Amazon Deals

Tuesday, October 23, 2012

Suku Jawa

Suku Jawa (Jawa ngoko: wong Jowo, krama: tiyang Jawi) merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. Selain di ketiga propinsi tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara. Di Jawa Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Suku Jawa juga memiliki sub-suku, seperti Osing dan Tengger.

Budayawan Universitas Jember, Ayu Sutarto (2004), membagi wilayah Jatim ke dalam sepuluh tlatah atau kawasan kebudayaan. Tlatah kebudayaan besar ada empat, yakni Jawa Mataraman, Arek, Madura Pulau, dan Pandalungan. Sedangkan tlatah yang kecil terdiri atas Jawa Panoragan, Osing, Tengger, Madura Bawean, Madura Kangean, dan Samin (Sedulur Sikep).

 
##########
Mataraman, lingkup subwilayah yang dimaksud merupakan eks wilayah Karesidenan Madiun dan Kediri. Lebih rinci, wilayah tersebut terbagi menjadi Mataraman Kulon (Kabupaten Pacitan, Ngawi, Magetan, Ponorogo) dan Mataraman Wetan (Nganjuk, Trenggalek, Tulungagung, Kota dan Kabupaten Kediri, Blitar, dan Madiun).

Pembagian dua wilayah Mataraman berkaitan dengan erat dan longgarnya budaya Jawa di wilayah bersangkutan. ”Kepekatan sosiokultural Jawa Tengah lebih bisa dijumpai di Mataraman Kulon ketimbang Mataraman Wetan,” ujar Dwi. Mataraman Wetan menjadi kawasan yang lebih terbuka untuk migran sehingga corak sosiokultural Jawa dan Islam di wilayah itu relatif bersentuhan dengan sosiokultural lain. Sosiokultural Mataraman Wetan bersentuhan corak budaya Hindu, Buddha, Kristen, dan kolonial seperti di wilayah Arek dan Pandalungan.

Kendati demikian, secara umum, masyarakat Jatim Mataraman memiliki produk budaya yang tak berbeda dengan komunitas Jawa di Surakarta. Mereka—merujuk pada penelitian yang pernah dilakukan Clifford Geertz pada 1960—banyak dipengaruhi model sosiokultural Jawa Tengah. Pola-pola aristokrasi, keselarasan, keseimbangan, dan penuh simbol juga menjadi ciri kehidupan mereka.

Pola bahasa Jawa yang mereka gunakan mendekati kehalusan bahasa masyarakat Jawa di masa keemasan Kerajaan Mataram. Pola bercocok tanam maupun selera berkesenian yang dianut juga mirip dengan pola masyarakat di Surakarta dan Yogyakarta. Mereka banyak menggeluti ketoprak, campur sari, reog, tayub, wayang kulit, dan wayang orang. Masyarakat daerah Mataraman banyak hidup dari persawahan, perkebunan, hutan, dan perdagangan.

 
##########
Tapal Kuda, adalah nama sebuah kawasan di provinsi Jawa Timur, tepatnya di bagian timur provinsi tersebut. Dinamakan Tapal Kuda, karena bentuk kawasan tersebut dalam peta mirip dengan bentuk tapal kuda. Kawasan Tapal Kuda meliputi Pasuruan (bagian timur), Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.

Menurut sejarahnya, daerah Tapal Kuda ini dahulu disebut dengan Blambangan atau dalam budaya Jawa disebut daerah bang wetan (seberang timur), karena kawasan ini tidak pernah menjadi bagian dari kerajaan Mataram, karena tidak dikenal sebelum imigran dari kawasan Mataraman berpindah mengisi kawasan pesisir selatan. Namun kini istilah Blambangan hanya ditujukan untuk wilayah yang sekarang masuk Kabupaten Banyuwangi.

Kawasan Tapal Kuda terdapat tiga pegunungan besar: Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Pegunungan Iyang (dengan puncak tertingginya Gunung Argopuro), dan Dataran Tinggi Ijen (dengan puncak tertingginya Gunung Raung).

