Amazon Deals

Sunday, November 25, 2012

PBB Mencari Alasan Untuk Masuk Ke Papua

‘Petrus’ di Papua, Pintu Masuk bagi Intervensi PBB

Belum lama berselang, dunia internasional melalui Dewan HAM PBB yang bersidang di markas PBB Genewa, Swiss, akhir Mei 2012 yang lalu, gencar menyoroti maraknya kasus kekerasan dan pelangga
ran HAM di Indonesia. Termasuk di antaranya adalah kasus kekerasan oleh aparat keamanan di wilayah Papua. Sorotan yang sama juga datang dari Amensty Internasional (AI). Dalam laporannya tentang HAM dan kebebasan berekspresi di Indonesia tahun 2012, AI antara lain menyoroti kekerasan aparat keamanan di Papua yang masih kerap terjadi.

Rupanya Dewan HAM PBB maupun AI harus merivisi lagi laporannya, karena dalam dua minggu terakhir justru aparat keamanan di Papua ikut menjadi korban kekerasan, dua di antaranya tewas. Pelakunya hingga kini tidak jelas siapa. Masih berupa dugaan dengan sebutan OTK (orang tak dikenal).

Gugurnya dua anggota TNI itu adalah bagian dari rangkaian kasus kekerasan dan penembakan yang terjadi secara beruntun pasca sidang Dewan HAM PBB di Genewa, Swiss akhir Mei 2012 itu. Ada apa ini?

Haruskah PBB Intervensi ?

Sudah lama para aktivis Papua menyerukan kehadiran Dewan Keamanan PBB di Papua. Karena menurut mereka, situasi Papua sudah masuk kategori darurat, dan Pemerintah Indonesia dinilai telah gagal menciptakan kedamaian di Tanah Papua.

Anehnya, kasus-kasus kekerasan dan penembakan itu meningkat sangat tajam seiring dengan makin fokusnya perhatian pemerintah mensejahterakan masyarakat Papua. Dalam logika sederhana, berarti ada kelompok kepentingan tertentu yang menginginkan masyarakat Papua tidak sejahtera, tidak maju, tidak damai, tidak aman. Supaya ada cukup alasan bagi mereka untuk mengundang intervensi negara lain melalui PBB.

International Commission in Intercention and state Sovereignty (ICISS) mengatakan: Where population is suffering serious harm, as a result of internal wars, insurgency, repression, or state failure, and the state in question is unwilling or unable to halt or avert it, the principle of nonintervention yields to the international responsibility to protect. (Hamid Awaludin, “HAM, Politik, Hukum, & Kemunafikan Internasional” Penerbit Buku Kompas, 2012).

Menurut mantan Menkum dan HAM Hamid Awaludin, parameter yang dipakai sebagai alasan negara lain melakukan intervensi kemanusiaan ada tiga, yaitu (a) pemerintah gagal berfungsi melindungi warganya (negara gagal), (b) terjadi pembunuhan secara massal dan membabi buta, perbudakan massal dan peledakan yang menimbulkan kematian yang masif, (c) semua ikhtiar nonmiliter telah dilakukan namun tetap gagal.

Ujung-Ujungnya Sumberdaya Alam

Banyak contoh sudah membuktikan bahwa banyak negara kuat “menumpang” missi kemanusiaan PBB untuk tujuan lain, yaitu untuk kepentingan nasional mereka. Lebih khusus lagi, kepentingan ekonomi dan supermasi kedigdayaan.

Lihat saja British Petroleum dan Shell milik Inggris serta Total (Perancis) kini bercokol di Libya melalui misi NATO yang mengintervensi negara kaya minyak itu. Perancis dan Inggris kini telah menguasai sejumlah ladang minyak di Libya. Mereka membutuhkan stabilitas di Libya untuk kepentingan suplai minyak ini.

Modus yang sama bisa saja dilakukan di Indonesia. Negara-negara kuat yang selama ini mengincar kekayaan sumber alam kita, bisa saja mengintervensi Indonesia untuk stabilitas kemanan di Papua. Ingat, pangkalan militer AS sudah ditempatkan di Darwin akhir tahun lalu dengan 2.500 pasukannya. Dan jarak Darwin-Timika hanya sekitar 1.000 km. Ini adalah signal bahwa kepentingan nasional AS dengan PT Freeport yang sedang menambang emas dan tembaga di Timika harus dikawal ketat dari tangan-tangan usil negara sekitarnya, termasuk Indonesia sendiri, serta dari fenomena kebangkitan China.

Kebangkitan China dalam satu dasa warsa terakhir, telah membuat negara-negara kuat di Eropa khawatir. China telah menunjukkan kebangkitan luar biasa dalam banyak hal, khususnya di bidang modernisasi militer. Alan Dupont, profesor keamanan internasional di kampus Sydney University menilai, kebangkitan China itu membuat pasukan AS di Jepang dan Guam jadi rentan atas hadirnya rudal-rudal generasi baru China.

No comments:

Post a Comment