Amazon Deals

Sunday, May 5, 2013

The Godfather, Hercules, John Kei dan Preman Etnis

The Godfather, John Kei dan Preman Etnis

Kelompok Maluku vs Kelompok Flores di Jalan Ampera


Di Indonesia istilah preman jauh lebih popular dari istilah gangster atau mafia. Padahal kalau menelisik cara kerjanya, preman di Indonesia juga punya organisasi yang rapi dan koneksi yang bagus mirip dengan mafia dunia. Dunia hitam mulai di kenal luas lewat sebuah novel  criminal berjudul The Godfather karya Mario Fuzo seorang Italia-Amerika. Sebuah novel yang kemudian hari menjadi salah satu film terbaik dunia.

Ibukota Jakarta merupakan magnet besar yang menyedot banyak orang untuk datang. Tidak peduli orang itu berijazah atau tanpa ijazah alias patah pulpen. Dengan modal kenekatan orang-orang daerah ini kemudian mengadu peruntungan di kerasnya kehidupan ibukota. Sasarannya jelas duit di Jakarta sangat banyak dan persaingan di Ibukota membuka orang-orang keras dan berjiwa keras untuk menjamahnya. Seperti di ketahui bisnis pembebasan lahan, bisnis jasa keamanan, bisnis debt collector dan bisnis perparkiran sangat menggiurkan. Di keempat bisnis ini duit milyaran bisa dengan mudah di dapatkan, modalnya cukup nyali dan keberanian.

John Kei

Salah satunya orang yang boleh disebut sukses bergumul di dunia hitam ibukota adalah John kei. Nama aslinya John Refra pemuda asal kepulauan Kei di sebelah tenggara Maluku. Bersama keluarga dan pemuda kampungnya John Kei mengorganisir sebuah bisnis jasa keamanan dan penagihan yang cukup besar.Terakhir John Kei tersangkut kasus pembunuhan yang membuatnya harus merasakan timah panas polisi dan di tahan oleh aparat hukum. Bagi pemuda Maluku Tenggara, John Kei merupakan The Godfather.

Bukan John Kei yang pertama mengguncang dunia hitam di ibukota, ada nama lain yaitu Hercules. Ia semula pemuda Timor yang direkrut Komando Pasukan Khusus, atau Kopassus, pada saat proses integrasi wilayah itu ke Indonesia.  Hercules menetap di Jakarta, dan segera merajai dunia para jagoan. Ia menguasai Tanah Abang. Namanya pun selalu dekat dengan kekerasan. Kekuasaan tak abadi. Pada 1996, ia tak mampu mempertahankan kekuasaannya di pasar terbesar se-Asia Tenggara itu. Kelompoknya dikalahkan dalam pertikaian dengan kelompok Betawi pimpinan Bang Ucu Kambing.

Setelah masa Hercules surut, muncul kemudian kelompok preman lain yang juga berasal dari Indonesia timur seperti kelompok Basri sangaji, John Kei ,Thalib Makarim. Persaingan paling panas justru terjadi sesama kelompok preman Maluku yaitu Basri Sangaji dan John Kei. Basri Sangaji sendiri di temukan tewas di salah satu hotel di tahun 2004, bersama Basri juga ditemukan adiknya yang terluka parah.

Saling membalas terjadi, setahun kemudian giliran Kakak kandung John Kei, Walterus Refra Kei alias Semmy Kei, terbunuh di lahan parkir Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Tindakan ini merupakan balas dendam atas pembunuhan Basri Sangaji dan bentrokan di Diskotek Stadium. Kasus lain yang melibatkan kelompok John Kei adalah kasus Klub Blowfish (4 April 20101), menewaskan dua orang dari kelompok John Kei, M. Sholeh dan Yoppie Ingrat Tubun. Klub Blowfish dijaga kelompok Flores Ende pimpinan Thalib Makarim.

Bahkan bentrokan ini kembali terjadi di luar sidang terjadi di Jalan Amprea antara kelompok Maluku (Kei) dan Flores (Thalib Makarim) ketika sidang kasus Blowfish. Korban tewas dari kelompok Maluku: Frederik Philo Let Let, 29 tahun, Agustinus Tomas (49), dan seorang sopir Kopaja Syaifudin (48).

Melihat rekam jejaknya pantas jika John Kei disebut sebagai preman yang licin dan susah di taklukan. Selain kelompok Ambon, Kei dan Flores muncul juga kelompok preman atau ormas garis keras yang sering bentrok seperti Pemuda Pancasila dengan bosnya Yoris yang kini terjun didunia politik, juga ada Forum Betwai Rempug (FBR), selian itu ada juga FPI (Forum Pembela Islam). FPI sendiri lebih banyak memberantas tempat maksiat.

Premanisme Etnis

Mafia di Italia pertama kali muncul di pulau Sisilia, Italia. Kelompok mafia ini kemudian menyebar hingga ke Amerika Serikat. Di negerinya Benjamin Franklin, Mafia tetap mempertahankan keanggotaannya untuk orang-orang Sisilia. Sekitar decade 30an Al Capone dan kelompok mafianya sangat di takuti di AS, salah satunya karena mereka mempunyai jaringan yang rapi dan loyalitas yang muncul karena ikatan persaudaraan satu negeri asal. Selain Mafia Italia juga ada kelompok Triad di Hongkong, kelompok Kartel di Meksiko dan Kolombia, Mafia Rusia, Mafia Albania dll. Satu kesamaan semua kelompok mafia ini sistem rekrutmen anggota yang ketat dan hanya untuk kelompok etnis tertentu.

DI Indonesia khususnya di ibukota, kelompok preman membentuk jaringannya dengan kultur daerah asal. Hingga muncullah kelompok preman etnis seperti Preman Madura, preman Ambon, preman Flores, Preman Maluku, Preman Banten, Preman Betawi.Tidak jarang karena kepentingan bisnis ini sering terjadi bentrok diantara preman etnis ini.

Selain karena faktor ekonomi, preman etnis ini bisa eksis karena beking para pejabat. Menurut Anton, pejabat membutuhkan preman untuk mempermudah pekerjaannya. Contohnya, penggusuran tanah. Dengan bantuan “pendekar”, bisa dipastikan penggusuran tanah bisa dilakukan. Mereka juga membutuhkan preman ketika kekuasaannya terancam oleh aksi massa. Saat itulah sosok preman dimajukan. Sementara preman membutuhkan pejabat untuk melindunginya dari cengkeraman polisi.

Pada masa Orde baru dulu, para preman menjadi sasaran peluru penembak misterius (petrus). Investigasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan mencatat korban tewas petrus pada 1983 sekitar 532 orang, dan sepanjang 1984 dan 1985 sebanyak 181 orang (tempo.com).

Berikut sekilas daftar beberapa kelompok yang ikut beradu kuat di Ibukota Jakarta

Pemuda Pancasila

Pemuda Pancasila yang didirikan oleh IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 28 Oktober 1959.Anggota Pemuda Pancasila banyak dari anak tentara, kelompok ini dikenal punya hubungan yang erat dengan penguasa. Di Jakarta Pemuda Pancasila mengelola beberapa lahan parker dan menyadiakan jasa keamanan. PP pernah beberapa kali bentrok dengan FBR karena urusan lahan parker.

Front Pembela Islam

FPI didirikan 17 Agustus 1998 oleh Muhammad Rizieq bin Husein Syihab di Jalan Petamburan III Nomor 83, Jakarta Pusat. Beberapa jenderal TNI dan Polri mendukung pendirian FPI, di antaranya mantan Kepala Polda Metro Jaya Komisaris Jenderal Nugroho Jayusman. Kelompok ini lebih focus pada pemberantasan tempat maksiat. Dengan anggota hampir 15 juta ini, FPI menjadi sangat kuat dan di segani khususnya di Ibukota. Kelompok preman ibukota yang menjaga tempat-tempat maksiat seringkali menjadi sasaran dari FPI.

Amkei

Angkatan Muda Kei (AmKei) didirikan bulan Mei 1998 oleh keluarga Kei dengan ketua John Refra atau John Kei. Organisasi terbentuk pascakerusuhan Tual, Maluku, pada Maret 1999. Kelompok ini mengklaim memiliki 12 ribu pengikut.

Forkabi

Foum Komunikasi anak Betawi (Forkabi) dideklarasikan di Kramat Sentiong, Jakarta Pusat.Organisasi ini bernaung di bawah Badan Musyawarah Betawi (Bamus Betawi). Mungkin karena bosan kampungnya Jakarta menjadi ajang pertaruhan dan lahan bisnis pendatang, maka sekelompok anak Betawi lantas membuat sebuah organisasi yang kuat.

FBR

29 Juli 2001 berdiri sebuah organisasi bernama Forum Betawi Rempug  oleh KH Fadloli el-Muhir (almarhum) dengan jumlah pengikut saat pendirian 400 ribu orang. FBR walau sering mambawa panji agama seperti ikut mendemo majalah Playboy, kelompok ini acap kali bentrok karena urusan lahan parker dengan kelompok lain bahkan dengan Forkabi.

Preman etnis

Masih ada beberapa kelompok lain yang tampil dengan nama daerah seperti kelompok Flores dengan pimpinannya Thalib Makarim, kelompok Ambon dengan Onghen Sangaji, kelompok Banten dll.

Salam


##################################################
Hercules itu Preman Cerdas
Banyak orang yang bilang kalau sebenarnya mereka lebih takut kepada preman daripada polisi. Saya gak mau mendebat cara pemikiran mereka lebih takut siapa. Sebenarnya di negara kita istilah preman jauh lebih popular dari istilah gangster atau mafia. Semua datang ke ibukota karena Jakarta merupakan magnet besar yang menyedot banyak orang untuk datang. Gak peduli punya ijazah atau tanpa ijazah cuma modal nekat bayak orang dari daerah kemudian mengadu peruntungan di kerasnya kehidupan ibukota. Sasarannya jelas duit di Jakarta sangat banyak dan persaingan di Ibukota membuka orang-orang keras dan berjiwa keras untuk menjamahnya.


Seperti sudah diketahui, dalam bisnis pembebasan lahan, bisnis jasa keamanan, bisnis debt collector dan bisnis perparkiran hasilnya sangat menggiurkan. Di keempat bisnis ini duit milyaran bisa dengan mudah di dapatkan, modalnya cukup nyali dan keberanian.


Warga ibukota sudah banyak yang mengenal sosok John kei. Nama aslinya John Refra pemuda asal kepulauan Kei di sebelah tenggara Maluku. Bersama keluarga dan pemuda kampungnya John Kei mengorganisir sebuah bisnis jasa keamanan dan penagihan yang cukup besar.Terakhir John Kei tersangkut kasus hukum yang ditahan oleh aparat. Bagi pemuda Maluku Tenggara, John Kei merupakan The Godfather.


Sebelum masa John Kei yang pertama mengguncang ibukota adalah Hercules. Ia semula pemuda Timor yang direkrut Komando Pasukan Khusus, atau Kopassus, pada saat proses integrasi wilayah itu ke Indonesia. Hercules menetap di Jakarta, dan segera merajai dunia para jagoan. Ia menguasai Tanah Abang. Namanya pun selalu dekat dengan kekerasan. Akhirnya pada 1996, ia tak mampu mempertahankan kekuasaannya di pasar terbesar se-Asia Tenggara itu. Kelompoknya dikalahkan dalam pertikaian dengan kelompok Betawi pimpinan Bang Ucu Kambing. Setelah masa Hercules surut, muncul kemudian kelompok kelompok lainnya


DI Indonesia khususnya di ibukota, kelompok preman membentuk jaringannya dengan kultur daerah asal. Hingga muncullah kelompok preman etnis seperti Preman Madura, preman Ambon, preman Flores, Preman Maluku, Preman Banten, Preman Betawi.Tidak jarang karena kepentingan bisnis ini sering terjadi bentrok diantara preman etnis ini.


