Amazon Deals

Friday, April 5, 2013

DNA adalah Hard Drive dalam Server Semesta

Teori mengatakan bahwa DNA menentukan profil dan karakter seseorang. DNA

adalah kode-kode genetik dalam inti sel, yang akan menginstruksikan

bagaimana tubuh dan karakter (misal bakat) seseorang akan berkembang;

bagaimana warna kulit, tinggi, bentuk hidung dsb.



Di luar teori itu, saya percaya bahwa; DNA-lah yang ditentukan oleh karakter suatu jiwa.



Ketika

seseorang meninggal, ketika sukmanya meninggalkan jasadnya, Semua

data-data karma (hasil perbuatan) dan kesan dari pengalaman selama hidup

di dunia tersebut tidak turut sirna, namun data-data tersebut tersalin

ke sukma tersebut, sehingga sukma adalah representasi (salinan) dari

kondisi jiwa semasa di dunia; jika di dunia jiwanya tenang, tenang pula

jiwanya di alam ruh, dan sebaliknya.



Data-data ini untuk

sementara akan 'idle' atau tidak mengalami transaksi data selama sukma

kita meng-'kesuma' (menunggu saat untuk menitis). Karma yang tersalin

tidak mengalami perubahan, karena pada kondisi ini ruh tidak memiliki

“kuasa” untuk berbuat sesuatu untuk memperbaiki karmanya.



Pada

saatnya kelak menitis, maka data ini kembali akan disalin pada DNA,

data-data tentang karakter, bakat, profil dll. kembali dirumuskan dalam

kode-kode genetika dalam DNA –atau “encoding”. Dari sana, kode-kode ini

kemudian ditranskripsikan kembali menjadi karakter dan profil

perkembangan fisik. Karma di kehidupan lama di dunia di bawa kembali ke

kehidupan berikutnya untuk diperbaiki. Yang agak berubah mungkin bentuk

fisiknya, sebagai adaptasi terhadap lingkungan baru. Namun secara

“mental” jasad baru ini memiliki statement yang sama dengan individu

sebelumnya.



Dalam kehidupan episode yang baru, seseorang memiliki

kesempatan untuk meningkatkan lagi karmanya, dengan “modal dasar” karma

dari kehidupan sebelumnya (yang tercatat dalam DNA); ia “menabung”

karma untuk kembali di “save” di DNA nya



Bisa dikatakan bahwa DNA

adalah Hard-Drive, atau penyimpanan data sementara; sementara Jagat Ruh

adalah servernya. Selama proses reinkarnasi, Server dan Hard-Disk ini

secara berkala saling mensinkronisasi data (synchronizing).



Bakat dan karakter adalah salah satu data yang ditransaksikan



Saat

itu anak saya, Florrie, umur 5 tahun, berkata kepada saya (ia terbiasa

berbicara dalam bahasa Inggris dengan saya, karena tidak sangat fasih

berbahasa Indonesia):

“Dad, can I ask you something?”

“Sure” jawab saya.

“I want to learn playing drums”;

“Alright”, kata saya.



Sayapun

mengajarinya dengan agak basa-basi, karena saya tidak yakin seorang

perempuan 5 tahun betul-betul mau main dram, palingan cuman “cari

sensasi” saja, biasa anak kecil; saat ini maksa pengen, satu jam

kemudian sudah lupa.



Kemudian saya ajarkan dia, metoda yang

paling basic, yakni ketukan ¼, kombinasi antara bass-drum dengan

snare-drum, dengan latar belakang hi-hat, atau “dug-tak, dug-tak” saja.

Tak kurang dari 5 menit ia bisa mengadopsi skill itu.



Berikutnya,

tanpa saya ajarkan, dengan inovasi sendiri ia memainkan ketukan yang

lebih rumit, yakni 1/8 (atau “dug-ces-tak-ces-dug-ces-tak”) dalam waktu

kurang dari 10 menit. Dalam waktu 15 menit, ia sudah bisa memainkan

pattern dram standar 1/8 sambil nyanyi “Twinkle-Twinkle Little Star”



Bagi

murid drum saya yang lain, yang rata-rata umurnya di atas 20 tahun,

yang baru pertama kali belajar dram, skill ini baru bisa mereka adopsi

minimal pada pertemuan ke tiga. Anak saya bisa melakukannya dengan

lancar dalam waktu kurang dari 15 menit.



Pertanyaan saya adalah: darimana ia mendapatkan keterampilan tersebut?



Saya

seringkali merasa ‘amazed’, tak habis pikir, bagaimana seseorang bisa

memiliki suatu keterampilan/skill yang luar biasa, misal dalam hal

musik, misal seorang anak kecil di bawah 6 tahun yang bisa memainkan

karya-karya bach/Mozart dengan sempurna, atau bahkan seorang anak tuna

netra yang bisa melakukan hal yang sama. Dan banyak juga dari mereka

yang tiba pada kemampuan ini tanpa melalui suatu pendidikan yang

intensif yang formal.



Banyak musisi yang bisa melakukan hal-hal

yang “mustahil” untuk dilakukan “orang biasa”, meski misal seseorang

belajar sama kerasnya. Namun hasil akhir juga akan sangat ditentukan

oleh bakat, yang mana bakat ini sudah tertulis dalam DNA.



Apakah

mereka mendapatkannya dari orang tua mereka? sedikit banyak mungkin

saja, tapi seharusnya orang-tua mereka seharusnya lebih mahir daripada

anak-anaknya karena merupakan “sumber” dari DNA anaknya, namun

kenyataannya tidak demikian. Banyak dari musisi besar yang lahir dari

orang-tua yang kemampuan musiknya biasa-biasa saja, atau bahkan tak bisa

samasekali.



Banyak seseorang yang memiliki keterampilan

luarbiasa, yang hanya ia pelajari belum lama. Sebaliknya, banyak juga

yang belajar sudah lama, namun kemampuannya tak istimewa.



Seperti

halnya peribahasa: ‘Pemimpin tidak diciptakan, tapi dilahirkan’; maka

saya percaya juga bahwa seniman istimewa juga dilahirkan; tidak cukup

belajar saja. Bahwasanya keterampilan yang berkaitan dengan kesenian

adalah ditentukan genetika/turunan (DNA) sudah banyak dipercayai oleh

science.



Ketika seseorang belajar musik, tanpa disadarinya, ia

sebetulnya tinggal meneruskan saja apa yang pernah dipelajarinya dahulu;

mungkin objek pelajarannya tidak sama persis, misal gitar dengan sitar,

atau misal sekarang pintar main dram karena dahulu bermain gendang dsb.



Seorang yang saat ini menjadi pemimpin yang cakap, dahulunya juga kemungkinan besar adalah seorang pemimpin.



Terjemahan dari Wangsit Silihwangi:

“Berdiri

lagi seorang raja, asalnya orang biasa; tapi memang titisan raja.

Titisan raja dahulu kala dan merupakan anak dari seorang puteri dari

Pulau Dewata (Bali). Dan tentu saja karena TITISAN seorang raja, raja

baru ini tak mudah apes oleh aniaya.”



Demikian juga dengan seorang musisi/seniman secara umum; dahulunya kemungkinan besar mereka juga adalah seorang seniman.



Jadi

janganlah kita merasa bahwa belajar kita akan sia-sia, tak ada belajar

yang sia-sia, karena semuanya akan tercatat dalam jiwa kita, dan bisa

kita lanjutkan lain waktu :D

No comments:

Post a Comment