Amazon Deals

Monday, March 25, 2013

Pengalaman Pribadi Kursus di India dan Korelasinya Dengan BERDIKARI

Masih terkait dengan artikel saya tentang kunjungan Presiden RI, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara, Hj. Ani Bambang Yudhoyono dan delegasi Indonesia ke India 25-26 Januari yang lalu, saya teringat kunjungan saya ke India, tepatnya di Negara Bagian Kerala, India Selatan, kursus singkat tentang Basic Cource In Tea Plantation Management selama tiga bulan (1 Juli s/d 31 September 1998).

Teh merupakan salah satu komoditas penting Perkebunan baik bagi Indonesia maupun India. Saya bersama dua orang teman dari Ditjen Perkebunan dan Sekretariat Dep Kehutanan dan Perkebunan serta tiga orang dari sebuah LSM mendapar kesempatan mengikuti kursus tersebut dengan biaya dari Pemerintah India. Kami ditraining bersama beberapa teman dari Negara lain, yaitu India, Bangladesh, Myanmar di sebuah Institute khusus tanaman Teh di daerah Coonoor, Tamil Nadu, Kothari, India Selatan.

Kaia berangkat tanggal 1 Juli tahun 1998, saat Piala Dunia Sepak Bola berlangsung di Prancis. Pada saat babak Penyisihan, kami masih nonton melalui TV di Indonesia, tetapi pada babak selanjutnya, kami menonton dari televisi India. Juaranya adalah Perancis, dengan bintangnya Zenedine Zidane.

Sedikit Tentang Negara India

Ternyata, bangsa India ini adalah bangsa yang besar, bukan saja karena negaranya yang sangat luas dan mempunyai penduduk lebih dari 1,1 miliar jiwa, nomer dua setelah China, tetapi juga sebenarnya negaranya cukup maju. Uang rupee-nya stabil, karena ereka tidak punya hutang luar negeri seperti Negara kita yang sangat besar yang sangat membebani APBN, baik untuk mebayar hutang pokok maupun bunganya. Nilai rupiah sangat berfluktuasi terhadap nilai dolar.

Berkat ajaran pimpinan mereka Jawaharal Nehru, bangsa India tumbuh menjadi bangsa yang mandiri. Hampir semua industri yang ada di Barat (Amerika Serikat dan Eropa), mereka memilikinya. Industri baja, mobil, dlsb. Bahkan mereka sudah mampu membuat senjata nuklir dan meluncurkan satelitnya ke luar angkasa. Warga India banyak yang terpelajar. Doktor (S3)-nya saja ada 14 juta orang (7 x penduduk Singapore), dan 20 persen dari orang terkaya di dunia adalah orang India.

Negara India adalah salah satu Negara yang paling demokratis di dunnia. Pemerintah tidak bisa berbuat sewenang-wenang terhadap rakyatnya, termasuk dalam penggusuran rumah penduduk.. Kalau penduduknya tidak mau rumahnya digusur untuk alasan pembangunan, maka rumah tersebut tetap berdiri tegak, di jalan protokol sekalipun. Ini yang saya lihat di Kota Chenai (dulu bernama Madras), Negara Bagian Tamil Nadu dan di Kota Maysure serta Kota Bangalore, entahlah kalau di New Delhi, ibu-kotanya.

Penduduknya rajin bekerja, termasuk para wanitanya. Para wanita India tidak segan melakukan pekerjaan “kasar”, seperti tukang batu atau pekerja bangunan. Yang menarik adalah, walaupun para pekerja wanita ini harus bekerja mengangkut batu atau naik ke atap bangunan, tetapi mereka tetap mengenakan “Sari”, pakaian tradisional wanita India.. Kelihantannya “ribet” banget, tapi ternyata bagi mereka tidak, mereka sangat lincah bergerak dan sangat produktif. Luar biasa.

Beberapa Hal yang Menarik dari India

Mengangguk Artinya Tidak, Menggeleng Artinya Ya

Kedengarannya aneh, setahu kita selama ini, kalau mengangguk artinya setuju, sedangkan bila menggeleng artinya bukan atau tidak mau. Tapi lain dengan di India, paling tidak yang kami alami di Tamil Nadu, menggeleng artinya ya atau setuju, sedangkan mengangguk artinya bukan atau tidak setuju.

