Amazon Deals

Sunday, September 29, 2013

Jasa Pengamanan Truk

Gajah oling dan kawan-kawan (jasa kawalan keamanan truk)

Sekedar berbagi..ini adalah profil dan logo jasa kemanan perjalanan darat (truk) ada sebagian yang bubar karena adanya operasi preman beberapa waktu yang lalu namun ada juga yang masih eksis hingga sekarang...silakan simak gan....

1. GAJAH OLING
KETUA : MAYOR CIN KS
ATAS NAMA : KOPERASI PEMBEKALAN DAN ANGKUTAN KODAM V / BRAWIJAYA
ALAMAT : JL. KALI SOSOK NOMOR 20 SURABAYA
BESARAN PUNGUTAN : RP.50 RIBU - RP. 150 RIBU PER BULAN PER KENDARAAN

2. ANDALAS
KETUA : MAYOR CIN KS
ATAS NAMA : KOPERASI PEMBEKALAN DAN ANGKUTAN KODAM V / BRAWIJAYA
ALAMAT : JL. KALI SOSOK NOMOR 20 SURABAYA
BESARAN PUNGUTAN : RP. 360 RIBU PER TAHUN PER KENDARAAN

3. TRANS KOMANDO
KETUA : KAPTEN CBA AM
ATAS NAMA : KOPERASI PEMBEKALAN DAN ANGKUTAN KODAM V / BRAWIJAYA
ALAMAT : JL. KALI SOSOK NOMOR 20 SURABAYA
BESARAN PUNGUTAN : RP. 360 RIBU PER TAHUN PER KENDARAAN?


4. SAKRAM
KETUA : SUNGKONO
ATAS NAMA : PERORANGAN
ALAMAT : JL. MARGOMULYO SURABAYA
BESARAN PUNGUTAN : RP. 1 JUTA PER TAHUN PER KENDARAAN

Untuk memuluskan modusnya, pelaku memberikan kuitansi alat pembayaran. Kuitansi ini hanya sebagai kedok agar mereka dipercaya sopir. Biasanya, sopir truk yang dikompas rata-rata dilihat dari nomor polisi. Jika berasal dari luar pulau, mereka berani melakukan aksi kejahatan.

"Kita biasanya tanya dulu pada sopir. Keamanannya ikut siapa. Apa ikut Gajah Oling atau Sapu Jagat. Kalau nggak ada stiker mereka, kita berani memberikan kawalan," terang Abdul Hadi, salah satu tersangka yang diamini Junaidi, tersangka lainnya.

Kedua tersangka ini mengakui, operasi yang dilakukan lebih tertuju pada truk-truk dengan nomor luar Jawa. Mereka biasanya mengompas biaya pada sopir dilihat dari besar kecilnya truk. Truk kecil ditarik Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu. Sedang truk besar ditarik Rp 350 ribu sampai Rp 450 ribu. (day/jm)


5. SINAR GARUDA
KETUA : C POLISI MILITER Ai
ATAS NAMA : PERORANGAN
ALAMAT : JL. KALIBANTENG SEMARANG
BESARAN PUNGUTAN : RP. 75 RIBU PER BULAN PER KENDARAAN

6. BR
KETUA : BARI
ATAS NAMA : PERORANGAN
ALAMAT : JL. KALIWUNGU KENDAL
BESARAN PUNGUTAN : RP. 10 RIBU PER KENDARAAN PER MASUK KENDAL

7. KORPIM
KETUA : AGUS
ATAS NAMA : PERORANGAN
ALAMAT : SEMARANG
BESARAN PUNGUTAN : RP. 75 RUBU PER BULAN PER KENDARAAN


8. AREMA MANUNGGAL
KETUA : ALI
ATAS NAMA : PERORANGAN
ALAMAT : SURABAYA
BESARAN PUNGUTAN : RP. 1 JUTA PER TAHUN PER KENDARAAN


MODUS :
MEMINTA UANG SECARA PAKSA
KEROYOK
PERAS DAN PUKUL
UANG JASA KEAMANAN
MINUMAN KERAS/MABUK
TUKANG PARKIR ILEGAL/LIAR
MENGAMEN SAMBIL MENGANCAM
MENGANCAM, MEMINTA UANG KEPADA CALON PENUMPANG KA (KEAMANAN) [/spoiler]

