Amazon Deals

Friday, June 29, 2012

Madura, Dayak, Melayu dan Keterlibatannya di konflik Sampit "Orang Madura itu bau sapi, orang Dayak bau ular"

14 Mei 2001

Prof. Dr. Parsudi Suparlan, Ph.D.:

Untuk itu, kekuatan-kekuatan masyarakat, seperti lembaga swadaya masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat, dan para pakar, akan berkumpul di Sampit mulai 23 Mei 2001 dalam "Kongres Rakyat Kalimantan". Tujuannya adalah mencari solusi yang paling jitu untuk persoalan konflik antaretnis di Sampit, juga di daerah Kalimantan lainnya, atau bahkan di berbagai daerah di Indonesia. Dalam perhelatan itu, Prof. Dr. Parsudi Suparlan, Ph.D., 63 tahun, seorang ahli antropologi dari Universitas Indonesia (UI), dipastikan mampu memberi sumbangan penting dalam mencari penyelesaian konflik secara permanen. Sebab, pengajar S2 dan S3 di Jurusan Antropologi UI ini tidak saja memiliki pengetahuan akademis, tapi juga punya pengalaman lapangan yang matang di daerah konflik antaretnis di Kalimantan. Parsudi beberapa kali terjun langsung ke daerah konflik etnis di Kalimantan itu, sejak peristiwa Sambas dua tahun lalu. Salah satu pendiri organisasi pencinta alam Mapala UI itu mewawancarai penduduk lokal untuk mendengar suara mereka. "Orang Dayak itu sebenarnya cinta damai," kata doktor lulusan Universitas Illinois di AS itu. Lalu, mengapa orang Dayak bisa menjadi pembunuh? Lelaki yang beristrikan perempuan warga negara AS dan memiliki dua anak ini menjelaskan duduk persoalannya kepada Endah W.S. dan Bernard Chaniago dari TEMPO, di antara kepulan asal rokok dan tumpukan buku-buku yang memenuhi rumahnya di Kompleks Dosen UI, Ciputat, Kamis malam lalu. Berikut adalah petikan wawancaranya.

Menurut temuan lapangan Anda, apa sebenarnya yang terjadi di Sampit? Kebanyakan analisis pakar menyatakan, konflik antaretnis di Sampit adalah benturan budaya. Menurut saya, yang terjadi adalah konflik antarsuku bangsa dalam hubungan antarsuku bangsa, yang merupakan hubungan sosial. Jadi, masalahnya adalah benturan antarsuku bangsa yang menggunakan acuan kebudayaan menurut stereotip atau keyakinan masing-masing, bukan menggunakan acuan kebudayaan secara obyektif. Sebab, bila pangkal persoalannya adalah benturan kebudayaan, yang harus diteliti adalah akulturasi. Dan hal ini sama sekali tidak relevan dengan apa yang terjadi di Sampit. Saya lebih melihat ini sebagai permasalahan antarsuku bangsa atau permasalahan sosial akibat hubungan sosial yang menyangkut jati diri suku bangsa di dalam masyarakat setempat. Preman-preman orang Madura, yang merupakan sebagian kecil dari orang Madura, dengan cepat mencabut parang untuk membunuh. Lalu, orang-orang Dayak bereaksi sesuai dengan keyakinan dasar mereka, yaitu Kaharingan. Mereka percaya adanya dewa-dewa dan kekuatan roh-roh yang menjaga kehidupan kesejahteraan hidup manusia. Akhirnya, orang-orang Dayak menyerahkan masalah ini kepada leluhur untuk minta keadilan dan minta petunjuk, yang disebut manenung atau meramal. Dalam kegiatan itu, dilakukan upacara memanggil roh-roh atau nayau untuk membasmi orang-orang Madura yang preman tadi. Masalahnya, roh-roh ini tidak bisa membedakan mana yang preman dan mana yang bukan. Begitu nayau masuk ke badan, orang itu melakukan pembantaian. Akhirnya orang asal Madura, preman ataupun tidak, dibantai. Artinya, tidak semua Dayak membantai orang Madura, tapi hanya mereka yang kerasukan nayau saja? Awalnya orang Dayak ini memang hanya berupa pasukan kecil, sekitar 80-an orang. Itu menurut informasi masyarakat setempat. Faktanya, orang Dayak itu memang membantai orang Madura dengan cara mdngerikan. Ada sebuah cerita tentang orang Dayak dan Madura yang bertetangga baik, mereka bersahabat. Tapi orang Madura itu tetap dicari. Oleh orang Dayak sahabatnya, si Madura disembunyikan di lemari pakaian. Begitu yang menyerbu sudah keluar rumah, si orang Dayak itu senang karena ia menganggap sahabatnya selamat. Ketika lemari dibuka, kepala si Madura sudah terpenggal. Jadi, mandau orang Dayak itu yang mencari kepala orang Madura. Ini nyata, lo. Yang cerita ke saya adalah orang Dayak sahabat si Madura yang kepalanya terpenggal itu. Saya mewawancarai orang Dayak yang menjadi anggota pasukan itu. Saat itu ia masih belum "normal", masih kerasukan roh. Matanya masih merah dan berputar-putar. Dia mengatakan sudah sekian minggu tidak tidur. Saat saya tanya, "Bagaimana Saudara mengenali orang Madura?" dia menjawab, "Orang Madura itu bau sapi, orang Dayak bau ular, dan orang Jawa itu bau manusia. Bapak ini bau manusia," katanya. Apakah orang-orang Dayak yang dirasuki nayau ini sudah dibersihkan? Pemanggilan nayau selalu minta makan darah. Orang-orang Madura yang akan dibantai sudah tidak memiliki darah. Jadi, tidak ada darah yang berceceran. Ini menarik karena bila nayau ini tidak segera dikembalikan, mereka akan terus minta darah. Selain orang Madura, siapa saja bisa dimakan. Maka, diadakan upacara mengembalikan nayau ke langit dengan menyembelih tiga ekor kerbau atau sapi di bukit batu, daerah keramat di selatan Palangkaraya. Nah, orang-orang yang dipakai membunuh ini diberi tanda bahwa mereka sudah bersih, sudah menjadi orang normal lagi. Artinya, bagi mereka sudah tidak ada lagi pembantaian dan pertumpahan darah. Lalu, bagaimana kerusuhan bisa meluas ke daerah-daerah lain? Setelah kelompok kecil itu menang, orang-orang Dayak yang semula tidak berani jadi ikut-ikutan. Semua menganggap dirinya pahlawan, semuanya ingin menyerbu. Ini yang terjadi di luar Sampit, seperti di Palangkaraya, Kualakapuas, dan Pangkalanbun. Sebenarnya sudah ada perjanjian damai di Sampit. Tapi yang melanggar itu orang Dayak. Sebab, sebetulnya setelah perjanjian damai di Sampit, tidak ada ancaman bagi orang-orang Dayak, baik di Sampit maupun di kawasan lain. Yang saya kaget lagi, ada laporan media massa yang menyatakan terjadi serangan ke orang Dayak. Padahal setelah saya cek tidak terjadi apa-apa. Menurut saya, meluasnya konflik salah satunya karena memang ada tukang kipasnya, yang merasa ikut andil ingin memenangkan orang Dayak. Bagaimana dengan dugaan polisi yang menyatakan bahwa tokoh masyarakat Dayak, Prof. H. K.M.A.M. Usop, adalah provokator? Setahu saya, Prof. Usop ini justru mencoba mendinginkan suasana. Dalam salah satu pidatonya, disebutkan bahwa sekarang waktunya untuk berdamai dan tidak ada lagi pembunuhan. Menurut Prof. Usop, dewa-dewa nayau sudah dikembalikan ke langit dan kita sudah menjadi manusia normal lagi. Maka, jika terjadi pembunuhan, orang itu harus ditangkap sesuai dengan prosedur hukum. Setelah Usop ditangkap, bagaimana reaksi masyarakat Dayak? Reaksinya sangat keras dan bisa saja memicu pertumpahan darah lagi. Ini yang saya khawatirkan. Bila ada provokasi, bisa terjadi konflik lagi dan yang digempur bukan Madura, tapi pemerintah. Apa sebenarnya tujuan kongres? Pertama, untuk mengembalikan prinsip negara Indonesia sebagai ndgara kesatuan. Orang asli Kalimantan kembali bersatu dengan suku bangsa yang ada. Karena itu, orang-orang Madura harus diterima kembali. Tapi orang-orang Madura yang diterima jangan yang preman. Kesepakatan yang dihasilkan dalam kongres ini nantinya akan menjadi payung bagi masyarakat lokal, hingga peringkat kelurahan, RW, RT. Bagaimana menyaring orang Madura yang preman atau bukan? Salah satunya dengan prioritas bahwa yang diterima tinggal di Sampit adalah orang Madura yang sudah punya dua hingga tiga generasi. Pendatang baru harus diperiksa latar belakangnya, apakah kriminal atau bukan. Ada semacam screening, walaupun itu nantinya susah. Ide menerima kembali orang Madura itu jauh lebih maju daripada yang terjadi di Sambas. Di sana, orang Melayu sama sekali tidak mau menerima orang Madura, meskipun orang Madura sudah tinggal selama tiga generasi. Dan yang menarik, solusi di Sampit itu bukan suara pemerintah, tapi suara orang Dayak sendiri. Apakah ide screening ini bisa direalisasi? Realistis. Contohnya, ikrar orang Madura di Pangkalanbun yang menyatakan akan mematuhi dan memagari mereka sendiri dari penyusupan para preman tadi. Misalnya, mereka tidak mau menerima orang yang tidak memiliki indentitas jelas. Malam hari setelah ikrar ini dibuat, saya tanya penduduk Melayu, Dayak, Banjar, dan Jawa, apakah mereka ingin perang atau damai. 50 persen mengatakan perang, sisanya damai. Dan yang paling bersemangat untuk berperang adalah orang Melayu dan Banjar. Lalu saya tanya mengapa mereka mau perang. Alasannya, orang Madura tidak bisa beradaptasi, tidak bisa menghargai. Mereka menjawab, yang bisa beradaptasi adalah orang-orang Madura yang sudah tinggal di Kalimantan selama dua atau tiga generasi. Dan saat ini masih ada sekitar 20 ribu orang Madura yang masih tinggal dan dilindungi di Sampit. Apakah penyelesaian konflik yang diupayakan pemerintah tidak efektif? Yang saya tahu, misalnya pada konflik di Sambas, Kodim setempat memanggil tokoh-tokoh masyarakat yang diangkat oleh pemerintah. Ini sama saja dengan menyuarakan pemerintah. Yang sekarang ini, semua pihak boleh menyumbangkan pendapat untuk penyelesaian konflik. Apa sebenarnya akar konflik di Sampit dan daerah lain? Orang Dayak di Kalimantan Tengah itu sebenarnya cinta damai. Untuk itu, mereka selalu mengalah. Mengapa mereka begitu? Karena sebelumnya mereka tukang mengayau, tukang membunuh, tapi perilaku itu sudah tidak ada sejak 1894, setelah perjanjian di Tumbang-anoi. Isi perjanjian itu adalah setiap pelaku kejahatan harus membayar denda, bukan nyawa dibayar nyawa seperti prinsip orang Madura. Kalau Dayak sakit hati, ya, harus bayar denda melalui sebuah upa-cara. Dari barang yang hilang hingga membunuh, ada hukumannya. Nah, kedatangan orang Madura itu merusak semua tatanan ini. Sebenarnya dalam setiap hubungan sosial ada aturan main yang ditaati, yang bisa berupa konvensi sosial, aturan adat, dan yang berdasar hukum. Tapi aturan main itu tidak berjalan dengan baik. Aparat polisi, misalnya, tidak terbiasa menangani masalah suku bangsa seperti ini dan menangani gejala konflik etnis. Apakah menurut Anda pemerintah berpihak ke salah satu etnis? Enggak juga. Yang menarik, orang Madura menganggap pemerintah berpihak pada Dayak, dan orang Dayak menganggap sebaliknya. Itu karena pemerintah, melalui polisi, tidak tahu bagaimana harus bertindak. Akhirnya kedua etnis itu memusuhi polisi. Orang Madura bilang, polisi membiarkan orang Madura dibantai Dayak. Orang Dayak juga mengatakan, dalam peristiwa orang Dayak yang sudah dibunuh sebelum peristiwa Sampit?sekitar 36 orang itu?polisi dianggap tidak melakukan apa-apa. Apa perbedaan dan persamaan konflik etnis di daerah-daerah Kalimantan? Prinsipnya sama, terjadi premanisme dari orang Madura. Cara pembalasannya hampir sama. Di Kal-Teng, orang Dayak memanggil nayau. Sedangkan di Kal-Bar, orang menyembelih ayam dan kambing, lalu mengumpulkan darahnya dalam mangkuk merah. Orang yang mencium mangkuk merah itu bisa kemasukan roh. Tapi, di Kal-Bar, konflik utama yang terjadi adalah antara Melayu dan Madura. Jadi, menurut Anda, siapa yang paling bertanggung jawab atas konflik Sampit? Yang harus bertanggung jawab, ya, nayau. Tapi itu kan tidak bisa dimejahijaukan? Ya, memang demikian. Kita saat ini dihadapkan pada masalah ruwet. Mungkin hakimnya harus memanggil para nayau juga, ha-ha-ha....