Ciri khas kawasan ini adalah dihuni oleh Suku Madura dan Suku Jawa. Suku Madura bahkan mayoritas di beberapa tempat, khususnya di bagian utara; sebagian besar tidak dapat berbahasa Jawa, meski tinggal di lingkungan Jawa. Kawasan tapal kuda seringkali dianggap sebagai daerah terbelakang di Jawa Timur, karena berdasarkan peta Indeks Pembangunan Manusia di Jawa Timur, kawasan ini berada pada jajaran yang paling rendah.

Kota-kota besar di kawasan Tapal Kuda adalah Probolinggo, Pasuruan, dan Jember. Jember merupakan kota pendidikan, dimana terdapat perguruan tinggi negeri Universitas Jember.


Dalam bahasa Inggris daerah ini disebut sebagai The Eastern Salient dan dalam bahasa Belanda sebagai De Oosthoek yang dua-duanya berarti "pojok timur".

##########
Kuali Peleburan di Tlatah Jawa Timur

Tinimbang Ngenger Luwih Becik Melu Bapake Dhewe.

Lek Ono Bapake Arek-Arek, Lapo Melok Pakde.

Gotong Royong Oreng Madhure Mele Tareten Dhibi.

Begitu bunyi slogan-slogan kampanye yang memakai gaya bahasa lokal menghiasi lokasi strategis di Jawa Timur menjelang pemilihan kepala daerah. Jelas, dari ragam gaya bahasanya, slogan tersebut bukan hanya dari bahasa Jawa. Ada bahasa Madura, ada juga gaya bahasa yang berkembang di Surabaya dan sekitarnya. Kalau begitu, budaya apa saja yang membentuk provinsi ini? Apa yang melatarinya?

Menilik nama ”Jawa” yang melekat pada ”Jawa Timur”, sekilas menumbuhkan kesan bahwa sifat sosial dan budaya masyarakatnya pasti monokultur. Kenyataannya tidak. Jawa Timur sangat plural, beragam.

Budayawan Universitas Jember, Ayu Sutarto (2004), membagi wilayah Jatim ke dalam sepuluh tlatah atau kawasan kebudayaan. Tlatah kebudayaan besar ada empat, yakni Jawa Mataraman, Arek, Madura Pulau, dan Pandalungan. Sedangkan tlatah yang kecil terdiri atas Jawa Panoragan, Osing, Tengger, Madura Bawean, Madura Kangean, dan Samin (Sedulur Sikep).

Tlatah kebudayaan Jawa Mataraman berada di sebelah barat. Wilayahnya paling luas, membentang dari perbatasan Provinsi Jawa Tengah hingga Kabupaten Kediri. Dinamai seperti ini karena masih mendapat pengaruh sangat kuat dari budaya Kerajaan Mataram, baik pada masa Hindu-Buddha maupun era Kesultanan Mataram Islam yang berpusat di Yogyakarta dan Surakarta. Karena itu, adat istiadatnya pun mirip.

Tlatah ini dapat dibedakan lagi ke dalam subwilayah kebudayaan yang lebih kecil.

Budayawan Dwi Cahyono membaginya menjadi Mataraman Kulon (Barat), Mataraman Wetan (Timur), dan Mataraman Pesisir. Pembagian ini didasarkan pada jejak sejarah dan budaya lokal yang berkembang di sana. Bahasa menjadi ciri yang paling mudah untuk membedakan ketiganya.

”Dari segi kedekatan budayanya dengan Jawa Tengah, Mataram Kulon lebih kuat. Bahasa sehari-hari yang digunakan lebih halus dibandingkan Mataram Wetan. Wilayahnya merupakan bekas Keresidenan Madiun,” ulas pengajar Universitas Negeri Malang ini.

Sebelah timur Mataraman adalah tlatah Arek. Batas alamnya adalah sisi timur Kali Brantas. Sungai ini menjadi penting sejak abad keempat, baik segi perdagangan maupun interaksi antara wilayah pesisir dan daerah pedalaman. Tlatah kebudayaan ini membentang dari utara ke selatan, dari Surabaya hingga Malang.

Setelah industrialisasi masuk, wilayah ini menjadi menarik bagi pendatang. Menjadikannya salah satu melting pot atau kuali peleburan kebudayaan di Jatim. Pendatang dari berbagai kelompok etnis ada di sini untuk mencari ”gula” ekonomi yang tumbuh pesat. Meski luas wilayahnya hanya 17 persen dari keseluruhan luas Jatim, separuh (49 persen) aktivitas ekonomi Jatim ada di kawasan ini.

