Amazon Deals

Thursday, August 15, 2013

Foto Bung Karno di Dinding Kamar-kamar Pelacur

Pelacur juga manusia. Itu dulu yang kita sepakati. Sejarah pelacuran? Konon sudah sepanjang peradaban. Sisi gelap kehidupan manusia itu, bahkan masih eksis hingga sekarang. Bahkan tetap eksis di dunia Barat yang menganut paham free sex sekalipun. Lantas untuk apa membicangkan pelacur?

Layak. Sangat layak digunjingkan, mengingat yang hendak kita bahas adalah manifestasi cinta rakyat kepada Bung Karno. Ada banyak cara rakyat Indonesia menunjukkan rasa cintanya kepada Sang Proklamator. Di sisi lain, kata “rakyat” sendiri plural, di mana isinya terdiri atas alim ulama, presiden, gubernur, lurah, konglomerat, juragan tahu-tempe, blogger, tukang becak sampai pelacur.

Yang ini adalah kisah kebingungan seorang pejabat kepolisian yang harus berkata apa kepada Presidennye. Sebab, ia baru saja melihat sesuatu yang bagus untuk dilaporkan, tetapi ia sendiri ragu, apakah itu kabar bagus buat Bung Karno?

“Apa maksudmu dengan ’sebenarnya kabar baik’,” tanya Bung Karno kepada pejabat polisi.

“Ya,” kata pejabat itu terbata-bata, “Rakyat sangat menghargai Bapak. Mereka mencintai Bapak. Dan terutama rakyat jelata. Saya mengetahui, karena saya baru menyaksikan sendiri suatu keadaan yang menunjukkan penghargaan terhadap Bapak.” Sampai di kalimat itu, si pejabat kepolisian tadi berhenti berkata-kata.

Sementara, Bung Karno makin penasaran…. “Teruskan…. katakan padaku, dari mana engkau dan siapa yang kau temui, dan apa yang mereka lakukan?” desak Bung Karno.

“Begini, Pak…,” ia melanjutkan dengan sangat hati-hati, “kita mempunyai satu daerah, di mana perempuan-perempuan lacur semua ditempatkan di kamar-kamar berurutan. Kami memeriksa daerah itu dalam waktu-waktu tertentu, karena sudah menjadi tugas kami untuk mengadakan pengawasan. Kemarin, suatu kelompok memeriksa keadaan mereka, dan Bapak tahu apa yang mereka temui? Mereka menyaksikan potret Bapak digantung di dinding kamar-kamar yang berderet tadi.”

“Di mana aku digantungkan?” desak Bung Karno.

“Di tiap kamar, Pak. Di tiap kamar terdapat potret Bapak, di samping, tentu saja ada tempat tidur, meja lengkap dengan bedak-gincu serta kaca hias,” katanya gugup, sambil sebelah matanya melirik ke arah Bung Karno, menanti dengan hati berdebar, apa reaksinya.

Karena lama tak bereaksi, pejabat kepolisian itu buru-buru menambahkan, “Pak, kami merasa bahagia karena rakyat memuliakan Bapk, tapi dalam hal ini kami masih ragu, apakah wajar kalau gambar Presiden kita digantungkan di dinding rumah pelacuran. Apa yang harus kami kerjakan? Apakah kami harus copot gambar-gambar Bapak dari dinding-dinding itu?”

“Tidak,” Bung Karno cepat menukas. “Biarkan aku di sana. Biarkan mataku yang tua dan letih itu memandangnya!” (roso daras)

SOURCE: http://www.matabumi.com/features/foto-bung-karno-di-dinding-kamar-kamar-pelacur

No comments:

Post a Comment