"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-3916160



SOURCE : http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2001/05/14/WAW/mbm.20010514.WAW79269.id.html
http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=650279932&postcount=794


##################################################
Peristiwa Memicu Tragedi Sampit Dayak vs Madura


masih ingat kah anda tentang tragedi berdarah di kalimantan tengah
Peristiwa Memicu Tragedi Sampit Dayak vs Madura – Sebelum peristiwa berdarah meledak di Sampit, pertikaian antara suku Dayak dan suku Madura telah lama terjadi. Entah apa penyebab awalnya (Hanya Tuhan yang tau), yang jelas suku Dayak dapat hidup berdampingan dengan damai bersama suku lain tapi tidak suku Madura. Kenapa orang Dayak jadi beringas terhadap etnis Madura…??? Bahkan keturunan suku terdekat dari suku Dayak pun (Banjar), kaget melihat keberingasan mereka dalam Tragedi Sampit.

Menengok kembali peristiwa lama yang mungkin termasuk pemicu terjadinya Tragedi sadis di Sampit :

Tahun 1972 di Palangka Raya, seorang gadis Dayak diperkosa. Terhadap kejadian itu diadakan penyelesaian dengan mengadakan perdamaian menurut hukum adat.

Tahun 1982, terjadi pembunuhan oleh orang Madura atas seorang suku Dayak, pelakunya tidak tertangkap, pengusutan atau penyelesaian secara hukum tidak ada.

Tahun 1983, di Kecamatan Bukit Batu, Kasongan, seorang warga Kasongan etnis Dayak di bunuh. Perkelahian antara satu orang Dayak yang dikeroyok oleh tigapuluh orang madura. Terhadap pembunuhan warga Kasongan bernama Pulai yang beragama Kaharingan tersebut, oleh tokoh suku Dayak dan Madura diadakan perdamaian. Dilakukan peniwahan Pulai itu dibebankan kepada pelaku pembunuhan, yang kemudian diadakan perdamaian ditanda tangani oleh ke dua belah pihak, isinya antara lain menyatakan apabila orang Madura mengulangi perbuatan jahatnya, mereka siap untuk keluar dari Kalteng.

Tahun 1996, di Palangka Raya, seorang gadis Dayak diperkosa di gedung bioskop Panala dan di bunuh dengan kejam dan sadis oleh orang Madura, ternyata hukumannya sangat ringan.

Tahun 1997, di Desa Karang Langit, Barito Selatan orang Dayak dikeroyok oleh orang Madura dengan perbandingan kekuatan 2:40 orang, dengan skor orang Madura mati semua. Orang Dayak tersebut diserang dan mempertahankan diri menggunakan ilmu bela diri, dimana penyerang berhasil dikalahkan semuanya. Dan tindakan hukum terhadap orang
Dayak adalah dihukum berat.

Tahun 1997, di Tumbang Samba, ibukota Kecamatan Katingan Tengah, seorang anak laki-laki bernama Waldi mati terbunuh oleh seorang suku Madura tukang jualan sate. Si belia Dayak mati secara mengenaskan, tubuhnya terdapat lebih dari 30 tusukan. Anak muda itu tidak tahu menahu persoalannya, sedangkan para anak muda yang bertikai dengan si tukang sate telah lari kabur. Si korban Waldi hanya kebetulan lewat di tempat kejadian saja.

Tahun 1998, di Palangka Raya, orang Dayak dikeroyok oleh empat orang Madura hingga meninggal, pelakunya belum dapat ditangkap karena melarikan diri, kasus inipun tidak ada penyelesaian secara hukum.

Tahun 1999, di Palangka Raya, seorang petugas Tibum (ketertiban umum) dibacok oleh orang Madura, pelakunya di tahan di Polresta Palangka Raya, namun besok harinya datang sekelompok suku Madura menuntut agar temannya tersebut dibebaskan tanpa tuntutan. Ternyata pihak Polresta Palangka Raya membebaskannya tanpa tuntutan hukum.

Tahun 1999, di Palangka Raya, kembali terjadi seorang Dayak dikeroyok oleh beberapa orang suku Madura karena masalah sengketa tanah. Dua orang Dayak dalam perkelahian tidak seimbang itu mati semua. Sedangkan pembunuh lolos, malahan orang Jawa yang bersaksi dihukum 1,5 tahun karena dianggap membuat kesaksian fitnah terhadap pelaku pembunuhan yang melarikan diri itu.

Tahun 1999, di Pangkut, ibukota Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, terjadi perkelahian massal dengan suku Madura. Gara-gara suku Madura memaksa mengambil emas pada saat suku Dayak menambang emas. Perkelahian itu banyak menimbulkan korban pada kedua belah pihak, tanpa penyelesaian hukum.

Tahun 1999, di Tumbang Samba, terjadi penikaman terhadap suami-isteri bernama Iba oleh tiga orang Madura. Pasangan itu luka berat. Dirawat di RSUD Dr. Doris Sylvanus, Palangka Raya. Biaya operasi dan perawatan ditanggung oleh Pemda Kalteng. Namun para pembacok tidak ditangkap, katanya? sudah pulang ke pulau Madura. Kronologis kejadian tiga orang Madura memasuki rumah keluarga Iba dengan dalih minta diberi minuman air putih, karena katanya mereka haus, sewaktu Iba menuangkan air di gelas, mereka
membacoknya, saat istri Iba mau membela, juga di tikam. Tindakan itu dilakukan mereka menurut cerita mau membalas dendam, tapi salah alamat.

Tahun 2000, di Pangkut, Kotawaringin Barat, satu keluarga Dayak mati dibantai oleh orang Madura, pelaku pembantaian lari, tanpa penyelesaian hukum.

