Amazon Deals

Wednesday, August 15, 2012

Ketulusan HB IX Perlu Ditiru Kaum Muda

YOGYAKARTA - Kesederhanaan, ketulusan, dan kerakyatan Sultan Hamengku Buwono IX diharapkan mengilhami pemimpin-pemimpin bangsa dan kaum muda. Apa pun yang dilakukan Sultan bagi Keraton Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Republik Indonesia, adalah pengabdian wajib setiap sultan yang bertakhta.
Demikian orasi budaya Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono (HB) X dalam Peringatan Satu Abad Sultan Hamengku Buwono IX di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Kamis (12/4). ”Dalam asma Dalem (nama Sultan) sudah terkandung misi Hamengku, Hamangku, Hamengkoni sebagai wujud visi semesta: Hamemayu Hayuning Bawana,” ucapnya.
Sultan merefleksikan sosok HB IX dalam beberapa butir, yaitu pemimpin yang bersahaja, sederhana, dan tanpa ambisi kekuasaan. HB IX juga berhasil menerapkan desakralisasi kepemimpinan sultan, berkomitmen bagi rakyat, dan berani mendobrak kemajuan pendidikan dengan mengizinkan pemakaian keraton untuk kuliah mahasiswa Universitas Gadjah Mada.
”Meski sejak berusia 4 tahun hidup di tengah keluarga Belanda sehingga diberi nama Henkie dan belajar di negeri Belanda, beliau tidak kehilangan jati diri,” katanya.
Disposisi HB IX sebagai orang Jawa ia tegaskan saat penobatannya pada 18 Maret 1940. Waktu itu, HB IX mengucapkan kata-kata tegas: ”Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, tetapi pertama-tama saya adalah dan tetap, orang Jawa.”
Menurut Sultan, pernyataan tersebut menunjukkan sikap nasionalisme budaya progresif yang membuat Belanda sempat tercengang. Pada waktu itu, tidak ada sepatah kata pun dari HB IX yang menyebutkan ia akan setia apalagi tunduk pada Belanda. Sebaliknya HB IX akan bekerja keras untuk nusa dan bangsa.
Dengan itikad itu, HB IX juga menunjukkan jiwa semangat kebangsaan yang total, jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Visi tersebut akhirnya benar-benar diwujudkan di masa-masa genting proklamasi dan revolusi fisik.
Keputusan HB IX bergabung dengan Negara Kesatuan RI juga tidak diambil dengan keputusan sesaat, tetapi tetap memperhitungkan wasiat para leluhur. Padahal, saat itu HB IX memiliki kekuasaan otonom tersendiri.
Sultan mengatakan, komitmen HB IX terhadap NKRI tidak bisa ditawar lagi dan sudah menjadi harga mati. Tinggal sekarang Pemerintah Republik Indonesia sendiri, apakah menangkap dan menghargai itu semua sebagai kelanjutan dari penggabungan Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat dengan NKRI.
”Beliau dengan tegas menyatakan, Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah daerah istimewa bagian dari NKRI. Selanjutnya semua kekuasaan Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat dipegang sepenuhnya oleh beliau,” ungkapnya.
Sultan berharap dengan pandangan reflektif saat menelusuri alur sejarah perjuangan HB IX, generasi muda tidak hanya mengaguminya dalam bingkai emas keteladanan. Hendaknya generasi muda juga membaca dan menyerap segi-segi manusiawinya sebagai seorang pemimpin, juga terhadap sikapnya yang demokrat dan sederhana.
Dalam peringatan satu abad Sultan HB IX ini, ribuan warga memadati Pagelaran Keraton Yogyakarta. Pukul 11.00, Sultan beserta Gusti Kanjeng Ratu Hemas hadir di panggung utama. Tampak pula Wakil Gubernur DI Yogyakarta Paku Alam IX, sejumlah bupati, pejabat, keluarga Keraton Yogyakarta, dan tokoh masyarakat. (ABK) 

No comments:

Post a Comment