Amazon Deals

Thursday, January 31, 2013

Sejarah Tempe : Dari Bangsa Tempe Sampai Hilangnya Tempe

Tempe adalah salah satu makanan yang terbuat dari kedelai yang merupakan hasil kreasi bangsa sendiri. Di masa lalu Tempe sudah dikenal, di Jaman Majapahit Tempe sudah diyakini ada, penyebutan tempe sebagai makanan secara terang-terangan disebutkan dalam serat Centhini, jae santen tempe ( jenis masakan tempe yang dicampur santan) dan kadhele tempe srundengan. Serat centhini ditulis sekitar tahun 1805 dengan sponsor Pakubuwono V yang mengharapkan kitab ini bisa menjadi semacam ensiklopedi gaya hidup, pandangan spiritual dan tatanan dialektis masyarakat Jawa. Sebagai tambahan catatan walau ini masuk dalam referensi cerita rakyat, soal Tempe Bacem Kotagede yang terkenal sering disandingkan dengan Gudeng Manggar yang merupakan produk kuliner Ki Ageng Mangir Wonoboyo II, musuh politik Panembahan Senopati yang kepalanya dikepruk sang Panembahan setelah menghadap sebagai menantu dengan menikahi Puteri Panembahan yang pandai menari tayub, Pembayun. Dalam gudeng Manggar itu selalu ada tempe bacem Sargede (asal kata Pasar Gede, sebuah pasar di Kotagede), disini kemudian orang Bantul mengenang Gudeg Manggar sebagai satu-satunya bentuk kemenangan atas Panembahan Senopati yang bangsawan dari keturunan luar Hutan Mentaok.

Tempe menjadi makanan yang amat terkenal setelah krisis pangan pasca Perang Diponegoro, saat itu Van Den Bosch menerapkan kerja rodi, seluruh rakyat diharuskan menanam tanam-tanaman perkebunan seperti tebu dan karet, dan ini semakin merusak unsur hara tanah. Di masa ini tempe menjadi semacam makanan wajib. Rakyat yang kelaparan dan kehilangan padi-nya gara-gara harus berebutb jam kerja dengan kewajiban rodi, memakan makanan yang dihasilkan dari tanaman yang gampang tumbuh seperti : Ubi, Singkong dan Kedelai, nah kedelai ini diolah menjadi tempe, salah satu versi sejarah menyatakan bahwa tempe ditemukan pada era tanam paksa, tahun 1875 dengan meniru makanan Cina yang bernama Koji, kedelai yang difermentasikan menggunakan kapang.

Tempe menjadi penyelamat bangsa Eropa yang ditawan Jepang, saat itu Jepang masuk ke Indonesia dan mencari orang-orang Belanda untuk dimasukkan ke kamp kerja paksa dan dipenjara. Dalam penjara mereka dikasih makan tempe, ternyata tempe itu yang membuat para interniran londo itu bertahan hidup, sebab-nya tempe memiliki kandungan protein yang amat tinggi.

Menurut artikel Kompas, pada 3 Juli 2003 yang ditulis M. Astawan menyebutkan :

Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk tempe, 40% tahu,dan 10% dalam bentuk produk lain (seperti tauco, kecap, dan lain-lain). Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diduga sekitar 6,45 kg

Tempe merupakan industri-industri yang berkembang amat merakyat, murah harganya dan menjadi ciri khas paling dasar bangsa Indonesia, kebanyakan orang Indonesia memang suka dengan tempe. Saking merakyatnya, masakan ini pernah menjadi sangat inferior dalam kedudukan gengsi sosial bangsa kita, para priyayi bangsawan senengnya makan Beef Steak, yang diucapkannya sebagai Bestik. Sebagai gambaran tempe sebagai makanan rakyat ini terlihat sekali dalam novel Para Priyayi karangan Umar Khayam yang dirilis tahun 1994 tentang Ngadiyem yang tiap pagi ngider menjajakan tempe dan menjadi langganan keluarga Sastrodarsono. Ngadiyem ini kemudian ikut keluarga Sostrodarsono, setelah ikut dengan Sostrodarsono, Ngadiyem diperkosa oleh Soenandar yang juga kemenakan Sastrodarsono, dari Ngadiyem ini kemudian lahirlah Lantip, yang secara alam bawah sadar selalu menekankan ke-minderan-nya sebagai anak pedagang ider Tempe. “Aku tak mau menjadi kecu seperti bapakku atau pedagang ider tempe seperti ibuku”. Novel yang amat menarik ini masih menempatkan tempe sebagai makanan kelas rendahan.

