Amazon Deals

Saturday, June 9, 2012

Ratu laut kidul = Nusantara

by Lucky Hendrawan on Wednesday, 23 March 2011 at 12:13
Sampurasun,

Seperti biasanya... catatan saya selalu 'berseberangan' dengan pemahaman umum... :) jadi anggap saja sebagai anti-thesis atau alternatif sudut pandang sejarah Nusantara...
Hal ini saya lakukan karena ketidak-percayaan saya terhadap peristiwa
sejarah di Ibu Pertiwi tercinta ini, yang dibuktikan oleh semakin
merosotnya rasa nasionalisme kita serta meruncingnya perpecahan antar"ras" dan "agama" di lingkungan masyarakat Indonesia... bagi saya "sejarah itu harus berkelanjutan dan bersifat logis-sistematis" maka, jika ada yang tidak enak dibaca (TIDAK LOGIS) sebelum dan sesudahnya saya mohon maaf sebesar-besarnya.
---------------

Konflik sosial yang ditandai oleh sebutan "orang Jawa" dan "orang Sunda" ataupun sebutan"orang Majapahit" dan "orang Pajajaran" hingga saat ini masih terus bergulir, ketajaman fenomena tersebut dipicu oleh "Tragedi Bubat" yang mengisahkan pembantaian 70 orang berstatus RAMA (sesepuh / kelompok spiritual) dari 70 Kabuyutan (tempat suci) di Jawa Barat (Pa-Ra-Hyang) yang dipimpin oleh Hyang Linggabuana. Salah-satu tugas RAMA pada masa itu adalah melantik para DATU (raja kecil) dan RATU (Maharaja).


Tri-Su-La Naga-Ra

Pembantaian para RAMA itu dilakukan oleh Gan Eng Cu (Gajah Mada) seorang patih dari Kahuripan, secara politis dan strategi perang Gan Eng Cu bertugas menggagalkan pelantikan Maharaja Nusantara yang sedianya akan dijabat oleh Hayam Wuruk. Hal ini ditandai dengan direbutnya Pataka Nusantara yang bernama Citra (cap) Resmi (sah) Dyah (pengukuhan) Pita(pengikat / pemersatu) Loka (wilayah), yaitu Tanda Lambang Penguasa Persatuan Ibu Pertiwi (*dalam bahasa asingnya adalah STATUES SYMBOL OF UNITED KINGDOM :)


***
Patut dipahami bahwa; hasil pelantikan Maharaja Nusantara itu (kelak)
harus diberitakan / disebar-luaskan ke seluruh DUNIA, sebab berkaitan
erat dengan bermacam perjanjian (multilateral ataupun bilateral); baik
itu menyangkut sistem ekonomi, politik, sosial serta ketatanegaraan
lainnya di seluruh dunia yang berhubungan dengan Maharaja Nusantara pada
waktu itu.


Selanjutnya setelah "Lambang Penguasa Ibu Pertiwi" itu dapat direbut oleh Gan Eng Cu lalu kita mendengar tentang Sumpah PALAPA,
konon isinya bahwa Gajah Mada akan mempersatukan Nusantara... hehehe...
ini jelas mustahil, sebab pada waktu itu Keraton Nusantara sedang
giat-giatnya digempur oleh pasukan Cina Utara / bangsa Mongol (pasukan
perang Islam), baik gempuran militer, ideologi, religi, ekonomi,
politik, dll.... singkatnya, yang disebut Bumi Nusantara pada saat itu
secara devacto hanya tinggal sebesar Pulo Jawa dan Bali... sebab hampir
seluruh Kedatuan (Kedaton) di Nusantara telah dikuasai musuh, ditandai dengan berobahnya gelar DATUK menjadiSULTAN, seperti yang terdapat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dst.


Dengan Gan Eng Cu menguasa lambang United Kingdom of Nusantara,
maka Hayam Wuruk tidak dapat dianggap sebagai Maharaja (Ratu) Nusantara
dan sudah tentu Gan Eng Cu (Gajah Mada) dapat berbicara apapun dengan
dalih MEMPERSATUKAN NUSANTARA yang sebenarnya adalahMENGUASAI BUMI NUSANTARA di bawah kekaisaran Cina.


Peta Serangan Pasukan Mongol (Nasional Geografi)


Ungkapan atas 'gugur'-nya Citra Resmi Dyah Pita Loka merupakan siloka atas keruntuhanKemaharajaan (RATU) Nusantara
atau hilangnya kedaulatan Nusantara di bawah kekuasaan pasukan Cina
Utara / Mongol yang menganut ajaran Islam. Sejak itulah ajaran Islam
mulai menyebar keberbagai pelosok Nusantara, khususnya di pulo Jawa.
Kejadian ini pun ditandai dengan adanya Wali Sanga (9 Wali) yang
seluruhnya bangsa Cina Utara, seperti; Bong Swie Ho, Bong Ta Keng, Gan
Si Ciang, Jat Tik Su, Tan Eng Hoat, Kin San, dll.