Budayanya merupakan sentuhan dari aneka kultur baik lokal maupun asing, membentuk komunitas Arek. Mereka mempunyai semangat juang tingi, solidaritas kuat, terbuka terhadap perubahan, mau mendengarkan saran orang lain, dan mempunyai tekad menyelesaikan segala persoalan melalui cara yok opo enake, sama-sama senang.

Komunitas budaya terbesar ketiga adalah Madura. Wilayahnya di Pulau Madura. Karakteristik kultur warganya pun berbeda dengan masyarakat di tlatah Mataraman. Kondisi lingkungan dan geografis di lahan kering turut membentuk budaya yang berbeda dengan budaya Jawa yang lahannya relatif subur.

Menurut Kuntowijoyo, keunikan Madura adalah bentukan ekologis tegal yang khas, yang berbeda dari ekologis sawah di Jawa. Pola permukiman terpencar, tidak memiliki solidaritas desa, sehingga membentuk ciri hubungan sosial yang berpusat pada individual, dengan keluarga inti sebagai unit dasarnya (Kuntowijoyo, Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura 1850-1940, 2002).

Karakteristik lingkungan dan budaya inilah yang membuat banyak orang Madura bermigrasi ke daerah lain, terutama di Jawa Timur bagian timur untuk ”mengejar rezeki”. Wilayah ini merupakan tanah tumpah darah - kedua orang Madura Pulau. Banyak imigran Madura bermukim bersandingan dengan orang berbudaya Jawa. Kawasan ini sering disebut sebagai Pandalungan.

Menurut Prawiroatmodjo (1985), kata pandalungan berasal dari bentuk dasar bahasa Jawa dhalung yang berarti ’periuk besar’. Wadah bertemunya budaya sawah dengan budaya tegal. Budaya Jawa dengan budaya Madura, membentuk budaya baru, Pandalungan. Hasilnya, masyarakat berciri agraris-egaliter, bekerja keras, agresif, ekspansif, dan memiliki solidaritas yang tinggi, tetapi masih menempatkan pemimpin agama Islam sebagai tokoh sentral. Daerahnya meliputi Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Lumajang dan Jember.

Lain lagi dengan wilayah di ujung timur, yakni wilayah Banyuwangi. Pertemuan tiga budaya ada di sini, Jawa, Madura, dan Osing. Budaya Osing yang merupakan warisan kebudayaan Kerajaan Blambangan (abad ke-12) merupakan sentuhan dari budaya Jawa Kuno dan Bali.

Orang Osing dikenal sebagai petani yang rajin dan seniman yang andal. Tari Gandrung merupakan salah satu simbol budaya ini.

Komunitas budaya lainnya adalah Tengger dan Samin. Orang Tengger tinggal di dataran tinggi Tengger dekat dengan Gunung Bromo. Mereka tetap mempertahankan adat istiadat Hindunya, sedangkan orang Samin tinggal di daerah Bojonegoro yang berbatasan dengan Jawa Tengah.

Itulah Jatim. ”Kue lapis budaya” campuran lokal dan asing telah menjadikannya beragam.

Menurut Denys Lombard (1996), pengaruh budaya luar yang ikut memengaruhi Jawa adalah India, Islam, China, lalu disusul Eropa yang merupakan unsur budaya modern.

Tradisi politik
Ciri sosial dan budaya juga berpengaruh terhadap tradisi politiknya. Pengaplingan politik berlaku pula di sini. Masyarakat di tlatah Mataraman dari sejak 1955 hingga 2004 selalu ”loyal” kepada partai-partai nasionalis.

”Mereka (orang Mataraman) tidak suka yang mencolok-colok, misalnya Islam yang terlalu Islam itu tidak suka karena dianggap tidak nasionalis. Jadi, partai-partai yang berlabel nasionalis akan laku di sini,” ujar Ayu Sutarto.

Sebaliknya, mayoritas masyarakat di tlatah Madura dan Pandalungan lebih loyal kepada pada partai yang berbasis massa Islam Nahdlatul Ulama, seperti Partai Kebangkitan Bangsa. Ulama dan kiai masih menjadi tokoh panutan di sana. Pengaruhnya pun ikut merambah ke ranah pilihan politik warganya.

