Amazon Deals

Tuesday, December 11, 2012

Dilematika Muslim Tionghoa di Indonesia

oleh : Puspita Ayu Permatasari

Setiap saya mendengar atau membaca kata “Tionghoa”, dalam benak saya pernah terbersit suatu makna “ bangsa yang memiliki keyakinan dan ajaran nenek-moyang Konfusius yang mengakar kuat dalam pola pikir kehidupan mereka”. Terkesan nyaris sama sekali tak tersentuh oleh budaya Islam. Ataukah mungkin Anda juga berpendapat demikian? Namun apakah benar bangsa Tionghoa juga berperan dalam proses Islamisasi Asia Tenggara? Yang saya ketahui, berangkat dari konsep Islam secara luas, Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Sudah pasti di belahan dunia manapun Islam diterima sebagai agama yang fitrah. Begitu pula di Tiongkok.

Belum lama ini dalam suatu kunjungan singkat ke Surabaya, saya menyempatkan diri mengunjungi salah satu situs sejarah Tionghoa yaitu masjid Cheng Ho. Suatu masjid yang didirikan untuk memperingati Laksamana Cheng Ho dalam perjalanan muhibahnya di Nusantara yang masih asli, terawat dan belum terkontaminasi oleh budaya Konfusianisme seperti masjid-masjid Tionghoa lainnya yang kini telah beralih fungsi menjadi kelenteng.  Masjid ini juga merupakan pusat kegiatan muslim Tionghoa Surabaya yang tergabung dalam komunitas PITI, yaitu Persatuan Islam Tionghoa Indonesia dan juga merupakan pusat pelatihan para mualaf dari dalam maupun luar negeri. Ditilik dari segi sejarahnya, persinggungan bangsa Tionghoa dengan Indonesia sudah berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama bahkan kaitannya dengan penyebaran Islam di Nusantara. Dalam kutipan buku Telapak Sejarah SAM PO KONG menginformasikan “Pada waktu kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya pada sekitar abad ke-7 dan 8, selat Malaka sudah mulai dilalui oleh pedagang-pedagang Muslim dalam pelayarannya ke negeri-negeri Asia Tenggara dan Asia Timur. Berdasarkan berita China zaman dinasti Tang, pada abad-abad tersebut diduga masyarakat muslim telah ada baik di Kanton maupun di daerah Sumatera sendiri”. Dari data-data tersebut kiranya sudah menjadi alasan bagi eksistensi muslim Tionghoa di Indonesia selain Gujarat (India) dan Arab. Kemudian, proses Islamisasi itu berlangsung melalui perniagaan, kekuasaan dan perkawinan dengan penduduk setempat. Hubungan dengan bangsa Tionghoa tersebut juga diperkuat oleh pelayaran muhibah Laksamana Cheng Ho di Nusantara dalam menjalankan misi silaturahmi Dinasti Ming di Asia Tenggara. Ekspedisi yang dipimpin bahariawan besar Cheng Ho ini tidak sekedar bermuatan politik dan ekonomi tetapi juga hidden agenda berupa Islamisasi. Hal ini terbukti dengan penempatan para duta konsul dan duta keliling Muslim Tionghoa di setiap daerah yang dikunjunginya (Parlindungan, 1964; Muljana, 1968). Menariknya, tersebut dalam buku Muslim Tionghoa Cheng Ho (Prof. Kong Yuanzhi), dalam setiap pelayaran, Cheng Ho telah melakukan manajemen strategi Nabi Muhammad SAW yaitu dalam 7 kali pelayaran selama 28 tahun dengan memimpin 27.800 awak kapal yang mayoritasnya adalah muslim. Dari beberapa fakta diatas, rasanya begitu kontras dengan informasi tentang masyarakat Tionghoa yang kita ketahui selama ini. Bahkan dalam pelayaran tersebut, tak sedikit tokoh muslim yang sangat berjasa seperti Ma Huan, Guo Chongli, Hasan, Sha’ban, Pu Heri, Wang Jing Hong, dan Shi Jingqing. Dimana masing-masing tokoh ini memiliki peranan yang cukup penting dalam proses Islamisasi Asia Tenggara khususnya Indonesia diantaranya; Ma Huan penulis karya Ying Ya Sheng Lan (Pemandangan Indah di Seberang Samudra) yang merupakan suatu catatan yang amat bernilai tentang pelayaran benua Asia-Afrika yang pernah didatangi Cheng Ho di abad ke-15 serta sebagai rujukan penting sejarah navigasi dunia. Hasan, seorang ulama Masjid Yang Shi di kota Xi An provinsi Shan Xi Tiongkok, serta nama-nama lainnya yang juga merupakan ulama-ulama dari Daratan Tiongkok dan Semenanjung India. Dalam perjalanannya di Nusantara, duta-duta muslim Tiongkok sangat berperan dalam pembentukan fondasi dasar perkembangan Islam di Indonesia. Sebagai contoh, Wang Jing Hong (Kyai Jurumudi Dampoawang) yang terkenal sebagai penyebar Islam di Semarang, juru masak Cheng Ho bernama Sam Po Swie Soe yang menikah dengan Sitiwati~seorang penari Ronggeng, menyebarkan agama Islam di Ancol-Jakarta, Shi Jinqing yang ditempatkan di Palembang dan menyebarkan Islam di pulau Sumatera yang kemudian turut menjadi dasar Walisongo di Nusantara, serta masih banyak lagi duta-duta yang ditempatkan di Nusantara dengan berbagai sejarah dan latar belakangnya. Sebuah kutipan dari sarjana muslim Indonesia mengatakan “Cheng Ho bukan saja merupakan kebanggaan bangsa Tionghoa, tetapi juga merupakan kebanggaan dan suri teladan bagi umat Islam seluruh dunia”.

