Amazon Deals

Sunday, February 3, 2013

Membangun Merek yang Kuat

Kamis, 19 Juni 2008

Kemarin saya menulis tentang kepemimpinan Badawi yang harus dipelajari "kesalahannya"
Kali ini saya menulis artikel ini kemarin pagi ketika terbang dengan Malaysian Airlines dari Kota Kinabalu (KK) ke Kuala Lumpur (KL) tapi tentang pelajarannya yang positif dari Sabah.
From KK to KL we need 2.5 hours to fly.
Mata saya menerawang ke bawah, terlihat awan dan laut.
Tapi sayup2, ketika meninggalkan Sabah dan melintas Sarawak, saya membayangkan bahwa saya meninggalkan Pulau Kalimantan menuju Malaysia Peninsula.
Ketika kemarin pagi berangkat dari bandara KK, saya sempat kaget bahwa saya ternyata berangkat dari New Wing yang sangat modern.
Maklum, waktu mendarat tiga hari sebelumnya, saya tiba di bandara yang lama.
Kecil dan terkesan tradisional.
Liaison Officer atau LO saya, Encik Asman yang selalu mendampingi saya selama tiga hari mengatakan : "We are trying very hard to build strong brand name for KK and Sabah, Sir "
Dengan menyelenggarakan International CEO Forum yang dihadiri lebih dari 500 peserta dari Malaysia dan luar negeri, KK dan Sabah jadi fokus perhatian dari begitu banyak orang.
Selama tiga hari , para peserta, speaker dan sponsor "dipaksa" engaged dengan KK dan Sabah.
Kami dilayani secara profesional.
Apa saja yang saya minta dari LO saya pasti dikasih.
City tour liat2 kota begitu tiba di KK.
Tour ke luar kota liat Kadasan Village yang melestarikan gaya hidup orang asli disitu.
Mereka mirip Dayak walaupun tidak mau disamakan dengan Dayak.
Meninjau berbagai Mall yang ada di KK termasuk The Biggest Lifestyle Hypermall di East Malaysia yang baru dibuka yaitu 1 Hypermall.
Disitu saya juga melihat Tunes, the first biggest Value Hypermarket punya Air Asia Group nya Tony Fernandes.
Kreasi terbaru setelah Hotel Low Cost yang bernama I Tunes.com...:)
Juga ajakan saya untuk makan minum dimalam hari dipinggir laut juga diikuti.
Pokoknya kemana saya mau pergi dilayani.
Saya juga terkejut Sabah yang menurut saya kurang ada apa2nya dibanding Kaltim, Kalsel, Kalteng maupun Kalbar ini bisa mendatangkan turis sebanyak 300.000 orang tiap tahun.
Bandingkan dengan Bali kita yang begitu kaya budaya dan fasilitas hotel bintang lima "hanya" menghasilkan kira2 1.5 juta wisatawan per tahun...
Saya belum tau berapa turis asing yang mampu diraih keempat propinsi kita di Kalimantan.
Dalam suatu lunch waktu Conference di KK, saya mendengar suatu percakapan bahwa Sabah memang kurang dikenal dari segi nama.
Malah banyak yang mengira itu adalah nama daerah yang ada di Malaysia Peninsula.
Saya pun, sebelum kesitu, selalu confuse dengan Sarawak.
Tapi Borneo, bukan Kalimantan, adalah nama yang dikenal didunia sejak dulu..
Jadi, mereka tengah mempertimbangkan untuk meleverage hal tersebut.
Al Ries, penulis buku laris legendaris Positioning:The Battle of Your Mind, yang juga teman saya, pernah mengatakan : "Jangan pernah menyangkal pada apa yang sudah melekat di ingatan orang apalagi melawannya.Tapi, anda mesti pintar2 memanfaatkannya"
Kenapa?
Karena pertempuran marketing tidak dimulai di pasar, tapi di benak Konsumen..
Jadi, kalau banyak orang didunia yang lebih kenal nama Borneo bukan Sabah, kenapa kok tidak digandengkan aja?
Karena itu, mereka lagi mempertimbangkan untuk memakai slogan Sabah is the Heart of Borneo.
Smart kan..?
Ingat Borneo, ingat Sabah...kenapa pakai Heart saya tanya?
"Sir, if people remember Borneo, they will remember Head-Hunter..." kata Asman juga.
