Harian Inggris, The Guardian Edisi Selasa (1/11) mengungkapkan kementrian Pertahanan inggris sedang menyiapkan dukungan militer terhadap aksi serangan udara AS dan Israel atas instalasi nuklir Iran. Delegasi kementrian Pertahanan Inggrispun telah mengunjungi dan melakukan konsultasi dengan Israel terkait serangan militer itu.

Para analis Israel mengatakan bahwa serangan militer terjadap Israel akan dilakukan pada musim dingin ini. Diperkirakan Serangan ini akan dilancarkan sesudah Natal pada akhir Desember atau awal Januari tahun depan. Serangan ini akan melibat AS dan sekutunya. Israel akan menggunakan rudal balistik jarak jauh yang sudah sukses mengalami uji coba beberapa kali, serta serangan udara oleh pesawat tempur terlatih yang baru saja usai melakukan latihan di atas wilayah Italia. Sedangkan Amerika Serikat dan sekutunya akan mengerahkan seluruh kekuatan mereka di jazirah Arab yang baru saja selesai membantu oposisi di Libya, Afganistan dan perang Irak.

Sepertinya Amerika dan sekutunya menargetkan segera “menyelesaikan” negara-negara Arab yang mengancam keberlangsungan bisnis dan pengaruh mereka di jazirah Arab. Mereka sudah berhasil membungkam Irak, Memporak-porandakan Libya, Memecah Mesir, dan Arab Saudi dengan “Serangan” bisnisnya tepat di jantung kota Mekah simbol kebanggan Muslim Sedunia dengan pembangunan Gedung Pencakar langit milik bankir AS seperti “makkah royal clock Tower Hotel ” yang menenggelamkan kemegahan komplek Masjidil Haram dan Ka’baah.

Sedangkan Iran sudah mempersiapkan kemungkinan itu dengan ujicoba rudal balistik jarak jauh seperti rudal Sijjil, Fateh, Qeyam, Khalej-e Fars, Shahab I, Shahab II, Zelzal yang baru saja selesai ujicoba Juni lalu. Iran juga memiliki rudal bawah tanah yang sangat berbahaya yang baru saja diperlihatkan kemuka umum pada parade kemaren. Panglima Pasdaran, Brigjen Amir Ali Hajizadeh mengatakan, “Kesiapan musuh untuk memaksa Republik Islam Iran bertukuk-lutut terlalu sedikit dan hanya mampu pamer kekuatan dan berbagai aksi parodi.” Lebih lanjut diperingatkannya bahwa Angkatan Bersenjata Iran akan membuat musuh menyesali serangan mereka karena respon Teheran akan sangat destruktif jika mereka berani menyerang.

Jika benar terjadi perang semoga saja Iran dapat menginjak-nginjak muka Amerika seperti dilakukannya pada parade kemaren dengan menginjak bendera Amerika Serikat dan diliput oleh Televisi Nasional dan internasional di Teheran.

SOURCE : http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/11/07/akhir-desember-2011-israel-akan-serang-iran/


Jika Iran disdrang, ulama Mesir umumkan perang jihad

Tehran (ANTARA News) - Ulama Mesir dari aliran Azmieh, Aala Mazi Abulazaem, mengatakan dia akan memproklamasikan "jihad" jika rezim Zionis atau Amerika Serikat atau siapa saja sekutu mereka, menyerang Iran.

Menurut laman al-Fajar dari Mesir, Abulazaem menekankan bahwa serangan kasar dunia terhadap Iran adalah mustahil karena kekuatan besar dunia takut kepada kekuatan militer Iran.

Dia menggarisbawahi bahwa dalam kasus itu, para pengikut aliran Azmieh siap bertarung bahu membahu dengan saudara-saudaranya di Iran melawan para agresor. Demi membela Republik Islam Iran, dia akan menerbitkan dekrit jihad.

Dia menyeru kekuatan Islam dan politik di Mesir mewaspadai persekongkolan yang menyasar keamanan dan konsolidasi dunia Islam dan Arab, serta melawan musuh bersama yaitu rezim Zionis dan AS yang akan menyerang Iran.