Saat ini di Indonesia menggejala fenomena preman yang semakin sopan. Bahkan, mereka membentuk wadah organisasi resmi berbadan hukum, yang sekarang lagi trend untuk jasa pengamanan dan gerakan sosial. Mereka nampak belajar bahwa semakin kuat supremasi hukum, maka semakin tersudut mereka, dan semakin tinggi tuntutan penyesuaian diri. Seperti apa yang dilakukan oleh seorang Hercules Rozario Marshal bertransformasi. Dulu ia preman paling ditakuti di seantero Jakarta. Sekarang, Hercules menjadi ikon perubahan bagi dunia preman dengan mendirikan dan menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Organisasi Kemasyarakatan Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB).


Seorang Hercules nampak sigap membaca tanda-tanda zaman. Segera bertobat dan menyesuaikan diri dengan tuntutan keadaan. Era demokrasi dan supremasi hukum menuntut penyesuaian dengan dunia hukum. Inilah contoh preman cerdas. Nah, ini baru preman yang sebenarnya! Preman sejati penuh cinta, sayang keluarga, sayang ibu, peduli sosial, dan nasionalis. Lengkaplah seorang Hercules: nasionalis, bernyali, humanis, dan organisatoris.


Yang terlambat menyesuaikan diri cepat atau lambat akan ditangkap polisi, entah untuk kasus apa. Atau, kalau tidak, si preman akan tewas menggenaskan. Anton Medan dan Hercules terselamatkan dari kematian tragis dengan penyesuaian dan pertobatannya. Sekuat apapun preman, bahkan sekelas organisasi preman terkuat di dunia Yakuza di Jepang dengan anggota ratusan ribu, akan digilas oleh hukum negara dan dunia.
 
##################################################
John Kei vs Hercules (Kisah Dua Pendekar Metropolitan)

Jhon Refra Kei
Jhon Refra Kei atau yang biasa disebut Jhon Kei, tokoh pemuda asal Maluku yang lekat dengan dunia kekerasan di Ibukota. Namanya semakin berkibar ketika tokoh pemuda asal Maluku Utara pula, Basri Sangaji meninggal dalam suatu pembunuhan sadis di hotel Kebayoran Inn di Jakarta Selatan pada 12 Oktober 2004 lalu. Padahal dua nama tokoh pemuda itu seperti saling bersaing demi mendapatkan nama lebih besar. Dengan kematian Basri, nama Jhon Kei seperti tanpa saingan. Ia bersama kelompoknya seperti momok menakutkan bagi warga di Jakarta.

Untuk diketahui, Jhon Kei merupakan pimpinan dari sebuah himpunan para pemuda Ambon asal Pulau Kei di Maluku Tenggara. Mereka berhimpun pasca-kerusuhan di Tual, Pulau Kei pada Mei 2000 lalu. Nama resmi himpunan pemuda itu Angkatan Muda Kei (AMKEI) dengan Jhon Kei sebagai pimpinan. Ia bahkan mengklaim kalau anggota AMKEI mencapai 12 ribu orang.

Lewat organisasi itu, Jhon mulai mengelola bisnisnya sebagai debt collector alias penagih utang.Usaha jasa penagihan utang semakin laris ketika kelompok penagih utang yang lain, yang ditenggarai pimpinannya adalah Basri Sangaji tewas terbunuh. Para ‘klien’ kelompok Basri Sangaji mengalihkan ordernya ke kelompok Jhon Kei. Aroma menyengat yang timbul di belakang pembunuhan itu adalah persaingan antara dua kelompok penagih utang.

Bahkan pertumpahan darah besar-besaran hampir terjadi tatkala ratusan orang bersenjata parang, panah, pedang, golok, celurit saling berhadapan di Jalan Ampera Jaksel persis di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada awal Maret 2005 lalu. Saat itu sidang pembacaan tuntutan terhadap terdakwa pembunuhan Basri Sangaji. Beruntung 8 SSK Brimob Polda Metro Jaya bersenjata lengkap dapat mencegah terjadinya bentrokan itu.

Sebenarnya pembunuhan terhadap Basri ini bukan tanpa pangkal, konon pembunuhan ini bermula dari bentrokan antara kelompok Basri dan kelompok Jhon Keidi sebuah Diskotik Stadium di kawasan Taman Sari Jakarta Barat pada 2 Maret 2004 lalu. Saat itu kelompok Basri mendapat ‘order’ untuk menjaga diskotik itu. Namun mendadak diserbu puluhan anak buah Jhon Kei Dalam aksi penyerbuan itu, dua anak buah Basri yang menjadi petugas security di diskotik tersebut tewas dan belasan terluka.

Polisi bertindak cepat, beberapa pelaku pembunuhan ditangkap dan ditahan. Kasusnya disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Namun pada 8 Juni di tahun yang sama saat sidang mendengarkan saksi-saksi yang dihadiri puluhan anggota kelompok Basri dan Jhon Kei meletus bentrokan. Seorang anggota Jhon Kei yang bernama Walterus Refra Kei alias Semmy Kei terbunuh di ruang pengadilan PN Jakbar. Korban yang terbunuh itu justru kakak kandung Jhon Key, hal ini menjadi salah satu faktor pembunuhan terhadap Basri, selain persaingan bisnis juga ditunggangi dendam pribadi.


jhon-kei.jpg
Pada Juni 2007 aparat Polsek Tebet Jaksel juga pernah meminta keterangan Jhon Keimenyusul bentrokan yang terjadi di depan kantor DPD PDI Perjuangan Jalan Tebet Raya No.46 Jaksel. Kabarnya bentrokan itu terkait penagihan utang yang dilakukan kelompok Jhon Keiterhadap salah seorang kader PDI Perjuangan di kantor itu. Bukan itu saja, di tahun yang sama kelompok ini juga pernah mengamuk di depan Diskotik Hailai Jakut hingga memecahkan kaca-kaca di sana tanpa sebab yang jelas.

Sebuah sumber dari seseorang yang pernah berkecimpung di kalangan jasa penagihan utang menyebutkan, Jhon Kei dan kelompoknya meminta komisi 10 persen sampai 80 persen. Persentase dilihat dari besaran tagihan dan lama waktu penunggakan. “Tapi setiap kelompok biasanya mengambil komisi dari kedua hal itu,” ujar sumber tersebut.

Dijelaskannya, kalau kelompok John, Sangaji atau Hercules yang merupakan 3 Besar Debt Collector Ibukota biasanya baru melayani tagihan di atas Rp 500 juta. Menurutnya, jauh sebelum muncul dan merajalelanya ketiga kelompok itu, jasa penagihan utang terbesar dan paling disegani adalah kelompok pimpinan mantan gembong perampok Johny Sembiring, kelompoknya bubar saat Johny Sembiring dibunuh sekelompok orang di persimpangan Matraman Jakarta Timur tahun 1996 lalu.

Kalau kelompok tiga besar itu biasa main besar dengan tagihan di atas Rp 500 juta’an, di bawah itu biasanya dialihkan ke kelompok yang lebih kecil. Persentase komisinya pun dilihat dari lamanya waktu nunggak, semakin lama utang tak terbayar maka semakin besar pula komisinya,” ungkap sumber itu lagi.Dibeberkannya, kalau utang yang ditagih itu masih di bawah satu tahun maka komisinya paling banter 20 persen. Tapi kalau utang yang ditagih sudah mencapai 10 tahun tak terbayar maka komisinya dapat mencapai 80 persen.

Bahkan menurut sumber tersebut, kelompok penagih bisa menempatkan beberapa anggotanya secara menyamar hingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu atau berbulan-bulan di dekat rumah orang yang ditagih. “Pokoknya perintahnya, dapatkan orang yang ditagih itu dengan cara apa pun,” ujarnya.
Saat itulah kekerasan kerap muncul ketika orang yang dicari-carinya apalagi dalam waktu yang lama didapatkannya namun orang itu tak bersedia membayar utangnya dengan berbagai dalih. “Dengan cara apa pun orang itu dipaksa membayar, kalau perlu culik anggota keluarganya dan menyita semua hartanya,” lontarnya.

Dilanjutkannya, ketika penagihan berhasil walaupun dengan cara diecer alias dicicil, maka saat itu juga komisi diperoleh kelompok penagih. “Misalnya total tagihan Rp 1 miliar dengan perjanjian komisi 50 persen, tapi dalam pertemuan pertama si tertagih baru dapat membayar Rp 100 juta, maka kelompok penagih langsung mengambil komisinya Rp 50 juta dan sisanya baru diserahkan kepada pemberi kuasa. Begitu seterusnya sampai lunas. Akhirnya walaupun si tertagih tak dapat melunasi maka kelompok penagih sudah memperoleh komisinya dari pembayaran-pembayaran sebelumnya,”

Dalam ‘dunia persilatan’ Ibukota, khususnya dalam bisnis debt collector ini, kekerasan kerap muncul diantara sesama kelompok penagih utang. Ia mencontohkan pernah terjadi bentrokan berdarah di kawasan Jalan Kemang IV Jaksel pada pertengahan Mei 2002 silam, dimana kelompok Basri Sangaji saat itu sedang menagih seorang pengusaha di rumahnya di kawasan Kemang itu, mendadak sang pengusaha itu menghubungi Hercules yang biasa ‘dipakainya’ untuk menagih utang pula.

“Hercules sempat ditembak beberapa kali, tapi dia hanya luka-luka saja dan bibirnya terluka karena terserempet peluru. Dia sempat menjalani perawatan cukup lama di sebuah rumah sakit di kawasan Kebon Jeruk Jakbar. Beberapa anak buah Hercules juga terluka, tapi dari kelompok Basri seorang anak buahnya terbunuh dan beberapa juga terluka,” tutupnya.

Selain jasa penagihan utang, kelompok Jhon Kei juga bergerak di bidang jasa pengawalan lahan dan tempat. Kelompok Jhon Kei semakin mendapatkan banyak ‘klien’ tatkala Basri Sangaji tewas terbunuh dan anggota keloompoknya tercerai berai. Padahal Basri Sangaji bersama kelompoknya memiliki nama besar pula dimana Basri CS pernah dipercaya terpidana kasus pembobol Bank BNI, Adrian Waworunto untuk menarik aset-asetnya. Tersiar kabar, Jamal Sangaji yang masih adik sepupu Basri yang jari-jari tangannya tertebas senjata tajam dalam peristiwa pembunuhan Basri menggantikan posisi Basri sebagai pimpinan dengan dibantu adiknya Ongen Sangaji.

Kelompok Jhon Kei pernah mendapat ‘order’ untuk menjaga lahan kosong di kawasan perumahan Permata Buana, Kembangan Jakarta Barat. Namun dalam menjalankan ‘tugas’ kelompok ini pernah mendapat serbuan dari kelompok Pendekar Banten yang merupakan bagian dari Persatuan Pendekar Persilatan Seni Budaya Banten Indonesia (PPPSBBI).

Sekedar diketahui, markas dan wilayah kerja mereka sebetulnya di Serang dan areal Provinsi Banten. Kepergian ratusan pendekar Banten itu ke Jakarta untuk menyerbu kelompok Jhon Kei pada 29 Mei 2005 ternyata di luar pengetahuan induk organisasinya. Kelompok penyerbu itu pun belum mengenal seluk-beluk Ibukota.

Akibatnya, seorang anggota Pendekar Banten bernama Jauhari tewas terbunuh dalam bentrokan itu. Selain itu sembilan anggota Pendekar Banten terluka dan 13 mobil dirusak. 3 SSK Brimob PMJ dibantu aparat Polres Jakarta Barat berhasil mengusir kedua kelompok yang bertikai dari areal lahan seluas 5.500 meter persegi di Perum Permata Buana Blok L/4, Kembangan Utara Jakbar. Namun buntut dari kasus ini, Jhon Kei hanya dimintakan keterangannya saja.

Sebuah sumber dari kalangan ini mengatakan kelompok penjaga lahan seperti kelompok Jhon Kei biasanya menempatkan anggotanya di lahan yang dipersengketakan. Besarnya honor disesuaikan dengan luasnya lahan, siapa pemiliknya, dan siapa lawan yang akan dihadapinya.