Tidak Ada Mc Donald dan Kentucky Fried Chicken di India

Di India, paling tidak di Negara Bagian dan kota yang kami kunjungi, tidak ada Restoran Siap Saji milik Amerika seperti Mc Donald, Kentucky Fried Chicken, atau restoran Jepang seperti Hoka-Hoka Bento, atau Piza Hut atau sejenisnya. Juga tidak ada Super Market Raksasa seperti Carefour, ITC, dll. Hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah India sangat melindungi industri dalam negerinya dan sangat melindungi pedagang kecil.

Hal ini sangat bertolak belakan dengan Pemerintah Indonesia, yang karena pengaruh para ekonom yang berorientasi pada Amerika dan Eropa, yang berfaham ekonomi liberal, maka restoran-restoran dan pasar swalayan asing itu beroperasi sangat bebas sampai ke kota-kota kecil, bahkan mungkin sudah sampai ke Kecamatan. Di Depok saja misalnya begitu banyak restoran siap saji milik asing itu, padahal masakan Indonesia jauh lebih enak dan nikmat, sehat dan banyak sekali jenis dan variasinya. Setiap daerah atau Provinsi bahkan Kabupaten mempunya masakan tradisional sendiri

Saat ini anak-anak dan remaja Indonesia lebih senang makan di KFC daripada makan di Restoran Padang, makanan Sunda, Warung Tegal atau masakan tradisonal lainnya. Padahal sebenarnya makanan tradisonal Indonesia itu lebih alami dan sehat. Di Negara-negara maju sebaliknya, makanan cepat saji disebut “makanan sampah” atau ”junk food”. Sementara orang Asia menyukai makanan Barat, orang Barat malah sebaliknya lebih menyenangi masakan Asia, terutama para turisnya.

Orang India Bangga dengan Produk Sendiri

Orang-orang India, mungkin karena ajaran Bapak Bangsa-nya Mahatma Gandhi, pada umumnya adalah bangsa yang mandiri. Mereka bangga dengan produksi dalam negeri, termasuk mobil. Jarang ada mobil Jepang yang berlalu-lalang di jalan raya di kota-kota besar di India.

Walaupun mobil buatan India tidak sebagus mobil Jepang, yang mungkin juga tidak lebih murah, tapi jarang sekali kita temui mobil Jepang di jalan. Saya tak tahu persis apa sebabnya, apakah karena Undang-undang atau peraturan Pemerintahnya atau karena mobil Jepang tidak laku di India karena penduduk India lebih suka dan bangga memakai mobil buatan negara mereka sendiri.

Sangat Hemat

Orang India juga sangat hemat. Hal ini dapat kita lihat dalam penggunaan kertas, misalnya. Kertas umumnya dipakai bolak balik. Amplop uang biaya hidup kami misalnya, bukan kertas baru, tetapi kertas`daur ulang, yang pernah digunakan sebelumnya.

Hal ini sangat berbeda dengan kantor-kantor Pemerintah di Indonesia, sering untuk mengonsep surat saja menggunakan kertas HVS baru. Makanan mereka juga sangat sederhana. Karena sebagian besar beragama Hindu, mereka jarang yang makan daging, sehingga biaya makan relatif murah

Istana-Istana Yang Indah

Selama di India kami sempat jalan-jalan ke Kota Maysure, sebuah kota kuno, dimana terdapat istana bekas kerajaan India di zaman dahulu kala. Istananya sangat besar, indah dan megah. Dibandingkan dengan istana atau keraton di Indonesia, istana atau keraton kita tidak ada apa-apanya. Harta peninggalan kerajaan masih tampak utuh

.

Salah satu di antaranya adalah lukisan-lukisan para raja dan keluarga kerajaan. Lukisannya sangat indah dan nampak “hidup”, tiga dimensi. Bila kita memandang wajah dalam lukisan itu, matanya tampak hidup, memancarkan sinar dan bila kita pindah tempat misalnya dari kanan ke kiri, seolah-olah matanya mengikuti arah kita. Sempat berdiri bulu roma saya memandang lukisan-lukisan tersebut.

