Amazon Deals

Tuesday, March 6, 2012

Sniper Raider 100, Pasukan Elit Penembak Jitu Kodam I Bukit Barisan

Harus Cermat dan tak Boleh Sembrono

Sniper Raider 100, Pasukan Khusus Penembak Jitu Kodam I/BB (1)
Sebagai penembak jitu (sniper), seorang prajurit harus memperhitungkan tanda-tanda alam dan peka terhadap situasi. Batasan antara hidup dan mati sangat bergantung pada kejelian dan keahlian. Bagaimana kisah para Sniper Raider 100?
Rudiansyah, Langkat
Selasa pagi (3/2) sekira pukul 08.30 WIB iring-iringan mobil yang dikawal kendaraan mobil voreijders warna putih milik Polisi Militer membawa Panglima Kodam I/BB Mayjen Noer Muis memasuki Komplek Batalyon Riders 100 Namusira-sira di Langkat.
Seratusan prajurit  Rider 100 berjajar di sepanjang jalan pintu masuk halaman Batalyon Baret Hijau tersebut untuk menyambut kedatangan rombongan Panglima Kodam I/BB.
Turun dari mobil dinasnya Mayjen TNI Noer Muis langsung melakukan pemeriksaan terhadap prajurit yang sedang berjaga di Pos Penjagaan di sana. Diiringi tiupan terompet dan genderang drum Pangdam I/BB terus memeriksa kerapian prajurit. Usai melakukan pemeriksaan sesuai dengan tradisi yang ada di TNI, Panglima diangkat dan dipanggul sejumlah prajurit sampai kantor Komandan Batalyon Rider 100 yang berjarak 300 meter
Di kantor itu, Pangdam melakukan konsolidasi bersama unsure pimpinan di jajarannya.
Saat itulah wartawan koran ini melihat-lihat sekitar Batalyon Riders 100. Gedung-gedung perkantoran di sana dicat hijau mudan. Di sebuah gedung wartawan Koran ini membaca tulisan Kasi Ops Batalyon Riders 100. Ruangannya cukup kecil untuk ukuran kantor. Di sana berkumpul beberapa prajurit yang ternyata personel sniper Rider 100. Tidak ada tanda-tanda khusus yang menonjol dari atribut mereka.

Wartawan koran ini sempat berpikir bahwa para penembak jitu Riders 100 adalah sosok berwajah sangar dan jarang bicara. Ternyata kesan itu tidak terbukti, karena mereka memang ramah. Setelah berbincang dan meminta izin dari seorang prajurit berpangkat Kopral Dua, wartawan Koran in akhirnya dipersilakan memasuki ruangan yang penuh komputer, laptop dan alat komunikasi lainnya.
Dipojok kiri ruangan duduk seorang pria muda berpangkat Sersan Satu (Sertu) sedang menggunakan laptopnya.
Dialah D Hadiy Priyono, Kepala Seksi Operasi (Kasi Ops) Riders 100 yang menyambut wartawan Koran ini dengan ramah. Pria berdarah Jawa ini memperkenalkan diri sebagai salah satu personel sniper yang dimiliki Batalyon Riders 100.
Sambil memperlihatkan foto-fotonya berseragam khusus Sniper, ia bercanda bersama prajurit lainnya. “Penembak jitu di Batalyon Rider 100 ini hanya berjumlah 8 orang saja Mas,” kata Seru Hadiy dalam perbincangan awal.
Setelah mengatur pernapasan Sertu Hadiy Priyono akhirnya mau bercerita panjang lebar menganai perjalanan karir nya sebagai penembak jitu. ‘“Dari 8 orang penembak jitu yang ada, diambil dua orang dari tiap-tiap Kompi. Tapi ke delapan orang ini saling kordinasi,” ujarnya.
Untuk menjadi penembak jitu, Batalyon melakukan seleksi terhadap seluruh personel, berbagai seleksi dilakukan Batalyon salah satunya lomba menembak. ”Seleksi yang dilakukan Batalyon yakni seleksi lomba menembak antar personel. Bagi personel yang terbaik dari yang lebih baik dan atas tes lainnya maka personel tersebut (calon sniper) lantas di seleksi lagi baik dari mental, psikologis, ataupun pengetahuan lainya.Bagi personel yang lulus maka di didik lagi lebih mendalam untuk menguasai jenis persentaan,” tegas Sertu Hadiy.

