Amazon Deals

Thursday, May 31, 2012

11 Pasukan Perang Terhebat Dalam Sejarah

11 Armada Perang Terhebat Dalam Sejarah 

Mamluk



Mamluk Seorang prajurit budak yang masuk Islam dan melayani para khalifah Islam dan para sultan Ayyubiyah selama Abad Pertengahan. Seiring waktu, mereka menjadi suatu kasta militer yang kuat dan sering mengalahkan pasukan Salib. Lebih dari sekali, mereka merebut kekuasaan untuk diri mereka sendiri, misalnya, Mesir berkuasa di Kesultanan Mamluk 1.250-1.517. Setelah mamluk telah masuk Islam, banyak yang terlatih sebagai prajurit kavaleri. Mamluk harus mengikuti perintah furusiyya, kode yang mencakup nilai-nilai seperti keberanian dan kemurahan hati, dan juga taktik kavaleri, menunggang kuda, memanah dan perawatan luka, dll.

Apache
Apache seperti ninja dari Amerika. Mereka akan menyelinap dari belakang musuh dan menggorok tenggorokan musuh disadari. Mereka menggunakan senjata primitif yang kebanyakan terbuat dari kayu dan tulang. Mereka juga mahir dalam memakai senjata pisau dan melempar kapak.

Aztec



Suku Aztec terkenal kejam dalam pertempuran. Mereka biasanya berpakaian seperti binatang elang atau jaguar. Mereka menggunakan senjata yang sangat primitif seperti clubs dan busur dengan sangat efektif. Cuachicqueh adalah prajurit yang bersumpah tidak akan mundur bila musuh datang. Mereka akhirnya dikalahkan oleh Spanyol dengan senjata modern yang jauh lebih baik.

Knight

Knights adalah pejuang besar yang mengenakan baju pelindung di seluruh tubuh. Mereka adalah prajurit termahal, prajurit paling terlatih, dan memiliki baju besi, senjata dan kuda untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Raja. Mereka adalah tentara yang sangat efektif yang telah berlatih selama hidup mereka.

Mongol Warriors
Mongol dianggap barbar dan liar. Mereka mendominasi daerah Eropa dan Asia dan paling terkenal dengan pasukan berkuda yang dipimpin oleh salah satu komandan militer besar dunia, Genghis Khan. Mereka sangat disiplin dan mahir dalam menggunakan busur dan panah di atas punggung kuda. Mereka menggunakan busur komposit yang bisa menembus melalui baju besi dan juga cukup mahir dengan tombak dan pedang. Mereka ahli perang psikologis dan intimidasi, dan membangun salah satu imperium terbesar di dunia yang pernah ada.

Ninja
Ninja sangat ahli dalam teknik stealth dan sabotase. Mereka awalnya adalah kumpulan petani yang dilatih untuk mengalahkan para samurai perampok, tapi akhirnya menjadi pembunuh legendaris. Mereka dikenal dengan menggunakan pedang katana, sumpitan, Shuriken, dan kusarigama yang akan menjadi senjata pilihan. Mereka dikenal sebagai prajurit bayangan yang bersembunyi di malam hari. Mereka biasanya membunuh secara diam-diam. Mereka juga seniman bela diri besar yang menjalani pelatihan keras.

Roman Legion
Tulang punggung tentara Romawi yang menuju ke sebuah kerajaan yang tak tertandingi dalam hal ukuran dan kekuatan. Mereka biasanya infanteri berat dengan baju besi dan perisai model setelah Yunani kuno. Mereka adalah prajurit kombinasi ahli pedang, tombak dan perisai. Mereka terdiri dari para prajurit mahal yang mampu membuat senjata terbaik dan baja. Mereka disiplin, baik bersenjata, dan strategi besar yang berlangsung di luar kerajaan mereka.

Samurai

Samurai adalah ksatria dari Jepang dan tuan dari katana. Mereka adalah tentara bersenjata berat dan memakai baju besi dan bersedia mati untuk tuannya. Mereka memegang pedang paling tajam di dunia dan dengan mudah bisa memotong musuh dalam dua kali gerakan. Mereka juga master dari Yumi (busur) dan menjadi salah satu penembak terbaik dunia. Mereka adalah prajurit profesional dan terlatih dan berjuang keras untuk mendapatkan kehormatan. Karena kebiasaan kekerasan yang mereka perbuat, para petani bangkit melawan mereka dan lahirlah ninja.


Spartan
Budaya Spartan ialah semua tentang perang dan pelatihan militer pria seumur hidup mereka. Mereka memiliki pepatah: “kembali dengan perisai atau lebih dari itu” yang berarti jangan kembali kecuali Anda menang. Mereka adalah beberapa prajurit paling tangguh di dunia yang pernah dilihat dan telah menjadi terkenal karena pertahanan terakhir mereka pada pertempuran Thermopylae. Mereka adalah master dalam perisai dan tombak yang kemudian ditiru oleh tentara lainnya.

Vikings


Viking, penteror dari Eropa. Prajurit yang paling ditakuti dunia kuno. Mereka menteror Eropa dengan serangan mereka dan juga merampok. Mereka ganas dalam pertempuran dan menggunakan senjata yang sesuai tinggi badan mereka. Mereka besar dan sesuai menggunakan kapak mereka, pedang, dan tombak. Mereka ahli dalam menaklukkan kota. Bahkan agama mereka hanyalah perang dan mereka percaya bila mati dalam suatu perang, maka akan hidup di tengah perang yang tak akan usai. Mereka semua akan menjadi tentara yang sangat tangguh, terbukti dari kehebatan mereka dalam menghancurkan target mereka.

Immortal

The Immortal atau sang abadi, adalah pasukan elit kekaisaran bangsa Persia atau sekarang yang lebih dikenal sebagai Iran di jaman dinasti Akhameniyah (559 s/d 338 sebelum masehi),selain sebagai prajurit yang berperan langsung dalam setiap pertempuran, the immortals juga berperan ganda sebagai pasukan yang menjaga keamanan sang kaisar dan keluarganya.

Sejarawan Yunani Herodotus, Menuliskan bahwa, the immortals merupakan Pasukan heavy infantry atau pasukan tempur darat utama yang dilengkapi dengan persenjataan berat dan pada masanya dipimpin oleh Hydernes.

Disebut Immortal atau abadi karena jumlah prajuritnya selalu konstan/tetap sebanyak 10.000 orang dan setiap ada yang gugur/meninggal, cedera atau sakit langsung digantikan oleh prajurit lain, dengan keharusan hanya menerima etnis Persia,medean atau elamite sebagai anggotanya.

Menurut Herodotus,setiap Prajurit Immortal dipersenjatai dengan perisai rotan, tombak pendek, pedang atau belati besar, busur dan anak panah.
Di balik jubahnya mereka mengenakan baju jirah bersisik.

The immortals berperan penting dalam Kekaisaran bangsa Persia dijaman Dinasti Akiameniyeh dalam;
-Penaklukan kekaisaran Neo-Babilonia ditahun 547 sebelum masehi
-Penaklukan Mesir ditahun 525 SM DiKomandani oleh Cambyses,
-Invasi Kaisar Darius yang Agung ke India tahun 520 SM,
-Sebagai pasukan utama kekaisaran Persia di battle of Thermopylae tahun 480 SM
-serta dibawah kepemimpinan Panglima Mardonius ketika menduduki Yunani tahun 479 SM.

Tuesday, May 29, 2012

SNIPER

SNIPER

Sniper, atau penembak runduk, adalah seorang prajurit infanteri yang secara khusus terlatih untuk mempunyai kemampuan membunuh musuh secara tersembunyi dari jarak jauh dengan menggunakan senapan.

Istilah ini muncul pada tahun 1770-an, pada prajurit-prajurit Kolonial Inggris di India, dari kata snipe, yaitu sejenis burung yang sangat sulit untuk didekati dan ditembak. Mereka-mereka yang mahir memburu burung ini diberi julukan "sniper".

Dalam beberapa dekade terakhir istilah sniper telah digunakan secara meluas dan tidak tepat, terutama oleh media. Istilah sniper, secara tidak tepat, digunakan untuk mendeskripsikan pelaku kriminal yang membunuh dengan menggunakan senapan laras panjang.

Sniper dalam peperangan
Doktrin militer tentang sniper dalam posisinya pada unit militer, lokasi menembak, dan taktik berbeda pada setiap negara. Secara umum, tujuan sniper dalam peperangan adalah mengurangi kemampuan tempur musuh dengan cara membunuh sasaran yang bernilai tinggi, seperti perwira.

