Amazon Deals

Saturday, July 13, 2013

HUTAN DAN SATWAKU (Undang-Undang yang Mengatur tentang Perburuan)

HUTAN  DAN SATWAKU
(Undang-Undang yang Mengatur tentang Perburuan)

BAB I
SARANA MENDAPATKAN SATWA

Hutan dan satwa merupakan suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Manusia mempunyai akal dan budaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahkluk-mahkluk lain, satu-satunya yang dapat memberdayakan alam ini.

Manusia pula yang dapat menilai dan menghargai Flora dan Fauna sebagai kekayaan alam Indonesia, namun tangan-tangan manusia pula yang memenggal keturunan mereka, hingga generasi penerus menjadi terputus.

Banyak satwa yang dahulu ada, kini tidak lagi dapat kita temui, hanya ada dalam cerita Kakek, kemungkinan satwa yang ada sekarang tidak lagi dapat ditemui pada masa yang akan datang, Anak-Cucu kita hanya dapat melihat dalam gambar atau mendengar cerita seperti yang kita alami saat ini.

PERBAKIN  (Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia) memiliki komitmen dan bertekad selalu menjaga kelestarian satwa dengan segala ekosistemnya menjadi tanggung jawab kita bersama. Untuk menekan atau meniadakan timbulnya pemburu-pemburu liar yang kejam termasuk penyandang dana yang berada dibelakang layar, dengan harapan meraup keuntungan yang berlipat ganda.

Dapat kita tarik kesimpulan bahwa berburu adalah “ Kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk mendapatkan satwa liar sebagai satwa buruan “
Ditinjau dari kegiatannya, perburuaan yang dilakukan oleh para pemburu dapat kita golongkan dalam 2 golongan :



1.      BERBURU SECARA TRADISIONAL
Berburu secara tradisional inilah yang banyak dilakukan oleh masyarakat desa dan tidak jarang di sutradarai oleh cukong/penyandang dana dengan sarana :

a.      Sarana Jerat
Jerat dapat di lakukan dengan cara menjerat pada leher atau kaki, seperti dengan cara diberi umpan atau lorong-lorong dimana satwa selalu melintas.

b.      Sarana Belantik
Ada tiga cara memasang belantik :
-          Dengan senjata, dengan panah, atau dengan balok kayu
Sarana ini dipasang pada lorong-lorong dimana satwa lewat atau diberi umpan.
-          Sarana dipasang dalam keadaan tertegang oleh seutas tali pemicu, apabila tali pemicu tersentuh senjata akan meledak, anak panah akan lepas dan balok kayu akan menimpa satwa buruan.
-          Pelaku memilih cara mana yang dapat dilakukan  

c.       Sarana Anjing
-          Cara berburu seperti ini dilakukan beberapa rombongan orang dan anjing bersenjatakan tombak, anjing-anjing mengejar satwa hingga lumpuh dan tombak-tombaklah sebagai penyelesaian.
-          Berburu seperti ini banyak satwa mati tidak termanfaatkan (mati karena stress). 

d.      Sarana perangkap/Gerobeng
Sarana perangkap/gerobeng ini biasanya digunakan untuk menangkap:
-          Harimau
-          Kera
-          Landak
-          dll
-          Perangkap/gerobeng ini biasa diberi umpan seperti anjing, kambing dan buah- buahan
-          Perangkap/gerobeng ini dibuat dari besi atau kayu yang kokoh

e.      Sarana Lobang
-          Sarana berburu dengan lobang ini sangat berbahaya dibanding dengan cara belantik.
-          Lubang dibuat dengan kedalaman tertentu, pada dasar lobang dipasang ranjau dari bambu yang diruncingkan kemudian ditutup dengan penyamaran.
-          Setiap satwa yang melintas akan terperosok ke dalam lubang dan di terima oleh bambu-bambu yang runcing

f.        Sarana Jaring
Banyak macam jaring yang dipergunakan oleh pelaku antara lain :
-        Jaring kawat baja, jaring jenis ini disebut LAPUN, banyak dipergunakan untuk menjerat babi hutan, namun tidak tertutup kemungkinan seperti kijang, Napuh atau rusa terjerat didalamnya.
-       Jaring  plastik ukuran besar, jaring jenis ini dibentang sampai ratusan meter, pada bagian bawah jaring ini ada semacam kantong.
-       Jaring plastik halus, jaring jenis ini dipergunakan untuk menangkap satwa burung. 

