Amazon Deals

Wednesday, August 21, 2013

Profil Raden Ajeng Kartini Lengkap

Biografi R.A Kartini Profil Foto Dan Biodata Lengkap. R.A (Raden Ajeng) Kartini merupakan sosok wanita pejuang yang pantang menyerah dalam memperjuangkan hak-hak wanita pribumi agar memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan layaknya laki-laki pada masa itu, sehingga bisa memiliki pemikiran maju seperti wanita-wanita eropa, karena di masanya kaum wanita berada pada status sosial yang rendah bahkan beliau sendiri hanya diperbolehkan sekolah sampai di ELS (Europese Lagere School) saat itu Kartini berusia 12 tahun dan sudah di pingit sambil menunggu untuk dikawinkan.

Menerima kenyataan itu R.A Kartini merasa sedih, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa dibawah tekanan tradisi yang berlaku saat itu, sehingga mau tidak mau ia harus tunduk pada aturan keluarga untuk tinggal dirumah. Namun Kartini dengan tekadnya yang kuat untuk maju tidak pernah surut. Kemudian untuk menghilangkan rasa sedihnya itu ia mengumpulkan buku-buku bacaan sehingga meski dalam pingitan dia tetap bisa belajar banyak dari buku-buku atau majalah yang ia kumpulkan.

Dari banyak membaca itulah wawasan Kartini makin berkembang dan menguasai banyak ilmu pengetahuan sehingga cita-citanya memperjuangkan hak-hak wanita makin terbuka, dan melalui membaca itu pula R.A Kartini mulai merasa kagum dan tertarik cara berpikir maju yang dimiliki wanita-wanita eropa kala itu,

Hal itu pula yang mendorong keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi semakin kuat, sampai pada akhirnya ia beinisiatif mendirikan taman pendidikan bagi kaum wanita yang diawali dengan mengumpulkan teman-temannya sendiri untuk diajarkan baca tulis

    Foto R.A Kartini

R.A KartiniSisilah Keturunan R.A Kartini
Raden Ajeng Kartni merupakan Putri dari keluarga priyayi sekelas Bangsawan Jawa, Lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah, ia adalah putri dari bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan masih ada pertalian nasab dengan Hamengkubuwana VI Kesultanan Yogyakarta. Kartini anak dari istri pertamanya bernama M.A. Ngasirah putri pasangan Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono yang dikenal sebagai guru agama di Telukawur, Jepara.

Sebelum menjadi Bupati Ayah Kartini adalah seorang wedana atau pimpinan wilayah administrasi yang berada dibawah kekeuasaan pemerintahan kabupaten tapi diatas kecamatan. Jabatan ini berlaku pada masa Hindia Belanda namun setelah Indonesia merdeka Kewedanan ini sudah tidak berlaku, Kedudukan wedana pada waktu itu tidak berhak dalam pengambilan keputusan.

Untuk menjadi seorang bupati peraturan yang berlaku saat itu bahwa seorang bupati harus memiliki istri dari keluarga bangsawan, karena itu Ayah kartini memilih kawin lagi dengan putri bangsawan asli yaitu seorang putri keturunan langsung Raja Madura bernama Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), sedangkan Ibunda R.A Kartini sendiri bukan dari golongan bangsawan tinggi, untuk memenuhi persyaratan menjadi bupati kala itu Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat harsus menikahi wanita yang bertalian langsung dengan bangsawan.

Jadi R.A Kartini menurut wikipedia ia merupakan anak dari Ario Sosroningrat tapi bukan dari istri Utama karena istri utama menurut peraturan waktu itu bagi seorang bupati harus keturunan bangsawan berarti istri utama Ario Sosroningrat adalah Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), setelah mereka menikah kemudian Ario Sosroningrat diangkat menjadi bupati menggantikan mertuanya yaitu R.A.A. Tjitrowikromo yang merupakan ayah kandung dari R.A. Woerjan

Biodata R.A Kartni:
Nama Lengkap : Raden Ajeng Kartini
Tempat/Tgl. Lahir : Jepara 21 April 1879
Ayah : Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat
Ibu : M.A Ngasirah
Suami : K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat
Anak : Raden Mas Soesalit
Wafat : 17 september 1904

R.A Kartini menikah
Pada saat Raden Ajeng Kartini dalam pingitan dan tidak boleh keluar ia menghabiskan waktunya dengan membaca, sehingga membaca baginya menjadi kegemaran dan hobi. Dari sanalah ia kemudian berpikir untuk memajukan perempuan Indonesia, bisa baca tulis dan berpikiran maju dan memiliki ilmu seperti pada umumnya yang dimiliki perempuan-perempuan eropa saat itu.

Untuk mewujudkan impiannya itu kemudian kartini mengumpulkan teman-teman wanitanya kerabat, tetangga dll, untuk diajarkan baca tulis dan sejak saat itu ia mulai memiliki aktivitas dan kesibukan sebagai pengajar. Meski demikian Kartini tetap selalu membaca dan juga menulis untuk menambah wawasan dan pengetahuannya termasuk ia menulis surat surat kepada Mr.J.H Abendanon, yang berisi permohonan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.

Namun Beasiswa yang diterima Kartini tidak sempat ia manfaatkan karena ia harus menikahi laki-laki sesuai keinginan orang tuanya tepatnya pada 12 november 1903 (usia 24 tahun) dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat seorang bupati Rembang yang sebelumnya pernah memiliki 3 istri.

Meski sudah menikah Kartini tetap memperoleh kebebasan dan mendapat dukungan dari suaminya meneruskan cita-citanya memajukan perempuan indonesia dengan mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka

Dari pernikahannya itu R.A Karini dikaruniai putra bernama Raden Mas Soesalit yang lahir pada 13 september 1904 dan beberapa hari kemudian tepatnya 17 september 1904 R.A Kartini meninggal dunia pada usianya yang ke-25 dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Untuk mewujudkan kegigihan dari perjuangan yang dilakukan R.A Kartini kemudian pada tahun 1912 Yayasan Kartini Semarang yang didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis (Politik Balas Budi) mendirikan sekolah wanita di Yogyakarta, Malang, Madiun, Surabaya, Cirebon dan daerah lain di indonesia dan diberi nama 'Sekolah Kartini'

Itulah sekelumit cerita dan Biografi R.A Kartini yang selama ini kita kenal sebagai pejuang hak-hak kaum perempuan untuk memperoleh hak yang sama di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, karena itulah sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi sekaligus pejuang emansipasi wanita pada masa itu, maka setiap tanggal 21 April sering diperingati 'Hari Kartini' untuk mengenang perjuangannya. 

