Amazon Deals

Wednesday, August 7, 2013

Abdul Haris Nasution dan Bukunya Yang Berjudul Pokok-Pokok Perang Gerilya

Abdul Haris Nasution
Siapa sih yang tidak kenal dengannya? Batak yang satu ini memang sungguh luar biasa.
Jenderal Besar TNI Purn. Abdul Haris Nasution (lahir di Kotanopan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918 – meninggal di Jakarta, 6 September 2000 pada umur 81 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang merupakan salah satu tokoh yang menjadi sasaran dalam peristiwa Gerakan 30 September, namun yang menjadi korban adalah putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya, Lettu Pierre Tendean.

Sebagai seorang tokoh militer, Nasution sangat dikenal sebagai ahli perang gerilya. Pak Nas demikian sebutannya dikenal juga sebagai penggagas dwifungsi ABRI. Orde Baru yang ikut didirikannya (walaupun ia hanya sesaat saja berperan di dalamnya) telah menafsirkan konsep dwifungsi itu ke dalam peran ganda militer yang sangat represif dan eksesif. Selain konsep dwifungsi ABRI, ia juga dikenal sebagai peletak dasar perang gerilya. Gagasan perang gerilya dituangkan dalam bukunya yang fenomenal, Fundamentals of Guerrilla Warfare. Selain diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, karya itu menjadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite militer dunia, West Point, Amerika Serikat.

Tahun 1940, ketika Belanda membuka sekolah perwira cadangan bagi pemuda Indonesia, ia ikut mendaftar. Ia kemudian menjadi pembantu letnan di Surabaya. Pada 1942, ia mengalami pertempuran pertamanya saat melawan Jepang di Surabaya. Setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, Nasution bersama para pemuda eks-PETA mendirikan Badan Keamanan Rakyat. Pada Maret 1946, ia diangkat menjadi Panglima Divisi III/Priangan. Mei 1946, ia dilantik Presiden Soekarno sebagai Panglima Divisi Siliwangi. Pada Februari 1948, ia menjadi Wakil Panglima Besar TNI (orang kedua setelah Jendral Soedirman). Sebulan kemudian jabatan "Wapangsar" dihapus dan ia ditunjuk menjadi Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang RI. Di penghujung tahun 1949, ia diangkat menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat.

Akibat pertentangan internal di dalam Angkatan Darat maka ia menggalang kekuatan dan melawan pemerintahan yang terkenal dengan peristiwa 17 Oktober 1952. Akibat peristiwa ini Presiden Soekarno mencopotnya dari jabatan KASAD dan menggantinya dengan Bambang Sugeng. Setelah islah akhirnya pada November 1955 ia menjabat kembali posisinya sebagai KASAD. Tidak hanya itu, pada Desember 1955 ia pun diangkat menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia.


##################################################
 Tahukah anda jika buku berjudul “Fundamentals of Guerrilla Warfare” karangan Jenderal Besar Abdul Haris Nasution itu betul-betul luar biasa dampaknya? Salah satunya adalah ketika terjadi perang Vietnam (1957 – 1975). Perang selama 18 tahun itu telah membuat tentara Amerika Serikat (AS) yang notabene sangat kuat pada Perang Dunia (PD) ke-2 dibuat kalang kabut oleh tentara Vietnam Utara (NVA) dan milisi Vietcong (VC). Meski ditunjang dengan teknologi persenjataan yang super canggih saat itu, yaitu dengan penggunaan rudal air-to-air, namun tentara Amerika Serikat benar-benar dibuat tak berdaya oleh NVA dan VC yang menerapkan “Taktik Gerilya”.

Perang Vietnam adalah perang terlama yang pernah dialami oleh Amerika Serikat. Selain banyak menelan korban jiwa (58.226 orang), perang Vietnam juga banyak memakan dana yang sangat besar (150 milyar dolar) di pihak AS. Akhirnya gelombang protes untuk menarik mundur pasukan AS dari Vietnam pecah di negeri Paman Sam tersebut. Dan pada tahun 1975 akhirnya AS benar-benar menarik mundur pasukannya dari bumi Vietnam. Pada perang ini tercatat 58.226 orang meninggal dan 304.000 luka-luka di pihak Amerika serikat.

Lantas apa hubungannya buku karangan A.H. Nasution dengan perang Vietnam? Yang jelas memang ada kaitannya. Ternyata, Ho Chi Minh, selaku Pemimpin Besar Vietnam Utara tersebut belajar menggunakan Taktik Perang Gerilya dari buku karangan A.H. Nasution ini. Luar biasa bukan?

Saat ini buku berjudul “Fundamentals of Guerrilla Warfare” karangan Abdul Haris Nasution telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Selain itu juga, buku ini merupakan buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite bagi militer dunia di Amerika Serikat, West Point. Jadi kira-kira di zaman sekarang ini, ada tidak putra bangsa yang sanggup memberikan kontribusi bagi dunia dalam bidang apapun seperti contohnya yang pernah dilakukan oleh Jenderal Besar Abdul Haris Nasution dalam bidang kemiliteran?
##################################################
Fundamentals of guerrilla warfare
During the time in which he was not the army chief of staff, Nasution wrote a book called the Fundamentals of Guerrilla Warfare. This book was based on Nasution's own experiences fighting and organizing guerrilla warfare during the Indonesian War of Independence. Originally released in 1953, it would become one of the most studied books on guerrilla warfare along with Mao Zedong's works on the same subject matter.
 
##################################################
Writing of Abdul Haris Nasution
The fullest expression of the Indonesian army’s founding doctrines is found in Abdul Haris Nasution’s 1953 Fundamentals of Guerrilla Warfare. The work is a mix of reproduced strategic directives from 1947-8, Nasution’s theories of guerrilla warfare, his reflections on the period just past (post-Japanese occupation) and the likely crises to come, and outlines of his legal frameworks for military justice and “guerrilla government”. The work contains similar principles to those espoused or practiced by other theorists and practitioners from Michael Collins in Ireland, T. E. Lawrence in the Middle East and Mao in China in the early Twentieth Century, to contemporary insurgents in Afghanistan and Iraq. Nasution willingly shows his influences, frequently referring to some guerrilla activities as "Wingate" actions, quoting Lawrence and drawing lessons from the recent and further past to develop and illustrate his well-thought out arguments. Where the work substantially differs from other theorist/practitioners is that General Nasution was one of the few men to have led both a guerrilla and a counter-guerrilla war. This dual perspective on the realities of ‘people’s war’ leaves the work refreshingly free of the dogmatic hyperbole and ideological contortions of similar revolutionary works from the period and manages to be both brutally direct in the methods it espouses and jarringly honest about the terrible price revolutionary guerrilla war exacts on everyone it comes in contact with, ‘the people’ most of all.

No comments:

Post a Comment