Amazon Deals

Monday, August 13, 2012

Sekelumit Cerita dari NAD

BEHIND THE STORY : Tragedi Meninggalnya Rekan Kita ALM LETTU CAM Anumerta ERWIN KOERNIANTO
(Catatan :
Tulisan ini dibuat bukan sebagai ungkapan perasaan cengeng atau sentimentil dari pelaku sejarah. Yang ditulis ini adalah kisah sesungguhnya, yang betul-betul terjadi waktu itu. Yang bersangkutan memutuskan untuk mengisahkan melalui tulisan ini guna meluruskan cerita yang sebenarnya, setelah mendengar adanya kesimpangsiuran atas berbagai versi cerita tentang kejadian tersebut. Sekaligus mohon kepada berbagai pihak agar turut membantu proses administrasi almarhum yang hingga kini belum selesai.
Seperti diceritakan oleh Pelaku Sejarah; Kapten Chb Rizal Arifien, Alumni Akmil 1998 & ditulis ulang oleh Kapten Chb Sandy Maulana Prakasa untuk rekan2 Pandu Sakti 97)

Cerita ini bermula saat aku selesai mengikuti Sekolah Bahasa di Magelang. Waktu itu aku masih berada di kota Medan, sambil menunggu angkutan yang bisa membawaku ke tempat penugasanku berikutnya yaitu di Lhokseumawe. Singkat cerita,sehari sebelum berangkat ke Lhokseumawe, seniorku bernama Letda Cam Erwin Koernianto Notokoesoemo (EKN) - Akmil 1997, datang menjumpaiku di Mess.

"Dik, besok ada angkutan yang akan berangkat ke Lhokseumawe" katanya. Abangku yang satu ini memang ngga pernah manggil nama kepada junior-juniornya. Menurutnya, terdengar lebih akrab rasanya. Lain halnya dengan diriku yang lebih suka manggil nama. "Ok Bang, besok saya ikut. Udah seminggu saya nunggu di sini." jawabku.  Bosan rasanya seminggu tanpa kegiatan seperti ini. "Besok rencana rombongan akan berangkat jam 9 pagi, jadi hari ini kita puas-puasin dulu di Medan. Besok udah ngga bisa lagi" sambungnya. Bang EKN, dengan gayanya yang khas sejak jaman sama-sama digembleng di
Lembah Tidar, terasa masih kental sampai hari itu. Akhirnya seusai sholat Jumat, kami berangkat ke Medan Plaza, sebuah Mall dari 3 Mall yang baru ada di kota Medan. Weleh..kesannya Lhokseumawe
memang ngga ada apa-apanya, pikirku saat itu, seraya menaiki tangga masuk
Mall tersebut. "Kamu belum makan siang kan? Kita makan siang dulu di lantai 3" tawarnya. "Terserah Abang aja-lah." jawabku singkat. Bukan karena ngga semangat tapi entah kenapa saat itu ada perasaan aneh yang menjalar di dada. Aku sendiri ngga tau apa yang merasuk pada diriku saat itu. Setibanya di lantai 3, di situ terdapat 2 buah Fast Food restaurant, yakni KFC dan Ayam Kalasan. Tanpa memberikan tawaran lagi, Bang EKN langsung mengajakku ngantri di KFC. Saat itu yang kupesan adalah menu paket biasa.
Tapi Bang EKN ini justru menegurku. "Sikit kali makanmu, ayo makan yang banyak! Besok udah ngga ada" tegurnya sambil memberikan perintah kepada pegawai kasir KFC untuk men-dobel-kan porsi yang sudah ku pesan. Hmmm...banyak banget, kayak orang ngga makan setahun aja, pikirku. Untung ngga pake seragam dinas, malu juga diliatin orang bawa baki yang berisi porsi makan siang yang segunung itu. Usai menentukan posisi duduk dan membuka meal, kami pun terlibat dalam pembicaraan sambil menikmati makan siang di tempat itu. Bang EKN sibuk ngomong panjang lebar, sedang aku hanya merespon dengan anggukan seraya menyantap porsi dobel tadi. Bang EKN pun entah beberapa kali memamerkan kepadaku perihal cincin tunangannya dengan orang Pekanbaru itu, yang kalau tidak salah baru berlangsung seminggu lalu. Begitu bangganya Abang ini sampai-sampai waktu makan siang itu didominasi oleh cerita ngalor
ngidulnya. Aku ngga kebagian waktu untuk cerita. Tapi... Ah, mau cerita apaan? "Wah,gara-gara Abang nih! saya kekenyangan" ujarku sambil melap kedua tanganku dengan tissue. Bang EKN tersenyum senang, gantian dia yang beranjak menuju wastafel. Usai membersihkan tangannya,dia pun mengajakku untuk turun ke lantai 2. "Tadinya aku mau ngajak kamu nonton, tapi kok film-nya ngga ada yang bagus" katanya.
Siang itu memang ngga ada film yang bagus untuk ditonton. "Saya juga ngga ada ide nih Bang" sambungku.
"Udahlah, sekarang kita ke lantai 2 aja, di situ ada warnet berikut network game-nya" ajaknya. Ya, saat itu networking game memang lagi top abis. Kayaknya, semua orang  kalo ke warnet pasti nyarinya game tersebut. "Lanjut ajalah, Bang" jawabku tanpa semangat, bukan disebabkan apa-apa
tapi karena kekenyangan...:P. Kami pun menuruni eskalator yang penuh sesak itu menuju lantai 2. Sekali
lagi, saat itu di Medan baru ada 3 buah Mall, jadi wajar kalo mall-mall yang ada terlihat penuh sesak dengan pengunjung. Setibanya di lantai 2, Bang EKN ini sepertinya sudah fasih betul dengan keadaan di warnet itu. Dia langsung membidik ke sebuah tempat yang kemudian diceritakan sebagai tempat
favoritnya. "Dik, puas-puasin ya mainnya! Besok udah ngga ada" ujarnya. Lagi-lagi perasaan aneh menjalar di dada, rasanya seperti tidak nyaman gitu, tapi ngga tau kenapa. Dengan kondisi gontai kekenyangan, aku melangkah menuju sebuah meja di tengah warnet tersebut. Meja yang saling terhubung dengan 4 pengguna lainnya. Kalo duduk disini kan lebih aman, ngga jadi suspect as pornsite opener...:P. Akhirnya aku pun larut dalam permainan "Starcraft" yang juga lagi ngetop saat itu. Kadang-kadang sekarang pun di waktu senggang, aku masih suka memainkan game lawas tersebut. Entah-lah, mungkin karena telah menjadi bagian sejarah dalam hidupku. Lebih dari tiga jam kami habiskan di lantai 2 tadi, sampai-sampai lelah rasanya mataku dalam menyusun robot-robot perang dalam Starcraft tadi. Akhirnya aku memutuskan untuk mengajak Bang EKN untuk segera cabut dari tempat itu. Istirahat."Ok, tapi sebelum pulang kita beli Dunkin Donuts dulu ya! Untuk Pak IMS. Soalnya, besok udah ngga ada lagi" jelasnya. Siapa lagi Pak IMS ini? Kok sampe dibela-belain mau dikasih oleh-oleh, batinku. Bang EKN pun menjelaskan bahwa bapak itu adalah KA*** di sana,dan Pak IMS ini sendiri konon adalah salah satu orang yang dekat
dengan Bang EKN lantaran sering berguru perihal komputer. Ya,saat itu Bang EKN lebih banyak dikenal orang lantaran kepiawaiannya dalam mengutak atik komputer. Akhirnya usai membeli sekotak Dunkin Donuts tadi, kami pun kembali menuju mess dan istirahat untuk persiapan berangkat ke Lhokseumawe keesokan harinya.

Singkat cerita, besok hari tepatnya pada pukul 11-an, 3 buah truk Reo menjemput kami di mess. Ya, saat itu andalan perjalanan adalah truk-truk itu. Tidak seperti jaman-jaman sesudahnya, truk itu bentuknya masih asli, belum ada satupun modifikasi batang kelapa untuk perlindungan tembaknya apalagi lapis baja.
Sebelum berangkat Bang EKN sempat berkeras untuk duduk di pinggir kiri. "Dik, kamu di tengah aja! Biar aku yang dipinggir. Aku kan pake senjata" perintahnya. "Sudah biar saya aja, Bang" tawarku sambil memberikan isyarat agar bang EKN naik ke truk terlebih dahulu. "Ngga. Aku aja yang di pinggir" tegasnya sekali lagi, sambil mengenakan rompi yang katanya anti peluru. Anti peluru darimana? Dari Hongkong? Jaman itu belum ada lempeng baja yang dimasukkan ke rompi. Rompi yang dikenakan bang EKN sendiri hanya berbahan sintetik yang saat pertama melihatnya aku sendiri meragukan, apa iya ini anti peluru? Akhirnya truk pertama di-isi oleh Bang EKN, aku dan MS pada kemudi serta 1 orang lagi berada di bak belakang. Rombongan 3 truk Reo ini hanya membawa 11 orang saja, jumlah yang sungguh gila menurut
orang-orang waktu itu, terlalu nekat dan tanpa perhitungan (Bang EKN, Aku, MS, YT, SH, AS, JS, YP, IS, dan 2 orang Ko***) Sampai di Kuala Simpang, ternyata truk kedua mengalami kerusakan yang sangat parah. Kipas pendingin membentur radiator sehingga bocor akibat kondisi jalan yang tidak bagus. Dengan spontan, YT menuturkan kalimatnya yang kemudian kusadari bahwa mungkin kalimat ini juga adalah sebagai firasat pertanda buruk. "Sepanjang saya bolak balik melalui rute ini, inilah pertama kalinya saya
mengalami perjalanan paling parah" paparnya, sambil mengikat tali besar  untuk menderek truk kedua. Sudah tidak mungkin lagi truk kedua dibawa ke Lhokseumawe. Kamipun memutuskan untuk meninggalkan truk itu di Langsa yang masih membutuhkan waktu tempuh 1 jam lagi. Perjalanan tidak boleh terhenti. Kami memutuskan terus menuju Lhokseumawe dengan 2 truk. Formasi pun berubah, 5 orang di truk ke-1 dan sisanya di truk ke-2. Usai menitipkan truk di Langsa, sedikit sekali kata-kata yang keluar dari mulut
Bang EKN. Aku hanya ingat kata-kata terakhirnya yang keluar setelah MS mencoba mencairkan suasana tepat saat melintas di lapangan bola Kecamatan Plk. "Pak, kok diam aja, biasanya bapak suka cerita-cerita apa gitu" tantang MS. "Hari ini aku kok ngantuk sekali, ya" ujar Bang EKN menanggapi MS. Setelah kalimat ini, seingatku tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku ngga mau ikutan ngomong, saat itu aku cuma ingin menjadi pendengar yang baik. Wajah Bang EKN tampak sayu, antara ngantuk dan
lelah. Air mukanya seperti menunjukkan sama sekali ngga ada gairah. Tapi truk tetap melaju menuju Lhokseumawe.

Tepat pukul 15.30 waktu yang ditunjukkan oleh arloji yang kupakai, juga tepat sekali berada di kawasan daerah yang diklaim wilayah paling berbahaya saat itu. "Tar..!" demikian bunyi sekali yang pertama yang sangat jelas sekali terdengar olehku. Hanya berselang 5 detik saja kemudian diikuti oleh bunyi rentetan lainnya dari sisi sebelah kiri truk yang demikian gencar. "Kontaaak..!" teriak MS sejadi-jadinya sambil menunduk ke arah tengah, demikian halnya Bang EKN yang juga reflek menunduk ke tengah. lha aku piye pikirku, akhirnya kedua kepala yang ada di hadapanku ku tekan kuat-kuat kebawah. Saat itu yang terasa di ubun-ubunku adalah sekian kali desingan peluru, rasanya seperti ada yang mengacak-acak rambutku, yang
belakangan kuketahui itu adalah peluru-peluru yang melintas persis di atas kepalaku. Truk bergerak zigzag lantaran dikemudikan tanpa melihat depan, hingga akhirnya baru berhenti setelah menabrak sebuah bus. Dengan sigap serta merta MS keluar dari ruang kemudi, kemudian aku bergerak mengikutinya. Namun sebelumnya aku berteriak, "Bang, cepet keluar! kita bisa di-granat kalo masih tetap di dalam!" teriakku
sambil lompat keluar. He...Bang EKN diam saja sambil tetap menunduk. Kupikir dia tidak dengar  akan suaraku karena memang sedang riuh rendah suara tembakan bersahut-sahutan. Tanpa pikir panjang segera kutarik lengan kanan Bang EKN agar bisa mengikutiku keluar dari truk. Tapi alangkah kaget bukan kepalang, ternyata Bang EKN malah terkulai lantaran tarikanku tadi. Lebih kaget lagi karena saat terkulai terlihat jelas dari lengan kirinya sudah bersimbah darah. "Bang!" teriakku parau,jantungku berdegup keras.
Inilah pertama kalinya aku melihat korban kontak tembak. "Bang!!!" ulangku sekali lagi. Jantungku berdegup lebih keras lagi dari sebelumnya. Ini bukan panik. Ini adalah emosi. Emosi yang membangkitkan
kemarahanku! Marah karena orang yang kuhormati menjadi korban dalam peristiwa sore itu.
Ngga sempat lagi ada pikiran untuk takut apalagi cemas. Yang ada saat itu hanyalah amarah. Ya, aku belum pernah semarah waktu itu. Kurebut sepucuk M-16 dari tangan Alm Bang EKN yang saat itu dalam kondisi tak berdaya dan segera kupastikan bahwa senjata tersebut betul-betul dalam kondisi siap untuk menembak. Segera saja aku bergabung dengan rekan-rekan perjalananku yang sudah duluan mengambil posisi berlindung untuk membalas tembakan. Sepanjang hidupku belum pernah aku membidikkan senjata kepada sasaran yang berbentuk manusia. Sekian tahun sebelumnya aku hanya pernah membidik papan lesan tembak (sasaran tembak) dalam latihan menembak. Tapi saat itu aku sedemikian marahnya sampai-sampai ku hamburkan 1 magasen ke arah beberapa orang yang lari menjauhi rombongan kami. Merekalah para pelaku penembakan tadi. Setengah jam sudah kami habiskan untuk tembak menembak di Desa TB Kecamatan IR. Mengingat jumlah kami yang sedikit, saya memutuskan untuk tidak mengejar gerombolan
tadi. Satu anggotaku bernama SH menemukan 2 buah sepeda motor bebek yang knalpot racingnya disumbat dengan batu. Inilah yang dipakai oleh para penjahat itu, taktik “hit and run”. Dengan jengkel, kuperintahkan SH untuk membakar habis kedua sepeda motor tersebut.

Well, akhirnya aku tersadar bahwa hari kemarin sudah 3 kali Bang EKN menyebutkan kata "besok udah ngga ada". Pantas saja perasaan aneh menjalar di dalam dadaku setiap Alm mengulangi kata-kata itu. Ternyata itu adalah Salam perpisahan dari Bang EKN. Saat keadaan sudah tenang, Bang EKN kubawa ke puskesmas yang saat ini sudah menjadi RSUD yang hanya berjarak 1 km dari lokasi kami dihadang. Tiga orang anggota rombongan histeris begitu mendengar vonis dari dokter di puskesmas setempat bahwa
Bang EKN telah tiada. Mereka menembakkan senjatanya ke udara berulang-ulang. Tak ada yang bisa kulakukan saat itu, namun hal ini tidak boleh dibiarkan. "Hei, berhenti menembak!! Kalo kau menghormati Pak EKN, jangan kau buang-buang pelurumu itu! Perjalanan kita masih panjang. Simpan pelurumu untuk pertempuran di depan nanti!" makiku untuk membangkitkan semangat mereka. Aku mengerti mereka baru saja kehilangan komandannya dan manusiawi kalo mereka berbuat seperti tadi. Akan tetapi konyol rasanya jika melampiaskan emosi dengan cara seperti itu. Bagaimana seandainya di depan masih ada pertempuran yang lebih hebat lagi? Mau nembak pake apa lagi kita? Pake ludah?

Setelah semua bisa menenangkan diri, kukumpulkan mereka sambil memberikan isyarat untuk menyiapkan senjata masing-masing. "Ingat, sudah ada 1 korban jatuh. Kalo ada lagi kontak di depan nanti, kita akan kejar dan habiskan !!!" tegasku berapi-api membakar semangat. Sebelumnya Bang EKN adalah yang tertua di rombongan. Mau tidak mau, kini aku-lah yang memimpin rombongan kecil ini. "Danton kepalanya kenapa?" pekik MS sambil menarikku untuk bercermin di kaca spion mobil. Ya Allah...! Aku tidak sadar kalo kepalaku terserempet peluru dan hampir separuh wajahku bersimbah darah akibat dari luka di ubun-ubunku tadi. Alhamdulillah aku masih hidup, demikian batinku. MS pun membantuku untuk membersihkan kucuran darah yang menutupi wajahku sebelah kanan. Sementara yang lain mengangkat tubuh Bang EKN kedalam bak truk serta menyiapkan kelanjutan perjalanan. Kami pun meneruskan perjalanan dengan lebih cepat seraya memandang lebih waspada dari sebelumnya, telunjukpun tidak sedetik pun lepas dari posisi siap menarik picu. Alhamdulillah, akhirnya kami tiba di Lhokseumawe pada pukul 20.00. Truk langsung menuju Rumah Sakit TNI-AD Lhokseumawe. Ternyata orang-orang di Lhokseumawe hampir semuanya mengira bahwa kami pulang tinggal nama lantaran tidak ada kabar berita sejak kami berangkat. Waktu itu belum ada sinyal HP. Jangankan HP, wong kabel telpon saja dirusak sehingga radio komunikasi benar-benar menjadi andalan. Setibanya di sana, aku langsung diantar ke bagian UGD untuk mendapatkan perawatan luka yang kudapatkan.  Sedangkan jenazah Alm Bang EKN langsung dimasukkan ke ruang bedah untuk
dibersihkan. Hanya 1 peluru yang tepat mengenai Bang EKN. Rupanya peluru itu menghantam pintu truk Reo sebelah kiri, kemudian menembus mengenai lengan kiri Bang EKN yang akhirnya kuketahui ternyata lanjut tepat mengenai jantungnya.

Keesokan harinya, kujalankan amanat yang tak terlupakan olehku. Amanat dari orang yang sudah meninggal. Kuantarkan sekotak Dunkin Donuts ke rumah Pak IMS. Kebetulan saat itu beliau yang langsung menerimanya. "Selamat sore Pak! Ijin mengantarkan oleh-oleh dari Medan" ujarku. "Terima kasih. Dari siapa ya?" tanyanya singkat sambil menerima sekotak donat itu. "Dari almarhum Letda Erwin" jawabku.
Pak IMS tak sanggup berkata-kata lagi. Yang dilakukannya hanyalah termangu dan tanpa terasa air matanya mengalir. Ternyata Pak IMS yang sedemikian 'kayu laut'-nya masih bisa menitikkan air matanya kala mendengar perkataanku itu.

Tidak banyak orang di dunia ini yang pernah dikirimi oleh-oleh dari orang yang sudah meninggal... Tak kusangka, hari itu aku sendiri yang menjadi saksi peristiwa mengharukan tersebut.

SOURCE: http://www.facebook.com/groups/55013373211/doc/10150445127713212/

No comments:

Post a Comment