Dalam doktrin Amerika Serikat, Inggris, dan banyak negara lainnya , sniper dipakai dalam tim sniper, yang berisi hanya dua orang. Dua orang ini mempunyai fungsi yang berbeda, satu sebagai penembak, dan satu orang lagi sebagai spotter yaitu penunjuk sasaran. Dalam prakteknya, spotter dan penembak biasa bergiliran menembak, agar mengurangi kelelahan pada mata.

Misi sniper adalah pengintaian dan pengamatan, anti-sniper, membunuh komandan musuh, memilih target sendiri secara oportunis, dan bahkan tugas anti material (penghancuran peralatan militer), yang memerlukan senapan berkaliber besar seperti .50 BMG. Pada perang di Iraq, sniper semakin banyak digunakan sebagai peran pendukung, yaitu untuk melindungi pergerakan infanteri, khususnya di daerah perkotaan.

Sniper kepolisian
Polisi biasanya menurunkan sniper dalam penanganan skenario penyanderaan. Mereka dilatih untuk menembak sebagai pilihan terakhir, hanya jika nyawa sandera terancam langsung. Sniper polisi biasanya beroperasi dalam jarak yang lebih dekat dari pada sniper militer. Biasanya di bawah 100 meter dan bahkan kadang kadang kurang dari 50 meter. Karena inilah sniper polisi lebih tepat disebut sebagai penembak jitu. Sniper polisi lebih terlatih menembak untuk melumpuhkan daripada membunuh, dikarenakan peran polisi sebagai pengayom masyarakat.

Perbandingan antara penembak runduk dengan penembak jitu
Beberapa doktrin membedakan antara penembak runduk (sniper) dengan penembak jitu (marksman, sharpshooter, atau designated marksman). Sniper terlatih sebagai ahli stealth dan kamuflase, sedangkan penembak jitu tidak. Sniper merupakan bagian terpisah dari regu infantdri, yang juga berfungsi sebagai pengintai dan memberikan informasi lapangan yang sangat berharga, sniper juga memiliki efek psikologis terhadap musuh. Sedangkan peran penembak jitu intinya adalah untuk memperpanjang jarak jangkauan pada tingkat regu.
Sniper pada umumnya menggunakan senapan runduk bolt-action khusus, sedangkan penembak jitu menggunakan senapan semi-otomatis, yang biasanya berupa senapan tempur atau senapan serbu yang dimodifikasi dan ditambah teleskop.

Sniper telah mendapatkan pelatihan khusus untuk menguasai teknik bersembunyi, pemakaian kamuflase, keahlian pengintaian dan pengamatan, serta kemampuan infiltrasi garis depan. Ini membuat sniper memiliki peran stratefis yang tidak dimiliki penembak jitu. Penembak jitu dipasang pada tingkat regu, sedangkan sniper pada tingkat batalion dan tingkat kompi.

Peralatan
Senapan runduk
Kebanyakan senapan runduk sampai era Perang Dunia II dibuat berdasarkan senapan standar di negara bersangkutan. Termasuk diantaranya senapan K98k Mauser dari Jerman, Springfield 1903 dan M1 Garand dari Amerika Serikat, Mosin-Nagant dari Soviet, Arisaka dari Jepang, dan Lee Enfield No. 4 dari Inggris. Senapan-senapan ini dimodifikasi dengan ditambahkan laras khusus, alat bidik teleskop, bipod, bantalan pipi, penyembunyi kilatan, dan lain-lain.

Senapan-senapan yang dibuat khusus sebagai senapan runduk baru dimulai pada tahun 1960an. Tujuannya adalah untuk meningkatkan akurasi sebaik mungkin. Senapan-senapan ini dibuat khusus untuk bisa menahan panas, menahan getaran, dan hal-hal lain yang bisa mengurangi akurasi.

Kamuflase
Sniper menggunakan kamuflase dan membatasi gerakan mereka, agar tidak bisa dideteksi.

Bidikan teleskopik harus mendapatkan perhatian khusus, karena lensa dari alat bidik harus terbuka, tapi dalam keadaan terbuka akan dapat memantulkan cahaya matahari, dan ini bisa membeberkan posisi sniper. Solusi yang biasa digunakan adalah mencari tempat bersembunyi yang tidak terkena cahaya matahari langsung, atau dengan menutupi lensa dengan sesuatu yang tidak memantulkan cahaya, seperti sebuah kain tipis.

Sniper modern juga harus memperhatikan kamuflase mereka jika dilihat dengan cahaya infra-merah, karena militer modern sudah menggunakan penglihatan suhu (thermal vision), menggantikan night vision, yang hanya meningkatkan intensitas cahaya. Bahan pakaian dan peralatan bisa muncul bila dilihat dengan alat thermal vision. Maka sniper juga bisa memakai bahan lain seperti plastik, atau bahan khusus seperti selimut thermal, atau bahan lain yang tidak terdeteksi oleh thermal vision.



##################################################
Sejarah Sniper (Penembak Jitu) UPDATE..

Penembak jitu adalah istilah yang dipakai pada bidang militer. Seorang penembak jitu terlatih untuk menembak secara tepat dan akurat dengan menggunakan senapan tipe tertentu. Beberapa doktrin militer memakai penembak jitu yang tergabung dalam infanteri tingkat regu.
Penembak jitu modern sering disamakan dengan penembak runduk (sniper), padahal, keduanya sebenarnya berbeda.


Sejarah
Salah satu awal munculnya penembak jitu adalah dalam Revolusi Amerika. Kompi senapan Amerika, yang dipersenjatai Pennsylvania/Kentucky Long Rifle, menjadi prajurit dalam Tentara Kontinental. Karena keakuratan prajurit-prajurit ini, banyak perwira Inggris yang harus mencopot lambang perwira mereka, agar tidak dijadikan target.
Pemakaian awal penembak jitu lainnya adalah pada Angkatan Darat Inggris di era Napoleon. Ketika itu, tentara lain lebih banyak menggunakan musket yang tidak akurat, tapi Green Jackets Inggris menggunakan senapan Baker yang terkenal. Dengan alur khusus didalam larasnya, senapan ini jauh lebih akurat, walau pengisiannya lebih lama. Para pemakai senapan ini termasuk tentara elit Inggris, dan menjadi garis depan yang diandalkan pada banyak pertempuran.

Penembak jitu juga dipakai pada Perang Saudara Amerika. Penembak jitu ini digunakan oleh kedua pihak yuang berperang. Prajurit elit ini terlatih dan dipersenjatai dengan baik, dan juga ditempatkan di garis depan sebagai yang pertama melawan musuh.

Perbedaan penembak runduk dengan penembak jitu
Beberapa doktrin membedakan antara penembak runduk (sniper) dengan penembak jitu (marksman, sharpshooter, atau designated marksman). Sniper terlatih sebagai ahli stealth dan kamuflase, sedangkan penembak jitu tidak. Sniper merupakan bagian terpisah dari regu infanteri, yang juga berfungsi sebagai pengintai dan memberikan informasi lapangan yang sangat berharga, sniper juga memiliki efek psikologis terhadap musuh. Sedangkan penembak jitu tidak memakai kamuflase, dan perannya adalah untuk memperpanjang jarak jangkauan pada tingkat regu.

Penembak jitu umumnya memiliki jangkauan sampai 800 meter, sedangkan sniper bisa sampai 1500 meter atau lebih. Ini dikarenakan sniper pada umumnya menggunakan senapan runduk bolt-action khusus, sedangkan penembak jitu menggunakan senapan semi-otomatis, yang biasanya berupa senapan tempur atau senapan serbu yang dimodifikasi dan ditambah teleskop.

Sniper telah mendapatkan pelatihan khusus untuk menguasai teknik bersembunyi, pemakaian kamuflase, keahlian pengintaian dan pengamatan, serta kemampuan infiltrasi garis depan. Ini membuat sniper memiliki peran strategis yang tidak dimiliki penembak jitu. Penembak jitu dipasang pada tingkat regu, sedangkan sniper pada tingkat batalyon dan tingkat kompi.

Persenjataan
Karena penembak jitu modern tingkat regu (designated marksman) mengisi jeda antara infanteri biasa dengan penembak runduk, senapan penembak jitu juga dirancang sebagai penengah. Senapan penembak jitu harus memiliki jangkauan yang lebih jauh dari senapan serbu (sekitar 500 meter), tapi tidak perlu sampai jangkauan tingkat senapan runduk (lebih dari 1000 meter).

