Amazon Deals

Wednesday, June 27, 2012

Kondisi Candi Muara Jambi, Warisan Leluhur Orang Indonesia

Kondisi Candi Muara Jambi, Warisan Leluhur Orang Indonesia

oleh Kids Cheerfulness pada 26 Maret 2012 pukul 20:20 ·

 “ CANDI MUARO JAMBI “



 Sahabatku yang Terkasih



Berikut saya kirimkan sekilas pandang Candi Muaro Jambi (Universitas Buddhist Internasional), yang berlokasi di Desa Muara Jambi, Kecamatan muarosebo, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, Pulau Sumatera – Indonesia J



Saya merangkum artikel dan foto ini semata-mata untuk memperlihatkan Nilai-nilai Keluhuran Budi Pekerti Warisan Nenek Moyang kita Indonesia, yang sangat dihormati bangsa-bangsa lain dari dahulu sampai saat ini.





Warisan ini bukan merupakan milik satu Suku, Agama, Golongan ataupun Ras tertentu melainkan adalah “MILIK KITA BERSAMA SEBAGAI ORANG INDONESIA pada khususnya dan MILIK SEMUA ORANG DI DUNIA pada umumnya yang harus di Lestarikan J



Candi Muaro Jambi, diperkirakan didirikan pada abad ke 7 & 8 Masehi pada Zaman Kerajaan Sriwijaya dengan luas 2612 Hektar, dimana ditemukan secara tidak sengaja oleh Kapten S.C. Crooke, Seorang Perwira Kehormatan Bangsa Inggris dan dilanjuti oleh Adam tahun 1920 dan di data kembali oleh Schhnitger tahun 1955





Untuk menuju ke lokasi melalui jalan darat dengan menggunakan fasilitas mobil hanya sekitar 20 menit – 30 menit, lokasi disekitar Candi sangat asri dan udaranya segar sekali ;-)



Kerajaan SRIWIJAYA (SWARNNADWIPA(pulau emas)) dikenal sebagai kerajaan Bahari, dan juga dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Buddha pada jaman itu setelah Negara India khususnya UNIV. NALANDA , Bihar – India (sekitar 55 mil di sebelah tenggara Patna) Univ. Nalanda tercatat dalam sejarah sebagai salah satu Univ. besar pertama, dan berkembang pesat pada masa Raja Gupta: Raja Sakraditya dengan luas 14 Hektar (dikutip dari majalah Asta Manggala (Triyana Dhammacenter hal 36)







Berdasarkan catatan sejarah dari Bhikkhu I Ching (berasal dari Negara China) datang ke Sriwijaya abad VII untuk mempelajari tata-bahasa Sansekerta(pada saat itu bahasa Sansekerta yang terlengkap yang ada di bumi nusantara setelah yang ada di India)yang akan diterjemahkan ke bahasa Tionghoa demi kepentingan penyebaran agama Buddha di China.





Dalam agama Buddha, terdapat beberapa aliran, antara lain Hinayana dan Mahayana, sumber tertulis dan arca-arca yang ditemukan mengindikasikan bahwa agama Buddha yang berkembang di Sriwijaya adalah aliran Mahayana, akan tetapi para Bhikkhu Buddha di Sriwijaya juga mempelajari aliran dari Hinayana







Pusat pengajaran agama Buddha yang terbesar pada masa itu adalah UNIV. NALANDA, namun beberapa sumber dari catatan sejarah China juga menyebutkan bahwa di SRIWIJAYA juga terdapat suatu perguruan tinggi agama Buddha yang cukup baik, seperti yang disebutkan oleh Bhikkhu I ching dalam kitabnya yg berjudul “Biografi Pendeta-Pendeta Mulia dari Tang yang mengajar di India tahun 688 – 695) yang memberitakan :



“ Di ibukota Sriwijaya yang dikelilingi benteng, ada lebih seribu bhikkhu Buddha: semuanya tekun mencurahkan perhatiannya kepada pengetahuan agama dan mengamalkan ajaran Buddha. Mereka melakukan penelitian dan mempelajari ilmu yang ada pada waktu itu, dan tidak adanya perbedaan dengan yang ada di Madyadesa di India. Upacara dan peraturan agama di kedua tempat itu sama. Oleh karena itu Bhikkhu-bhikkhu dari Tiongkok yang ingin pergi ke India untuk menuntut ilmu agama dan membaca teks-teks asli, sebaiknya menetap di Sriwijaya dahulu selama satu atau dua tahun untuk menjalani latihan sebelum berangkat ke India. Lagipula di situ ada Bhikkhu Buddha yang termasyur dan telah menjelajahi lima negeri di India untuk menambah ilmunya, yang benama SAKYAKIRTI” (Takakusu 1896:38)

Dikutip dari buku Buddha di Nusantara oleh Bambang Budi Utomo oleh Buddhist Education Centre

Sampai dijelaskan oleh Bhikkhu I Ching bahwa bangunan – bangunan pada saat itu yang ada di SWARNNADWIPA(pulau(Swarnadwi) emas(Pa)) dihiasi dengan ornament Emas pada bagian atapnya.







