Amazon Deals

Saturday, July 21, 2012

Diri, Jati Diri, ataukah Diri Pribadi?

Ada orang yang mengatakan tentang petuah yang kira-kira berbunyi begini,“Dunia ini adalah kebangkitan kembali, karena kebangkitan itu hanyalah adalah melayani, Dan tidak ,melakukan apa-apa kecuali melayani.” Nah, ini menjadi sebuah hal yang menarik, jika ada pertanyaan bahwa masak jauh-jauh dari suatu tempat yang enak (syurga) kok kita ke dunia ini menjadi pelayan? emange kita terlahir hanya menjadi komoditas yang akan dikirim ke negara-negara kaya?hehehe..atau masak Tuhan menciptakan insan hanya untuk membantu pekerjaanNya? Tuhan kurang Maha Kuasa ya?hehehe…
Lalu petuah itu kubawa sebagai bahan untuk merenung, namun kepalaku menjadi pusing, bahkan berkunang-kunang.
Maka kubulatkan tekad untuk membawa kepeningan itu pada karibku Sang Petani (karena memang beliaulah segala jawab jika gelisah memukul dada dan kepalaku. Singkat cerita sampailah diri di halaman rumahnya. Beliau baru asyik membersihkan cangkul.- Alat yang setia dan benar-benar menjadi sahabat sejati yang menemani kesehariannya. Lantas kutanyakan saja petuah yang pernah kedengar itu kepadanya. Beliau hanya tersenyum, lalu disulutnya sebatang rokok kretek, menghisap dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, dan tak lupa terkekeh riang, Gege..gege…gege (sepertinya ini menjadi gaya andalannya)
“Anakku, ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa Orang yang berpikir lebih baik tentang Tuhan, maka Tuhan ada dalam pikirannya itu.” Kata Sang Petani itu . Aku sempat menatap matanya, kali ini ada sebuah keseriusan yang mendalam.
“Saya kok malah semangkin bingung, Mbah, kayak kurang nyambung gitu loh! hehehe..Kita ini dibangkitkan hanya untuk menjadi pelayanNya, tah? Ataukah Tuhan kekurangan dan benar-benar membutuhkan pembantu?” kataku mengejarnya

“Semua makhluk hidup dan benda mati ini memang hanya menjadi
pelayanNya, to? Hehehehe….” kata Mbahe mulai menanggapiku penuh riang.
Sore itu, kuharap segala pertanyaanku terjawab, tetapi nampaknya Mbahe menginginkan agar ku tetap berpikir. Lintasan waktu yang berkelebat tak kuhiraukan, sementara hewan capung hanya berputar-putar di halaman seperti hendak pulang.
“Semuanya berawal dari Abdul Le…ya..Abdul itulah awalnya, sebelum hadir yang lainnya. Dan segeralah cari pasanganmu itu, lalu jadikan harianmu, maka engkaulah  pelayan itu dan hidupmu menjadi perpanjangan dari Rahman dan RahimNya.
“Tetap saja saya belum dong bin mudheng, Mbah…jangan samakan cara berpikir mbah ini yang terbiasa melaju secepat pesawat terbang dengan cara berpikir saya yang hehehe…masih labil sebab terlalu banyak makan mie instan, lagian untuk urusan merenung walah..walah, kalah dengan waktu untuk membuat status di FB maupun Twuit…twuit, jadi pelan kan sedikit penjelasannya pun lebih rinci, jadi saya bisa memamahnya dan membiakkannya, hehehehe…”
“Ada ujaran dari salah seorang yang bijak yang mengatakan begini, thole..
Abdi itu tidak semata-mata berarti hamba, tetapi justru merupakan kumpulan dari seluruh Asma yang berperan di dalamnya. Inilah rahasia terdalam itu Le, inilah puncak dari segala pengetahuan dari pencarian. Ibrahim, Musa bahkan Sang Musthofa pun pernah dan sering merenung, bersunyi mencari diri, namun semuanya berakhir pada sebuah ujung peniadaan diri hingga muncul sebuah penyerahan amanah bahwa hidup adalah abdi, dan kehidupan adalah perpanjangannya. Telaah dan renungkanlah bahwa barangsiapa mengabdikan hidup, entah pada Tuhan, negara maupun keluarganya, maka kehidupan itu pun akan mengenangnya”
Kerudung malam bertambah dalam, sementara nyanyian hati mulai menyusut. Jawaban itu merupakan tamparan buatku. Mudah untuk mendengarkan, sulit untuk melaksanakan. Entahlah Tuhan, entah di muara mana hidupku Kau atur, aku mung manut-manut wae

SOURCE: http://filsafat.kompasiana.com/2012/03/04/memang-hidup-itu-hanya-jadi-pelayan-lik/

No comments:

Post a Comment