Amazon Deals

Monday, August 19, 2013

Gus Dur: The Living Pluralist

Gus Dur: The Living Pluralist

Halaman 3 edisi Minggu
11 Januari 2009
Wawancara Koran Jakarta, 11 januari 2008

Abdurrahman Wahid
Presiden ke-4 Indonesia ini bercerita tentang rencana pembunuhannya oleh Soeharto, berseteru dengan keponakan sendiri dan kesukaan pada lotek.
 Kandas lagi upaya kubu Abdurrahman Wahid alias Gus Dur untuk menggoyang kepemimpinan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis lalu  menolak gugatan 30 pengurus DPW PKB atas pembekuan 28 DPW dan 315 DPC PKB se-Indonesia yang dilakukan oleh Muhaimin Iskandar sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidz PKB. Majelis hakim menilai gugatan tidak jelas.
 Para pengurus DPW PKB itu mempersoalkan surat pembekuan DPW dan DPC karena tidak disertai tanda tangan Ketua Dewan Syura PKB, yaitu Gus Dur. Surat itu hanya ditandatangani Ketua Umum PKB dan Sekjen PKB Lukman Edy, yang berarti melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PKB.
 Sebelumnya, sesuai keputusan MA, maka tidak ada lagi PKB kubu Parung (Gus Dur) dan kubu Ancol (Muhaimin). Seluruh kekuatan berseteru di PKB harus melebur sesuai khitah Muktamar Semarang 2005, Gus Dur tetap Ketua Umum Dewan Syura, dan Muhaimin sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidz. Semenjak itu seluruh anggota DPR RI dari FKB ‘menginduk’ ke Muhaimin. 
 Partai yang mendapat nomor urut 13 pada Pemilu 2009 ini terus-menerus dihadang konflik internal. Gus Dur juga pernah berseteru dengan Matori Abdul Djalil. Namun Gus Dur tidak pernah menaikkan bendera putih dalam perseteruan dengan keponakannya, Muhaimin. Rusdi Mathari, Jacques Umam, Ezra Sihite dan Teguh Nugroho mewawancarai Gus dur di Kantor Pusat PBNU Kramat Raya Jakarta, awal pekan lalu. Berikut petikan wawancaranya:
 Anda menyerukan agar KPU menunda pelaksanaan pemilu karena salah satunya KPU tidak siap. Alasan Anda itu dianggap tidak masuk akal.
Pernyataan saya ada yang tidak dimuat koran, kan masih ada lagi. Bahwa pemilu itu curang. Nah mau bilang apa? Di Jawa Timur pemilihan gubernur, dari 42 orang yang telah mendapatkan hak suara, hanya 15 yang dapat panggilan. Sepertiga kan? Pilkada-pilkada itu semua curang.
 Di Jawa Timur Anda mendukung Khofifah (Indarparawansa)?
Tidak ada sebab semua itu curang. Kalau curang ya kita nggak dukung, itu aja. Kita nggak ikut pemilu.
 Cuma itu alasan Anda agar Pemilu ditunda?
Nggak cuma, Mas (nada suaranya meninggi). Pemilih nggak dipanggil itu menghancurkan pemilunya. Kalau orang lain mengatakan nggak apa-apa, ya silahkan. Bagi saya walau cuma satu, tetap artinya sama pemilu curang dan saya nggak ikut pemilu.
 Anda menyatakan boikot, caranya?
Kemarin itu pemilu yang menghasilkan Khofifah dan Karsa itu, itu ada 55 persen suara yang tidak ikut pemilu alias golput. Itu yang belum disinggung. Sekitar 70 persen, itu nggak bisa jalan. Pemerintah ini tidak memiliki legitimasi.
 Berarti ada unsur kesengajaan Gus kecurangan itu ?
Memang sengaja, supaya PKB nggak menang. Simpel aja.
 Ini PKB-nya Anda?
Ya PKB, memangnya mau PKB-nya siapa?
 Anjuran Anda untuk golput akan dipatuhi?
O iya. Saya sarankan begitu, ya tinggal mengiyakan aja.
 Berarti pemilu tahun depan harus diboikot?
Ya belum tentu. Kita lihat bagaimana keputusan akhirnya. Nanti pertengahan Februari.
Jadi kemarin itu, yang saya ngomong itu dipotong. Jadi saya bilang. “Kalau kita tidak diperkenankan mengikuti pemilu,” gitu loh. Harus perhatikan “kalau”-nya itu.
 Prospek PKB seperti apa Gus?
Lha wong kita nggak ikut kok ditanyain.
 Maksudnya dengan tidak adanya Gus Dur di PKB?