Bung Karno sendiri pernah berteriak di depan ratusan ribu pendengarnya : “Janganlah kita sekali-sekali menjadi bangsa Tempe”. Disini Bung Karno bukan berteriak soal tempe sebagai makanan inferior bangsa kita, tapi sebagai ‘makanan yang diinjak-injak’. Namun bagi bagian banyak orang quotes ini dikenang sebagai ‘Rasa Inferioritas Tentang Tempe sebagai makanan”.

Lambang kemakmuran bangsa Indonesia adalah terhidangnya ayam goreng, semur daging atau ikan-ikan air tawar seperti ikan gurame dan ikan mas. Tempe dianggap sebagai bagian ‘makanan prihatin’. Tapi susah memisahkan Tempe dan juga Tahu ke dalam meja makanan orang Indonesia, kalau makan orang Indonesia itu ada empat hal : Nasi, Tempe, Tahu dan Kerupuk.

Di Jaman Orde Baru, ketersediaan pangan adalah syarat politik paling utama. Suharto bahkan sampai menyiapkan panggung teater ketersediaan pangan dengan aktor utamanya adalah Harmoko, rakyat sampai hapal setiap Rabu Malam di berita khusus TVRI setelah dunia dalam berita jam 9 malam berakhir ia selalu berkata “Atas petunjuk bapak Presiden…harga cabe keriting….bla..bla” sambil rambutnya jingkrak meninju rembulan. Saat itu bangsa Indonesia mengalami masa kepastian pangan luar biasa, jangankan soal tempe, soal cabe, soal beras saja kita berdaulat, walaupun hanya setahun yaitu tahun 1985 saat Pak Harto dengan gagah pidato di Roma, Italia pada sidang pleno FAO. Tapi dibalik kedigdayaan Pak Harto dan Politik Logistiknya dengan Pangan sebagai Panglima, dimasa itu terkenal kisah Tempe Bongkrek, tempe yang terbuat dari ampas kelapa, jenis tempe ini lebih inferior lagi ketimbang tempe biasa.

Kini Kedelai menghilang di pasaran, Tempe menjadi barang langka dan harganya naik terus seperti popularitas Jokowi, Pemerintahan Republik ala SBY yang lemahnya menyerupai Republik Weimar ini tergagap soal Tempe, mereka bersidang soal Tempe, soal yang di masa lalu sebagai makanan inferior kini menjadi soal yang sulit bagi Pemerintahan dengan Pencitraan sebagai Panglima. -Maka Tempe sudah menjadi semacam SOB, semacam Staat van Oorlog en Beleg, negara bersiap perang atas kedaulatan Pangan kita. Entahlah mungkin nanti akan ada bibit kedelai Supertoy, kan Presiden kita doktor IPB….katanya….


belum ada ya yang melihat lagi letter of intent imf tahun 98. Liat dan baca lagi deh. Ada soal tariff o percent buat kedelai. ini membaut petani kedelai indonesia akhirnya menghadapi banjir kedelai import yang di subsidi.

"The government intends to phase out import and marketing monopolies and price controls on agricultural commodities except for rice, sugar, and cloves over the next three years. As a first step, on November 3, 1997, wheat and wheat flour, soybeans and garlic were made freely importable. In order to alleviate the burden of adjustment on the part of the affected parties, import tariffs will be applied to soybeans and dried garlic (20 percent) and wheat flour (10 percent) and will be reduced to 5 percent by 2003. Price controls on cement will be eliminated effective November 3, 1997."

Semuanya itu berasal dari situ. Sebelumnya kita import HANYA 30 percent. Dengan di bebaskannya import kedelai masuk dengan harga murah di dan disubsidi maka kedelai kita yang disuruh TIDAK BOLEH BERSUBSIDI harus berhadapan dengan kedelai BERSUBSIDI lewat TARIIF yang DI NOLkan tahun 97 itu.

SOURCE: http://sejarah.kompasiana.com/2012/07/25/sejarah-tempe-dari-bangsa-tempe-sampai-hilangnya-tempe/

Tuesday, January 29, 2013

Introduction to Indonesian Elite Forces



The history of Indonesian special forces units begins when in 1952 Col. Alex Kawilarang, the commander of the 3rd Military District (Siliwangi), established a small commando-qualified unit which later will be known as Kopassus. Following its founding, several other special forces units came into existence. (Several important figures of these special forces are listed in the 'Prominent Figures' section).