Dalam perkembangan berikutnya, Islam tersebar di Nusantara melalui para pengikut kapal Cheng Ho, para pedagang Tionghoa yang menetap maupun dari para pedagang Arab dan India. Selanjutnya, proses Islamisasi mulai menguat dengan munculnya Walisongo. Dan fakta yang sangat menarik dalam studi muslim Tionghoa ini yaitu ternyata sebagian besar anggota Walisongo adalah orang-orang keturunan Tionghoa, antara lain Sunan Ampel (Raden Rachmat) yang bernama asli Bong Swi Hoo. Ia merupakan cucu penguasa tertinggi Campa, Bong Tak Keng, penguasa komunitas muslim pantai-pantai Nanyang, Tiongkok. Bong Swi Hoo memiliki anak bernama Bong Ang yang kelak menjadi Sunan Bonang, kemudian Maulana Iskak yang tak lain adalah paman Bong Swi Hoo. Selain itu, Raden Paku yang dikenal sebagai Sunan Giri, dimana semasa kecil beliau diasuh oleh Nyi Ageng Pinati yaitu puteri Shi Jingqing yang saat itu menjadi syahbandar besar Majapahit di pelabuhan Gresik dan Sunan Kudus (Ja’far Sidik) yang bernama Ja Tik Su. Fakta-fakta semacam ini memang sangat jarang beredar dalam masyarakat Indonesia dan terutama dalam kaum umat Islam sendiri. Hal ini dikarenakan banyak hal yang menimpa sejarah Islamisasi oleh muslim Tionghoa diantaranya, perampasan oleh Residen Poortman kolonial Belanda atas seluruh catatan-catatan berbahasa Tionghoa yang menceritakan perkembangan Kesultanan dan penyebaran Islam di daerah sekitarnya yang telah tersimpan selama ratusan tahun di kelenteng Talang dan saat ini akhirnya ditempatkan di museum etnologi di Leiden, Belanda. Selain itu, terhambatnya penelusuran sejarah Tionghoa di Indonesia oleh para sejarahwan Indonesia yang kurang memahami teks berbahasa China dan keadaan ini diperlemah lagi oleh kebijakan pemerintah Orde Baru yang memberendel buku-buku penelitian sejarah Tionghoa dalam proses Islamisasi di Indonesia dengan alasan isu SARA, seperti karya penelitian Prof. Slamet Mulyana. Oleh karena itulah, perkembangan sejarah Indonesia selalu ada proses “campur tangan” sehingga keobyektifan sejarah itu berkurang dan seolah menjadi penggelapan sejarah yang  menyebabkan sentimen anti-China meningkat. Dalam kasus ini, apakah merupakan suatu langkah yang bijak dengan menepis pengaruh Tionghoa dalam pembentukan masyarakat Indonesia yang beradab seperti saat ini? Mungkin kita perlu melihat lebih lanjut proses Islamisasi oleh bangsa Tionghoa untuk sekedar mengingat kejayaan Islam di masa lampau. Dalam penelitian studi Tionghoa yang terkini, sumber-sumber sejarah Muslim Tionghoa menyatakan bahwa imperium Islam pertama di Indonesia yaitu Kesultanan Demak dibangun oleh para Muslim Tionghoa. Dimana Raden Patah yang dikenal sebagai Sultan Demak pertama sebenarnya adalah Jin Bun putra dari Prabu Brawijaya V yang menikah dengan seorang Putri China. Semasa kecil Jin Bun diasuh oleh Swan Liong alias Arya Damar bersama Kin San (Raden Kusen) di Palembang. Demikian juga Sultan Demak yang kedua, Adipati Unus yang bernama asli Yat Sun, putera Jin Bun. Adipati Unus hanya memerintah tiga tahun karena meninggal dunia lalu digantikan oleh saudaranya Tung Ka Lo alias pangeran Trenggana yang memerintah selama 40 tahun hingga kemudian beliau digantikan oleh anaknya yaitu Muk Ming, nama lain Sunan Prawata. Dalam masa-masa ini, imperium Islam tak lepas dari peranan para muslim Tionghoa yang sangat gigih memperjuangkan syiar agama ini, seperti Gan Eng Cu (Arya Teja) yang menjadi penguasa kapten Tionghoa di Tuban, Haji Kung Wu Ping yang mendirikan menara mercusuar di atas bukit Gunung Jati hingga membentuk komunitas muslim Tionghoa di Sembung, Sarindil, dan Talang lengkap dengan masjidnya, lalu Haji Tan Eng Hoat alias Mohammad Ifdil Hanafi bersama Sunan Gunung Jati dengan dukungan muslim Tionghoa di Sembung berhasil mendirikan Kesultanan Islam Cirebon. Setelah itu Haji Tan Eng Hoat bersama Sunan Gunung Jati dan Tan Sam Cai mengembangkan Islam ke Priangan Timur sampai ke Garut. sampai pada periode kolonialisme Belanda, keadaan muslim Tionghoa berubah secara drastis. Dimana sekitar 10.000 muslim Tionghoa menjadi sasaran kemarahan VOC karena kekhawatiran terhadap jaringan dagang Tionghoa yang dapat menggeser monopoli Belanda. Kejadian ini selanjutnya menjadi titik awal lahirnya kebijakan segregasi social Belanda, yaitu Wikenstelsel dan Passenstelsel. Kebijakan Wikenstelsel secara khusus bertujuan agar kohesi yang terbangun antara masyarakat Tionghoa dengan masyarakat pribumi menjadi renggang, sehingga aliansi politik mereka bisa dengan mudah dipatahkan. Dimana akibat dari kebijakan ini, diciptakanlah peChinan, yaitu perkampungan-perkampungan khusus di berbagai daerah untuk memisahkan mereka dari kelompok masyarakat lain. Bukan hanya itu saja, melainkan mereka diharuskan mendapat izin jalan dari penguasa. Sementara Passenstelsel secara khusus dialamatkan pada pengurangan mobilitas ekonomi Tionghoa yang dikhawatirkan akan menjadi basis ekonomi perjuangan melawan Belanda. Kebijakan-kebijakan ini berimbas pada pengkotak-kotakkan masyarakat Tionghoa dan masyarakat pribumi yang berlangsung sampai sekarang.