Seru Hadiy lagi melanjutkan bahwa personel yang memenangkan seleksi menembak mereka di langsung digembleng di Batalyon hingga di sekolah di Kopassus. “Pendidikan tambahan menembak selain secara intern di Rindam (Pendidikan TNI di Pematang Siantar) kami juga dikirim ke Kopasus untuk mendapatkan pendidikan yang lebih matang lagi,” paparnya.
Sertu Hadiy menjelaskan, sebenarnya banyak prajurit Rider 100 yang layak ditempatkan sebagai sniper. “Keterbatasan (jumlah) penembak jitu ini karena keterbatasan senjata laras panjang yang ada. Saat ini kita hanya punya senjata panjang khusus Sniper hanya 4 unit. Nah senjata ini kita pakai bergantian,” papar Sertu Hadiy.
Untuk mengasak keterampilan, sniper Rider 100 kerap diikutkan dalam berbagai kejuaran menembak untuk tingkat Internasional. “Kami sering mengikuti kejuaraan menembak militer antar negara, seperti ke Singapura dan Kamboja. Kita tergabung bersama penembak jitu gabungan seluruh Kodam di Indonesia,” ucapnya.
Meski sniper di Riders 100 belum punya prestasi menonjol, mereka punya kelebihan menggunakan senjata api pendek (pistol) Riders 100.
Soal teknis kerja sniper, menurut Sertu Hadiy hal itu tidak boleh diekspos karena menyangkut pengamanan baik kepala negara (presiden) juga menyangkut keamanan di dalam negera dari teroris dan garakan separatis lainnya.
‘“Untuk latihan menembak ini diberlakukan komandoper triwulan (3 bulan sekali) baik jenis pistol, ataupun jenis senjata api laras panjang. Kita lebih mendalami latihan menembak dengan senjata api laras panjang, karena ini menyangkut pengamanan,” tegasnya.
Hadiy melanjutkan lagi bahwa fungsi Sniper ini adalah pengamanan kepala negera baik dari luar negeri ataupun dalam negeri. “Jenis sniper berbagai cara baik runduk (merunduk) ataupun penyamaran dengan menggunakan kostum alam sesuai dengan fungsi dan tugasnya,” tegasnya.
Untuk dihutan, personel sniper menggunakan kostum jaring-jaring seperti lalang ataupun pepohonan hutan. Bahkan personel sniper ini dapat mengendap di hutan selama berminggu-minggu dengan bekal yang untuk menunggu musuh.

Selain dapat bertahan selama berminggu-mingu di hutan dengan bekal adanya, Sniper ini juga cukup tangguh untuk perang kota. Bahkan untuk kostum Sniper ini menggunakan busana serba hitam dengan memakai sebo dan perlengkapan perang yang cukup canggih baik teropong infra merah ataupun kamera yang dipasang di helm baja pasukan penembak jitu.
Untuk pengamanan di kota, sniper tersebut ditempat di daerah-daerah yang tinggi seperti gedung, bagunan bertingkat ataupun di menara. “Untuk daerah konflik, sniper selalu diikutkan bersama dengan pasukan lainnya. Sniper dipisah dengan pasukan lain untuk mengintai sniper musuh dari kejauhan,” papar Haydi.
Sambil bercerita, Sertu Haidy mengajak wartawan koran ini berjalan ke lapangan tembak yang berjarak lebih kurang 500 meter dari gedung komando. “Untuk perang terbuka di alam, sniper itu ditempatkan di atas bukti, gunung ataupun dataran tinggi lainnya.
Sertu Haidy lantas bercerita pengalamannya bertugas di daerah konflik di Aceh selama lebih kurang setahun. “Kami setiap melakukan patroli keliling masuk kampung, keluar kampung, masuk hutan keluar hutan mengejar seperatis GAM.
Sertu Haidy menolak membeber kisah pertempurannya dengan anggota GAM. “Ini menyangkut keselamatan pasukan dan diri saya,” kata Sertu Haydi. “Yang pasti, di tengah hutan sangat riskan. Kalau kita tidak membunuh maka kita yang dibunuh,” ucapnya memberi gambaran.
Di Aceh, Sertu Haydi hanya bertugas mengawasi sniper musuh yang mengintai personel TNI dari jarak tembak yang jauh. “Selama operasi malam, saya selalu dilengkapi teropong malam hal ini sangat dibutuhkan bagi seorang Sniper untuk mengetahui keberadaan musuh ditengah malam. Apalagi ditengah hutan ini sangat riskan, kalau kita tidak membunuh maka kita yang dibunuh,’’ucapnya lagi.

Dikatakan Sertu Haydi, untuk menembak musuh mareka harus mempertimbangkan suhu udara, arah angin dan harus mengetahui jarak tembak yang sempurna agar tembakan mematikan lawan.
“Kami harus mahir dan mengenal betul alam. Karena kalau kita semberono, arah tembakan bisa berubah dan meleset dari bidikan teropong,” ucapnya pria lajang ini.(Bersambung)


[ketgambar]BIDIK: Seorang anggota Sniper Raider 100 mempraktekkan cara membidik sasaran dalam sebuah kesempatan. //istimewa[/ketgambar]

SOURCE : http://www.hariansumutpos.com/arsip/?p=34092

1 comment: