Amazon Deals

Tuesday, July 31, 2012

Israel Tolak Kedatangan Dewan HAM PBB di Tepi Barat

Skalanews - Pemerintah Israel menolak investigasi yang dilakukan oleh tim pencari fakta Dewan Hak Asasi Manusia PBB yang akan menyelidiki dugaan pelanggaran yang dilakukan Israel di Tepi Barat. 

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan dalam sebuah pernyataan yang menyebut Dewan HAM PBB munafik. "Seharusnya Dewan ini merasa malu, dengan jumlah mayoritas itu."

Dewan HAM PBB pekan lalu dengan suara bulat mengeluarkan resolusi yang memerintahkan penyelidikan pelanggaran HAM yang dilakukan Israel di Tepi Barat. 

Hari ini 'kelompok delapan' yang merupakan kelompol menteri senior di Israel akan bersidang untuk mempertimbangkan langkah-langkah hukuman terhadap Otoritas Nasional Palestina (PA) yang mengundang Dewan Hak Asasi Manusia PBB. 

Sanksi tersebut kemungkinan termasuk pemotongan pendapatan pajak yang dikumpulkan Israel atas PA. 

Harian Ha'aretz mengatakan, Israel juga memperingatkan bahwa mereka bisa saja menghentikan proyek-proyek ekonomi bersama dengan PA, serta memanggil pulang utusan mereka untuk Dewan HAM. 

Ha'aretz menyebut Menteri Luar Negeri Avigdor Lieberman, Menteri Urusan Strategis Moshe Ya'alon dan Menteri Keuangan Yuval Steinitz adalah pendukung pengenaan sanksi fiskal terhadap PA.(nug)
 

Sunday, July 29, 2012

Nekat, Pencuri Gasak Delapan Mesin Pesawat Tempur Israel

Pencuri yang satu ini benar-benar nekat tampaknya. Tak tanggung-tanggung yang dijarah adalah delapan mesin pesawat tempur canggih F-15 dan F-16 dari pangkalannya di Rahmat David, Israel.
Pencuri diduga bekerja sama dengan personil pangkalan tersebut. Pencurian itu terjadi tiga bulan lalu namun dirahasiakan atas perintah pengadilan dan baru hari ini diumumkan secara resmi. 
Pejabat Angkatan Udara Israel (IAF) Senin, (13/6)  menyatakan delapan mesin pesawat F-15 dan F-16 jet yang merupakan tulang punggung IAF.
Komandan pangkalan seorang perwira berpangkat Brigadir Jenderal, memperkirakan bahwa personil pangkalan mungkin telah membantu para pencuri dengan informasi lokasi mesin termasuk prosedur keamanan.
Peristiwa itu terungkap setelah perintah “penutupan” atas perintah pengadilan dicabut hari Minggu dan saat ini penyelidikan atas mesin-mesin pesawat yang hilang tersebut sedang dilakukan oleh Kepolisian Israel dan polisi militer.
Sebuah mesin turbofan Pratt dan Whitney untuk pesawat F-15 atau F-16 beratnya mencapai beberapa ton. Mengangkat dan memindahkan mesin tersebut hanya mungkin dilakukan dengan truk-truk berat dan crane khusus yang memasukan pangkalan.
Pejabat IAF itu mengatakan mesin yang dicuri tersebut adalah mesin yang sudah tidak terpakai dan sedang dijadwalkan untuk dihancurkan.
Para pejabat militer, bagaimanapun, menggambarkan pelanggaran keamanan di pangkalan yang merupakan homebase bagi beberapa skuadron F-15 tersebut sebagai "skandal."
“Ini bukan pencurian biasa, tapi skandal,” tulis harian Israel Yedioth Aharonot mengutip sumber militer. “Pangkalan ini ini berisi banyak hal dirahasiakan. Tak mungkin terjadi tanpa “perselingkuhan” antara pencuri dengan personil pangkalan -.. tentara atau kontraktor sipil.”
“Mesin yang dicuri itu termasuk perangkat keras dirahasiakan, kenyataan bahwa unsur pidana memasuki pangkalan tanpa diketahui dan berhasil mencuri mesin yang begitu besar adalah kegagalan keamanan yang fatal.”
Polisi Militer Israel mengkaitkan pencurian mesin pesawat itu dengan naiknya harga pasaran logam di pasar internasional. Pencurian logam di Israel meningkat 35 persen dibanding tahun lalu.
Barang-barang itu dijual ke pemilik peleburan untuk dilelehkan menjadi blok padat dan dikirim kepasar luar negeri.
Sebelumnya, pencuri telah melakukan “pemulungan” di instalasi lain militer Israel lainnya tahun lalu. Sebuah basis logistik di selatan Tel Aviv kabel tembaganya dilucuti dan beberapa ton logam tersebut menghilang dari markas Korps Lapis Baja.

Friday, July 27, 2012

Israel (Mampu) Serang Iran?

    Permusuhan Israel dan Iran semakin berkobar beberapa bulan terakhir. Pembunuhan Ilmuan Nuklir Iran hingga serangkaian ledakan bom yang menyasar kepentingan Israel di Tbilisi, New Delhi dan Bangkok dikaitkan dengan operasi intelejen masing-masing negara. Ketegangan hubungan Israel dan Iran memang bukan berita baru. Kedua negara memang sama-sama tak sudi menjalin hubungan diplomatik , dan menyimpan bara api permusuhan. Israel dan Iran berada pada dua kutub ekstrem berlawanan.

    Republik “Syiah” Iran adalah pendukung perjuangan Palestina, sekaligus penentang Zionisme. Sedangkan Zionis Yahudi Israel memandang Palestina seperti duri dalam daging, dan pihak-pihak yang menyokong perjuangan Palestina, khususnya di Timur –Tengah sebagai ancaman. Perang urat syaraf antara keduanya dalam diplomasi internasional sangat vulgar dan kasar. Iran bersuara lantang, Israel harus dilenyapkan dari peta dunia, Holocaust adalah kebohongan, dan mengecam keras semua aksi brutal Israel di Palestina dan Lebanon. Sedangkan Israel menganggap Iran sebagai negara-negara sponsor terorisme karena menyokong Hizbollah di Lebanon Selatan, dan mendukung gerakan perlawanan Palestina.

    Peningkatan kekuatan militer sebuah negara yang arah politiknya berlawanan dapat ditafsirkan sebagai ancaman oleh pihak lain. Sebelum Iran, ada Irak di era Saddam Hussein yang mengambil posisi ektrem terhadap Israel, dan ditunjukan dengan manuver-manuver militernya. Israel akhirnya melancarkan serangan udara terhadap reaktor nuklir Ossirak milik Irak pada tahun 1981. Israel menganggap pengembangan teknologi nuklir Irak sebagai ancaman bagi keamanannya. Setelah rezim Saddam runtuh dan kekuatan militer Irak lumpuh pasca Perang Teluk II, tinggal Iran yang dinilai menjadi satu-satunya ancaman utama Israel. Sebenarnya peningkatan kekuatan militer Iran dan pembangunan fasilitas nuklirnya juga mencemaskan negara-negara Teluk yang khawatir ekspansi pengaruh Syiah. Namun, secara khusus Israel memandang kekuatan militer Iran dan pembangunan fasilitas nuklirnya tidak lain bertujuan menghancurkan Israel.

    Pertanyaannya apakah ancaman Israel menyerang reaktor nuklir Iran akan benar-benar terjadi. Di atas kertas, kekuatan militer negeri Yahudi itu jauh mengungguli Iran, bahkan negara-negara Arab sekalipun, kendati mereka menyatukan kekuatan. Israel juga menjadi satu-satunya negara di Timur-Tengah yang mempunyai bom nuklir. Namun, perang bisa menjadi sebuah “Mission Imposible”. David (Daud) berhasil mengalahkan Goliath (Jalut) dengan berbekal keyakinan dan semangat juang. Faktanya dalam agresi ke Gaza, Israel bukanlah David sebagaimana yang mereka dengungkan, namun sebagai Goliath yang melawan Hamas. Meski mampu membuat Gaza porak-poranda, misi Israel melumpuhkan Hamas dan membebaskan Kopral Gilad Shalit, gagal total. Jika opsi menyerang Iran benar-benar diambil Israel, seperti halnya Operasi Ossirak, Israel kemungkinan melancarkan operasi udara. Namun Tel Aviv dihadapkan kendala jauhnya jarak ke Iran—burung besi Israel harus melewati wilayah udara Yordania, Arab Saudi, Irak, yang tentu merupakan pelanggaran wilayah udara bila tidak mendapat lampu hijau dari negara-negara tersebut, belum lagi besarnya budjet operasional mengingat target begitu jauh--, pertahanan Iran tentu juga sudah bersiap mengantisipasi serangan Israel. Bila perang berkembang lebih jauh, stabilitas regional terganggu dan dunia internasional juga akan terkena imbasnya. Bukan tidak mungkin Iran akan menyerang membabi buta dengan rudal-rudal jarak jauhnya, dan memblokade selat Hormuz yang mengakibatkan terhambatnya pasokan minyak dunia serta berdampak buruk pada perekonomian dunia. Bukanlah perang bila akhir ceritanya tidak merugikan kehidupan.

SOURCE: http://forum.kompas.com/internasional/71095-israel-mampu-serang-iran.html

Wednesday, July 25, 2012

Israel Ancaman Bagi Perdamaian Dunia

Berlin, Seorang peraih penghargaan Nobel, Gunter Grass menyebut Israel sebagai ancaman bagi perdamaian dunia. Peraih Nobel literatur asal Jerman itu juga mengecam kemunafikan negara-negara Barat atas senjata nuklir Israel.

Dalam tulisannya yang dimuat surat kabar Jerman, Suddeutsche Zeitung pada Rabu, 4 April waktu setempat, Grass menyampaikan kekhawatiran atas konsekuensi rencana serangan Israel terhadap Iran.

"Kenapa saya baru mengatakan sekarang.... bahwa negara nuklir Israel membahayakan perdamaian dunia yang sudah rapuh? Karena itu harus dikatakan, yang mungkin sudah akan sangat terlambat jika dikatakan besok," kata Grass dalam tulisannya bertitel "What Must Be Said".

Grass juga mengecam rencana pemerintah Jerman untuk kembali menjual kapal selam berkemampuan nuklir kepada Israel. Kapal selam model lumba-lumba itu bisa mengangkut hulu ledak nuklir.

"Saya tak akan diam lagi, karena saya capek dengan kemunafikan Barat," cetus Grass seperti dilansir Press TV, Kamis (5/4/2012).

Sebelumnya, tiga kapal selam Dolphin tersebut telah diserahkan ke Israel antara tahun 1998 dan 2000 silam. Pada tahun 2006, Israel memesan kapal selam keempat dan kelima. Kapal selam keempat rencananya akan diserahkan ke Israel pada tahun 2013 mendatang. Sementara kapal selam kelima dan keenam akan diserahkan pada tahun 2014 dan 2016.

Israel disebut-sebut sebagai satu-satunya negara pemilik senjata nuklir di Timur Tengah. Negeri Yahudi itu tak pernah mengizinkan pemeriksaan oleh PBB atas fasilitas nuklirnya. Israel juga tidak ikut dalam Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT).

Menurut survei yang dilakukan tahun 2011 oleh organisasi Friedrich Ebert Foundation yang berbasis di Berlin, Jerman, lebih dari 50 persen warga Eropa yakin bahwa Israel merupakan ancaman paling serius bagi keamanan global.

SOURCE: http://news.detik.com/read/2012/04/05/122958/1885881/1148/israel-ancaman-bagi-perdamaian-dunia?9911012

Monday, July 23, 2012

Manusia Pertama ada di Indonesia

Manusia Pertama ada di Indonesia –Catatan dari ‘Eden In The East, The Drowned Continent’ karya Stephen Oppenheimer

Para ahli sejarah umumnya berpendapat bahwa Asia Tenggara adalah kawasan ‘pinggir’ dalam sejarah peradaban manusia. Dengan kata lain, peradaban Asia Tenggara bisa maju dan berkembang karena imbas-imbas migrasi, perdagangan, dan efek-efek yang disebabkan peradaban lain yang digolongkan lebih maju seperti Cina, India, Mesir, dan lainnya. Buku Eden In The East yang ditulis Oppenheimer seolah mencoba menjungkirbalikkan pendapat meinstream tersebut.

Oppenheimer mengemukakan pendapat bahwa justru peradaban-peradaban maju di dunia merupakan buah karya manusia yang pada mulanya menghuni kawasan yang kini menjadi Indonesia. Oppenheimer tidak main-main dalam mengemukakan pendapat ini. Hipotesisnya disandarkan kepada sejumlah kajian geologi, genetik, linguistik, etnografi, serta arkeologi.

Gagasan diaspora manusia dari kawasan Asia Tenggara dicoba untuk direkonstruksi dari peristiwa di akhir zaman es (Last Glacial Maximum) pada sekitar 20.000 tahun yang lalu. Pada saat itu, permukaan laut berada pada ketinggian 150 meter di bawah permukaan laut di zaman sekarang. Kepulauan Indonesia bagian barat, masih menyatu dengan benua Asia sebagai sebuah kawasan daratan maha luas yang disebut Paparan Sunda.

Ketika perlahan-lahan suhu bumi memanas, es di kedua kutub bumi mencair dan menyebabkan naiknya permukaan air laut, sehingga timbul banjir besar. Penelitian oseanografi menunjukan bahwa di Bumi ini pernah tiga kali terjadi banjir besar pada 14.000, 11.000, dan 8.000 tahun yang lalu. Banjir yang terakhir adalah peristiwa yang menyebabkan kenaikan permukaan air laut hingga setinggi 8-11 meter dari tinggi permukaan asalnya. Banjir tersebut mengakibatkan tenggelamnya sebagian besar kawasan Paparan Sunda hingga terpisah-pisah menjadi pulau-pulau yang kini kita kenal sebagai Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali.

Oppenheimer mengemukakan bahwa saat itu, kawasan Paparan Sunda telah dihuni oleh manusia dalam jumlah besar. Karena itulah, menurutnya, hampir semua kebudayaan dunia memiliki tradisi yang mengisahkan cerita banjir besar yang menenggelamkan sebuah daratan. Kisah-kisah semacam banjir Nabi Nuh as, olehnya dianggap sebagai salah satu bentuk transfer informasi antar generasi manusia tentang peristiwa mahadahsyat tersebut.

Menurut Oppenheimer, setelah terjadinya banjir besar tersebut, menusia mulai menyebar ke belahan bumi lainnya. Oppenheimer menyatakan bahwa hipotesisnya ini disokong oleh rekonstruksi persebaran linguistik terbaru yang dikemukakan Johanna Nichols. Nichols memang mencoba mendekonstruksi persebaran bahasa Austronesia. Sebelumnya, Robert Blust (linguis) dan Peter Bellwood (arkeolog) menyatakan bahwa persebaran bahasa-bahasa Austronesi a berasal dari daratan Asia ke Formosa (Taiwan) dan Cina Selatan (Yunnan) sebelum sampai ke Filipina, Indonesia, kepulauan Pasifik dan Madagaskar. Nichols menyatakan konstruksi yang terbalik di mana bahasa-bahasa Austronesia menyebar dari Indonesia-Malaysia ke kawasan-kawasan lainnya dan menjadi induk dari bahasa-bahasa dunia lainnya.

Oppenheimer berkeyakinan bahwa penduduk Malaysia, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan dewasa ini adalah keturunan dari para penghuni Paparan Sunda yang tidak hijrah setelah tenggeamnya sebagian kawasan tersebut. Dengan kata lain, ia hendak mengemukakan bahwa persebaran manusia di dunia berasal dari kawasan ini.

Pendapatnya ia perkuat dengan mengemukakan analisa tentang adanya kesamaan benda-benda neolitik di Sumeria dan Asia Tenggara yang diketahui berusia 7.500 tahun. Kemudian ciri fisik pada patung-patung peninggalan zaman Sumeria yang memiliki tipikal wajah lebar (brachycepalis) ala oriental juga memperkuat hipotesis tersebut.

Oppenhimer juga yakin bahwa tokoh dalam kisah Gilgamesh yang dikisahkan sebagai satu-satunya tokoh yang selamat dari banjir besar adalah karakter yang sama dengan Nabi Nuh as dalam kitab Bible dan Qur’an yang tak lain adalah karakter yang berhasil menyelamatkan diri dari banjir besar yang menenggelamkan paparan Sunda. Legenda Babilonia tua mengisahkan pula kedatangan tujuh cendekiawan dari timur yang membawa keterampilan dan pengtahuan baru. Kisah yang sama terdapat pula di dalam India kuno di Hindukush. Varian legenda semacam ini pun ternyata tersebar di kepulauan Nusantara dan Pasifik.

Oppenheimer lebih lanjut mengemukakan bahwa kisah yang serupa dengan kisah penciptaan Adam dan Hawa serta pertikaian Kain dan Abel (Qabil dan Habil) ternyata dapat ditemukan di kawasan Asia Timur dan Kepulauan Pasifik. Misalnya orang Maori di Selandia Baru, menyebut perempuan pertama dengan nama ‘Eeve’. Kemudian di Papua Nugini, kisah yang serupa dengan Kain dan Abel ada dalam wujud Kullabop dan Manip. Tradisi-tradisi di kawasan ini juga mengemukakan bahwa manusia pertama di buat dari tanah lempung yang berwarna merah.

Atas dasar berbagai hipotesis tersebut pula, Oppenheimer meyakini bahwa Taman Eden yang disebut-sebut dalam Bible ada di Paparan Sunda. Berbicara tentang Hipotesis Oppenheimer ini, saya juga jadi teringat salah satu ayat dalam Kitab Genesis yang dengan jelasmenyebut bahwa Eden ada di Timur. Mungkinkah Taman Eden memang berlokasi di Indonesia? Dan Manusia Pertama pun ditempatkan Tuhan di Indonesia

SOURCE: http://www.facebook.com/groups/atlantisindonesia/doc/313814392001814/

Saturday, July 21, 2012

Diri, Jati Diri, ataukah Diri Pribadi?

Ada orang yang mengatakan tentang petuah yang kira-kira berbunyi begini,“Dunia ini adalah kebangkitan kembali, karena kebangkitan itu hanyalah adalah melayani, Dan tidak ,melakukan apa-apa kecuali melayani.” Nah, ini menjadi sebuah hal yang menarik, jika ada pertanyaan bahwa masak jauh-jauh dari suatu tempat yang enak (syurga) kok kita ke dunia ini menjadi pelayan? emange kita terlahir hanya menjadi komoditas yang akan dikirim ke negara-negara kaya?hehehe..atau masak Tuhan menciptakan insan hanya untuk membantu pekerjaanNya? Tuhan kurang Maha Kuasa ya?hehehe…
Lalu petuah itu kubawa sebagai bahan untuk merenung, namun kepalaku menjadi pusing, bahkan berkunang-kunang.
Maka kubulatkan tekad untuk membawa kepeningan itu pada karibku Sang Petani (karena memang beliaulah segala jawab jika gelisah memukul dada dan kepalaku. Singkat cerita sampailah diri di halaman rumahnya. Beliau baru asyik membersihkan cangkul.- Alat yang setia dan benar-benar menjadi sahabat sejati yang menemani kesehariannya. Lantas kutanyakan saja petuah yang pernah kedengar itu kepadanya. Beliau hanya tersenyum, lalu disulutnya sebatang rokok kretek, menghisap dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, dan tak lupa terkekeh riang, Gege..gege…gege (sepertinya ini menjadi gaya andalannya)
“Anakku, ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa Orang yang berpikir lebih baik tentang Tuhan, maka Tuhan ada dalam pikirannya itu.” Kata Sang Petani itu . Aku sempat menatap matanya, kali ini ada sebuah keseriusan yang mendalam.
“Saya kok malah semangkin bingung, Mbah, kayak kurang nyambung gitu loh! hehehe..Kita ini dibangkitkan hanya untuk menjadi pelayanNya, tah? Ataukah Tuhan kekurangan dan benar-benar membutuhkan pembantu?” kataku mengejarnya

“Semua makhluk hidup dan benda mati ini memang hanya menjadi
pelayanNya, to? Hehehehe….” kata Mbahe mulai menanggapiku penuh riang.
Sore itu, kuharap segala pertanyaanku terjawab, tetapi nampaknya Mbahe menginginkan agar ku tetap berpikir. Lintasan waktu yang berkelebat tak kuhiraukan, sementara hewan capung hanya berputar-putar di halaman seperti hendak pulang.
“Semuanya berawal dari Abdul Le…ya..Abdul itulah awalnya, sebelum hadir yang lainnya. Dan segeralah cari pasanganmu itu, lalu jadikan harianmu, maka engkaulah  pelayan itu dan hidupmu menjadi perpanjangan dari Rahman dan RahimNya.
“Tetap saja saya belum dong bin mudheng, Mbah…jangan samakan cara berpikir mbah ini yang terbiasa melaju secepat pesawat terbang dengan cara berpikir saya yang hehehe…masih labil sebab terlalu banyak makan mie instan, lagian untuk urusan merenung walah..walah, kalah dengan waktu untuk membuat status di FB maupun Twuit…twuit, jadi pelan kan sedikit penjelasannya pun lebih rinci, jadi saya bisa memamahnya dan membiakkannya, hehehehe…”
“Ada ujaran dari salah seorang yang bijak yang mengatakan begini, thole..
Abdi itu tidak semata-mata berarti hamba, tetapi justru merupakan kumpulan dari seluruh Asma yang berperan di dalamnya. Inilah rahasia terdalam itu Le, inilah puncak dari segala pengetahuan dari pencarian. Ibrahim, Musa bahkan Sang Musthofa pun pernah dan sering merenung, bersunyi mencari diri, namun semuanya berakhir pada sebuah ujung peniadaan diri hingga muncul sebuah penyerahan amanah bahwa hidup adalah abdi, dan kehidupan adalah perpanjangannya. Telaah dan renungkanlah bahwa barangsiapa mengabdikan hidup, entah pada Tuhan, negara maupun keluarganya, maka kehidupan itu pun akan mengenangnya”
Kerudung malam bertambah dalam, sementara nyanyian hati mulai menyusut. Jawaban itu merupakan tamparan buatku. Mudah untuk mendengarkan, sulit untuk melaksanakan. Entahlah Tuhan, entah di muara mana hidupku Kau atur, aku mung manut-manut wae

SOURCE: http://filsafat.kompasiana.com/2012/03/04/memang-hidup-itu-hanya-jadi-pelayan-lik/

Thursday, July 19, 2012

Kepulauan Sunda Besar dan kepulauan Sunda Kecil. Sunda Eilanden (kepulauan Sunda)

Para ahli geografi jaman dahulu menamai kepulauan di timur dengan nama Kepulauan Sunda (Sunda Islands). Pada Wikipedia dapat kita temukan penjelasan bahwa  Pulau-pulau Sunda adalah kelompok pulau-pulau yang merupakan bagian dari Kepulauan Melayu.   Pulau-pulau Sunda  terbagi atas Sunda Besar dan Sunda kecil.

 Bangsa Portugis yang pertama kali berkelana di wilayah kita. Mereka mencatat nama-nama tempat yang sudah didatanginya. Dalam catatan itu pulau-pulau yang didatangi ditanyakan mereka, para penghuni pulau menjawabnya Sunda. Portugis mencatat hal tersebut, kepulauan semua ini disebut Kepulauan Sunda. Lantaran pulau-pulau yang berada di sebelah barat merupakan pulau yang besar, disebut Kepulauan Sunda Besar (mayor). Kalau pulau-pulau yang disebelah timur merupakan pulau-pulau kecil disebut kepulauan Sunda Kecil (minor). Akhirnya juga nama-nama itu yang dicatat dalam bahasa Portugis, kemudian orang Belanda menerjemahkan dengan bahasa Belanda menjadi Sunda Eilanden (kepulauan Sunda), yang dibangun dengan Grote Sunda Eilanden dengan Kleine Sunda Eilanden.
Sunda Eilanden atau Kepulauan Sunda ini yang selanjutnya dinamakan Hindia Timur atau Hindia Belanda. Tapi ilmuan Jerman memberi nama Indo-nesos (Indo=Hindia, Nesos = Nusa, Kepulauan, Benua). Dinamakanlah menjadi Indonesia.

Yang bercanda ada yang menulis Indonesia dengan tulisan Arab, jadi dibalik membacanya(aiSeNoDni), di aksara ini dibaca biasa dengan cara latin (ieu SuNDa na). Jadi maksudnya Indonesia juga Sunda-Sunda juga.
 Maka orang Portugis itu menyimpulkan, bahwa Nusantara itu ialah Sunda. Karena di bagian barat pulau-pulaunya besar disebut Soenda Mayor, sedangkan di bagian timur pulau-pulaunya kecil, maka disebut Soenda Minor.
Catatan Portugis ini oleh orang Belanda juga dipakai dengan sebutan “Soenda eilanden”, yang terdiri dari “Grote Soenda eilanden” dan “Kleine Soenda eilanden”, artinya Kepulauan Sunda itu terdiri dari Kepulauan Sunda Besar dan kepulauan Sunda Kecil. Yang dimaksud dengan Kepulauan Sunda Besar ialah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa. Sedangkan sisanya disebut Kepulauan Sunda Kecil.

Kepulauan Sunda adalah sebutan untuk gugusan pulau pada sebelah barat Nusantara, yang terbagi ke dalam dua kelompok:
  • Kepulauan Sunda Besar
    • Kalimantan
    • Jawa
    • Sumatra
  • Kepulauan Sunda Kecil, dari barat ke timur
    • Bali
    • Lombok
    • Sumbawa
    • Flores
    • Sumba
    • Timor
    • Kepulauan Barat Daya
    • Kepulauan Tanimbar
Gugusan ini secara politik terbagi antara Indonesia (sebagian besar), Brunei, Timor Leste, dan Malaysia.
Kini Nama Sunda Besar dan Sunda Kecil makin sayup2 bahkan tak terdengar lagi mungkin telah hilang juga dari buku pelajaran Ilmu Bumi Sekolah Dasar, entah sejak kapan.


Tuesday, July 17, 2012

“Mengapa di Tatar Sunda sangat langka ditemukan candi-candi peninggalam kerajaan-kerajaan masa lampau seperti halnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur?

Diposting oleh: Raden Wiraatmadja, [https://www.facebook.com/BorizYeltsin]
----- 
BELAKANGAN ini, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) melalui Balai Arkeologi Bandung sedang mendapat pekerjaan besar di Jawa Barat, yaitu penggalian candi di daerah Karawang yang diduga merupakan sisa-sisa peninggalan dari kerajaan Tarumanegara dan penggalian candi yang baru ditemukan di daerah Bojongmenje Rancaekek, Kabupaten Bandung. Makna kedua temuan ini bagi masyarakat Jawa Barat merupakan suatu hal yang sangat berarti untuk memperjelas keberadaan orang-orang Sunda dalam pentas sejarah di Pulau Jawa pada masa klasik, yaitu masa sebelum pengaruh Islam masuk dan berkembang.

Temuan Candi di daerah di Batujaya Karawang yang nampaknya bakal merupakan situs paling besar di Jawa Barat mempunyai hubungan yang erat dengan prasasti Tugu, yaitu prasasti yang terdapat di desa Tugu, dekat Tanjung Priok sekarang. Dalam Prasasti Tugu tersebut dinyatakan bahwa Raja Purnawarman memerintahkan untuk menggali dua kanal, yaitu Candrabaga dan Gomati di mana kedua kanal tersebut alirannya terlebih dahulu dibelokan ke sekitar istananya dan kemudian di alirkan kembali ke muara. Panjangnya kanal tersebut setelah digali sejauh 6122 tumbak, oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka diperkirakan panjangnya 11 km. Jika perkiraan Purbatjaraka ini digunakan sebagai patokan dalam menelusuri bekas reruntuhan keraton Tarumanegara, maka situs Batujaya tersebut merupakan lokasi yang paling tepat untuk diasumsikan sebagai lokasi bekas keraton Raja Purnawarman karena jarak antara lokasi situs dengan muara Bendera (tempat terpecahnya aliran sungai Citarum menjadi dua, yaitu yang menuju muara Pakis dan yang menuju muara Gembong) berjarak sekitar ±11 kilometer. Perkampungan yang terletak antara dua pecahan aliran sungai Citarum sampai bibir pantai Pakis dan Muara Gembong merupakan sebuah delta yang terus mengalami pendangkalan akibat kegiatan sedimentasi fluviatil/erosi yang dibawa oleh aliran sungai Citarum.

Dugaan bahwa pantai Purba tempat bermuaranya kanal/sungai Candrabaga dan Gomati yang digali oleh Raja Purnawarman terletak di muara Bendera, berdasarkan pada kegiatan sedimentasi fluviatil (sungai) yang terjadi pada aliran sungai Citarum. Dari arah hulu, aliran sungai membawa sumber-sumber endapan seperti sampah dan lumpur yang kemudian membentuk delta pada muara bendera tersebut. Akibat sedimentasi fluviatil (sungai) yang terus menerus tersebut, telah memperbesar areal delta dan memecah aliran sungai Citarum menjadi dua, yaitu yang menuju muara Pakis dan yang menuju muara Gembong sekarang. Jarak antara muara Bendera ke muara Pakis sekarang sekitar + 12 km dan yang menuju muara Gembong kira-kira berjarak + 15 km. Penelitian geologi di daerah sekitar muara bendera mungkin akan memberikan jawaban yang lebih akurat tentang dugaan letak muara Purba seperti yang tertulis dalam Prasasti Tugu.

Hal paling baru dalam dunia arkeologi di Jawa Barat adalah temuan candi yang terletak di daerah Rancaekek, Kabupaten Bandung. Di areal situs ini sedang dilakukan penggalian yang selanjutnya sedang direncanakan upaya restorasi dan rekonstruksi candi oleh tim khusus ahli restorasi candi dari UGM. Seperti dikemukakan oleh Prof. Dr. Ayatrohaedi dan Dr. Tony Djubianto dalam diskusi terbatas yang diselenggarakan oleh Harian Umum Pikiran Rakyat pada tanggal 9 September 2002, dimungkinkan bahwa candi tersebut berasal dari abad ke VII berdasarkan pada bentuk pelipit dan beberapa aspek lain yang terdapat pada pahatan batu candi. Atau mungkin dari abad sebelum itu karena yoni (simbol syiwa)-nya ternyata tidak ditemukan yang berarti candi itu didirikan masa pra-Hindu. Jika memang asumsi ini benar, maka dapat dimungkinkan bahwa candi tersebut dapat memberikan jawaban atas keterputusan sejarah Sunda pasca Tarumanegara. Berita prasasti tertua pasca Tarumanegara adalah prasasti yang ditemukan di Bogor yang berangka tahun 932 M. atau abad ke-10 yang dikenal dengan prasasti Kebon Kopi.

Kendati demikian, penemuan candi-candi tersebut masih belum menjawab pertanyaan misteri selama ini yaitu “Mengapa di Tatar Sunda sangat langka ditemukan candi-candi peninggalam kerajaan-kerajaan masa lampau seperti halnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur?” Selama ini mengemuka beberapa jawaban yang mencoba menjelaskan pertanyaan tersebut tapi belum didukung oleh bukti-bukti sejarah yang kuat. Pertama adalah jawaban sosiologis-agrikultural dan kedua, jawaban proses Islamisasi. Jawaban sosiologis-agrikultural misalnya ditemukan dalam buku Nina Herlina (1998:26): “Mata pencaharian utama penduduk Priangan pada mulanya berladang atau ngahuma; baru kemudian bersawah. Sejak zaman kerajaan Sunda, orang Sunda dikenal bermata pencaharian sebagai peladang. Ciri yang menonjol pada masyarakat peladang adalah kebiasaan selalu berpindah tempat untuk mencari lahan yang subur. Kebiasaan berladang ini berpengaruh pada tempat tinggal. Mereka tidak memerlukan bangunan permanen yang kokoh, cukup yang sederhana saja. Kemungkinan besar itulah salah satu sebab mengapa di Priangan tidak banyak peninggalan berupa candi atau keraton seperti di Jawa Tengah.” Sedangkan jawaban yang kedua menjelaskan bahwa proses Islamisasi di Sunda cenderung lebih intensif dibanding dengan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Proses Islamisasi yang lebih intensif berpengaruh pada militansi beragama orang Sunda. Karena keislamannya yang kuat, masyarakat Sunda yang sudah masuk Islam diduga “menghancurkan” bangunan candi-candi sebagai peninggalan agama Hindu Budha dan tempat pemujaan yang bertentangan dengan keyakinan yang diajarkan Islam. Hingga saat ini kedua asumsi tersebut di atas belum didukung oleh bukti-bukti sejarah alias baru dugaan. Tulisan ini mengangkat perspektif lain yang selama ini belum diungkap dengan mengangkat tiga argumen yaitu monoteisme orang Sunda, tradisi egalitarian masyarakatnya dan realitas kekuasaan di Sunda pra-Islam.

Monoteisme Orang Sunda

DARI berita sejarah yang ada dan dari hasil penelitian arkeologi terkini, Jawa Barat atau kawasan Sunda adalah daerah yang pertama mendapat pengaruh Hindu dan Budha dari India. Aktifitas politik pemerintahan dengan rangkaian kegiatan birokratisnya telah berjalan sejak awal-awal abad masehi. Hal ini menunjukan bahwa orang-orang Sunda adalah orang pertama di Indonesia yang telah mengerti dan menggunakan mekanisme birokrasi dalam mengatur hubungan penguasa-rakyat dan dalam hubungan sosial antara masyarakatnya.

Pengaruh Hindu dan Budha yang datang dari India setelah mengalami proses sinkretisasi dengan agama lokal (animisme dan dinamisme) mulai diterima oleh kalangan elit politik kerajaan. Stratifikasi sosial yang kastaistis telah memberikan keuntungan-keuntungan tersendiri bagi para ningrat kerajaan, sementara masyarakat lapisan luar kerajaan masih menggunakan keyakinan lama yang menyembah hyang yang oleh Fa-Hien disebut sebagai “agama yang buruk” seperti tertuang dalam laporan berita Cina. Ungkapan “agama yang buruk” oleh Fa-Hien ini merupakan ungkapan yang biasa diucapkan oleh orang yang taat pada suatu agama terhadap orang yang beragama lain.

Dalam konsepsi teologis orang Sunda pra Hindu, hyang (sanghyang, sangiang) adalah Sang Pencipta (Sanghyang Keresa) dan Yang Esa (Batara Tunggal) yang menguasai segala macam kekuatan, kekuatan baik ataupun kekuatan jahat yang dapat mempengaruhi roh-roh halus yang sering menetap di hutan, di sungai, di pohon, di batu atau di tempat-tempat dan benda-benda lainnya. Hyang mengusai seluruh roh-roh tersebut dan mengendalikan seluruh kekuatan alam. Pada masa masuknya pengaruh Hindu, konsep ke-esa-an hyang terpelihara karena semua dewa Hindu tunduk dan takluk pada hyang ini, kekuatannya dianggap melebihi dewa-dewa Hindu yang datang kemudian. Dengan kata lain, orang-orang Sunda pra Hindu-Budha sudah menganut faham monoteistis dimana hyang dihayati sebagai maha pencipta dan penguasa tunggal di alam. Konsepsi ini sama dengan apa yang diajarkan oleh Islam, yaitu Allah, ketika muncul proses Islamisasi di Nusantara. Istilah sembahyang pun lahir dari tradisi ritus menyembah Hyang (Yang Tunggal) sama dengan shalat menyembah Allah Yang Maha Esa dalam agama Islam.

Ketika pengaruh Hindu masuk ke masyarakat Sunda, ajaran Hindu mempengaruhi keyakinan lokal masyarakat yang sudah mapan. Kedua keyakinan teologis ini kemudian mengalami proses sinkretisasi/pembauran teologis. Ini tergambar dalam hirarki kepatuhan yang terdapat pada Naskah Siksakandang Karesian yang berisi Pasaprebakti (Sepuluh Tingkat Kesetiaan) yang isinya sebagai berikut : “Anak satia babakti ka bapak; pamajikan satia babakti ka salaki; kawala satia babakti ka dunungan; somah satia babakti ka wado; wado satia babakti ka mantri; mantri satia babakti kanu manganan (komandan); nu nanganan satia babakti ka mangkubumi; mangkubumi satia babakti ka raja; raja satia babakti ka dewata; dewata satia babakti ka hyang.” Konsep hyang merupakan konsep yang memang sudah hidup pada orang Sunda jauh sebelum pengaruh Hindu dan Budha tersebut datang.

Tradisi sesembahan orang Sunda pra Hindu-Budha tidak terpusat di Candi tapi menyembah hyang di kahiyangan. Konsep kahiyangan sangat abstrak alias tidak menyebut tempat fisik dan bangunan. Kahiyangan merupakan tempat para dewa bersemayam mulai dari para dewa lokapala (pelindung dunia) sampai pwah sanghyang sri (dewi padi), pwah naga nagini (dewi bumi) dan pwah soma adi (dewi bulan) yang menghuni jungjunan bwana (puncak dunia). Tradisi orang Sunda menyembah hyang bisa sebutkan sebagai salah satu alasan yang menjelaskan kelangkaan candi di tatar Sunda Priangan. Kuatnya kepercayaan Sunda lama terhadap hyang yang monoteistik tidak mendorong orang Sunda untuk membangun candi sebagai pusat peribadatan sebagai mana di Jawa Tengah dan Timur. Satu dua candi kecil yang ditemukan di Jawa Barat, ketimbang menunjukkan kuatnya pengaruh agama Hindu-Budha, tampaknya dibangun lebih sebagai simbol kekuasaan bahwa disitu pernah ada penguasa kecil, keturunan dari Kerajaan Sunda.

Tradisi Egaliter Orang Sunda

PENGARUH Hindu dan Budha datang ke pulau Jawa sekitar awal abad masehi dan daerah yang pertama bersentuhan dengannya adalah Jawa Barat dengan pusat pemerintahan yang diduga berada di sekitar Karawang dan Bekasi sekarang. Pengaruh kedua agama ini nampaknya kurang begitu kuat merekat pada masyarakat Sunda karena masyarakat Sunda sangat kuat dalam menganut keyakinan aslinya yang bercorak monoteistis yaitu mengabdi pada hyang tunggal.

Bukti kuat pernyataan ini adalah bahwa hingga saat ini bukti-bukti arkais yang mendukung kuatnya pengaruh Hindu-Budha sangat sedikit ditemukan di Jawa Barat. Jika di Jawa Tengah dan Jawa Timur banyak terdapat tinggalan bangunan dan monumen sakral yang bercorak Hindu dan Budha, ini disebabkan karena sosialisasi Hindu dan Budha yang sangat intensif, baik yang dilakukan oleh kalangan keraton maupun oleh para brahmana dan pedanda.

Cepatnya penyebaran agama Hindu dan Budha pada masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur disebabkan karena konsep dan ajaran god-kings (dewa-raja) yang sesuai dengan alam berfikir masyarakat Jawa ketika itu. Bagi masyarakat Jawa, raja dihayati sebagai panutan yang mutlak yang mesti mendapat anutan karena raja dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi. Gelar para raja adalah gabungan dari dua otoritas yaitu otoritas politik (raja) dan otoritas religius (dewa) yang tergabung dalam istilah-itilah seperti rajaresi, khalifatullah fil ‘ardhi sayidin panatagama dan lain-lain.

Kepatuhan kepada raja secara militan selain berasal dari inti ajaran Hindu- Budha itu sendiri juga bersumber dari klasifikasi sosial yang sangat ketat. Ini tergambar dari stratifikasi yang muncul dalam masyarakat Jawa yang membuat dikotomi sosial secara tegas antar kelas seperti ningrat atau priyayi dan wong cilik. Pengahayatan raja sebagai titisan dewa dan adanya pengkelasan sosial secara tajam ini berakibat pada sulitnya atau tiadanya perbedaan pendapat antara raja dengan rakyatnya termasuk dalam persoalan agama. Keraton dalam kebudayaan Jawa adalah pemegang otoritas kebenaran. Oleh karena itu sifat dari kebudayaan Jawa adalah kebudayaan keraton di mana keraton berfungsi sebagai titik sentral agama, politik dan kebudayaan.

Pada masyarakat Sunda, pola seperti ini tidak ditemukan. Corak budaya yang berkembang adalah kebudayaan rakyat di mana posisi keraton tidak terlalu menentukan dalam pembentukan suatu varitas budaya. Jenis kebudayaan yang berkembang pada masyarakat Sunda didominasi oleh kebudayaan agraris dengan berbagai keunikannya. Dengan kata lain, kebudayaan Jawa dapat didefinisikan sebagai kebudayaan feodal yang hirarkis sementara kebudayaan Sunda dapat dianggap sebagai kebudayaan rakyat yang egaliter yang mencerminkan pada kesamaan derajat antar manusia. Salah satu buktinya adalah bahasa Sunda Buhun yang demokratis masa pra-Mataram dimana tidak hierarki bahasa seperti terlihat dalam undak-usuk sekarang. Istilah menak dan cacah juga dalam masyarakat Sunda ditemukan sebagai bentuk pengaruh kekuasaan dan kebudayaan Jawa di tatar Priangan sejak masa kekuasaan Mataram.

Contoh lain yang dapat diajukan dalam mempertegas pendapat ini adalah dalam seni pewayangan atau pedalangan. Pada masyarakat Jawa, lakon cerita wayang merupakan sumber ilham dalam memahami fungsi-fungsi sosial mereka dalam hidup berbangsa dan berbudaya. Epos Mahabarata dan Ramayana menjadi sumber pendidikan etis yang menghasilkan prilaku-prilaku yang kastaistis seperti kemunculan slogan ningrat dan wong cilik tadi.

Pada masyarakat Sunda, seni pewayangan atau pedalangan yang memainkan dua epos besar tadi hanya merupakan media hiburan pelepas lelah dalam aktifitas agrarisnya sehari-hari. Orang Sunda tidak menjadikan lakon cerita wayang sebagai sabda suci yang mesti diteladani. Mereka telah memiliki etika agraris yang sangat kuat yang tidak bisa digantikan dengan etika Hindu-Budha yang sangat rumit dengan nilai-nilai filosofisnya. Sifat egalitarian masyarakat agraris dan kepercayaan monoteistik orang Sunda yang sudah lama berakar kuat ini justru menjadi bekal penerimaan orang Sunda terhadap ajaran agama baru yang sesuai dengan kultur dan kepercayaan mereka yaitu Islam. Ketika Islam datang ke tatar Sunda dan mulai berinteraksi dengan masyarakatnya, spontan mendapat sambutan yang sangat luar biasa, terutama dari kalangan rakyat biasa. Walau tidak dapat dipungkiri bahwa orang Sunda merupakan kelompok yang paling akhir menerima Islam di seputar tanah Jawa, ini bukan berarti sifat konfrontatifnya terhadap Islam, melainkan karena sosialisasi Islam yang agak terlambat ke wilayah ini.

Gabungan fenomena di atas yaitu egalitarianisme masyarakat Sunda, komunikasi yang sejajar (demokratis) antara raja dan rakyatnya serta dikuatkan oleh pengaruh Islam yang luas setelahnya menjadi alasan sosial tidak ditemukannya banyak Candi di tatar Sunda. Egalitarianisme nilai-nilai masyarakat dan demokratisnya pola komunikasi penguasa rakyat berpengaruh pada cara raja dan rakyatnya memandang kekuasaan dan cara memandang dirinya masing-masing. Raja tidak perlu memisahkan dirinya dalam sebuah bangunan yang eksklusif dan kokoh jauh dari rakyatnya.

Sebagaimana keraton berfungsi sebagai simbol pemisahan yang jelas antara kompleks kekuasaan raja dengan rakyatnya, candi juga dibangun sebagai simbol penegasan yang jelas antara raja dan rakyatnya dan lebih merupakan sarana eksklusif para raja melakukan ritus sesembahan dan pemujaan. Di tatar Sunda yang egaliter dan kedekatannya dengan alam sebagai masyarakat agraris menyebabkan fokus sesembahan dan penghormatan lebih langsung kepada alam dan ke sanghyang ketimbang kepada para raja.

Hanya Satu Kerajaan

DI NUSANTARA, fungsi candi bukan hanya sebagai tempat beribadah para raja semata, tetapi juga berfungsi sebagai monumen sebuah dinasti yang berkuasa. Pertarungan politik dan adu gengsi kekuasaan antar kerajaan telah menghasilkan candi-candi megah di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Wangsa Syailendra dengan Candi Borobudurnya dan Wangsa Sanjaya dengan Candi Prambanannya. Pergantian kekuasaan kerajaan, baik melalui suksesi formal maupun melalui perebutan kekuasaan selalu diiringi dengan pembangunan candi megah sebagai monumen kekuasaannya. Ketika hari ini kita menyaksikan banyaknya candi-candi besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, maka kita dapat menduga selain sebagai simbol majunya sebuah kerajaan, betapa banyaknya pula konflik dan persaingan politik yang terjadi di Jawa pada zaman itu.

Fungsi candi sebagai monumen kekuasaan sebuah kerajaan seperti ini tidak terjadi di tatar Sunda karena kerajaan yang berkuasa di tatar Sunda hanya satu yaitu Kerajaan Sunda, cuma pusat pemerintahannya saja yang berpindah-pindah sejak dari Galuh (Ciamis), pindah ke Pakuan Padjadjaran (Bogor), pindah lagi ke Kawali (Ciamis) dan kemudian pindah ke Pakuan lagi (Sartono Kartodirdjo, 1977). Dengan kata lain, kekuasaan raja di Sunda itu tersentralisir dan kemungkinan keratonnya pun hanya satu. Tetapi -paling tidak hingga saat ini- keratonnya pun belum ditemukan berada di kota mana dari tempat yang berpindah-pindah itu. Candi yang sudah ditemukan pun, seperti candi Cangkuang di Garut, selain proses rekonstruksinya masih kontroversial, juga belum merepresentasikan sebagai bekas peninggalan kekuasaan kerajaan Sunda. Kekuasaan yang tunggal yaitu kerajaan Sunda adalah alasan kuat yang mendukung alasan-alasan lain yang sudah dikemukakan tentang tidak banyaknya candi di tatar Priangan.

Dengan demikian, kelangkaan candi di sebuah kawasan tidak selalu mengkespresikan tingkat peradaban. Candi hanyalah salah satu bangunan monumental yang dibangun oleh sebuah dinasti kerajaan untuk kebutuhan prestise sesembahan keluarga raja, selain sebagai simbol kekuasaan. Kerajaan Sunda adalah kerajaan kuat yang terbukti ketika kerajaan Madjapahit berada dipuncak kekuasaannya, kerajaan Sunda tidak pernah takluk di bawah pengaruhnya. Dengan demikian, pendirian candi dalam sebuah wilayah kekuasaan lebih berhubungan langsung dengan pola kekuasaan, konsep teologis dan tradisi politik yang berkembang. Tampaknya, sesuai dengan kecenderungan kuat konsep teologisnya yang monoteistik, tradisi pola komunikasi yang demokratis antara penguasa dan rakyatnya serta kekuasaan Sunda yang terpusat dan tunggal, kelangkaan dan bahkan ketiadaan candi di Tatar Sunda memang sudah semestinya. Inilah kekhasan lokal dan kekayaan tradisi kekuasaan di Sunda. Masyarakat Sunda perlu membuang semacam “ratapan historis” kelangkaan candi di Jawa Barat sebagai sebuah indikasi rendahnya peradaban dan sebaliknya banyaknya candi sebagai indikasi prestasi peradaban. Persepsi ini justru sebuah sikap “minder kebudayaan” (cultural inferiority complex) dihadapan kebudayaan lain, sementara kebudayaan Sunda memiliki sistem sosial kebudayaan sendiri yang sesungguhnya lebih berorientasi nilai-nilai, relijiusitas dan hal-hal lain yang bersifat abstrak.Wallahu a’lam!!

 Oleh MOEFLICH HASBULLAH

Dosen pada Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam (SPI)UIN Sunan Gunung Djati Bandung. 

SOURCE: http://www.sunangunungdjati.com/blog/?p=9055
http://www.kalangsunda.net/apps/forums/topics/show/7159194-mengapa-di-tatar-sunda-sangat-langka-ditemukan-candi-candi-
http://www.facebook.com/groups/atlantisindonesia/doc/314192548630665/

Sunday, July 15, 2012

Jawaban tentang Atlantis dan Lemuria dari Indonesia

Inilah Jawaban soal Atlantis dan Lemuria dari Indonesia

Setelah berkonsultasi dengan “pakar” soal Atlantis dari Indonesia,  saya dapat jawaban sebagai berikut: “Ada banyak versi tentang Atlantis, Edgar Cayce bilang bahwa Lemuria itu nama benuanya, dan Atlantis itu nama negaranya (diperkirakan eksis 24.000 – 10.000 SM.)

bharatayudha Negara Atlantis itu terbagi dalam beberapa daerah atau pulau atau kalau sekarang istilahnya mungkin provinsi atau negara bagian. Daerah kekuasaan Atlantis terbentang dari sebelah barat Amerika sekarang sampai ke Indonesia. Atlantis menurut para ahli terkena bencana alam besar paling sedikit 3 kali sehingga menenggelamkan negara itu.

Jadi, kemungkinan besar Atlantis itu tenggelam tidak sekaligus, tetapi perlahan-lahan, dan terakhir yang meluluh lantakkan negara itu terjadi sekitar tahun 10.000 SM. Pada masa itu es di kutub mencair dan menenggelamkan negara itu. Terjadi banjir besar yang dahsyat, dan penduduk Atlantis pun mengungsi ke dataran-dataran yang lebih tinggi yang tidak tenggelam oleh bencana tersebut. Itulah sebabnya di beberapa kebudayaan mulai dari timur sampai barat, terdapat mitos-mitos yang sejenis dengan kisah perahu Nabi Nuh.

Kemungkinan besar karena memang mereka berasal dari satu kebudayaan dan tempat yang sama. Mereka mengungsi ke daerah yang sekarang kita kenal dengan Amerika, India, Eropa, Australia, Cina, dan Timur Tengah. Mereka membawa ilmu pengetahuan-teknologi dan kebudayaan Atlantis ke daerah yang baru.”

Di kalangan para Spiritualis, termasuk Madame Blavitszki pendiri Teosofi yang mengklaim bahwa ajarannya berasal dari seorang “bijak” berasal dari benua Lemuria di India, Atlantis ini lebih dikenal dengan nama benuanya, yaitu Lemuria. Di dalam kebudayaan Lemuria, spiritualitasnya didasari oleh sifat feminin, atau mereka lebih memuja para dewi sebagai simbol energi feminin, ketimbang memuja para dewa sebagai simbol energi maskulin.

Hal ini cocok dengan spiritulitas di Indonesia yang pada dasarnya memuja dewi atau energi feminin, seperti Dwi Sri dan Nyi Roro Kidul (di Jawa) atau Bunda Kanduang (di Sumatera Barat, Bunda Kanduang dianggap sebagai simbol dari nilai-nilai moral dan Ketuhanan). Bahkan di Aceh pada masa lalu yang dikenal sebagai Serambi Mekkah pernah dipimpin 4 kali oleh Sultana (raja perempuan) sebelum masuk pengaruh kebudayaan dari Arab Saudi yang sangat maskulin. Sebelum itu di kerajaan Kalingga, di daerah Jawa Barat sekarang, pernah dipimpin oleh Ratu Sima yang terkenal sangat bijak dan adil. Di dalam kebudayaan lain, kita sangat jarang mendengar bahwa penguasa tertinggi (baik spiritual atau politik adalah perempuan), kecuali di daerah yang sekarang disebut sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setelah masa Atlantis (Lemuria) ada 5 ras yang berkuasa, yaitu: kulit kuning, merah, coklat, hitam, dan pucat. Pada masa itu kebudayaan yang menonjol adalah kulit merah, jadi kemungkinan besar kebudayaan Indian/Aztec/Maya juga berasal dari Atlantis. Tetapi, kemudian kebudayaan itu terkebelakang dan selanjutnya kebudayaan kulit hitam/coklat di India yang mulai menguasai dunia. Inilah kemungkinan besar jaman kejayaan yang kemudian dikenal menjadi Epos Ramayana (7000 tahun lalu) dan Epos Mahabarata (5000 tahun lalu). Tetapi, kemudian kebudayaan ini pun hancur setelah terjadi perang Baratayuda yang amat dahsyat itu, kemungkinan perang itu menggunakan teknologi laser dan nuklir (sisa radiasi nuklir di daerah yang diduga sebagai padang Kurusetra sampai saat ini masih bisa dideteksi cukup kuat).

Selanjutnya, kebudayaan itu mulai menyebar ke mesir, mesopotamia (timur tengah), cina, hingga ke masa sekarang. Kemungkinan besar setelah perang Baratayuda yang meluluhlantakkan peradaban di dunia waktu itu, ilmu pengetahuan dan teknologi (baik spiritual maupun material) tak lagi disebarkan secara luas, tetapi tersimpan hanya pada sebagian kecil kelompok esoteris yang ada di Mesir, India Selatan, Tibet, Cina, Indonesia (khususnya Jawa) dan Yahudi. Ilmu Rahasia ini sering disebut sebagai “Alkimia”, yaitu ilmu yang bisa mengubah tembaga menjadi emas (ini hanyalah simbol yang hendak mengungkapkan betapa berharganya ilmu ini, namun juga sangat berbahaya jika manusia tidak mengimbanginya dengan kebijakan spiritual)

Kelompok-kelompok Esoteris ini mulai menyadari bahwa mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi saja, tanpa mengembangkan kebajikan spiritual, akan sangat berbahaya bagi peradaban dunia. Itulah sebabnya kelompok-kelompok Esoteris ini memulai kerjanya dengan mengembangkan ilmu spiritual seperti tantra, yoga, dan meditasi (tentu saja dengan berbagai versi) untuk meningkatkan Kesadaran dan menumbuhkan Kasih dalam diri manusia. Ajaran-ajaran spiritual inilah yang kemudian menjadi dasar dari berbagai agama di dunia. Sedangkan ilmu pengetahuan dan teknologi disimpan dahulu dan hanya diajarkan kepada orang-orang yang dianggap telah mampu mengembangkan Kesadaran dan Kasih dalam dirinya.

Tetapi, manusia memang mahluk paling ironik dari berbagai spesies yang ada di bumi. Berabad kemudian, ilmu spiritual ini justru berkembang menjadi agama formal yang bahkan menjadi kekuatan politik. Agama justru berkembang menjadi pusat konflik dan pertikaian di mana- mana. Sungguh ironik, ilmu yang tadinya dimaksudkan untuk mencegah konflik, justru menjadi pusat konflik selama berabad-abad. Tapi, itu bukan salah dari agama, tetapi para pengikut ajaran agama itulah yang tidak siap untuk memasuki inti agama: spiritualitas.

Pada masa abad pertengahan di Eropa, masa Aufklarung dan Renaissance, kelompok-kelompok Esoteris ini mulai bergerak lagi. Kali ini mereka mulai menggunakan media yang satunya lagi — ilmu pengetahuan dan teknologi — untuk mengantisipasi perkembangan agama yang sudah cenderung menjadi alat politis dan sumber konflik antar bangsa dan peradaban. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang selama ini disimpan mulai diajarkan secara lebih luas. Kita mengenal tokoh-tokoh seperti Leonardo Da Vinci, Dante Alegheri, Copernicus, Galio Galilae, Bruno, Leibniz, Honore de Balzac, Descartes, Charles Darwin bahkan sampai ke Albert Einstein T.S. Elliot, dan Carl Gustave Jung adalah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni modern yang berhubungan — kalau tidak bisa dikatakan dididik — oleh kelompok-kelompok Esoteris ini.

Tetapi, sejarah ironik kembali berkembang, kebudayaan dunia saat ini menjadi sangat materialistis. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang seharusnya digunakan untuk “menyamankan” kehidupan sehari-hari manusia, sehingga manusia punya lebih banyak waktu untuk mengembangkan potensi spiritualitas di dalam dirinya, justru menjadi sumber pertikaian dan alat politik. Konflik terjadi di mana-mana. Ribuan senjata nuklir yang kekuatannya 1000 kali lebih kuat dari bom yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945, kini ada di bumi, dan dalam hitungan detik siap meluluhlantakkan spesies di bumi.

Belum lagi eksploitasi secara membabi buta terhadap alam yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan pemanasan global di mana-mana. Menurut para ahli, hutan di bumi saat ini dalam jangka seratus tahun telah berkurang secara drastis tinggal 15%. Ini punya dampak pada peningkatan efek rumah kaca yang menimbulkan pemanasan global, diperkirakan kalau manusia tidak secara bijak bertindak mengatasi kerusakan lingkungan ini, maka 30 sampai 50 tahun lagi, sebagian besar kota-kota di dunia akan tenggelam, termasuk New York City, Tokyo, Rio De Jenero, dan Jakarta. Dan sejarah tenggelamnya negeri Atlantis akan terulang kembali.

Jaman ini adalah jaman penentuan bagi kebudayaan “Lemuria” atau “Atlantis” yang ada di bumi. Pada saat ini dua akar konflik, yaitu “agama” dan “materialisme” telah bersekutu dan saling memanfaatkan satu sama lain serta menyebarkan konflik di muka bumi. Agama menjadi cenderung dogmatik, formalistik, fanatik, dan anti-human persis seperti perkembangan agama di Eropa dan timur tengah sebelum masa Aufklarung. Esensi agama, yaitu spiritualitas yang bertujuan untuk mengembangkan Kesadaran dan Kasih dalam diri manusia, malah dihujat sebagai ajaran sesat, bid’ah, syirik, dll. Agama justru bersekutu kembali dengan pusat-pusat kekuasaan politik, terbukti pada saat ini begitu banyak “partai-partai agama” yang berkuasa di berbagai negara, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Di sisi lain perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan pada paham materialisme juga sudah terlanjur menguasai dunia. Persekutuan antara kaum agama dan materialisme, atau “agama-materialistik” ini mulai menggejala di mana-mana, berwujud dalam bentuk-bentuk teror yang mengancam dunia.

Sudah saatnya, para spiritualis di “Lemuria” mulai bersatu kembali. Segala pertikaian remeh temeh tentang materialisme-spiritualistik atau spiritualisme-materialistik harus diselesaikan sekarang. Tugas yang sangat penting tengah menanti, bukan tugas prophetik, tetapi tugas yang benar-benar menyangkut keberlangsungan eksisteksi seluruh spesies di “Lemuria”, di bumi yang amat indah ini. Tugas ini tidak bisa dikerjakan oleh satu dua orang Buddha atau Nabi atau Wali atau Resi atau Avatar seperti pada masa lalu. Tetapi, seluruh “manusia-biasa” juga harus terlibat di dalam tugas ini.

Jika hipotesis Prof. Santos memang benar, bahwa Atlantis pada masa lalu itu berada di Indonesia, maka hal itu berarti kita yang tinggal di sini punya tugas (karma) yang penting. Ini bukan suatu kebetulan. Kita yang tinggal di Indonesia harus bangkit kembali, bangkit Kesadarannya, bangkit Kasihnya, bangkit Sains dan Teknologinya untuk mengubah jalannya sejarah Lemuria yang selama ini sudah salah arah. Kejayaan masa lalu bukan hanya untuk dikenang, atau dibanggakan, tetapi harus menjadi “energi-penggerak” kita untuk mengambil tanggung jawab dan tugas demi kejayaan Indonesia dan keberlanjutan peradaban Lemuria beserta seluruh spesies yang ada di bumi ini. Seperti kata Bapak Anand Krishna, dalam bukunya yang bertajuk Indonesia Jaya, “Masa depanmu jauh lebih indah dan jaya daripada masa lalumu, wahai putra-putri Indonesia!”

SOURCE: http://www.facebook.com/groups/atlantisindonesia/doc/312584218791498/

Friday, July 13, 2012

Beda Pikiran Orang Indonesia & Barat,Orang Indonesia ternyata???

Ini bukan jokes.sodara2,ini juga bukan sindirantetapi ini sebuah realita yang bisa dilihat sehari-hari,kita bisa telaah dan amati di tivi.analisa ini tidak akan meleset,karena analisaini didapat setelah bertapa 7 hari,7 malam dan inilah hasilnya, Dari perhitungan konversi huruf2 silahkan disimak     Bagi yg pernah baca dan belajar 7 habit :     Jika, nilai huruf-huruf ini kita anggap sbb:  
- A - B - C - D - E - F - G - H - I -  J -  K   - L  - M      
1 -  2-  3 - 4 -5 - 6 - 7 -  8 - 9-  10-  11-  12 - 13      
- N -  O - P - Q  - R - S - T-   U - V  - W  - X  - Y - Z      
14 - 15- 16- 17- 18 - 19 - 20-  21- 22-  23 -24 - 25-  26        
Hitung bareng bareng:  Bahasa Inggris (dipercaya oleh orang Amerika )  
Kalau kita bekerja dengan modal angka tersebut dibawah,maka hasilnya adalah...     
- H - A - R - D - W - O - R - K ( kerjakeras )      
8   1  18    4   23  15  18 11 = 98% Only      
- K - N - O - W - L - E - D - G - E ( pengetahuan )     
11 14 15  23 12   5    4    7    5 = 96% Only      
- L - O - B - B - Y - I - N - G ( pendekatan )     
12 15  2    2   25  9 14   7 = 86% Only     
 - L - U - C - K ( keberuntungan )     
12  21  3   11 = 47% Only      
Ternyata ... semua nilai dari usaha-usaha kita diatas nggak bisa  mengalahkan yang satu ini:     
- A - T - T - I - T - U - D - E ( sikap/tingkah laku )      
1   20 20 9  20  21   4   5 = 100%           
tapi ini rumus yang berlaku di luar negeri   he..he..he.. .        
 Di Indonesia, itung-itungannya menjadi begini:      
G - I - G - I - H (HARDWORK)    
7    9   7   9    8 = 40% Saja      
I - L - M - U (Knowledge)    
9 12  13   21 = 55% Saja     
 L - O - B - I (Lobbying)   
12 15   2    9 = 38% Saja     
M - U - J - U - R (Luck)   
13  21 10  21 18 = 83% Saja     
S - I - K - A - P (Attitude)   
19  9  11   1  16 = 46% Saja     
K - O - R - U - P - S - I   11 15   18  21 16 19  9 = 109 %     
Ternyata yg ditekuni orang-orang INDONESIA yaitu  "KORUPSI" mempunyai kadar mencapai keberhasilan 109%.   
Lebih baik dr "ATTITUDE"- nya ORANG BARAT yg hanya 100%.

Jadi bagaimana menurut Anda?Apakah ini benar?ini bukan jokes.bukan candabukan sulap ,bukan sihir..

Wednesday, July 11, 2012

PILKADAL DKI JAKARTA





Pilkada

Pilkada adalah singkatan dari Pemilihan Kepala Daerah. Pada beberapa kesempatan yang bersifat informal, terkadang diplesetkan menjadi Pilkadal karena orang-orang yang dipilih bisa jadi berhati kadal. Kata yang ngomong sih, karena siapapun yang terpilih, toh kita-kita juga yang bakal dikadali. Tentunya pemikiran seperti ini adalah pemikiran yang negatif dan kurang baik untuk ditiru.


Manfaat Pilkada

Dengan adanya pilkada, ada banyak manfaat yang dapat dipetik masyarakat di antaranya:
  1. Dapat duit, sembako, bahkan HP gratis
    Terjadi bila ada calon yang gemar 'money politic' melalui serangan fajar.
  2. Menciptakan lapangan pekerjaan baru sebagai juru kampanye, tukang cetak sablon dan tukang jual suara.
  3. Buat orang susah bisa dapat tambahan t-shirt keren, buat orang berada bisa nambah kain buat lap meja.
  4. Dapat hiburan gratis
    Khususnya saat menonton acara 'debat' di TV.

Siapa Aja Yang Bisa Ikut Pilkada ?

  • Orang parpol, mau orang Jakarta kek, mau orang Papua kek, yang penting diberi ijin ama yang punya parpol bisa ikutan pilkada di daerah lain.
  • Artis, mau pelawak kek, artis panas kek, penyanyi kek, bisa ikutan, asal... cukup jadi wakil, titik !
  • Tentara, tentu saja boleh, sapa yang berani nolak orang yang bawa bedil? umumnya bekas tentara yang haus darah kekuasaan, biasa merintah orang jadi saat pensiun tapi masih mau merintah orang lagi.
  • Anggota DPR, mungkin inilah namanya korupsi jabatan, udah jelas-jelas dipilih rakyat untuk jadi anggota DPR eh masih aja mau ikutan lagi pemilihan. ah Indonesia gitu lho mana sempat merhatiin soal begituan?
  • Orang ahli, ahli apa saja, mulai ahli ngatasin banjir (katanya), sampe ahli korupsi, ahli nipu rakyat, ahli gusurin rumah orang juga bisa ikutan

Contreng atau Coblos?

Setelah mencoblos dinilai tidak kadalwi karena para calon kadal tidak rela fotonya ditusuk seperti orang sedang mainan voodoo, padahal modalnya cuma paku. Sistem contreng lalu diperkenalkan, lengkap dengan pulpen, tapi ternyata fotonya para calon kadal pada dicoreti gambar mesum, dan pulpennya pada dimaling. Akhirnya untuk pilkadal selanjutnya kertas suara akan diganti menjadi bahan stainless steel lengkap dengan alat las karbit juga kacamata las.

##################################################
yang pertama adalah Pilkadal, kenapa saya menyebutnya demikian?
karena pilkadal adalah sistem democrazy yang mencaplok mentah-mentah dari sistem democrazy amerika?
hanya namanya saja yang democrazy pancasila, nyatanya mekanismenya dan sistemnya betul-betul menelan mentah-mentah democrazy amerika, padahal di amerika saja partai hanya ada 2 (apakah jumlah partai yang hanya 2 ini disebut democrazy)? apakah sistem tersebut salah?
kalau menurut saya salah kaprah, karena budaya bangsa Indonesia bukanlah democrazy, melainkan MUSYAWARAH UNTUK MUFAKAT (sesuai dengan sila ke-4 PANCASILA) dan hal tersebut sudah dicanangkan oleh founding father kita yaitu Ir. Soekarno.
sudah selayaknya democrazy dikembalikan ke sistem yang cocok dengan budaya kita yaitu MUSYAWARAH UNTUK MUFAKAT.

yang kedua dapatkah Jakarta BERUBAH?
kalau menurut cagub yang juga walikota solo yaitu jokowi:
Calon gubernur DKI Jakarta Joko Widodo tergolong pribadi yang praktis. Jangan berharap ia berteori secara bertele-tele. Semua persoalan dan pertanyaan dijawab lugas, to the point, langsung pada intinya.
Hal yang sama terlihat pada cara berkampanye mantan importir mebel itu. Dua pekan masa kampanye telah dilalui Jokowi dengan lebih banyak meluangkan waktu untuk menyalami warga.
Saat diberi kesempatan berbicara, Jokowi akan berbicara paling ringkas, padat, dan jelas tentang programnya dibandingkan memanfaatkan momen serupa untuk berorasi.
Dua jenis kartu program seolah-olah selalu tersedia di sakunya ke mana pun ia pergi. Dua kartu itu pula yang akan diancungkannya bergantian sambil menjelaskan programnya secara ringkas kepada warga.
Yang satu ia namakan Kartu Jakarta Sehat dan yang lainnya Kartu Jakarta Pintar. Yang satunya, kartu untuk program kesehatan dan yang lainnya adalah kartu untuk program pendidikan.
Kedua kartu itulah yang tanpa bosan ditunjukkan kepada warga baik yang ditemui di gang-gang sempit Ibu Kota, di pinggiran kali, maupun yang memenuhi ruang pertemuan mewah.
Saat berkampanye di wilayah Jalan Damai, Cipete Utara, Jakarta Selatan, Jumat (6/7/2012), Wali Kota Solo itu kembali meringkaskan programnya dengan uraian mengenai Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar.
"Saya mau memperkenalkan apa yang menjadi program saya. Ada dua kartu yang saya pegang, Kartu Sehat dan Kartu Jakarta pintar. Warga yang mendapatkan dua kartu ini, semuanya akan gratis," kata Jokowi.
Kartu Jakarta Sehat adalah program khusus untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada warga. Semua warga dapat berobat gratis untuk berbagai penyakit, termasuk untuk terapi berbiaya mahal seperti kemoterapi dan cuci darah. Ia menjamin warga pemegang kartu tersebut tidak akan kerepotan mendapatkan layanan kesehatan. Prosesnya pun dijamin mudah dan efisien.
"Tidak seperti SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu), yang harus ngurus ke sana ke mari dan prosesnya panjang," ujar Jokowi meyakinkan.
Ia juga menegaskan, warga kurang mampu tidak akan mendapat penolakan. Pasalnya, ia telah membangun sistem yang efisien untuk memudahkan warga.
"Kalau rumah sakitnya menolak (pasien), kalau rumah sakit negeri, kepalanya, direkturnya yang akan bertanggung jawab. Kalau rumah sakit swasta, awas, izinnya bisa dipersulit," tegas Jokowi.
Sementara itu, Kartu Jakarta Pintar akan diberikan kepada pelajar dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas (SMA). Kartu tersebut akan memungkinkan para pelajar mendapatkan pendidikan gratis, SPP maupun uang masuk sekolah. Khusus untuk pemegang jenis kartu Platinum, berbagai jenis kebutuhan sekolah lainnya ikut ditanggung pemerintah.
"Kalau anak-anak yang dapat kartu Jakarta Pintar jenis Platinum, selain mendapat biaya pendidikan gratis, dia juga mendapat seragam sekolah, sepatu, dan perlengkapan alat sekolah. Semua diberikan gratis," terangnya.
Pasangan Basuki Tjahaja Purnama itu juga mengutarakan bahwa program tersebut sudah berjalan selama lebih dari enam tahun di Solo. Dari perbaikan yang terus dilakukan selama secara terus-menerus, saat ini program tersebut berjalan lancar tanpa kendala.
"Jadi ndak usah dipertanyakan lagi. Ini sudah jalan kok, dan lancar," sambung Jokowi.
Ia memastikan program Jakarta Sehat dapat berjalan di Jakarta. Alasannya, program di Solo dapat berjalan dengan dana yang relatif lebih kecil. "Sudah saya hitung-hitung, setahun rata-rata cuma 19 milyar (rupiah). DKI punya 800 milyar untuk lima wali kota dan satu wilayah administratif. Itu sudah sangat cukup, bahkan berlebihan," kata Jokowi.
Atas dasar itu, Jokowi mengaku heran dengan belum terlayaninya banyak warga kurang mampu di Jakarta dengan anggaran sebesar itu. Menurut Jokowi, penyebabnya adalah kelemahan pada sisi manajemen. Sebelum sistem disiapkan secara matang, anggaran dalam jumlah besar telah digelontorkan.
"Akhirnya uangnya ndak jelas ke mana-mana. Itu karena caranya, sistemnya ndak jelas, sedangkan uangnya sudah mengalir. Hasilnya, ya begini ini. Kalau saya, siapkan sistem dulu. Anggaran menyusul dan sudah tahu mau digunakan untuk apa," ulas Jokowi.
Hal sama akan diterapkannya dengan anggaran pendidikan DKI yang mencapai Rp 1,4 triliun. Dengan sistem yang telah terbangun, ia yakin alokasi anggaran akan berjalan efisien dan efektif.
Dengan dua program yang sudah terukur dan teruji itu, paparan Jokowi tidak terlihat muluk-muluk. Ia dapat menjelaskan programnya secara gamblang, layaknya seorang praktisi yang paham jalan keluar dari suatu persoalan. Akankah keduanya akan menjadi kartu truf Jokowi untuk mengantar dia menjadi Gubernur DKI Jakarta? Layak ditunggu.


kalau menurut saya Jakarta butuh satu kartu lagi untuk mendampingi Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar, yaitu Kartu Jakarta Sadar.
apa sih Kartu Jakarta Sadar Itu?
Kartu Jakarta Sadar adalah kartu lisensi bahwa warga tersebut dalam kondisi sadar.
Sadar menurut  http://kamusbahasaindonesia.org adalah:

sadar     sa.dar
[a] insaf; merasa; tahu dan mengerti: kita harus -- bahwa hidup ini penuh perjuangan; (2) v ingat kembali (dr pingsan dsb); siuman: orang yg pingsan tadi kini sudah --; (3) v bangun (dr tidur): tengah malam dia -- dr tidurnya krn bermimpi buruk

[Ar n] (1) dada; bagian depan; (2) permulaan; pendahuluan

Jadi Kartu Sadar Merupakan kartu yang menunjukkan bahwa orang tersebut sadar akan lingkungan sekitarnya, Sadar etika berlalu-lintas, Sadar akan orang lain disekitarnya, Sadar akan Jakarta, Sadar akan kondisi lingkungannya, dan secara Sadar melakukan perbaikan dan kontribusi demi kemajuan lingkungan sekitarnya termasuk dalam hal ini adalah kota Jakarta.
Kenapa kartu tersebut dibutuhkan?
Karena kebanyakan warga Jakarta sekarang dalam kondisi kurang waras atau tidak sadar atau gila, Jakarta hanya dianggap sebagai tempat mencari uang dan mereka tidak peduli akan lingkungan sekitarnya, dan bahkan yang paling ironis adalah mereka yang datang ke Jakarta hanya untuk merusak Jakarta, mereka masa bodoh jika Jakarta menjadi rusak. 
Kartu Sadar ini nantinya berfungsi untuk mendongkrak moral warga Jakarta yang sudah kita ketahui banyak yang bobrok, kartu ini juga berfungsi agar masyarakat ikut proaktif dalam pembangunan, kebersihan, ketertiban, kenyamanan dan keamanan Jakarta. Rasanya percuma jika kita hanya menharapkan peran pemerintah dalam merubah kota Jakarta tetapi tidak didukung peran serta masyarakatnya itu sendiri, jika tidak didukung masyarakatnya perubahan Jakarta akan sangat kecil sekali.
Mungkin nantinya Kartu Sadar ini dapat digunakan untuk mempermudah (meringankan) segala urusan bagi pemegang kartu sadar tersebut, misalnya dalam pengurusan birokrasi di pemerintahan, mengurus tilang, mengurus perkara hukum. Jadi ada timbal balik pemerintah Jakarta ke si pemegang kartu tersebut karena si pemegang kartu tersebut sudah dianggap berkontribusi dalam kemajuan Jakarta.
Siapapun yang menjadi Gubernur periode selanjutnya saya doakan agar membawa angin perbaikan di segala aspek di Jakarta, amin.


