Amazon Deals

Thursday, June 7, 2012

Manunggalitas: apakah tujuan hidup?

Oleh: Hendra Hendarin

Manunggalitas,
proses manunggal (menjadi tunggal) dengan Yang Maha Tunggal, kerapkali
dianggap sebagai tujuan mutakhir (ultimate) dari perjalanan hidup
manusia dan merupakan tahap akhir dari "perjuangan" hidup di bumi.
Berbagai cara dilakoni manusia, dengan maksud untuk mencapai tujuan
tersebut.

Dalam pandangan beberapa penganut agama Islam,
manunggal ini disebut juga sebagai ma'rifat; dan bagi yang sejalan
dengan konsep dari Syech Siti Jenar, 'manunggaling Gusti' juga dianggap
sebagai esensi dari tujuan hidup.

Manunggal adalah suatu fenomena
ketika jiwa/sukma/consciousness kita melebur kembali dengan ruh/spirit
semesta -yang mana pada hakikatnya adalah roh Yang Maha Tunggal.

Proses manunggal dapat terjadi melalui, umumnya, dua hal: pertama adalah ketika kita *meninggal/*passing away;...

*Dalam
peristilahan meninggal/passing away inipun disiratkan bahwa fenomena
yang terjadi adalah jiwa 'meninggal'kan jasad; dan dalam istilah bahasa
luar, 'passing away' juga menyiratkan hal yang sama. Jadi istilah 'mati'
atau 'dead' adalah isitlah yang sangat berperspektif 'duniawi', karena
'hidup'/'ruh' kita tidak akan pernah 'mati'.

...yang kedua adalah
kita melakukan meditasi, hingga pada fase tertentu, sehingga jiwa kita
'transporting home'. keadaan ini, konon, dan saya percaya, dapat dicapai
oleh para waskita. Ia hanya 'berkelana' sebentar, dan dapat kembali ke
jasadnya.

Dengan demikian, manunggalitas adalah suatu proses yang
'alamiah' dan selalu berulang (reinkarnatif). Ia seperti waktu dari jam
00:00 kembali ke jam 00:00; 'from zero to zero'; dengan kalimat lain,
tanpa dijadikan tujuan hidup-pun, manunggalitaas adalah suatu
"keharusan" untuk dilalui dalam perputaran "hukum alam".

Jadi apakah keliru jika manunggal dijadikan sebagai 'goal' hidup kita?

Dalam perspektif lain, mungkin tidak.

Dalam
perspektif lain, manunggalitas kadang diartikan juga sebagai pencapaian
tertinggi dari nilai-nilai spiritualitas manusia, yang semakin
mendekati sifat-sifat Yang Maha Tunggal. Dalam konteks ini, yang
dimaksud manunggalitas adalah lebih kepada ascension atau kenaikan
tingkat spiritualisme ruh. Namun untuk mencapai tingkat ini, tidak bisa
dicapai dengan hanya sekali inkarnasi. Kita harus melalui sangat banyak
proses reinkarnasi, mungkin ribuan kali, entah mungkin lebih.

Sebelum
itu, baiknya kita pahami terlebih dahulu bahwa pada hakikatnya, ruh
juga adalah merupakan "enerji"; dan enerji tidak pernah hilang; ia hanya
bisa bertransformasi dari satu bentuk enerji ke bentuk enerji lainnya.
Dengan dasar pemikiran seperti ini, tentu sulit untuk diterima bahwa
jiwa manusia hanya mengalami satu kali inkarnasi saja -yang umurnya
mungkin rata-rata sekitar 80 tahun saja: lalu sisa waktunya (yang
lamanya tak terbatas) "kita" habiskan dimana?

Tingkatan Ruh

Kembali
ke isu asensi, atau "kenaikan tingkat", oleh karena untuk mencapai
(secara teoritis) tingkat tertinggi diperlukan sangat banyak fenomena
reinkarnasi, berdasarkan dasar pemikiran tersebut, tentu juga agak sulit
untuk diterima bahwa tujuan hidup manusia adalah manuggal (dalam
perspektif ini). Karena dari tingkatan manusia, tidak lantas satu
langkah langsung "menjadi Tuhan". Sebelumnya, mungkin kita harus melalui
tahap menjadi dewa dulu dalam berbagai hirarki dan struktur
("manunggal" dengan berbagai struktural dan hirarkis dewa sebelum
tingkatan yang lebih atas lagi).

Itu juga jika kita "lulus",
karena bisa saja kita "tidak lulus" dan malah "turun tingkat" menjadi
tingkatan ruh yang lebih rendah, misal menjadi binatang (yang juga
memiliki tingkatan, misal menjadi kecoa tentu berbeda tingkat dengan
menjadi misal gajah).

Pola pemikiran ini, saya mengerti, bagi
banyak orang sulit untuk dimengerti. Namun ketika anda menerima konsep
bahwa Manusia adalah satu ruh dengan Maha Pencipta, dan ruh Maha
Pencipta melingkupi segala hal, maka anda akan harus menerima juga bahwa
ruh Tuhan juga mencakup segala sesuatu dari mulai tumbuhan, gunung,
planet, kecoa, tikus, badak dll. Dan konsekuensinya, jika ruh Tuhan
mencakup semua itu, mengapa kita -yang satu ruh dengan Tuhan, tidak
mungkin mengisi jasad selain manusia.

Berbicara tentang hirarki
tingkatan ruh, manusia juga memiliki berbagai tingkatan. Ada yang lahir
menjadi pengemis buta yang hampir sepanjang hidupnya relatif melarat,
ada juga yang lahir dari bangsawan kaya dan terhormat, rupawan serta
banyak dipuja orang. Tanpa konsep reinkarnasi, akan sulit untuk menerima
bahwa alam adalah adil -ketika kita membandingkan dua kondisi manusia
yang sangat berbeda ini. Mau tidak mau kita harus menerima, bahwa kita
akan sulit untuk menghormati bangsawan terhormat dengan rasa hormat yang
sama dengan kita menghormati maling dan pemerkosa. Ini sebabnya ajaran
Hindu lebih realistis dalam hal ini dengan konsep Kasta-nya. Manusia
melakoni karmanya, berdasarkan apa yang telah diperbuatnya dalam hidup
sebelumnya. Dan kita menaruh respek pada setiap orang berbeda,
tergantung dari apa yang dicapainya (terlepas dari bahwa kita harus
mengasihi semuanya)

Menjadi Manusia

Menjadi manusia
adalah anugerah yang paling baik yang dialami oleh fenomena ruh. Karena
dengan menjadi manusia, kita memiliki kesempatan yang lebih baik untuk
"berbakti" kepada Maha Pencipta. Bahkan para dewa pun banyak yang ingin
turun kembali ke bumi. Karena hidup di bumi seperti permainan yang
mengasyikan, sekaligus banyak "door price" dan hadiah lainnya. Oleh
karena hidup di dunia ini menjadi dambaan setiap ruh, mengapa kita ingin
cepat-cepat "naik kelas"? Mari kita nikmati saja permainan ini, dan
berterimakasih serta bersyukur, dengan cara berbakti melalui tingkah
laku perbuatan, ucapan dan niat yang positif dan memberkati manusia
lain.

Life is beautiful, all you need is love

SOURCE:  http://www.facebook.com/groups/atlantisindonesia/doc/332374306812489/

No comments:

Post a Comment