g.      Sarana panah
Berburu dengan cara menggunakan panah sudah langka dilakukan masyarakat, namun banyak digunakan/dijadikan belantik.

h.      Sarana Sumpitan (tulup)
Sumpitan dapat dibuat dari kayu yang lubangi dapat juga dari sumpitan bambu dan anaknya dari bamboo atau besi (jari-jari sepeda) yang diberi racun sebelumnya, sarana sumpitan ini biasanya digunakan untuk menangkap satwa burung.

i.        Sarana Pulut
Sarana pulut atau perekat ini dapat dibedakan dalam 2 jenis :
1.    Pulut atau perekat yang dipasang pada lidi kelapa disebut pulut berlidi, sarana ini biasanya digunakan untuk mendapatkan satwa burung.
2.    Pulut atau perekat telapak, mengapa dikatakan “ Perekat telapak”. Pulut jenis ini hampir menyerupai dodol dan dipasang pada cabang kayu dimana diperkirakan akan hinggap satwa burung yang dimaksud hingga telapak kakinya akan terkena perekat dan terekatlah satwa burung tersebut.

Pulut berlidi atau pulut telapak biasanya disertakan burung pemikat atau tipe rekorder yang menirukan suara satwa burung yang diinginkan atau pohon yang sedang berbuah.

j.        Sarana Racun
Sarana ini biasanya dilakukan pada bangkai atau mangsa harimau yang belum  habis  dimakan kemudian ditaburi racun seperti racun babi (Timex).
Tujuan pokok adalah harimau dengan nilai rupiah yang cukup menjanjikan, tetapi yang terkena dampak adalah setiap satwa yang memakan bangkai tersebut akan menjadi bangkai pula dan tersia-sia.
Dari sejumlah sarana yang kami sampaikan ini masih banyak sarana lain yang biasa digunakan masyarakat secara tradisional di desa-desa atau daerah terpencil dalam usaha/kegiatan mendapatkan satwa buruan.




2.      BERBURU MODERN
Kegiatan berburu modern banyak dilakukan oleh masyarakat golongan menengah ke atas, dengan menggunakan alat-alat berburu yang canggih, sesuai kemajuan tehnologi dan Sumber Daya Manusia. (SDM)

Berburu semacam ini bukanlah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tetapi sebagai rekreasi dan tugas-tugas sosial dalam rangka membantu para petani meminimalisasi hama babi.

Berburu secara modern ini minimal memiliki kemampuan sebagai berikut :
  1. Faktor Manusia
  1. Terampil menguasai senjata dan menembak
  2. Menguasai peta kompas
  3. Mengerti kesehatan dan survival
  4. Menguasai tehnik mesin (mekanik)

  1. Faktor Perlengkapan 
  1. Senjata dengan caliber disesuaikan dengan jenis satwa buruan.
  2. Peta daerah dimana perburuan dilaksanakan
  3. Kompas
  4. Kotak P3k
  5. Alat-alat pemotong dan penggali
  6. kendaraan lengkap
  7. Alat Komunikasi
  8. Tali
  9. Alat-alat masak dan tenda

Dengan kemampuan dan perlengkapan yang sangat menunjang kegiatan, maka rekreasi akan terasa lebih menyejukkan, semangat baru akan timbul, kreativitas dalam kerja selalu menyertai langkah-langkah positif.

Banyak cara yang dilakukan oleh pemburu modern, ada yang menggunakan camera, direkam sebagai dokumentasi bagi dirinya atau penelitian kemudian dibiarkan begitu saja terutama satwa yang dilindungi, ada pula yang ditembak untuk dimanfaatkan.