Karakteristik
Sifat-sifat yang sama dengan senapan runduk:
• Bidikan teleskopik
• Peluru yang lebih besar
Sifat-sifat yang sama dengan senapan serbu:
• Kemampuan menembak semi-otomatis
• Kapasitas magasine besar, 10 sampai 30 butir peluru

Adaptasi senapan tempur
Senapan tempur disini adalah senapan semi-otomatis dengan kaliber 7.62 x 51 mm seperti M14, FN FAL, dan HK G3, yang dulu dipensiunkan dan digantikan senapan dengan kaliber lebih kecil 5.56 x 45 mm NATO seperti senapan serbu M16. Senapan tempur ini lebih cocok dirubah menjadi senapan penembak jitu mutlak karena pelurunya yang lebih kuat.
Contoh:
• M21: diadaptasikan dari M14.
• U.S. Marine Corps Designated Marksman Rifle: diadaptasikan dari M14.
• G3SG/1: varian dari HK G3.

Adaptasi senapan serbu
Memodifikasi senapan serbu adalah pilihan yang paling mudah dan murah, karena senapan serbu hanya perlu ditambahkan alat bidik teleskop dan tetap menggunakan kaliber yang sama.

Solusi yang lebih efektif adalah mengganti kaliber peluru dengan kaliber lebih besar, dan mengganti laras khusus yang lebih berat.
Contoh senapan penembak jitu yang menggunakan kaliber original:
• US Army Squad Designated Marksman Rifle (SDM-R): adaptasi dari M16.
• U.S.M.C. Squad Advanced Marksman Rifle (SAM-R): adaptasi dari M16.
• M16A2E3: varian dari M16.
• US Navy Mark 12 Mod X Special Purpose Rifle: M16 yang dimodifikasi.
Contoh senapan penembak jitu yang menggunakan kaliber baru:
• Galil Galatz: varian 7.62 x 51 mm dari IMI Galil.
• SR-25: berdasarkan Stoner AR-10.

Senapan khusus
Dragunov SVD adalah contoh senapan yang dibuat khusus untuk memenuhi kriteria yang sekarang dinamakan "senapan penembak jitu".


Senapan runduk
Senapan runduk adalah senapan laras panjang yang dipakai satuan militer atau penegak hukum, yang dibuat lebih akurat dan memiliki jangkauan yang lebih besar daripada senjata ringan lainnya. Senapan runduk memiliki akurasi tingkat tinggi, menggunakan alat bidik teleskop, dan biasa menggunakan peluru centerfire militer.

Sejarah
Peran seorang sniper (penembak runduk) sudah dipakai dalam perang sejak abad ke-18, tapi senapan runduk termasuk penemuan yang lumayan baru. Perkembangan teknologi, khususnya pada bidikan teleskop dan perakitan modern, membuat satuan-satuan militer bisa mempersenjatai prajurit-prajurit yang dilatih khusus dengan senjata yang bisa menembak dengan akurat pada jarak yang jauh lebih besar daripada senjata infanteri biasa.

Perang Saudara Amerika
Tentara Konfederasi yang menggunakan teleskop sepanjang laras pada senapan Whitworth Inggris bisa membunuh tentara musuh pada jarak 300 yard, jarak tembak yang sangat luar biasa pada masa itu.

Perang Dunia I
Awalnya senapan runduk `dalah senapan standar yang menggunakan "bidikan intip", yang sebenarnya dirancang untuk tempat latihan. Baru pada awal Perang Dunia I senapan runduk mulai muncul. Salah satu senapan runduk militer pertama yang menggunakan teleskop adalah Lee-Enfield Mk III.

Perang Dunia II
Senapan runduk yang biasa digunakan pada era Perang Dunia II adalah senapan standar (yang dipilih karena terkenal akurat), yang kemudian diberi bidikan teleskop, bantalan pipi, dan bolt yang dimodifikasi agar teleskop bisa terpasang. Pada akhir perang, semua peserta perang telah memiliki prajurit yang terlatih khusus untuk menggunakan senapan runduk, dan peran ini dipakai sampai sekarang.
Contoh senapan runduk era Perang Dunia II:
• Mosin-Nagant M91/30 dipakai Uni Soviet dan Finlandia
• Karabiner 98k dipakai Jerman
• Lee-Enfield No 4 Mk I (T) dipakai Inggris
• SMLE Mk III* (HT) dipakai Australia
• Springfield 1903 dipakai Amerika Serikat
• Arisaka Type 97 dipakai Jepang

Senapan modern
Senapan-senapan yang diproduksi khusus sebagai senapan runduk baru dimulai pada tahun 1960an. Tujuannya adalah untuk meningkatkan akurasi sebaik mungkin. Senapan-senapan ini dibuat khusus untuk bisa menahan panas, menahan getaran, dan hal-hal lain yang bisa mengurangi akurasi.

Klasifikasi
Senapan runduk modern secara umum dibagi menjadi dua kelas utama: militer dan penegak hukum.

Militer
Senapan runduk yang dibuat untuk dipakai militer biasanya mengorbankan sedikit akurasi, demi kehandalan dan kemudahan pemakaian di lapangan. Penembak runduk dan penembak jitu militer, akan bergerak membawa senapan runduk mereka—bersama peralatan-peralatan lainnya—pada jarak yang jauh, jadi berat juga sangat penting. Militer juga biasa memiliki pendanaan yang ketat, yang akan mempengaruhi pemilihan dan pembelian senapan runduk, seperti juga pembelian peralatan militer lainnya.

Penegak hukum
Skenario kepolisian, termasuk satuan anti-teroris, mengharuskan penembak jitu untuk untuk menembak bagian tertentu target (seperti tangan atau kepala), atau sebuah benda tertentu (misalnya senjata api). Oleh karena itu, senapan runduk yang dipakai kepolisian harus memiliki akurasi yang lebih tinggi dari pada senapan runduk militer, tapi pada jarak yang lebih pendek, biasanya dibawah 100 meter.
Contoh senapan runduk yang dibuat khusus untuk digunakan pihak kepolisian adalah senapan-senapan yang dibuat berdasarkan kriteria yang ditetapkan kepolisian Jerman Barat setelah terjadinya pembantaian Munich pada Olimpiade Musim Panas 1972. Heckler & Koch PSG1 adalah salah satu senapan yang memenuhi kriteria tersebut, dan sering disebut sebagai senapan runduk terbaik jenis ini. FN Special Police Rifle adalah contoh lain senapan runduk yang dibuat untuk kepolisian dan bukan untuk militer.


Senapan serbu
Senapan serbu adalah senjata api otomatis yang merupakan senapan laras panjang atau karabin, yang memiliki pilihan tembakan (selective-fire), dan menggunakan amunisi kaliber menengah. Senapan serbu masuk dalam kategori diantara senapan mesin ringan, yang berfungsi untuk menembak secara full-otomatis sebagai senjata pendukung, dan submachine gun, senjata otomatis yang menggunakan peluru ukuran peluru pistol sebagai senjata api jarak dekat. Senapan serbu sudah menjadi persenjataan standar untuk tentara modern, menggantikan senapan laras panjang era Perang Dunia II, seperti M1 Garand dan SKS.
Contoh senapan serbu adalah M16, keluarga AK-47, dan FAMAS yang menggunakan desain bullpup. Contoh lain yang lebih unik adalah LR 300 dan HK G36, keduanya menggunakan teknologi polimer modern dan desain komputer.
setau gw penembak runduk (sniper) dengan penembak jitu (marksman, sharpshooter, atau designated marksman) sptnya tidak berbeda.
baik Sniper maupun Markrsman dilatih sebagai baik perorangan maupun sebagai tim (biasanya dua orang) sebagai pengintai dan ekrekutor

istilah sniper pertama kali di dunia dipakai sebagai "istilah militer resmi" bagi penembak runduk/penembak jitu oleh AB Jerman pada tahun 1910. AB jermanlah pertama kali pencipta "satuan sniper" dengan standar kualifiksi, doktrin dan organisasi seperti sekarang ini bahkan senapan khusus sniper "resmi" pertama kali adalah Mauser Gewehr 1898 (Grew.98) kaliber 7,92 mm

asal mula taktik dua sniper/tim sniper diadopsi dari AB Uni Soviet yang pada akhirnya dipakai secara luas di kebanyakan negara bahkan oleh semua anggota NATO. Dalam organisas satuan sniper merupakan satuan yang terintegrasi dengan satuan infantri. satuan sniper diberi kebebasan yang cukup untuk melaksanakan inisiatif sendiri, penggunakan tim sniper dalam penugasannya karena tingkat keberhasilan tugas yang sangat tinggi.

secara umum, dunia sniper mengenal dua jenis senapan yang memiliki mekanisme berbeda dalam hal pengisian peluru

Berdasarkan buku Sniper Training, Techniques and Weapon yang ditulis Peter Brookesmith  (2000) dan berdasar World Sniper's Roll of Honour Simo Hayha dari Finlandia merupakan Sniper No 1. dunia dengan rekor 542 hit pada Winter War ( 1939 - 1940) dan memang betul selama menciptakan rekor tanpa menggunakan scope hanya menggunakan "iron sight" dengan senjata yang cukup "kuno" yaitu Mosin-Nagant M28, dan Suomi K31. Simo Hayha meninggal pada 1 April 2002.