Ulama terkenal Mesir itu mengatakan bahwa meskipun Iran mendukung perlawanan bangsa Palestina dan gerakan-gerakan perlawanan lainnya di dunia Arab, namun sayangnya sejumlah pengkhianat di dunia Arab ingin melemahkan Iran.

Abulazaem menyebut Tehran "pintu penghubung dunia Muslim" dan menekankan bahwa Iran adalah garis merah yang jika diserang tak akan diabaikan oleh negara-negara Islam lainnya.

IRNA-OANA

Editor: Jafar M Sidik
SOURCE : http://www.antaranews.com/berita/283655/jika-iran-diserang-ulama-mesir-umumkan-perang-jihad




Menurut ANALisis saya pribadi kemungkinan besar Israel akan menyerang Iran dengan serangan udara baik berupa pesawat berawak maupun pesawat nirawak atau dengan dukungan lain yang berupa peluru kendali dan rudal jelajah, karena melakukan penyerangan melalui jalur darat kelihatannya sangat mustahil, jika akan menyerang melalui jalan darat maka Israel harus mendapat persetujuan melintas wilayah dari Jordan (Yordania) ataupun dari Saudi Arabia, karena Iran terletak di seberang Israel dan harus melalui wilayah Jordan ataupun Saudi Arabia.






Kemungkinan Israel akan melakukannya dengan Preemptive Strike (serangan pendahuluan sebelum adanya deklarasi perang/serangan colongan) disaat Iran belum siap 100% untuk menangkal serangan-serangan Israel, dahulu kala Israel pernah melakukannya terhadap irak yaitu pada Operasi Opera (Hebrew: אופרה‎) atau yang dikenal dengan Operasi Babylon yang dilakukan pada 7 Juni 1981 yang menghancurkan reaktor nuklir  yang sedang dibangun yaitu reaktor nuklir buatan prancis kelas Osiris yang diberi nama Osirak oleh perancis, hasil penyerangan tersebut adalah hancurnya konstruksi reaktor nuklir tersebut dan menewaskan sedikitnya 10 tentara Irak dan 1 warga sipil berkebangsaan perancis yang sedang bekerja membangun reaktor nuklir tersebut yang berjarak sekitar 17 kilometer di tenggara kota Baghdad, Irak.


Gambar Operasi Opera (Operasi Babylon)


Tidak hanya sekali itu saja Israel melakukan Preemptive Strike, setahun berselang dari 1981 yaitu pada 9 Juni 1982 Israel kembali melakukannya yaitu pada Operation Mole Cricket 19 (Hebrew: מבצע ערצב-19‎, Mivtza Artzav Tsha-Esreh) atau yang kita kenal dengan Insiden Lembah Beka (Beqaa Valley).


Insiden Lembah Beka'a terjadi pada 9 Juni 1982 yang melibatkan duel antar Angkatan Udara Syria dengan Israel. Peristiwa ini terjadi ketika Israel mengadakan "aksi polisionil" dengan mengadakan Invasi ke Libanon Selatan ( Operation Peace for the Galilee) guna membersihkan kekuatan PLO yang sering mengadakan serangan ke wilayah Israel.


Israel mengadakan serangan ke posisi posisi militer Syria di lembah Beka'a guna menetralisir kekuatan udara Syria yang mengotrol Libanon sekaligus mencegah Syria untuk tidak ikut campur dalam menggelar kekuatan di Libanon selatan serta melancarkan Militer Israel memasuki Libanon. Operasi ini ternyata mengalami sukses besar.


Langkah pertama Israel adalah melumpuhkan sistem radar dan rudal pertahanan Syria di kawasan itu. Jarignan intelijen Israel menginformasikan bahwa Syria telah memperoleh sistem rudal anti serangan udara yang diperoleh dari Uni Soviet yang baru diantaranya adalah SA-6 Gainfull selain sistem udara yang lama diantaranya adalah SA-2 Guideline. Israel mengembangkan pesawat tanpa awak RVP yang digunakan sebagai pesawat intai dan umpan (drone) serta berhasil mengadakan riset elektronika guna mengacaukan gelombang radio komunikasi dan sistem radar. Sistem ini digunakan pada pesawat Boeing 707 yang dimodifikasi sebagai pesawat radar dan pengacau radar.