“Semakin kuat lawan itu, semakin besar pula biaya pengamanannya. Kisaran nominal upahnya, bisa mencapai milyaran rupiah. Perjanjian honor atau upah dibuat antara pemilik lahan atau pihak yang mengklaim lahan itu milikya dengan pihak pengaman. Perjanjian itu bisa termasuk ongkos operasi sehari-hari bisa juga diluarnya, misalnya untuk sebuah lahan sengketa diperlukan 50 orang penjaga maka untuk logistik diperlukan Rp 100 ribu per orang per hari, maka harus disediakan Rp 5 juta/hari atau langsung Rp 150 juta untuk sebulan.
Selain pengamanan lahan sengketa, ada pula pengamanan asset yang diincar pihak lain maupun menjaga lokasi hiburan malam dari ancaman pengunjung yang membikin onar maupun ancaman pemerasan dengan dalih ‘jasa pengamanan’ oleh kelompok lain, walau begitu tapi tetap saja mekanisme kerja dan pembayarannya sama dengan pengamanan lahan sengketa.


hercules.jpg

Hercules, Sang Penguasa Tanah Abang
Ia merupakan seorang pejuang yang pro terhadap NKRI ketika terjadi ketegangan Timor-timur sebelum akhirnya merdeka pada tahun 1999. Maka tak salah jika sosoknya yang begitu berkarisma ia dipercaya memegang logistik oleh KOPASUS ketika menggelar operasi di Tim-tim.

Namun nasib lain hinggap pada dirinya, musibah yang dialaminya di Tim-tim kala itu memaksa dirinya menjalani perawatan intensif di RSPAD Jakarta. Dan dari situlah perjalanan hidupnya menjadi Hercules yang di kenal sampai sekarang, ia jalani.

Hidup di Jakarta tepatnya di daerah Tanah Abang yang terkenal dengan daerah ‘Lembah Hitam’, seperti diungkapkan Hercules daerah itu disebutnya sebagai daerah yang tak bertuan, bahkan setiap malamnya kerap terjadi pembacokan dan perkelahian antar preman.

Hampir setiap malam pertarungan demi pertarungan harus dia hadapi. “Waktu itu saya masih tidur di kolong-kolong jembatan. Tidur ngak bisa tenang. Pedang selalu menempel di badan. Mandi juga selalu bawa pedang. Sebab setiap saat musuh bisa menyerang,” ungkapnya.

Hercules Rosario de Marshal alias Hercules
Rasanya tidak percaya Hercules preman yang paling ditakuti, setidaknya di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta. Tubuhnya tidak begitu tinggi. Badannya kurus. Hanya tangan kirinya yang berfungsi dengan baik. Sedangkan tangan kananya sebatas siku menggunakan tangan palsu. Sementara bola mata kanannya sudah digantikan dengan bola mata buatan.

Tapi setiap kali nama Hercules disebut, yang terbayang adalah kengerian. Banyak sudah cerita tentang sepak terjang Hercules dan kelompoknya. Sebut saja kasus penyerbuan Harian Indopos gara-gara Hercules merasa pemberitaan di suratkabar itu merugikan dia. Juga tentang pendudukan tanah di beberapa kawasan Jakarta yang menyebabkan terjadi bentrokan antar-preman.

Tak heran jika bagi warga Jakarta dan sekitarnya, nama Hercules identik dengan Tanah Abang.Meski tubuhnya kecil, nyali pemuda kelahiran Timtim (kini Timor Leste) ini diakui sangat besar. Dalam tawuran antar-kelompok Hercules sering memimpin langsung. Pernah suatu kali dia dijebak dan dibacok 16 bacokan hingga harus masuk ICU, tapi ternyata tak kunjung tewas. Bahkan suatu ketika, dalam suatu perkelahian, sebuah peluru menembus matanya hingga ke bagian belakang kepala tapi tak juga membuat nyawa pemuda berambut keriting ini tamat. Ada isu dia memang punya ilmu kebal yang diperolehnya dari seorang pendekar di Badui Dalam.

Ternyata, di balik sosok yang menyeramkan ini, ada sisi lain yang belum banyak diketahui orang. Dalam banyak peristiwa kebakaran, ternyata Hercules menyumbang berton-ton beras kepada para korban. Termasuk buku-buku tulis dan buku pelajaran bagi anak-anak korban kebakaran. Begitu juga ketika terjadi bencana tsunami di beberapa wilayah, Hercules memberi sumbangan beras dan pakaian.

Bahkan juga bantuan bahan bangunan dan semen untuk pembangunan masjid-masjid. Sisi lain yang menarik dari Hercules adalah kepeduliannya pada pendidikan. “Saya memang tidak tamat SMA. Tapi saya menyadari pendidikan itu penting,” ujar ayah tiga anak ini.

Maka jangan kaget jika Hercules menyekolahkan ketiga anaknya di sebuah sekolah internasional yang relatif uang sekolahnya mahal. Bukan Cuma itu, ketika Lembaga Pendidikan Kesekretarisan Saint Mary menghadapi masalah, Hercules ikut andil menyelesaikannya, termasuk menyuntikan modal agar lembaga pendidikan itu bisa terus berjalan dan berkembang.
 
##################################################
Salut sama Hercules, Ada Musibah langsung Turun Tangan

Siapa yang gak kenal Hercules, apalagi buat warga Jakarta. Seorang tokoh yang telah meninggalkan dunia hitam dan sekarang menjadi pengusaha. Tanpa tunggu waktu lama selalu siap memberikan bantuan pada korban musibah bagi warga jakarta. Walau jarang terekspos media, Hercules selalu rajin membantu sesama yang membutuhkan.

Dulu saat masih turun di medan laga, nama Hercules identik dengan Tanah Abang.Meski tubuhnya kecil, nyali pemuda kelahiran Timtim (kini Timor Leste) ini diakui sangat besar. Dalam tawuran antar-kelompok Hercules sering memimpin langsung. Ternyata, di balik sosok yang menyeramkan ini, ada sisi lain yang belum banyak diketahui orang. Dalam banyak peristiwa kebakaran, ternyata Hercules menyumbang berton-ton beras kepada para korban. Termasuk buku-buku tulis dan buku pelajaran bagi anak-anak korban kebakaran. Begitu juga ketika terjadi bencana tsunami di beberapa wilayah, Hercules memberi sumbangan beras dan pakaian.

Bahkan juga bantuan bahan bangunan dan semen untuk pembangunan masjid-masjid. Sisi lain yang menarik dari Hercules adalah kepeduliannya pada pendidikan. “Saya memang tidak tamat SMA. Tapi saya menyadari pendidikan itu penting,” ujar ayah tiga anak ini.

Tentu saja dia juga berkomentar tentang premanisme. Dia minta polisi tak segan menembak preman.

"Kalau melawan, tembak. Kalau perlu tembak di kepala. Ini bukan masalah pelanggaran HAM. Aparat kepolisian harus menindak tegas preman dan organisasinya," kata Hercules di Jl Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Minggu (26/2/2012).

Di situlah Hercules memberikan bantuan kepada korban kebakaran. Bantuan berupa mie instan, beras dan juga air mineral ini diangkut menggunakan truk dan langsung dibagikan ke korban. Hercules datang dengan membawa bendera Gerakan Rakyat Indonesia Baru. Dia datang bersama 100-an orang. Mereka mengenakan seragam kemeja coklat muda dan berkerah merah dengan tulisan identitas ormas.

##################################################
Hercules, Riwayatmu Kini..
Hercules Bersama Prabowo Subianto saat Operasi Seroja di Timor-Timur

Fenomena preman di Indonesia saya pikir sudah ada sejak lama, dan pemberitaannya makin berkembang pada saat ekonomi semakin sulit dan angka pengangguran semakin tinggi. Akibatnya kelompok masyarakat usia kerja mulai mencari cara untuk mendapatkan penghasilan, biasanya melalui pemerasan dalam bentuk penyediaan jasa yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Preman sangat identik dengan dunia kriminal dan kekerasan karena memang kegiatan preman tidak lepas dari kedua hal tersebut.

Bila warga Jakarta mendengar nama Hercules, maka nama tersebut selalu identik dengan kawasan Tanah Abang. Hercules dikenal sebagi preman dan 'penguasa' Jakarta dari balik layar. Di balik cerita-cerita seram mengenai dirinya, jarang yang mengetahui bahwa ternyata Hercules adalah penerima penghargaan Bintang Seroja dari pemerintah, saat bergerilya di Timor Timur.

Banyak cerita dari pria yang bernama lengkap Hercules Rozario Marshal ini. Mulai sepak terjangnya ketika memulai menjadi preman di Jakarta, isu kedekatannya dengan Prabowo Subianto, hingga pengakuannya yang kini belum pernah membunuh orang dan soal mitos yang menyebut dirinya kebal peluru. Hercules juga tidak setuju jika debt collector disamakan dengan preman. Dia mengatakan jasa penagihan tidak akan pernah ada jika hukum ditegakkan.

"Ini perlu kami klarifikasi ke masyarakat, supaya tidak dibodohi terus. Pejabat-pejabat yang bilang preman itu bodoh," kata Ketua Gerakan Rakyat Indonesia Baru dalam sebuah perbincangan dengan VIVAnews. Menurutnya para pengusaha itu sengaja menyewa debt collector karena aparat penegak hukum tidak dapat bertindak tegas pada sejumlah kasus utang piutang.

"Utang itu harus dibayar. Tapi polisi tak mau tangkap. Maka itulah ada debt collector," kata dia. Dia menuding preman yang sebenarnya adalah penjahat berkerah putih. "Sehingga kalau preman ada masalah, lalu dibesar-besarkan," kata dia.

Hercules menambahkan, seharusnya, kata dia, pemerintah dapat menjelaskan kepada masyarakat preman mana yang harus dibasmi, organisasi mana yang harus dibubarkan. "Preman yang dibasmi itu yang mencuri, merampok, membunuh. Tetapi kalau berkelahi itu ada sesuatu yang dipertahankan karena hukum tidak adil. Sehingga terjadilah jual jasa," ucapnya.

Menurut pengakuan Hercules, dirinya masuk ke Jakarta pada sekitar tahun 1987. Awalnya Hercules masuk di Hankam Seroja penyandang cacat saat dirinya mendapatkan luka di bagian tangan dalam Operasi Seroja dan mendapatkan pelatihan keterampilan di sana. Bersama teman-temannya dari Timor Timur, Hercules mulai membangun daerah kekuasannya di Tanah Abang. Dari kelompok kecil, kini Hercules membawahi sekitar 17.000 orang 'pasukannya' yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta.

Sejak tahun 2006 lalu, Hercules memutuskan memulai pertobatannya. Kini Hercules mengaku memasuki dunia bisnis seperti kapal, dan perikanan. "Manusia hidup sementara. Mati akan dipanggil satu-satu, tinggal menunggu kematian. Sekarang, saya sadar, saya bertobat, masuk dunia bisnis dan membantu manusia yang membutuhkan," kata Hercules yang menyebut pertobatan Hercules ini dimulai sejak 10 tahun yang lalu.

Hercules pun membuat ormas yang disebutnya sebagai Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB). Dengan ormas ini Hercules berharap dapat membantu masyarakat lainya yang terkena musibah.

Tak hanya berkomentar mengenai aksi premanisme di Jakarta saja, Hercules juga turut berkomentar mengenai Pilpres 2014. Hercules menuturkan ia menginstruksikan kepada seluruh anggota GRIB untuk mendukung Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto sebagai Presiden pada 2014. “Pak Prabowo sudah kaya dari sananya, tidak mungkin korupsi. Beliau juga bertanggung jawab serta bijaksana, dan pantas diusung sebagai Capres 2014,” ujar Hercules, Minggu (26/2/2012).

Hercules sekarang bukanlah seperti Hercules yang dulu, tergambar dari cerita perjalanan hidupnya menjadi Hercules yang di kenal sampai sekarang. Dalam tayangan ILC (Indonesia Lawyers Club) tadi malam(28/2), orang yang dulu di juluki Penguasa preman Tanah Abang itu terang terangan menjelaskan siapa dia, termasuk memperkenalkan istrinya yang cantik itu dan semua apa yang telah dia perbuat dan rencanya ke depan, yang saya dengar tadi malam termasuk rencana menghadapi pemilu tahun 2014 yang akan datang.