1. Simo Hayha dari Finlandia merupakan Sniper No 1. dunia dengan rekor 542 hit pada Winter War ( 1939 - 1940)
2. Erwin Koenig, SS Sniper Jerman 500 Hit
3. Nikolai Yakolevich Ilyin, USSR 496 Hit
4. Vasily Gregorievich Zaitzev, USSR 400 Hit
5. Lyudmila Pavlichenko, USSR 296 Hit
6. Chris Kyle, United States Navy SEAL 255 claimed kills, 160 of them officially confirmed
7. Adelbert Waldron III, US Army 109 Hit
8. Charles B. Mawhinney, US Marine Corps 103 Hit
9. Carlos N. Hathcock, US Marine Corps 98 Hit
10. Thomas R. Leonanrd, US Marine Corps 93 Hit
11. Joseph T.Ward US Marine Corps 63 Hit
12. George Filyaw, US Mari,ne Corps 56 Hit
13. Philip G. Moran, US Marine Army 53 Hit
14. K.Tatang, Kopassus RI 41 Hit
15. Tom Ferran, US Marine Corps 41 Hit

Yang menarik pada list ini terdapat seorang warga negara Indonesia yang juga anggota TNI yaitu K.Tatang anggota KOPASSUS ,salah satu orang Indonesia yang pertama kalinya dilatih oleh USMC,pernah bertugas di Dili,Timor-Timor. Kabarnya inisial K didepan namanya adalah pangkatnya yaitu kapten.

SOURCE :
Dephan RI
Majalah Angkasa


Kenapa dinamakan SNIPER???
Secara umum definisi dari sniper (TNI: penembak runduk) adalah
seorang prajurit infanteri yang secara khusus terlatih untuk mempunyai kemampuan membunuh musuh secara tersembunyi dari jarak jauh dengan menggunakan senapan.

Istilah ini muncul pada tahun 1770-an, pada prajurit-prajurit Kolonial Inggris di India, dari kata snipe, yaitu sejenis burung yang sangat sulit untuk didekati dan ditembak. Mereka-mereka yang mahir memburu burung ini diberi julukan "sniper".

Dalam beberapa dekade terakhir istilah sniper telah digunakan secara meluas dan tidak tepat, terutama oleh media. Istilah sniper, secara tidak tepat, digunakan untuk mendeskripsikan penembak jitu polisi, pelaku asasinasi, penembak yang menembak bukan dari jarak dekat, serta kriminal y ng membunuh dengan menggunakan senapan laras panjang.

Penembak jitu umumnya memiliki jangkauan sampai 800 meter, sedangkan sniper bisa sampai 1500 meter atau lebih. Ini dikarenakan sniper pada umumnya menggunakan senapan runduk bolt-action khusus, sedangkan penembak jitu menggunakan senapan semi-otomatis, yang biasanya berupa senapan tempur atau senapan serbu yang dimodifikasi dan ditambah teleskop.

Sniper telah mendapatkan pelatihan khusus untuk menguasai teknik bersembunyi, pemakaian kamuflase, keahlian pengintaian dan pengamatan, serta kemampuan infiltrasi garis depan. Ini membuat sniper memiliki peran strategis yang tidak dimiliki penembak jitu. Penembak jitu dipasang pada tingkat regu, sedangkan sniper pada tingkat batalion dan tingkat kompi.

KRITERIA PEMILIHAN PERSONIL
Calon peserta latihan petembak runduk harus disaring secara cermat. Komandan harus menyaring record individu untuk menentukan personil yang potensial menjadi petembak runduk. Petunjuk dasar penyaringan calon petembak runduk diantaranya:

(SNIPER INTAI AMPHIBI - INDONESIA)

1. Petembak tepat (Marksman). Peserta latihan sniper harus memiliki standar petembak tepat. Memiliki catatan kualifikasi tahunan yang tinggi. Sering mengikuti perlombaan menembak tahunan atau memiliki latar belakang hobi berburu.
2. Kondisi fisik. Karena sering beroperasi dimedan yang sulit dengan waktu tidur yang singkat serta bekal air dan makanan yang terbatas, kondisi fisik calon sniper harus sangat prima. Kondisi kesehatan prima dengan daya reflek yang tinggi, stamina dan kinerja otot tubuh yang baik. Memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan atletis.
3. Sehat mata. Mata merupakan aset utama petembak runduk maka standar mata 20/20 vision menjadi salah satu syarat utama. Tidak berkacamata dan tidak buta warna.
4. Perokok. Petembak runduk disyaratkan bukan seorang perokok atau pengguna tembakau yang dapat menimbulkan bebauan.
5. Kondisi mental. Calon petembak runduk harus memiliki mental yang baik, disaring melalui evaluasi psykologi.
6. Cerdas (intelligence). Karena tugas sniper memerlukan berbagai keahlian, maka calon sniper harus cerdas dan mampu mengoperasikan berbagai peralatan seperti mampu menghitung kemampuan amunisi (peluru yang akan digunakan), penyetelah alat bidik dan perhitungan kecepatan serta arah angin, prosedur operasi alat komunikasi. Observasi dan penghitungan penembakan senjata mortar dan meriam artileri. Kemampuan navigasi didarat, intelijen militer, identifikasi seragam dan peralatan. Dapat membuat keputusan secara tepat.

Dua hal penting lainnya selain yang tertera diatas.
1. Keseimbangan emosi. Mampu mengontrol emosi, sabar dalam menghadapi berbagai situasi, termasuk dalam melakukan rencana penembakan atas target.
2. Keahlian lapangan. Sniper harus familiar dengan situasi kondisi lapangan. Memiliki
pengetahuan mengenai alam sekitar, bila perlu tentang flora dan fauna.

PROSES SNIPPING (OPERASI SNIPER)
Ada 8 untaian sekuensial dalam proses sniping:
  • Warning order
  • Target location
  • Target description
  • Range estimation
  • Wind call
  • Fire command (coridor sebuah kesempatan tembak adalah 10 detik, jika lebih dari waktu tsb ulangi dari no 4).
  • Shot call
  • Status and correction if available.
(Sniper : penembak, Spotter : yang pake Binocular)

Contohnya begini:
Spotter: "Tango challenged..!" (1. proses identifikasi target)
Spotter: "Sector B, from TRP I right 50 add 50.." (2. lokasi)
Sniper : "Roger, sector B, from TRP I right 50 add 50"
Spotter: "Tango black T-shirt, white headgear, AK on right hand, and wearing shades.." (3. description)
Sniper : "Roger, black T-shirt, white headgear, AK on right hand, and shades"

Sniper: "Tango identified..!"

Sniper: "I make 2 mil crotch to head"
Spotter: "Roger, 2 mil crotch to head"Spotter: "Dial 500 on the gun" (4. range)
Sniper: "Roger, dial 500 on my gun, Indexed !"
(konfirmasi no 4, sniper dial onto his optics)
Spotter: "Wind from right to left 7 mph, hold 1/4 mil right...SEND IT..!!! (5. Wind call dan 6. Fire command)
Sniper: "Roger, wind from my right to left 7 mph, hold 1/4 mil my right..." lalu DORRR!! kemudian next round.
Sniper: "Broke 1/4 mil my right"
(7. Shot/s call)
Spotter: "Center hit, Tango expired and stand by..!" (8. Status )
Sniper: "Roger, center hit and stand by"
(and correction if available)


(SNIPER SQUAD MARINIR - INDONESIA)

##################################################

Satu peluru satu serdadu. Satu tarikan pelatuk senapan, satu nyawa lawan harus berpulang nama. Begitulah hukum wajib para sniper. Sekali bidik tak boleh ada buruan lolos. Tak ada kamus meleset, karena itu pertanda kegagalan. Tak gampang jadi sniper. Selain serdadu pilihan, para sniper harus punya kemampuan menembak diatas rata-rata penembak biasa, yakni piawai menghitung faktor jarak tembak, ukuran lokasi, kondisi alam atau bentuk pandangan. Oleh karena itu para sniper dilatih untuk punya keahlian dasar infantri, kemampuan survival pada kondisi alam yang sulit dan memiliki insting membunuh serta daya ketahanan untuk sabar membidik sasaran.