Monday, August 19, 2013

Gus Dur: The Living Pluralist

Gus Dur: The Living Pluralist

Halaman 3 edisi Minggu
11 Januari 2009
Wawancara Koran Jakarta, 11 januari 2008

Abdurrahman Wahid
Presiden ke-4 Indonesia ini bercerita tentang rencana pembunuhannya oleh Soeharto, berseteru dengan keponakan sendiri dan kesukaan pada lotek.
 Kandas lagi upaya kubu Abdurrahman Wahid alias Gus Dur untuk menggoyang kepemimpinan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis lalu  menolak gugatan 30 pengurus DPW PKB atas pembekuan 28 DPW dan 315 DPC PKB se-Indonesia yang dilakukan oleh Muhaimin Iskandar sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidz PKB. Majelis hakim menilai gugatan tidak jelas.
 Para pengurus DPW PKB itu mempersoalkan surat pembekuan DPW dan DPC karena tidak disertai tanda tangan Ketua Dewan Syura PKB, yaitu Gus Dur. Surat itu hanya ditandatangani Ketua Umum PKB dan Sekjen PKB Lukman Edy, yang berarti melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PKB.
 Sebelumnya, sesuai keputusan MA, maka tidak ada lagi PKB kubu Parung (Gus Dur) dan kubu Ancol (Muhaimin). Seluruh kekuatan berseteru di PKB harus melebur sesuai khitah Muktamar Semarang 2005, Gus Dur tetap Ketua Umum Dewan Syura, dan Muhaimin sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidz. Semenjak itu seluruh anggota DPR RI dari FKB ‘menginduk’ ke Muhaimin. 
 Partai yang mendapat nomor urut 13 pada Pemilu 2009 ini terus-menerus dihadang konflik internal. Gus Dur juga pernah berseteru dengan Matori Abdul Djalil. Namun Gus Dur tidak pernah menaikkan bendera putih dalam perseteruan dengan keponakannya, Muhaimin. Rusdi Mathari, Jacques Umam, Ezra Sihite dan Teguh Nugroho mewawancarai Gus dur di Kantor Pusat PBNU Kramat Raya Jakarta, awal pekan lalu. Berikut petikan wawancaranya:
 Anda menyerukan agar KPU menunda pelaksanaan pemilu karena salah satunya KPU tidak siap. Alasan Anda itu dianggap tidak masuk akal.
Pernyataan saya ada yang tidak dimuat koran, kan masih ada lagi. Bahwa pemilu itu curang. Nah mau bilang apa? Di Jawa Timur pemilihan gubernur, dari 42 orang yang telah mendapatkan hak suara, hanya 15 yang dapat panggilan. Sepertiga kan? Pilkada-pilkada itu semua curang.
 Di Jawa Timur Anda mendukung Khofifah (Indarparawansa)?
Tidak ada sebab semua itu curang. Kalau curang ya kita nggak dukung, itu aja. Kita nggak ikut pemilu.
 Cuma itu alasan Anda agar Pemilu ditunda?
Nggak cuma, Mas (nada suaranya meninggi). Pemilih nggak dipanggil itu menghancurkan pemilunya. Kalau orang lain mengatakan nggak apa-apa, ya silahkan. Bagi saya walau cuma satu, tetap artinya sama pemilu curang dan saya nggak ikut pemilu.
 Anda menyatakan boikot, caranya?
Kemarin itu pemilu yang menghasilkan Khofifah dan Karsa itu, itu ada 55 persen suara yang tidak ikut pemilu alias golput. Itu yang belum disinggung. Sekitar 70 persen, itu nggak bisa jalan. Pemerintah ini tidak memiliki legitimasi.
 Berarti ada unsur kesengajaan Gus kecurangan itu ?
Memang sengaja, supaya PKB nggak menang. Simpel aja.
 Ini PKB-nya Anda?
Ya PKB, memangnya mau PKB-nya siapa?
 Anjuran Anda untuk golput akan dipatuhi?
O iya. Saya sarankan begitu, ya tinggal mengiyakan aja.
 Berarti pemilu tahun depan harus diboikot?
Ya belum tentu. Kita lihat bagaimana keputusan akhirnya. Nanti pertengahan Februari.
Jadi kemarin itu, yang saya ngomong itu dipotong. Jadi saya bilang. “Kalau kita tidak diperkenankan mengikuti pemilu,” gitu loh. Harus perhatikan “kalau”-nya itu.
 Prospek PKB seperti apa Gus?
Lha wong kita nggak ikut kok ditanyain.
 Maksudnya dengan tidak adanya Gus Dur di PKB?
Kami tidak dipanggil oleh KPU.
 PWNU Jawa Tengah memberikan dukungan kepada Muhaimin?
Biar saja. Terserahlah, saya sih nggak ambil pusing. Muhaimin nangis-nangis itu. Yah karena sudah tidak menjalankan AD/ART. Dalam beberapa kali rapat DPP, diputuskan agar Muhaimin  meninggalkan partai.
 Nyatanya PKB Muhamimin itu ada?
Menyatakan dirinya ada tapi sebetulnya nggak ada.
 Dia kan keponakan Anda?
Iya siapapun. Lha wong anak saya Yeni ada kesalahan dibiarkan apa? Kalau kesalahan itu berkaitan sistem berorganisasi seperti di PKB, harus tetap diambil tindakan. Dia tidak mau mengikuti AD/ART. Karena di sana itu sudah diatur segala-galanya. Tapi ya biar saja, pusing-pusing amat sih. Ini negara sebentar lagi ambruk, ngapain pusing-pusing.
 Kenapa ambruk?
Anggaran negara nggak ada. Itu saja aja sudah habis. Nggak ada di dunia ini yang nggak ada anggarannya.
 Muhaimin berusaha menghubungi Anda?
O ya ada. Tapi saya tidak ada urusan dengan orang yang tukang bohong, tukang nipu, tukang korupsi dan utangnya banyak.
 Muhaimin kelihatan tak percaya diri tanpa Anda?
Pede nggak pede itu bukan urusan saya. Harusnya pemerintah tak lagi menjajah anggota PKB, gitu lho.
 Anda merasa dihkhianati sebagai pendiri PKB?
Biarin saja. Saya diam-diam aja duduk di sini. Saya malah berusaha ditangkap, nggak ditangkap-tangkap.
 Berencana menyerang kekuasaan biar ditangkap?
Ah ngapain. Saya ini oleh Soeharto pernah diperintahkan dibunuh tiga kali.
 Darimana Gus Dur tahu mau dibunuh?
Yang ngomong sama saya itu bukan orang sembarangan. Wiranto, kurang apa? Waktu dia masih Panglima Kostrad. Panglima ABRI waktu itu Faisal Tanjung.
 Apa kata Anda pada Wiranto?
Ya tanya saja sama pak Harto sendiri di Cendana. Pak Harto itu kan selalu menganggap dirinya raja Jawa. Watak raja Jawa itu apa yang diperbuat tangan kanan, tangan kirinya nggak boleh tahu. Makanya  waktu ditanya rahasia itu Pak Harto agak bingung toh? Dia bilang nggak mungkin.
 SBY masih menghubungi Anda?
Melalui orang-orangnya, minta supaya saya mendukung pencalonannya. Sampai sekarang saya sudah ditemui 23 calon presiden.
 Prabowo?
Lha iya.
 Anda sendiri masih berniat jadi presiden?
Siapa yang berminat? Orang tua-tua itu yang menghendaki. Saya hanya melihat kepentingan bangsa dan negara. Di luar saya, gak ada satu pun yang pantas jadi presiden.
 Akan mencalonkan diri?
Ya nggak usah,  ngapain pusing-pusing amat. Biarin ambruk, nanti kan cari saya. Nanti juga akan datang ke saya. Saya dulu ditanya oleh wartawan: Dalam polling (pilihan capres) Anda cuma mendapat satu atau dua persen. Ya terang saja. Karena polling itu biasanya pakai telepon. Lha warga (NU) ini kebanyakan nggak punya telepon.
 Masih mendapat fasilitas sebagai mantan presiden?
Ya ada. Termasuk dua orang pengawal itu.
 Hanya dua?
Wong saya maunya cuma dua orang. Repot gajinya.
 Yang menggaji mereka kana negara?
Gaji tok, makannya ya dari saya.
 Anda terlihat sehat akhir-akhir ini. Bangun jam berapa setiap hari?
Dari dulu yah begini ini. Pulang kadang malam kadang sore terus kedatangan tamu lagi.
Saya tidur biasanya empat jam. Dari jam 12 sampai jam 4.30. Tapi karena yang lain masih tidur ya saya diam saja. Sambil nunggui adzan subuh baru saya ke kamar mandi. Jam 5.30 sudah menerima tamu. Jam 9 mandi dan berangkat ke kantor. Istri saya itu tidurnya jam 3. Dia harus sahur, baca Al Quran dan shalat. Saya bilang sama dia, yuk kita kerjasama saja. Kerjasama apa? Kowe sing puasa, aku sing oleh ganjaran’e.
 Apa kata Ibu Nuriyah?
Ketawa saja. Saya itu tukang guyon, jadi istri saya nggak gelem ngrungoke, wis kakehan.
 Kalau komentar-komentar Anda hanya dianggap angin lalu?
Ya nggak apa-apa biar aja. Di mana-mana rakyat itu ngomong sama saya, Anda bilang, lha kok bisa?  Di Indonesia siapa sih yang ngomong diperhatikan orang? Presiden saja sudah nggak didengerin.
 Jadi masih merasa didengarkan rakyat?
Yah bukan merasa, nyatanya begitu. Saya nggak pernah memikirkan diri saya, nggak pernah. Kedudukan dan jabatan itu didapatkan untuk maksud tertentu. Kalau saya, apa maksud tertentu saya? Supaya negara itu besar, kuat. Diisi oleh Pemilu yang bersih. Sekarang kasus korupsi masih tebang pilih. Kalau mau dilihat yang ditangkapi KPK itu kan yang mendukung Megawati? Kalau yang mendukung pemerintah tidak. Sak warege. Yah kayak kasus pemilu ini.
 Masih berkantor di gedung ini (Kantor PBNU Kramat Raya)?
Lha saya yang bikin gedung ini? Ya kalau mau nempati gedung ini, lunasi utangnya, baru saya pergi. Nggak  berani. Sini bayar empat miliar dan saya pergi.
 Anda sudah mempersiapkan Yeni sebagai tokoh kunci partai?
Nggak, saya sudah mencanangkan calon sekjen itu Aksa Mahmud. Ternyata Yeni yang keluar, ya sudah.
 Apa kelebihan Yeni?
Ah nggak usahlah. Mosok muji-muji anak sendiri. Kalau gitu kan repot toh? Yang curang katakan curang, yang bersih katakan bersih. Hubungan kami sebagai bapak dan anak itu terjaga di rumah. Kalau di luar  ya nggak.
 Kalau dengan putri yang lain bagaimana?
Ada yang lebih hebat dari segi politik, Inayah. Lebih hebat dari Yeni, tapi ya saya enggak boleh pilih kasih. Saya tanya, kamu mau ke mana? Dia bilang mau sekolah saja, meneruskan S2 ke Australia, sinematografi.
 Anda sempat ingin belajar di Eropa, kok tidak kesampaian?
Karena nggak dapat beasiswa. Saya dulu kuliah setahun, tetap nggak dapat. Ya sudah, pulang. Belajar di mana sama saja yang terpenting kan orangnya. Saya beruntung bisa  pergi ke Mesir pas masa keemasan sastra Arab. Saya fakultas sastra. Lalu pindah ke Irak. Di Baghdad saya belajar sastra diabsen. Tapi yang terindah menurut saya itu mahasiswa itu diwajibkan menulis. Setiap orang diwajibkan menghafal 265 bait setiap tahun.
 Anda jago memberi komentat soal bola, Anda pernah bermain bola?
Waktu kecil saya main bola. Ya waktu sekolah di SMEP di Yogya, saya ini beck kiri dari kesebelasan siswa se-Yogyakarta.
 Bagaimana perkembangan sepak bola di Indonesia sekarang?
Sebetulnya maju kalau mau. Di dunia ini komite olah raga harusnya berkuasa menunjuk pemain, di Indonesia tidak. Pengurusnya menerima sogokan semua. Jadi kalau ada orang luar mau main dengan kita, dia tinggal bilang ke ketua komisi, itu  pemain bagus nggak usah dipakai. Kalah kita. Memang sangat bobrok, apalagi sekarang, siapa nama ketuanya? Nurdin Halid.
 Bagaimana cara Anda mengetahui isi buku?
Ada teman yang membaca buku itu, kemudian apa-apa saja yang penting itu diberitahu kepada saya.  Kadang buku itu dibacakan kepada saya. Ada yang terpotong-potong, ada juga yang penuh dibacakan. Selain itu dari e book. Saya baru menyelesaikan dua buku tentang pemerintahan George Bush. Buku-bukunya Barack Obama, semua itu sudah saya baca.
 Apa makanan kesukaan Anda?
Tahu tek.
 Tahu tek enak di Jakarta  dimana?
Warungnya di Jatinegara ada dipinggir jalan, tahu camur, pokoknya sembarang kalir di warung-warung pinggir jalan itu.
 Ada keluarga Cendana yang mendatangi Anda?
Masih. Lha itu Tutut mau masuk PKB. Dia tanya apa boleh saya masuk PKB. Saya bilang boleh, asal mau bayar. Jadi seluruh pengeluaran DPP itu ditanggung semua, tapi itu nanti dua tahun lagi. Kalau sekarang ramai, kayak PKS itu. Timing itu sama pentingnya. PKS itu nggak tahu caranya saja.
 Soal Anda keturunan China?
Itulah yang menyebabkan banyak kalangan tertawa. Dari mana Chinanya Gus Dur?
Kalau mau pergilah ke Kraya satu kilo dari  trowulan ke arah selatan.  Di situ ada kuburan Syeik Jumadil Kubro. Tapi aslinya itu kan Tan Kim Hong nenek moyang raya. Tan Kim Hong itu artinya orang bermarga Tan yang berbaju emas. Siapa yang berbaju emas?  Yang berbaju emas itu jenderal.
 Bagaimana ceritanya?
Brawijaya V itu punya istri banyak. Selain permaisuri dia juga punya banyak garwa ampil. Salah satu di antaranya disebut Putri Cempa dari Kamboja, Khmer. Putri Cempa ini punya dua anak, yang pertama laki-laki Tan Ong Wat. Belakangan dalam keadaan luka parah dia dilarikan ke Demak. Sembuh dan membuat kerajaan Demak. Dia punya keturunan di jaman sekarang  ya Megawati itu. Itu  kalau mau ngakoni. Satu lagi perempuan namanya Tan A Lok itu embah saya. Jadi kita itu saudara kalau mau ngakoni. Kalau nggak mau ya sudah. Ada lagi satu saudara lain yang juga nggak mau ngakoni. Namanya Susilo Bambang Yudoyono.
 Bener Gus?
Lho iyo. Dulu ada orang namanya Ki Kasan Besari (Hasan Basri) adiknya Raden Mas Said. Dia sakti bukan main. Pangeran Samber Nyawa itu dia, bukan Mas Said. Dia  akan menjadi Mangkunegoro II  adiknya cemburu atau apa, diracun. Tapi dia nggak mati hanya invalid. Kan nggak ada toh rojo jowo invalid. Dia terus dikasih tanah perdikan di Ponorogo. Kasan Besari punya anak lima. Yang pertama leluhurnya SBY, matinya di Gunung Gajah Pacitan, yang kedua itu lelehur saya, Ki Ageng Basarwiyah.
 SBY tahu ?
Tahu. Nggak mau ngakoni ya sudah wong nggak patheken.
 Anda yang nyampaikan?
Nggak tapi dia pasti tahu.
 Presiden Sejuta Lelucon
Gus Dur tak pernah jauh dari lelucon. Cucu pendiri Nahdhatul Ulama Hasyim Asyhari ini tak pilah-pilih momen dalam mengeluarkan koleksi humornya. Di Gedung Putih, Gus Dur pernah membuat Bill Clinton terkekeh. “Dia tanya saya apa saya sering baca buku dan buku apa yang sedang saya baca. Saya bilang baca bukunya Kennedy, One Thousand Day President,” kata Gus Dur.
 Gus Dur menceritakan seperti yang dia baca dalam buku itu, saat Kennedy pertama kali berkantor di gedung oval. “Saya bilang, ini lho di belakang kursi ada tembok yang punya dekokan.  Ternyata dekokan itu bekas kepala stik golf,” kata Gus Dur.
 Eisenhower, presiden sebelum Kennedy selalu rapi sekali meletakkan stik golf, tak berubah selama 8 tahun. “Lama-lama temboknya dekok. Saya bilang, saya mau tunjukan ini lho perpusatakaannya Eisenhower. Ngakak semua, padahal saya baca dari buku.”
 Mantan Presiden Soeharto adalah salah satu subjek lelucon yang kerap diungkitnya. Sinta Nuriyah, sebagai orang paling terdekatnya tentu saja paling sering menjadi korban kegemaran Gus Dur bergurau.
 Gus Dur pernah mencandai Sinta dengan cerita lama tentang mantri di rumah sakit yang sedang jalan di dekat kamar mayat. Tiba-tiba di depannya muncul sesosok perempuan. Cantik. Dia ikuti. Ketika perempuan itu menoleh, ternyata wajahnya datar. Tak ada mata, tak ada hidung. Sang mantri pun ambil langkah seribu sampai ketemu penjual sate.
 Dia duduk lalu pesan sate. “Sate 10,” kata si mantri. Si tukang sate sambil bakar sate bertanya kenapa mantri terlihat pucat. “Saya baru lihat perempuan mukanya rata,” kata mantri. Tukang sate sambil menoleh menjawab “Apakah mukanya seperti saya?” Rata.
 Mendengar cerita itu, Sinta yang saat itu berjalan bersama Gus Dur semakin erat memegang lengan Gus Dur.Nggak takut jalan lewat kamar mayat?” tanya Gus Dur pada Sinta.
 “Ya nggak kan jalan sama suami,” kata Sinta. “Saya bilang, ‘lho kok merasa pasti ini suamimu?”’ kata Gus Dur. “Lari dia.”

