Amazon Deals

Friday, January 25, 2013

Benarkah ada Ritual Kanibalisme Dalam Suku Batak??? dan Bagaimana Cara Membuktikannya???

Ritual kanibalisme

Ritual kanibalisme telah terdokumentasi dengan baik di kalangan orang Batak, yang bertujuan untuk memperkuat tondi pemakan itu. Secara khusus, darah, jantung, telapak tangan, dan telapak kaki dianggap sebagai kaya tondi.

Dalam memoir Marco Polo yang sempat datang berekspedisi dipesisir timur Sumatera dari bulan April sampai September 1292, ia menyebutkan bahwa ia berjumpa dengan orang yang menceritakan akan adanya masyarakyat pedalaman yang disebut sebagai "pemakan manusia".[17] Dari sumber-sumber sekunder, Marco Polo mencatat cerita tentang ritual kanibalisme di antara masyarakat "Battas". Walau Marco Polo hanya tinggal di wilayah pesisir, dan tidak pernah pergi langsung ke pedalaman untuk memverifikasi cerita tersebut, namun dia bisa menceritakan ritual tersebut.

Niccolò Da Conti (1395-1469), seorang Venesia yang menghabiskan sebagian besar tahun 1421 di Sumatra, dalam perjalanan panjangnya untuk misi perdagangan di Asia Tenggara (1414-1439), mencatat kehidupan masyarakat. Dia menulis sebuah deskripsi singkat tentang penduduk Batak: "Dalam bagian pulau, disebut Batech kanibal hidup berperang terus-menerus kepada tetangga mereka ".[18][19]

Thomas Stamford Raffles pada 1820 mempelajari Batak dan ritual mereka, serta undang-undang mengenai konsumsi daging manusia, menulis secara detail tentang pelanggaran yang dibenarkan.[20] Raffles menyatakan bahwa: "Suatu hal yang biasa dimana orang-orang memakan orang tua mereka ketika terlalu tua untuk bekerja, dan untuk kejahatan tertentu penjahat akan dimakan hidup-hidup".. "daging dimakan mentah atau dipanggang, dengan kapur, garam dan sedikit nasi".[21]

Para dokter Jerman dan ahli geografi Franz Wilhelm Junghuhn, mengunjungi tanah Batak pada tahun 1840-1841. Junghuhn mengatakan tentang ritual kanibalisme di antara orang Batak (yang ia sebut "Battaer"). Junghuhn menceritakan bagaimana setelah penerbangan berbahaya dan lapar, ia tiba di sebuah desa yang ramah. Makanan yang ditawarkan oleh tuan rumahnya adalah daging dari dua tahanan yang telah disembelih sehari sebelumnya.[22] Namun hal ini terkadang dibesar-besarkan dengan maksud menakut-nakuti orang/pihak yang bermaksud menjajah dan/atau sesekali agar mendapatkan pekerjaan yang dibayar baik sebagai tukang pundak bagi pedagang maupun sebagai tentara bayaran bagi suku-suku pesisir yang diganggu oleh bajak laut.[23]

Oscar von Kessel mengunjungi Silindung di tahun 1840-an, dan pada tahun 1844 mungkin orang Eropa pertama yang mengamati ritual kanibalisme Batak di mana suatu pezina dihukum dan dimakan hidup. Menariknya, terdapat deskripsi paralel dari Marsden untuk beberapa hal penting, von Kessel menyatakan bahwa kanibalisme dianggap oleh orang Batak sebagai perbuatan berdasarkan hukum dan aplikasinya dibatasi untuk pelanggaran yang sangat sempit yakni pencurian, perzinaan, mata-mata, atau pengkhianatan. Garam, cabe merah, dan lemon harus diberikan oleh keluarga korban sebagai tanda bahwa mereka menerima putusan masyarakat dan tidak memikirkan balas dendam.[24]

Ida Pfeiffer mengunjungi Batak pada bulan Agustus 1852, dan meskipun dia tidak mengamati kanibalisme apapun, dia diberitahu bahwa: "Tahanan perang diikat pada sebuah pohon dan dipenggal sekaligus, tetapi darah secara hati-hati diawetkan untuk minuman, dan kadang-kadang dibuat menjadi semacam puding dengan nasi. Tubuh kemudian didistribusikan; telinga, hidung, dan telapak kaki adalah milik eksklusif raja, selain klaim atas sebagian lainnya. Telapak tangan, telapak kaki, daging kepala, jantung, serta hati, dibuat menjadi hidangan khas. Daging pada umumnya dipanggang serta dimakan dengan garam. Para perempuan tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam makan malam publik besar ".[25]

Pada 1890, pemerintah kolonial Belanda melarang kanibalisme di wilayah kendali mereka.[26] Rumor kanibalisme Batak bertahan hingga awal abad ke-20, dan nampaknya kemungkinan bahwa adat tersebut telah jarang dilakukan sejak tahun 1816. Hal ini dikarenakan besarnya pengaruh Islam dalam masyarakat Batak.