Untuk menjadi mesin pembunuh mumpuni, para sniper dibekali, peralatan unik sebagai perlengkapan tugasnya. Agar dalam melakukan kerjanya, sniper tidak terdeteksi lawan. Oleh karena itu sniper bisa dikatakan sebagai serdadu siluman, karena mempunyai kemampuan mengelabui lawan atau keahliannya berkamuflase. Tapi yang pasti, satu perlengkapan wajib para sniper adalah senapan runduk. Senapan ini merupakan ‘istri pertama’ para sniper untuk mencabut nyawa incarannya.

Dibutuhkan kematangan jiwa juga perhitungan matematis yang luar biasa guna menterjemahkan trajektori sebutir peluru. Proses sniping tidak semudah seperti yang dikira kebanyakan orang. Ketepatan dalam menembak sasaran tidak selalu dapat diterjemahkan sebagai bakat untuk menjadi seorang sniper.
Mengirimkan satu butir pelor sebesar kira-kira satu ruas ujung jari kelingking memerlukan proses litany yang luar biasa panjang. Dari mulai mencermati laporan Intel, perencanaan sasaran dan posisi menembak. Elevasi, waktu, cuaca, kaliber senapan, scope, serta munisi yang cocok. Susahnya lagi adalah selalu berrifat fluid. Alias selalu bergerak sesuai perubahan lapangan. Itu sebabnya dua orang sniper selalu merupakan komandan bagi masing masing team secara bergantian. Demikian pula menggotong barang senjata dan peralatan lainnya. Untuk deep strike atau yang sering disebut LRP (Long range patrol). Yang satu ini adalah pekerjaan yang paling membosankan dan paling melelahkan. Bayangkan anda menunggu dan menunggu sasaran dan event yang tepat untuk mendapat peluang yang klasik eksak. Disamping constant surveillances agar anda dapat mempertahankan posisi tembak. Karena bagaimanapun hebatnya sniper selalu mempunyai masalah yang akut dalam mempertahanan dirinya. Walau hal tersebut kecil kemungkinannya akibat kamuflase yang dikenakan. Bagaimanapun jika terjadi breach maka posisinya terancam.

