Amazon Deals

Friday, October 11, 2013

Bahaya PENYEBARAN Berita BOHONG

Suatu saat untuk mengguncang kepemimpinan Rasulullah SAW di kalangan kaum muslimin, orang-orang munafik menyebarkan berita bohong. Istri Rasulullah SAW ‘Aisyah RA mereka beritakan telah berselingkuh dengan Shafwan bin Mu’aththal (shahabat Rasulullah SAW).

Banyak orang Islam yang percaya terhadap berita tersebut sehingga hampir-hampir menimbulkan bencana kepada banyak orang. Allah turun tangan membersihkan nama ‘Aisyah, memberitahu bahwa yang turut menyebarkan berita bohong itu juga orang-orang Islam dan mengancam untuk mengadzab orang yang turut menyebarkan berita bohong tersebut sesuai dengan kontribusinya.


إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ


(Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya adzab yang besar). [QS An Nur : 11]


Sikap orang beriman itu seharusnya tidak percaya ketika mendengar orang Islam yang lain diberitakan kejelekannya, sampai ada bukti dan saksi-saksi yang memadai. (Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata). [QS An Nur : 12]


Tidak malah ikut menyebarkan berita bohong tersebut dari mulut ke mulut. Seharusnya melakukan klarifikasi (tabayyun) seperti telah difirmankan Allah swt :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ


(Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, mak` periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.) [QS Al Hujurat : 6].


Tidak malah ikut berkontribusi terhadap penyebaran berita bohong. Sudah sesat masih menyesatkan orang lain lagi. Penyebaran berita bohong adalah persoalan yang besar di sisi Allah, maka wajar kalau Allah mengancam penyebar berita bohong dengan adzab yang besar.


وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٤)إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ


Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal Dia pada sisi Allah adalah besar. [QS An Nur : 14-15]


Orang beriman tidak pantas percaya, apalagi turut andil dalam menyebarkan berita bohong. Allah menerangkan ayat-ayat-Nya bagi orang beriman untuk tidak berbuat seperti itu selama-lamanya.


وَلَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ (١٦)يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (١٧)وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ


Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah Dusta yang besar.” Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman. dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. [QS An Nur : 16-18]


Para penyebar berita bohong itu diancam Allah dengan adzab yang pedih dunia akherat, sehingga bila tidak karena kurnia dan rahmat-Nya mereka pasti ditimpa adzab yang besar.


إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (١٩)وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ


Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui. dan Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). [QS An Nur : 19-20]


Saat ini perkembangan teknologi informasi maju dengan pesat. Seharusnya umat Islam mensyukurinya dengan memanfaatkan teknologi informasi tersebut untuk berdakwah, memberikan pencerahan, menebarkan kebaikan, membangun akhlakkarimah demi menggapai ridho Allah.


Tidak untuk menebarkan berita bohong. Ketika berita bohong telah tersebar melalui koran, radio, televisi, internet dan media masa yang lain tidak mudah untuk menarik kembali. Pelurusan bisa dilakukan, tetapi orang yang mendengar berita bohong itu belum tentu mendengar pelurusannya.


Padahal semua itu harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah di yaumul-hisab. Para penyebar berita bohong itu matanya akan terbelalak, nyalinya akan menciut, dan jantungnya akan berdegup kencang ketakutan, ketika mendengar palu diketuk keras, Allah memutuskan:”Kalian semua masuk neraka!”


Untuk itu wahai saudaraku seiman seaqidah mari kita bertobat, kita tinggalkan kebiasaan menyebar berita bohong. Mari kita mohon ampun kepada Allah dan meminta maaf kepada orang yang telah kita dholimi.


Mari kita biasakan ber-khusnudhdhon, kita budayakan ber-tabayyun, dan kita eratkan tali silaturrahmi. Jangan ada lagi dusta di antara kita, karena Rasulullah saw telah mengingatkan:”Waiyyaakum wal-kadziba fainnal-kadziba yahdi ilal-fujuur fainnal-fujaura yahdi ilannaar“. (Waspadalah kamu terhadap dusta, karena dusta membawa kepada kedurhakaan dan kedurhakaan akan membawa ke neraka.)


عَنْ اَبِى بَكْرٍ الصّدّيْقِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: عَلَيْكُمْ بِالصّدْقِ، فَاِنَّهُ مَعَ اْلبِرّ وَ هُمَا فِى اْلجَنَّةِ. وَ اِيَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ، فَاِنَّهُ مَعَ اْلفُجُوْرِ وَ هُمَا فِى النَّارِ


Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”. [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya, juz 5, hal. 368, no. 5743]




Apalagi kita faham bahwa dusta adalah salah satu ciri orang munafik dan orang munafik diancam adzab yang kekal


وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ


Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.[QS At Taubah : 68]


di neraka yang paling bawah.


إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا


Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.[QS An Nisa : 145] .


Naudzubillaahi min dzaalik.

No comments:

Post a Comment