Hi...saya jadi ingat..
Ketika mengunjungi Kadasan Traditional Village, saya dibawa ke House of Skull..
Rumah Tengkorak !
Untuk masuk kesitu, saya disuruh mengucapkan minta maaf dulu pada nenek moyang mereka dalam bahasa Kadasan..
Dengan bangganya sang Guide menunjukkan sederetan tengkorak asli yang sudah berumur ratusan tahun pada saya.
Itu adalah kepala musuh yang dipenggal oleh Warrior yang bernama Mosodian untuk melindungi desanya.
Makin banyak kepala orang dipenggal maka makin hebat sang Warrior.
Bahkan diceritakan juga, di jaman dulu "mas kawin" dari seorang laki harus berupa dua tengkorak sebagai simbol bahwa dia akan bisa melindungi istri dan keluarga dikemudian hari....Hiiii....
Nah untuk menghilangkan asosiasi jelek itu maka kata "heart" yang dekat dengan "cinta" lagi direncanakan untuk dipakai.
Saya jadi ingat bagaimana New York City disebut Big Apple...
Kenapa?
Sebab New York ,waktu itu, sama dengan Capital of the Crime..
Ngeri melihat statistik perkosaan, pembunuhan, penodongan waktu itu.
Tapi mereka ingin merubah citra tersebut dengan mengatakan bahwa New York City is Big Apple.
Kan Apple buah makanan se hari2 orang Amrik, kayak kita disini makan pisang.
Lagi pula Apel punya asosiasi sehat dan soft....
Tapi tentunya bukan itu aja..upaya keras memberantas kejahatan benar2 dilakukan dengan memperbaiki kinerja dan tunjangan polisi.
Jumlah penjara diperbanyak tapi pembinaan narapidana juga ditingkatkan.
Lampu2 hias di kota diperbanyak dan dinyalakan sepanjang malam sehingga tempat2 seram jadi kelihatan aman.
Tempat belanja dan makan minum dianjurkan untuk buka sampai tengah malam bahkan boleh sampai pagi kalau mau.
Jadilah New York City menjadi The City that never sleeps,yang akhirnya slogan ini dimanfaatkan juga oleh Citibank secara smart.
Kata City tinggal diganti Citi...kayaknya nasehat Al Ries untuk tidak melawan apa yang sudah ada dibenak konsumen tapi malah memanfaatkannya cukup banyak diturutin Marketer...
Sekarang, New York City, even after insiden 9/11 yang sampai menelan lebih dari 5000 korban, tetap menjadi the biggest tourist destination in US....!
Kembali ke cerita Sabah yang terus gigih memasarkan Trade, Tourism and Investmentnya,saya liat mereka benar2 all out..
Padahal propinsi2 Kalimantan kita pasti lebih kaya baik di natural resources dan keindahan Lautnya.
Sayangnya kita tidak tau membuat PDB nya..
Padahal Positioning, Differentiation dan Branding inilah kunci dari marketing.
Bukan Selling, Promotion dan Discount...
Marketing is nothing without Branding.
Karena Branding lah yang membuat Customer bisa membedakan kita dari Competitor..
Branding pula yang membuat mereka menghargai dan memberi nilai lebih bagi kita.
Sehingga mereka mau membayar lebih tinggi dari pesaing untuk produk dan jasa yang sama.
Karena itulah, Building Strong Brand akan merupakan salah satu sesi paralel di The MarkPlus Festival tgl 10 Juli nanti.
Alexander Mulya, Chief Consultant dari Brand Credence, anak perusahaan MarkPlus Inc akan memfasilitasi dua orang practitioner yang akan mengulas kasus2 nyata mereka.
Pesawat saya sudah mau turun ke KL tapi sebelum mengakhiri tulisan ini, saya kira Surabaya perlu lebih banyak lagi pengusaha maupun profesional yang percaya dan tau caranya untuk Building Strong Brand.
Dan Surabaya sendiri juga harus seperti Sabah working harder and smarter untuk lebih memantapkan Sparkling Surabaya nya...
Anda setuju ?

No comments:

Post a Comment