Sunday, May 27, 2012

Falsafah Diri Situs Gunung Padang

Situs gunung padang; Situs Nagara Padang menyiratkan perjalanan hidup manusia, tidak hanya badaniah tetapi juga rohaniah. Perjalanan lahir dan batin ini mengisyaratkan proses pencapaian manusia yang manusiawi. Falsafah kemanusiaan di tanah Sunda membedakan “jalma” (jelema) dengan “manusa”.
Kata pertama bermakna semenjak lahir seseorang baru “menjelma” menjadi mahluk. Ia belumlah manusia seutuhnya. Dia masih harus menjalani pendidikan yakni pembentukan dan pengembangan diri lahir dan batin. Kata kedua menjelaskan kondisi manusiawi bagi seseorang. Kondisi manusiawi dalam kata “Manusa” dijelaskan dengan hakikat “Kamanusaan”. Hakikat ini berisi tiga keterarahan: “Kami” atau kepada Yang Maha Kuasa pemberi kehidupan, “Kama” kepada orangtua sebagai “sebab” keberadaan (cukang lantaran) dan “Nusa” atau kepada alam sebagai sesama mahluk dalam kehidupan.
Ketiga keterarahan di atas menggambarkan secara kodrati manusia mampu mewujudkan “kasampurnaan”. “Kasampurnaan” dalam konteks ini lebih berarti tugas untuk memelihara dan menata dirinya, sesama manusia, alamnya berdasarkan kekuasaan yang dititipkan kepadanya oleh Yang Maha Kuasa. Tugas itu diemban pula karena konstelasi kehidupan dalam semesta sudah dan selalumenyempurnakan manusia. Kasampurnaan memang mengandaikan kelebihan manusia dibandingkan mahluk lainnya. Kelebihan itu justru menjadi amanat dan mandat yang sewajarnya diwujudkan karena kodratnya. Amanat dan mandat ini diberi wujud keutamaan, sikap hidup, dan perilaku mulia
.
Perjalanan Menemukan Diri
Perjalanan kehidupan seperti ini tertuang dalam peziarahan di Gunung Padang. Perjalanan di Gunung Padang menyiratkan penemuan jatidiri dan mengalami “gumulung” dengan Yang Maha Kuasa dan Semesta. Perjalanan atau “nyucruk galur” tersebut digambarkan dalam wujud (tanggara), nama (ungkara) dan makna (uga) dari tiap-tiap batu di Gunung Padang. Batu menyatakan “Baca” dan “Tulis”. Manusia dianjurkan membaca semesta dan membaca dirinya sendiri. Muara dari “membaca alam dan diri” ialah menuliskannya dalam perilaku hidup sehari-hari. Berkaitan dengan proses penemuan diri tersebut berikut ini penjabaran tanggaraungkara dan uga setiap batu.
  1. 1. Mata Air Cikahuripan
Wujud (tanggara): mata air gunung.
Nama (ungkara): Cikahuripan
Uga (uga): Mata air gunung sering diibaratkan air susu ibu, cai nyusu. Air sebagai sumber dan asal kehidupan manusia (kondisi dalam rahim janin hidup dari dan dalam cairan. Hampir seluruh tradisi di muka bumi ini meyakini manusia berada dalam kondisi yang bersih. Maksudnya, bersih dalam arti steril; dan secara metaforik berarti suci atau dalam istilah keagamaan tanpa dosa.
Karena itu, manusia selayaknya senantiasa membersihkan diri dengan kembali ke air. Air tidak hanya membersihkan tubuh atau wadah. Tetapi juga air membersihkan isi atau pikiran dan rasa. Dalam kondisi bersih itu manusia mengalami kehidupan untuk memulai perjalanan spiritualnya.
Membersihkan diri dengan mata air Cikahuripan atau cai nyusu, bermakna bahwa kehidupan memiliki awal, manusia berasal dari air (sagara). Kesadaran akan awal membawa penyadaran akan tujuan kehidupan. Hidup mempunyai tujuan, dan karena tujuan itu lahirlah alasan untuk menghidupi hidup itu sendiri.
  1. 2. Lawang Saketeng
Tanggara: Gapura dengan 9 anak tangga.
Ungkara: Lawang Saketeng, atau
uga: Gapura ini menyimbolkan penyadaran keberadaan Diri seseorang dan keterkaitannya dengan Semesta dan Yang Kuasa. Keterkaitan ini disadari melalui doa pembukaan di gapura. Rangkaian doa ini menunjukkan bahwa seseorang selalu berkaitan dengan para leluhur (karuhun, orangtua, kasepuhan), Semesta dan Yang Maha Kuasa. Keterkaitan itu disimbolkan dengan 9 anak tangga memasuki situs Nagara Padang. Angka 8 mewakili setiap penjuru mata angin yang, dan 1 ialah inti dari kehidupan yakni Yang Maha Kuasa.
Doa pembukaan bertujuan juga untuk mendoakan orangtua dan para leluhur, dan memohon doa mereka untuk perjalanan dan penemuan hakikat diri (tekad). Seseorang mendoakan orangtua dan leluhur kepada Yang Kuasa agar amal bakti yang mereka lakukan sepanjang hidup menjadi keharuman bagi keturunannya. Keharuman bagi keturunan sekaligus juga mengharumkan nama Yang Kuasa. Orangtua dan leluhur (karuhun) dan semesta akan menjadi perantara yang menghantar seseorang untuk mengungkap jatidiri dan hakikat diri.
  1. 3. Palawangan Ibu
Tanggara: Susunan bebatuan membentuk celah
Ungkara: Batu Palawangan ibu
Uga: Batu ini menjadi simbol untuk rahim ibu. Keberadaan manusia dan perjalanan hidupnya diawali dengan kelahiran. Kelahiran juga mengingatkan seseorang pada awal dan tujuan hidup. Dengan kelahiran lalu setiap orang memiliki tugas yang harus dikerjakan. Ini nanti berkaitan dengan upaya menemukan dan menjalani takdir.
Batu ini pun menandai kelahiran baru bagi seseorang yang memiliki visi dan misi tertentu. Kelahiran baru penting supaya ia menjalani hidup sebagai insan yang mempunyai semangat dan paradigma baru mengenai kehidupan. Ini mempengaruhi bagaimana kemudian kita menyadari bahwa hidup itu sendiri selalu menjadi langkah baru bagi setiap orang.
  1. 4. Batu Paibuan
Tanggara: Batu megalitik besar dan batu bedak
Ungkara: Batu Paibuan, atau Batu pengasuhan Ibu untuk si jabang bayi. Pada situs ini terdapat juga batu bedak, yang menjadi tanda bagi perawatan ibu kepada anaknya.
Uga: Batu ini mengingatkan seseorang pada pengasuhan ibu yang diterimanya pada saat kelahiran, dan pengasuhan ibu yang dialaminya setelah ia “lahir baru”. Pengasuhan ibu berhubungan dengan pendidikan rasa. Rasa penting ditumbuhkan karena kepekaan dan kesadaran akan kehidupan itu sendiri berasal dari kemampuan ini. Ketika rasa berkaitan dengan pikiran, hasilnya ialah pertumbuhan peradaban, manusia yang berbudaya.
Pengasuhan rasa dikaitkan dengan pendidikan pikiran. Pendidikan pikiran merupakan bagian dari Ayah. Pendidikan pikiran berkaitan dengan penanaman ilmu dalam artian kemampuan teknis dan pengetahuan umum mengenai kehidupan. Pendidikan Ayah berikaitan dengan derajat martabat kemanusiaan.
Seseorang belajar mengenal rasa dan pikiran melalui perilaku orangtuanya. Melalui pendidikan Bapak dan Ibu anak mengenal juga prinsip dan keutamaan melalui teladan. Dengan demikian, anak pun mengalami bahwa prinsip dan keutaman hidup merupakan kekuatan kodrati. Artinya keutamaan dan prinsip sudah mendarah daging dalam tubuh dan jiwa manusia. Jika orangtua menampilkan keutamaan dan prinsip dalam perilaku sejak dini, anak mempelajari kemanusiaan baik sebagai wujud penyempurnaan diri setiap orang maupun sebagai medan perjumpaan dengan Yang Kuasa.
  1. 5. Panyipuhan
Tanggara: Lempeng batu pipih mirip besi yang siap ditempa dan dibentuk.
Ungkara: Batu Panyipuhan
Uga: Simbol untuk tempat pendidikan formal: sekolah, madrasah atau pesantren. Seseorang dapat mengalami pengembangan dan pembentukan ilmu, watak, karakter dan perilaku dari pendidikan formal: sekolah, madrasah atau pesantren.
Seseorang mengasah ilmu, mengolah fisik, belajar membentuk watak dan karakter, belajar memperlakukan keutamaan dan prinsip-prinsip hidup dalam pergaulan sehari-hari di sekolah. Seseorang akan belajar mengenal kekuatan kodrati dalam dirinya ketika dia memperlakukan hal-hal yang dipelajari di atas. Kekuatan itu berasal dari Yang Kuasa, dan diberikan agar manusia bertindak sebagai pengemban kekuasaan tersebut dalam menyempurnakan semesta ini.
  1. 6. Poponcoran
Tanggara: Susunan batu yang membentuk lorong yang bisa dilalui tubuh manusia. Batu ini mengarahkan orang ke posisi lebih tinggi
Ungkara: Batu Panyipuhan. Susunan batu ini.
Uga: Batu ini merupakan simbol untuk ujian dan kelulusan. Setiap orang pada saatnya untuk diuji. Jika seseorang sudah menggali ilmu, mengembangkan dan membentuk diri: watak, karakter dan perilaku, ia harus melewati tahap ujian akhir. Jika ia dapat melewati ujian akhir ini, ia lulus dari sekolah, madrasah atau pesantren. Artinya, ia menyelesaikan tahapan penggemblengan fisik dan mental. Pendidikan telah dialami secara lengkap: pendidikan pikiran, rasa dan tubuh.
  1. 7. Kaca Saadeg
Tanggara: Batu ini berbentuk vertikal-datar. Pada batu ini seolah-olah seseorang bercermin..
Ungkara: Batu Kaca Saadeg.
Uga: Batu ini mengisyaratkan saat bercermin diri: mengingat identitas dan tujuan hidup: “siapa saya?”; “apa tujuan hidup ini?” (visi); “apa keinginan saya dalam hidup?” (misi). Proses ini disebut menerawang diri (narawang).
Refleksi diri untuk menentukan tujuan (visi) dan keinginan (misi) dalam hidup. Visi dan misi membantu seseorang menyempurnakan diri, atau mewujudkan kemanusiaan dalam dirinya. Karena itu, Visi dan misi hidup merupakan tugas yang harus dipenuhi sebagai seorang manusia yang manusiawi. Jika sudah menentukan tujuan dan keinginan, tekad harus ditetapkan untuk melangkah selanjutnya.
  1. 8. Gedong Peteng
Tanggara: Batu menyerupai gua yang gelap. Lokasinya sendiri terletak di bagian bawah dan tertutup pohon rimbun. Lokasi ini menyebabkan batu ini tidak banyak terkena sinar matahari, atau gelap. Kegelapan inilah yang kemudian menjadi nama, atau peteng.
Ungkara: Batu Gedong Peteng.
Uga: Batu ini merupakan simbol untuk diri yang masih gelap (peteng) dan ingin mendapatkan penerangan atau petunjuk untuk menapaki hidup berdasarkan karir yang diinginkan.
Setiap orang harus menentukan karir dalam bentuk pekerjaan yang sesuai dengan dirinya. Karir akan membawa orang merealisasi tujuan (visi) dan keinginan (misi) pribadi. Ini penting agar seseorang yang baru saja menyelesaikan tahap pendidikan dapat terus mengembangkan ilmu, watak, karakter dan perilaku. Proses pemanusiaan masih terus terjadi.
  1. 9. Karaton
Tanggara: Karaton atau Istana
Ungkara: Batu Karaton.
Uga: Istana menyimbolkan kedudukan, dan kewibawaan seseorang berdasarkan tugas yang diembannya. Jika seseorang bekerja berdasarkan karir yang dipilihnya, ia akan mengalami promosi atau kenaikan tingkat keahlian. Seseorang juga dapat mendapatkan kedudukan berdasarkan pilihan bersama siapa ia akan menjalani hidupnya, yakni membentuk keluarga.
Kedudukan berdasarkan karir atau kenaikan tingkat keahlian ditentukan berdasarkan baik pewujudan ilmu dan keahlian maupun watak, karakter dan perilaku. Entah ia berkerja mandiri atau bekerja di bawah pimpinan orang lain, entah sebagai pekerja atau sebagai pemimpin pekerjaan sehari-hari akan mengasah ilmu, keahlian dan perilaku. Berdasarkan kedudukan ini setiap orang memiliki tugas masing-masing. Demikian juga berlaku untuk kedudukan dalam keluarga. Entah bapak entah ibu memiliki tugas yang sejajar dalam keluarga.
  1. 10. Kutarungu
Tanggara: Batu ini menjulang tinggi, menyerupai telinga.
Ungkara: Batu Kutarungu. Nama Kutarungu mengacu pada tempat (kuta) dan pendengaran (rungu). Juru kunci menghubungkannya dengan telinga tubuh dan telinga batin.
Uga: Batu ini menyimbolkan sikap hati yang teguh seperti digambarkan oleh Batu yang menjulang tinggi. Sikap hati yang teguh akan mendengarkan suara hatinya, dan tidak mendengarkan suara-suara yang dapat membelokkan jalan yang ditempuh untuk mewujudkan visi dan misi pribadi.
Kearifan Sunda menekankan pentingnya mengenali kemampuan pancaindra bagi kehidupan. Salah satu yang penting ialah telinga. Batu bagi pendengaran ini bermakna kemampuan bertindak sesuai dengan suara hati. Suara hati atau pusat diri menuntun seseorang untuk teguh pada pendirian berdasarkan prinsip. Seseorang yang telah menjalankan karir sesuai dengan tugas dan kedudukannya diandaikan memiliki prinsip yang teguh, atau teguh pada kebenaran yang diyakininya Ia tidak mudah dihanyutkan oleh suara-suara (pendapat, gosip, isu, fitnah, kabar-kabar lainnya) yang dapat membelokkannya dari jalan menuju visi dan misi. Jika seseorang berpegang pada suara hatinya (prinsip dan keutamaan hidup), dia dapat membedakan mana kecenderungan konstruktif (kebaikan), mana yang destruktif (kejahatan).
Seseorang diharapkan mampu mengolah informasi yang didengarnya (diterimanya) sebelum bereaksi. Dengan kata lain, seseorang diajak untuk bertindak bijak, menghindari sikap ceroboh dan sembrono, asal memberikan tanggapan, dan mengikuti kecenderungan jahat dalam dirinya.
  1. 11. Bumi Agung