################################################## 
John Kei


Berita & Cerita Terkini

Jum'at siang, John Kei resmi ditahan Polda Metro Jaya. Penahanan John Kei terkait kasus dugaan pembunuhan bos PT Sanex Steel, Tan Hary Tantono alias Ayung. "Ditahan ya ditahan saja," kata Mapolda Metro Jaya Brigjen Pol Untung S rajab.

Menurut Untung, penangkapan John Kei berujung pada penahanannya. Untuk masalah kesehatan, polisi akan tetap melakukan pengobatan terhadapnya. "kalau sakitnya tidak berbahaya ya dipindah ke tahanan Polda," tambahnya.

Dalam kesempatan terpisah, Kabid Humas Polda Mtero Jaya, Kombes Pol Rikwanto, mengatakan penahanan John Kei tidak termasuk dalam hitungan saat ia dirawat beberapa hari di rumah sakit Polri, Kramat Jati. "Selama kemarin diperiksa tidak masuk dalam hitungan tahanan," ujarnya.

Seperti diketahui sebelumnya, John Kei ditangkap oleh polisi pada beberapa minggu yang lalu karena terkait dengan kasus dugaan pembunuhan mantan bos PT Sanex Steel. Dalam penangkapan itu, John tidak sendiri, ada seorang wanita yang merupakan artis era tahun 80-an dimana pernah bermain dalam film warkop bersama Indro yaitu Alba Fuad. Keduanya tertangkap ketika sedang mengkonsumsi sabu di sebuah hotel di bilangan Pulomas, Jakarta Timur.

(Sumber kutipan : Detik.com)

Info Tambahan

John Kei memang dikenal memiliki bisnis jasa pengamanan yang cakupannya cukup luas. Di Ibu Kota sendiri, bisnis tersebut menguasai wilayah Tanjung priok sampai Tanah Abang. Bahkan bisnisnya telah mencapai luar negeri yaitu hingga Singapura dan Australia.

Kelompok pemuda pimpinan John Kei populer dengan nama pemuda Kei. Dibawah kepemimpinannya, kelompok ini bergerak di jasa pengamanan dan penagihan utang. Selain itu, mereka juga menguasai pusat perbelanjaan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kelompok ini memang banyak berbisnis di bidang jasa pengamanan tempat hiburan, pembebasan lahan dan tempat parkir.

Kompetitor kelompok John Kei berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dipimpin oleh Tharib Makarim. Mereka menguasai pusat hiburan elite di daerah Jakarta Selatan. Lingkungan Blok M dan daerah Melawai pun dikuasai olehnya.

Salah satu tempat hiburan ternama yang dikuasai kelompok Thalib adalah "Blowfish Kitchen and Bar" yang berada di gedung Menara Mulia, Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Di tempat itulah Tharib cs bertugas menjaga keamanan.

Pada 4 April 2010, bentrokan antara kelompok Kei dan Tharib pun terjadi bahkan mengakibatkan dua anggota kelompok Kei tewas. Bentrokan blowfih pun kembali berlanjut dalam persidangan 29 September 2010 di depan Pengadilan negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya. Sidang tersebut menyulut pertikaian yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan puluhan luka-luka.

Dan ditahun ini, ia diduga membunuh seorang pengusaha yang bernama Tan harry Tantono atau Ayung. Dari keterangang yang disampaikan oleh polisi, bos PT Sanex Steel ini dibunuh karena masalah fee yang belum dibayarkan ke John Kei.

Biografi Singkat

Kata "Kei" pada John Kei merupakan nama daerah tempatnya berasal yaitu pulau Kei di Maluku Tenggara. Ia adalah anak kelima dari dari enam bersaudara yang berasal dari keluarga yang sederhana. Berkelahi adalah hobinya sejak kecil, karena itu pula lah dirinya dikeluarkan dari sekolah saat duduk di bangku SMA Negeri Tual pada umur 17 tahun.

Setelah dikeluarkan dari sekolah John lari ke Surabaya, bahkan ia sempat menjual celananya untuk membeli sebungkus nasi dan jalanan adalah tempatnya ia beristirahat di kala malam. Tahun 1990, John kembali berkelana. Kali ini ia memilihi Jakarta untuk hijrah. Selama tinggal di Jakarta, ia pernah berprofesi sebagai pencari bakat tinju. Tahun 1997, ia menikah dengan seorang wanita yang bernama Yulianti dan dikaruniai lima orang anak.

Menjadi seorang intelejen adalah cita-citanya sejak lama, karenanya ia mengagumi Mossad. Meski tidak bisa menjadi intelejen, ia mewariskan cita-citanya itu kepada anaknya. Maka tak heran bila salah satu anaknya dinamakan Mossad.

Nama John Kei sendiri mulai dikenal ketika pada bulan Mei 2000 tepatnya pasca kerusuhan di Tual, Pulau Kei. Ia mendirikan sebuah organisasi Angkatan Muda Kei (AMKEI) yang anggotanya mencapai belasan ribu orang. Selain itu, John juga dikenal mempunyai banyak massa pendukung yang loyal , berani dan bernyali. Karenanya tak heran bila dirinya menjadi sosok yang cukup disegani oleh kalangannya.

Lewat organisasi tersebut, John mulai mengelola bisnisnya sebagai debt collector atau penagih hutang. Usaha itu semakin laris ketika Basri Sangaji, pimpinan penagih hutang lain tewas. Sehingga para klien Sangaji pun pindah kepadanya.

Banyak yang menduga bahwa terbunuhnya Basri merupakan buntut persaingan dua kelompok penagih hutang tersebut. Tudingan semakin kuat ketika di pengadilan terbukti pelaku pembunuhan itu tak lain adalah beberapa anak buah dari John Kei. Bahkan pertumpahan darah besar-besaran hampir saja terjadi tatkala ratusan orang bersenjata parang, panah, pedang, golok dan celurit berhadapan di depan Pengadilan Negeri, di jalan Ampera pada Maret 2005.

Sebenarnya pembunuhan itu bukan tanpa pangkal. Konon kasus tersebut bermula dari bentrokan kelompok Basri dengan kelompok John Kei di diskotek Stadium di kawasan Taman Sari, Jakarta Barat tahun 2004.

Saat itu, kelompok Basri mendaparkan "order" untuk menjaga diskotek tersebut, namun mendadak diserbu oleh puluhan anak buah John Kei. Dalam penyerbuan itu, dua anak buah Basri yang menjadi petugas kemanan di diskotek itu tewas dan belasan terluka. Polisi pun bertindak cepat setelah kejadian ini dan beberapa pelaku pun ditahan serta diadili.

Tanggal 8 Juni ditahun yang sama, kasus tersebut disidangkan di Pengadilan negeri Jakarta Barat. Saat sedang mendengarkan keterangan dari saksi, meletuslah kembali pertikaian diantara keduanya. Sebuah tembakan pun terdengar di ruang sidang dan mengenai seorang anggota John Kei bernama Walterus Refra Kei alias Semmy Kei yang tak lain adalah kakak kandungnya.


##################################################
Kisah Tokoh Preman Legendaris Indonesia

kisah-tokoh-preman-legendaris-indonesia
Bang Timong, Si Arsitek Pelarian

"Saudara-saudara. Penjaga di sini nggak bisa apa-apa. Anda bisa saja lari. Tapi maafkan kami kalau kami salah menembak. Yang biasa kami tembak biasanya kaki, tetapi kenanya selalu kepala." Demikianlah pidato ritual sipir penjara di Pulau Nusakambangan, setiap kali menyambut serombongan narapidana yang datang. Kata-kata yang diucapkan dengan nada yang ramah itu diingat benar oleh Nanggo Kromen alias Bernard Timong, ketika dia datang ke Nusakambangan pada 1981.

Kabarnya kini Nanggo menjadi preman di Terminal Kampungrambutan, Jakarta, setelah bisa meloloskan diri dari Nusakambangan. Bang Timong, demikian nama ngetopnya, sangat dikenal di seantero terminal. Pokoknya, bila seseorang dikenal sebagai saudara atau teman Bang Timong, niscaya dia bisa naik bus dari Kampungrambutan ke kota mana pun, tanpa bayar. Dan, Bang Timong menceritakan pengalamannya lari dari Nusakambangan, yang secara tidak sengaja dia menjadi teman sepelarian Johny Indo.

Nanggo, terpidana 10 tahun karena pembunuhan, sudah berniat kabur sejak semula. Pasalnya, laki-laki berperawakan sedang, berambut keriting, berkulit legam itu berjanji kepada teman-temannya di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang-penjaranya sejak 1976, sebelum dia dipindah ke Nusakambangan-untuk sebentar saja di Nusakambangan.

Menurut Nanggo, semua hal di Nusakambangan membuat orang ingin kabur. "Makanan membuat orang memberontak, lari dari Nusakambangan," kata Nanggo. Para napi seharusnya memperoleh 3,5 ons sehari, tapi dikurangi oleh penjaga. Ketika napi memprotes soal makanan, sipir memberi pemberat pada timbangannya, sehingga jumlah makanan tetap seperti seharusnya. "Mereka juga berjanji memperbaiki, tapi sayur kangkungnya tetap saja hitam sekotor comberan," kata Nanggo. Setelah delapan bulan di penjara, Nanggo mulai bersiasat untuk kabur. Tapi pria kelahiran Flores itu tidak merencanakannya sendirian. Masih ada tujuh orang yang terlibat dalam rencana pelarian. Komunikasi mereka lakukan saat bekerja di ladang atau melalui kurir. Mereka "mempekerjakan" Guto, napi asal Semarang sebagai kurir. Bila berita bocor, si kurir itu yang akan dibunuh.

Selama tiga bulan, para napi yang akan kabur itu merapikan strategi. Adalah Sugeng, salah satu napi, yang bertugas menghitung kapan harus kabur berdasar primbon. Akhirnya, ketemu tanggal 20 Mei 1982, antara pukul 12.00 dan 18.00. "Lebih dari waktu itu akan sial," kata Nanggo. "Hari itu adalah Kenaikan Yesus, itu angka baik buat lari," tambahnya.

Tepat di hari H, semua napi sudah bersiap-siap (semuanya berjumlah 13 orang), tapi kesempatan tak kunjung tiba. Nanggo tak berhenti berdoa dengan rosarionya. Akhirnya, mereka melihat seorang napi yang baru pulang dari ladang, membawa sepikul buah kelapa. Saat si napi masuk, pintu gerbang akan terbuka dalam waktu yang cukup lama karena pikulan yang dipakai si napi memang cukup panjang. Saat pintu mulai terbuka, seorang napi loncat keluar dan memukul kepala seorang sipir hingga pingsan. Lalu, napi lainnya berhamburan keluar dari persembunyian, ada juga yang mencari empat orang sipir di sekitar pintu gerbang.

Nah, saat Nanggo akan melarikan diri, dia bertemu dengan Johny Indo yang sedang buang air kecil. Sebenarnya, Johny tidak masuk dalam "tim", tapi karena kebetulan bertemu, Nanggo mengajaknya kabur. Dalam pikiran Nanggo, akan berguna mengajak Johny karena laki-laki berwajah indo itu punya organisasi, bila tertangkap tidak ditembak. "Saya, alamat pun tidak punya," kata Nanggo.

Di pos penjagaan, mereka menemukan tiga pistol tanpa peluru dan sebuah senapan panjang berisi lima peluru. Senapan itu diserahkan ke Johny Indo, yang paling mahir menembak. Kabel-kabel telepon yang menghubungkan Penjara Permisan dengan tempat lain diputuskan. Sebelum pergi, Johny menembakkan satu peluru ke arah penjara, agar penjaganya tidak mengejar. Setelah keluar dari penjara, mereka harus memilih untuk belok ke kiri, menyusuri tepian Laut Indonesia, atau ke kanan, ke Kampung Laut. Lalu, mereka memilih ke kiri. Jumlah pelarian ternyata membengkak menjadi 34 orang.