Padahal istana yang kami lihat hanya sebagian kecil dari istana-istana yang ada di seluruh India, yang dahulu merupakan kerajaan-kerajaan besar. Jangankan istana, kuburan istri raja saja seperti bangunan Taj Mahal begitu besar dan indahnya sehingga menjadi salah satu “Tujuh Keajaiban Bangunan di Dunia” atau The Seven Magnicifent Building in The World, termasuk Candi Borobudur di Indonesia dan Pyramid di Mesir yang saat ini sedang bertgolak itu.

Sapi Bebas Berkeliaran di Kota

Sebagaimana kita ketahui bahwa sebagian besar penduduk India beragama Hindu, yang memuja sapi sebagai “Tuhan”nya. Karena sangat menghormatinya, sapi dengan bebas berkeliaran di jalan-jalan kota, tidak ada yang mengganggunya, sehingga sering juga menganggau lalu-lintas.

Orang Hindu tidak mau memasak apalagi makan daging sapi, tapi kalau minum susunya boleh. Waktu kami baru datang ke India, kami tak tahu kalau orang Hindu tidak boleh masak daging sapi. Kami sempat membeli daging sapi, tapi tukang masak kami yang orang Hindu menolak untuk memasaknya. Akhirnya daging tersebut kami masak sendiri. Setelah itu, untuk menjaga perasaan mereka, kami sepakat tidak akan membeli dan makan daging sapi selama di India. Kami hanya membeli daging kambing, ayam atau ikan.

Daging Buatan Terbuat dari Kedele

Karena sebagian besar orang India beragama Hindu, mereka umumnya tidak makan daging. Kebanyakan mereka adalah ”vegetarian’ atau hanya memakan tumbuh-tumbuhan. Mungkin masyarakat ”vegetarian” yang mulai berkembang di Negara-negara Barat seperti Amerika, Eropa dan Australia, berasal atau meniru orang Hindu. yang hanya makan tumbuh-tumbuhan.

Untuk sumber protein hewani, mereka hanya makan telur dan minum susu. Sebagai gantinya ada yang disebut ”daging buatan”, yang terbuat dari kedelai. Memang kedelai ini merupakan salah satu sumber protein nabati yang sangat penting.

Di Indonesia kedelai dibuat tempe dan tahu, sebagai sumber protein, pengganti daging. Sebenarnya protein nabati ini tidak kalah kualitasnya dibanding dengan protein hewani yang berasal dari daging. Protein nabati sebenarnya mempunya beberapa kelebihan dibanding protein hewani, misalnya lebih mudah dicerna, dan tidak mengandung kolesterol, sehingga lebih sehat.

Tak Adakah Orang Indonesia Yang Sehat Untuk Jadi Presiden?

Saat kami di India, Presiden RI adalah KH Abdulrachman Wahid atau yang terkenal dengan panggilan Gus Dur. Terkadang muncul gambar Gus Dur dan istrinya di layar TV. Gus Dur dipapah, dan istrinya, Nuriah, didorong pakai kursi roda.

Teman-teman dari Negara lain bertanya, ”Apa tidak ada orang sehat di Negara kamu yang bisa dipilih sebagai Presiden?” Saya hanya bisa tersenyum pahit. Memang aneh, ada lebih 225 juta pendudduk Indonesia (saat itu), kok memilih Presiden yang cacat (tak dapat melihat) dan bersifat preman seperti itu. Benar mereka itu bertanya, apakah tidak ada orang yang sehat di Indonesia untuk dipilih jadi Presiden? Itulah Indonesia, aneh tapi nyata.

Tak Ada Martabak India

Sebelum berangkat ke India, saya membayangkan bahwa tidak akan ada kesulitan soal makanan, kan India dan Indonesia sama-sama bangsa Asia?. Masakan sedikit-banyaknya pasti sama atau serupa.