Tanggara: Batu besar yang menjulang tinggi. Batu ini harus didaki dari satu sisi dan turun pada sisi lain yang berhubungan dengan batu besar berikutnya, Batu Korsi Gading. Dari puncak batu ini bisa terlihat lansekap tatar Bandung di segala penjuru. Agung menandai tanah, bangsa dan juga nagara atau Diri. Agung berkonotasi dengan mulia.
Ungkara: Batu Bumi Agung.
Uga: Batu ini menyimbolkan sikap menjunjung tanah air atau bela bangsa. Kesadaran bahwa pemilik kehidupan bukanlah diri pribadi, tetapi Yang Kuasa berkonsekuensi kesadaran untuk menjunjung tanah air dan membela bangsa (membela bumi). Tanah air dan bangsa meliputi semesta berikut benda dan mahluk yang mengisinya. Artinya, seseorang mempunyai tugas untuk membaktikan keberhasilannya untuk segenap mahluk dan semestanya.
Membela bangsa sama saja artinya dengan membela diri sendiri. Maksudnya memelihara dan menjaga tubuh sebagai “bumi” bagi pikiran dan rasa. Menata tubuh berimplikasi pada penataan pikiran dan rasa juga. Tujuan penataan ini ialah menjadikan tubuh, pikiran dan rasa mediasi untuk memancarkan kekuasaan Yang Maha Kuasa dalam merawat dan menata Semesta.
Membela bangsa dan tubuh disebut amal ibadah manusia kepada Tuhan dan Semesta. Prinsip-prinsip hidup, keutamaan yang telah dihayati bersama dengan tugas–melalui karir atau pekerjaannya — ditujukan untuk menata, memelihara dan mengembangkan setiap jenis kehidupan. Di sinilah prinsip silih asih dan silih asuh hendak diwujudkan di tengah-tengah semesta beserta isinya.
  1. 12. Korsi Gading
Tanggara: Batu ini berbentuk kursi. Gading mengisyaratkan tahta. Seseorang yang menaiki Batu Bumi Agung, sebelum turun harus menyeberang ke Batu ini untuk duduk di sini.
Ungkara: Batu Korsi Gading.
Uga: Batu ini menjadi simbol untuk membaktikan kekuasaan berdasarkan tugas yang diemban untuk merawat dan menata diri sendiri, tanah air dan bangsa, atau Semesta.
Masih berkaitan dengan Bumi Agung, tempat ini bermakna untuk membaktikan kedudukan berdasarkan tugas untuk menjunjung tanah air dan membela bangsa. Dharma seseorang termasuk membaktikan kedudukan bagi nusa dan bangsa. Kedudukan memunculkan kekuasaan atau kemampuan menata dari dalam diri seseorang.
Kekuasaan justru semakin berarti jika diwujudkan untuk menolong dan membantu sesama, atau secara luas memelihara dan mengembangkan kehidupan. Dengan kata lain, semakin berkuasa seseorang semakin ia dituntut oleh kodratnya sendiri untuk mengungkapkan belas kasih (welas asih).
  1. 13. Pakuwon Eyang Prabu Siliwangi
Tanggara: batu berbentuk tugu. Di atas tugu itu terdapat tatahan ibu jari.
Ungkara: Batu Pakuwon Eyang Prabu Siliwangi
Uga: Batu ini menjadi simbol untuk mensyukuri (nuhunkeun) prinsip dan keutamaan silihwangi pada Yang Kuasa. Batu ini masih berhubungan dengan Batu Bumi Agung, dan Batu Korsi Gading. Prinsip silih asih, silih asah dan silih asuh dan prinsip welas asih atau rohman rohim berkaitan dengan keutamaansilihwangi.
Silihwangi berarti saling menghormati, saling menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Setiap orang tanpa pandang bulu memiliki tugas untuk saling hormat dan saling menjunjung martabat dan harkat kemanusiaan. Karena itu, seseorang perlu mensyukuri (nuhunkeun) keutamaan ini kepada Yang Kuasa karena secara kodrati manusia sudah dititipi kemampuan ini dan memangmampu merealisasi keutamaan ini dalam hidup sehari-hari. Mensyukuri berarti mengingat dan memperlakukan keutamaan itu berdasarkan keyakinan yang dipegang.
  1. 14. Lawang Tujuh
Tanggara: Pintu menunjukkan jalan atau jalur. Tujuh mengarah pada jumlah hari dalam satu minggu.
UngkaraBatu Lawang Tujuh atau Pintu Tujuh.
Uga: Batu ini menyimbolkan perjalanan menempuh “jalur” hidup yang sudah ditentukan berdasarkan waktu kelahiran (7 hari). Setiap orang mempunyai “jalan”nya masing-masing untuk mewujudkan visi dan misinya. Jalan itu sudah diberikan berdasarkan hari kelahiran. Tugas manusia untuk menjalani jalur itu berdasarkan pada visi dan misinya. Jalur tersebut akan mengembalikan kita kepada Yang Kuasa, yang menjadi pusat dan  bersemayam dalam diri manusia.
  1. 15. Padaringan (leuit Salawe Jajar)
Tanggara: Jajaran batu megalitik yang melingkar.
UngkaraBatu PadaringanPadaringan berarti juga leuit atau lumbung padi. Lumbung padi itu digambarkan berjumlah 25 dan letaknya sejajar.
Uga: Batu ini menyimbol lumbung padi (leuit atau padaringan) menandai kesejahteraan manusia dan pencapaian kepenuhan hidup sebagai manusia. Kesejahteraan itu hendak dialami nuansa kebersamaan. Nuansa kebersamaan ini digambarkan dengan posisi sejajar. Di sinilah keutamaan Sapajajaran dikenali.
Adalah tugas seseorang yang sudah mencapai keberhasilan dan kedudukan untuk menyejahterakan bumi atau semesta beserta isinya. Menyejahterakan bumi dan seisinya ibarat mengisi lumbung, atau menyediakan sumber kehidupan bagi tanah air dan bangsa. Visi dan misi seseorang tercapai jika ia mampu menjadi pengemban kekuasaan Ilahi untuk membagikan kesejahteraan bagi siapa saja tanpa pandang bulu. Ia mengikuti peran Ibunya yang menyusui dan mengasuh anak tanpa memandang anak ini kelak berbuat kebaikan atau kejahatan.
Membagikan kesejahteraan bagi bumi dan sesama menandai keadilan. Prinsip keadilan mengejawantahkan keutamaan sapajajaran. Pada dasarnya manusia tidak mengenal pembedaan berdasarkan status lahir. Berdasarkan kodratnya manusia dalam keragamannya sejajar satu sama lain, juga berdasarkan kodratnya, manusia pun sejajar dengan mahluk lain karena sama-sama ciptaan. Demikian juga kesejajaran itu dihayati dalam relasi manusia dengan alam semesta.
  1. 16. Puncak Manik
Tanggara: Tanah datar yang dikelilingi bebatuan besar membentuk cincin.
UngkaraPuncak ManikManik berarti wadah. Dalam wadah itu terjadi persatuan antara Diri dengan Semesta dan Yang Kuasa. Persatuan itu digambarkan pula dengan kembalinya manusia ke asalnya ketika ia mencapai tujuannya.
Uga: Batu ini menjadi simbol untuk pencapaian dan perwujudan visi – misi pribadi serta kembalinya atau bersatunya manusia dengan Semesta dan Yang Kuasa.
Usaha mewujudkan visi dan misi mengenal batas. Batas itu ialah puncak keberhasilan dan kedudukan. Puncak berarti sudah tercapai visi dan misi atau visi dan misi “sudah di tangan”. Imperatif berikutnya ialah segeralah menggunakan kedudukan dan keberhasilan, atau kemampuan untuk beramal ibadah, berbakti dan berbagi (“Tereh make salawasna”) Kemampuan ini yang disebut mewujudkan manusia yang manusiawi, yang bukan hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif.
Puncak manik juga berarti kembalinya seseorang pada jatidirinya yang asali. Jatidiri setiap manusia ialah persatuan dengan asal dan tujuan hidup: Yang Kuasa, “Sang Diri”. Peristiwa ini kemudian diberinama “pulang”. Inilah sebenarnya pencapaian tertinggi usaha dan kekuasaan manusia. Keunggulan dan kewibawaan pada akhirnya akan kembali.
Penutup
Situs Nagara Padang mengandung permainan aksara dan bunyi pada kata “Nagara”. Kata tersebut berupa siloka (teka-teki) yang membuat pembaca berpikir tentang makna. Jika “na ga ra” dibaca seperti tertulis, maka alam pikir bahasa Indonesia memberinya makna pada pelembagaan atau organisasi kolektivitas manusia berdasarkan tujuan yang sama dan dibangun untuk kesejahteraan bersama (bonum commune). Makna “nagara” atau negara seperti ini tidak akan berarti banyak dalam situs ini, juga untuk pemahaman kehidupan dalam budaya Sunda.
Kata “Na ga ra” harus dibaca dari belakang “Ra ga na”. Kata tersebut dilengkapi dengan kata bantu “dina” supaya lebih mengangkat makna terdalam dari nama situs tersebut. Lengkapnya menjadi “Dina Ragana”. Jelaslah apa yang dimaksud: “di dalam raga” atau badan. Teka teki terjawab: jiwa, atau yang memberi gerak dan langkah pada raga. Jiwa menjadi isi bagi badan atau wadah. Keduanya tidak bisa dipisahkan dan tidak berkedudukan secara hirarkis. Jiwa memancarkan kemampuannya melalui tubuh. Jiwa menggantungkan diri secara simbiotik saling menghidupi dengan badan. Badan dalam pemahaman demikian tidak berarti penjara bagi jiwa. Badan menyalurkan kemampuan jiwa. Badan mencerminkan kualitas jiwa yang dikandungnya. Badan memiliki kedudukan penting karena wadah ialah cermin bagi isi. Keduanya “menjadi kesatuan yang saling melengkapi dengan kekhasan, yakni kedudukan dan tugasnya masing-masing.
Kesatuan ini tampil diungkapkan dengan metafor “Diri”. “Diri” merupakankesatuan jiwa-badan. Tanpa kesatuan dalam “diri” hidup manusia tidak berarti. Metafor “Diri” pun merupakan permainan suku kata dari “Da” dan “Ra”. “Da” bermakna semesta dan “Ra” mengarah pada cahaya. Permainan suku kata atau aksara Sunda ini menempatkan “Diri” sebagai “Cahaya Semesta”. Makna permainan kata berdasarkan aksara ini menempatkan “diri” di tengah-tengah. “Posisi tengah” digambarkan dengan metafor puitik “Buana Pancer Tengah”. “Tengah” memang sangat mudah diartikan “pusat”. Secara diagramatik, tengah selalu mengacu pada pusat. Posisi “Tengah” dalam konteks buana pancer tengah atau diri sebagai cahaya semesta merujuk pada makna “di antara”. Posisi ini berfungsi menjaga keterjalinan (bukan keseimbangan) antarunsur yang berada di sekitarnya. Unsur-unsur itu tidak merujuk dan bergantung pada posisi tengah. Rujukan dan ketergantungan unsur pada posisi tengah hanya akan menunjukkan diri sebagai pusat semesta.
Dalam pemahaman ini, diri adalah cahaya semesta, yang menerangi atau gerak ke luar. Ia bukan pusat yang bersifat menarik atau gerak ke dalam (sentripetal). Diri manusia hanyalah bagian dari percikan Cahaya Ilahi. Ia hanya dititipi cahaya sebagai kekuasaan untuk menata dan memelihara semesta. Metafor “buana pancer tengah”, sekaligus Diri berarti “buana” atau jagat kecil, yang dibandingkan dengan pemangku sejati kekuasaan atas semesta, Jagat Besar. Tugas menata dan mengelola semesta beserta isinya bisa terungkap dengan permainan kata “dari belakang ke depan”. Metafor “buana pancer tengah” bisa dibaca sebagai “tengah pancer buana”. Diri mejadi “tengah” yang menerangi (pancer) jagat (buana).
Inilah makna spiritual dari “Diri”. Diri merupakan topologi holistik yang merangkum unsur badan dan jiwa, yang menghubungkan semesta dengan Yang Kuasa. Karena itulah, “Diri” menjadi pokok berpikir yang selalu berulang. Demikian pentingnya, “Diri” menjadi ukuran dalam pembelajaran dan penilaian. Ukuran pembelajaran dilakukan dengan “membaca alam” dan mengekspresikan hasil pembelajaran (membaca alam) dengan perilaku sehari-hari. Dalam konteks inilah “Batu” pada situs Nagara Padang dimengerti sebagai sarana pembelajaran. Permainan aksara “Baca” dari “ba” dan Tulis dari “tu” menunjukkan kesinambungan antara ekspresi pikiran dan rasa melalui tubuh.
Kesinambungan penalaran, emosi dan motivasi ini mendorong orang untuk memperlakukan apa saja yang “dibacanya” dari semesta. Ukuran penilaian perilaku dikembalikan pada “Diri”. Karenanya dikenal istilah “ngaji diri” agar penilaian perilaku tidak dilakukan tanpa dasar. Istilah “ngaji diri” mengukur perilaku diri ke dalam dahulu, sebelum menilai orang lain, atau menilai ke luar. Apalagi penilaian tentang baik dan buruk, diri harus menjadi asal refleksi sebelum melontarkan keputusan mengenai perilaku dan kehidupan sesama.
Tuntutan “ngaji diri” ini membuat seorang Sunda yang kerap berefleksi bersikap diam menghadapi berbagai sikap dan perilaku yang cenderung destruktif; atau ditanggapi dengan senyum. Sikap “diam” bukan berarti tidak tanggap. Sikap diam juga menunjukkan bahwa kepekaan membaca situasi atau konteks. Konteks akan membantu seseorang menentukan dan menilai sesuatu benar atau salah, baik atau buruk. Awalan “ngaji diri” bermuara pada sikap jembar atau padang. Sikap padang mengarah pada kemampuan memadukan berbagai macam unsur yang mengondisikan sebuah peristiwa terjadi. Pemaduan ini memerlukan wawasan: mencermati secara luas dan detil keragaman pembentuk sebuah peristiwa. Karena itu kemampuan “ngaji diri” untuk menilai peristiwa atau perilaku berkaitan dengan pengalaman mengolah diri dan menata diri, membiasakan diri menjadi terang. Karena itu, kembali ke “Diri” justru bukan tanda relativisme berlaku dalam khazanah Sunda. Kembali ke “diri” sebagai terang batin justru menghubungkan manusia, per pribadi dengan lingkungan di sekitarnya.