Berikut adalah nama jasa pengawalan yang saya ketahui :
1.GAJAH OLING
Wilayah Jawa-Bali-Lombok
2.ANDALASS
wilayah Sumatera,satu payung dg GAJAH OLING
3.GAPURO
4.TIJEX
5.GALENGSONG
Pengawal eXPEDISI Pandu SIwi
6.SBG-2
7.SEMUT MERAH
8.SAPU JAGAD
9.IJML
10.MDR
11.MJML
12.PUTRA CAKRA
13.MOJOPAHIT PUTRA
14.GUYANGAN GROUP
15.AREMA MANUNGGAL
Wilayah malang dan sekitarnya (biasanya truk bermuatan telur
ayam),pimpinan Kumis
16.SINAR GARUDA
Milik Koperasi POMDAM IV/Diponegoro
17.SKRD
18.HSL SHT
19.SAKRAM
biasanya truk di cat 'Arek Sakram'.Sering istirahat di daerah
Lamongan
20.MARINA
21.SINGA DARAT
Anggotanya bekas bajing loncat jawa tengah
22.GALI MUKTI
23.GEMAR
24.SCORPIO

SOURCE: http://forum.detik.com/gajah-oling-dan-kawan-kawan-jasa-kawalan-keamanan-truk-t197364.html

##################################################
Hindari Kontroversi Premanisme Pengawalan, Gajah Oling Bubarkan Diri


SURABAYA – Selesai sudah sepuluh tahun perjalanan Gajah Oling dalam menjalankan bisnis jasa pengawalan kendaraan pengangkut. Kemarin (22/11) anak usaha Koperasi Pembekalan Angkutan (Bekang) Kodam V Brawijaya itu resmi membubarkan diri. Alasan utamanya adalah menghindari kontroversi berkepanjangan tentang jasa pengawalan angkutan yang akhir-akhir ini dinilai dekat dengan premanisme.

Keputusan membubarkan diri itu diungkapkan langsung Ketua Gajah Oling Mayor (pur) Kacuk Sukiran. Mantan kepala gudang perminyakan dan peralatan kesatrian Pembekalan Angkutan (Bekang) Kodam V Brawijaya tersebut menyatakan bahwa keputusan bubar itu merupakan hasil koordinasi dengan sejumlah pejabat Kodam V Brawijaya. “Kami tak ingin kontroversi ini berlanjut. Maka, secara resmi kami membubarkan diri,” katanya ketika dikonfirmasi Jawa Pos kemarin.

Apakah keputusan itu terkait dengan rencana polisi untuk menyelidiki bisnis jasa pengawalan angkutan yang biasanya menggunakan stiker sebagai penanda itu? Kacuk langsung membantah. ”Kami hanya ingin tidak ada kontroversi lagi. Soal penyelidikan, itu bukan wewenang kami untuk menjawab. Yang jelas, selama berbisnis, kami tak pernah memaksa atau merugikan siapa pun untuk menjadi anggota kami,” tegas pria yang telah menjadi ketua sejak awal berdirinya Gajah Oling itu.

Kacuk mengatakan, pihaknya sudah memberitahukan pembubaran Gajah Oling tersebut kepada hampir seluruh perusahaan yang menjadi kliennya. “Pagi ini (kemarin pagi, Red) sebagian besar klien sudah kami beri tahu dan kami minta untuk mencopoti sendiri stiker Gajah Oling di kendaraan-kendaraan mereka,” jelasnya. Pencabutan stiker itu dilakukan agar kendaraan perusahaan yang selama ini menjadi klien Gajah Oling tak lagi dicegat polisi di jalan.

Sebenarnya, Kacuk telah mengimbau pencopotan stiker Gajah Oling sejak Jumat (21/11). Ketika itu, tanda-tanda pembubaran Gajah Oling mulai tampak. Dengan pencopotan stiker, otomatis kontrak jasa pengamanan antara Gajah Oling dan kliennya putus.

Kacuk mengaku sedih atas keputusan membubarkan usaha jasa pengawalan yang telah memiliki jaringan nasional itu. “Bagaimana lagi. Situasinya telah berkembang ke arah yang tak menguntungkan kami. Satu-satunya pilihan ya hanya ini (pembubaran diri, Red),” katanya.

Sementara itu, Polwiltabes Surabaya telah melakukan langkah-langkah awal penyelidikan terhadap Gajah Oling. Menurut Kapolwiltabes Surabaya Kombespol Bambang Suparno, pemeriksaan terhadap Mayor (pur) Kacuk Sukiran dilakukan kemarin. “Ini masih tahap awal. Yang bersangkutan hanya kami mintai keterangan soal bisnisnya secara umum,” ujar orang nomor satu di jajaran kepolisian Surabaya tersebut.

Bambang mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah pejabat di Kodam V Brawijaya terkait masalah tersebut. “Supaya jelas permasalahan yang ada. Kami pasti bersikap profesional dan proporsional, ” tegas mantan Dirlantas Polda Sumatera Utara itu.