Saturday, August 17, 2013

11 Nasehat Jendral Besar Soedirman

1. Jogjakarta, 12 Nopember 1945
Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan

2. Jogjakarta, 1 Januari 1946
Tentara bukan merupakan suatu golongan diluar masyarakat, bukan suatu kasta yg berdiri diatas masyarakat, Tentara tidak lain dan tidak lebih dari salah satu bagian masyarakat yang mempunyai kewajiban tertentu.

3. Jogjakarta, 17 Pebruari 1946
Kami tentara Republik Indonesia akan timbul dan tenggelam bersama negara

4. Jogja, 25-5-46 Sanggupmempertahankan kedaulatan n kemerdekaan NKRI,yg tlh diproklamasikan pd tgl 17-8-45, sampai titik darah penghabisan

5. Jogjakarta, 27 Nopember 1946
Karena kewajiban kamulah untuk tetap pada pendirian semula, mempertahankan dan mengorbankan jiwa untuk kedaulatan negara dan bangsa kita seluruhnya.

6. Jogjakarta, 5 Oktober 1949
Pelihara TNI, pelihara angkatan perang kita. Jangan sampai TNI dikuasai oleh partai politik manapun juga.
Ingatlah, bahwa prajurit kita bukan prajurit sewaan, bukan parjurit yang mudah dibelokkan haluannya
kita masuk dalam tentara, karena keinsyafan jiwa dan sedia berkorban bagi bangsa dan negara

7. Jogjakarta, Januari 48 Bahwa kemerdekaan 1 negara,yg didirikan diatas timbunan runtuhan ribuan jiwa harta benda dr rakyat n bangsanya

8. Jogjakarta, 17- 8-1948
Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih,
akan tetap hidup, tetap menuntut bela, siapapun lawan yang aku hadapi.

9. Jogjakarta, 1 Agustus 1949
Bahwa satu-satunya hak milik nasional/republik yang masih utuh tidak berubah-ubah, meskipun harus mengalami segala macam soal dan perubahan, hanyalah angkatan perang Republik Indonesia (Tentara Nasional Indonesia)

10. Jogjakarta, 4 Oktober 1949
Jangan mudah tergelincir dalam saat-saat seperti ini,segala tipu muslihat dan provokasi-provokasi yang tampak atau tersembunyi dapat dilalui dengan selamat,kalau kita waspada dan bertindak sebagai patriot.

11.
Jangan bimbang dalam menghadapi macam-macam penderitaan, karena semakin dekat cita–cita kita tercapai, makin berat penderitaan yang harus kita alami.

Thursday, August 15, 2013

Foto Bung Karno di Dinding Kamar-kamar Pelacur

Pelacur juga manusia. Itu dulu yang kita sepakati. Sejarah pelacuran? Konon sudah sepanjang peradaban. Sisi gelap kehidupan manusia itu, bahkan masih eksis hingga sekarang. Bahkan tetap eksis di dunia Barat yang menganut paham free sex sekalipun. Lantas untuk apa membicangkan pelacur?

Layak. Sangat layak digunjingkan, mengingat yang hendak kita bahas adalah manifestasi cinta rakyat kepada Bung Karno. Ada banyak cara rakyat Indonesia menunjukkan rasa cintanya kepada Sang Proklamator. Di sisi lain, kata “rakyat” sendiri plural, di mana isinya terdiri atas alim ulama, presiden, gubernur, lurah, konglomerat, juragan tahu-tempe, blogger, tukang becak sampai pelacur.

Yang ini adalah kisah kebingungan seorang pejabat kepolisian yang harus berkata apa kepada Presidennye. Sebab, ia baru saja melihat sesuatu yang bagus untuk dilaporkan, tetapi ia sendiri ragu, apakah itu kabar bagus buat Bung Karno?

“Apa maksudmu dengan ’sebenarnya kabar baik’,” tanya Bung Karno kepada pejabat polisi.

“Ya,” kata pejabat itu terbata-bata, “Rakyat sangat menghargai Bapak. Mereka mencintai Bapak. Dan terutama rakyat jelata. Saya mengetahui, karena saya baru menyaksikan sendiri suatu keadaan yang menunjukkan penghargaan terhadap Bapak.” Sampai di kalimat itu, si pejabat kepolisian tadi berhenti berkata-kata.

Sementara, Bung Karno makin penasaran…. “Teruskan…. katakan padaku, dari mana engkau dan siapa yang kau temui, dan apa yang mereka lakukan?” desak Bung Karno.

“Begini, Pak…,” ia melanjutkan dengan sangat hati-hati, “kita mempunyai satu daerah, di mana perempuan-perempuan lacur semua ditempatkan di kamar-kamar berurutan. Kami memeriksa daerah itu dalam waktu-waktu tertentu, karena sudah menjadi tugas kami untuk mengadakan pengawasan. Kemarin, suatu kelompok memeriksa keadaan mereka, dan Bapak tahu apa yang mereka temui? Mereka menyaksikan potret Bapak digantung di dinding kamar-kamar yang berderet tadi.”

“Di mana aku digantungkan?” desak Bung Karno.

“Di tiap kamar, Pak. Di tiap kamar terdapat potret Bapak, di samping, tentu saja ada tempat tidur, meja lengkap dengan bedak-gincu serta kaca hias,” katanya gugup, sambil sebelah matanya melirik ke arah Bung Karno, menanti dengan hati berdebar, apa reaksinya.