Dalam interaksi lebih lanjut dengan masyarakat Muslim Tionghoa yang tergabung dalam PITI, saya melihat di Surabaya para muslim Tionghoa membangun masjid Cheng Ho dengan arsitektur Tiongkok.  Bahkan PITI Jawa Tengah pun juga merencanakan membangun Islamic Centre di Semarang dengan masjid Cheng Ho sebagai bangunan utamanya. Sempat pula dalam perbincangan dengan ketua PITI Surabaya, saya menyinggung tentang pengaruh tradisi-tradisi nenek moyang mereka dalam menjalankan agama Islam. Beliau mengatakan bahwa saat ini secara keseluruhan muslim Tionghoa, adalah muslim seutuhnya. Dengan kata lain, tradisinya telah berganti dengan tradisi Islam. Berkaitan dengan ajaran Taoisme dan Konghucu, muslim Tionghoa masih tetap memegang teguh namun hanya sebatas pada paham-paham yang sesuai dengan prinsip Islam. Saat ini, perkembangan muslim Tionghoa di Indonesia khususnya di Surabaya sudah mulai meningkat, yaitu ditandai oleh banyaknya mualaf yang sedang ditangani oleh PITI Surabaya. Sebagai wadah persatuan umat Islam, PITI Surabaya juga memfasilitasi orang-orang asing terutama dari negara China yang ingin mendalami agama Islam. Terlepas dari hal itu, RRC sendiri banyak menyediakan beasiswa untuk studi Islam di negara-negara Islam seperti Mesir, Arab dan Indonesia. Muslim Tiongkok yang berangkat naik haji pun mengalami peningkatan yang cukup berlipat dari tahun ke tahun. Menurut Prof. Kong Yuanzhi, selama belasan tahun terakhir ini, rombongan Islam Tiongkok telah puluhan kali berkunjung ke luar negeri. Sedangkan tokoh atau rombongan Islam dari puluhan negara dan daerah pun berturut-turut mengunjungi Tiongkok..      
Mungkin sedikit dari ulasan diatas bisa membuat kita lebih memahami sebuah konsep keislaman, sebuah konsep rahmatan lil ‘alamin yang menuntun manusia ke jalan sejatinya. Dalam hal ini Tionghoa, suatu bangsa yang dipandang unreachable di bidang perekonomian, kebudayaan, bahasa dan sebagainya, ternyata memiliki sisi keislaman yang kokoh dalam segi kehidupannya. Walaupun kita juga melihat sisi lain daripada masyarakat Tionghoa sendiri, namun tanpa sadar konsep-konsep Islami dalam pandangan hidup mereka telah begitu kuat membangun sendi-sendi hubungan social-ekonomi masyarakat tersebut. Sebagai bagian dari umat Islam dunia, sudah sepatutnyalah kita mencontoh keteladanan Rasulullah SAW dan mengembalikan kejayaan Islam seutuhnya di dunia ini.

1 comment:

  1. info yang sangat menarik, ternyata ada fakta sejarah yang di gelapkan pada jaman orba..bukan hanya mengenai PKI saja..mengerikan

    ReplyDelete