SOURCE: http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Batak#Ritual_kanibalisme

##################################################
Orang Batak makan orang ?!

Ungkapan orang Batak makan orang dulu sering diucapkan untuk mengejek. “Batak berekor” mungkin juga berkaitan dengannya, karena mamalia dan karnivora yang makan daging ternyata berekor! Anehnya, orang Batak sendiri agaknya tidak merasa terhina dengan ejekan itu, malah mengambil manfaat dan mempergunakannya untuk menakut-nakuti. Betulkah orang Batak makan daging manusia, kanibal dan antropofagi ?? Darimana asal usul ungkapan “Orang Batak makan orang ?”

Mari kita telusuri. Sampai saat ini catatan yang paling tua yang bisa kita temukan adalah tulisan William Marsden dalam buku History of Sumatra. Marsden menulis berdasarkan catatan yang dibuat oleh Gilles Holloway, residen penguasa Inggris yang berpangkalan di pulau Poncan Ketek tidak jauh dari Sibolga sekarang. Tahun 1772 Holloway dan seorang ahli botani Charles Miller melakukan perjalanan ke daerah pedalaman, yang mereka sebut “Batta Country” (Negeri Batak). Mereka ingin mencari kayumanis dan meneliti geografi. Setelah perjalanan menyusuri sungai Pinang Sori ke hulu mereka tiba di suatu desa dan disambut baik oleh raja setempat. Rombongan pendatang dijamu oleh tetua dan warga.
Dicatat Miller “…in the sapiyau (sopo = lumbung padi) in which raja receives stranger we saw a man’s skull hang up, which he told us was hung there as a trophy, it being the skull of an enemy they had taken prisoner, whose body (according to the custom of the Battas) they had eaten about two months before…” Tengkorak yang dilihat Miller digantung di ‘sopo’ adalah tengkorak musuh yang dibunuh. Tetapi pemandu yang menemani Miller menambahkan bumbu bahwa dagingnya sudah dimakan dua bulan lalu. Dia mau menakut-nakuti Miller dan rombongan. Selanjutnya cerita Miller ini ditambah-tambahi lagi oleh para penulis Barat kemudian.
Tahun 1834 Munson dan Lyman, dua misionaris Amerika tewas dibunuh di cegat penduduk di Lobu Pining, Silindung. Peristiwa ini terjadi karena ada ke salah-pahaman. Seorang ibu secara tidak sengaja tertembak oleh pengiring dalam rombongan. Penduduk lalu mencegat dan membalas. Dalam perjalanan sebelumnya kedua misionaris selalu disambut ramah dan di jamu disetiap kampung. Tetapi oleh Belanda, yang sedang merencanakan ekspansi ke tanah Batak memberi banyak bumbu cerita yang menyeramkan.
Seorang eksentrik ahli bahasa, Van der Tuuk, diutus oleh Perkumpulan Alkitab Belanda ke tanah Batak untuk mempelajari bahasa Batak. Posnya ada di Barus. Tahun 1853 dia berhasil masuk ke jantung tanah Batak – ke Bakkara – pusat kekuasaan lembaga Singamangaraja. Cuma hanya beberapa hari tinggal di Bakkara karena warga mulai mecurigai tindak tanduknya. Warga mengusirnya. Van der Tuuk membuat lagi catatan perjalanan dan mengatakan “nyaris dimakan” penduduk. Hal yang lazim, untuk menunjukkan keberaniannya kepada badan zending.
Bahan-bahan diatas disebarluaskan sedemikian rupa. Tujuannya untuk dipakai sebagai pembenaran ekspansi. Pemerintah kolonial dan badan zending punya landasan kuat untuk segera memulai pekerjaan “menyebarkan peradaban” dan “mempertobatkan” orang Batak. Maka meluas cerita orang Batak makan orang. (ama pardomuan)
ridwan simanullang Says:    October 16, 2007 at 12:49 pmAku tidak tahu juga…apa ada hubungannyaDi Kampungku ada beberapa pohon yang sangat besar dan katanya pohon itu adalah milik marga tertentu. Diceritakan bahwa dahulu kala pada setiap saat menanam sebatang pohon tersebut dikorbankan seorang anak gadis dengan cara disembelih dan kemudian direbus untuk dikuburkan sebelum pohon ditanam di atasnya.(tidak tahu juga apakah sebagian ikut dimakan)Anak gadis yang dikorbankan tersebut biasanya diasuh dan dibesarkan lebih dahulu dan bahkan satu kamar dengan putri penguasa huta tersebutdan diperlakukan secara khusus dengan cara memenuhi segala permintaan dan keinginannya semasa hidupnya. Dan katanya hanya segelintir yang tahu bahwa si gadis tersebut adalah gadis yang dipersiapkan untuk korban.Tibalah saatnya, maka pada malam yang ditentukan si gadis tersebut akan diambil dari tempat tidurnya untuk dikorbankan sebagai syarat menanam pohon milik marga tersebut. Biasanya jenis pohon yang dipilih adalah ‘ hau bittatar’ atau ‘hau gorat’.Pernah juga katanya kejadian, entah pada marga apa ya, ternyata si gadis yang akan jadi korban mengetahui bahwa dia sedang dipersiapkan menjadi korban dan pada saat tiba waktunya si gadis dengan segala upaya berhasil bertukar tempat tidur dengan putri penguasa ‘huta’ tersebut sehingga yang menjadi korban adalah putri dari penguasa ‘huta’ tersebut. (jangan bayangkan bahwa pada jaman tersebut sudah ada lampu pada jaman sekarang, dan memang katanya tidak boleh lagi memeriksa wajah si korban pada saat mau disembelih)Akhirnya, marga tersebut, menjadi terkutuk sehingga tidak memiliki keturunan perempuan sampai beberapa generasi.Ya… ini hanya cerita rakyat yang pernah aku dengarkan dari orang-orang tua pada saat ditanya kenapa pohon tersebut (sambil menunjuk pohon yang dimaksud, sampai sekarang pun masih ada 3 pohon yang masih berdiri yang saya tahu dan tumbuhnya memang bukan di ladang tetapi menyatu dengan ‘huta’) kok agak dikeramatkan dan besar sekali (sampai diameter beberapa meter) dan katanya milik marga ‘anu’. Saya juga tidak tahu apakah mereka menjadi saksi hidup atau hanya mendengar cerita juga…