Today, the Indonesian Armed Forces (TNI) operates several highly-trained special forces. The army has Kopassus, Kostrad and Raiders; the navy has Marines and Kopaska; the air force has Paskhas; and the police has Brimob.

Within these special forces, there are elite units that are trained to operate mainly as Anti-Terrorist/Counter-Terrorist forces. Kopassus has Sat-81 Gultor, Marines has Denjaka and Yontaifib, Paskhas has Den Bravo-90, and Brimob has Gegana and Detasemen-88.

Kostrad-own Tontaipur and Marines' Yontaifib are elite units that serve different purpose. Tontaipur and Yontaifib are trained to do combat and surveillance operations against enemy combatants. Kopaska also has the same skills as Tontaipur and Yontaifib units, but, in addition to that, Kopaska has been trained since the very beginning to operate as a counter-terrorist unit on or below water.

The elite units of TNI and Indonesian Police all have been qualified as commando units. The basic qualifications of being a commando include combat intelligence, anti-guerilla warfare, jungle warfare, jungle survival, reconnaissance operation, night infiltration, hand-in-hand combat, beach-landing operation, diving, airborne, and long-march. Further qualifications include combat free-fall, advance diving, sniper, mountaineering, computer expert, psychological warfare, and ethnic/foreign languages.

Sunday, January 27, 2013

Rudal Pertahanan Udara Indonesia

Di dalam tahun ini mengemuka hasrat dari pimpinan pertahanan udara TNI-AU untuk membeli rudal pertahanan udara jarak menengah LY-80 buatan RRC. Sistem rudal pertahanan jarak menengah menjadi salah satu shopping list TNI-AU dalam skema MEF (Minimum Essensial Forces). Militer Indonesia tidak lagi memiliki rudal pertahanan udara yang andal selain era Bung Karno yang pernah membeli S-75 Dvina (SA-2 Guideline) buatan Uni Soviet pada dekade 1960-an. Rudal S-75 bisa menghajar sasaran udara sejauh 45 km setinggi 20 km dengan kecepatan 3,5 Mach. Pesawat mata-mata U-2 Lady Dragon AS yang melintas di atas Jawa Barat pernah dikuncinya namun tidak sampai ditembak. Rudal SA-2 kemudian tidak aktif seiring putusnya hubungan dengan blok komunis (Uni Soviet dan RRC). Di era Orde Baru, misil pertahanan udara sepenuhnya berupa SHORAD (Short Range Air Defense) dan MANPADS (Man Portable Air Defense System) berupa rudal maupun kanon anti-pesawat jarak pendek. Demikian juga kapal perang Indonesia (frigat dan korvet) hanya memiliki rudal pertahanan udara jarak pendek seperti Sea Cat, Mistral Simbad, dan Strella II.

 Perkembangan yang kontras terjadi negara-negara tetangga yang semakin lengkap konfigurasi pertahanan udara berbasis darat maupun kapal perang dengan kombinasi rudal jarak menengah/jauh. Singapura pada awal dekade 1980-an mengakuisi MIM-23B Hawk, sistem pertahanan udara jarak menengah buatan Raytheon Corp AS. Rudal MIM-23B Hawk mampu menyasar target sejauh 40 km hingga ketinggian 14 km. Demikian juga frigat angkatan laut Singapura dipersenjatai rudal pertahanan udara jarak menengah Aster 30 dan Aster 60. Australia mempersenjatai frigat kelas Adelaide dengan RIM-66B Standart-1M (platform Tartar). Rudal tersebut bisa menyasar target sejauh lebih dari 74 km hingga ketinggian lebih dari 24 km. Bahkan sekarang sistem rudal pertahanan udara pada frigat kelas Anzac maupun Adelaide sekarang telah diganti ke RIM-162 ESSM yang kemampuannya lebih baik lagi dengan kecepatan luncur 4 Mach. Sama dengan rencana Thailand yang akan mengupgrade misil pertahanan udara di frigat kelas Naresuan dari RIM-7M Sea Sparrow ke RIM-162 ESSM. Myanmar, Kamboja, dan Vietnam memiliki sistem pertahanan udara jarak menengah S-125 Pechora 2M (SA-3B Goa). Rudal Pechora 2M sanggup menghajar sasaran udara sejauh 35 km di ketinggian hingga 18 km. Disamping memiliki juga S-75 Dvina (SA-2 Guideline), Vietnam pada 2006 melengkapi sistem pertahanan udaranya dengan rudal jarak jauh S-300PMU-1 (SA-20 Gragoyle) dari Rusia. Rudal Gragoyle bisa menjejak sasaran dari jarak 300 km dan memukulnya pada jarak 150 km (jenis misil 48N6) di ketinggian hingga 27 km.

