Amazon Deals

Thursday, September 5, 2013

Sekilas tentang BABAD SULTAN AGUNG

Sultan Agung adalah raja di kerajaan Mataram. Ia mempunyai seorang abdi, Juru Taman namanya. Semula abdi ini termasuk golongan manusia juga, tetapi kemudian berwujud siluman dan mempunyai kesaktian yang istimewa. Tempat tinggalnya di tengah hutan belantara di Tunjungbang, wilayah kerajaan Mataram. Karena kesaktiannya itu, Juru Taman selalu mendapat kepercayaan dari Sultan Agung untuk melaksanakan tugas penting ataupun yang berat-berat.
Juru Taman itu dulu adalah abdi Kanjeng Panembahan Senapati, kakek Sultan Agung. Ketika terjadi peperangan di Pajang, Juru Taman berhasil membunuh Sultan Pajang. Itulah sebabnya Kanjeng Panembahan Senapati sangat senang kepadanya. Sultan Agung menerima Juru Taman sebagai suatu wasiat yang diwariskan oleh kakeknya.
Pada tahun 1541 boleh dikatakan negara-negara lain mulai takluk kepada Mataram semua, baik karena berperang maupun tidak. Hanya negara Palembang yang ketika itu belum takluk kepada Sultan Agung, bahkan telah bersiap-siap kan menyerang Mataram. Tetapi antara Sultan Palembang dengan patihnya masih terjadi perbedaan pendapat. Patih sangat tidak setuju dengan maksud Sultan Palembang itu sebab telah mendengar kabar tentang kehebatan bala tentara Mataram, termasuk Panembahan Purbaya yang menjadi Senapati dan sanak saudara Sultan Mataram yang mempunyai kesaktian sendiri-sendiri. Sultan Agung mempunyai kesaktian tersendiri pula. Ia tidak dak dapat dipercakapkan orang, oleh karena itu banyak negara yang takluk tanpa peperangan. Demikian yang dikemukakan patih Palembang kepada rajanya. Mendengar itu semua Sultan Palembang marah dan tetap pada pendiriannya untuk menyerang Mataram.
Kabar tentang rencana penyerangan Sultan Palembang telah tersiar kemana-mana dan bahkan telah sampai di mataram. Pangeran Purbaya, senapati Mataram marah mendengar berita itu. Dengan cara menyamar ia pergi ke Palembang seorang diri untuk menyelidikinya.
Sesampainya di Palembang, Pangeran Purbaya kemudian menuju alun-alun. Disana ia melihat orang-orang sedang sibuk bekerja mempersiapkan alat-alat perang. Pangeran Purbaya kemudian bersandar pada meriam yang paling besar dan meriam itu menjadi gepeng, lobangnya berkatup dan meriam itu berubah menjadi tanah liat. Semua orang Palembang menjadi ketakutan.Mereka lari tunggang langgang. Akhirnya mereka melaporkan hal tersebut kepada Sultan Palembang.
Sultan Palembang mengirimkan utusan ke negara Mataram untuk membuktikan kesaktian Sultan Agung dengan cara membawa pusaka Kajar Aswad ke Mataram. Pusaka ini tidak dapat dipecahkan oleh siapapun dengan senjata apa saja. Jika Sultan Mataram dapat memecahkannya, Sultan Palembang akan takluk kepada Mataram.
Rombongan utusan dari Palembang yang membawa Kajar Aswad sudah sampai di Mataram. Maksudnya akan langsung menghadap Sultan Agung, tetapi tidak diperbolehkan. Menurut tatacara yang berlaku, tamu dari luar hanya dapat menghadap Raja dengan perantara Senapati. Utusan dari Palembang itu kemudian menemui senapati yaitu Pangeran Purbaya. Oleh Pangeran Purbaya, batu Kajar Aswad itu dipecahkannya menjadi dua bagian dan rombongan utusan dari Palembang disuruh pulang membawa salah satu pecahan batu itu.
Sesampainya di Palembang, pecahan batu itu diserahkan kepada Sultan Palembang. Sultan palembang keheran-heranan dalam batinnya sangat takut dan akhirnya mengurungkan niatnya untuk menyerang Mataram. Janji untuk takluk dan menyerahkan upeti ditepatinya, dan mulai saat itu Palembang takluk kepada Mataram.
Memang Sultan Agung telah terkenal namanya di tanah Jawa. Ia pandai menaklukkan negara lain, meskipun tidak melalui peperangan. Di balik itu semua ada suatu masalah di dalam negeri yang perlu diperhatikan Sultan Agung. Disana ada seorang penghulu yang bernama Kiai Penghulu Ahmad. Penghulu ini disayangi Sultan Agung dan diberi kemuliaan. Ketika itu ia tidak mau lagi datang menghadap Kanjeng Sultan. Jika ada selamatan kerajaan, ia hanya mengirimkan wakilnya, Mas Khatib Anom untuk mewakili doa dan selamatan tersebut. Sultan Agung marah karenanya dan mengutus seorang bintara disertai dua orang bupati untuk menjemput Kiai Penghulu.
Sesampai di tempat tujuan, Kiai Penghulu tidak didapatinya. Di dalam rumah ternyata kosong, tidak ada seorang pun kecuali sebuah lentera yang berputar sendiri. Mengetahui keadaan ini, para utusan ketakutan dan segera lari pulang menghadap Sultan Agung dan ternyata Kiai Penghulu sudah ada di hadapan Sultan Agung. Kiai Penghulu diperintahkan untuk mendoa, tetapi Kiai Penghulu tidak mau dan mewakilkan dirinya kepada Mas Khatib Anom. Sultan Agung jadi marah karenanya dan kemudian bertanya tentang alasan Kiai Penghulu mengapa ia tidak mau mendoa. Kiai Penghulu kemudian menjawabnya. Jika ia mendoa, maka semua hidangan tidak akan dapat dimakan oleh para tamu. Akan tetapi Sultan Agung ingin mengetahui buktinya. Kiai Penghulu kemudian mendoa. Baru dua kali mendengar ucapan Amien, semua hidangan berubah. Daging menjadi mentah kembali dan nasi menjadi beras. Yang menyaksikan kejadian itu keheran-heranan. Kiai Penghulu kemudian pergi, tidak jelas kemana tujuannya. Sultan Agung memerintahkan supaya semua yang hadir bubar, tetapi dengan permintaan supaya pada sore harinya mereka datang lagi untuk tujuan yang sama. Ulangan pelaksanaan selamatan sore hari itu ternyata berjalan dengan baik. Yang membacakan doa adalah Khatib Anom.
Karena sudah tahu sendiri bukti atau akibatnya, mengapa Kiai Penghulu selalu menolak untuk mendoa, Sultan Agung senang dan lega hatinya. Kiai Penghulu malah diberi hadiah berupa sorban, dodot dan cundrik. 

No comments:

Post a Comment