Di daratan nusa Jawa, hubungan antara kewilayahan RAMA (Jawa Barat) dengan RATU (Jawa Timur) otomatis berhasil dilumpuhkan (pada saat itu Jawa Tengah belum ada). Artinya, wilayah sakral(Kabuyutan agung / Pa-Ra-Hyang) yang berisi para sesepuh / kokolot penjaga ajaran SUNDA (Matahari) sama sekali tidak dapat berbuat banyak sebab isinya hanya kakek-kakek(para
Guru Besar), tidak memiliki pasukan perang. Dilain pihak wilayah Jawa
Timur sebagai pusat pemerintahan Nusantara sudah dilumpuhkan.


Ketika
Jawa Timur (RATU) sudah LUMPUH maka Ibu Kota Nusantara terpaksa
dipindahkan ke Jawa Barat (RAMA), artinya RAMA dan RATU bersatu pada
sebuah wilayah (Pakuwuan Pajajaran), maka secara
prinsip Bumi Nusantara itu tersisa hanya tinggal sebesar Jawa Barat
saja... lalu gempuran PENUTUP dan TERAKHIR dilakukan oleh pasukan Islam
dengan mengepung wilayah Jawa Barat melalui pengerahan pasukan perang
dari Kasultanan Cirebon serta Kasultanan Banten... dan Kemaharajaan Nusantara (Pajajaran Nagara) berkahir di Talaga (Kuningan).... boleh jadiLaksamana Laut Ma Ceng Ho datang sebagai pasukan khusus "untuk membersihkan sisa pasukan Pajajaran Nagara yang masih setia dan untuk memastikan runtuhnya Kemaharajaan Nusantara.


Setelah peristiwa Pajajaran Nagara Runtag di Talaga, maka terhapus pula nama NUSANTARA dari peta dunia dan selama 300 tahun lebih negara kita TIDAK BERNAMA...
hingga suatu saat orang-orang barat menyebutnya sebagai "Kepulauan
India Kecil" (Indu Nesia), hingga kelak oleh Ki Hajar Dewantara
mengukuhkan menjadi INDONESIA.


Kemaritiman Nusantara secara prinsip dilumpuhkan oleh Raden Patah (Jin Bun) dengan menguasaipusat galangan kapal terbesar se-Asia Tenggara yaitu DEMAK.
Memutuskan hubungan antar pulau (jalur perahu) atau jalur ke luar pulo
Jawa menjadi sangat efektif sehingga Ibu Kota Nusantara tidak bisa
mendapat bantuan dari sekutunya (Thailand, Vietnam, Kamboja, dst) pun
kesulitan bagi pasukan maritim Inggris Raya... (*boleh jadi itu sebabnya
Singapura dan Malaysia diambil alih oleh Inggris sedangkan Nusantara
pada waktu itu seolah-olah dilewati begitu saja)... atau karena Eropa sedang memasuki masa Renaissance (?).
(*patut diingat, pada abad 17 kerajaan Inggris mengirim VOC dari India
untuk membantu urusan perdagangan di bekas Kemaharajaan Nusantara).


Inggris sebagai 'pewaris' kejayaan negeri maritim Nusantara


Berdasarkan
sejarah, bangsa Viking (bangsa Utara) merupakan leluhur bangsa-bangsa
di Eropa dan dikemudian hari mereka bergabung dalam persatuan BRITANIA RAYA atau sering disebut UNITED KINGDOM
yang dipimpin oleh Inggris. Dilain pihak sejak jaman awal hingga
sebelum gempuran musuh masuk ke Nusantara, negara kita ini merupakan
negara ADIDAYA yang menguasai Samudra di belahan Bumi bagian Selatan, itu sebabnya negeri kita disebut sebagai KEMAHARAJAAN MARITIM (RATU SAMODRA) dan bangsa Indonesia lebih akrab menyebutnya sebagai RATU LAUT KIDUL.

Begitulah kisah DUA KEMAHARAJAAN MARITIM YANG DULU MENGUASAI DUNIA...

Britania Raya
hingga saat ini masih berdiri tegak dengan kemakmurannya, bahkan mata
uang mereka berada pada posisi yang tinggi... ironis... di wilayah bekas
Pajajaran Nagara (Nusantara) ini kita masih sibuk
dengan hal-hal kecil seperti "kesukuan, ras, keagamaan, keekonomian...
dan sebagainya".... Apakah ini semua DAMPAK...??? atau sebenarnya
SERANGAN ITU MASIH BERLANGSUNG namun dengan 'baju' yang berbeda...???
dan kita putra-putri pewaris Nusantara tidak menyadarinya.


***
jika paparan di atas ada yang tidak logis, dengan rendah hati saya
mohon bantuan untuk mengkoreksinya... Hatur Nuhun... hal ini semata demi
"KEMERDEKAAN & KEDAULATAN ATAS SEJARAH DAN ILMU PENGETAHUAN DI
NEGERI SENDIRI...!"

No comments:

Post a Comment