Anggaran pertahanan Indonesia tahun ini yang mencapai 8 milyar Dollar membuka peluang angkatan udara untuk menutup kekurangan rudal pertahanan udara jarak menengah. Harus diakui produsen rudal pertahanan jarak menengah dan jauh sangat sedikit bisa dihitung dengan jari. Rudal permukaan ke udara LY-80 merupakan versi ekspor dari HQ-16 buatan RRC. Proyek Hong Qi -16 dikembangkan RRC bekerjasama dengan Rusia dari platform Buk-M1 (SA-11 Gadfly) dan Buk-2M (SA-17 Grizzly). Hong Qi artinya bendera merah. Sistem HQ-16 dibuat di atas platform mobile darat dan platform kapal perang. Platform mobile darat terdiri dari unit radar dan unit peluncur. Truk peluncur membawa kanister peluncur yang berisi 6 misil. Diyakini pengembangan HQ-16 dimulai tahun 1998. Pemasangan di platform kapal perang (HHQ-16/Hai Hong Qi -16) dengan sistem peluncur vertikal (VLS/Vertical Launch System). Dipasang pada frigat RRC kelas Jiangkai II (Type 054A) dengan VLS yang berisi 32 Misil. Sedang pada kapal destroyer kelas Luyang 1 (Type 052B) dengan VLS yang berisi 48 misil. Radar penjejak target sanggup mengendus sasaran sejauh 150 km dan rudal bisa menyerang sasaran sejauh 50 km dengan ketinggian hingga 10 km. Di samping sasaran pesawat tempur dan helikopter, HQ-16 diklaim mampu menembak jatuh drone (pesawat nirwak) dan rudal Tomahawk yang biasanya menjelajah pada ketinggian kurang dari 50 meter dari permukaan tanah guna menghindari endusan radar dan pencegatan. Maupun mencegat rudal anti-kapal yang terbang rendah (sea-skimming) kurang dari 10 m dari permukaan laut. Pada tahun 2011 pejabat militer RRC mengemukakan ke media bahwa sistem pertahanan udara HQ-16 telah resmi berdinas di angkatan bersenjata RRC dan ditawarkan untuk ekspor.

Friday, January 25, 2013

Benarkah ada Ritual Kanibalisme Dalam Suku Batak??? dan Bagaimana Cara Membuktikannya???

Ritual kanibalisme

Ritual kanibalisme telah terdokumentasi dengan baik di kalangan orang Batak, yang bertujuan untuk memperkuat tondi pemakan itu. Secara khusus, darah, jantung, telapak tangan, dan telapak kaki dianggap sebagai kaya tondi.

Dalam memoir Marco Polo yang sempat datang berekspedisi dipesisir timur Sumatera dari bulan April sampai September 1292, ia menyebutkan bahwa ia berjumpa dengan orang yang menceritakan akan adanya masyarakyat pedalaman yang disebut sebagai "pemakan manusia".[17] Dari sumber-sumber sekunder, Marco Polo mencatat cerita tentang ritual kanibalisme di antara masyarakat "Battas". Walau Marco Polo hanya tinggal di wilayah pesisir, dan tidak pernah pergi langsung ke pedalaman untuk memverifikasi cerita tersebut, namun dia bisa menceritakan ritual tersebut.

Niccolò Da Conti (1395-1469), seorang Venesia yang menghabiskan sebagian besar tahun 1421 di Sumatra, dalam perjalanan panjangnya untuk misi perdagangan di Asia Tenggara (1414-1439), mencatat kehidupan masyarakat. Dia menulis sebuah deskripsi singkat tentang penduduk Batak: "Dalam bagian pulau, disebut Batech kanibal hidup berperang terus-menerus kepada tetangga mereka ".[18][19]

Thomas Stamford Raffles pada 1820 mempelajari Batak dan ritual mereka, serta undang-undang mengenai konsumsi daging manusia, menulis secara detail tentang pelanggaran yang dibenarkan.[20] Raffles menyatakan bahwa: "Suatu hal yang biasa dimana orang-orang memakan orang tua mereka ketika terlalu tua untuk bekerja, dan untuk kejahatan tertentu penjahat akan dimakan hidup-hidup".. "daging dimakan mentah atau dipanggang, dengan kapur, garam dan sedikit nasi".[21]