Bagian yang paling berat adalah cara mengisi perut 34 orang. Pada hari pertama, Johny Indo berhasil menembak seekor monyet. Hari kedua, mereka berhasil menemukan sebuah pohon kelapa, yang diambil semua buahnya, lalu pohonnya ditebang dan diambil isi perutnya yang putih. Mereka juga minum air rotan. Pada hari ketiga dan keempat, mereka hanya menemukan siput untuk dimakan. Mansur, seorang teman mereka yang punya penyakit maag akut, sudah mulai lemas, jalannya harus dibantu.

Pada hari kelima, rombongan pelarian melewati bukit batu. Ketika mengitari bukit, mereka terpisah menjadi dua kelompok, masing-masing mengitari bukit dari sisi yang berbeda. Salah satu rombongan bertemu dengan sepasukan tentara dari Kodam Diponegoro. Sejumlah 13 orang tewas di tempat. Setelah itu, tinggal tujuh orang yang bertahan. Ada yang jelas-jelas mati dibunuh tentara, ada yang tertinggal. Johny Indo juga sudah tidak ada di antara rombongan (ternyata dia sudah menyerahkan diri). Sementara itu, sakit maag Mansur makin berat saja, dan mereka hanya bisa menemukan buah-buahan yang masih muda untuk dimakan. Akhirnya, Mansur meninggal.

Dia ditinggalkan begitu saja karena tak ada waktu untuk menguburnya. Hari keenam, mereka sudah sampai di tepi pantai, di seberang Kali Pucang. Inilah jalan masuk ke Cilacap. Hanya bertiga: Nanggo, Tasman Amri, dan Budi yang bertahan. Lalu mereka memutuskan membuat rakit dari pohon pisang liar. Mereka menebang enam pohon pisang, lalu diikat dengan tali kulit pohon waru. Mereka mencoba menyeberangi arus berputar yang deras.

Nanggo, yang terbiasa berenang, mencoba menarik rakit yang dinaiki Tasman ke seberang. Sayang, ketika rakit hampir sampai ke seberang, pegangan tangan Nanggo di rakit terlepas, hingga rakit meluncur bersama air deras. Tapi mereka bertiga berhasil selamat.

Hari ketujuh, mereka berhasil masuk kampung. Nah, saat minta makan ke penduduk, mereka tertangkap. Untungnya, tentara yang menangkap diberi perintah untuk menangkap hidup-hidup. Bahkan, sebelum dibawa, kami diizinkan makan oleh tentara. "Itulah nasi piring pertama yang saya makan dalam enam hari. Biarlah setelah itu mati, asal saya kenyang," kata Nanggo, yang pada saat itu terkena pukul popor senapan di tengkuknya. Setelah itu, Nanggo harus menjalani sisa hukuman hingga 1986, tanpa memperoleh remisi.


Pak Sastro, Si Papillon

Perawakannya sedang, kumis tipis melintang dan kulit cokelat matang. Sosok Sastrowiyono bin Wongso, laki-laki 55 tahun, adalah tipikal laki-laki Jawa. Pak Sastro sama sekali tidak tampak sangar. Kini mendekam di Penjara Cirebon, Jawa Barat, dia terkesan seperti seorang pemikir, karena dia punya kegemaran berdiskusi politik dan mendengarkan siaran radio BBC.

Memang, bila dilihat penampilannya, tidak ada yang menduga masa lalu gelap pekat Sastro. Tapi, dari lama hukumannya: 21 tahun (Sastro masuk ke penjara Cirebon sejak September 1984), bisa dipastikan seberapa berat kejahatan Sastro. Pria yang sekarang menjadi manajer dapur dan pemuka narapidana di LP Cirebon itu adalah perampok dan pembunuh serta pernah lari dari LP Nusakambangan.

Syahdan, Sastro mengawali karir bukan sebagai penjahat, melainkan sebagai pedagang pakaian jadi dan bahan pakaian di Sumatra Selatan dan Lampung, sejak 1970-an. Kiprahnya cukup sukses sehingga Sastro mendapat julukan sebagai "bandar gombal".

Ketika Sastro sudah menjadi pedagang besar di Pasar Metro Lampung, dia justru ikut dalam pergaulan yang tidak benar di kalangan para bandar. Sastro mulai kenal dengan judi, mabuk tuak, dan main perempuan. Dari sinilah kisah kejahatan Sastro bermula. Dia terlibat dalam perampokan dan pembunuhan. Pada 1974, Sastro divonis empat tahun penjara di LP Metro Lampung. Tapi, karena kelakuannya yang brutal-suka berkelahi dan cari perkara di kalangan para napi-Sastro dipindahkan ke LP Cipinang, lalu dibuang ke Nusakambangan pada awal 1978. Namun, kesangaran Nusakambangan tidak menaklukkan keliaran Sastro. Pria yang dikenal dengan julukan Sastro Perampok itu tetap ditakuti oleh para napi lainnya di lingkungan Penjara Besi, Nusakambangan.

Setelah menjadi jagoan di antara para bromocorah, lalu apa? Mulailah muncul ide Sastro untuk melarikan diri. Dalam waktu setahun dua bulan, Sastro mempersiapkan diri untuk pelariannya, tanpa bercerita ke seorang teman pun. "Biasanya, untuk urusan pemberontakan, teman-teman melakukan kegiatan kolektif," kata Sastro. "Tapi saya tidak mau berisiko tertangkap," tambahnya.

Selain latihan bela diri, Sastro latihan yoga setiap malam, terutama untuk melatih pernapasannya. Pola latihannya adalah 1:1, yaitu menarik napas dalam 15 hitungan dan melepaskannya dalam 15 hitungan; bertambah menjadi 2:1, yaitu menarik napas dalam 30 hitungan lalu melepaskannya dalam 15 hitungan; atau sebaliknya, 1:2.

Pada Juni 1979, mirip tokoh dalam novel Papillon, Sastro mulai memperhitungkan kesempatan terbaik untuk lari. Saat itu adalah musim kemarau. Ketika purnama, sekitar pukul tujuh malam, Sastro memulai petualangannya dengan keberhasilannya melompati tembok LP Besi setinggi empat meter. Lalu, Sastro menggunakan garis edar bulan sebagai petunjuknya menuju pantai. Sastro yakin, bila dia mengikuti arah bulan ke utara (bila berpatok dengan arah Pulau Jawa, arah utara yang dimaksud Sastro adalah utara timur), dia akan menemukan daratan.

Setelah 500 meter berjalan, Sastro, yang hanya mengenakan sehelai baju preman dan celana pendek, mulai mengarungi hutan rawa bakau selama dua malam satu hari. Untuk makanan, Sastro menyantap buah rukem dan jlujon, makanan ular berbisa yang berasa pahit. Sastro juga mengisap air di dalam tubuh yuyu, sejenis kepiting. Rasa cairan itu manis dan sama sekali tidak amis.

Beruntung, Sastro ditahan di LP Besi, yang letaknya paling dekat dengan pantai, sehingga dia segera bisa membuktikan kemampuannya berenang menyeberangi Segara Anakan, yang saat kemarau tidak terlalu deras ombaknya. Ketika itu, Sastro masih mampu berenang hingga satu kilometer dengan gaya punggung tanpa berhenti. Dia mengaku beberapa kali bertemu dengan perahu nelayan dan dua kali berpapasan dengan kapal patroli. "Saya bisa menyelam hingga 15 menit, bila ketemu patroli," katanya. Selain itu, Sastro juga bisa merapatkan tubuhnya di rawa-rawa, yang hanya menyembul bila kemarau.

Setelah semalaman menyeberang Segara Anakan, Sastro sampai di daratan sekitar saat subuh. Dengan badan lunglai, Sastro mencoba tetap berjalan cepat mengikuti arah berjalan orang-orang menuju ke pasar. Dari pembicaraan di antara penduduk setempat, Sastro tahu bahwa dia berada di Desa Kubangkangkung, Cilacap.

Setelah itu, Sastro menghubungi seorang teman agar dibantu pergi ke Jakarta lalu langsung ke Lampung. Dan pelarian Sastro itu tidak akan terungkap seandainya dia tidak mengulangi kejahatannya: merampok dan membunuh, yang menyeret dia ke LP Cirebon, untuk menjalani semua sanksi bui baru selama empat tahun plus utang hukumannya hingga menjadi 21 tahun.

Demikian kisah Sastro. Untung saja, laki-laki itu menjadi lunak di LP Cirebon. Dia bekerja di pabrik pemintalan di dalam LP Cirebon. Upahnya Rp 6.000 hingga Rp 10.000 sebulan. Selain itu, Sastro menjual mi instan dan rokok di dalam selnya. Alhasil, Sastro punya uang tabungan. Sastro juga rajin belajar, ikut Kejar Paket B. Prestasinya terbukti dengan menjuarai lomba Cerdas Cermat antarnapi. Tampaknya, Sastro memang benar-benar ingin bertobat. Dia tidak pernah mengizinkan sanak keluarganya datang menengok. "Cukup saya saja yang merasakan dan menebus dosa-dosa ini," katanya.


Henky Tupanwael, Eksekusi mati : 5 Januari 1980

MEMANG tidak setenar Kusni Kasdut. Namun sejarah kejahatan yang dibuatnya cukup panjang. Setidaknya Henky Tupanwael bukan orang asing bagi penjara. Ia memulai debutnya sebagai pencuri kecil masuk bui khusus anak-anak karena mencuri sepotong celana. Pada usia muda, sekitar 17 tahun, ia menembak seorang polisi militer. Karena kejahatannya tersebut Henky mulai berkenalan dengan penjara yang sebenarnya di Sukamiskin, Bandung, 1951.

Beberapa tahun kemudian, 1957, anak muda kelahiran Ende (Flores) 46 tahun lalu itu meningkatkan kadar kejahatannya. Ia melakukan perampasan hingga harus masuk penjara lagi selama tiga tahun. Lepas dari hukuman, tidak kapok, ia berbuat sesuatu "yang lebih berarti": merampok Bank Ekonomi Nasional di Bandung. Kali ini ia tidak betah menghabiskan masa hukuman yang harus dijalaninya selama 4 tahun 6 bulan. Ia kabur, 1963, dari penjara Banceui. Ia tertangkap dan masuk bui lagi, karena terlibat peristiwa penggarongan di rumah seorang hakim di Bandung. Akibat peristiwa tersebut Henky dijebloskan ke penjara Nusakambangan.

Mestinya ia harus mendekam di sana 11 tahun. Tapi belum lagi setahun, ia dapat lari dengan berenang menyeberangi Segara Anakan. Selepas dari Nusakambangan Henky kembali bergabung dengan teman-temannya di Jakarta. Dari Kebayoran Lama (Jakarta) Henky dkk. merencanakan merampok mobil Bank Nusantara. Dan perampokan mereka itu memang berhasil. "Omset" Henky kali ini kakap: Rp 21 juta lebih. Ia juga menembak mati dua orang. Itulah kejahatan Henky terakhir. Ia tertangkap. Mula-mula ia memang kembali dapat melarikan diri dari tempat tahanan polisi: Tapi 13 hari kemudian, ia diringkus kembali di suatu tempat di Tanah Abang Jakarta.

Duduk terakhir kalinya sebagai terdakwa, Henky diadili oleh Hakim Thamrin Manan (sekarang advokad), di Jakarta. Di situ, menurut Thamrin, ia tidak rewel. Malah, dengan caranya sendiri, pernah membantu kelancaran sidang. Inilah kisah Thamrin Manan yang menjatuhkan hukuman mati atasnya. Ketika itu Henky dihadapkan ke muka hakim tunggal (waktu itu belum ada ketentuan harus hakim majelis) dengan tangan masih terborgol. Hakim, tentu saja, tak menghendaki yang demikian itu. Tapi perintahnya agar borgol dibuka tak dapat dituruti sebab petugas lupa membawa kuncinya. Hakim, yang tak sudi mengadili pesakitan dengan tangan tergari, hampir saja menunda persidangan. Tapi tiba-tiba Henky angkat tangan kalau diizinkan ia dapat membuka borgol tanpa kunci. Thamrin Manan tercengang tapi mengangguk juga. Dan, benar saja: dengan mudah Henky membebaskan borgol dari tangannya. Pun ketika di penjara Pamekasan belakangan ini, ia konon dengan mudah bisa minggat.