Sekilas Gunung Padang:Situs Gunungpadang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Luas kompleks "bangunan" kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

Penemuan

Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, "Buletin Dinas Kepurbakalaan") tahun 1914. Sejarawan Belanda, N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949. Setelah sempat "terlupakan", pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede[1]. Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas pada tahun 1979 terhadap situs ini.Lokasi situs berbukit-bukit curam dan sulit dijangkau. Kompleksnya memanjang, menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jejeran batu andesit besar berbentuk persegi. Situs itu dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam[1]. Tempat ini sebelumnya memang telah dikeramatkan oleh warga setempat.[2] Penduduk menganggapnya sebagai tempat Prabu Siliwangi, raja Sunda, berusaha membangun istana dalam semalam.Fungsi situs Gunungpadang diperkirakan adalah tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di san` pada sekitar 2000 tahun S.M.[2] Hasil penelitian Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir menunjukkan kemungkinan adanya pelibatan musik dari beberapa batu megalit yang ada[3]. Selain Gunungpadang, terdapat beberapa tapak lain di Cianjur yang merupakan peninggalan periode megalitikum.Naskah Bujangga Manik dari abad ke-16 menyebutkan suatu tempat "kabuyutan" (tempat leluhur yang dihormati oleh orang Sunda) di hulu Ci Sokan, sungai yang diketahui berhulu di sekitar tempat ini[4]. Menurut legenda, Situs Gunungpadang merupakan tempat pertemuan berkala (kemungkinan tahunan) semua ketua adat dari masyarakat Sunda Kuna. Saat ini situs ini juga masih dipakai oleh kelompok penganut agama asli Sunda untuk melakukan pemujaan.

^ a b Situs Peninggalan Zaman Megalitikum di Gunung Padang Kian Terbengkalai. kapanlagi.com Edisi 08 September 2005^ a b Jafar M. Sidik. Menerawangi "Indonesia Tua" di Gunung Padang. Antara daring. Edisi 17 September 2009^ Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir Musical Tradition in Megalithic Site of Indonesian Gunung Padang?^ Budi Brahmantyo. Keagungan Sitts Megalitik Gunung Padang. Pikiran Rakyat. Edisi 20 Januari 2006.