Kacuk menyatakan akan bersikap kooperatif atas penyelidikan yang dilakukan Polwiltabes Surabaya. “Berdasar petunjuk atasan, saya memang akan berkoordinasi dengan Polwiltabes Surabaya. Selain memberitahukan soal pembubaran Gajah Oling, juga mengklarifikasi mengenai cara kerja kami,” tuturnya.

Seperti diberitakan, polisi telah mengembangkan sasaran operasi premanisme ke arah yang lebih luas. Tak hanya kejahatan jalanan, jasa pengawalan angkutan bermodus penempelan stiker juga menjadi bidikan razia.

Jasa pengawalan angkutan seperti Gajah Oling itu memang tumbuh subur seiring banyaknya pungli terhadap truk-truk lintas kota. Jaminan yang ditawarkan adalah bebas pungli untuk setiap kendaraan yang menjadi kliennya. Caranya sederhana. Pengusaha atau pemilik armada angkutan cukup membayar sejumlah tarif tertentu per bulan, kemudian mendapatkan stiker nama organisasi tersebut.

Maka, bila ada hambatan atau pungli di jalan, sopir cukup melapor ke bosnya. Selanjutnya, si bos menghubungi jasa pengawalan tersebut untuk memberitahukan bahwa anak buahnya masih terkena pungli. Nanti anggota organisasi pengawalan itulah yang bertugas menyelesaikan. Salah satu organisasi jasa pengawalan yang cukup besar dan punya nama ya Gajah Oling.

Kamis lalu (20/11) satu tim gabungan yang dipimpin langsung Wakabareskrim Mabes Polri Irjen Pol Paulus Purwoko melakukan razia di Jalan Gresik. Hasilnya, polisi memberhentikan dua truk dan menyobek stiker jasa pengawalan di kaca depan kendaraan itu. Satu stiker berlabel SKRD (Setia Kawan Rukun Damai), sementara yang lain adalah Gajah Oling. Tak tanggung-tanggung, yang menyobek stiker tersebut Kapolwiltabes Surabaya Kombespol Bambang Suparno.

Ketika itu, Wakabareskrim meminta Polda Jatim dan Polwiltabes Surabaya untuk menindaklanjuti temuan tersebut dan melakukan penyelidikan. Paulus mengatakan bahwa semua pungutan tak resmi di jalan yang mengandung unsur kekhawatiran dan keterpaksaan dari pengguna jasa bisa dijerat pidana.

Polisi Bentuk Tim Pemantau

PEMBUBARAN Gajah Oling (yang mungkin diikuti jasa pengawalan lainnya, Red) justru disambut skeptis oleh para sopir truk. Menurut Herdiono, seorang sopir truk antarkota yang mangkal di Aloha, polisi harus memastikan bahwa pungli di jalan benar-benar diberantas.

”Jangan-jangan setelah bubar, preman-preman kembali merajalela di jalan. Polisi yang cari kesalahan semakin banyak. Akibatnya, uang yang kami keluarkan justru lebih banyak. Malah merugikan,” ujar pria yang telah menjadi sopir selama tujuh tahun itu.

Menurut dia, para sopir sebenarnya tidak keberatan dengan operasi preman agar jalanan benar-benar bebas pungli. ”Tapi, siapa yang bisa menjamin tidak ada lagi pungli? Apakah polisi mau patroli malam-malam dan justru tak cari-cari kesalahan. Siapa yang bisa menjamin?” katanya dengan nada tanya.

Di bagian lain, Kapolwiltabes Surabaya Kombespol Bambang Suparno menjamin akan terus berkomitmen untuk membersihkan pungli di jalanan. ”Para sopir bisa langsung melapor ke kami melalui telepon atau SMS ke sejumlah nomor yang telah kami sosialisasikan, ” jelas perwira dengan tiga mawar di pundak itu.

Bambang juga mengaku telah membentuk tim yang khusus patroli dan memantau jalur luar kota, yakni jalur Surabaya-Gresik dan Surabaya-Sidoarjo. ”Yang rawan pungli memang jalur luar kota. Dalam kota relatif bersih karena pantauannya lebih gampang serta truk dan kendaraan berat tak bisa masuk dalam kota,” ujarnya.

Bambang mengatakan, tim tersebut akan terus berkeliling dan memantau tempat-tempat yang selama ini rawan pungli. ”Kalau menemukan adanya praktik pungli, tim itu akan langsung menindaknya, ” imbuhnya.