Lalu bagaimana dengan wilayah Arek? Daerah ini sering disebut daerah ”abu-abu” karena keberimbangan antara pendukung partai-partai nasionalis dan partai-partai ”warga NU”.

Pemilu 1999 dimenangi oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang ”merah”. Lima tahun kemudian berubah, PKB yang ”hijau” berhasil unggul.

Dengan demikian, ”kuali peleburan” telah membentuk Jatim menjadi unik. Menjadikannya berbeda dengan saudara Jawa lainnya, Jawa Tengah maupun Jawa Barat. Baik sisi budaya maupun politiknya.

Itulah, jika ingin menarik simpati warga Jatim, para kontestan setidaknya harus ”bersusah-susah” untuk membuat tiga bentuk slogan berbahasa lokal. Bagaimana ini, Bung? Yok opo iki, Rek? Piye iki, Cah? Dha' ramma areya, Cong? (Litbang Kompas)

###########

Duet dari Mataraman

Oleh; M.J Latuconsina
Pada Jumad (15/5) tiga pekan lalu, bertempat di Gedung Sasana Budaya Ganesha Institut Teknologi Bandung (ITB), Partai Demokrat dan sejumlah partai koalisi (PKS, PAN, dan PKB), sukses mendeklarasikan duet pasangan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai calon presiden (capres), dan Boediono sebagai calon wakil presiden (cawapres), dalam suatu acara yang meriah. Dibalik kemeriahan acara deklarasi tersebut, terdapat optimisme dari paket pasangan ini, untuk memenangi pilpres 2009.
Optimisme dari duet pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono (SBY-Berbudi), cukup beralasan. Pasalnya berdasarkan hasil survey yang dilakukan lembaga-lembaga survey nasional, masih menempatkan paket pasangan ini, ditempat teratas pasangan yang memiliki tingkat electabilitas tinggi, mengungguli pasangan Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win) ,dan pasangan Megawati Sukarno Putri-Prabowo Subianto (Mega-Pro), dalam perhelatan pilpres 2009.
Duet SBY-Berbudi selain merupakan pasangan yang mewakili unsur militer-sipil, juga memiliki kesamaan latar-belakang tempat asal, dimana sama-sama berasal dari Jawa Timur. Meski memiliki kesamaan latar-belakang tempat asal, namun beda daerah kelahiran. Susilo Bambang Yudhoyono sendiri dilahirkan di Pacitan, sedangkan Boediono dilahirkan di Blitar. Kendati memiliki perbedaan daerah kelahiran, tapi Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono, sama-sama berasal dari dua daerah, yang memiliki subkultur yang sama.
Pasalnya, baik Pacitan dan Blitar sama-sama merupakan daerah, yang menerima banyak pengaruh Jawa Tengahan. Sehingga, dua daerah ini dikenal sebagai kawasan Mataraman. Dimana dulunya, merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Mataram. Dua daerah ini-pun, dulunya terbagi mengikuti dua kawasan ; pertama Mataraman Kulon, yang merupakan bagian dari eks-Karesidenan Madiun (Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan), dan kedua Mataraman Wetan, yang merupakan bagian dari eks-Karesidenan Kediri (Nganjuk, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Blitar).
Kawasan Mataraman sendiri berada di wilayah Jawa Timur bagian barat. Ciri khas dari kebudayaan di kawasan ini, banyak mendapat pengaruh yang kuat dari budaya Kerajaan Mataram, baik pada masa Hindu-Buddha maupun era Kesultanan Mataram Islam, yang berpusat di Yogyakarta dan Surakarta. Karena itu, adat istiadatnya mirip dengan masyarakat Jawa Tengah, yang berakar pada budaya ekologi sawah, agraris. Pola permukiman desanya mengelompok, dan memiliki solidaritas desa yang kuat, sehingga tradisi gotong royong pun berkembang.