"Bagi anak saya, melarikan diri dari penjara sesuatu yang mudah" ujar ayahnya, Jacob Mathias Tupanwael di Bandung. Ia baru pulang dari membezuk Henky untuk yang terakhir kalinya. Ayah ini selalu mengancam: "Bila melarikan diri, (dari penjara terakhir) yang menembak bukan polisi, tapi saya sendiri, ayahnya." Selain daripada itu, menurut sang bapak, selama 14 tahun di penjara Henky sudah benar-benar tobat. Yang disesali oleh Tupanwael sekeluarga bukanlah hukuman matinya itu sendiri, tapi kenyataan, bahwa harapan yang muncul pada Henky selama berbuat baik di penjara ternyata tidak menolongnya. Apa boleh buat. Sebagai ayah, kata J.M. Tupanwael, pendeta Gereja Prorestan pensiunan tentara ini, ia sudah berusaha berbuat sebaik-baiknya bagi anak-anaknya, termasuk Henky.

Di lingkungan keluarganya Henky termasuk anak yang penurut. Wataknya periang dan suka menolong saudara-saudaranya. "Tapi lingkungan pergaulannya di luar ternyata menyebabkan Henky jadi orang jahat," katanya. Nasihat bukannya tak sering dituturkannya -- terutama bila diketahui Henky habis berbuat sesuatu kejahatan. Tapi, ya, "kelemahan saya, sebagai ayah, tidak tahu dengan siapa ia bergaul." Sekarang semuanya sudah terjadi. Betapa pun hatinya lapang. Apalagi tampak olehnya Henky menghadapi pelaksanaan hukuman matinya dengan tabah. "Itu menyebabkan kami berbesar hati," kata Tupanwael, "saya yakin pada diri Henky ada sesuatu yang menguntungkan -- dia sudah pasrah dan tobat kepada Tuhan."

Meskipun, dalam kenyataan, Henky menolak untuk berdoa. Pesan Henky tak banyak. Ia minta agar jenazahnya dikuburkan di Bandung -- "biar dekat sama papa, mama dan saudara-saudaraku [ibu kandungnya wafat 1978]," katanya. Barangkali ini tak bisa dipenuhi lekas-lekas. Sebab, menurut Tupanwael, kejaksaan hanya mengizinkan pemindahan makam 5-6 bulan lagi, atau mungkin malah setahun kemudian.

Pesan lain kepada keluarganya tak ada. Hanya kepada adiknya, Benny (39 tahun), Henky yang banyak bergurau berkata serius. Kata Henky menurut Benny: "Hukuman mati terhadap diri saya, saya kira efeknya positif biar penjahat takut dan bertobat. Sebab risiko dari kejahatannya adalah hukuman mati. Biarlah saya jadi tumbal. Asal setelah saya jangan ada lagi kejahatan yang bisa menyebabkan jatuhnya hukuman mati . . . "

Dan inilah catatannya yang dibuat tengah malam, beberapa jam sebelum mati:

“Megah-megah dalam penjara hingga segalanya harus ditentang Nyisih dari segala kegelapan akan pudar Megah-megah dalam penjara hingga datang kemenangan jiwa Aku bangga aku bangga Karena kelelahan jerih payahku Kan kuperuntukan hanya bagi kemulyaan Tuhan Di mana tanah tandus di situlah aku bercocok tanam.”

Henky Tupanwael, garong kambuhan yang bolak balik masuk penjara karena kasus perampokan dan pembunuhan, menuliskan paragraf itu pada tengah malam menjelang eksekusi hukuman matinya pada 1980. Tak begitu jelas apa artinya –mungkin sajak, mungkin juga do’a.


Kusni Kasdut (“Robin Hood”-nya Indonesia)
eksekusi mati : 16 Februari 1980

Siapa yang tidak mengenal tokoh ini pada era 70 an, salah satu pejahat Legendaris, tertangkap dan di vonis hukuman mati atas segala perbuatannya…. Namun pada saat – saat akhir hayat nya ia bertobat dan dengan “tegar” menghadapi hukumannya.

Pada masanya Kusni kasdut adalah penjahat spesialis “barang antik” salah satunya yang paling spektakuler ia merampok Museum Nasional Jakarta. Dengan menggunakan jeep dan mengenakan seragam polisi (yang tentunya palsu), dia pada tanggal 31 Mei 1961 masuk ke Museum Nasional yang dikenal juga Gedung Gajah. Setelah melukai penjaga dia membawa lari 11 permata koleksi museum tersebut.

Pernah membunuh dan merampok seorang Arab kaya raya bernama Ali Badjened pada 1960-an. Kusni Kasdut dalam aksinya ditemani oleh Bir Ali. Ali Badjened dirampok sore hari ketika baru saja keluar dari kediamannya di kawasan, Awab Alhajiri. Dia meninggal saat itu juga akibat peluru yang ditembak dari jeep yang dibawa oleh Kusni Kasdut.

Awalnya Kusni kasdut adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.

SUDARTO adalah penasehat hukum Kusni Kasdut mengatakan dalam pembelaanya : ”Manusia tidak berhak mencabut nyawa orang,” dan ”Nafsu tidak bisa dibendung dengan ancaman”. Kusni Kasdut pada saat sedang menunggu keputusan atas permohonan grasinya sempat melarikan diri kemudian dapat ditangkap kembali dan akhirnya menjalankan pidana matinya. Dalam keterasingannya di penjara dan jauh dari orang-orang yang dicintai, ternyata sisi agamis Kusni Kasdut tumbuh semakin dalam. Apalagi ketika dia di penjara dan sebelum dieksekusi mati, dia sempat berkenalan dengan seorang pemuka agama Katolik.

Setelah berkenalan dengan pemuka agama tersebut, akhirnya dia memutuskan menjadi pengikut setia. Kusni Kasdut dibaptis sebagai pemeluk Katolik dengan nama Ignatius Kusni Kasdut. Saat menunggu hari eksekusi, dia menuangkan rasa cintanya terhadap agama yang telah dia anut dalam sebuah lukisan yang terbuat dari gedebog pohon pisang. Dalam lukisan tersebut, tergambar dengan rinci Gereja Katedral lengkap dengan menara dan arsitektur bangunannya yang unik. Dan sampai sekarang masih tersimpan rapi di Museum Gerja Katederal Jakarta.

“Setelah lukisan gedebog pisang itu jadi, sebagai tanda terima kasihnya, Kusni Kasdut memberikan lukisannya itu kepada Gereja Katedral, Jakarta. Beberapa hari setelah itu, Kusni Kasdut ditembak mati,” ujar pengurus Museum Katedral, Jakarta, Eduardus Suwito.

Keinginannya terakhir hanya ia mau duduk di tengah keluarganya. Itu terpenuhi. Sembilan jam sebelum diantar pergi oleh tim eksekutor, di ruang kebaktian Katolik di LP Kalisosok Kusni Kasdut dikelilingi keluarganya: Sunarti (istri keduanya), Ninik dan Bambang (anak dari istri pertama), Edi (menantu, suami Ninik) dan dua cucunya, anak Ninik. Itulah jamuannya yang terakhir-dengan capcai, mi dan ayam goreng. Tapi rupanya hanya orang yang menjelang mati itu yang dengan nikmat makan.

Kusni, kemudian, memeluk Ninik. “Saya sebenarnya sudah tobat total sejak 1976,” katanya, seperti direkam seorang pendengarnya. “Situasilah yang membuat ayah jadi begini. Sebenarnya ayah ingin menghabiskan umur untuk mengabdi kepada Tuhan. Tapi waktu terlalu pendek. Ninik dan yang lain menangis. “Diamlah,” lanjut ayahnya, “Ninik ‘kan sudah tahu, ayah sudah pasrah. Ayah yakin Tuhan sudah menyediakan tempat bagi ayah. Maafkanlah ayah.” Kedua cucunya, Eka dan Vera, mulai mengantuk.

Saat-saat terakhir Kusni Kasdut ini dijadikan ide untuk lagunya God Bless “Selamat Pagi Indonesia” di album “Cermin”. Lirik lagu ini ditulis oleh Theodore KS, wartawan musik Kompas yg jagoan menulis lirik lagu. Kusni Kasdut sempat dijuluki “Robin Hood” Indonesia, karena ternyata hasil rampokannya sering di bagi – bagikan kepada kaum miskin. Tangan kanan Kusni Kasdut adalah Bir Ali, anak Cikini Kecil (sekarang ini letaknya di belakang Hotel Sofyan). Bir Ali, yang juga menjadi pembunuh Ali Bajened bersama Kusni Kasdut di Jalan KH Wahid Hasyim, bernama lengkap Muhammad Ali. Dia mendapat gelar Bir Ali karena kesukaannya menenggak bir, ia tewas dalam tembak menembak dengan polisi.Ia menjalani hukuman matinya didepan regu tembak pada 16 Februari 1980.


Slamet Gundul, Rampok Legendaris

JARANG-jarang Mabes Polri mengeluarkan perintah paling keras dalam menangkap buronan: hidup atau mati. Tahun 1989, Direktur Reserse Mabes Polri Koesparmono Irsan mengeluarkan perintah kepada segenap jajaran Reserse Polri di Pulau Jawa, Nusa Tenggara, dan Sumatera Bagian Selatan agar menangkap seorang buron dengan kata-kata ancaman tadi. "Tangkap Slamet Gundul hidup atau mati." Siapa Slamet Gundul? Lelaki berpipi tembam, hidung lebar, dan tanpa lipatan kelopak mata itu dulu pernah menjadi musuh polisi nomor satu.

Namanya berubah-ubah. Kadang Slamet Santoso, lain waktu Samsul Gunawan. Tapi julukannya yang top adalah Slamet Gundul. Dialah tersangka bos kawanan garong nasabah bank bersenjata api yang belasan kali menggegerkan berbagai kota di seantero Pulau Jawa. Polisi boleh dibilang sudah mati-matian mengejar buron itu. Tapi bukan Slamet Gundul namanya, bila tidak licin.

Ia beberapa kali lolos dari kepungan polisi. Pernah tertangkap dan diadili, tapi ia kabur dari halaman Pengadilan Negeri Jakarta Timur, begitu vonisnya dibacakan hakim. Slamet bersama 7 kawanannya pernah dicegat oleh enam jagonya reserse Polda Ja-Teng, dari Unit Sidik Sakti, di sebuah pompa bensin di Pandansimping, Klaten, Jawa Tengah, ketika hendak beroperasi. Lewat baku tembak selama 15 menit, seorang rekan Slamet, Jarot, tewas dengan lima peluru. Sedangkan dua orang lagi, Subagio dan Sugeng, tertangkap dalam keadaan terluka.

Slamet sendiri, yang sudah kena tembak di kedua bahunya, masih bisa kabur dengan sepeda motor. Polda Jawa Tengah tentu saja gemas akibat lolosnya buron itu. Sebab, dalam setahun beroperasi di Semarang, komplotan Slamet bisa menjarah duit Rp 159,5 juta. Tahun 1989 komplotan itu merampas Rp 23 juta milik pedagang tembakau asal Kendal, Rp 40 juta uang juragan ikan, dan Rp 34 juta milik Universitas Islam Sultan Agung. Nasabah BCA cabang Peterongan kena sikat Rp 28,5 juta dan karyawan PT Nyonya Meneer kena rampok Rp 34 juta.

Setelah kelompok "Kwini", Slamet agaknya mencatat rekor perampokan dalam frekuensi kejahatan dan hasil jarahan tertinggi saat ini. Korban utamanya memang nasabah bank. "Biasanya salah seorang dari kami datang dulu ke bank dengan sepeda motor, pura-pura jadi nasabah," kata Subagio dan Sugeng, anggota kelompok Slamet yang tertangkap di Klaten, hampir serempak. Dengan penyamaran itu, kata kedua orang tadi, mereka bisa mengetahui nasabah yang mengambil uang dalam jumlah besar. Kalau sudah dapat sasaran, komplotan Slamet itu akan menguntit mangsanya dengan sepeda motor. Dengan kode itu, Slamet, yang biasanya menunggu bersama gangnya di atas mobil di luar halaman bank, segera tahu mangsa yang dituju. Setelah itu, barulah kelompok Slamet, yang bermobil, menyusul dan menghadang korban.