Rekaman berburu seperti ini dapat diulang, dapat pula dinikmati oleh rekan, sahabat dan anak cucu kita dikemudian hari.

Kegiatan berburu seperti ini patut kita acungkan jempol, namun terbetik berita ada pemburu yang menggunakan arus listrik, cara ini merupakan cara yang patut pula ditindak tegas sampai ke akar-akarnya.

Untuk penyelidikan, penelitian, pengobatan atau pemindahan satwa dari satu daerah ke daerah lain dapat dipergunakan senjata bius.

Satwa akan tertidur beberapa waktu sesuai ukuran/takaran bahan kimia yang masuk ke tubuh satwa yang dimaksud, biasanya disesuaikan dengan berat satwa (perkiraan).


BAB II
PENGERTIAN ISTILAH-ISTILAH
OLAHRAGA BERBURU

Dalam olahraga berburu dikenal beberapa istilah yang harus diketahui oleh para atlet buru.
Oleh sebab itu dalam pembahasan Bab ini dijelaskan beberapa pengertian/istilah dalam olahraga berburu.
Istilah-istilah tersebut antara lain :  

1.      Berburu
Berburu adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk mendapatkan satwa liar atau mengambil, memindahkan anak, telur maupun sarang satwa.

2.      Perburuan 
Perburuan adalah pelaksanaan kegiatan berburu dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang.

3.      Atlet buru
Atlet buru adalah seseorang atau sekelompok orang yang menekuni kegiatan olahraga berburu secara professional.

4.      Satwa buru
Satwa buru adalah satwa yang oleh undang-undang atau peraturan pemerintah diperkenankan untuk diburu dalam kurun waktu tertentu seperti
-          Burung
-          Satwa kecil
-          Satwa besar

5.      Taman buru
Taman buru adalah kawasan yang ditetapkan sebagai tempat diselenggarakan perburuan secara teratur.

6.      Kebun buru
Kebun buru adalah lahan diluar kawasan hutan yang diusahakan oleh badan usaha dengan sesuatu atas hak, untuk kegiatan perburuan 

7.      Sumber daya alam hayati
Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam Hewani (satwa) yang bersama dengan unsur non hayati disekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem.

8.      Ekosistem sumber daya alam hayati 
Ekosistem sumber daya alam hayati adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur dengan alam, baik hayati maupun non-hayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi.

9.      Konsevasi sumber daya alam hayati
Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman nilainya.

10.   Areal buru
Areal buru adalah areal diluar taman buru dan kebun buru yang didalamnya terdapat satwa buru yang dapat diselenggarakan perburuan.

Areal buru dapat berupa hutan lindung, hutan produksi tetap, hutan produksi yang dapat dikonversi, tanah Negara dan tanah milik.

11.   Hutan lindung
Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan, sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut dan memelihara kesuburan tanah.

12.    Hutan Produksi
Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan.

13.    Tempat-tempat tertentu
Tempat-tempat tertentu adalah tempat-tempat yang diperkenankan untuk diselenggarakan perburuan yang ditetapkan oleh menteri kehutanan.



BAB III
KETENTUAN LARANGAN 
DALAM BERBURU
\n

A.      KETENTUAN LARANGAN DALAM BERBURU
Ketentuan larangan tersebut pada pasal-pasal undang-undang nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Hayati, antara lain :

1.      Pasal 19 ayat 1
Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam.
Perubahan terhadap keutuhan suaka alam, meliputi :
Mengurangi, menghilangkan fungsi dan luas kawasan suaka alam, serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli.

2.      Pasal 21 ayat 1
Setiap orang dilarang untuk :

1.  Mengambil, menebang memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati.

2.  Mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat diindonesia ke tempat lain didalam maupun luar Indonesia.  

3.      Pasal 21 ayat 2
Setiap orang di larang untuk :
1.  Menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

2.  Menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati.

3.  Mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat diindonesia ke tempat lain didalam atau diluar Indoensia.

4.  Memperniagakan, menyimpan, atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian tersebut atau mengeluarkan dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain didalam atau luar Indonesia.