Untuk itu, Bambang mengatakan akan memberikan tanda khusus terhadap keberadaan tim tersebut agar para sopir bisa langsung lapor bila terjadi sesuatu. Konsepnya semacam kantor polisi berjalan. ”Dengan adanya sosialisasi nomor telepon dan tim ini, kami harap para sopir tak perlu resah lagi dengan pungli bila masuk wilayah Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik,” tegasnya. (ano/fat)

SOURCE: http://yusaksunaryanto.wordpress.com/2008/11/24/peluang-usaha-pengawalan-setelah-gajah-oling-bubarkan-diri/

##################################################
Gajah Oling: Lebih Percaya pada Pengaman Swasta

Mungkin anda sering baca tulisan “Gajah Oling” yang terdapat di mobil-mobil truk, baik itu di truk ukuran kecil sampai dengan tronton yang super besar. Apakah artinya Gajah Oling?

Angkutan truk adalah salah satu angkutan vital yang mendistribusikan segala macam barang. Dari kebutuhan pokok, bahan bakar, bahan baku, dan berbagai macam produk. Di lingkungan sopir dan pengendara angkutan truk, keamanan adalah prioritas nomor satu. Sepanjang rute perjalanan truk, tersebar ratusan titik rawan yang penuh dengan bajing loncat, perampok, pemalak, preman, bahkan sampai oknum petugas keamanan yang hobi minta jatah.
Bagi supir truk, petugas kepolisian bukan lagi pihak yang bisa melindungi mereka dari bahaya di atas. Tapi mereka punya pilihan perlindungan. Yaitu dengan bergabung ke dalam salah satu kelompok pengaman swasta seperti Gajah Oling.

Sulit untuk mendefinisikan apa dan siapa Gajah Oling. Karena sumber informasinya biasanya dari mulut ke mulut. Keberadaan Gajah Oling nyata, tapi apakah keberadaan mereka bisa dikonfirmasi saya pun tidak tahu. Kabarnya, Gajah Oling adalah organisasi bentukan Koperasi Kodam V Brawijaya yang bertugas memberikan jaminan keamanan bagi anggota organisasinya. Anggota Gajah Oling adalah para truk dan sopir truk yang hilir mudik mendistribusikan barang di daratan Jawa, Sumatera, dan mungkin pulau-pulau lainnya.

Dengan menjadi anggota Gajah Oling, maka keamanan akan dijamin, dan apabila terjadi musibah seperti perampokan, Gajah Oling akan mengerahkan timnya untuk melacak, menangkap, dan menghukum para pelakunya. Tentunya semuanya berjalan di luar garis-garis hukum formal. Untuk menjadi anggota Gajah Oling, setiap sopir dan truknya harus membayar iuran tahunan yang besarnya sekitar Rp 400.000,- sd Rp 600.000,-. Truk anggota Gajah Oling akan dipasangi tulisan “Gajah Oling” yang mencolok. Dengan tulisan tersebut, maka para penjahat di bumi pertiwi ini akan kecut untuk mengerjai sopir dan truknya. Kabarnya, petugas Gajah Oling pun sanggup mencari handphone sopir yang dirampok penjahat di tengah rute perjalanan.

Masih banyak lagi kelompok pengamanan swasta, atau orang juga kadang menyebutnya kelompok preman karena keberadaan mereka yang tidak resmi, yang memberikan jaminan pengamanan kepada sopir dan truknya. Biasanya mereka beroperasi berdasarkan daerah asal mereka. Kalau Gajah Oling berasal dari wilayah Jawa Timur, ada Sigada, singkatan dari Sinar Garuda, yang kabar burungnya adalah bentukan Koperasi Kodam IV Diponegoro Jawa Tengah. Di wilayah Tasik Malaya ada yang namanya Kotikam. Mereka beroperasi di wilayah tersebut dan memasang stiker di kendaraan yang menjadi anggota mereka. Selain itu ada Kopjasi yang beroperasi di Wilayah Banjar Negara, Topan di wilayah Tegal dan Pantura, dan Korprin di Wilayah Semarang. Di wilayah lain masih banyak lagi nama-nama kelompok pengaman swasta yang belum dapat saya sebutkan.

Masing-masing kelompok pengaman swasta mencoba meluaskan jaringan mereka dengan aktif dan agresif mendatangi truk yang belum berstiker. Terkadang mereka terkesan memaksa agar sopir membayar biaya pengamanan. Tapi ada juga yang tidak keberatan kalau sopir hanya membeli minuman dalam kemasan yang menjadi dagangan mereka.
Keberadaan mereka memang diperlukan. Sopir merasa lebih aman kalau sudah menjadi bagian dari salah satu organisasi mereka. Daripada harus berharap kepada polisi, jasa pengamanan swasta memang lebih dapat diandalkan oleh sopir yang hilir mudik di jalanan dengan truk dan angkutan mereka.

Jadi, apakah sedan anda juga akan ditempel stiker Gajah Oling?

SOURCE: http://dikkyz.blogspot.com/2008/01/gajah-oling-lebih-percaya-pada-pengaman.html

No comments:

Post a Comment