##################################################
Janji-Janji


  • Alex Noerdin - Nono Sampono
Mengatasi kemacetan
  • Perbaikan angkutan umum. Pada tahun 2002, kendaraan umum di Jakarta mencapai 52 persen dari total kendaraan di Ibu Kota. Pada tahun 2010, berkurang sampai hanya 17 persen.Faktornya karena kendaraan umum itu kotor, tidak menjangkau banyak wilayah, dan tidak memberikan rasa aman. Oleh karena itu, perlu perbaikan angkutan umum secara menyeluruh.
  • Pendistribusian penjualan kendaraan pribadi. Produksi mobil tiap tahun tidak bisa dihentikan karena akan mengganggu pendapatan negara. Maka dari itu, penjualan mobil perlu dibuat merata atau disebarkan ke daerah atau mulai mengambil langkah ekspor ke luar negeri. Dengan demikian, penjualan mobil tidak akan terfokus di Jakarta yang sudah tidak memiliki daya tampung akan mobil-mobil baru.
  • Melanjutkan kembali pembangunan monorail, koridor busway, dan Mass Rapid Transit (MRT). Pembangunan monorail dinilai perlu dilakukan kembali karena tiang-tiang monorail yang sebenarnya sudah siap dipakai akan sia-sia jika dibiarkan begitu saja. Sedangkan pembengunan koridor busway dinilai perlu dipercepat. Pada masa pemerintahan Gubernur Sutiyoso, ada 15 koridor busway yang berhasil dibangun. Sedangkan pada masa pemerintahan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo atau Foke hanya bisa membangun 1 koridor busway.
  • Membantu peningkatan daya angkut kereta api dengan cara pengurangan tanah sebidang. Selama ini yang menjadi persoalan peningkatan kapasita kereta api adalah adanya 94 titik tanah sebidang yang tersebar di Jakarta. Oleh karena itu, untuk membuat peningkatan kapasitas kereta api tanpa hambatan, perlu dibangun Flyover atau underpass sehingga tidak perlu menutupi jalan yang dilintasinya.
  • Integrasi moda transportasi yang memudahkan masyarakat serta pemanfaatan park and ride untuk mengurangi lalu lintas kendaraan pribadi dari perbatasan wilayah Jakarta masuk ke Ibu Kota.
Mengatasi banjir
  • Penyebab banjir ada di hulu sampai hilir. Maka dari itu, Jakarta itu tidak bisa sendirian dalam mengatasi banjir. Daerah hulu harus juga buat resapan sehingga kalau hujantidak akan langsung melimpah.
  • Pembuatan sumur resapan. Tiap gedung di Jakarta harus ada sumur resapannya sesuai koefisien bangunan atau ada biopori. Demikian pula dengan rumah-rumah yang perlu menyediakan lahan untuk sumur biopori.
  • Penambahan ruang terbuka hijau (RTH)
Mengatasi masalah polusi udara
  • Penyebab polusi udara terbesar di Jakarta adalah karena asap buangan dari kendaraan umum yang tidak terawat. Oleh karena itu, perlu memaksimalkan pengecekan kelaikan kendaraan umum melalui uji KIR. Uji KIR selama ini dinilai tidak tegas sehingga banyak kendaraan umum yang lolos uji KIR meski sebenarnya tidak laik jalan.
  • Mendorong masyarakat pengguna kendaraan pribadi untuk beralih ke kendaraan umum sehingga mengurangi gas buang kendaraan.
  • Kendaraan pribadi perlu menjalani uji emisi secara berkala.

##################################################
  • Faisal Basri - Biem
Mengatasi kemacetan di Jakarta
I.   Otoritas transportasi jakarta (busway dan commuter line) sudah berjalan dengan penerapan-penerapan layanan yang terintegrasi:
  1. Penerapan 1 tiket untuk penggunaan seluruh transportasi transportasi massal yang disediakan.
  2. Pusat pengelolaan operasional yang terpusat dan terintegrasi yang melibatkan juga PT. Commuter dan TransJakarta.
  3. Transportasi massal yang disediakan memiliki armada dan ketepatan jadwal yang akurat.
  4. Angkutan umum kecil hanya beroperasi di daerah pemukiman, berfungsi sebagai Feeder ke lokasi-lokasi pemberhentian transportasi massal (halte atau stasiun) dan terintegrasi dalam otoritas transportasi jakarta.
  5. Penghentian perijinan kendaraan umum swasta yang tidak masuk dalam rencana trayek dan jalur transportasi umum yang telah ditetapkan.
  6. Pengurangan kendaraan umum yang masa produksi dan kondisi fisiknya sudah tidak memadai/sudah habis dan atau ijin trayeknya sudah habis, agar tidak perlu beroperasi pada trayek/jalur-jalur yang sudah masuk dalam rencana jalur/trayek transportasi massal.
  7. Pembangunan lahan parkir yang memadai pada beberapa titik penting pemberhentian transportasi massal (Busway & Commuterline) di daerah sekeliling Jakarta yang penduduknya cukup banyak memasuki Jakarta.
II.  Konsep dan sistem untuk Traffic Management yang terintegrasi dan menyeluruh dengan capaian:
  1. Penerapan electronic road pricing (ERP) pada titik-titik masuk Jakarta yang frekuensi lalulintasnya cukup tinggi bagi kendaraan pribadi.
  2. Penerapan pajak pemilikan kendaraan pribadi progresif untuk pemilikan ganda kendaraan pribadi.
  3. Pengelolaan pembayaran pajak pemilikan kendaraan pribadi yang terintegrasi, bekerjasama dengan Polda Metro Jaya, menggunakan Kartu Keluarga, bukan hanya Kartu Tanda Penduduk.
  4. Pengoperasian secara konsisten penegakan hukum lalulintas, menggunakan Polisi Pamong Praja dan bekerjasama dengan Polda Metro Jaya.
  5. Mengurangi dan memindahkan titik-titik putaran (U-Turn) di banyak ruas jalan untuk mengurangi antrian kendaraan berputar.
  6. Mewajibkan pusat-pusat perbelanjaan memiliki lokasi pemberhentian kendaraan pribadi maupun kendaraan umum/shuttle yang tidak mengganggu lalulintas/jalan umum.
  7. Petugas keamanan pusat-pusat perbelanjaan dan gedung-gedung perkantoran diwajibkan untuk membantu kelancaran lalulintas di sekitar lokasi mereka.
  8. Memiliki sistem pengaturan lampu pengaturan lalulintas yang kontrolnya terpusat bekerjasama dengan Polda Metro Jaya.
  9. Memasang CCTV di 30 persen wilayah lalu lintas Jakarta, kontrol yang ketat dan penegakan hukum yang konsisten atas pelanggaran yang dilakukan oleh pengendara kendaraan pribadi.
  10. Membuka kembali 30 persen lajur jalan yang digunakan oleh pedagang kaki lima dengan merelokasi mereka ke pasar-pasar, yang akan direvitalisasi dengan perluasan los-los untuk mereka di lokasi-lokasi pasar dan los-los di lokasi-lokasi yang akan dibangun pedestrian terpusat (area bebas dari kendaraan), seperti kemungkinan di Jalan Jaksa, Jalan Sabang, Jalan Cikini Raya, Jalan Surabaya dan beberapa tempat lain.
Mengatasi banjir, termasuk rob di Jakarta Utara
I.   Pengelolaan Air dan Perawatan Sungai yang efisien dan pengembalian fungsi sebagai sumber pemenuhan kebutuhan air warga kota:
  1. Pembentukan badan pengurusan sungai yang terpadu, bekerja sama dengan Balai Besar Sungai Ciliwung-Cisadane Kemen PU yang akan melakukan proses revitalisasi dan normalisasi 13 aliran sungai yang melewati Jakarta.
  2. Revitalisasi dan normalisasi 13 aliran sungai yang melewati Jakarta sudah selesai di beberapa titik yang kritis.
  3. Kerjasama dengan Pemerintah Daerah Jawa Barat dan Banten, dalam hal pengelolaan aliran sungai sudah berjalan dengan pembagian kerja, tanggung jawab dan wewenang yang sudah dirancang dengan baik.
  4. Ratusan titik-titik penumpukan dan pembuangan sampah di sepanjang aliran sungai akan dihilangkan dengan mengintegrasikan pada pengelolaan sampah berbasis wilayah.
  5. Membangun master plan saluran pembuangan air yang terintegrasi dengan aliran sungai dan mekanisme kontrol serta perawatannya, juga telah terbangun sistemnya terutama di titik-titik kritis.
  6. Pembangunan apartemen/Rumah susun untuk warga akibat relokasi yang mungkin saja harus dilakukan sebagai konsekwensi proses revitalisasi dan normalisasi sungai.
  7. Membangun situ-situ buatan pada beberapa titik kritis sebagai bagian dari proses penyerapan air yang bisa juga bekerjasama dengan Pemerintah Daerah seputar Jakarta.
  8. Pemberian insentif pada warga di wilayah-wilayah yang bermukin di area daerah aliran sungai untuk bisa terus menjaga kebersihan sungainya dan mereplikasi kegiatan-kegiatan warga yang berhasil untuk di terapkan di wilayah lainnya.
  9. Penciptaan ruang-ruang publik dan ruang terbuka hijau di sepanjang aliran sungai ciliwung dan lainnya, dengan tetap menerapkan prinsip kesesuaian dengan situasi dan kondisi wilayah bersangkutan.
II.  Pengelolaan Wilayah muara sungai dan kawasan pantai Jakarta yang terintegrasi:
  1. Menghentikan proses reklamasi pantai yang berlebihan dan mengadakan audit Amdal terhadap wilayah-wilayah hasil reklamasi dan mengantisipasi kemungkinan relokasi warga dan industri yang sudah tidak cocok peruntukannya.
  2. Mendorong pertumbuhan dan memperluas hutan bakau di sekeliling pantai Jakarta sebagai tembok alami.
  3. Mendorong terbangunnya tanggul raksasa (giant sea wall) yang lebih ramah pada habitat laut dan terintegrasi dengan perluasan hutan-hutan bakau di muara-muara sungai dan di beberapa tempat kritis lainnya.
Mengatasi masalah premanisme
Premanisme adalah masalah hukum sekaligus sebagai permasalahan sosial yang sering kali penyebabnya adalah ketidakadilan dan ketiadaan lapangan kerja bagi warga. Di satu sisi, premanisme yang berkaitan dengan masalah hukum, yaitu pelanggaran hokum akibat premanisme ini, tidak lain adaah mendorong aparat hukum untuk tegas melakukan penindakan dan antisipasi tindakan-tindakan premanisme ini, baik premanisme yang dilakukan oleh individu-individu maupun oleh kelompok warga yang mengatasnamakan kelompok tertentu dan organisasi-organisasinya.
Dari sisi permasalahan sosial,  revitalisasi dan restrukturisasi Balai Latihan Kerja di tingkat Kelurahan (bukan lagi di kecamatan) bagi warga yang masuk dalam kategori usia produktif yang akan diarahkan pada program-program yang bisa berfungsi untuk penyediaan lapangan pekerjaan, penyaluran tenaga-tenaga khusus hasil Balai Latihan ini kepada Industri yang ada di Jakarta. Juga dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan positif di masyarakat, khususnya di pemukiman yang padat penduduk, menjadi hal yang krusial untuk menekan premanisme di Jakarta. Penguatan  kembali karang taruna dan inisiatif-inisiatif lain bagi muncul dan aktifnya kembali lembaga-lembaga swadaya warga di tingkat RT/RW dengan insentif-insentif berupa bantuan anggaran kegiatan, fasilitas pendukung dan sebagainya sebagai penguat dan memastikan kegiatan-kegiatan yang berkelanjutan.
Mengatasi masalah menjamurnya mal dan minimarket
        Rencana strategisnya adalah:
  1. Melakukan audit perijinan, amdal, analisis dampak lalulintas, dsb terhadap seluruh mal dan minimarket yang ada di Jakarta.
  2. Menghentikan sementara perijinan pembangunan Mal dan minimarket di Jakarta sampai batas yang akan ditentukan kemudian, hingga diterimanya hasil audit di atas dan di dapatkan rekomendasi-rekomendasi tertentu.
  3. Menerapkan ketegasan terhadap para pengusaha mal dan minimarket untuk mengikuti aturan yang ada yang berkaitan dengan proses pembangunan, jarak lokasi, Amdal, Ruang Terbuka Hijau, Ruang publik, dsb, hingga pada tahap kemungkinan pembongkaran dan relokasi jika tidak dapat dipenuhi aspek-aspek formal ketentuan dalam perijinan.
  4. Redistribusi fungsi-fungsi kota dengan cara melakukan kerjasama menyeluruh dengan daerah-daerah tetangga DKI Jakarta untuk mengembangkan pusat-pusat perbelanjan baru di daerah-daerah tersebut, sehingga proses Moratorium Mal di Jakarta bisa berlangsung terus dan mulai mengembangkan bersama daerah-daerah tetangga Jakarta secara terkendali pertumbuhannya dan menjadikan pemerataan kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi dari Jakarta ke daerah-daerah tetangga.
  5. Mendorong PD Pasar Jaya untuk lebih aktif dan kreatif dalam mengembangkan pasar rakyat agar bisa lebih bersaing dengan mal dan minimarket yang menjamur ke daerah pemukiman.
  6. Mengurangi jumlah minimarket yang sama (merk dagang dan kepemilikannya) dalam 1 lokasi pemukiman yang sama dan mendorong proses revitalisasi pasar rakyat di pemukiman tersebut.
Mengatasi masalah trotoar dan pedestrian
  1. Mengembalikan fungsinya sebagai ruang untuk berjalan kaki bagi warga.
  2. Mendesign sedemikian rupa bentuk pedestrian sehingga bisa menutup akses kendaraan bermotor untuk masuk.
  3. Membuat lebih nyaman dan aman jalur pedestrian dengan memaksimalkan peran Satpol PP di lapangan dan membangun fasilitas-fasilitas untuk kenyamanan, seperti atap dan tempat berteduh dan tempat sampah dengan radius setiap 50 meter.
  4. Memindahkan pedagang kaki lima dari pedestrian ke tempat yang lebih baik, dan tetap strategis bagi mereka namun tidak mengganggu pedestrian bagi pejalan kaki. Hal ini bisa juga dengan mendorong Pasar-pasar di Jakarta untuk lebih memperbanyak los-los dan bukan lagi kios-kios. Los-los ini bisa digunakan untuk menampung pedagang kaki lima di banyak tempat.
  5. Membangun “ruang kali lima” yang manusiawi yang dipadukan dengan konsep pedestrian terpusat (area terlarang kendaraan) yang juga akan dibangun di beberapa wilayah tertentu di Jakarta, seperti di Jalan Jaksa, Jalan Sabang, Jalan Cikini Raya, Jalan Surabaya dan beberapa tempat lain.
Mengatasi masalah transportasi massal, khususnya terkait program busway
Busway ini sebetulnya sangat strategis dan penting, maka itu busway akan tetap diteruskan karena akan menjadi salah satu bagian dari tata kelola transportasi publik yang terintegrasi. Dengan konsep yang terintegrasi ini nantinya akan dimungkinkan pembuatan satu lembaga otoritas pelaksana transportasi public yang terintegrasi ini yang akan melibatkan juga PT Commuter dan PT Transjakarta sebagai stake holders dalam hal penyelenggaraan transportasi publik ini. Pada tataran teknis, ketika lembaga otoritas ini berjalan, maka semua pengguna transportasi publi ini hanya perlu membeli 1 tiket yang murah dan terjangkau (akan ada subsidi khusus untuk ini) untuk semua penggunaan transportasi publik itu pada 1 hari yang sama.
Mengatasi masalah ormas anarkis yang meresahkan warga DKI
Indonesia menjamin hak warga Negara untuk berserikat dan mengeluarkan pendapat, itu bagian dari Hak Azasi yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.Jadi tidak ada alas an untuk melarang keberadaan ormas. Namun jika ormas-ormas tersebut berperilaku yang melanggar hukum, melakukan tindakan-tindakan melawan hukum yang meresahkan warga, maka kita akan mendesak aparat hukum untuk melakukan tindakan tegas menertibkan dan menegakkan hukum tersebut.
Di satu sisi, ormas meresahkan juga sebetulnya berkaitan dengan pertanyaan nomor 3 di atas dan sudah dijawab, sehingga ketika permasalahan ekonomi masyarakat. Penghasilan, peluang dan kesempatan kerja sudah teratasi, maka kemungkinan ormas-ormas anarkis ini mendapatkan anggota pun kecil dan otomatis akan berkurang.
Mengatasi masalah anak putus sekolah di DKI
Angka putus sekolah di Jakarta cukup tinggi sebetulnya dan untuk itu perlu penanganan dan penyikapan yang bijak mengenai hal tersebut, yaitu:
  1. Pelayanan pendidikan gratis hingga tingkat SMA
  2. Menghilangkan “status-status sosial” sekolah negeri yang mengakibatkan ada perbedaan pengelolaan anggaran sekolah dan membentuk “kasta-kasta”.
  3. Memastikan anggaran pendidikan dalam APBD 20 persen dan betul-betul tercapai dalam implementasi serta bisa digunakan untuk program-program yang lebih berpengaruh langsung dengan perbaikan kurikulum dan pola pendidikan, seperti beasiswa massal berkelanjutan untuk mengurangi angka putus sekolah ini serta kegiatan-kegiatan non akademik yang membantu pembentukan Life Skill Education, seperti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler dan pelatihan wirausaha untuk tingkat pendidikan tingkat menengah ke atas.
  4. Mengurangi anggaran pendidikan yang bersifat pengadaan barang dan jasa yang tidak berkaitan dengan perbaikan kurikulum dan pola pendidikan, mengonsolidasikan kurikulum pendidikan berdasarkan pada kurikulum yang tidak hanya terkonsentrasi pada pencapaian akademik, namun juga pencapaian non akademik (life skill education).
Mengatasi masalah museum yang belum mampu menyumbang sektor Pariwisata secara signifikan
Wisata museum sebagai salah satu bentuk ejawantah dari kecintaan dan penghargaan terhadap kesenian dan sejarah peradaban kita, perlu untuk terus dikembangkan dan di perbaiki.Mulai dari infrastruktur, sarana prasarana, hingga fasilitas-fasilitas dan insentif-insentif untuk warga/pengunjung.
  1. Restorasi museum-museum milik Pemerintah dan Warga Jakarta. Misalnya dengan menggandeng 100 orang pengusaha yang ingin menyalurkan sisi filantropinya, tentu dengan dengan insentif. Misalnya mengabadikan namanya sebagai nama museum atau nama ruangan-ruangan di dalam museum, sehingga buat mereka, nama mereka bisa selalu dikenang selama Museum tersebut berdiri.
  2. Kawasan Kota Tua perlu juga di restorasi dan perlahan-lahan dialih fungsikan menjadi cagar budaya yang di jaga ketat kelestariannya. Dijadikan sebagai kawasan seni pertunjukan yang jalan-jalannya tidak boleh di lewati oleh kendaraan pribadi, hanya kendaraan tertentu dan jalan kaki. Di sana akan di sediakan panggung-panggung kecil, agar setiap seniman bisa tampil.
  3. Pembuatan satu otoritas khusus pengelola kawasan Kota Tua, agar pengelolaan bisa lebih terintegrasi.
  4. Pengelolaan kawasan Kota Tua yang terintegrasi dengan dibuat jalur-jalur khusus menyambung dari satu museum ke museum lainnya, sehingga bis lebih tertata dengan baik.
  5. Revitalisasi Makan Pangeran Jayakarta sebagai salah satu peninggalan sejarah yang utama di Jakarta
  6. Dengan revitalisasi sungai yang massif dan efektif, bisa dibuat sebuah wisata sungai dari Kelapa Dua, Condet hingga Duku Atas.
  7. Penyediaan bus-bus secara gratis untuk sekolah-sekolah, secara bergantian, agar bisa memiliki jadwal rutin mengunjungi museum di Jakarta. Hal ini untuk mendorong antusiasme warga terhadap museum, seni budaya dan sejarahnya.
  8. Mencoba “membawa” replika museum masuk ke mall atau ruang-ruang publik lainnya, sehingga semangat untuk lebih menghargai ilmu pengetahuan, sejarah dan seni budaya yang tersosialisasi lebih massif.
  9. Untuk poin no 8 itu bisa dengan menggandeng lembaga-lembaga terkiat, baik lembaga pemerintah, BUMN, lembaga pendidikan, maupun perusahaan-perusahaan swasta. Seperti misalnya, kerjasama dengan Pertamina membuat replika museum “MINYAK”, kerjasama dengan Bank Indonesia membuat replika museum “UANG”. Bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran UI dengan membuat replika museum “ANATOMI” dan replica-replika ini bisa dibuat di berbagai ruang publik yang, seperti mall, taman kota, dan lain sebagainya.
##################################################
  • Jokowi - Ahok
Mengatasi kemacetan
Meneruskan sistem Pola Transportasi Makro yang digagas pada masa Gubernur  Sutiyoso.
  • Menyelesaikan busway hingga 15 koridor. Namun, untuk busway, koridor yang padat akan diubah menggunakan railbus.
  • Meneruskan monorel dan MRT.
  • Merevitalisasi ngkutan umum dengan sistem hibah. Jadi, yang lama diganti yang baru. Dengan perbaikan angkutan umum ini, diharapkan masyarakat akan mau berpindah ke angkutan umum.
 