Kami tidak dipanggil oleh KPU.
 PWNU Jawa Tengah memberikan dukungan kepada Muhaimin?
Biar saja. Terserahlah, saya sih nggak ambil pusing. Muhaimin nangis-nangis itu. Yah karena sudah tidak menjalankan AD/ART. Dalam beberapa kali rapat DPP, diputuskan agar Muhaimin  meninggalkan partai.
 Nyatanya PKB Muhamimin itu ada?
Menyatakan dirinya ada tapi sebetulnya nggak ada.
 Dia kan keponakan Anda?
Iya siapapun. Lha wong anak saya Yeni ada kesalahan dibiarkan apa? Kalau kesalahan itu berkaitan sistem berorganisasi seperti di PKB, harus tetap diambil tindakan. Dia tidak mau mengikuti AD/ART. Karena di sana itu sudah diatur segala-galanya. Tapi ya biar saja, pusing-pusing amat sih. Ini negara sebentar lagi ambruk, ngapain pusing-pusing.
 Kenapa ambruk?
Anggaran negara nggak ada. Itu saja aja sudah habis. Nggak ada di dunia ini yang nggak ada anggarannya.
 Muhaimin berusaha menghubungi Anda?
O ya ada. Tapi saya tidak ada urusan dengan orang yang tukang bohong, tukang nipu, tukang korupsi dan utangnya banyak.
 Muhaimin kelihatan tak percaya diri tanpa Anda?
Pede nggak pede itu bukan urusan saya. Harusnya pemerintah tak lagi menjajah anggota PKB, gitu lho.
 Anda merasa dihkhianati sebagai pendiri PKB?
Biarin saja. Saya diam-diam aja duduk di sini. Saya malah berusaha ditangkap, nggak ditangkap-tangkap.
 Berencana menyerang kekuasaan biar ditangkap?
Ah ngapain. Saya ini oleh Soeharto pernah diperintahkan dibunuh tiga kali.
 Darimana Gus Dur tahu mau dibunuh?
Yang ngomong sama saya itu bukan orang sembarangan. Wiranto, kurang apa? Waktu dia masih Panglima Kostrad. Panglima ABRI waktu itu Faisal Tanjung.
 Apa kata Anda pada Wiranto?
Ya tanya saja sama pak Harto sendiri di Cendana. Pak Harto itu kan selalu menganggap dirinya raja Jawa. Watak raja Jawa itu apa yang diperbuat tangan kanan, tangan kirinya nggak boleh tahu. Makanya  waktu ditanya rahasia itu Pak Harto agak bingung toh? Dia bilang nggak mungkin.
 SBY masih menghubungi Anda?
Melalui orang-orangnya, minta supaya saya mendukung pencalonannya. Sampai sekarang saya sudah ditemui 23 calon presiden.
 Prabowo?
Lha iya.
 Anda sendiri masih berniat jadi presiden?
Siapa yang berminat? Orang tua-tua itu yang menghendaki. Saya hanya melihat kepentingan bangsa dan negara. Di luar saya, gak ada satu pun yang pantas jadi presiden.
 Akan mencalonkan diri?
Ya nggak usah,  ngapain pusing-pusing amat. Biarin ambruk, nanti kan cari saya. Nanti juga akan datang ke saya. Saya dulu ditanya oleh wartawan: Dalam polling (pilihan capres) Anda cuma mendapat satu atau dua persen. Ya terang saja. Karena polling itu biasanya pakai telepon. Lha warga (NU) ini kebanyakan nggak punya telepon.
 Masih mendapat fasilitas sebagai mantan presiden?
Ya ada. Termasuk dua orang pengawal itu.
 Hanya dua?
Wong saya maunya cuma dua orang. Repot gajinya.
 Yang menggaji mereka kana negara?
Gaji tok, makannya ya dari saya.
 Anda terlihat sehat akhir-akhir ini. Bangun jam berapa setiap hari?
Dari dulu yah begini ini. Pulang kadang malam kadang sore terus kedatangan tamu lagi.
Saya tidur biasanya empat jam. Dari jam 12 sampai jam 4.30. Tapi karena yang lain masih tidur ya saya diam saja. Sambil nunggui adzan subuh baru saya ke kamar mandi. Jam 5.30 sudah menerima tamu. Jam 9 mandi dan berangkat ke kantor. Istri saya itu tidurnya jam 3. Dia harus sahur, baca Al Quran dan shalat. Saya bilang sama dia, yuk kita kerjasama saja. Kerjasama apa? Kowe sing puasa, aku sing oleh ganjaran’e.
 Apa kata Ibu Nuriyah?
Ketawa saja. Saya itu tukang guyon, jadi istri saya nggak gelem ngrungoke, wis kakehan.
 Kalau komentar-komentar Anda hanya dianggap angin lalu?