Ternyata perkiraan saya keliru. Sangat susah mencari restoran yang menjual nasi di India. Juga tidak ada martabak. Padahal di Indonesia ada yang namanya martabak India. Cari bumbu-bumbu Indonesia, kecap dlsb juga tidak ada. Di Australia malah semua bumbu siap saji produksi Indonesia justru lebih banyak btersedia.

Di pasar tidak tersedia kelapa parut, apalagi yang sudah berbentuk santan. Repot juga kalau mau masak menggunakan santan, harus mengupas kelapa sendiri, marut dan memeras kelapa sendiri untuk mendapatkan santan. Emang lebih enak tinggal di negeri sendiri.

Masak Sayur Daun Singkong

Di sekitar tempat kami tinggal tumbuh beberapa pohon singkong. Atas izin yang punya, saya ambil daun-daun singkong yang masih muda, lalu saya masak dengan santan kelapa. Bagi teman-teman Indonesia, sayur singkong merupakan obat kerinduan pada tanah air. Tidak demikan dengan orang India, termasuk bagi Kitty, dia heran dan surprise daun singkong bisa dibuat sayur yang enak katanya

Sama halnya dengan saat di Australia, di India pun saya jadi ”tukang masak”, masalahnya saya tidak cocok dengan masakan teman-teman, sedangkan mereka senang dengan masakan saya.

Saya Punya Anak Angkat Orang India

Salah seorang anak remaja asli India, namanya Krisna Murti, atau Kitty, teman kursus menganggap saya sebagai ayahnya. Dia memanggilku ”Dady”. Dia sering ngobrol bersama saya dan teman-teman Indonesia lainnya. Pemuda ini tinggal satu rumah bersama kami, orang-orang Indonesia.

Kitty suka mengamati saat kami shalat. Dia banyak bertanya kepada saya tentang Islam. Saya terangkan dengan sabar. Dia bilang begini: ”Dad, ternyata Islam itu baik ya, tidak jahat”. ”Kok kamu bilang begitu”, jawab saya. Ya, katanya.” Selama ini saya dapat info bahwa Islam itu jahat. Islam itu terorist. Islam itu suka membunuh orang dari agama lain”.

Saya terangkan bahwa hal itu sengaja dibesar-besarkan oleh dunia Barat, terutama Amerika untuk memojokkan dan menjelek-jelekkan Islam. Saya katakan bahwa Islam itu artinya damai aatu cinta. Menrut Kitab Suci Al Qur’an, membunuh orang itu sangat terlarang dan merupakan dosa besar, kalau tidak ada alasan yang dibolehkan.

Jangankan melakukan pembunuhan masal seperti bom bunuh diri di Bali dan beberapa tempat di dunia itu, membunuh satu jiwa saja (tak pandang dari agama apapun), adalah bagaikan membunuh seluruh umat manusia, dan menjaga kehidupan seorang manusia sama artinya dengan menjaga kehidupan seluruh umat manusia. Yang melakukan bom bunuh diri adalah orang politik yang menggunakan Agama untuk mencapai tujuan politiknya.

Hubungan kami dengan pemuda India yang tampan itu menjadi lebih akrab. Kitty menjadi ”giude” selama kami di India. Saya sering membelikan beberapa kotak dupa, alat untuk sembahyang cara Hindu untuk Kitty. Dia tampak sangat senang. Saya minta dia melakukan surat menyurat dengan anak-anak saya di Indonesia, untuk memperlancar Bahasa Inggris ana-anak saya. Saya katakan pada Kitty, sekarang Dady punya enam orang anak, kamu anak yang paling besar. Dia tersenyum lebar.

Kity Meramalkan Bahwa Saya Akan Ke Luar Negeri Lagi


Kitty pandai meramal sesuatu melalui garis-garis tangan. Semua teman-teman Indonesia diramalnya, tak terkecuali saya. Dipegangnya tangan kanan saya, dan telapak tangan dibentangkan menghadap ke atas. Dia amati semua garis-garis tangan saya. Dia sebutkan banyak hal yang telah terjadi sebelumnya terhadap diri saya, dan ternyata sebagian besar tepat, padahal saya tidak pernah cerita apa-apa padanya sebelumnya

Dari salah satu garis di tangan saya, dia bilang, ”Daddy masih akan bepergian ke luar negeri beberapa kali lagi selain ke Australia dan India yang sudah terjadi. Belakangan hal itu terbukti, karena tahun 2003, saya berangkat haji. Walaupun itu bukan dari uang saya sendiri, tetapi itu sudah kehendak Allah, sebenarnya Allah yang menggerakkan hati orang yang baik itu untuk membiayai saya menunaikan ibadah haji. Itu memang rezekiku yang dititipkan melalui orang lain.