Demikian terkenalnya hingga pada tahun 1011 hingga 1023 Masehi, Seorang Bhikkhu dari Tibet yang bernama Lhama (Bhikkhu) ATISA DIPAMKASRIJNANA datang ke Swarnnadwipa untuk belajar agama Buddha selama +/- 12 tahun di Sriwijaya dengan gurunya yang bernama SERLINGPA DHAMMAKRTI (Yamamoto 1983:171-180) (Serling (Raja) Pa (emas) Raja di tanah emas yang bernama Dhammakrti ASLI ORANG INDONESIA





SERLINGPA DHAMMAKRTI



Menurut catatan-catatan lontar kuno dan tradisi lisan di Tibet, Dhammakrti adalah seorang Putra Raja, dalam usia muda ia meninggalkan istana untuk mencari Pencerahan  sampai menjadi seorang pengembara ke Jambudvipa, Srilanka dan india, sayang sekali, para sejarawan dan budayawan kita sepertinya tidak pernah mendengar tentang Leluhur Bangsa Indonesia yang sangat terkenal dan dihormati dari ribuan kilometer dari Indonesia di Negara Tibet (dikutip dari buku Seni Memberdaya Diri 3, ATISHA melampaui meditasi untuk hidup meditative, karangan Anand  Krishna hal 2 dan3)





Lhama (Bhikkhu) Atisha disebutkan dalam catatan lontar menerima ajaran langsung dari Serlingpa Dhammakriti di daerah yang disebutkan “Lembah Perak” (Silver Hill)





LHAMA  ATISHA DIPAMKASRIJNANA



Dikatakan bahwa selama ratusan tahun pertama ajaran Lhama Atisha sangat di rahasiakan, hanya para siswa terdekat yang diperbolehkan untuk mendalaminya, Lhama Atisha menjabarkan sebuah konsep yang unik yang didapatkan dari gurunya yaitu Serlingpa Dhammakriti Swarnna dwipa , yang memberikan latihan TONG-LEN(memberi dan menerima), HH Dalai Lama 14 pernah bercerita “ Inilah Latihan yang saya lakukan setiap hari, Memberi Cinta Kasih, Kebajikan dan Menerima Segala Hujatan, Kebencian dengan Cinta Kasih J



 Lhama Atisha dapat dikatakan sebagai penulis yang cukup produktif setelah beliau pulang ke India dan sebagai guru besar di Univ. Nalanda dimana salah satu tulisan beliau yang sudah diterjemahkan ke bahasa inggris dan bahasa Indonesia yang didapatkan dari Serlingpa Dhammakriti yaitu : “Tujuh Butir Pedoman untuk Mengolah Pikiran (mind)”dalam bahasa Tibet Lo - Jong

(dikutip dari buku Seni Memberdaya Diri 3, ATISHA melampaui meditasi untuk hidup meditative, karangan Anand  Krishna hal 8)



Lhama Atisha mempunyai banyak Guru, dan mempunyai kebiasaan menyatukan kedua tangan di dadanya bila nama mereka di sebut, namun ketika mendengar nama Serlingpa Dhammakrti, beliau akan menyatukan tangannya Pada Mahkota Kepalanya dan terharu,



Dan para pengikutnya menanyakan hal tersebut kepada Lhama Atisha, “ Engkau sepertinya terlihat mengekspresikan rasa hormat yang sangat berbeda terhadap Serlingpa Dhammakrti dibandingkan dengan Guru-guru yang lain, Apakah dikarenakan ada perbedaan dalam kebijaksanaan mereka ? “

Lhama Atisha menjawab “ Semua Guru saya tanpa terkecuali telah mencapai pencerahan”, Tidak ada satupun dari mereka adalah Manusia Biasa, tidak ada perbedaan dalam Kualitas Mereka”,



“Tetapi rasa Terima Kasihku kepada Guru Serlingpa Dhammakrti karena ajaran BODHICITTA telah berakar dalam diriku, Maka dari itu terdapat Rasa Syukurku yang terdalam untuk itu “



Bayangkan pada zaman itu Lhama Atisha belajar bahasa setempat dan bahasa sansekerta yang bertujuan untuk diterjemahkan ke bahasa Tibet demi pengajaran agama Buddha yang ada di Tibet



Pemikiran Lhama Atisha sangat mempengaruhi para cendekiwan Buddhist yaitu murid beliau langsung yaitu Lang-ri Thang-pa (1054-1123) dan Geshe Chekawa (1101-1175)



Lhama Atisha juga memberikan ajaran Buddhist di Tibet, seperti yang dikutip dari buku Seni Memberdaya Diri 3, ATISHA melampaui meditasi untuk hidup meditative, karangan Anand  Krishna hal 1, ketika itu HH. Dalai Lama 14 berkenan menerima rombongan di ruang kerjanya, lalu bercerita, “dulu, you know , di Indonesia di Svarnadvipa ada seorang guru besar namanya Serlingpa Dhammakriti dan salah satu muridnya yang bernama Atisha, datang ke Tibet untuk mengajarkan aajaran tentang Bodhichitta.