Langkah selanjutnya, Israel menerbangkan drone untuk mengumpan sistem radar Syria. Dengan didukung peralatan elektronika yang modern, Israel berhasil mengecoh radar Syria sehingga sistem rudal anti pesawat SAM (Surface to Air Missile/Rudal darat ke Udara) Syria menembaki pesawat umpan tersebut. Kemudian Israel melumpuhkan sistem radar tersebut sehingga pihak operator radar dan SAM Syria berusaha memantau dengan bantuan optik (mata). Pada saat itulah unit pesawat A-4 Skyhawk dan F-15 Eagle Angkatan Udara Israel menghancurkan posisi-posisi rudal SAM tersebut.


Angkatan Udara Syria tidak tinggal diam dan langsung mengerahkan pesawat-pesawat tempurnya yang terdiri dari MiG-21 Fishbed, MiG-23 Flogger, dan Su-22 Fitter buatan Uni Soviet yang berjumlah seratus pesawat (sedangkan Israel total hanya mengerahkan kekuatan sekitar 40 pesawat termasuk F-16). Namun keunggulan diudara berada ditangan Israel, selain teknologi pesawat Israel yang lebih maju dibandingkan Syria, ditambah pengalaman pilot serta sistem pengacau radar dan komunikasi yang melumpuhkan sistem komunikasi pesawat Angkatan udara Syria yang masih dituntun dari radar darat. Hasilnya, Israel berhasil merontokkan seratus pesawat tempur Syria tersebut tanpa ada kerugian sedikit di pihak Israel. Syria berusaha mengacaukan radio dan radar yang dimiliki Israel dengan kekuatan yang dimilikinya. Tetapi teknologi radio yang tertinggal membuat pihak operator radio Syria gagal.


Akibat peristiwa itu, Syria mengalami kerugian besar. Selain kehilangan sejumlah besar radar, rudal dan pesawat tempur, Syria kehilangan pilot-pilot angkatan udaranya yang gugur dalam peristiwa itu. Uni Soviet juga berusaha mengembangkan teknologi radar, rudal SAM dan pesawat tempur terbaru untuk mengimbangi kekuatan udara Israel yang notabene buatan Amerika Serikat. Muncullah pesawat tempur MiG-23 rancangan terbaru, MiG 29 Fulchrum dan Su-27 Flanker, selain rudal SAM SA-8 Gacko dan SA-10 yang kemudian digelar di lembah beka'a. Uni Soviet juga mengirimkan bantuan berupa MiG-23 Flogger terbarunya dan MiG-29 kepada Syria, namun sebagian sumber militer mengatakan Soviet mengurangi bantuannya karena utang luar negeri Syria yang semakin membengkak kepada Uni Soviet.


Bagi Israel sendiri, keberhasilan insiden itu memuluskan jalanya ke Libanon Selatan yang didudukinya sampai akhir tahun 2000. Namun demikian, peristiwa kekalahan dalam Perang Yom Kippur masih menghantui Israel sehingga berusaha keras memiliki keunggulan teknologi militer di kawasan Timur Tengah. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Angkatan Udara Israel memiliki supremasi atas negara-negara Arab sejak Perang Enam Hari 1967 hingga kini. Namun sumber sumber militer Israel sendiri mengatakan bahwa pihaknya merencanakan operasi udara tersebut selama 13 tahun.




Gambar sebuah Situs SAM (SA-6) Syria di Lembah Beqaa tahun 1982


SOURCE : http://en.wikipedia.org/wiki/Operation_Mole_Cricket_19
http://id.wikipedia.org/wiki/Insiden_Lembah_Beka%27a


Dibawah ini adalah bukti Israel akan menyerang Iran:

Netanyahu: Israel Harus Tetap "Tuan atas Nasibnya"

WASHINGTON, KOMPAS.com — Israel berhak melakukan serangan pencegahan (pre-emptive) terhadap fasilitas nuklir Iran meski tanpa dukungan Amerika Serikat, kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kepada Barack Obama, Senin (5/3/2012).