##################################################
Ya, orang Batak DULU memang KANIBAL..!!

Saya mau berbagi cerita yang saya dapat sewaktu
mengunjungi Huta Siallagan (Samosir) Maret 2007 lalu.
Silahkan ditambahi dan dikoreksi bila perlu.
Foto2 versi lebih besar bisa dilihat di bagian album

---------------------------------
Konon di suatu waktu antah berantah,
maka berkumpullah para raja di Huta Siallagan (perhatikan kursi2 batu di foto).
Tema rapat ini adalah pengadilan bagi terdakwa (musuh/penjahat),
serta tanggal terbaik untuk melaksanakan eksekusi potong kepala.

Setelah melihat ke Buku Laklak dapatlah ditentukan tanggal terbaik eksekusi.
Hari yang terbaik adalah hari dengan lambang padi.

Sebaliknya, hari terburuk (tidak boleh) adalah dengan lambang kalajengking.
Sang terdakwa kemudian dikembalikan ke penjaranya /pemasungan.
(kembali lihat gambar di atas).
Terdakwa akan diberi makanan terbaik upaya dagingnya enak!





Tibalah hari eksekusi.
Para raja kembali berkumpul, lengkap dengan sang Algojo.
Inilah tempat eksekusi itu. Raja2 berkumpul di kursi-kursi yang telah disediakan.









Terdakwa dibaringkan di atas "meja" pra eksekusi.
Kalo jaman sekarang, mungkin semacam tempat observasi sebelum operasi? ^_^

Terdakwa akan disayat2 sekujur tubuhnya,
meyakinkan bahwa ilmu2 kesaktiannya sudah benar2 lenyap.
Bila saat disayat tidak terdapat erang kesakitan, berarti terdakwa masih punya ilmu.
"Observasi" akan dilajutkan kembali dengan memberi air jeruk ke sekujur luka.