5.  Mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan, atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi.

 4.      Pasal 33 ayat 1
Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti Taman Nasional.
Perubahan terhadap keutuhan zona inti Taman Nasional, meliputi :
Mengurangi, menghilangkan fungsi dan luas zona inti Taman Nasional, serta menambah jenis tumbuhan dan jenis satwa lain yang tidak asli.

5.      Pasal 33 ayat 3
Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam. 




B.      KETENTUAN PIDANA DALAM BERBURU 
Ketentuan pidana yang tersebut pada pasal 40 dalam undang-undang nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Hayati, antara lain :

1.      Pasal 40 ayat 1
Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana di maksud dalam pasal 19 ayat 1 dan pasal 33 ayat 1 di pidana dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan denda paling banyak Rp 200.000.000,- 00 (dua ratus juta rupiah).

2.      Pasal 40 ayat 2
Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana di maksud dalam pasal 21 ayat 1(satu) dan ayat 2 (dua) serta pasal 33 ayat 3 (tiga) di pidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak  Rp 100.000.000,- 00  (seratus juta rupiah).

3.      Pasal 40 ayat 3
Barang siapa atas kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud  dalam pasal 19 ayat 1 dan pasal  33 ayat 1 di pidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,- 00 (seratus juta rupiah)

4.      Pasal 40 ayat 4
Barang siapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 ayat 1 dan 2, serta pasal 33 ayat 3 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak  Rp 50.000.0000,- 00

5.      Pasal 40 ayat 5
Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan 2 adalah kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat 3 dan ayat 4 adalah pelanggaran.




C.     PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1994
Peraturan Pemerintah Nomor 13 tahun 1994 memuat Hak dan Kewajiban Para Pemburu, sebagaimana tersebut dalam pasal 16.

Pada pasal 17 pemburu melakukan kegiatan berburu wajib :

 a.  Memiliki izin senjata api dan KTA berburu
b.  Menggunakan alat sesuai izin berburu
c.  Melapor kepada Kepolisian/pejabat kehutanan setempat pada saat akan setelah berburu.
d.  Memanfaatkan hasil buruan
e.  Didampingi oleh pemandu buru (los)
f.  Berburu di tempat yang di tetapkan dalam izin berburu
g.  Berburu satwa buru sesuai dengan jenis dan jumlah yang telah ditetapkan dalam surat izin berburu.
h.  Memperhatikan keamanan masyarakat dan ketertiban umum.

Pasal 20, perburuan tidak boleh dilakukan dengan cara :

a.  Menggunakan kendaraan bermotor atau kapal terbang sebagai alat berpijak.
b.  Menggunakan bahan peledak  atau granat.
c.&nbrp; Menggunakan binatang pelacak, kecuali kepentingan penelitian, Menteri Kehutanan dapat memberikan pengecualian.
d.  Menggunakan bahan kimia
e.  Membakar tempat berburu
f.  Menggunakan alat lain untuk menarik atau menggiring satwa secara massal, kecuali kepentingan penelitian, Menteri Kehutanan dapat memberikan pengecualian.
g.  Menggunakan jerat/perangkap dan lubang perangkap
h.  Menggunakan senjata api yang bukan khusus untuk berburu.

 Pasal 15, surat izin berburu memuat hal-hal sebagai berikut :

1). a. Nomor Akta Berburu
      b. Identitas Pemburu
      c. Jenis dan Jumlah satwa buru yang akan di buru
      d. Alat Berburu             
      e. Tempat Berburu
      f.  Masa berlaku izin berburu
      g.  Ketentuan larangan dan sanksi pemburu.

2).  Surat Izin berburu tidak dapat di pindahtangankan atau dipergunakan oleh
orang lain.

No comments:

Post a Comment