Sehari setelah didesak Obama untuk memberi lebih banyak waktu bagi bekerjanya sanksi-sanksi ekonomi terhadap Teheran sebelum beralih ke aksi militer, Netanyahu mengatakan, Israel akan tetap "tuan atas nasibnya sendiri". "Israel harus selalu memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri melawan setiap ancaman," kata Netanyahu. "Ketika itu berkaitan dengan keamanan Israel, Israel berhak, hak berdaulat, untuk mengambil keputusan sendiri."

Kedua pemimpin itu bertemu di Gedung Putih, Senin waktu setempat, untuk melakukan pembicaraan penting yang bertujuan untuk menyetujui sikap umum atas program pengayaan nuklir dan dugaan rencana mengembangkan senjata nuklir Teheran.

Walau Obama mengatakan dia "tidak akan ragu untuk menggunakan kekuatan militer" jika dibutuhkan demi menghentikan Iran mengembangkan bom, Gedung Putih sesungguhnya sangat ingin menghindari konfrontasi, terutama selama kampanye pemilihan presiden AS tahun ini. Obama kembali maju untuk meraih kursi presiden periode kedua.

Para pejabat Israel telah mengindikasikan bahwa mereka bisa menyerang Iran tahun ini kecuali jika ancaman tindakan AS dapat mencegah Teheran memiliki kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir. Israel tidak mau menunda serangan hingga ada tanda-tanda bahwa pengembangan persenjataan nuklir Iran sudah dimulai.

Dalam sebuah diskusi yang tidak nyaman di depan kamera TV di Ruang Oval, Netanyahu berusaha untuk menggiring Obama pada keputusan akhir Israel dengan menunjukkan bahwa Teheran tidak membedakan AS atau Israel. "Bagi mereka (Iran), kalian (AS) adalah setan besar, kami (Israel) adalah setan kecil," katanya. "Bagi mereka, kami adalah kamu, dan kamu adalah kami."

Pertemuan Obama dan Netanyahu itu terjadi saat kepala badan pengawas nuklir internasional mengeluarkan peringatan baru terkait program Iran. Badan itu melaporkan adanya "keprihatinan serius" dan mengatakan bahwa hal itu mungkin memiliki dimensi militer.

Obama pada kesempatan itu kembali mengulangi sikapnya yang telah disampaikan dalam sebuah konferensi pro-Israel di Washington, Minggu. Obama menegaskan bahwa ia "memiliki semua pilihan", bahwa kebijakannya adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Namun, ia kembali menekankan bahwa lebih banyak waktu yang diperlukan agar sanksi-sanksi yang telah ditetap bisa punya dampak.

"Kami yakin masih ada jendela yang memungkinkan untuk solusi diplomatik," kata Obama, yang berbicara terbata-bata sebelum Netanyahu menyampaikan pidatonya.

Bulan lalu, Jenderal Martin Dempsey, Ketua Gabungan Kepala Staf Amerika Serikat, mengatakan, serangan terhadap Iran akan "tidak bijaksana" dan akan membuat kawasan itu tidak stabil. Para pejabat AS telah mengindikasikan bahwa mereka bahkan tidak yakin Iran telah memutuskan untuk mengembangkan senjata nuklir.

Namun, Yukiya Amano, Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Minggu, sebelum menghadiri pertemuan di Wina mengatakan, "Kami memiliki informasi yang kredibel yang menunjukkan bahwa Iran terlibat dalam kegiatan yang relevan dengan pengembangan perangkat peledak nuklir."

Hari Minggu, Obama memperingatkan kepada 13.000 aktivis di konferensi kebijakan Komite Urusan Publik Israel Amerika (AIPAC) bahwa "pembicaraan terlalu dini tentang perang" menguntungkan para pemimpin Iran. Namun, dia menekankan, Israel berhak untuk mempertahankan diri.

Netanyahu mengatakan kepada wartawan dalam perjalanan menuju AS bahwa itu adalah bagian dari pidato Obama yang paling dia "sukai", lapor Associated Press.

SOURCE: http://internasional.kompas.com/read/2012/03/06/14041183/Netanyahu.Israel.Harus.Tetap.Tuan.atas.Nasibnya.

No comments:

Post a Comment