Tahun 2000, di Palangka Raya, 1 satu orang suku Dayak di bunuh oleh pengeroyok suku Madura di depan gedung Gereja Imanuel, Jalan Bangka. Para pelaku lari, tanpa proses hukum.

Tahun 2000, di Kereng Pangi, Kasongan, Kabupaten Kotawaringin Timur, terjadi pembunuhan terhadap SENDUNG (nama kecil). Sendung mati dikeroyok oleh suku Madura, para pelaku kabur, tidak tertangkap, karena lagi-lagi katanya sudah lari ke Pulau Madura. Proses hukum tidak ada karena pihak berwenang tampaknya belum mampu menyelesaikannya (tidak tuntas).

Tahun 2001, di Sampit (17 s/d 20 Februari 2001) warga Dayak banyak terbunuh karena dibantai. Suku Madura terlebih dahulu menyerang warga Dayak.

Tahun 2001, di Palangka Raya (25 Februari 2001) seorang warga Dayak terbunuh diserang oleh suku Madura. Belum terhitung kasus warga Madura di bagian Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Suku Dayak hidup berdampingan dengan damai dengan Suku Lainnya di Kalimantan Tengah, kecuali dengan Suku Madura. Kelanjutan peristiwa kerusuhan tersebut (25 Februari 2001) adalah terjadinya peristiwa Sampit yang mencekam.

Banyak Versi tentang latar belakang tragedi ini

Ada Versi mengatakan >>> Terjadinya perang antar suku Dayak dan suku Madura karena kecemburuan sosial-Ekonomi.

Versi lain mengatakan >>> Banyak sebab yang membuat suku Dayak seakan melupakan asazi manusia, baik langsung maupun tidak langsung. Masyarakat suku Dayak di Sampit selalu “terdesak” dan selalu mengalah. Dari kasus dilarangnya menambang intan di atas “tanah adat” mereka sendiri karena dituduh tidak memiliki izin penambangan. Hingga kampung mereka yang harus berkali-kali pindah tempat karena harus mengalah dari para penebang kayu yang mendesak mereka makin ke dalam hutan. Sayangnya, kondisi ini diperburuk lagi oleh ketidakadilan hukum yang seakan tidak mampu menjerat pelanggar hukum yang menempatkan masyarakat Dayak menjadi korban kasus-kasus tersebut.

Tidak sedikit kasus pembunuhan orang dayak (sebagian besar disebabkan oleh aksi premanisme Etnis Madura) yang merugikan masyarakat Dayak karena para tersangka (kebetulan orang Madura) tidak bisa ditangkap dan di adili oleh aparat penegak hukum.

Etnis madura yang juga punya latar belakang budaya kekerasan ternyata menurut masyarakat Dayak dianggap tidak mampu untuk beradaptasi (mengingat mereka sebagai pendatang). Sering terjadi kasus pelanggaran “tanah larangan” orang Dayak oleh penebang kayu yang kebetulan didominasi oleh orang Madura. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu perang antar etnis Dayak-Madura.

Dari cara mereka melakukan usaha dalam bidang perekonomian saja, mereka terkadang dianggap terlalu kasar oleh sebagian besar masyarakat Dayak, bahkan masyarakat Banjar sekalipun. Banyak cara-cara pemaksaan untuk mendapatkan hasil usaha kepada konsumen mereka. Banyak pula tipu-daya yang mereka lakukan. Namun, tidak semua suku Madura bersifat seperti ini.

Jadi, berita atau anggapan tentang kecemburuan sosial-ekonomi yang menjadi
penyebab pecahnya “perang” tersebut dari hasil pengamatan dan penilaian Versi lain ini
adalah tidak benar.

Saat terjadi pembantaian di Sampit entah bagaimana cara mereka (Etnis Dayak) yang tengah di rasuki kemarahan membedakan suku Madura dengan suku-suku lainnya, yang jelas suku-suku lainnya luput dari “serangan beringas” orang-orang Dayak.

disini jangan saling tuduh menuduh dan dilarang SARA

SOURCE: http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=5240985

##################################################
Konflik Sampit

Konflik Sampit adalah pecahnya kerusuhan antar etnis di Indonesia, berawal pada Februari 2001 dan berlangsung sepanjang tahun itu. Konflik ini dimulai di kota Sampit, Kalimantan Tengah dan meluas ke seluruh provinsi, termasuk ibu kota Palangka Raya. Konflik ini terjadi antara suku Dayak asli dan warga migran Madura dari pulau Madura. Konflik tersebut pecah pada 18 Februari 2001 ketika dua warga Madura diserang oleh sejumlah warga Dayak. Konflik Sampit mengakibatkan lebih dari 500 kematian, dengan lebih dari 100.000 warga Madura kehilangan tempat tinggal. Banyak warga Madura yang juga ditemukan dipenggal kepalanya oleh suku Dayak.

Latar belakang

Konflik Sampit tahun 2001 bukanlah insiden yang terisolasi, karena telah terjadi beberapa insiden sebelumnya antara warga Dayak dan Madura. Konflik besar terakhir terjadi antara Desember 1996 dan Januari 1997 yang mengakibatkan 600 korban tewas. Penduduk Madura pertama tiba di Kalimantan tahun 1930 di bawah program transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah kolonial Belanda dan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia. Tahun 2000, transmigran membentuk 21% populasi Kalimantan Tengah. Suku Dayak merasa tidak puas dengan persaingan yang terus datang dari warga Madura yang semakin agresif. Hukum-hukum baru telah memungkinkan warga Madura memperoleh kontrol terhadap banyak industri komersial di provinsi ini seperti perkayuan, penambangan dan perkebunan.

Ada sejumlah cerita yang menjelaskan insiden kerusuhan tahun 2001. Satu versi mengklaim bahwa ini disebabkan oleh serangan pembakaran sebuah rumah Dayak. Rumor mengatakan bahwa kebakaran ini disebabkan oleh warga Madura dan kemudian sekelompok anggota suku Dayak mulai membakar rumah-rumah di permukiman Madura.

Profesor Usop dari Asosiasi Masyarakat Dayak mengklaim bahwa pembantaian oleh suku Dayak dilakukan demi mempertahankan diri setelah beberapa anggota mereka diserang. Selain itu, juga dikatakan bahwa seorang warga Dayak disiksa dan dibunuh oleh sekelompok warga Madura setelah sengketa judi di desa Kerengpangi pada 17 Desember 2000.

Versi lain mengklaim bahwa konflik ini berawal dari percekcokan antara murid dari berbagai ras di sekolah yang sama.

Pemenggalan kepala

Sedikitnya 100 warga Madura dipenggal kepalanya oleh suku Dayak selama konflik ini. Suku Dayak memiliki sejarah praktik ritual pemburuan kepala (Ngayau), meski praktik ini dianggap musnah pada awal abad ke-20.

Respon

Skala pembantaian membuat militer dan polisi sulit mengontrol situasi di Kalimantan Tengah. Pasukan bantuan dikirim untuk membantu pasukan yang sudah ditempatkan di provinsi ini. Pada 18 Februari, suku Dayak berhasil menguasai Sampit. Polisi menahan seorang pejabat lokal yang diduga sebagai salah satu otak pelaku di belakang serangan ini. Orang yang ditahan tersebut diduga membayar enam orang untuk memprovokasi kerusuhan di Sampit. Polisi uga menahan sejumlah perusuh setelah pembantaian pertama. Kemudian, ribuan warga Dayak mengepung kantor polisi di Palangkaraya sambil meminta pelepasan para tahanan. Polisi memenuhi permintaan ini dan pada 28 Februari, militer berhasil membubarkan massa Dayak dari jalanan, namun kerusuhan sporadis terus berlanjut sepanjang tahun.

SOURCE: http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik_Sampit


##################################################

Konflik
Keterlibatan

Dayak (istilah kolektif untuk masyarakat asli Kalimantan) telah mengalami peningkatan dalam konflik antar etnis. Di awal 1997 dan kemudian pada tahun 1999, bentrokan-bentrokan brutal terjadi antara orang-orang Dayak dan Madura di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Puncak dari konflik ini terjadi di Sampit pada tahun 2001. Konflik-konflik ini pun kemudian menjadi topik pembicaraan di koran-koran di Indonesia. Sepanjang konflik tahun 1997, sejumlah besar penduduk (baik Dayak maupun Madura) tewas. Muncul berbagai perkiraan resmi tentang jumlah korban tewas, mulai dari 300 hingga 4.000 orang menurut sumber-sumber independen. Pada tahun 1999, orang-orang Dayak, bersama dengan kelompok-kelompok Melayu dan Cina memerangi para pendatang Madura; 114 orang tewas. Menurut seorang tokoh masyarakat Dayak, konflik yang terjadi belakangan itu pada awalnya bukan antara orang-orang Dayak dan Madura, melainkan antara orang-orang Melayu dan Madura. Kendati terdapat fakta bahwa hanya ada beberapa orang Dayak saja yang terlibat, tetapi media massa membesar-besarkan keterlibatan Dayak. Sebagian karena orang-orang Melayu yang terlibat menggunakan simbol-simbol budaya Dayak saat kerusuhan terjadi.

SOURCE: http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak

##################################################
Kisah Panglima Burung Antara Mitos Dan Fakta


Dalam masyarakat Dayak, dipercaya ada ada suatu makhluk yang disebut-sebut sangat agung, sakti, ksatria, dan berwibawa. Sosok tersebut konon menghuni gunung di pedalaman Kalimantan, bersinggungan dengan alam gaib. Pemimpin spiritual, panglima perang, guru, dan tetua yang diagungkan. Ialah panglima perang Dayak, Panglima Burung, yang disebut Pangkalima oleh orang Dayak pedalaman.