Dan Atisha sendiri adalah seorang Guru Besar dan Very important part of Tibetan Culture and Religion



Semoga Informasi di atas dapat Bermanfaat dan memberikan potensi positif kepada ,  kita semua akan nilai-nilai keluhuran dari nenek moyang Indonesia





Dikutip dari Majalah “Asta Manggala” Terbitan Triyanadharmacenter vol 1, edisi kedua Mei’11 – Sept’11 hal.43 dan hal. 49



Tahukah Kita :



    Bahasa Sansekerta terlengkap setelah di UNIV. Nalanda – India, adalah di Candi Muaro Jambi



    Untuk ujian saringan masuk Univ. Nalanda di india, seorang siswa bhikkhu harus menjalani test lisan yang akan diujikan oleh seorang  Pandita Buddhist dimana dari 10 orang yang melakukan test, yang akan diterima hanya 2 atau 3 orang saja



    Kurikulum Univ. Candi Muaro Jambi, tidak ada bedanya pengajarannya sama dengan Univ. Nalanda di India



    Ada satu lokasi di Univ. Nalanda – India di sebutkan didalam Prasasti Nalanda,

Bahwa sebuah Vihara yg merupakan tempat tinggal bagi kumpulan bhikkhu yang memiliki berbagai kualitas bajik, bangunan berwarna putih dengan serangkaian tempat tinggal yang indah dan dinding yang halus atas permintaan dari Raja Balaputradeva dari Svarnnadvipa melalui utusannya dengan memberikan pajak dari lima desa untuk membiayainya demi kebahagiaan dirinya sendiri, kebahagiaan orang tuanya dan kebahagiaan diseluruh alam kehidupan J

PRASASTI  NALANDA







    Didalam kompleks Candi Muaro Jambi ditemukan Stupa yang bentuknya sama persis yang ada di Negara Tibet, Bhutan, Mongolia dan Nepal







            STUPA yang berada di dalam kompleks Candi Muaro Jambi



















    Ditemukan Arca Prajna Paramita yang sangat terkenal dalam aliran Mahayana merupakan symbol dari ajaran Mahayana yang bernama “ Sutra Hati” (Prajna Paramita Hrdayam Sutra)







Tampak Depan Arca Prajna Paramita   Tampak Belakang Arca Prjana Paramita











Arca Padma                                                      Bata merah yang bermotifkan Padma







Berikut di bawah ini koleksi dalam museum Candi Muaro Jambi











    Dalam kompleks Candi Muaro Jambi juga bisa kita temukan “Telago Rajo” di foto kelihatan airnya warna Hijau lumut, tetapi setelah diendapkan selama dua atau tiga hari airnya akan jernih seperti air mineral dalam kemasan yang ada dipasaran.







    Untuk menjelajahi seluruh bagian kompleks Candi Muaro Jambi 2612 ha

diperlukan waktu +/- satu minggu

    Dalam kompleks Muaro Jambi juga banyak ditemukan pohon Duku dan pohon Durian dengan asumsi untuk menjaga kelestarian alam penghijauan serta dapat dikonsumsi sebagai buah-buahan



    Hanya di propinsi jambi ditemukan “Bahasa Lokal Jambi disebutkan BUNGA PARANG, di Tibet disebutkan CHAMPAKA, bentuknya seperti daun bawang putih

Sekedar informasi di dalam kegiatan Buddhist Tibetan apabila diadakan            Puja Besar maka Bunga Champaka yang akan di pakai dalam sarana puja tersebut.

Bunga tersebut sama persis yang ada di Univ. Nalanda - India

Bunga Parang ini juga bisa ditemukan di toko obat tradisional china di Indonesia sebagai penurun panas dalam J (lihat di foto)









    Ditemukan juga Pohon Bodhi berikut pohon – pohon yang berharga di dalam

            kompleks Candi Muaro Jambi (Kayu Cendhana dan Kayu Gaharu



    Dibawah ini salah contoh pakaian tradisional pengantin pria adat Jambi













Sahabat Terkasihku,



Perlu diketahui, disini saya berbagi informasi mengenai Candi Muaro Jambi, bukan bearti menunjukkan superior dari Suku, Agama, Golongan dan Ras tertentu, melainkan semata-mata hanya sebagai anak cucu bangsa Indonesia yang melestarikan Warisan Leluhur Nenek Moyang Indonesia, yang dimana ribuan kilometer dari Negara Indonesia, Warisan Leluhur Nenek Moyang Indonesia sangat di hargai oleh Negara Lain :-)



Jika bukan kita yang menghargai Warisan Leluhur Nenek Moyang Kita, siapa lagi  yang akan menghargainya :-)



“Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai Sejarah dan Warisan Leluhur nya “



Dimana kelestariannya kini terancam dengan penambangan batu bara di sekitarnya .



Semoga bermanfaat atas informasi yang di berikan :-)



Sarva Manggalam



Hormat Anjali Johan :-) johan.subuthi@yahoo.com





Info lebih lanjut sahabat terkasih dapat ke :



www.sudimuja.com

No comments:

Post a Comment