Mudah-mudahan ramalan Kitty benar, bahwa saya akan ke luar negeri lagi beberapa kali, bukan hanya sekali. Artinya masih ada kemungkinan saya akan berangkat haji lagi dengan biaya sendiri. Tidak sendiri, tetapi dengan istri dan anak-anak.

Disamping ingin kembali ke Kota Suci Mekah dan Madinah, saya ingin sekali berkunjung ke manca Negara ke seluruh dunia dalam kegiatan Dakwah wa Tabligh Khuruj Fi Sabilillhah. Semoga ramalan anak angkat saya itu benar adanya. Tapi bukan berarti saya percaya kepada ramalan. Saya hanya percaya kepada Allah.

Saya pulang ke Indonesia tanggal 27 September 1998 setelah kursus di India selama 3 bulan. Stop over beberapa jam di Singapura, tetapi tidak boleh keluar dari bandara. Tapi lumyan, paling tidak saya telah menginjak tiga Negara sampai dengan saat itu, yaitu Australia, India dan Singapura.

Semoga bermanfaat

##################################################
 BERDIKARI, inilah jargon yg pernah digaungkan oleh  Presiden RI pertama yaitu Ir. Soekarno. Berdikari singkatan dari Berdiri dengan Kaki SendiRi. Inilah yg menjadi motivasi Bung Karno untuk membangun Indonesia di awal kemerdekaan. Tujuan dari jargon BERDIKARI ini adalah menjadikan bangsa Indonesia bermartabat dan disegani oleh dunia internasional. Dan program Bung Karno dengan BERDIKARI-nya telah mencengangkan mata dunia dan berhasil mengadakan semacam event olahraga nasional yg bernama Ganefo (kalau salah tolong dibenerin).

   Jargon BERDIKARI untuk saat ini seharusnya perlu digaungkan digalakkan lagi. BERDIKARI harusnya jadi program nasional, apalagi sekarang sedang hangat-hangatnya isu ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan tidak akan pernah bisa berjalan jika tidak dibarengi slogan BERDIKARI.

   Bagi generasi muda, BERDIKARI ini perlu dan wajib dimiliki oleh mereka. Betapa tidak, masa depan bangsa dan negara ini ada di pundak generasi muda mereka. Generasi muda jangan hanya bergantung pada orang tua tetapi harus mampu mandiri untuk ‘menghidupi diri’. Ketika lulus sekolah atau kuliah, jangan bercita-cita mencari kerja alias kerja pada orang lain tetapi harus mampu mendirikan usaha sendiri. Tiap orang tua memang mendoktrin pikiran anaknya dengan doktrin ‘SEKOLAH UNTUK KERJA’. Ini sangat wajar karena doktrin ini warisan penjajahan.  Jika para generasi muda tidak mampu ‘berdiri dengan kaki sendiri’ maka bisa dilihat ketika mereka menjadi pemimpin, di mana pun mereka berada, tidak akan pernah bisa maju dan akan selalu bergantung pada orang lain sehingga martabatnya pun akan turun. Orang yg mampu ‘berdiri dengan kaki sendiri’ akan lebih dihargai dan mempunyai derajat lebih tinggi di mata orang lain dari pada orang yg bisanya cuma menengadahkan tangan alias ‘mengemis’ kebaikan orang lain. Begitu juga jika suatu negara mampu dan mau BERDIKARI, maka dunia internasional akan lebih menghargai negara tersebut. So…BERDIKARI adalah solusi meraih kemajuan bagi individu, masyarakat, dan negara.

No comments:

Post a Comment