Modus ini diduga juga dilakukan komplotan Slamet ketika merampok di kawasan Kampung Bali, Jakarta Pusat. Ketika itu mobil Chevrolet dengan penumpang dua karyawan CV Bambu Gading akan menyetor uang Rp 10 juta ke bank. Kendaraan mereka tiba-tiba dipepet kendaraan perampok, sebuah minibus dan dua buah sepeda motor. Mobil korban benar-benar tak bisa bergerak setelah minibus itu tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Pada waktu itulah perampok yang bersepeda motor mengacungkan pistol lewat jendela. Ketika komplotan itu beraksi, dua polisi, di antaranya Letnan Dua Soewito, mencoba menyergap mereka. Tembak-menembak terjadi. Dua perampok tewas, empat lainnya kabur. Tapi, di pihak polisi, Soewito roboh dengan peluru bersarang satu sentimeter di bawah mata kanannya.

Sebelum "main" di Semarang, pada 1987, reserse Jakarta memang beberapa kali menguber komplotan itu. Waktu itu rekor Slamet sudah merampok 11 kali nasabah bank. Pada Januari 1987, dua regu reserse Polda Meto Jaya mengepung rumah sewaan Slamet di bilangan Pondok Kopi, Jakarta Timur. Tapi, begitu pintu rumah diketuk polisi, yang keluar cuma istrinya. Slamet sendiri, dengan menggenggam dua pistol Colt kaliber 32 dan 38 melompati tembok dua meter yang membatasi kamar mandinya dengan dapur tetangga. Di rumah itu sudah ada dua anggota polisi yang menunggunya. Tapi polisi kalah cepat. Bagai koboi mabuk, ia menembak membabi buta. Ajaib, ia menerobos pagar puluhan petugas yang mengepungnya. Ia kabur setelah menyambar sebuah Metromini yang sedang dicuci keneknya. Toh pada awal tahun itu juga polisi berhasil menjerat belut itu. Bersama dua anggota komplotannya, Jarot dan Sahut, ia dihadapkan ke meja hijau.

Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur mengganjar ketiganya masing-masing hukuman 3 tahun. Tapi, ketika petugas menggiring ketiga terpidana itu ke mobil tahanan, mereka mendorong pengawal tersebut dan segera lari. Hanya Sahut yang bisa diamankan lagi. Tapi Slamet dan Jarot kabur dengan pengendara sepeda motor, yang anehnya telah menunggu di luar halaman pengadilan.

Menurut Sugeng dan Subagio, bos mereka selama di LP Cipinang justru berhasil merekrut anggota baru dari sesama rekan tahanan di sana. "Slamet itu orangnya pandai mengambil hati, sehingga banyak yang bersedia ikut kelompoknya," kata mereka. Sugeng dan Subagio, yang masuk Cipinang juga karena merampok bank, mengaku ikut Slamet setelah berkenalan di Cipinang tersebut. Subagio, setelah menjalani hukuman selama 2 tahun, baru dilepas awal 1989. "Setelah saya keluar LP, saya lalu menghubunginya," ujarnya. Menurut mereka, meskipun Slamet yang menyusun skenario kejahatan dengan kekerasan itu, toh sebenarnya ia tak kejam. "Ia belum pernah membunuh korban-korbannya," kata Sugeng. Yang kejam itu, kata mereka, justru Jarot, yang mati tertembak di pompa bensin itu. Slamet gundul saat ini sudah bebas. Diyakini ia sekarang bekerja untuk Tommy Winata menurut wawancara Tommy Winata dengan Majalah Gatra.


Johny Indo - Perampok "Baik Hati"

tertangkap : 20 April 1979
vonis hukuman : 14 tahun penjara di Cipinang, dipindahkan ke Nusakambangan.

Dengan tubuhnya jangkung dengan kulitnya yang bersih. Tutur katanya halus. Mungkin orang akan mengira dia hanyalah seorang lelaki biasa saja. Seorang ayah yang baik, yang mengajari PR bagi anak-anaknya, atau suami yang menyayangi istrinya. Apalagi di masa mudanya di juga tampan. Dan dia indo, lahir di Garut Garut, 06 November 1948. Tapi siapa sangka dia adalah pimpinan kawanan perampok yang sangat disegani. Yohanes Hubertus Eijkenboom atau Johnny Indo.

Johny Indo dan 12 anak buahnya yang ia beri nama “pachinko” alias pasukan china kota sangat disegani sebagai perampok yang malang melintang di Jakarta dan sekitarnya. Johnny Indo adalah spesialis perampok toko emas dan selalu melakukan aksi pada siang hari. Mereka yang merampok toko emas di Cikini, Jakarta Pusat, pada 1979. Perampokan ini menjadi berita yang menggemparkan karena gerombolan membawa lima pistol, satu buah granat, dan puluhan butir peluru. Johnny mengaku mendapatkan senjata api dari sisa-sisa pemberontakan RMS, PRRI atau DI TII.

Sesungguhnya Johnny Indo berasal dari keluarga miskin. Sejak kecil dia suka membaca buku termasuk petualangan Sunan Kalijaga yang sebelum menjadi wali merupakan perampok, namun perampok untuk kebaikan semua dengan membagikan hasil rampokan kepada orang miskin. Atau tentang Si Pitung seorang perampok budiman dari Jakarta. Robbin Hood yang berkiprah di desa kecil bernama Nottingham, Inggris.

Berkali-kali pula Johny Indo mengulangi perbuatannya dan hasil jarahannya dia bagi-bagikan kepada masyarakat miskin. Namun sepandai-pandai tupai melompat sekali gagal juga. Pepatah itu nampaknya berlaku juga buat Johny Indo dan kelompoknya. Karena kekuranghati-hatian salah seorang anggota kelompoknya yang menjual emas, hasil barang jarahan sembarangan, satu demi satu anak buah Johny Indo dibekuk petugas. Johny Indo akhirnya tertangkap di Gua Kiansiantang, Sukabumi, Jawa Barat. Dia diganjar 14 tahun penjara dan dijebloskan ke Nusakambangan.

Ternyata mendekam di Nusakambangan tidak membuat petualangan Johny Indo berakhir. Bersama 14 tahanan lainnya, Johny Indo membuat geger karena kabur dari sel. Hampir semua aparat keamanan waktu itu dikerahkan untuk menangkap Johny Indo dan kelompoknya. Namun setelah bertahan hingga dua belas hari, Johny Indo pun menyerah. Dia menyerah karena sudah berhari-hari tidak makan. Selain itu 11 tahanan yang melarikan diri bersamanya tewas diberondong peluru petugas. Kisah pelarian Johny Indo yang legendaries itu bahkan sempat diangkat ke layar film dengan Johny Indo sebagai bintangnya sendiri.


Johnny Indo yang dalam karirnya merampok pantang melukai korbannya selama di penjara itu banyak waktu luang, dari sana mulai berfikir tentang jati diri, akhirnya selama dipenjara banyak belajar agama Islam karena sebelumnya beragama nasrani.Kini Johny Indo kabarnya tinggal di daerah Sukabumi, Jawa Barat bersama istrinya, Vinny Soraya dan kedua putra-putrinya. Ia telah berubah. Ia menjalani kehidupan barunya sebagai seorang juru dakwah. Di saat senggang ia menghabiskan waktu dengan membenahi rumahnya yang sederhana sambil menunggu panggilan dakwah.

Johny Indo awalnya dikenal sebagai perampok toko emas di Jakarta dan sekitarnya pada era tahun 1970an yang dilakukan pada siang hari bersama kelompoknya Pachinko (Pasukan China Kota).Aksi paling terkenal Johnny Indo adalah merampok toko emas di Cikini, Jakarta Pusat, pada 1979.

Setelah Bebas dari Penjara, ia beralih profesi menjadi Aktor. Film yang pernah dibintanginya antara lain :

Johny Indo (1987)
Badai Jalanan (1989)
Langkah-Langkah Pasti (1989)
Titisan Si Pitung (1989)
Laura Si Tarzan (1989)
Misteri Cinta (1989)
Susuk (1989)
Perangkap di Malam Gelap (1990)
Tembok Derita (1990)
Tongkat Sakti Puspanaga (1990)
Diskotik D.J. (1990)
Ajian Ratu Laut Kidul (1991)
Misteri Ronggeng (1991)
Daerah Jagoan (1991)


catatan :
dulu pernah juga beliau tampil di KickAndy MetroTV. Menariknya, beliau sempat menangis saat dipertemukan dengan pak Tasbani, Interogator polisi yang menanganinya dahulu.Pak Tasbani


Pada 20 Mei 1982, di sebuah sel yang dekil, di LP Nusakambangan. Seorang napi, berinisial SS, memberi doktrin singkat. Algojo asal Solo itu sudah menyiapkan kilatan pedang. Sebuah gerakan akan dilakukan. MM ditugasi merampas senjata petugas portir. Sementara lainnya, ditugasi menjebol pintu gerbang, menyiapkan api, dan membabat petugas. Yang lain, mengomando kawan-kawannya agar secepatnya kabur.

Pukul 11.00 WIB, rencana akan dilakukan. MM juga ditugasi membunuh Johny Indo jika dia tidak ikut lari. Siang sudah nyaris menunjuk angka 11.00. Itu artinya, gerakan akan dimulai. Kebetulan, sang kepala LP Permisan, Nusakambangan, sedang piknik ke Pangandaran. Di luar sel, gemuruh suara "serbu... serbu... serbu... serang..." disusul rentetan tembakan berjibaku tak henti-henti. Gerbang jebol. Johny tersadar. Didatangi MM dengan pedang di tangan. "Mau ikut lari tidak? Kalau tidak, saya akan membunuhmu," gertak MM. Sekejap, Johny ikut kabur bersama 34 napi lain dari LP Permisan, Nusakambangan. Para napi pun kabur masuk hutan yang masih perawan. Esoknya, masyarakat dibuat gempar. Raja perampok emas berhasil kabur dari penjara yang mirip "Alcatraz-nya" Indonesia itu. Johny Indo pun dibaptis sebagai dalang pelarian.

Tiga hari, para napi terlunta-lunta di hutan. Hutan amat ganas, penuh jurang, binatang buas, dan alam yang tak ramah. Hari kelima, kondisi makin runyam. Petugas gabungan polisi, satpam LP, dan tentara, terus melacak. Matahari belum naik, tiba-tiba suara letusan pistol menyerbu rombongan napi. Satu, dua orang terjengkang. Tiga, empat lainnya roboh. 17 ditangkap hidup. Tetapi, Johny Indo lolos. Hari kesepuluh dilewati. Hanya tinggal dua orang. Empat orang tewas karena sakit. Dua lainnya tewas tenggelam. Sepuluh lainnya tewas diterjang peluru petugas. Johny berjalan sendiri. Keluar Nusakambangan teramat susah. Persis hari ke-12 pelariannya, tiga motor boat mengerang. Seolah-olah menghampirinya. "Saya menyerah, Pak," kata Johny gemetar.

Itulah sedikit kisah pelarian Johny Indo, penjahat kelas kakap, dari LP Permisan Nusakambangan. Siapa sejatinya Johny Indo? Dia adalah perampok toko emas yang paling licin. Sedikitnya 7 kali aksinya lolos dari kejaran petugas. Perampok bukan pembunuh. Haram hukumnya menyakiti wanita dan membunuh mangsa. Itu larangan tegas di organisasi mafianya. Anak seorang tentara Belanda Mathias Eijkenboom yang membelot dan kimpoi dengan Sephia, gadis Banten. Di usianya yang baru 16 tahun, dia sudah kimpoi dengan Stella (15).