Tidak mengherankan, jika berbagai pengaruh dari Kerajaan Mataram, baik pada masa Hindu-Buddha maupun era Kesultanan Mataram Islam, yang berpusat di Yogyakarta dan Surakarta tersebut, memiliki implikasi terhadap kebudayaan masyarakat di kawasan ini, yang dikenal abangan. Pasalnya, praktik keagamaan masyarakat dikawasan ini, cenderung melakukan sinkritisme atas ajaran Islam, Hindu-Budha serta sistem kepercayaan animisme. Dengan kata lain, mereka menjalankan ritual sendiri yang bertentangan dengan ortodoksi Islam.
Subkultur Mataraman sendiri, hingga saat ini masih menjadi episentrum hegemonik dalam pentas politik nasional. Pasalnya subkultur Mataraman, yang merupakan bagian dari kebudayaan Jawa, adalah kebudayaan yang selalu mewarnai kehidupan elite politik nasional. Bahkan subkultur Mataraman, yang merupakan bagian dari kebudayaan Jawa tersebut, dianggap sebagai budaya yang mendominasi budaya lain (non Jawa). (Haris et.al 2005, Suwondo, 2005, Mujani, 2007, Sutarto, 2009, Wikipedia, 2009).
Sejak Indonesia merdeka hingga kini, empat dari enam presiden Republik Indonesia, berasal dari masyarakat yang bersubkultur Mataraman yakni ; pertama Sukarno (1945-1967), kedua Suharto (1967-1998) ketiga, Megawati Sukarno Putri (2001-2004) ,dan keempat Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2009). Sedangkan hanya dua dari delapan wakil presiden Republik Indonesia berasal dari masyarakat, yang bersubkultur Mataraman yakni ; pertama Sri Sultan Hamengkubuwono IX (1973-1978), dan kedua Megawati Sukarno Putri (1999-2001).
Kawasan ini, berbeda dengan kawasan pesisir barat Jawa Timur, yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Kawasan ini mencakup wilayah Tuban, Lamongan, Pasuruan, Sitobondo, Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Gresik, Lumajang dan Pulau Madura. Dahulu pesisir utara Jawa Timur merupakan daerah masuk ,dan pusat dari perkembangan agama Islam. Sehingga kerap disebut sebagai kawasan santri. Selain daerah ini sering dikenal sebagai kawasan santri, juga sering populer dengan sebutan kawasan Tapal Kuda.
Kawasan Tapal Kuda merupakan perpaduan antara etnis Jawa dan Madura, atau orang Jawa yang ‘dimadurakan’. Dimana memiliki kebudayaan Pandalungan. Ciri khas budaya ini adalah membentuk karakter masyarakat yang agraris-egaliter, bekerja keras, agresif, ekspansif dan memiliki solidaritas tinggi, tetapi masih menempatkan pemimpin agama Islam sebagai tokoh kunci. Cikal-bak`l keberadaan kebudayaan Pandalungan, seiring dengan imigrasi orang Madura ke Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Lumajang, dan Jember.
Sejak Indonesia merdeka hingga kini, hanya satu dari enam presiden Republik Indonesia berasal dari kawasan Tapal Kuda, yang bersubkultur santri yakni ; K.H Abdurrahman Wahid (1999-2001), sedangkan hanya dua dari delapan wakil presiden Republik Indonesia, berasal dari kawasan Tapal Kuda, yang bersubkultur santri yakni ; pertama Sudharmono (1988-1993), dan kedua Try Sutrisno (1993-1998).
Baik Jombang yang merupakan daerah asal mantan presiden K.H Abdurrahman Wahid, dan Surabaya yang merupakan daerah asal mantan wakil presiden Try Sutrisno, sebenarnya tidak murni dikategorikan sebagai daerah Tapal Kuda. Pasalnya Jombang dan Surabaya yang merupakan tempat kelahiran kedua tokoh ini, adalah eks-Karesidenan Surabaya (Sidoarjo, Mojokerto, Jombang) dan Malang, masih memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman.