Ya nggak apa-apa biar aja. Di mana-mana rakyat itu ngomong sama saya, Anda bilang, lha kok bisa?  Di Indonesia siapa sih yang ngomong diperhatikan orang? Presiden saja sudah nggak didengerin.
 Jadi masih merasa didengarkan rakyat?
Yah bukan merasa, nyatanya begitu. Saya nggak pernah memikirkan diri saya, nggak pernah. Kedudukan dan jabatan itu didapatkan untuk maksud tertentu. Kalau saya, apa maksud tertentu saya? Supaya negara itu besar, kuat. Diisi oleh Pemilu yang bersih. Sekarang kasus korupsi masih tebang pilih. Kalau mau dilihat yang ditangkapi KPK itu kan yang mendukung Megawati? Kalau yang mendukung pemerintah tidak. Sak warege. Yah kayak kasus pemilu ini.
 Masih berkantor di gedung ini (Kantor PBNU Kramat Raya)?
Lha saya yang bikin gedung ini? Ya kalau mau nempati gedung ini, lunasi utangnya, baru saya pergi. Nggak  berani. Sini bayar empat miliar dan saya pergi.
 Anda sudah mempersiapkan Yeni sebagai tokoh kunci partai?
Nggak, saya sudah mencanangkan calon sekjen itu Aksa Mahmud. Ternyata Yeni yang keluar, ya sudah.
 Apa kelebihan Yeni?
Ah nggak usahlah. Mosok muji-muji anak sendiri. Kalau gitu kan repot toh? Yang curang katakan curang, yang bersih katakan bersih. Hubungan kami sebagai bapak dan anak itu terjaga di rumah. Kalau di luar  ya nggak.
 Kalau dengan putri yang lain bagaimana?
Ada yang lebih hebat dari segi politik, Inayah. Lebih hebat dari Yeni, tapi ya saya enggak boleh pilih kasih. Saya tanya, kamu mau ke mana? Dia bilang mau sekolah saja, meneruskan S2 ke Australia, sinematografi.
 Anda sempat ingin belajar di Eropa, kok tidak kesampaian?
Karena nggak dapat beasiswa. Saya dulu kuliah setahun, tetap nggak dapat. Ya sudah, pulang. Belajar di mana sama saja yang terpenting kan orangnya. Saya beruntung bisa  pergi ke Mesir pas masa keemasan sastra Arab. Saya fakultas sastra. Lalu pindah ke Irak. Di Baghdad saya belajar sastra diabsen. Tapi yang terindah menurut saya itu mahasiswa itu diwajibkan menulis. Setiap orang diwajibkan menghafal 265 bait setiap tahun.
 Anda jago memberi komentat soal bola, Anda pernah bermain bola?
Waktu kecil saya main bola. Ya waktu sekolah di SMEP di Yogya, saya ini beck kiri dari kesebelasan siswa se-Yogyakarta.
 Bagaimana perkembangan sepak bola di Indonesia sekarang?
Sebetulnya maju kalau mau. Di dunia ini komite olah raga harusnya berkuasa menunjuk pemain, di Indonesia tidak. Pengurusnya menerima sogokan semua. Jadi kalau ada orang luar mau main dengan kita, dia tinggal bilang ke ketua komisi, itu  pemain bagus nggak usah dipakai. Kalah kita. Memang sangat bobrok, apalagi sekarang, siapa nama ketuanya? Nurdin Halid.
 Bagaimana cara Anda mengetahui isi buku?
Ada teman yang membaca buku itu, kemudian apa-apa saja yang penting itu diberitahu kepada saya.  Kadang buku itu dibacakan kepada saya. Ada yang terpotong-potong, ada juga yang penuh dibacakan. Selain itu dari e book. Saya baru menyelesaikan dua buku tentang pemerintahan George Bush. Buku-bukunya Barack Obama, semua itu sudah saya baca.
 Apa makanan kesukaan Anda?
Tahu tek.
 Tahu tek enak di Jakarta  dimana?
Warungnya di Jatinegara ada dipinggir jalan, tahu camur, pokoknya sembarang kalir di warung-warung pinggir jalan itu.
 Ada keluarga Cendana yang mendatangi Anda?
Masih. Lha itu Tutut mau masuk PKB. Dia tanya apa boleh saya masuk PKB. Saya bilang boleh, asal mau bayar. Jadi seluruh pengeluaran DPP itu ditanggung semua, tapi itu nanti dua tahun lagi. Kalau sekarang ramai, kayak PKS itu. Timing itu sama pentingnya. PKS itu nggak tahu caranya saja.
 Soal Anda keturunan China?