Mengatasi banjir
  • Akan melebarkan sungai dengan merelokasi penduduk yang tinggal di bantaran sungai. Relokasinya harus melalui pendekatan terhadap warga. Jangan sampai disusupi kepentingan politik lain.
  • Mewajibkan rumah-rumah di Jakarta dan gedung-gedung di Jakarta membuat sumur resapan. Selain itu, bekerjasama dengan daerah mitra untuk membuat tempat tampungan air.
 
Mengatasi masalah premanisme
Melakukan pendekatan sosial kepada pihak-pihak tersebut. Contoh yang pernah dilakukan Jokowi adalah datang langsung kepada mereka, sehingga mereka merasa dianggap. Kemudian berbicara apa saja yang dapat dilakukan bersama dalam sebuah kota.
 
Mengatasi masalah menjamurnya mal dan minimarket
Kalau malnya diperuntukkan untuk shelter para pedagang kaki lima, ya tidak apa-apa. Itu memang rencana Jokowi, yaitu merelokasi para PKL  agar mendapat tempat berdagang yang layak dan tanpa ada pungutan liar. Namun pembangunan mal ini juga harus melihat konsep tata ruang. Jika tidak sesuai dengan konsep tata ruang, ya tidak boleh dibangun di situ.
 
Mengatasi  trotoar dan pedestrian
Akan menatanya agar lebih baik dan akan melihat dulu kondisinya di lapangan.
 
Mengatasi ormas anarkis yang meresahkan warga DKI
Harus ada intervensi sosial dengan pendekatan kelompok.
 
Mengatasi masih banyaknya angka anak putus
Jokowi sudah menyiapkan kartu khusus untuk para siswa yang kurang mampu seperti yang sudah dilakukan di Solo. Jokowi juga akan mengajak sekolah-sekolah untuk mau bekerjasama. Nanti akan dilihat juga apakah siswa tersebut benar layak menerima kartu tersebut atau tidak. Di Solo, memang belum sepenuhnya selesai program ini. Namun dengan anggaran pendidikan di Jakarta yang cukup besar, ini diharapkan bisa terwujud di Jakarta.
 
Apa yang akan Anda lakukan dengan museum-museum di Jakarta yang belum mampu menyumbang sektor Pariwisata secara signifikan.
Tentunya harus ada renovasi dan restorasi. Jangan malah dihancurkan baik museum atau bangunan cagar budaya. Anggarannya ada untuk itu.




##################################################
  • Adji - Riza
1. Untuk mengatasi kemacetan di Jakarta :
Harus dibuat program jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek, busway harus terintegrasi antarkoridor satu dan koridor lainya. Busway harus dibuat sampai ke setiap kelurahan dan harus dibangun jalur baru khusus busway di beberapa wilayah tertentu, sehingga jalur busway bisa lebih lebar dan aman seperti di Bogota, Kolombia.  Busway juga harus terhubung dengan sistem transportasi lainya seperti KRL dan tempat fasilitas umum seperti terminal, bandara dan stasiun kereta api. Bus transjakarta juga harus menjangkau wilayah padat penduduk dan pasar. Jumlah bus transjakarta juga harus ditambah sesuai prpoporsi jumlah penumpang sehingga memperkecil panjangnya antrean dan penumpang berjubel di dalam bus.
Untuk jangka panjang Jakarta wajib memiliki monorel dan subway. Dibandingkan dengan kota di Asia Tenggara seperti Singapura,  Kuala Lumpur dan Bangkok, maka Jakarta sudah semakin tertinggal. Monorel dan subway meski investasinya sedikit lebih mahal, namun memiliki banyak kelebihan karena berada di jalur tersendiri, bahkan monorel bisa dibuat sampai di tepi jalan tol sehingga bisa menjangkau ke di wilayah pinggiran Jakarta yang berbatasan langsung dengan daerah sekitar seperti Tangerang, Bekasi dan Depok. Monorel dan subway jelas akan memperkecil polusi udara dan menghemat pemakaian BBM secara massal, lebih go green. Monorel dan subway dapat dikelola join dengan pihak swasta agar lebih profesional dan menguntungkan. Perbaikan dan peningkatan transportasi publik akan memiliki efek positif dalam jangka panjang, termasuk mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas di jalan yang menyebabkan kematian. Dalam data Polda Metro Jaya antara Januari-Oktober 2011 tercatat sekitar 935 orang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas dan sebagian besar pengendara sepeda motor. Dari hasil survei sebagian besar mereka yang meninggal di jalan raya adalah kepala rumah tangga yang harus menghidupi istri dan anaknya. Maka dampak sosial akibat kecelakaan lalu lintas di jalan ini diperkirakan menurut para ahli menyebabkan kerugian hampir Rp 100 triliun pertahun, karena banyak anak kehilangan ayahnya dan banyak keluarga kehilangan kepala rumah tangga yang menopang kehidupan sehari-hari. Karena itu sebesar apapun nilai investasi untuk membangun transportasi publik yang aman, nyaman dan memadai masih lebih kecil dibanding resiko risiko tersebut.
 
2. Untuk mengatasi banjir, termasuk rob di Jakarta Utara :
Mengatasi banjir yang perlu dilakukan dalam jangka pendek adalah merevitalisasi sungai-sungai yang melintasi Jakarta.  Sungai tersebut harus dikeduk rutin dalam jangka waktu tertentu agar kedalamannya terjaga sesuai perkitaran aliran airnya. Kanan dan kiri sungai seharusnya dibongkar dan dibuat jalur khusus dan penghijauan sehingga tidak lagi menjadi tempat hunian kumuh. Penataan aliran sungai tidak tertutup kemungkinan bisa membuat jalur transportasi khusus di atas sungai di Jakarta. Selain itu diadakan koordinasi antara hulu dan hilir, sehingga Jakarta harus mampu mengelola air sungai dengan memiliki program terpadu dengan Bogor dan Depok. Dalam jangka panjang, Jakarta harus mengembangkan konsep wilayah utara sebagai water front city dengan membangun waduk seperti di Cengkareng, Kali Baru dan Marunda sekaligus untuk menangani bila terjadi rob. Sedangkan wilayah selatan Jakarta harus dibuat sebagai barrier eco system atau daerah resapan sehingga ruang terbuka hijau benar benar bisa dikontrol. Koordinasi dengan pemerintah pusat menyangkut Banjir Kanal Timur dan Banjir Kanal Barat harus terus dilakukan agar penyelesaian kedua proyek raksasa tersebut tepat waktu dan fungsinya.
 
3. Untuk mengatasi masalah premanisme di Jakarta :
Premanisme di Jakarta muncul karena kesenjangan kesejahteraan yang terus terjadi, di mana yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Kesenjangan ini harus diatasi dengan pemerataan pembangunan yang menyentuh rakyat kecil dan orang miskin. Arah pembangunan di Jakarta harus diubah dan tidak bisa lagi dilakukan hanya secara sporadis dan tidak terkonsep. Selain itu, Jakarta wajib melakukan peremajaan kota karena wajah kota adalah juga mencerminkan perilaku kehidupan sehari-hari warganya. Ruang terbuka hijau harus 30 persen dengan komposisi 20 persen publik dan 10 persen private. Dengan melakukan peremajaan kota, Jakarta diharapkan akan menjadi kota yang layak huni, aman, nyaman, damai dan tentu saja sejahtera. Karena lingkungan yang nyaman dan aman akan mempersempit ruang gerak munculnya premanisme. Selain itu, premanisme juga diatasi dengan mempertegas tugas aparat penegak hukum, serta meningkatkan gerakan keagamaan dan moral yang dapat mengatasi krisis ahlak dan budi pekerti di masyarakat.
 
4. Untuk mengatasi masalah menjamurnya mal dan minimarket :
Pembangunan mal dan minimarket harusnya ditinjau ulang dan bila perlu dilakukan morotarium untuk jangka waktu tertentu sesuai fisibilitasnya. Jakarta justru harus mengembangkan pasar tradisional yang jumlahnya makin menyusut dari tahun ke tahun. Pasar tradisional justru  menggerakkan ekonomi kelas bawah dan bisa mengangkat kualitas kehidupan warga miskin secara perlahan. Logikanya, seorang buruh atau pegawai rendahan tentu memilih berbelanja di pasar tradisional yang lebih murah harganya bisa dijangkau oleh mereka. Sejak kepemimpinan Fauzi Bowo, jumlah pasar tradisional tidak pernah bertambah sekitar 137, itu pun kondisinya sebagian besar kumuh dan kotor.
 
5. Untuk mengatasi trotoar dan pedestrian di Jakarta yang dirampas oleh pedagang kaki lima, pedagang tanaman, tukang tambal ban, dan kadang diserobot pengguna sepeda motor :
Pedagang kali lima harus dibangunkan tempat sehingga mereka tidak berkeliaran jualan di trotoal jalan. Pedagang Kali lima juga harus dibantu, misalnya kredit lunak untuk mendapatkan kios agar tidak lagi berjualan di jalan. Pedagang kali lima sebenarnya merupakan salah satu pilar penggerak ekonomi sektor riil yang bisa dikelola melalui manajemen UKM yang bisa terapkan oleh Pemprov DKI lewat kredit lunak jangka panjang. Sedangkan untuk pedestarian Pemprov juga harus berani menerapkan aturan dan menindak dengan tegas pengendara sepeda motor yang menyerobot trotoar jalan. Pedestarian juga harus dibangun lebar dan tinggi agar nyaman bagi pejalan kaki dan tidak mudah dinaiki sepeda motor.
 
6. Terkait masalah ormas anarkis yang meresahkan warga DKI :
Sejumlah dinas terkait di Pemprov DKI yang membawahi ormas harus lebih aktif melakukan dialog, pertemuan dan membuat konsep agar aktivitas ormas bisa lebih memberi manfaat pada masyarakat dan warga Jakarta. Keberadaan ormas sesungguhnya positif asal diarahkan untuk hal-hal yang positif seperti dilibatkan dalam memerangi narkoba, menjaga wilayah dari tindak kejahatan atau dilibatkan dalam kegiatan sosial keagamaan.  Jadwal kegiatan dan padatnya aktivitas Ormas untuk kegiatan positif tentu akan meminimalisasi sebuah ormas untuk bertindak anarkis karena aktivitasnya tersalurkan dan tidak terhambat.
 