Dia pernah jadi sopir truk, trailer, hingga tukang bengkel. Lantas, dia berubah drastis menjadi seorang foto model laris dan artis beken. Lima anak lahir dari rahim Stella. Namun, hidup glamor gaya Johny Indo membuatnya mabuk. Dia juga simpanan seorang istri pejabat. Wajahnya memang ganteng, putih, hidung mancung, dan matanya biru. Itu sebabnya dia dipanggil Johny Indo.

Dari hidupnya yang mewah itulah, lantas dia selalu kekurangan uang. Honor foto model tak mencukupi. Lantas, dia diajak kawan-kawannya merampok. Dengan bekal pistol dan senjata Thomson, dia bersama AA, K, N berhasil membuat gempar masyarakat Jakarta dan menyiutkan nyali para pedagang emas.

Hingga akhirnya, 20 April 1979, di Sukabumi, di sebuah Gua Kutameneuh, bekas tempat persemedian Prabu Siliwangi, di Gunung Guruh, Sukabumi, Johny tertangkap dalam kondisi loyo. Saat itu, dia sedang tirakat. Dia dijebloskan ke Cipinang 14 tahun lamanya dan dipindahkan ke Nusakambangan. Namun, 9 tahun 10 bulan saja ia alami hukuman itu. Dia pun pernah main film saat menjadi tahanan di Nusakambangan, setelah pelariannya yang gagal.

Hidup glamor, dikelilingi cewek cantik, pernah berbuat jahat, disel di Cipinang, lalu dipindah ke Nusakambangan. Kata Johny, hari-hari berat di Nusakambangan adalah menyalurkan hubungan seksual. "Ini yang paling berat. Dulu, dia mengatasinya dengan (maaf) onani. Tetapi, lama-kelamaan itu tak dilakukannya lagi. "Saya berbuat jahat maka saya harus menjalani hukuman ini sebagai risiko. Tahun pertama dipenjara, perasaan marah, benci, dendam selalu menjadi hantu yang menakutkan. Jika tak diatasi, perasaan ini bisa meledak dan menjadi masalah baru.

“Hasil jarahan itu tidak dinikmati sendiri dan kelompok, melainkan sebagian dibagikan kepada warga miskin. Walau saya menggarong tapi saya masih ingat warga miskin dan kelaparan. Kata Johny Indo yang menganggap apa yang dilakukannya mengikuti jekak idolanya, Si Pitung yang sering menolong masyarakat kelas bawah.

Berkali-kali aksi Johny Indo dan kelompoknya yang ia beri nama “pachinko” alias pasukan china kota, lolos dari sergapan aparat kepolisian. Namun sepandai-pandai tupai melompat sekali gagal juga. Pepatah itu nampaknya berlaku juga buat Johny Indo dan kelompoknya. Karena kekuranghati-hatian salah seorang anggota kelompoknya yang menjual emas, hasil barang jarahan sembarangan, satu demi satu anak buah Johny Indo ditangkap petugas. Johny Indo yang waktu itu mengoleksi berbagai jenis senjata api dan berkarung-karung peluru sudah mempunyai firasat akan tertangkap. Ia pun berpindah-pindah tempat mulai dari Pandeglang hingga Cirebon.

“Saya pusing dan bingung waktu itu, hampir semua koran memberitakan kalau polisi terus memburu saya dari segala penjuru. Akhirnya saya lari ke daerah Sukabumi, Jawa Barat. Saya masuk ke sebuah Goa yang gelap dan angker, dengan harapan bisa menghilang. Eh, saya malah ditangkap Koramil setempat” ujar Johny tertawa getir mengenang peristiwa itu. Johny Indo akhirnya diganjar 14 tahun penjara dan dijebloskan ke penjara yang keamannya ekstra ketat Nusakambangan.

Ternyata mendekam di Nusakambangan tidak membuat semuanya berakhir. Bersama 14 tahanan lainya, Johny Indo membuat geger karena kabur dari sel.Hampir semua aparat keamanan waktu itu dikerahkan untuk menangkap Johny Indo dan kelompoknya. Namun setelah bertahan hingga sembilan hari, Johny Indo pun menyerah.

Masih banyak lagi kisah Johny Indo yang menarik untuk disimak, antara lain pengalaman pertama kali saat ia mulai terjun ke dunia rohani untuk berdakwah bersama KH Zainuddin MZ. Ada pengalaman lucu di sini, yaitu tertukarnya amplop honor seusai berdakwah. Amplop yang seharusnya untuk KH Zainuddin MZ oleh panitia diberikan kepada Johny Indo, begitu juga sebaliknya.

 
##################################################  
Selain John Kei dan Hercules, ada juga Olo Panggabean

The Real Godfather of Medan City !

Nama sebenarnya Sahara Oloan Panggabean. Lahir di Tarutung 24 Mei 1941. Meninggal pada 30 April 2009 semasa berumur 67 tahun. Olo adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara dari pasangan Friedolin Panggabean dan Esther Hutabarat, keluarga Kristen. Sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah menikah. Kebetulan ayah Ts pernah menjadi salah satu anak buah kesayangan

Olo adalah seorang tokoh yang terkenal karena kegiatannya di bidang perjudian dan juga karena sifat sosialnya. Diperhitungkan setelah keluar dari organisasi Pemuda Pancasila, saat itu di bawah naungan Effendi Nasution alias Pendi Keling, salah seorang tokoh Eksponen ‘66’. Tanggal 28 Agustus 1969, Olo Panggabean bersama sahabat dekatnya, Syamsul Samah mendirikan IPK (Ikatan Pemuda Karya). Masa mudanya itu, dia dikenal sebagai preman besar kota Medan.

Wilayah kekuasannya di kawasan bisnis di Petisah. Dia juga sering dipergunakan oleh pihak tertentu sebagai debt collector. Sementara organisasi yang didirikan terus berkembang, sebagai bagian dari lanjutan Sentral Organisasi Buruh Pancasila (SOB Pancasila), di bawah naungan dari Koordinasi Ikatan – Ikatan Pancasila (KODI), dan pendukung Penegak Amanat Rakyat Indonesia (Gakari). Olo Panggabean sering disebut sebagai seorang “Raja Perjudian” yang berpengaruh di kawasan tersebut, meskipun tuduhan terhadapnya belum dapat dibuktikan pihak berwajib.

Olo Panggabean pernah dituding sebagai pengelola sebuah perjudian besar di Medan. Semasa Brigjen Pol Sutiono menjabat sebagai Kapolda Sumut (1999), IPK pernah diminta untuk menghentikan praktik kegiatan judi. Tudingan itu membuat Moses Tambunan marah besar. Sebagai anak buah Olo Panggabean, Moses menantang Sutiono untuk dapat membuktikan ucapannya tersebut.

Persoalan ini diduga sebagai penyulut insiden di kawasan Petisah. Anggota brigade mobile (Brimob) terluka akibat penganiayaan sekelompok orang. Merasa tidak senang, korban yang terluka itu melaporkan kepada rekan–rekannya. Insiden ini menjadi penyebab persoalan, sekelompok oknum itu memberondong “Gedung Putih” markas besar Olo Panggabean dengan senjata api. Kisah yang satu ini sempat membuat Medan menjadi mencekam dan tegang selama berminggu-minggu.

Ia juga pernah menerima perintah panggilan dari Sutanto sebagai Kapolda Sumatra Utara, mengenai judi itu. Tapi ditolak Olo. Susanto memegang kuasa mulai tahun 2005, menyebabkan kegiatan perjudian Olo mulai terhernti. Olo dikabarkan akhirnya berfokus pada bisnis legal, seperti POM Bensin , Perusahaan Pengangkutan (PO), Showroom dan sebagainya.

Ada kisah, pernah muncul di media massa Indonesia. Ada keluarga yang anaknya ditahan di sebuah rumah sakit, karena tak mampu membayar biaya bersalin. Tiba-tiba pihak rumah sakit melayani keluarga itu dengan baik. Rupanya baru diketahui Olo Panggabean telah melunasi biaya sepenuhnya. Ada juga diceritakan peniaga yang dihancurkan warungnya oleh pihak penguasa, tapi diganti sepenuhnya oleh Olo Panggabean.

Begitu juga kisah sedih bayi kembar siam Angi-Anjeli anak dari pasangan Subari dan Neng Harmaini yang tidak mampu membiayai operasi pemisahan di Singapura, tahun 2004. Dia yang menanggungnya. Begitu juga kisah ibu bayi, Neng Harmainib, melahirkan anak kembar siamnya di hospital Vita Insani, Pematang Siantar, 11 Februari 2004, melalui Operasi Caesar.

Olo Panggabean bertindak cepat menanggung semua biaya yang diperlukan. Bahkan sewaktu bayi bernasib malang itu tiba di Bandara Polonia Medan pada Julai 2004, Olo Panggabean menyempatkan diri menyambut dan menggendongnya.

Setelah menjalani pengobatan di Singapura dikarenakan komplikasi diabetes, Olo Panggabean Sang "Godfather" meninggal dunia di Medan pada tanggal 30 April 2009. Olo Panggabean memang hobby minum, jelas minuman alkohol bermutu seperti Chivas, XO dan Brandy. Mungkin karena komplikasi tersebut beliau meninggal.

################################################## 
Pendukung John Kei Dari Ambon Dikabarkan Datangi Jakarta?

Hari Kamis 1 Maret 2012 saya mengunjungi seorang keluarga asal Makassar yang tinggal di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tidak seperti biasanya, hari itu pelabuhan dijaga banyak polisi. Ada apa gerangan? Ketika saya tanyakan pada keluarga saya, mereka menjawab bahwa ada selentingan kabar beredar pendukung John Kei dari Ambon akan beramai-ramai datang ke Jakarta. Benarkah? Masih diselimuti rasa penasaran saya mecoba mencari berita di internet tentang isu ini. Akhirnya saya menemukan berita terkait dari Tempo.co Berikut kutipan beritanya: 

Polisi memperketat penjagaan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, sejak Kamis, 1 Maret 2012. Penjagaan ini diduga terkait dengan isu kedatangan sekelompok orang asal Ambon yang akan tiba di pelabuhan tersebut menggunakan kapal motor Ciremai. Kedatangan kelompok itu disebut-sebut berhubungan dengan proses hukum yang tengah dijalani John Refra alias John Kei di Jakarta.

Kepala Kepolisian Resor Pelabuhan Tanjung Priok Ajun Komisaris Besar Asep Safrudin tidak membantah isu itu. "Tapi kami belum bisa memastikan benar atau tidaknya," kata Asep.

Polres Tanjung Priok mengerahkan puluhan anggota Brimob bersenjata lengkap untuk mengamankan pelabuhan. Semua penumpang KM Ciremai yang baru turun diperiksa. Polisi berhasil menyita 28 senjata tajam. Namun, tidak ada penumpang yang ditangkap. "Kami tidak bisa menahan karena belum menemukan indikasi untuk tindak kekerasan," kata Asep. "Tapi kami tetap mencatat data mereka."

Kasim, 68 tahun, penumpang KM Ciremai yang terjaring razia, mengatakan dirinya memang membawa 20 parang dari kampung halamannya, Buton, Sulawesi Tenggara. Rencananya, alat-alat itu akan ia gunakan untuk bercocok tanam. "Saya tidak tahu kalau tidak boleh bawa senjata tajam," katanya.

Alasan serupa disampaikan Andre, 22 tahun. Dia membawa senjata khas Sulawesi dari Bone. "Ini oleh-oleh, pemberian kakek saya," katanya.

Tito Refra, adik John Kei, mengatakan belum mendengar isu kedatangan sekelompok orang dari Ambon. Dia memang sering berkomunikasi dengan keluarga dan kerabat di kampung halaman untuk mengabarkan kondisi kesehatan sang kakak. Namun, dia tidak pernah mendengar ada rencana pemberangkatan serombongan orang dari sana. "Kami belum tahu itu," kata Tito.

Juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, memastikan kabar yang beredar itu hanya isu. Kendati demikian, polisi akan tetap waspada. "Kami selidiki apakah itu benar atau tidak."



No comments:

Post a Comment