Masih belum mengerang kesakitan?
Siksa teruuuss..... Torehan2 pisau akan kembali menyayat seluruh tubuh.
Mengalirkan darah di setiap jengkal daging.
Berulang2 sampai diyakini bahwa ilmunya telah lenyap.

"Arrgghh....." jerit kesakitan memberi isyarat algojo untuk melaksanakan tugas.
Sang pesakitan dibawa menuju "sakkalan"-nya.
Jika sakkalan (tatakan) jaman sekarang terbuat dari kayu atau plastik, jaman dulu dari batu man..!

Leher sudah siap, tergeletak pasrah menunggu maut...
Sang algojo pun menghunus senjata (tidak jelas apakah pedang, pisau, golok, atau tangan kosong).
Dalam sekali tebas, "Jleebbb...!!"
Putuslah kepala, putuslah nyawa, lenyaplah si durjana.
Rakyat bersorak-sorai. Gembira menyaksikan suksesnya eksekusi.
(bila tidak putus dalam sekali tebas, sang algojo juga akan dipenggal)

Tubuh tanpa kepala berkelojotan lalu diam tak bergerak.
Tak bernyawa. tak ada lagi helaan nafas, hanya cucuran darah di setiap pembuluh.
Selanjutnya dibawa ke meja di hadapan para raja (lihat di gambar kedua).
Para raja mendapatkan jatah istimewa.. hati, ginjal, jantung, dll.
Sementara daging akan dicacah, dipotong kecil2 dan dibagikan kepada seluruh rakyat.
Sabar..sabar... jangan main dorong.. antri dong..
Semua kebagian, semua dapat, adil, dan merata.

Barbeque? Atau masak sop?
Tidak my man...!! Dagingnya dimakan MENTAH-MENTAH..!!
Mungkin kah jeruk yang dilumurkan membantu proses pematangan?
Seperti laiknya membuat masakan dekke naniura kah?
Wallahualam, saya belum pernah mencobanya ke daging manusia ^_^

Kepalanya... kepalanya... kepalanya....
Siapa yang mendapat kepala????
Bukan siapa2. Bukan paranak, parboru atau hula-hula.
Kepala akan dibuang ke danau toba.
Sejak hari itu, selama 7 hari ke depan, rakyat tidak diperbolehkan
memanfaatkan air danau untuk keperluan sehari2.
Baik untuk minum, mandi, mencuci, mencari ikan, dll.
Makanya bbrp hari sebelum eksekusi, rakyat harus bersiap2 untuk kebutuhan 7 hari ke depan,
Mengumpulkan cadangan air atau mencuci pakaian2 (dan mandi?)
Dipercaya, selama 7 hari itu, arwah si empunya kepala masih berkeliaran di sekitar danau.
Inilah dasar larangan itu.

Jadi, jika ada anekdot bahwa "orang batak makan orang",
Ya... ini mungkin benar adanya.. tapi....
Kalaupun benar, itu jaman dulu bung!!
Sebelum agama kristen masuk ke tanah batak.

Orang batak di jaman internet ini masih ada yg makan orang?
Masih..!! kadang memang masih makan orang kok...
Pasti pernah dong denger ini :
"Awas, jangan macam2 kow sama org batak ya...
'kumakan' kow nanti..!!"
Jadi, waspadalah.. waspadalah.. he...he...he....

SOURCE: http://mappa.multiply.com/journal/item/11?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

#################################################
Tanggapan:
Jika dahulu benar dulu SEBAGIAN (BUKAN SELURUHNYA) suku Batak itu kanibal maka untuk menyetop debat yang tidak ada akhirnya apakah dahulu SEBAGIAN suku Batak itu mempraktekkan kanibalisme maka saat ini hanya dapat dibuktikan dengan test DNA karena di dalam DNA terdapat rekam jejak para leluhur dan nenek moyang.

Selain informasi genetik, DNA juga bisa menginformasikan riwayat kehidupan nenek moyang kita. Di sinilah perubahan dalam tubuh terekam—seiring dengan perubahan pola makan, lingkungan, ataupun aktivitasnya—dan memberikan gambaran bagaimana sebenarnya pola kehidupan yang mereka jalani. Hasil perbandingannya dengan DNA populasi di berbagai tempat lain menggambarkan proses berlangsungnya migrasi dan bagaimana hubungan kekerabatannya. 

No comments:

Post a Comment