Itulah yang menyebabkan banyak kalangan tertawa. Dari mana Chinanya Gus Dur?
Kalau mau pergilah ke Kraya satu kilo dari  trowulan ke arah selatan.  Di situ ada kuburan Syeik Jumadil Kubro. Tapi aslinya itu kan Tan Kim Hong nenek moyang raya. Tan Kim Hong itu artinya orang bermarga Tan yang berbaju emas. Siapa yang berbaju emas?  Yang berbaju emas itu jenderal.
 Bagaimana ceritanya?
Brawijaya V itu punya istri banyak. Selain permaisuri dia juga punya banyak garwa ampil. Salah satu di antaranya disebut Putri Cempa dari Kamboja, Khmer. Putri Cempa ini punya dua anak, yang pertama laki-laki Tan Ong Wat. Belakangan dalam keadaan luka parah dia dilarikan ke Demak. Sembuh dan membuat kerajaan Demak. Dia punya keturunan di jaman sekarang  ya Megawati itu. Itu  kalau mau ngakoni. Satu lagi perempuan namanya Tan A Lok itu embah saya. Jadi kita itu saudara kalau mau ngakoni. Kalau nggak mau ya sudah. Ada lagi satu saudara lain yang juga nggak mau ngakoni. Namanya Susilo Bambang Yudoyono.
 Bener Gus?
Lho iyo. Dulu ada orang namanya Ki Kasan Besari (Hasan Basri) adiknya Raden Mas Said. Dia sakti bukan main. Pangeran Samber Nyawa itu dia, bukan Mas Said. Dia  akan menjadi Mangkunegoro II  adiknya cemburu atau apa, diracun. Tapi dia nggak mati hanya invalid. Kan nggak ada toh rojo jowo invalid. Dia terus dikasih tanah perdikan di Ponorogo. Kasan Besari punya anak lima. Yang pertama leluhurnya SBY, matinya di Gunung Gajah Pacitan, yang kedua itu lelehur saya, Ki Ageng Basarwiyah.
 SBY tahu ?
Tahu. Nggak mau ngakoni ya sudah wong nggak patheken.
 Anda yang nyampaikan?
Nggak tapi dia pasti tahu.
 Presiden Sejuta Lelucon
Gus Dur tak pernah jauh dari lelucon. Cucu pendiri Nahdhatul Ulama Hasyim Asyhari ini tak pilah-pilih momen dalam mengeluarkan koleksi humornya. Di Gedung Putih, Gus Dur pernah membuat Bill Clinton terkekeh. “Dia tanya saya apa saya sering baca buku dan buku apa yang sedang saya baca. Saya bilang baca bukunya Kennedy, One Thousand Day President,” kata Gus Dur.
 Gus Dur menceritakan seperti yang dia baca dalam buku itu, saat Kennedy pertama kali berkantor di gedung oval. “Saya bilang, ini lho di belakang kursi ada tembok yang punya dekokan.  Ternyata dekokan itu bekas kepala stik golf,” kata Gus Dur.
 Eisenhower, presiden sebelum Kennedy selalu rapi sekali meletakkan stik golf, tak berubah selama 8 tahun. “Lama-lama temboknya dekok. Saya bilang, saya mau tunjukan ini lho perpusatakaannya Eisenhower. Ngakak semua, padahal saya baca dari buku.”
 Mantan Presiden Soeharto adalah salah satu subjek lelucon yang kerap diungkitnya. Sinta Nuriyah, sebagai orang paling terdekatnya tentu saja paling sering menjadi korban kegemaran Gus Dur bergurau.
 Gus Dur pernah mencandai Sinta dengan cerita lama tentang mantri di rumah sakit yang sedang jalan di dekat kamar mayat. Tiba-tiba di depannya muncul sesosok perempuan. Cantik. Dia ikuti. Ketika perempuan itu menoleh, ternyata wajahnya datar. Tak ada mata, tak ada hidung. Sang mantri pun ambil langkah seribu sampai ketemu penjual sate.
 Dia duduk lalu pesan sate. “Sate 10,” kata si mantri. Si tukang sate sambil bakar sate bertanya kenapa mantri terlihat pucat. “Saya baru lihat perempuan mukanya rata,” kata mantri. Tukang sate sambil menoleh menjawab “Apakah mukanya seperti saya?” Rata.
 Mendengar cerita itu, Sinta yang saat itu berjalan bersama Gus Dur semakin erat memegang lengan Gus Dur.Nggak takut jalan lewat kamar mayat?” tanya Gus Dur pada Sinta.
 “Ya nggak kan jalan sama suami,” kata Sinta. “Saya bilang, ‘lho kok merasa pasti ini suamimu?”’ kata Gus Dur. “Lari dia.”

No comments:

Post a Comment