Karena lama tak bereaksi, pejabat kepolisian itu buru-buru menambahkan, “Pak, kami merasa bahagia karena rakyat memuliakan Bapk, tapi dalam hal ini kami masih ragu, apakah wajar kalau gambar Presiden kita digantungkan di dinding rumah pelacuran. Apa yang harus kami kerjakan? Apakah kami harus copot gambar-gambar Bapak dari dinding-dinding itu?”

“Tidak,” Bung Karno cepat menukas. “Biarkan aku di sana. Biarkan mataku yang tua dan letih itu memandangnya!” (roso daras)

SOURCE: http://www.matabumi.com/features/foto-bung-karno-di-dinding-kamar-kamar-pelacur

Tuesday, August 13, 2013

Gaya Bahasa Para Pahlawan Kita

Bahasa memberikan peran yang luar biasa bagi para pejuang nasionalisme. Kemahiran mengungkapkan pikiran secara lisan pada diri para pejuang, menimbulkan dampak yang luar biasa kepada para rakyat,sehingga memungkinkan mereka untuk bersemangat mengikuti ajakannya.

Gaya Bahasa Para Pahlawan Kita - Para pejuang memiliki karakteristik keindahan tersendiri untuk memberikan semangat kebangkitan, membangkitkan kegairahan serta menunjukkan rasa hormat dan pengabdian. Reaksi-reaksi yang diharapkan dapat menimbulkan ilham/membakar emosi pendengar. Keunikan dari segi kebahasaannya, yang nantinya akan dapat memberikan kesan tersendiri.

Gaya bahasa yang digunakannya bersifat ekspresi dan universal nasionalis. Bahasa yang digunakannya secara spontanitas, namun mampu memikat rakyatnya karena mengandung unsur keindahan dalam berbahasa.

PENDAHULUAN Gagasan pada dasarnya berwujud buah pikiran, ungkapan perasaan, atau pernyataan kehendak, yang tersimpan pada diri seseorang.Pertukaran gagasan itu sendiri tidak akan dapat berlangsung jika tidak didukung oleh alat penghantar gagasan yang disebut bahasa. Jika seseorang ingin menyampaikan apa yang dipikirkannya,dirasakannya atau dikehendakinya dengan jelas kepada orang lain, maka bentuk-bentuk bahasa yang dipergunakannya pun haruslah mencerminkan kejelasan.

Demikian halnya pada bidang sejarah, bahasa sebagai penghantar gagasan para pejuang nasionalisme untuk menyampaikan inspirasinya. Paham nasionalisme Indonesia mulai dikenal di Indonesia pada awal abad ke-20.Nasionalisme adalah suatu paham yang menganggap bahwa kesetiaan tertinggi atas setiap individu hasus diserahkan kepada negara kebangsaan, jadi dalam hal ini negara disamakan dengan bangsa.

Jikalau mungkin segi kebahasaan para pejuang nasionalisme tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia pada zaman sekarang, namun keindahan bahasanya membuat generasinya banyak yang mengikuti jejak nasionalismenya.


BUNG TOMO Berikut cuplikkan pidato almarhum kakek kita yang gagah berani ketika mengusir bangsa Inggris dari tanah Pertiwi:

Bismillahirrohmanirrohim……

Merdeka!!!Saoedara-soedara ra’jat djelata di seloeroeh Indonesia,………….
Kita diwadjibkan oentoek dalam waktoe jang mereka tentoekan,menjerahkan sendjata-sendjata jang kita reboet dari tentara Djepang.Mereka minta supaja kita datang pada mereka itoe dengan mengangkat tangan.

Mereka telah minta.supaja kita semoea datang kepada mereka itoe dengan membawa bendera poetih….

Pemoeda-pemoeda jang berasal dari Maloekoe,
Pemoepa-pemoeda jang berasal dari Soelawesi,
Pemoeda-pemoeda jang berasal dari Poelaoe Bali,
Pemoeda-pemoeda jang berasal dari Soematra,……………………
telah menoenjoekkan satoe pertahanan jang tidak bisa didjebol,……….

Dengarkanlah ini hai tentara Inggris,
Ini djawaban ra’jat Soerabaja
Ini djawaban pemoeda Indonesia kepada kaoe sekalian Hai tentara Inggris!
Tetapi inilah djawaban kita:

Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah dan putih,

Maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!
Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita,saoedara-saoedara,lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.Sembojan kita tetap:MERDEKA atau MATI.
Allahu Akbar..!Allahu Akbar…!Allahu Akbar…!
MERDEKA!!!

Permulaan pidato Bung Tomo pada kata “Merdeka”, menunjukkan pengawalan rasa semangat agar perhatian rakyat tertuju padanya. Perkataan lain “Supaja kita datang pada mereka itoe dengan mengangkat tangan…. dengan membawa bendera poetih…..”.

Mengangkat tangan dan membawa bendera poetih berarti menyerah.
Tetapi Bung Tomo secara spontanitas mengungkapkanya menggunakan majas sinedoks pras prototo (sebagian untuk semua ).


Bung Tomo banyak menggunakan majas paralelisme untuk memperluas dan memperjelas sasarannya,pada kata “ Pemoeda-pemoeda jang berasal dari Malakoe ……Pemoeda-pemoeda jang berasal dari ….”.
Rasanya tidak ada waktu kosong untuk tidak mengungkapkan gagasanya, jadi selalu ada saja inspirasinya yang begitu menggugah. Pada kata “Telah menoenjoekkan satoe pertahanan jang tidak bisa dijebol”.

Kata dijebol terkesan rasa ketangguhan jiwa seorang pahlawan.
Kata “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain putih,maka selama itoe tidak akan ganti menjerang mereka itu.”
Kata darah merah menunjukkan selama darah kita masih dapat difungsikan (hidup).
Kain putih menjadi merah dan putih berarti menyerah menjadi menegakkan kembali bendera merah putih/bangkit untuk merdeka .

Dan juga bandingkan dengan lagu Ari Lasso berikut “Selama jantungku masih berdetak, selama itu pula engkau milikku,selama darahku masih mengalir, cintaku takkan pernah berakhir.”. Selarik lagu tersebut hampir bersesuaian dengan bahasa spontanitas yang digunakan Bung Tomo . Jadi begitu alamiahnya gaya bahasa yang begitu indah dan sekarang banyak dipakai kata-kata simbolis tersebut oleh para vokalis .

Kalimat yang digunakan terakhir kali oleh Bung Tomo juga menunjukkan kata-kata yang menggugah semangat dengan bersemboyan yang penuh arti yaitu MERDEKA atau MATI. Karakteristiknya terlihat sekali berbahasa nasionalisme ,dengan menggunakan bahasa perulangan ,penggugah semangat,dan peribahasa yang indah.Akhirnya berdampak pada arek-arek Surabaya untuk mempertahankan dari gempuran tentara Inggris,sehingga dikenang sebagai Hari Pahlawan.

PESAN BUNG KARNO Mungkin kita masih ingat peristiwa 3 Mei 1964 ketika dihadapan ratusan ribu sukarelawan Dwikora Bung Karno dengan lantang berpidato:

“Ini dadaku, mana dadamu?
Kalau Malysia mau konfrontasi ekonomi
Kata hadapi dengan konfrontasi ekonomi
Kalau Malaysia mau konfrontasi politik
Kita hadapi konfrontasi politik
Kalau Malaysia mau konfrontasi militer
Kita hadapi konfrontasi militer”

Kalimatnya juga menggunakan majas paralelisme,yaitu pada kata “kita hadapi……..kalau Malaysia”.
Mungkin itulah karakteristik keindahan bahasanya, terlihat seperti bait pantun. Pada kata ”Ini dadaku, mana dadamu?” menunjukkan rasa berani dan tangguh (menantang) dan bermajas sinedok pras prototo. Bung Karno secara spontanitas tidak mengatakan “Ini diriku” , namun ucapan yang langsung terlontar tersebut bergaya bahasa yang memikat.
Akhirnya sejarah membuktikan Bung Karno tanggap terhadap luka dan kemarahan yang dialami oleh rakyatnya dan terlewatilah masalah tersebut. Akan tetapi perasaan tidak bersahabat dengan Malaysia terus membayangi bagai api dalam sekam.

PESAN MOHAMMAD YAMIN“Cita-cita persatuan Indonesia itu bukan omong kosong,tetapi memangbenar-benar didukung oleh kekuatan-kekuatan yang timbul pada akar sejarah Indonesia sendiri”
(Disampaikan pada kongres Pemuda 2 di Jakarta 27 Oktober 1928 yang dihadiri oleh berbagai perkumpulan pemuda dan pelajar,dimana ia menjabat sebagai sekertaris).

Dan perkataan lainya “Peninggalan Majapahit, seperti yang diwariskan kepada kita oleh Gajah Mada,kita terima dengan penjagaan sepenuh hati,supaya dapat diturunkan lagi dengan sempurna kepada bangsa yang akan berumah tangga di atas tumpah darah nusantara yang kekar abadi.”
Moh Yamin menggunakan kata “Akar sejarah “yang merupakan kata simbol untuk mengungkapkan pikirannya yang berarti dasar atau pondasi sejarah Indonesia dan kata “Bangsa yang akan berumah tangga di atas tumpah darah nusantara………..”.

Kata simbol berumah tangga berarti berdomisili.Dan tumpah darah nusantara berarti tanah air nusantara.Pejuang nasionalisme mengungkapkan kata simbol tersebut, terasa menyentuh dan semakin memperjelas maksud tujuanya.


PESAN JENDERAL SUDIRMAN Pesan beliau, “Tempat saya yang terbaik di tengah-tengah anak buah saya,akan meneruskan perjuangan. Met of zonder pemerintah TNI akan berjuang terus untuk negeri ini “.
Kakek Sudirman sengaja menggunakan bahasa asing, sehingga pencampuran bahasa ini terlihat lebih menunjukkan intelektualitas . dan lagi-lagi pejaung nasionalisme menggunakan kata-kata yang dapat membawa hati para rakyatnya dengan mengatakan bahwa,” Tempat saya yang terbaik ditengah-tengah anak buah saya”.

Beliau menggunakan kata “anak buah” yang merupakan kata simbolis yang berarti prajurit atau muridnya.Pesan tersebut disampaikannya pada jam –jam terakhir sebelum jatuhnya Yogyakarta dan beliau dalam keadaan sakit,namun rasa semangatnya untuk berbangkit tetap ada.


PESAN DR.R.SOEHARSO “Right or wrong is my country,lebih-lebih kalau kita tahu,negara kita dalam kedaan bobrok,maka justru saat itu lah kita wajib memperbaikinya”
Pejuang yang satu ini merupakan seorang nasionalisme dan patriotisme. Beliau juga menggunakan bahasa asing. Kata” bobrok” yang ditujukan pada Negara Indonesia, terkesan dalam sekali bila didengar/merendahkan.
Negara kita berarti memang benar-benar parah kondisinya, sehingga kata-kata pahlawan tersebut diharapkan dapat mengubah keadaan di suatu negara, dengan menyentuh dan mengajak hati rakyatnya.


PESAN SUPRIYADI “Kita yang berjuang jangan sekali-kali mengharapkan pangkat,kedudukan, dan gaji”
Pahlawan nasional tersebut, mengatakan” pangkat ,kedudukan dan gaji “. Kata tersebut memberikan arti yang hampir berdekatan, yang mana maksudnya jabatan atau kekayaan. Kata tersebut bermajas pararelisme (mengulang kata yang maknanya hampir sama). Akan tetapi bila ditelaah pada kamus bahasa Indonesia maknanya mungkin saja sedikit berbeda.Pesan tersebut disampaikan saat beliau memimpin suatu pertemuan yang dihadiri oleh anggota PETA.


PESAN ABDUL MUIS “Jika orang lain bisa,saya pun bisa, mengapa pemuda –pemuda kita tidak bisa,jika memang mau berjuang”
Pesannya tersebut bernada sindiran terhadap pemuda-pemuda Sulawesi.Kalimatnya yang begitu memukau bermajas ironi, paralelisme dan terkesan bersajak a-a-a-a.Pesan tersebut merupakan pengalamannnya di luar negeri kepada para pemuda di Sulawesi.

PESAN PANGERAN SAMBERNYOWO“Rumangso melu handerbeni,wajib melu hangrungkebi,mulat saliro hangroso wani”
Merupakan prinsip Tri Dharma yang dikembangkan oleh Mangkunegoro I. Pesannya menggunakan Bahasa Jawa ,sehingga terlihat lebih dekat beliaunya dengan Rakyat Jawa. Bahasanya tersebut bersajak a-a-a-a dan menarik sekali bila dibaca. Arti dari kata-kata itu , adalah merasa ikut memiliki, wajib ikut mempertahankan, mawas diri dan erani bertanggung jawab. Pesan beliau tersebut dapat membangkitkan jiwa cinta tanah air bagi rakyat Indonesia..


PESAN PATIH GAJAH MADA “Sumpah Palapa,saya tidak akan makan buah palapa sebelum mempersatukan seluruh Nusantara di dalam naungan Kerajaan Majapahit”
Gajah Mada adalah seorang patih kepercayaan Prabu Hayam Wuruk(matanggwan) yang yang bersifat satya bhakti aprabhu(setia dengan hati yang ikhlas kepada negara dan Pemegang Mahkota). rasa persatuan dan kesatuaanya sangat tinggi sehingga akhirnya malah mengorbankan dirinya sendiri. Bahasa dari pesannya begitu indah dan bermajas, karena menggunakan keterkaitan buah palapa .

Kata–katanya sungguh meyakinkan dan percaya diri . Pesannya dinamai Sumpah Palapa , bersimbolkan buah palapa yang mana merupakan buah seperti semangka namun pahit . Gajah Mada membuat sumpah dan bukan pesan ajakan karena dia menginginkan rakyat mengikutinya sedangkan dia sendiri mencontohkannya dengan menggunakan bahasa meyakinkan (majas pleonasme).

Bait pesannya yang pertama terdengar indah (bersajak a-a-a-a). disini Gajah Mada memberikan nuansa yang berbeda ,yaitu pesannya berupa sumpah.

Sunday, August 11, 2013

Bacharuddin Jusuf Habibie, Habibie Factor and Crack Theory

Prof. Dr. -Ing.
Bacharuddin Jusuf Habibie
Presiden Indonesia ke-3
Masa jabatan
21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999
Wakil Presiden     Tidak ada,kosong
Didahului oleh     Soeharto
Digantikan oleh     Abdurrahman Wahid
Wakil Presiden Indonesia ke-7
Masa jabatan
11 Maret 1998 – 21 Mei 1998
Presiden     Soeharto
Didahului oleh     Try Sutrisno
Digantikan oleh     Megawati Sukarnoputri
Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia ke-1
Masa jabatan
29 Maret 1978 – 16 Maret 1998
Presiden     Soeharto
Didahului oleh     Tidak ada
Digantikan oleh     Rahardi Ramelan
Informasi pribadi
Lahir     25 Juni 1936 (umur 76)
Flag of the Netherlands.svg Parepare, Sulawesi Selatan, Hindia Belanda
Kebangsaan     Bendera Indonesia Indonesia
Bendera Jerman Jerman (Kehormatan)
Partai politik     Golkar
Suami/istri     Hasri Ainun Habibie
Anak     Ilham Akbar
Thareq Kemal
Alma mater     Institut Teknologi Bandung
Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule Aachen
Profesi     Insinyur
Agama     Islam


Bacharuddin Jusuf Habibie (lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936; umur 76 tahun) adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Ia menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Jabatannya digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terpilih sebagai presiden pada 20 Oktober 1999 oleh MPR hasil Pemilu 1999. Dengan menjabat selama 2 bulan dan 7 hari sebagai wakil presiden, dan 1 tahun dan 5 bulan sebagai presiden, Habibie merupakan Wakil Presiden dan juga Presiden Indonesia dengan masa jabatan terpendek.

Keluarga dan pendidikan

Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Alwi Abdul Jalil Habibie lahir pada tanggal 17 Agustus 1908 di Gorontalo dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo lahir di Yogyakarta 10 November 1911. Ibunda R.A. Tuti Marini Puspowardojo adalah anak seorang spesialis mata di Yogya, dan ayahnya yang bernama Puspowardjojo bertugas sebagai pemilik sekolah. B.J. Habibie adalah salah satu anak dari tujuh orang bersaudara.

B.J. Habibie menikah dengan Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962, dan dikaruniai dua orang putra, yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Sebelumnya ia pernah berilmu di SMAK Dago. Ia belajar teknik mesin di Institut Teknologi Bandung tahun 1954. Pada 1955-1965 ia melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat, menerima gelar diplom ingineur pada 1960 dan gelar doktor ingineur pada 1965 dengan predikat summa cum laude.
Pekerjaan dan karier

Habibie pernah bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman, sehingga mencapai puncak karier sebagai seorang wakil presiden bidang teknologi. Pada tahun 1973, ia kembali ke Indonesia atas permintaan mantan presiden Suharto.

Ia kemudian menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak tahun 1978 sampai Maret 1998. Sebelum menjabat Presiden (21 Mei 1998 - 20 Oktober 1999), B.J. Habibie adalah Wakil Presiden (14 Maret 1998 - 21 Mei 1998) dalam Kabinet Pembangunan VII di bawah Presiden Soeharto.

Ia diangkat menjadi ketua umum ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), pada masa jabatannya sebagai menteri.
Masa Kepresidenan

Habibie mewarisi kondisi kacau balau pasca pengunduran diri Soeharto akibat salah urus pada masa orde baru, sehingga menimbulkan maraknya kerusuhan dan disintegerasi hampir seluruh wilayah Indonesia. Segera setelah memperoleh kekuasaan Presiden Habibie segera membentuk sebuah kabinet. Salah satu tugas pentingnya adalah kembali mendapatkan dukungan dari Dana Moneter Internasional dan komunitas negara-negara donor untuk program pemulihan ekonomi. Dia juga membebaskan para tahanan politik dan mengurangi kontrol pada kebebasan berpendapat dan kegiatan organisasi.

Pada era pemerintahannya yang singkat ia berhasil memberikan landasan kokoh bagi Indonesia, pada eranya dilahirkan UU Anti Monopoli atau UU Persaingan Sehat, perubahan UU Partai Politik dan yang paling penting adalah UU otonomi daerah. Melalui penerapan UU otonomi daerah inilah gejolak disintergrasi yang diwarisi sejak era Orde Baru berhasil diredam dan akhirnya dituntaskan di era presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tanpa adanya UU otonomi daerah bisa dipastikan Indonesia akan mengalami nasib sama seperti Uni Soviet dan Yugoslavia.

Pengangkatan B.J. Habibie sebagai Presiden menimbulkan berbagai macam kontroversi bagi masyarakat Indonesia. Pihak yang pro menganggap pengangkatan Habibie sudah konstitusional. Hal itu sesuai dengan ketentuan pasal 8 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa "bila Presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia diganti oleh Wakil Presiden sampai habis waktunya". Sedangkan pihak yang kontra menganggap bahwa pengangkatan B.J. Habibie dianggap tidak konstitusional. Hal ini bertentangan dengan ketentuan pasal 9 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa "sebelum presiden memangku jabatan maka presiden harus mengucapkan sumpah atau janji di depan MPR atau DPR".

Langkah-langkah yang dilakukan BJ Habibie di bidang politik adalah:

    Memberi kebebasan pada rakyat untuk menyalurkan aspirasinya sehingga banyak bermunculan partai-partai politik baru yakni sebanyak 48 partai politik
    Membebaskan narapidana politik (napol) seperti Sri Bintang Pamungkas (mantan anggota DPR yang masuk penjara karena mengkritik Presiden Soeharto) dan Muchtar Pakpahan (pemimpin buruh yang dijatuhi hukuman karena dituduh memicu kerusuhan di Medan tahun 1994)
    Mencabut larangan berdirinya serikat-serikat buruh independen
    Membentuk tiga undang-undang yang demokratis yaitu :

    UU No. 2 tahun 1999 tentang Partai Politik
    UU No. 3 tahun 1999 tentang Pemilu
    UU No. 4 tahun 1999 tentang Susunan Kedudukan DPR/MPR

    Menetapkan 12 Ketetapan MPR dan ada 4 ketetapan yang mencerminkan jawaban dari tuntutan reformasi yaitu :

    Tap MPR No. VIII/MPR/1998, tentang pencabutan Tap No. IV/MPR/1983 tentangReferendum
    Tap MPR No. XVIII/MPR/1998, tentang pencabutan Tap MPR No. II/MPR/1978 tentang Pancasila sebagai azas tunggal
    Tap MPR No. XII/MPR/1998, tentang pencabutan Tap MPR No. V/MPR/1978 tentang Presiden mendapat mandat dari MPR untuk memiliki hak-hak dan Kebijakan di luar batas perundang-undangan
    Tap MPR No. XIII/MPR/1998, tentang Pembatasan masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden maksimal hanya dua kali periode.

12 Ketetapan MPR antara lain :

    Tap MPR No. X/MPR/1998, tentang pokok-pokok reformasi pembangunan dalam rangka penyelematan dan normalisasi kehidupan nasional sebagai haluan negara
    Tap MPR No. XI/MPR/1998, tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme
    Tap MPR No. XIII/MPR/1998, tentang pembatasan masa jabatan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia
    Tap MPR No. XV/MPR/1998, tentang penyelenggaraan Otonomi daerah
    Tap MPR No. XVI/MPR/1998, tentang politik ekonomi dalam rangka demokrasi ekonomi
    Tap MPR No. XVII/MPR/1998, tentang Hak Asasi Manusia (HAM)
    Tap MPR No. VII/MPR/1998, tentang perubahan dan tambahan atas Tap MPR No. I/MPR/1998 tentang peraturan tata tertib MPR
    Tap MPR No. XIV/MPR/1998, tentang Pemilihan Umum
    Tap MPR No. III/V/MPR/1998, tentang referendum
    Tap MPR No. IX/MPR/1998, tentang GBHN
    Tap MPR No. XII/MPR/1998, tentang pemberian tugas dan wewenang khusus kepada Presiden/mandataris MPR dalam rangka menyukseskan dan pengamanan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila
    Tap MPR No. XVIII/MPR/1998, tentang pencabutan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4)

Di bidang ekonomi, ia berhasil memotong nilai tukar rupiah terhadap dollar masih berkisar antara Rp 10.000 – Rp 15.000. Namun pada akhir pemerintahannya, terutama setelah pertanggungjawabannya ditolak MPR, nilai tukar rupiah meroket naik pada level Rp 6500 per dolar AS nilai yang tidak akan pernah dicapai lagi di era pemerintahan selanjutnya. Selain itu, ia juga memulai menerapkan independensi Bank Indonesia agar lebih fokus mengurusi perekonomian. Untuk menyelesaikan krisis moneter dan perbaikan ekonomi Indonesia, BJ Habibie melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

    Melakukan restrukturisasi dan rekapitulasi perbankan melalui pembentukan BPPN dan unit Pengelola Aset Negara
    Melikuidasi beberapa bank yang bermasalah
    Menaikkan nilai tukar rupiah terhadap dolar hingga di bawah Rp. 10.000,00
    Membentuk lembaga pemantau dan penyelesaian masalah utang luar negeri
    Mengimplementasikan reformasi ekonomi yang disyaratkan IMF
    Mengesahkan UU No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan yang Tidak Sehat
    Mengesahkan UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

Salah satu kesalahan yang dinilai pihak oposisi terbesar adalah setelah menjabat sebagai Presiden, B.J. Habibie memperbolehkan diadakannya referendum provinsi Timor Timur (sekarang Timor Leste), ia mengajukan hal yang cukup menggemparkan publik saat itu, yaitu mengadakan jajak pendapat bagi warga Timor Timur untuk memilih merdeka atau masih tetap menjadi bagian dari Indonesia. Pada masa kepresidenannya, Timor Timur lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjadi negara terpisah yang berdaulat pada tanggal 30 Agustus 1999. Lepasnya Timor Timur di satu sisi memang disesali oleh sebagian warga negara Indonesia, tapi disisi lain membersihkan nama Indonesia yang sering tercemar oleh tuduhan pelanggaran HAM di Timor Timur.

Kasus inilah yang mendorong pihak oposisi yang tidak puas dengan latar belakang Habibie semakin giat menjatuhkan Habibie. Upaya ini akhirnya berhasil dilakukan pada Sidang Umum 1999, ia memutuskan tidak mencalonkan diri lagi setelah laporan pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR.

Pandangan terhadap pemerintahan Habibie pada era awal reformasi cenderung bersifat negatif, tapi sejalan dengan perkembangan waktu banyak yang menilai positif pemerintahan Habibie. Salah pandangan positif itu dikemukan oleh L. Misbah Hidayat Dalam bukunya Reformasi Administrasi: Kajian Komparatif Pemerintahan Tiga Presiden.
“     Visi, misi dan kepemimpinan presiden Habibie dalam menjalankan agenda reformasi memang tidak bisa dilepaskan dari pengalaman hidupnya. Setiap keputusan yang diambil didasarkan pada faktor-faktor yang bisa diukur. Maka tidak heran tiap kebijakan yang diambil kadangkala membuat orang terkaget-kaget dan tidak mengerti. Bahkan sebagian kalangan menganggap Habibie apolitis dan tidak berperasaan. Pola kepemimpinan Habibie seperti itu dapat dimaklumi mengingat latar belakang pendidikannya sebagai doktor di bidang konstruksi pesawat terbang. Berkaitan dengan semangat demokratisasi, Habibie telah melakukan perubahan dengan membangun pemerintahan yang transparan dan dialogis. Prinsip demokrasi juga diterapkan dalam kebijakan ekonomi yang disertai penegakan hukum dan ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Dalam mengelola kegiatan kabinet sehari-haripun, Habibie melakukan perubahan besar. Ia meningkatkan koordinasi dan menghapus egosentisme sekotral antarmenteri. Selain itu sejumlah kreativitas mewarnai gaya kepemimpinan Habibie dalam menangani masalah bangsa. Untuk mengatasi persoalan ekonomi, misalnya, ia mengangkat pengusaha menjadi utusan khusus. Dan pengusaha itu sendiri yang menanggung biayanya. Tugas tersebut sangat penting, karena salah satu kelemahan pemerintah adalah kurang menjelaskan keadaan Indonesia yang sesungguhnya pada masyarakat internasional. Sementara itu pers, khususnya pers asing, terkesan hanya mengekspos berita-berita negatif tentang Indonesia sehingga tidak seimbang dalam pemberitaan.     ”

Masa Pascakepresidenan

Setelah ia turun dari jabatannya sebagai presiden, ia lebih banyak tinggal di Jerman daripada di Indonesia. Tetapi ketika era kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono, ia kembali aktif sebagai penasehat presiden untuk mengawal proses demokratisasi di Indonesia lewat organisasi yang didirikannya Habibie Center.

Publikasi
Karya Habibie

    Proceedings of the International Symposium on Aeronautical Science and Technology of Indonesia / B. J. Habibie; B. Laschka . Indonesian Aeronautical and Astronautical Institute; Deutsche Gesellschaft für Luft- und Raumfahrt 1986
    Eine Berechnungsmethode zum Voraussagen des Fortschritts von Rissen unter beliebigen Belastungen und Vergleiche mit entsprechenden Versuchsergebnissen, Presentasi pada Simposium DGLR di Baden-Baden,11-13 Oktober 1971
    Beitrag zur Temperaturbeanspruchung der orthotropen Kragscheibe, Disertasi di RWTH Aachen, 1965
    Sophisticated technologies : taking root in developing countries, International journal of technology management : IJTM. - Geneva-Aeroport : Inderscience Enterprises Ltd, 1990
    Einführung in die finite Elementen Methode,Teil 1, Hamburger Flugzeugbau GmbH, 1968
    Entwicklung eines Verfahrens zur Bestimmung des Rißfortschritts in Schalenstrukturen, Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH, 1970
    Entwicklung eines Berechnungsverfahrens zur Bestimmung der Rißfortschrittsgeschwindigkeit an Schalenstrukturen aus A1-Legierungen und Titanium, Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH, 1969
    Detik-detik Yang Menentukan - Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, 2006 (memoir mengenai peristiwa tahun 1998)

Mengenai Habibie

    Hosen, Nadirsyah, Indonesian political laws in Habibie Era : Between political struggle and law reform, ,Nordic journal of international law, ISSN 0029-151X, Bd. 72 (2003), 4, hal. 483-518
    Rice, Robert Charles, Indonesian approaches to technology policy during the Soeharto era : Habibie, Sumitro and others, Indonesian economic development (1990), hal. 53-66
    Makka, Makmur.A, The True Life of HABIBIE Cerita di Balik Kesuksesan, PUSTAKA IMAN, ISBN 978-979-3371-83-2, 2008

 





##################################################Random Progation Crack Theory by Bacharuddin Jusuf Habibie 
I think almost all the Indonesian people familiar figure on this one, he is known as an expert in aircraft once used to be the 3th President of the Republic Indonesia and now choose to live in Germany, Bacharuddin Jusuf Habibie, or better known as BJ Habibie. This time I would like to share one theory that he created while still active in the field of aircraft. In 1960 the development of aircraft technology has not been as quickly as now, the number of aircraft accident which occurred because of fatigue on the fuselage. Usually the critical points of this fatigue occurs at the connection between the wing and fuselage, or between the wing and engine mounting. Because these elements are continually experiencing strong shocks, both when you're taking off or landing. When taking off, unplugged receive air pressure (uplift) are great. When touched down this section also bear the blows of the fuselage. As a result exhaustion happen, and it was the beginning of cracks (crack). More and more cracks were more elongated and can be fatal dangerous, because the wing can be broken without warning. This leads to greater potential for fatigue. That's when BJ Habibie came to offer solutions. Was he who discovered how to crack propagation point it works, which became known as the theory of crack progression. With his theory, Habibie succeeded in calculating crack it in detail until the count of the atom. This not only can avoid the risk of plane crashes, but also make it easier and cheaper maintenance. The theory of crack progression or better known as Factor Habibie, the portion of the plane steel frames can be reduced and replaced by the dominance of aluminum in the body of the aircraft. And to reduce the weight of the aircraft without passengers and fuel weight to 10 percent of the weight konvesionalnya. Habibie factor also has a role in the development of merging technology airframe section by section. So that the cylindrical fuselage connection with the oval side of the wing can withstand air pressure when planes take off. So also in connection with the landing gear fuselage is much more robust so that it can withstand the load when the plane landed. Stabilization of Construction problem in the tail of this plane can be solved only in the Habibie period of 6 months only. Discoveries relating to the construction of aircraft known as the theory of Habibie, Habibie factor, and methods of Habibie. Random Progation Crack Theory by Bacharuddin Jusuf Habibie.


##################################################
Bacharuddin Jusuf Habibie
3rd President of Indonesia
In office
21 May 1998 – 20 October 1999
Vice President     none
Preceded by     Suharto
Succeeded by     Abdurrahman Wahid
7th Vice President of Indonesia
In office
10 March 1998 – 21 May 1998
President     Suharto
Preceded by     Try Sutrisno
Succeeded by     Megawati Sukarnoputri
Personal details
Born     25 June 1936 (age 76)
Pare-Pare, South Sulawesi, Dutch East Indies (now Indonesia)
Political party     Golongan Karya
Spouse(s)     Hasri Ainun Besari, (m. 1962-2010, her death)
Children     Ilham Akbar Habibie (b. 1963)
Thareq Kemal Habibie (b. 1967)
Alma mater     Bandung Institute of Technology (Mechanical Engineering 1954)
RWTH (B.E. 1955)
RWTH (Dr.-Ing. 1962)
Occupation     Engineer, Aviation Industrialist, Politician
Religion     Islam


Bacharuddin Jusuf Habibie About this sound pronunciation (help·info) (born 25 June 1936), also known B. J. Habibie, is a former politician of the State of Indonesia. His presidency (1998 - 1999) was the third and that of the shortest duration after independence.
Contents
By May 1998, problems including poverty had caused such discontent that Suharto's government fell into crisis. On May 13, the shooting of four students at Trisakti University in Jakart, caused extreme anger, which in turn led to widespread riots and lootings. There were now explicit calls for Suharto to step down as president of Indonesia.

Suharto responded by saying on May 19, 1998 that if he stepped down, the vice president would become president, and in a not too subtle jab at Habibie he added he was not sure whether the vice president could solve the problems facing the country.


After learning of Suharto's comments from television reports, Habibie discounted his mentor and became increasingly sympathetic to those who wanted Suharto to step down. While careful not to oppose him directly or support those who did, he left the president in little doubt that he saw himself as Suharto's legitimate successor.

Suharto, faced with dwindling civilian and military support, even among loyalists like Wiranto and Ginandjar Kartasasmita, resigned late on the evening of May 20, 1998.
The next morning, on May 21, 1998, Suharto publicly announced his resignation and Habibie was immediately sworn in as president. There were mixed reactions to Habibie's elevation to the presidency. Hard-line reformists saw him as an extension of Suharto's regime while moderate reformists saw him as leading a transitional government.

With the release of Suharto's 2006 book, Detik-Detik Yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (Decisive Moments: Indonesia's Long Road Towards Democracy), there is speculation that Suharto had wanted Habibie to resign along with him.


In Javanese style, Suharto had subtly hinted at this intention. Habibie, despite being of Javanese descent, neither took the hint nor acquiesced. Because his intentions had been ignored, Suharto showed nothing but contempt for Habibie and never spoke to his former colleague again.
Cabinet

Habibie's cabinet, which was called the Development Reform Cabinet, employed many of those present in Suharto's last cabinet. However, to show his reformist intentions, Habibie included the United Development Party (PPP) member Hamzah Haz.
East Timor

Habibie opposed East Timorese Independence but did consider giving East Timor special autonomy.


In late 1998, John Howard, then Prime Minister of Australia advised Indonesia of a change in Australian foreign policy, to whit Australia would advocate a referendum in East Timor on independence within a decade. Wishing to avoid the impression that Indonesia ruled East Timor as a colony, Habibie surprised some by announcing that a referendum, offering a choice between special autonomy and independence, would be held in East Timor. ABRI opposed this decision.

On 30 August 1999, the referendum was held and the East Timorese people overwhelmingly chose Independence. However, the retreat of Indonesian troops from East Timor created the 1999 East Timorese crisis where many were killed.
Suharto's corruption charge

The MPR Special Session in November 1998 declared that an investigation should be made into corruption in Indonesia, focussing particularly on Suharto.

Habibie formed a special commission on corruption which, to the Reformasi, represented a gesture of good faith. The noted lawyer Adnan Buyung Nasution was invited to chair the investigation. The broad scope of the terms of reference Nasution suggested was unacceptable to Habibie, who then appointed Attorney General and loyalist, Andi Muhammad Ghalib.

On 9 December 1998, Suharto was questioned for three hours by Ghalib. The Habibie government declared that Suharto had gained his wealth through corruption.

A tape of a telephone conversation between Habibie and Ghalib was made public. It raised concerns about the veracity of the investigation.

The economy

Habibie's government stabilized the economy in the face of the Asian financial crisis and the chaos of the last few months of Suharto's presidency.
Social issues

Habibie's government began to make concilliatory gestures towards Chinese Indonesians who, because of their elite status, were targeted in the riots of 1998. In September 1998, Habibie issued a 'Presidential Instruction' forbidding use of the terms pribumi and non-pribumi to differentiate indigenous and non-indigenous Indonesians.

In May 1999, Habibie issued a further instruction directing that a display of an ID card would suffice as proof of Indonesian citenzenship, whereas previously, displaying a 'Letter of Evidence of Republic of Indonesia Citizenship' (SBKRI) was required. Although the Chinese Indonesian community was not mentioned specifically, it is clear these policies were targeted towards Chinese Indonesians who, in the Suharto years, were referred to as non-Pribumi and had to display the SBKRI to prove their Indonesian citizenship.
Education

When Habibie was State Minister for Research and Technology, he created the OFP (Overseas Fellowship Program), SMDP (Science and Manpower Development Program) and STAID (Science and Technology for Industrial Development). These three programs were to provide scholarships to thousands of students to continue their study for master’s and doctorate program in the United States, Europe, Japan, and other countries.
End of presidency

Although he had been viewed as leading a transitional government, Habibie seemed determined to continue as president. In May 1999, Golkar announced that Habibie would be their presidential candidate.

At the 1999 MPR General Session in October, Habibie delivered an accountability speech which was a report of what he had achieved during his presidency. Once this was completed, MPR members began voting to decide if they would accept or reject his speech. During this process, pro-reform members of Golkar broke with the ranks and voted against him, and his accountability speech was rejected by 355 votes to 322. Seeing that it would be inappropriate to press his candidacy for the presidency after having his accountability speech rejected, Habibie withdrew his nomination.
Post-presidency

Since relinquishing the presidency, he has spent more time in Germany than in Indonesia, however he has during Susilo Bambang Yudoyono's presidency been active both as a presidential adviser and through The Habibie Centre to ensure democratisation in Indonesia.

In September 2006, he released a book called Detik-Detik Yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (Decisive Moments: Indonesia's Long Road Towards Democracy). The book recalled the events of May 1998 which led to his rise to the Presidency. In the book, he controversially accuses Lieutenant General Prabowo Subianto, Suharto's son-in-law (at that time) and the Kostrad Commander, of planning a coup d'état against him in May 1998.
Family

Habibie was married to Hasri Ainun Besari, a medical doctor, from 12 May 1962 until her death on 22 May 2010. The couple had two sons, Ilham Akbar Habibie and Thareq Kemal Habibie. B. J. Habibie's brother, Junus Effendi Habibie, was Indonesian ambassador to the Netherlands.
Early life

Habibie was born in Parepare, South Sulawesi Province to Abdul Jalil Habibie and R. A. Tuti Marini Puspowardojo. His father was an agriculturist from Gorontalo and his mother was a Javanese noblewoman from Yogyakarta. His parents met while studying in Bogor. When he was 14 years old, Habibie's father died.
Studies and career in Germany

Following his father's death, Habibie continued his studies in Jakarta and then in 1955 moved to Germany.

In 1960, Habibie received a degree in engineering in Germany, giving him the title Diplom-Ingenieur. He remained in Germany as a research assistant under Hans Ebner at the Lehrstuhl und Institut für Leichtbau, RWTH Aachen to conduct research for his doctoral degree.

In 1962, Habibie returned to Indonesia for three months on sick leave. During this time, he was reacquainted with Hasri Ainun, the daughter of R. Mohamad Besari. Habibie had known Hasri Ainun in childhood, junior high school and in senior high school at SMA-Kristen, Bandung. The two married on 12th May, 1962, returning to Germany shortly afterwards. Habibie and his wife settled in Aachen for a short period before moving to Oberforstbach. In May 1963 they had a son, Ilham Akbar Habibie.

When Habibie's minimum wage salary forced him into part-time work, he found employment with the automotive marque Talbot, where he became an adviser. Habibie worked on two projects which received funding from Deutsche Bundesbahn.

Due to his work with Makosh, the head of train constructions offered his position to Habibie upon retirement three years later, but Habibie refused.

In 1965, Habibie delivered his thesis in aerospace engineering and received the grade of "very good" for his dissertation, giving him the title Doktor der Ingenieurwissenschaften. During the same year, he accepted Hans Ebner's offer to continue his research on Thermoelastisitas and work toward his Habilitation]], but he declined the offer to join RWTH as a professor per se. His thesis about light construction for supersonic or hypersonic states also attracted offers of employment from companies such as Boeing and Airbus, which Habibie again declined.

Habibie did accept a position with Messerschmitt-Bölkow-Blohm in Hamburg. There, he developed theories on thermodynamics, construction, and aerodynamics known as the Habibie Factor, Habibie Theorem, and Habibie Method, respectively.

Habibie's time in Europe may have contributed to his interest in Leica cameras.
Career in Indonesia

On his return to Indonesia in 1974, Habibie was made Chief Executive Officer of the new state-owned enterprise Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). (In 1985, PT. Nurtanio changed its name to Indonesian Aviation Industry and is now known as Indonesian Aerospace Inc. (Dirgantara)). By the 1980s, IPTN had grown considerably, specializing in the manufacture of helicopters and small passenger planes.

Habibie became a pilot, assisted in his training by A.B. Wolff, former chief of staff of the Dutch Air Force. In 1995, he flew an N-250 (dubbed Gatotkoco) commuter plane.

In developing Indonesia's aviation industry, he adopted an approach called "Begin at the End and End at the Beginning". In this method, elements such as basic research became the last things upon which to focus, whilst actual manufacturing of the planes was placed as the first objective.
Member of Golkar

In Suharto's regime, as was expected of senior government executives, Habibie became a member of the Golkar organisation. From 1993–199, he was a daily coordinator for the chairman of the executive board.
Vice presidency

In January 1998, after accepting nomination for a 7th term as President, Suharto announced the selection criteria for the nomination of a vice president. Suharto did not mention Habibie by name, but his suggestion that the next vice president should have a mastery of science and technology made it obvious he had Habibie in mind.

In that year, in the midst of the Asian Financial Crisis, this suggestion was received badly, causing the rupiah to fall. Despite this and protests (the former minister Emil Salim tried to nominate himself as vice president), Habibie was elected vice president in March 1998.


Presidency

Rise to office

By May 1998, problems including poverty had caused such discontent that Suharto's government fell into crisis. On May 13, the shooting of four students at Trisakti University in Jakart, caused extreme anger, which in turn led to widespread riots and lootings. There were now explicit calls for Suharto to step down as president of Indonesia.

Suharto responded by saying on May 19, 1998 that if he stepped down, the vice president would become president, and in a not too subtle jab at Habibie he added he was not sure whether the vice president could solve the problems facing the country.

After learning of Suharto's comments from television reports, Habibie discounted his mentor and became increasingly sympathetic to those who wanted Suharto to step down. While careful not to oppose him directly or support those who did, he left the president in little doubt that he saw himself as Suharto's legitimate successor.

Suharto, faced with dwindling civilian and military support, even among loyalists like Wiranto and Ginandjar Kartasasmita, resigned late on the evening of May 20, 1998.

The next morning, on May 21, 1998, Suharto publicly announced his resignation and Habibie was immediately sworn in as president. There were mixed reactions to Habibie's elevation to the presidency. Hard-line reformists saw him as an extension of Suharto's regime while moderate reformists saw him as leading a transitional government.

With the release of Suharto's 2006 book, Detik-Detik Yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (Decisive Moments: Indonesia's Long Road Towards Democracy), there is speculation that Suharto had wanted Habibie to resign along with him.

In Javanese style, Suharto had subtly hinted at this intention. Habibie, despite being of Javanese descent, neither took the hint nor acquiesced. Because his intentions had been ignored, Suharto showed nothing but contempt for Habibie and never spoke to his former colleague again.
Cabinet

Habibie's cabinet, which was called the Development Reform Cabinet, employed many of those present in Suharto's last cabinet. However, to show his reformist intentions, Habibie included the United Development Party (PPP) member Hamzah Haz.
East Timor

Habibie opposed East Timorese Independence but did consider giving East Timor special autonomy.

In late 1998, John Howard, then Prime Minister of Australia advised Indonesia of a change in Australian foreign policy, to whit Australia would advocate a referendum in East Timor on independence within a decade. Wishing to avoid the impression that Indonesia ruled East Timor as a colony, Habibie surprised some by announcing that a referendum, offering a choice between special autonomy and independence, would be held in East Timor. ABRI opposed this decision.

On 30 August 1999, the referendum was held and the East Timorese people overwhelmingly chose Independence. However, the retreat of Indonesian troops from East Timor created the 1999 East Timorese crisis where many were killed.
Suharto's corruption charge

The MPR Special Session in November 1998 declared that an investigation should be made into corruption in Indonesia, focussing particularly on Suharto.

Habibie formed a special commission on corruption which, to the Reformasi, represented a gesture of good faith. The noted lawyer Adnan Buyung Nasution was invited to chair the investigation. The broad scope of the terms of reference Nasution suggested was unacceptable to Habibie, who then appointed Attorney General and loyalist, Andi Muhammad Ghalib.

On 9 December 1998, Suharto was questioned for three hours by Ghalib. The Habibie government declared that Suharto had gained his wealth through corruption.

A tape of a telephone conversation between Habibie and Ghalib was made public. It raised concerns about the veracity of the investigation.
The economy

Habibie's government stabilized the economy in the face of the Asian financial crisis and the chaos of the last few months of Suharto's presidency.
Social issues

Habibie's government began to make concilliatory gestures towards Chinese Indonesians who, because of their elite status, were targeted in the riots of 1998. In September 1998, Habibie issued a 'Presidential Instruction' forbidding use of the terms pribumi and non-pribumi to differentiate indigenous and non-indigenous Indonesians.

In May 1999, Habibie issued a further instruction directing that a display of an ID card would suffice as proof of Indonesian citenzenship, whereas previously, displaying a 'Letter of Evidence of Republic of Indonesia Citizenship' (SBKRI) was required. Although the Chinese Indonesian community was not mentioned specifically, it is clear these policies were targeted towards Chinese Indonesians who, in the Suharto years, were referred to as non-Pribumi and had to display the SBKRI to prove their Indonesian citizenship.
Education

When Habibie was State Minister for Research and Technology, he created the OFP (Overseas Fellowship Program), SMDP (Science and Manpower Development Program) and STAID (Science and Technology for Industrial Development). These three programs were to provide scholarships to thousands of students to continue their study for master’s and doctorate program in the United States, Europe, Japan, and other countries.
End of presidency

Although he had been viewed as leading a transitional government, Habibie seemed determined to continue as president. In May 1999, Golkar announced that Habibie would be their presidential candidate.

At the 1999 MPR General Session in October, Habibie delivered an accountability speech which was a report of what he had achieved during his presidency. Once this was completed, MPR members began voting to decide if they would accept or reject his speech. During this process, pro-reform members of Golkar broke with the ranks and voted against him, and his accountability speech was rejected by 355 votes to 322. Seeing that it would be inappropriate to press his candidacy for the presidency after having his accountability speech rejected, Habibie withdrew his nomination.
Post-presidency

Since relinquishing the presidency, he has spent more time in Germany than in Indonesia, however he has during Susilo Bambang Yudoyono's presidency been active both as a presidential adviser and through The Habibie Centre to ensure democratisation in Indonesia.

In September 2006, he released a book called Detik-Detik Yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (Decisive Moments: Indonesia's Long Road Towards Democracy). The book recalled the events of May 1998 which led to his rise to the Presidency. In the book, he controversially accuses Lieutenant General Prabowo Subianto, Suharto's son-in-law (at that time) and the Kostrad Commander, of planning a coup d'état against him in May 1998.
Family

Habibie was married to Hasri Ainun Besari, a medical doctor, from 12 May 1962 until her death on 22 May 2010. The couple had two sons, Ilham Akbar Habibie and Thareq Kemal Habibie. B. J. Habibie's brother, Junus Effendi Habibie, was Indonesian ambassador to the Netherlands.





################################################## 
Kunjungan BJ Habibie ke Kantor Manajemen Garuda Indonesia
 
Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo.
Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.
Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.
Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).
Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?
Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N20 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.
Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.
N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan.
Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:
“Dik, anda tahu, saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan, “Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur. Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.”
Sekarang Dik, anda semua lihat sendiri, N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’
Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.
“Dik tahu, di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia!
“Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa.
Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua??!
Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.
Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”
Pak Habibie menghela nafas,
Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;
“Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.
Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama.
N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu, bahkan hingga kini.
Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir, kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.
***
Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya,
“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.
“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,
Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”
Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:
“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik, organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik.”
Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu.
“Dik, saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya, saya mau kasih informasi. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu.”
Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam. Seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.
Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan,
“Dik, kalian tau? 2 minggu setelah ditinggalkan ibu, suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar- mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu,
Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..
saya mencari ibu di semua sudut rumah.
Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini? ’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.
Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;
Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!
Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus.
Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.
Saya pilih opsi yang ketiga.”
Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu),  ia melanjutkan pembicaraannya;
“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia.
Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat, saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”
Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata.
Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;
“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui.
Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang.(saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.
Dik, asal ‘you’ tahu, semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.
Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.
Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif!”
(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).
Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.
Jakarta, 12 Januari 2012
Salam,
Capt. Novianto Herupratomo
 
Capt Sumarwoto, Prof Dr BJ Habbie, Capt Erwin Danuwinata (alm)
N 250 GATOTKACA Tipe Transpor Sipil Produsen IPTN/PT Dirgantara Indonesia Perancang IPTN Terbang perdana 10 Agustus 1995 Diperkenalkan 1989 Status prototipe Jumlah produksi 2 (1 sudah terbang , 1 belum selesai)
 
Gatotkoco ; Name sign untuk N250 PA1 (Gatotkoco)
 
Berat dan Dimensi Rentang Sayap : 28 meter Panjang badan pesawat : 26,30 meter Tinggi : 8,37 meter Berat kosong : 13.665 kg Berat maksimum saat take-off (lepas landas) : 22.000 kg
 
Foto dari Kiri kekanan dengan menggunakan pesawat Sokogaleb buatan Yugoslavia (Alm Capt Erwin Danuwinata dan Capt Sumarwoto


SOURCE: http://brosurkilat.com

http://en.wikipedia.org/wiki/B._J._Habibie
http://id.wikipedia.org/wiki/Bacharuddin_Jusuf_Habibie
http://www.dwina.net/2010/12/random-progation-crack-theory-by.html