Ada banyak sekali versi cerita mengenai sosok panglima tertinggi masyarakat Dayak, Panglima Burung, terutama setelah namanya mencuat saat kerusuhan Sambas dan Sampit. Ada yang menyebutkan ia telah hidup selama beratus-ratus tahun dan tinggal di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Ada pula kabar tentang Panglima Burung yang berwujud gaib dan bisa berbentuk laki-laki atau perempuan tergantung situasi. Juga mengenai sosok Panglima Burung yang merupakan tokoh masyarakat Dayak yang telah tiada, namun sahabat anehdidunia.blogspot.com rohnya dapat diajak berkomunikasi lewat suatu ritual. Hingga cerita yang menyebutkan ia adalah penjelmaan dari Burung Enggang, burung yang dianggap keramat dan suci di Kalimantan.

Selain banyaknya versi cerita, di penjuru Kalimantan juga ada banyak orang yang mengaku sebagai Panglima Burung, entah di Tarakan, Sampit, atau pun Pontianak. Namun setiap pengakuan itu hanya diyakini dengan tiga cara yang berbeda; ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang ragu-ragu. Belum ada bukti otentik yang memastikan salah satunya adalah benar-benar Panglima Burung yang sejati.

Banyak sekali isu dan cerita yang beredar, namun ada satu versi yang menurut saya sangat pas menggambarkan apa dan siapa itu Penglima Burung. Ia adalah sosok yang menggambarkan orang Dayak secara umum. Panglima Burung adalah perlambang orang Dayak. Baik itu sifatnya, tindak-tanduknya, dan segala sesuatu tentang dirinya.

Lalu bagaimanakah seorang Panglima Burung itu, bagaimana ia bisa melambangkan orang Dayak? Selain sakti dan kebal, Panglima Burung juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran. Ini sesuai dengan tipikal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang pemalu. Cukup sulit untuk membujuk orang Dayak pedalaman agar mau difoto, kadang harus menyuguhkan imbalan berupa rokok kretek.

Dan kenyataan di lapangan membuyarkan semua stereotipe terhadap orang Dayak sebagai orang yang kejam, ganas, dan beringas. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Dayak bisa dibilang cukup pemalu, tetap menerima para pendatang dengan baik-baik, dan senantiasa menjaga keutuhan warisan nenek moyang baik religi maupun ritual. Seperti Penglima Burung yang bersabar dan tetap tenang mendiami pedalaman, masyarakat Dayak pun banyak yang mengalah ketika penebang kayu dan penambang emas memasuki daerah mereka. Meskipun tetap kukuh memegang ajaran leluhur, tak pernah ada konflik ketika ada anggota masyarakatnya yang beralih ke agama-agama yang dibawa oleh para pendatang.

Kesederhanaan pun identik dengan sosok Panglima Burung. Walaupun sosok yang diagungkan, ia tidak bertempat tinggal di istana atau bangunan yang mewah. Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam. Masyarakat Dayak pedalaman pun tidak pernah peduli dengan nilai nominal uang. Para pendatang bisa dengan mudah berbarter barang seperti kopi, garam, atau rokok dengan mereka.

Panglima Burung diceritakan jarang menampakkan dirinya, karena sifatnya yang tidak suka pamer kekuatan. Begitupun orang Dayak, yang tidak sembarangan masuk ke kota sambil membawa mandau, sumpit, atau panah. Senjata-senjata tersebut pada umumnya digunakan untuk berburu di hutan, dan mandau tidak dilepaskan dari kumpang (sarung) jika tak ada perihal yang penting atau mendesak.

Lantas di manakah budaya kekerasan dan keberingasan orang Dayak yang santer dibicarakan dan ditakuti itu? Ada satu perkara Panglima Burung turun gunung, yaitu ketika setelah terus-menerus bersabar dan kesabarannya itu habis. Panglima burung memang sosok yang sangat penyabar, namun jika batas kesabaran sudah melewati batas, perkara akan menjadi lain. Ia akan berubah menjadi seorang pemurka. Ini benar-benar menjadi penggambaran sempurna mengenai orang Dayak yang ramah, pemalu, dan penyabar, namun akan berubah menjadi sangat ganas dan kejam jika sudah kesabarannya sudah habis.

Panglima Burung yang murka akan segera turun gunung dan mengumpulkan pasukannya. Ritual–yang di Kalimankan Barat dinamakan Mangkuk Merah–dilakukan untuk mengumpulkan prajurit Dayak dari saentero Kalimantan. Tarian-tarian perang bersahut-sahutan, mandau melekat erat di pinggang. Sahabat anehdidunia.blogspot.com mereka yang tadinya orang-orang yang sangat baik akan terlihat menyeramkan. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan tatapan mata ganas yang seperti terhipnotis. Mereka siap berperang, mengayau–memenggal dan membawa kepala musuh. Inilah yang terjadi di kota Sampit beberapa tahun silam, ketika pemenggalan kepala terjadi di mana-mana hampir di tiap sudut kota.

Meskipun kejam dan beringas dalam keadaan marah, Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak tetap berpegang teguh pada norma dan aturan yang mereka yakini. Antara lain tidak mengotori kesucian tempat ibadah–agama manapun–dengan merusaknya atau membunuh di dalamnya. Karena kekerasan dalam masyarakat Dayak ditempatkan sebagai opsi terakhir, saat kesabaran sudah habis dan jalan damai tak bisa lagi ditempuh, itu dalam sudut pandang mereka. Pembunuhan, dan kegiatan mengayau, dalam hati kecil mereka itu tak boleh dilakukan, tetapi karena didesak ke pilihan terakhir dan untuk mengubah apa yang menurut mereka salah, itu memang harus dilakukan. Inilah budaya kekerasan yang sebenarnya patut ditakuti itu.

Kemisteriusan memang sangat identik dengan orang Dayak. Stereotipe ganas dan kejam pun masih melekat. Memang tidak semuanya baik, karena ada banyak juga kekurangannya dan kesalahannya. Terlebih lagi kekerasan, yang apapun bentuk dan alasannya, tetap saja tidak dapat dibenarkan. Terlepas dari segala macam legenda dan mitos, atau nyata tidaknya tokoh tersebut, Panglima Burung bagi saya merupakan sosok perlambang sejati orang Dayak.

Amun ikam kada maulah sual awan ulun, ulun gen kada handak jua bahual lawan pian malah ulun maangkat dingsanak awan pian, begitu yang diucapkan orang Kalimantan khususnya orang Banjar untuk menggambarkan sikap dari orang-orang Dayak.

 SOURCE: http://www.wisatakaltim.com/sejarah/pangkalima-burung/



##################################################
Kerusuhan SAMPIT (part 1)


 Kerusuhan Sampit dengan korban ratusan jiwa ternyata hanya bermula dari perkelahian siswa SMK di Baamang. Perkelahian itu melibatkan anak warga Dayak dan Madura.

erkelahian siswa itulah, yang kemudian memicu konflik antarkeluarga, antaretnis, hingga pembantaian sampai pengusiran puluhan ribu warga Madura. Anak polah, bapa kepradah. Pepatah Jawa yang berarti anak berbuat, orang tua ikut terlibat ini terjadi atas diri keluarga Matayo. Warga asal Madura yang sudah lama tinggal di Baamang, Sampit, ini tak terima anaknya berkelahi dengan anak warga Dayak. Tapi, keterlibatan Matayo atas perkelahian anaknya ini malah memicu kegeraman warga dayak. Lalu, dibuatlah perhitungan.
 Minggu dini hari sekitar pukul 03.00 (18 Februari) sekelompok pemuda Dayak menyerang dan membunuh Matayo. Tiga orang anggota keluarganya ikut tewas. Itu versi warga Madura. Versi warga Dayak agak berbeda lagi. Mereka bilang, eksekusi terhadap Matayo dan keluarganya terjadi karena yang bersangkutan sering melakukan tindak kriminal. Warga setempat pun jengkel karena sering dirugikan. Hanya empat jam, eksekusi Dayak terhadap Matayo ini menyebar.
 Warga Madura tak bisa menerima. Sejumlah warga pendatang ini lantas menyatroni Ketua Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak, Seruyan Tengah, untuk membalas dendam. Lengkap dengan berbagai senjata, warga Madura ini minta Iniel menyerahkan pembunuh Matayo yang bersembunyi di rumahnya. Mereka mengancam akan membakar kalau pelaku tidak diserahkan.

Tapi, 39 orang di dalam rumah Iniel tidak keluar. Warga Madura mulai tidak sabar. Mereka melemparkan apa saja ke pagar dan kaca rumah. Bahkan, ada yang berusaha membakar rumah. Mendengar ribut-ribut, polisi datang, lalu mengamankan 39 orang yang ada di rumah Iniel. Sebagian memang mengaku membunuh Matayo. Tapi, warga Madura tidak puas dan mengarahkan amarahnya ke warga Dayak yang lain. Beberapa rumah warga Dayak dibakar. Nasib tragis dialami Jihan atau Seyan, seorang purnawirawan TNI AD. Seyan beserta ketujuh anak dan cucunya yang kabarnya masih kerabat Iniel dibakar hidup-hidup dalam rumahnya. Sejak hari itu, warga Madura menguasai Sampit. Dengan mengacung-acungkan senjata, puluhan warga Madura pawai keliling kota. Mereka menggunakan berbagai kendaraan, mulai roda dua sampai roda empat. Mereka tak hanya berpawai. Setiap bertemu warga Dayak, mereka mengejar dan membunuhnya. Sedikitnya, sepuluh rumah dibakar.