7. Terkait masih banyaknya angka anak putus sekolah di DKI :
Dengan angka APBD mencapai di atas Rp 30 triliun lebih, Jakarta harusnya sejak tiga tahun lalu sudah bisa membebaskan biaya sekolah sampai tingkat SLTA. Hal ini pun masih bisa dikoordinasikan dengan Pemerintah Pusat untuk koordinasi agar biaya Pendidikan tepat sasaran dan tepat guna. Program wajib belajar juga tidak berjalan dengan baik dan tidak terkonsep karena Gubernur sekarang terkesan tidak peduli dengan dunia pendidikan. Padahal bila dihitung jumlah anak putus sekolah, jumlah sekolah dan biaya yang dibutuhkan, saya yakin dana APBD mampu mengatasi masalah pendidikan di Jakarta, asalkan ada keseriusan, dibandingkan bagi-bagi uang misalnya untuk RW Kumuh Rp 500 juta dan dana lain yang tidak tepat sasaran.




##################################################
  • Foke - Nara
Mengatasi kemacetan di Jakarta
  •  Perbaikan sarana transportasi massal, pembatasan angkutan berat di tol dalam kota, penerapan parkir off street, pembangunan Jalan Layang Non Tol (JLNT) serta rencana penerapan jalan berbayar atau electronic road pricing (ERP).
  • Perbaikan sarana transportasi massal, salah satunya dengan menyelesaikan 15 koridor busway. Saat ini, sudah dibuka koridor XI (Kampung Melayu-Pulo Gebang). Kemudian untuk koridor XII (Tanjung Priok-Pluit). Selain itu, dibuat pula angkutan pengumpan atau feeder yang mempermudah warga dari pemukiman untuk menuju ke halte busway terdekat atau stasiun terdekat. Saat ini tersedia 3 rute yaitu rute 1 (Sentra Primer Barat-Daan Mogot), rute 2 (Tanah Abang-Balai Kota) dan rute 3 (SCBD-Senayan).
  • Pembatasan angkutan berat di toldalkot diberlakukan sejak pertengahan tahun 2011. Angkutan berat hanya diperbolehkan masuk toldalkot pada pukul 22.00-05.00.
  • pembangunan JLNT Antasari-Blok M dan JLNT Kampung Melayu-Tanah Abang. Saat ini, underpass Trunojoyo yang merupakan bagian dari JLNT Antasari-Blok M sudah dapat digunakan dan terbukti mampu mengurai kemacetan sedikit demi sedikit. Diperkirakan  pembangunan ini akan dapat diselesaikan tahun ini. pembangunan ini merupakan langkah mengurai macet dengan penambahan kapasitas jalan yang memang persentasenya sedikit dibandingkan dengan angka kendaraan yang terus meningkat.
  • penerapan parkir off-street sudah dilakukan di Jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk sejak pertengahan tahun 2011. namun pada kenyataannya penegakan hukum untuk menertibkan para pelanggar masih minim sehingga masih banyak kendaraan yang parkir di badan jalan. Penerapan parkir off-street di Pasar Baru pun tidak kunjung berjalan karena masih sulit diterima oleh warga.
  • ERP, hingga saat ini masih menunggu peraturan dari Kemenkeu terkait detail tarif dan cara penarikan. Proses di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan DPRD DKI Jakarta sudah berjalan lancar, hanya program mengurai kemacetan ini terganjal pemerintah pusat.
 
Mengatasi banji, termasuk rob di Jakarta Utara
  • Program penanganan banjir sendiri lebih memprioritaskan penanganan bencana banjir rob di Jakarta Utara. Saat ini, tanggul di Marunda baru ada sepanjang 300 meter nantinya akan disempurnakan lagi. untuk jangka panjang kebutuhan penanganan banjir rob, DKI menyiapkan master plan pengamanan kawasan pantai Utara Jakarta. Master plan tanggul raksasa ini akan dibuat tahun 2012.
  • Melakukan pengerukan 13 sungai di Jakarta yang masuk dalam program Jakarta Urgent Flood Mitigation Project (JUFMP) dan mendapat bantuan dari World Bank. Akan dilakukan juga penataan bantaran Kali Ciliwung dan relokasi warga di sekitar ke rumah susun yang sudah disediakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
  • Melanjutkan pembangunan Kanal Banjir Timur yang akan mengurangi banjir di kawasan Timur dan Utara Jakarta. Minimal KBT ini mampu mengamankan seperempat dari luas wilayah kota Jakarta dari ancaman banjir. selain itu, ada juga pemasangan pompa dan gorong-gorong yang berhasil mengurangi titik-titik genangan air. Pada tahun 2007, ada 78 titik genangan air yang menghambat kehidupan rutin warga Jakarta. Namun dengan pengendalian banjir yang dilaksanakan sejak tahun 2007, sebanyak 16 titik genangan sudah bisa dihilangkan. Sehingga total titik genangan air tinggal 62 titik. Pada tahun 2010, sebanyak 40 titik genangan air berhasil dihilangkan Pemprov DKI. Kini tinggal tersisa 18 titik lagi yang harus diselesaikan.
  • Jika pada beberapa tahun lalu, genangan air itu akan surut dalam jangka waktu 72 jam, maka sejak akhir tahun 2009 lalu, genangan air akibat hujan itu lebih cepat surut, yakni hanya dalam jangka waktu 14 jam. Ke depan Pemprov DKI menargetkan akan mengurangi banjir di Ibu kota sebanyak 40 persen pada tahun 2011 dan sebanyak 75 persen pada tahun 2016.
  • Kemudian membangun waduk di beberapa titik sebagai tempat penampungan air. salah satunya yang sedang dikerjakan adalah waduk Kali Krukut.
Mengatasi masalah premanisme
Bekerjasama dengan Polda Metro Jaya untuk memberantas tindak kejahatan maupun premanisme di Jakarta. Saat ini, yang tengah berjalan adalah Operasi Kilat Jaya (OKJ) yang yang digelar selama satu bulan dari 23 Februari hingga 23 Maret 2012. Permintaan bantuan untuk menyukseskan operasi ini di Jakarta pasti akan diberikan. Hal ini bertujuan agar warga Jakarta tidak lagi merasa resah dan tidak aman di rumahnya sendiri.
Mengatasi masalah menjamurnya mal dan minimarket
  • Perizinan pendirian minimarket tetap harus mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) No 2 tahun 2002 tentang Perpasaran Swasta. Revisi Perda ini masih dibahas di legislatif. Jadi jika pendirian minimarket tidak sesuai dengan Perda yang ada dapat dikenai sanksi.
  • Beberapa aturan yang ada dalam Perda itu adalah pasar modern dengan luas hingga 200 meter persegi harus berada minimal 500 meter dari pasar tradisional. Pasar modern dengan luas minimal 200-1.000 m2, harus minimal berjarak 1 kilometer dari pasar tradisional. Sedangkan supermarket atau hipermarket sekurangnya barjarak 2,5 kilometer dari pasar tradisional
Mengatasi masalah trotoar dan pedestrian
  • Mencoba menggandeng LSM dan meminta konsultan muda untuk bekerja sama dengan Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta memperbaiki pedestrian. April 2012, akan dilakukan uji coba penataan pedestrian di empat titik yaitu Jalan Sabang, Jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk, Jalan Ridwan Rais dan Jalan Cikini. Nantinya pedestrian ini akan dilebarkan dan ditinggikan sehingga motor tidak mudah menaiki pedestrian.
  • Selain itu, dilakukan juga sosialisasi dan penyuluhan di tiap-tiap kelurahan agar mereka mulai menata pedestrian di masing-masing wilayahnya.
Masalah transportasi massal, misalnya program busway
  • Saat ini, sudah dibuka koridor XI (Kampung Melayu-Pulo Gebang). Kemudian untuk koridor XII (Tanjung Priok-Pluit). Selain itu, dibuat pula angkutan pengumpan atau feeder yang mempermudah warga dari permukiman untuk menuju ke halte busway terdekat atau stasiun terdekat. Saat ini tersedia 3 rute yaitu rute 1 (Sentra Primer Barat-Daan Mogot), rute 2 (Tanah Abang-Balai Kota) dan rute 3 (SCBD-Senayan).
  • Selanjutnya akan diteruskan hingga 15 koridor. Kemudian pada tahun ini, rencananya akan ada penambahan bus gandeng sebanyak 102 armada untuk didistribusikan ke tiap-tiap koridor. Untuk beberapa koridor juga akan dibuka lelang operator untuk memperbaharui kinerja bus transjakarta dalam melayani masyarakat.
Masalah ormas anarkis di Jakarta
Negara ini merupakan negara hukum sehingga apapun yang mengganggu keamanan dan kenyamanan di Jakarta harus ditindak sesuai dengan aturan yang ada. Pemprov DKI bersama aparat kepolisian dan dibantu TNI akan memantau pergerakan ormas di Jakarta. Bila ada pelanggaran, maka akan dikenakan sanksi hukum
Masalah banyaknya angka anak putus sekolah
Dengan dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang terus meningkat setiap tahunnya, berencana membiayai pelaksanaan program wajib belajar 12 tahun atau hingga SMA dan sederajat pada 2012. Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di DKI Jakarta.
Saat ini, Pemprov DKI Jakarta mengalokasikan 26 persen dari Rp 31,76 triliun APBD DKI 2012 untuk biaya pendidikan di Ibu Kota. Dana tersebut antara lain disalurkan dalam bentuk Biaya Operasional Pendidikan (BOP) untuk seluruh siswa tingkat SD dan SMP, serta Bantuan Operasional Buku (BOB) untuk siswa SMA dan SMK.
Jika daerah lain siswa mendapat BOS maka di Jakarta tidak hanya mendapat BOS saja, setiap siswa SD dan SMP DKI juga menerima BOP dan BOB dari APBD. Dari dana BOP setiap siswa SD menerima biaya sebesar Rp 720.000 per tahun dan siswa SMP sebesar Rp 1.320.000 per tahun. Sedangkan SMA juga mendapatkan Biaya Operasional Buku (BOB) sebesar Rp 900.000 per tahun dan SMK sebesar Rp 1,8 juta per tahun.
Jika rencana Kemendiknas untuk menaikkan BOS terlaksana maka BOP untuk siwa SD dan SMP nantinya akan dikurangi,  sehingga dapat dialihkan untuk memberikan bantuan pendidikan di jenjang SMA dan sederajat.
 Selama ini, selain memberikan dana BOS dan BOP Pemprov DKI Jakarta juga memberikan beasiswa rawan putus sekolah sebesar Rp 31,44 miliar untuk 10.374 siswa.
Masalah museum agar dapat menyumbang sektor Pariwisata
Melakukan renovasi untuk perbaikan museum yang harus didukung oleh DPRD DKI Jakarta juga. Kemudian melakukan promosi pada warga Jakarta dengan gencar.


 
##################################################
  • Hidayat Nurwahid - Didik
Mengatasi kemacetan
  • Masalah mass rapid transit (MRT). Di Singapura dan negara lain MRT  bisa membawa penumpang yang banyak. Di Jakarta, bisa. Misalnya dari Lebak Bulus sampai ke Thamrim, itu satu Jakarta bisa dibuat sistem MRT yang sangat bagus.
  • Membuat double track bagi kereta api agar mampu mempersingkat waktu tempuh sebuah rute kereta api.
  • Meneruskan proyek Monorel. Jika proyek tersebut diteruskan, ruwetnya transportasi Jakarta bisa diurai.
  • Menurunkan tarif Jalan tol kota. APBD DKI hampir Rp 40 triliun dan bisa naik hingga Rp 80 triliun, karena potensi yang besar ini harus dimanfaatkan. Di sisi lain, juga merencanakan untuk meningkatkan pajak kendaraan bermotor agar warga beralih ke transportasi masal tersebut.
  • MRT harus terpadu dengan daerah-daerah strategis seperti bandara, pelabuhan serta daerah penyangga Jakarta seperti Bogor, Tangerang dan wilayah-wilayah lainnya.
  • Meningkatkan kerjasama antar lembaga pemerintah, khususnya masalah keamanan.
  • Melakukan pembatasan jumlah kendaraan bermotor. Hal tersebut berkaitan dengan langkah penerapan pajak tinggi bagi kendaraan bermotor.
  • Mengenakan tarif murah dalam sistem transportasi Jakarta.
  • Meniadakan keberadaan angkutan umum kecil. Jakarta harus memiliki rute yang terjangkau luas, karena itu kendaraan kecil akan diganti dengan angkutan besar seperti bus agar memuat lebih banyak dan tidak menimbulkan kesemerawutan.
 
Program jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin di Jakarta
  • Pemberdayaan sistem Puskesmas sebagai ujung tombak sistem pelayanan kesehatan masyarakat dalam seluruh dimensi dan jaringannya. Yaitu obat-obatannya, dokter-dokternya, dan sumber daya manusianya
  • Meningkatkan asuransi kesehatan pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin dengan keterjangkauan  yang lebih luas, jadi tidak mandek di kelompok miskin yang terbatas. Menurut data yang dimiliki, sebanyak 63 persen masyarakat miskin yang memiliki Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) masih dikenakan biaya. Untuk itu, dia berjanji untuk mengawal program tersebut.
  • Membangun sistem pengawasan program kesehatan dengan cara memberikan rating bagi tiap puskesmas di Jakarta. Hal tersebut perlu dilakukan untuk merangsang optimalisasi pelayanan kesehatan.
  • Memperluas pelayanan Keluarga Miskin (Gakin) agar tidak hanya untuk rawat jalan, namun juga bagi pasien rawat inap.
  • Terakhir, evaluasi pelayanan rumah sakit secara keseluruhan, mulai dari puskesmas, rumah sakit umum daerah sampai rumah sakit swasta. Tujuannya untuk memeriksa apakah rumah sakit tersebut telah memberikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi warga Jakarta atau belum.
##################################################

Pilkada Gubernur DKI Jakarta seharusnya menjadi barometer pilkada provinsi lain, sebagai pilkada yang fair, jujur, dan elegan.
Sangat disayangkan, jika pilkada DKI justru menjadi sarana mengumbar kebohongan dan pembodohan kepada masyarakat. Padahal calon gubernur yang sekadar mengumbar janji yang bisa jadi tidak bisa dipenuhi, tidak pantas menjadi pemimpin Jakarta.
"Kami meminta warga DKI untuk memilih dengan akal sehat. Jangan percaya dengan janji-janji yang sudah terbukti gagal membenahi masalah Jakarta," ujar dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia, Agung Suprio, di Jakarta, Jumat (6/7/2012).
"Masyarakat sudah pintar dan mampu menilai, mana yang bohong dan mana yang benar-benar ingin menyelesaikan masalah Jakarta. Mana yang berani dengan program terukur, dan mana yang hanya berani dengan jargon dan bukti-bukti bohong," kata Agung.
Untuk itu, menurut Agung, mendekati hari pemilihan 11 Juli mendatang, masyarakat diajak untuk lebih menggiatkan kampanye akal sehat dalam memilih Gubernur Jakarta. Kampanye ini, diharapkan menjadi lawan dari kKampanye kebohongan yang disuarakan beberapa calon gubernur.
SOURCE: