Amazon Deals

Thursday, October 11, 2012

Nyawa Melayang Demi Sepakbola Lokal (Terlalu Mahal demi Fanatisme Sempit)

Minggu (27/5/2012), Gelora Bung Karno penuh dengan suporter Persija dan Persib, yang merupakan ”lusuh bebuyutan”. Fanatisme sempit telah memicu kebencian antarsuporter yang makin tak terkendali hingga terjadi aksi pengeroyokan, perusakan, bahkan nafsu untuk menghabisi. Dampaknya, tiga orang ditemukan tewas di kawasan kompleks stadion.

Tiga korban tewas di GBK adalah Lazuardi (28), Dani Maulana (16), dan Rangga Cipta Nugraha (22). Belum ada titik terang dari kejadian yang menyebabkan tiga orang tewas dan beberapa orang lainnya luka itu. Luka para korban diduga diakibatkan oleh hantaman benda tumpul. Namun, dugaan penyisiran atau pengeroyokan suporter belum bisa dibuktikan.

Kemarahan banyak pihak terungkap dan tersebar dengan mudah lewat berbagai jej`ring sosial. Banyak yang mengecam aksi brutal para suporter.

Kepala Biro Operasional Polda Metro Jaya Komisaris Besar Agung Budi Maryoto mengatakan, sebelum pertandingan Persija dan Persib, polisi melakukan penyisiran dan pemeriksaan terhadap penonton yang akan masuk stadion. Enam calon penonton ditangkap karena membawa 28 batang petasan, senjata tajam, gir, dan ganja.

”Penangkapan dan penahanan mereka kami sampaikan kepada manajemen Jakmania. Mereka mengatakan, sudah memberi arahan kepada para Jakmania. Kalau memang tertangkap melakukan tindak pidana, pengurus Jakmania meminta agar pelanggar itu diproses saja,” tutur Agung Budi.

Sudah rusak

Penyerang Persija, Bambang Pamungkas, menilai sepak bola Indonesia sudah rusak. Korban tewas terlalu mahal hanya untuk sekadar fanatisme sempit. Semua elemen masyarakat Indonesia harus menyadari bahwa sepak bola Indonesia juga sedang menunggu keputusan FIFA apakah dijatuhi sanksi atau tidak, setelah batas waktu menyelesaikan konflik pada 15 Juni.

”Sepak bola seharusnya tidak sampai seperti ini. Sampai kapan lagi sepak bola Indonesia harus kehilangan nyawa-nyawa yang tidak perlu,” ujar Bepe, sapaan Bambang.

Dari dulu, lanjut Bambang, sepak bola selalu dikatakan sebagai alat pemersatu bangsa. Akan tetapi, itu hanya ada di level tertinggi, tidak pernah sampai ke level masyarakat di bawah.

Sementara itu, pengurus pusat Jakmania, suporter Persija Jakarta, menegaskan, penyisiran dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Jakmania melalui para koordinator wilayah melarang anggotanya menyisir suporter Persib Bandung. Instruksi itu sudah dilakukan terus-menerus sejak dua minggu menjelang pertandingan.

Jakmania sedang menelusuri laporan penyisiran itu melalui tim pencari fakta. Mereka juga menginvestigasi siapa pelempar petasan di dalam stadion hingga menyebabkan sejumlah wartawan terluka.

”Dua minggu sebelum pertandingan kami sudah kampanye bahwa pertandingan itu damai. Kami mengharamkan sweeping (penyisiran) suporter lawan,” ujar Ketua Umum Jakmania La Rico Ranggamone, di sekretariat Persija.

Rico juga akan melakukan evaluasi internal sehingga suporter lebih memahami bahwa pertandingan harus damai, tanpa kekerasan.

Melebar ke luar stadion

Kejadian di GBK itu bukanlah yang pertama. Sebelumnya, bentrok antarsuporter terjadi di banyak daerah. Korban meninggal pun berjatuhan. Kebencian antarsuporter merembet ke luar stadion. Permusuhan membabi buta hingga hal-hal yang tidak terkait sepak bola sekalipun.

Kepala Humas PT KAI Sugeng Priyono mengatakan, kereta api sering menjadi sasaran kebrutalan suporter. ”Tidak hanya kereta yang mengangkut suporter, tetapi juga kereta yang lewat setelahnya sering menjadi sasaran. Kaca-kaca pecah terkena lemparan batu,” ucap Sugeng.

Perusahaan harus menanggung kerugian. Penggantian kaca kereta antarkota di Surabaya saja, misalnya, menghabiskan Rp 2 miliar per tahun.

PT KAI juga membatalkan perjalanan kereta bila ada pertandingan sepak bola yang memiliki suporter fanatik dan kerap merusak. Antara bulan Maret dan Juni 2011, misalnya, ada 76 perjalanan kereta yang dibatalkan demi menghindari amuk suporter di sepanjang perlintasan kereta.

Bukan hanya kereta api saja yang jadi korban. Sosiolog Imam B Prasodjo juga pernah menjadi korban kebrutalan suporter. Perpustakaannya di Purwakarta, Jawa Barat, dicoret-coret oleh orang tidak dikenal. Coretan berisi kata-kata ketidaksukaan atas klub sepak bola tertentu. Padahal, perpustakaannya itu tidak ada hubungannya dengan dunia sepak bola.

Belum lagi sentimen saat melihat kendaraan dengan nomor polisi dari daerah asal kelompok ”musuh”. Ketidaksukaan pada identitas kota membuat orang mudah melempari mobil bernomor polisi tertentu saat masuk ke kotanya.

Emosi primitif

Kekerasan yang dilakukan suporter sepak bola merupakan bentuk emosional primitif y`ng mengarah ke perilaku hewani. Proses sentimen yang berlebihan ini harus dikendalikan agar tidak menjadi kebencian yang melebar dan berpotensi menyebabkan korban berjatuhan lebih banyak lagi.

”Yang menjadi perekat kelompok suporter adalah rasa kekitaan yang sangat emosional. Akibatnya, orang beranggapan bahwa di luar kelompok saya adalah kelompok musuh,” ujar Imam.

Salah satu bentuk ikatan suporter ini terlihat dari yel-yel yang menunjukkan kebencian terhadap kelompok musuh serta yel-yel berisi keunggulan kelompoknya. Rasa sebagai satu kelompok ini lantas berkembang menjadi sebuah rasa memusuhi kelompok lain secara membabi buta tanpa nalar.

”Proses kristalisasi sebagai kelompok suporter masih terus terjadi dan bisa mengeras lagi. Nantinya, kelompok ini bisa masuk ke dalam lingkaran budaya kekerasan kelompok yang menjadikan mereka bertindak seperti mesin yang membenci kelompok lain,” ujar Imam.

Apabila tidak dikendalikan, suporter datang ke stadion bukan untuk menonton sepak bola saja, melainkan dengan nafsu untuk membunuh kelompok lain yang mereka temui. Kemarahan mudah tersulut hanya dengan melihat orang beratribut lain atau orang tanpa atribut kelompoknya.

Kondisi ini, menurut Imam, bisa diberantas bila ada niat dari semua pihak. Di lapangan, pemain sepak bola mesti menunjukkan permainan yang sportif. Wasit juga harus dipilih secara profesional sehingga bisa memimpin pertandingan tanpa keberpihakan pada klub tertentu. Secara lebih luas, PSSI juga mesti mengurus sepak bola secara baik.

Sementara, atribut klub sepak bola bisa saja dilarang bila sudah membahayakan kebersamaan antar-penonton. Pentolan suporter mesti dirangkul dan didamaikan agar tidak menyebarkan sentimen negatif antarklub.

Kriminolog Universitas Indonesia, Prof Mustofa dan Kisnu Widakso, mengatakan, sebaiknya aparat keamanan memperbaiki rasio jumlah polisi dengan jumlah penonton sepak bola. Polisi harus mewaspadai pembentukan ikatan emosi kelompok ”kami” dan ”mereka” serta merancang bermacam usaha mencegah konflik di antara ”kami” dan ”mereka”.

Kisnu mengatakan, sangat sedikitnya jumlah polisi dibandingkan massa yang dijaga membuat massa tergoda unjuk kekuatan. Suasana stadion yang terpusat dan terbuka membuat massa cepat memperkirakan jumlah polisi yang bertugas.

”Daripada mengeluarkan biaya lebih besar karena terjadi benturan, lebih baik polisi menyodorkan biaya operasional yang rasional dan bisa dipertanggungjawabkan. Semakin banyak jumlah penonton dan semakin brengsek penontonnya, biaya operasionalnya akan semakin tinggi,” tutur Kisnu.

Belajar dari Inggris, polisi juga disebar dan bersiaga di kafe atau tempat lain yang menjadi pangkalan para pendukung fanatik kesebelasan.

Mustofa mengingatkan, kelompok penonton sepak bola selalu terpecah menjadi kelompok ”kami” dan ”mereka” yang berseberangan. Apalagi jika masing-masing adalah pendukung fanatik kesebelasan. Pembentukan ikatan emosi semakin menguat karena atribut-atribut yang mereka buat.

”Polisi tak bisa mencegah terbangunnya atribut-atribut ini. Polisi mana yang sanggup mencegah mereka meneriakkan yel-yel sebagai bagian dari identitas? Polisi mana yang berani melarang pendukung memakai syal, seragam, dan pernak- pernik busana pendukung?” kata Mustofa.

SOURCE: http://megapolitan.kompas.com/read/2012/06/01/0918100/Terlalu.Mahal.demi.Fanatisme.Sempit

No comments:

Post a Comment