 Tujuh orang tewas saat warga Madura menguasai Sampit. Bahkan, seorang ibu muda hamil tujuh bulan ikut dibunuh dengan dirobek perutnya. "Itu fakta," kata Bambang Sakti, tokoh muda Dayak asal Sungai Samba. Situasi itu membuat Sampit Minggu malam mencekam. Listrik padam total. Pembakaran di perkampungan warga di Jalan Baamang berlangsung sporadis. Pengungsi mulai membanjiri gedung pertemuan di depan rumah jabatan bupati sampit. Tapi, kemudian dialihkan ke kantor bupati.
 Yang mengungsi bukan hanya warga Madura. Juga Dayak dan Cina. Mereka berdesak-desakan mengungsi. Ini terjadi karena mereka belum tahu betul siapa yang menguasai jalanan di Sampit malam itu, Madura atau Dayak. Di pengungsian, Madura dan Dayak malah rukun.”Saya saat itu ikut mengungsi” ujar seorang wartawan lokal. Untuk menghadang orang Dayak keluar-masuk Sampit, warga Madura melakukan penjagaan di pertigaan Desa Bajarum yang mengarah kota Kecamatan Kota Besi.
 Penjagaan juga terjadi di Perenggean, Kecamatan Kuala Kuayan, dan desa-desa pedalaman Hilir Mentayan. Selama berpawai itu, warga Madura terus berteriak-teriak mencari tokoh Dayak. "Mana Panglima Burung? Mana tokoh Dayak?" tantang mereka. Tak hanya itu, seorang tokoh Madura melakukan orasi lewat pengeras suara, "Sampit akan jadi Sampang kedua, Sampit jadi Sampang Kedua".
 Mereka juga memasang spanduk: Selamat datang orang Dayak di kota Sampang, Serambi Mekkah. "Spanduk itu yang kami cari sekarang," kata Bambang Sakti. Bambang juga bilang telah menemukan sejumlah bom di rumah-rumah warga Madura. "Ini bukan isapan jempol," tuturnya. Sedikitnya, pasukan Dayak sudah menyerahkan 300 bom yang ditemukan di rumah warga Madura. Begitu juga beberapa pucuk pistol. "Tidak tahu bagaimana tindak lanjutnya," jelasnya. Kabarnya, bom-bom itu dirakit di Jawa, lalu dikirimkan ke Sampit. Tapi, sumber Jawa Pos menyebutkan, bom rakitan dibuat di Sampit. Lalu, didistribusikan ke berbagai warga Madura di kecamatan.
 Mereka bilang bom itu untuk mempertahankan diri jika sewaktu-waktu diserang warga Dayak. Tapi, karena bom itu pula, 112 warga Madura di Kecamatan Perenggean dibantai di lapangan kecamatan. Ini setelah warga Dayak menemukan bom di rumah seorang warga Madura.
 Melihat aksi penguasaan warga pendatang itu, warga Dayak tak tinggal diam. Mereka lantas membawa bala bantuan pasukan dari Dayak pedalaman. Warga Dayak yang tiba lebih dulu melakukan perlawanan sporadis. Selasa malam (20 Februari), peta kekuatan mulai berbalik.

 Warga Dayak pedalaman dari berbagai lokasi daerah aliran sungai (DAS) Mentaya, seperti Seruyan, Ratua Pulut, Perenggean, Katingan Hilir, bahkan Barito berdatangan ke kota Sampit melalui hilir Sungai Mentaya dekat pelabuhan. Pasukan Dayak pedalaman yang rata-rata berusia muda tak lebih 25 tahun membekali diri dengan berbagai ilmu kebal. Jumlahnya sekitar sekitar 320 orang.

Pasukan itu lalu menyusup ke daerah Baamang dan sekitarnya, pusat permukiman warga Madura. Meski dalam jumlah kecil, kemampuan bertempur pasukan khusus Dayak sangat teruji. Buktinya, mereka mampu memukul balik warga Madura yang terkosentrasi di berbagai sudut jalan Sampit. Dengan ilmu kebal, mereka melawan ribuan warga Madura. Bahkan, mereka sanggup menghadapi bom yang banyak digunakan warga Madura. Dalam bentrok terbuka, seorang warga Madura melemparkan bom ke arah pasukan Dayak. Tapi, bom dapat ditangkap dan dilemparkan kembali ke arah kerumunan Madura. Meledak. Puluhan warga Madura tewas seketika. Selain kebal senjata, pasukan Dayak pedalaman tidak mempan ditembak. Mereka justru memunguti peluru untuk dikantongi. Karena itu, polisi juga keder.
 Sejak itu, mental Madura pun langsung down. Strategi yang diterapkan warga Dayak dalam serangan balik cukup jitu. Selain masuk lewat Baamang, sekitar empat perahu penuh pasukan dayak tidak langsung merapat ke bibir sungai.
 Mereka berhenti di seberang sungai Mentaya. Baru berenang menuju kota pinggir sungai di tepian kota Sampit. Strategi ini untuk menghindari pengawasan orang Madura. Lantas, secara tiba-tiba, mereka muncul dan menyerang permukiman Madura. Madura pun dibuat kocar-kacir. Pasukan Dayak pedalaman terus bergerak ke kantong-kantong tokoh Madura. Seperti, Jalan Baamang III, Simpong atau dikenal Jalan Gatot Subroto, dan S. Parman. Rumah tokoh Ikatan Keluarga Madura (Ikama) Haji Marlinggi yang cukup megah di Jalan DI Panjaitan tak luput dari sasaran. Banyak pengawal penguasa Pelabuhan Sampit itu yang terbunuh. Sebagian lari. Sejumlah becak bekas dibakar berserakan di halaman rumah yang hancur.
 Rumah tokoh Madura lain seperti Haji Satiman dan Haji Ismail juga dihancurkan. Tidak terkecuali rumah Mat Nabi yang dikenal sebagai jagonya Sampit. Padahal, rumah tokoh-tokoh Madura yang berada di Sampit, Samuda, maupun Palangkaraya tergolong cukup mewah. Serangan pasukan inti Dayak kemudian diikuti warga Dayak lain. Mereka mencari rumah dan warga di sepanjang kota Sampit. Ratusan warga Madura dibunuh secara mengenaskan, lalu dipenggal kepalanya.

Hari-hari berikutnya gelombang serangan suku Dayak terus berdatangan. Bahkan, sebelum menyerang, seorang tokoh atau panglima Dayak lebih dulu membekali ilmu kebal kepada pasukannya. Karena itu, saat melakukan serangan, biasanya mereka berada dalam alam bawah sadar.
 Uniknya, mereka juga dibekali indera penciuman tajam untuk membedakan orang Madura dan non-Madura. "Dari jarak sekitar 200 meter, baunya sudah tercium," ujar. Itu tak berlebihan. Saat ada evakuasi, di tengah jalan seorang warga Madura disusupkan. Dia dikelilingi warga non-Madura. Sebelum masuk ke lokasi penamptngan, mereka kena sweeping Dayak. Meski orang itu ada di tengah pengungsi, masih juga tercium dan disuruh turun. Tanpa ampun, laki-laki tadi dibantai.

Agar serangan ke perkampungan Madura terkendali, para komando warga Dayak menggunakan Hotel Rama sebagai pusat komando penyerangan. Bahkan, di hotel itulah pasukan diberi ramuan ilmu kekebalan oleh para panglima. Saat digerebek, aparat menemukan beberapa kepala manusia. Tapi, para tokohnya sempat meloloskan diri. Kini, di depan hotel bertingkat dua itu dibentangkan police line.

SOURCE: http://area-69-kita.blogspot.com/2011/04/kerusuhan-sampit-part-1.html

##################################################
Kerusuhan SAMPIT (part 2)

Berada di atas angin, pasukan Dayak lalu melebarkan serangan ke berbagai kota Kecamatan Kotawaringin Timur. Sasaran pertama, Samuda, ibu kota Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, dan Parebok yang banyak dihuni warga Madura. Samuda dan Parebok jadi sasaran setelah Sampit karena banyak tokoh Madura tinggal di daerah itu. Di Parebok juga ada Ponpes Libasu Taqwa.
 Ponpes yang diasuh Haji Mat Lurah ini juga dijadikan tempat berlindung banyak warga Madura. Warga Madura di kecamatan lain pun tidak lepas dari buruan. Misalnya, Kuala Kuayan. Ratusan korban jatuh dengan kepala terpenggal. Kini, warga Dayak praktis menguasai hampir seluruh wilayah Kalimantan Tengah. Kecuali Pangkalan Bun. Kota ini aman karena hampir tak ada warga Madura yang tinggal di semua kota kecamatan. Penghuninya, saat itu, banyak yang lari menyelamatkan diri ke hutan, baik Palangkaraya, Sampit, maupun Samuda.