Pada masa lalu, daerah bersubkultur Mataraman dikenal sebagai basis dari partai nasionalis-sekuler yakni PKI dan PNI. Sedangkan kawasan Tapal Kuda, dikenal sebagai basis dari partai Islam yakni NU dan Masyumi. Hal ini bisa dilihat, dari hasil perolehan suara partai-partai tersebut pada Pemilu 1955. Dimana menempatkan Partai NU sebagai partai pemenang pemilu, dengan meraih 3,370,554 suara, disusul PNI dengan 2,251,069 suara, PKI sebanyak 2,299,602 suara, dan Masyumi 1,109,742 suara.
Peta raihan suara partai politik di daerah Mataraman, dan Tapal Kuda di Jawa Timur pada Pemilu 1955 tersebut, sesuai dengan tesis yang kemukakan Clifford Geertz bahwa, aliran abangan cenderung memilih PNI dan PKI, santri memilih partai-partai Islam seperti Masyumi, Partai NU, Perti, dan PSII. Namun, tesis Geertz tersebut hingga kini mengalami dinamika, seiring dengan perubahan iklim politik nasional, yang terjadi dari rezim ke rezim. Sehingga terdapat sedikit dari daerah Mataraman, yang tadinya merupakan basis dari partai berideologi nasionalis-sekuler, beralih menjadi basis dari partai berideologi Islam. Begitu-pun terjadi fenomena sebaliknya.
Misalnya Trenggalek, yang merupakan daerah yang didiami masyarakat bersubkultur Mataraman, pada Pemilu 1987 dimenangi oleh Golkar, yang merupakan partai politik berbasis nasionalis-sekuler, dengan raihan 72,1 persen suara, tidak bisa mengulangi kesuksesannya lagi pada Pemilu 1999. Pasalnya dalam Pemilu 1999 PKB, yang merupakan salah satu partai politik, yang sering berjaya di daerah Tapal Kuda, justru meraih kemenangan di Trenggalek, dengan meraih 53 persen suara.
Begitu-pun Jombang merupakan daerah, yang didiami masyarakat bersubkultur santri, dimana sekitar 98,3 persen masyaraktnya merupakan pemeluk Islam, justru pada Pemilu 1999 dimenangi oleh PDIP, yang meraih 40,4 persen suara. PKB yang mestinya berjaya didaerah ini hanya mampu meraih 28,8 persen suara. Nasib serupa dialami PPP yang seharusnya juga mendulang suara di Jombang, hanya mampu meraih 8 persen suara. Peta raihan suara partai politik tersebut, adalah peta politik pada Pemilu 1999, jika dibandingkan dengan Pemilu 2004 dan 2009, dipastikan mengalami pergeseran. (Kompas, 2004, Haris et.al, 2005, Mujani, 2007, Priantono, 2009, Sutarto, 2009, Wikipedia, 2009).
Merujuk pada peta politik tersebut, tidak mengherankan jika SBY kemudian begitu confidence mengambil Boediono, seorang figur yang berasal dari daerah subkultur Mataraman (abangan), sebagai cawapres. Bukan sebaliknya mengambil seorang figur dari daerah subkultur Tapal Kuda (santri), sebagai cawapresnya. Pasalnya figur santri dalam Pemilu 2009 ini, tidak lagi menjadi ”dagangan politik” yang laris digunakan sebagai vote getter, guna menarik pemilih santri, yang mayoritas mendiami daerah Tapal Kuda.
Apalagi kekalahan pasangan Megawati Sukarno Putri-Hasyim Muzadi, dan Wiranto-Solahudin Wahid pada Pilpres 2004 lalu, menjadi pelajaran berharga bagi SBY bahwa cawapres berlatar-belakang santri, yang dipasangkan untuk menarik suara santri di daerah Tapal Kuda, tidak terlampau memiliki pengaruh yang signifikan lagi. Fenomena yang sama ditemui pada pasangan JK-Win dan Mega-Pro dalam Pilpres 2009 ini, dimana bukan merupakan pasangan yang mewakili unsur nasionalis-santri atau santri-militer, layaknya pada perhelatan Pilpres 2004 lalu.

SOURCE: http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Jawa
http://id.wikipedia.org/wiki/Tapal_Kuda,_Jawa_Timur
http://jen-latu.blogspot.com/2009/05/duet-dari-mataraman.html
http://nasional.kompas.com/read/2008/07/21/00594333/kuali.peleburan.di.tlatah.jawa.timur
http://www.siwah.com/pendidikan/marketing-politik/mataraman-itu-kental-tetapi-gagal.html

No comments:

Post a Comment