 Bohong, kalau Gubernur Kalteng Asnawi Agani mengatakan orang Madura yang tewas 200 orang, meskipun itu informasi yang datang dari Posko Sampit. Hal ini dikatakan sejumlah orang Madura yang ikut naik KRI Teluk Ende 517. Dalam pelayaran menyusuri Sungai Mentaya (70 km), ABK dan pengungsi bisa melihat puluhan mayat yang mengapung di sepanjang sungai, dan sejumlah bangunan rumah warga Madura dan Pasar Sampit/Pasar Ganal yang tinggal temboknya yang hangus.
 Dikatakan seorang pengungsi yang bekerja di penggergajian kayu, PT Sempagan Raya Sampit, Abdul Sari (30), bahwa yang tampak di sungai saja ada puluhan yang mengapung dan tersangkut di pinggir. Sementara yang hanyut dan tenggelam lebih dari 200 warga etnis Madura. "Ini baru yang di sungai, belum yang terserak di pinggir sepanjang Jl. Masjid Nur Agung saja tidak kurang dari 200 mayat," katanya.

 Sementara di Jl. Sampit Pangkalan Bun, saat ini masih banyak mayat yang bergelimpangan di tepi jalan. Mayat-mayat itu hanya ditutupi dengan batu koral yang dibungkus karung sak. Tidak ada yang menolong untuk dimakamkan, kami tidak mungkin untuk melakukan itu. Sedang untuk bisa lolos dari kejaran dan tebasan mandau Dayak saja sudah bersyukur.
 Abdul Sari juga mengatakan, sekarang pasukan Dayak tidak lagi membedakan siapa yang akan dibunuh. Awalnya yang diserang hanya etnis Madura, tapi kini semua pendatang, termasuk orang Jawa, dan Cina. Mereka bukan hanya ditebas lehernya saja, tapi juga dipenggal jadi beberapa potong.
 Di mata etnis Madura, polisi setempat sudah kehilangan kepercayaannya lagi. Mereka (warga etnis Madura) mengaku, siangnya di sweeping dan senjatanya disita petugas, dan mereka (petugas) mengatakan, semua sudah aman dan tidak ada apa-apa lagi. Maka warga etnis Madura di Jl. Sampit Pangkalan Bun tenang-tenang saja dan percaya pada petugas. Ternyata malamnya diawali dengan suara kuluk,... kuluk,... kuluk,... sebentar kemudian pasukan Dayak muncul dan membunuhi warga Madura. Tidak ada yang tersisa, mereka yang menyerah maupun yang lari dibunuh. Umumnya mereka diserang pada malam hari, ratusan Dayak dengan suara kuluk..., kuluk..., sambug-menyambung muncul dari segala penjuru.


 Esoknya warga etnis Madura mati mengenaskan dengan badan tanpa kepala lagi. Parebuk Menurut warga etnis Madura yang ikut KRI Teluk Ende, Sopian (56), warga yang banyak mati dari daerah Parebuk, Semuda. Karena warga Madura yang ada di sini tidak menghindar tapi melakukan perlawanan sengit. "Saat ini di sana yang tersisa tinggal wanita dan anak-anak," kata Sopian.
 Sopian yang datang ke pengungsian dengan jalan menyusuri sungai mengatakan, dia berjalan sambil sembunyi-sembunyi di antara pohon hutan yang cukup lebat. Ternyata setelah 7 hari di pengungsian ia hanya melihat beberapa warga Madura dari Semuda. Berarti ada sedikitnya 500 orang Madura yang tewas melawan Dayak di Semuda. "Kalau masih hidup seharusnya perjalanan mereka tidak lebih dari satu atau dua hari saja," kata Sopian.
 Sopian bersama pengungsi lain yang ada di pengungsian pun mengaku masih dibayang-bayangi pasukan suku Dayak. Bahkan ada isu bahwa kamp pengungsian di halaman Pemda Sampit akan diserbu oleh Dayak. Hal ini membuat warga Madura yang ada di pengungsian menjadi resah, di samping mereka sudah ketakutan, juga mereka sudah tidak memiliki senjata lagi.
 Menurut Kilan, sejumlah orang Dayak membawa mayat orang Madura dengan geledekan keliling kota. Tidak sampai di situ, geledekan yang berisi orang Madura ditinggal begitu saja di depan Polres Sampit, Jl. Sudirman. Kekesalan warga Madura terhadap oknum polisi di Polsek Jl. Ba Amang Tengah semakin menjadi, seperti yang diungkapkan oleh Somad yang mendatangi kantor Polsek. Ia minta perlindungan setelah dikejar-kejar oleh sekitar 50 Dayak, Somad minta diantar ke tempat pengungsian. Kapolsek bukannya menolong tapi justru memanggil Dayak yang ada di sekitar situ. Somad mengaku lari ke belakang, dengan melompat lewat pintu belakang Polsek ia akhirnya lolos lari ke semak-semak. Ia sempat merangkak sejauh 300m sebelum lepas dari kejaran Dayak dan lari ke hutan. Dari hutan ini ia menyusuri tepian hutan dan akhirnya sampai ke tempat pengungsian. Ia pun bersyukur karena bisa ketemu dengan anak istrinya.


 Seorang pengungsi, Choiri (40), dari Pasuruan mengatakan, ada peristiwa yang sangat mengenaskan dari daerah Belanti Tanjung Katung, Sampit. Sebanyak 4 truk pengungsi Parengkuan yang dibawa oleh orang yang mengaku petugas dengan mengatakan akan dibawa ke tempat penampungan pengungsi di SMP 2, akhirnya dibantai habis. Ternyata mereka yang mengaku petugas adalah pasukan Dayak, orang Madura disuruh turun dan dibantai. "Jika tiap truk berisi 50 pengungsi berarti ada 200 pengungsi yang tewas dibantai," kata Choiri.
 Choiri mengatakan, yang dibantai itu semuanya wanita dan anak-anak. Begitu jemputan yang kedua tiba, yang diangkut adalah orang laki-laki dewasa, justru mereka selamat tidak di tempat pengungsian karena dikawal oleh Brimob dari Jakarta.
 Liar Pengakuan seorang pengungsi, Titin (19), asli Lumajang, yang tinggal di Jl. Pinang 20 Sampit mengatakan, suaminya yang asli Dayak Kapuas yang kini ikut pasukan Dayak. Ia menceritakan, suaminya pernah bercerita padanya, mengapa orang Dayak menjadi pandai berkelahi dan larinya cepat bagai kijang. Awalnya suaminya enggan menjadi pasukan Dayak untuk membunuhi orang Madura. Tapi karena dihadapkan pada satu di antara dua pilihan, jadi pasukan atau mati, terpaksa suaminya memilih jadi pasukan Dayak. Saat itu ia disuruh minum cairan yang membuatnya ia menjadi berani, kemudian alisnya diolesi dengan minyak yang membuat ia melihat bahwa orang Madura itu berwujud anjing dan akhirnya harus diburu dan dibunuh. Makanya orang Dayak tidak punya takut, tidak punya rasa kasihan, ini menurut Titin karena sudah diberi minuman dan olesan minyak tertentu. Sehingga mereka mirip dengan jaran kepang yang sedang kesurupan, mungkin mereka kerasukan roh nenek moyangnya dan membunuh sesuai dengan perintah panglima perang suku Dayak.

Analisa

 Prof H.K.M.A Usop, mantan Rektor Universitas Palangkaraya yang kini sebagai Ketua Presedium Lembaga Musyawarah Dayak Daerah Kalimantan Tengah (KPLMDDKT), mengakui kalau banyak pelanggaran, tindakan kriminal yang merugikan harta dan nyawa orang Dayak. Sebetulnya, setiap kali terjadi bentrok selalu diakhiri perdamaian. Tapi, setiap kali pula warga Madura melanggarnya. Begitu seterusnya. "Paling tidak sudah ada 15 kali perdamaian. Tapi, hasilnya sama selalu dilanggar warga Madura," kata Usop saat pertemuan tokoh masyarakat Dayak dengan DPRD Kalteng. Bahkan, saat pembuatan jalan Palangkaraya-Kasongan terjadi bentrok Dayak-Madura, tepatnya di Bukit Batu tahun 1983. Setelah bentrokan reda, dibuatlah perdamaian antara tokoh Dayak dengan tokoh Madura. Ada satu poin penting dalam perjanjian itu. Yakni, Warga Madura dengan sukarela akan meninggalkan Kalimantan Tengah jika melakukan pertumpahan darah terhadap warga dayak. Tapi, berkali-kali ada pertumpahan darah warga Madura jangankan pergi tapi makin banyak berdatangan ke Kalimantan. "Dokumen itu yang kini sedang kami cari," tambha Usop.

Menurut Dr Thamrin Amal Tomagola, sosiolog dari Universitas Indonesia, ada empat faktor utama akar konflik di Kalimantan, yaitu;

 1. Terjadinya proses marginalisasi suku Dayak. Pendidikan yang minim dan sedikitnya warga Dayak yang bisa menikmati pendidikan mengakibatkan sedikitnya warga Dayak yang duduk di pemerintahan daerah. Pemerintahan daerah lebih banyak di pegang oleh warga pendatang.

 2. Penempatan transmigran di pedalaman Kalimantan yang mengakibatkan singgungan hutan. Hutan bagi masyarakat Dayak adalah tempat tinggal dan hidup mereka. Ketika transmigran ditempatkan di pedalaman Kalimantan, dan mereka melakukan penebangan hutan, kehidupan masyarakat Dayak terganggu. Sejak tahun 1995 para transmigran di tempatkan di pedalaman Kalimantan, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu menempatkan transmigran di pesisir. Para pendatang baru inilah, yang dikenal keras dan pembuat masalah, tidak seperti pendatang-pendatang sebelumnya. Selain soal transmigrasi, pemerintah juga telah memberikan keleluasaan bagi para pengusaha untuk membuka hutan melalui HPH.

 3. Masyarakat Dayak kehilangan pijakan, terganggunya harmoni kehidupan masyarakat Dayak mengakibatkan masyarakat Dayak kehilangan pijakan. Kekuatan adat menjadi berkurang. Kebijakan-kebijakan pemerintah telang menghilangkan/mengurangi identitas mereka sebagai masyarakat adat.

 4. Hukum yang tidak dijalankan dengan baik mengakibatkan banyaknya terjadi tindak kekerasan dan kriminal yang dibiarkan. Proses pembiaran ini berakibat pada lemahnya hukum dimata masyarakat, sehingga masyarakat menfgunakan caranya sendiri untuk menyelesaikan berbagai persoalan, diantaranya dengan menggunakan kekerasan.

SOURCE: http://area-69-kita.blogspot.com/2011/04/kerusuhan-sampit-part-2.html

##################################################
PERANG JIHAD ATO PERANG JAHAT .....?????!!!!

PERANG SELALU AJA JAHAT, APAPUN ALASANNYA

Alooo.ketemu lage neh bareng gue. Sesuai dgn janji gue doeloeeeee, edisi IX bakal gue hiasin dgn ulasan seputar kerusuhan di Sampit dan sekitarnya (KalTeng). But sebelonnya mari berdoa bagi sodara 2x kita yg sedang dilanda kesusahan di sana. amiiin.

Ibarat benang kusut, begitulah keadaan di KalTeng sono. Mo di urai pasti deh salah satu bagiannya bakal ada yg terputus. Banyak pertanyaan yg menyelimuti kenapa ampe terjadi tragedi berdarah darah ini. Salah satu pertanyaan benarkah bahwa pemicu dari ini semua adalah tewas nya keluarga Matoya yg di balas dgn dibunuhnya keluarga Timil. Emang she faktor itu bisa dianggep sbg gejala pertama. But, perlu diinget kalo cuman hal itu saja rasanya gak bakal kayak begini. Genocide (pembersihan etnis tertentu) terhadap suku Madura rasanya gak mungkin karena hal sekecil itu. So, ada asumsi laen yg kayaknya patut juga di itung-itung.
Salah satunya ada isu bakal ada pendirian Negara Borneo Merdeka (NBM). Kira2x sepekan sebelon kerusuhan di sampit terjadi emang ada segelintir tokoh pemikir yg kepengen berdiri negara sendiri. Jumlahnya sekitar 82 org ( rahasia yaaaaaaa). wilayahnya meliputi Kerajaan Brunei Darussalam, Serawak dan Sabah (Malaysia) , Kalsel, KalTim, dan KalTeng. Gagasan ini gak mendapat respon positip dr massa ato bahkan Pemda setempat. Buktinya saat kunjungan Gus Dur (GD) ke KalTeng kmaren, bertebaran puluhan spanduk dan selebaran gelap yg isinya ttg pendirian Negara Borneo Merdeka. Ampe saat kedatangan GD itu mobil dinas beliau dilempari ama batu oleh org 2x gak betanggung jawab. Aksi brutal massa ini dibalas dengan tembakan aparat yg ternyata make peluru beneran, bukan peluru karet spt yg selama ini mereka akui. Ada yg tewas loh massanya, akhirnya setiap pengendara yg melintas di depen mereka dan berpotongan kayak tentara, pasti dah di habisi.. rasaaiiiiiin.

Isu laennya yg menyebabkan amuk suku Dayak itu adalah karena penjahat hutan yg akhir 2x ini hampir gak bisa hidup tenang karena diburu aparat. So, ini adalah langkah mereka untuk mengalihkan perhatian pemerintah dari mereka. Tapi kayaknya alasan ini sangat riskan deh.

Isu laen penyebab tragedi ini adalah keterlibatan Keronco Keroncoan Iblis Soeharto, mreka berusaha slalu mengalihkan perhatian pemerintah dari dosa 2x mereka di masa lalu. Loh, koq getoo lah iya lah, liat aja suku Madura punya bom dan senjata api, dapet di mana ? wallahu alam.

Salah satu faktor yg gak bisa dianggep enteng adalah emang suku Madura itu nyebelin. Tapi gak semuanya khaaaan. Emang ada yg nyebelin anggota suku Maduranya, tapi ada juga koq yg baek. Nahhhh, inilah susahnya. Oleh beberapa org berpendapat klo slama ini hutan daerah KalTeng tuh pada makin gundul aja. Dibabat oleh suku Madura, sedangkan kita tau klo suku dayak tuh betahnya tinggal di hutan. Naahhhh, klo udah begitu mo tinggal di mana lage mereka ?

Selaen itu  ada juga yg ngecap rata 2x suku Madura itu sok jadi mafia. Klo di pasar ato di pelabuhan ato di mana saja, mereka tuh mo nya menang sendiri mlu. Klo perlu maen carok deh. Ada benernya juga tuh, gue tau karakteristik org Dayak yg lebih suka mengalah. Tapi klo udah marah, tau sendiri deh akibatnya. Leher bisa putus..tus..tussss. Gue pernah nyaksiin gemana pilu nya penderitaan suku Madura saat gue ke PLK kemaren. Saat itu gue muntah nyaksiin darah bertebaran, gak tahan neh. Eloe aja mungkin bisa pingsan. Setelah 107 taon ngayao (memenggal kepala musuh) gak pernah terdengar, kali ini bangkit lage. Ngayao adalah upacara adat untuk nganter kmatian seseorg terhormat dgn mengorbankan kepala manusia, ato juga upacara untuk memenggal kepala musuh yg telah kalah bertarung yg ntar ditatoh di tempat khusus di depen rumah. Makin banyak kepalanya makin sakti org itu, hiiiiiiiii;..bagi pasukan khusus Dayak yg dipimpin Pangkalima Burung, kepala 2x itu dijadiin syarat untuk minta restu kpd leluhur untuk minta kesaktian. Contohnya bisa menggerakkan senjata mandau dr jarak jauh, bisa mengendus bau org Madura ato bukan, bisa berjalan di hutan tanpa kesasar, dan org yg  kepalanya diambil tuh bisa di jadiin budak arwahnya oleh si pemenggal kepala. Katanya lage klo minum darah dan makan hati musuh itu bisa melupakan trauma akibat membunuh, dan org yg terbunuh gak aka bis hidup lage. Wallahu alam bissawab.


Salah satu isu yg gak layak dipatok adalah isu kristenisasi. Ini kayaknya adalah pemikiran yg dangkal deh. Dan sengaja di hembuskan oleh org 2x gak betanggung jawab. Tapi, yah lebih baek liat 2x lah sebelon ngomon.

Ada lage, menurut Buku Merah (catatan perjalanan gubernur KalSel ke KalTeng) itu semua juga diakibatkan oleh beberapa tokoh Madura di Kalteng yg pengen menguasai Kalteng terutama sampit. Ditemukan beberapa spanduk dan selebaran sebelon kerusuhan meletus yg isinya ttg keinginan pra tokoh madura tsb mo nguasai KalTeng. Misalnya aja ada spanduk yg isinya Selamat Datang Di Sampit, Sampang Kedua . Nah, apa maksutnya ini ???? trus lage ada sekolahan yg papan namanya menggambarkan klo daerah itu dikuasai oleh suku Madura. So, mnurut org Dayak. Dr pd dibunuh oleh org Madura yg kpengen nguasai Sampit, mending org Maduranya diusir duluan. But kayaknya kebanyakan org Maduranya bandel, disuruh pergi gak mo, yah terpaksa diusir deh. Org banyak udah tau kalo klo suku dayak sebelon nyerang tuh slalu memberi tau terlebih dahulu, tapi emang Maduranya yg rada bandel. So, klo ada korban yg jatuh itu sebenenernya masih bisa dihindarkan koq.

Sekali lage, pendapat yg mencap org dayak itu sangat tdk manusiawi sebenernya gak 100 persen bener. Wong mereka sebelon nyerang ngasih tau dulu koq. Kalteng adalah milik Dayak, namun selama ini mreka harus slalu mengalah dgn warga pendatang khususnya Madura yg mungkin secara ekonomi lebih makmur dr pd mreka. Menyedihkan, org 2x madura mengundang tokoh 2xnya datang ke sampit dan memberitahukan bahwa Sampit telah mreka kuasai.

Disaat Sampit sikuasai oleh org 2x Madura selama 2 hari. Suku Dayak tdk mempunyai alternatif lain untuk pergi menyelamatkan dirinya, lain halnya dgn suku Madura yg masih mempunyai Pulau Madura sebagai tempat kembali. Masih hangat diingatan ketika suku dayak mengungsi masuk ke dalam hutan selama dua hari Sampit dikuasai oleh org Madura (asal muasal  meletus tragedi sampit). Mereka mengungsi dgn menaiki jukung 2x kecil, sambil mendayung mereka hanya diam membayangkan bahwa tanah tumpah darahnya telah direbut org lain. Mereka pun hanya diam disaat di seluruh media massa, televisi, koran, majalah, radio, internet dan lainnya memberitahukan dgn gaungnya bahwa suku Dayak adalah biadab, tdk manusiawi, suka membunuh, kanibal, dan setumpuk sumpah serapah lainnya yg memerahkan telinga. Seluruh dunia berpendapat demikian, pernahkah kita berfikir untuk tidak menilai suatu masalah dr satu sudut pandang saja.???.

Derita yg dialami oleh suku Madura membuat seluruh dunia murka dan memberikan stempel hitam kpd suku Dayak, terlebih suku Madura yg ingin membalas dendam dan menghancurkan suku Dayak. Sementara suku Dayak hanya pasrah terhadap semua caci maki itu, sambil berharap kepada Ranying Hatalla Langit (tuhan maha kuasa) , kpd tanah, bumi, air, langit yg telah melahirkan mereka.

Lihat saja, di Sampit semua badan penolong spt dari PBB, LSM, PMI, dan relawan lainnya hanya mengurusi org madura saja. Tak pernah mereka menyentuh suku Dayak yg terluka. TNI dan Brimob rela mati untuk keselamatan org Madura, kapal laut dan kapal udara dikerahkan untuk menyelamatkan org Madura. Samakah halnya saat suku dayak diburu dari sampit dan harus mengungsi ke dalam hutan ????? siapa yg peduli dgn mreka????? Gak ada satupun org yg peduli, ironisssssssssss !!!!!


Kemana suku dayak harus mengadu ???? mengadu kpd aparat malah di tangkap. Mo mengadu kpd bapak Mahfudz takut karena dia org Madura, mo mengadu kpd gubernurnya sendiri, tapi gubernurnya sendiri gak punya perangkat untuk menolong. Mo ngadu kpd Tuhan, Alwi Muhammad aja membilangi suku Dayak adalah biadab. Lalu..kmana lageeee???????

 Periksa aja, seluruh perusuh yg ditangkap aparat adalah 100 persen ordg Dayak. Padahal kalau seandainya kita menilik lebih jauh, siapa yg salah duluan ? siapa yg menghancurkan Sampit duluan ? siapa yg membantai duluan ? siapa yg mengajak perang duluan..????????? semuanya diembankan kepada org Madura, merekalah yg menebar bibit permusuhan, org Madura lah yg mengusir Dayak dr sampit, org Madura lah yg pertama menumpahkan darah di kota sampit, dan org Dayak lah yg pertama darahnya membasahi tanah nya sendiri.

Org dayak gak pernah memusuhi suku lainnya, buktinya banyak org dr suku Jawa, Bugis, Banjar dan suku lainnya di sana. Tapi mengapa mreka gak di apa-apain org dayak ? karena mereka mampu membawa diri dalam bermasyarakat. Dan org Dayak pun akabn menyukai cara spt ini.


Mungkin bagi org Dayak , Madura adalah suku yg  kejam, namun bagi org Madura suku Dayak lah yg kejam. Bagi saya sendiri kedua nya adalah benar sekaligus salah. Karena gak selamanya manusia selalu berlaku lalim, ada kalanya mungkin dia pernah berlaku alim. So, adakah pengampunan di sana ? pengampunan adalah jalan keluar terbaik, saling bermaaf-maafan adalah perbuatan paling terpuji  dan suku Dayak telah mengambil start pertama, mereka mempersilahkan org Madura kembali ke daerahnya, namun dgn syarat bawa serta lah kedamaian dan cinta kasih bersama kedatangan mereka. Namun, suku Madura malah mau datang dengan segerombolan pasukan pembalas dendam.

Para pejabat rame 2x pasang tampang dgn kedok mendamaikan suasana KalTeng, contohnya gubernur Kalsel tuh yg sok pahlawan (urusan negara malah mo dibik urusan rumah tangga Kalsel, akhirnya sidang pertanggung jawabannya nya di DPRD KalSel terbengkalai) tapi apa hasilnya..???? pembunuhan masih aja berlangsung. Napa begitu, karena pejabat itu gak lebih dr pd segerombolan org 2x yg kastanya di atas org biasa. Suara mereka adalah suara mereka, dan suara rakyat adalah suara rakyat. Apa gunanya pejabat, apa gunanya negara kalo cuman di manpaatin buat segolongan org tertentu aja. Rakyat adalah rakyat, dan pejabat adalah pejabat. Perbedaan yg sangat jauh sekali. Rakyat melahirkan pejabat dgn ketulusan, tapi pejabat melahirkan rakyat dengan imbalan. So, jgn bingung kalo mreka rame 2x berikrar dgn kebersamaan, tp kenyataannya malah sebaliknya.

Gue hanya menyampaikan hal ini aja. Gue gak pengen tulisan gue ini malah memantik api permusuhan. Gue adalah ViCi, dan gue gak mihak sapa jua, walo gue sendiri adalah org Kalimantan (suku Banjar), bukan berati gue memihak suku Dayak, karena gue gak menyukai kekerasan. Kuncinya adalah kebersamaan, cobalah untuk tidak mengecewakan org laen yg udah memberikan baktinya kpd kita, agar semuanya dapat berjalan dengan penuh kasih sayang. Wallahu Alam Bissawab.

Spesial thnx gue untuk :
Kpd ALLAH, Tuhan semesta alam&.sujud hamba Mu. Kpd Rasul.. shalawat ummat Mu
Buat semua temen 2x gue yg udah ngedukung situs gue ini, thnx atas semuanya krena tanpa kalian situs ini gak berarti apa 2x..

www.oocities.com/vicistory/vici.html
070401
vici_mails@yahoo.com
silakan hubungi gue kalo keberatan dgn tulisan ini

SOURCE: http://www.oocities.org/vicistory/perang.html

##################################################
Kerusuhan Sambas
 
Kerusuhan Sambas adalah pecahnya kerusuhan antar etnis di wilayah Kabupaten Sambas dan sekitarnya. Kerusuhan di Sambas sudah berlangsung sekitar tujuh kali sejak 1970, namun yang terakhir ini (tahun 1999) merupakan terbesar dan akumulasi dari kejengkelan suku Dayak dan Melayu terhadap ulah oknum-oknum pendatang dari Madura. Akibatnya, orang-orang keturunan Madura yang sudah bermukim di Sambas sejak awal 1900-an itu ikut menanggung dosa perusuh. Korban akibat kerusuhan Sambas terdiri dari, 1.189 orang tewas, 168 orang luka berat, 34 orang luka ringan, 3.833 rumah dibakar dan dirusak, 12 mobil dan 9 motor dibakar/dirusak, 8 masjid/madrasah dirusak/dibakar, 2 sekolah dirusak, 1 gudang dirusak, dan 29.823 warga Madura mengungsi.

Latar belakang

    Awal peristiwa dilatar belakangi kasus pencurian ayam oleh seorang warga suku Madura yang ditangkap dan dianiaya oleh warga masyarakat suku melayu.
    Peristiwa berkembang dengan bergabungnya ratusan warga suku Madura dan menyerang warga suku Melayu yang berakibat 3 orang suku Melayu meninggal dunia dan 2 orang luka-luka.
    Selain itu terjadi pula kasus perkelahian antara kenek angkot warga suku Melayu dengan penumpang angkot warga suku Madura yang tidak mau membayar ongkos.
    Akibatnya terjadi saling balas membalas antara warga suku Melayu dibantu suku Dayak menghadapi warga suku Madura dalam bentuk perkelahian, penganiayaan dan pengrusakan.
    Peristiwa berkembang dengan terjadinya kerusuhan, pembakaran, pengrusakan, perkelahian, penganiayaan dan pembunuhan antara warga suku Melayu dibantu warga suku Dayak menghadapi warga suku Madura, yang meluas sampai kedaerah sekitarnya.
    Telah terjadi pengungsian warga suku Madura secara besar-besaran. Kemudian isu ini dieksploitir oleh kelompok-kelompok tertentu untuk kepentingannya.
    Peristiwa ini adalah kejadian yang kesepuluh sejak tahun 1977 dan juga pernah terjadi terhadap etnis yang lain.

Kronologi

    Pada tanggal 17 Januari 1999 pukul 01.30 WIB telah ditangkap dan dianiaya pelaku pencurian ayam warga suku Madura oleh warga suku Melayu.
    Pada tanggal 19 Januari 1999 sekitar 200 orang suku madura dari suatu desa menyerang warga suku Melayu desa lainnya.
    Hari berikutnya terjadi perkelahian antara warga suku Madura dan warga suku Melayu karena tidak membayar ongkos angkot. Kejadian ini berkembang menjadi perkelahian antara kelompok dan antara desa yang disertai pembakaran, pengrusakan dan tindak kekerasan lainnya.
    Warga suku Melayu dibantu suku Dayak melakukan penyerangan, pembakaran, pengrusakan, penganiayaan dan pembunuhan terhadap warga suku Madura dan selanjutnya saling membalas.
    Peristiwa berkembang dengan terjadinya pengungsian warga Madura dalam jumlah cukup besar menuju Singkawang dan Pontianak.

Tindakan aparat keamanan antara lain :

- Melokalisir dan mencegah meluasnya kejadian,

- Membantu mengevakuasi para pengungsi, melakukan pencarian dan penyelamatan suku Madura yang melarikan diri kehutan,

- Membantu para pengungsi ditempat penampungan,

- Mengadakan dialog dengan tokoh masyarakat dan pemuka agama, serta

- Melakukan upaya penegakan hukum terhadap para pelaku kriminal.

Proses hukum

Pelaku yang ditangkap 208 orang dan dalam proses peradilan sebanyak 59 orang, yang terdiri dari suku Madura 13 orang, suku Melayu 42 orang dan suku Dayak 4 orang. Barang bukti disita 607 pucuk senjata api rakitan, 2.336 senjata tajam, 76 bom molotov, 86 ketapel, 969 anak panah, 8 botol dan 8 toples obat mesiu, 443 butir peluru timah, 79 peluru pipa besi, 349 butir peluru setandard ABRI dan 441 butir peluru gotri.

SOURCE: http://id.wikipedia.org/wiki/Kerusuhan_Sambas

No comments:

Post a Comment