Para dokter Jerman dan ahli geografi Franz Wilhelm Junghuhn, mengunjungi tanah Batak pada tahun 1840-1841. Junghuhn mengatakan tentang ritual kanibalisme di antara orang Batak (yang ia sebut "Battaer"). Junghuhn menceritakan bagaimana setelah penerbangan berbahaya dan lapar, ia tiba di sebuah desa yang ramah. Makanan yang ditawarkan oleh tuan rumahnya adalah daging dari dua tahanan yang telah disembelih sehari sebelumnya.[22] Namun hal ini terkadang dibesar-besarkan dengan maksud menakut-nakuti orang/pihak yang bermaksud menjajah dan/atau sesekali agar mendapatkan pekerjaan yang dibayar baik sebagai tukang pundak bagi pedagang maupun sebagai tentara bayaran bagi suku-suku pesisir yang diganggu oleh bajak laut.[23]

Oscar von Kessel mengunjungi Silindung di tahun 1840-an, dan pada tahun 1844 mungkin orang Eropa pertama yang mengamati ritual kanibalisme Batak di mana suatu pezina dihukum dan dimakan hidup. Menariknya, terdapat deskripsi paralel dari Marsden untuk beberapa hal penting, von Kessel menyatakan bahwa kanibalisme dianggap oleh orang Batak sebagai perbuatan berdasarkan hukum dan aplikasinya dibatasi untuk pelanggaran yang sangat sempit yakni pencurian, perzinaan, mata-mata, atau pengkhianatan. Garam, cabe merah, dan lemon harus diberikan oleh keluarga korban sebagai tanda bahwa mereka menerima putusan masyarakat dan tidak memikirkan balas dendam.[24]

Ida Pfeiffer mengunjungi Batak pada bulan Agustus 1852, dan meskipun dia tidak mengamati kanibalisme apapun, dia diberitahu bahwa: "Tahanan perang diikat pada sebuah pohon dan dipenggal sekaligus, tetapi darah secara hati-hati diawetkan untuk minuman, dan kadang-kadang dibuat menjadi semacam puding dengan nasi. Tubuh kemudian didistribusikan; telinga, hidung, dan telapak kaki adalah milik eksklusif raja, selain klaim atas sebagian lainnya. Telapak tangan, telapak kaki, daging kepala, jantung, serta hati, dibuat menjadi hidangan khas. Daging pada umumnya dipanggang serta dimakan dengan garam. Para perempuan tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam makan malam publik besar ".[25]

Pada 1890, pemerintah kolonial Belanda melarang kanibalisme di wilayah kendali mereka.[26] Rumor kanibalisme Batak bertahan hingga awal abad ke-20, dan nampaknya kemungkinan bahwa adat tersebut telah jarang dilakukan sejak tahun 1816. Hal ini dikarenakan besarnya pengaruh Islam dalam masyarakat Batak.

SOURCE: http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Batak#Ritual_kanibalisme

##################################################
Orang Batak makan orang ?!

Ungkapan orang Batak makan orang dulu sering diucapkan untuk mengejek. “Batak berekor” mungkin juga berkaitan dengannya, karena mamalia dan karnivora yang makan daging ternyata berekor! Anehnya, orang Batak sendiri agaknya tidak merasa terhina dengan ejekan itu, malah mengambil manfaat dan mempergunakannya untuk menakut-nakuti. Betulkah orang Batak makan daging manusia, kanibal dan antropofagi ?? Darimana asal usul ungkapan “Orang Batak makan orang ?”

Mari kita telusuri. Sampai saat ini catatan yang paling tua yang bisa kita temukan adalah tulisan William Marsden dalam buku History of Sumatra. Marsden menulis berdasarkan catatan yang dibuat oleh Gilles Holloway, residen penguasa Inggris yang berpangkalan di pulau Poncan Ketek tidak jauh dari Sibolga sekarang. Tahun 1772 Holloway dan seorang ahli botani Charles Miller melakukan perjalanan ke daerah pedalaman, yang mereka sebut “Batta Country” (Negeri Batak). Mereka ingin mencari kayumanis dan meneliti geografi. Setelah perjalanan menyusuri sungai Pinang Sori ke hulu mereka tiba di suatu desa dan disambut baik oleh raja setempat. Rombongan pendatang dijamu oleh tetua dan warga.
Dicatat Miller “…in the sapiyau (sopo = lumbung padi) in which raja receives stranger we saw a man’s skull hang up, which he told us was hung there as a trophy, it being the skull of an enemy they had taken prisoner, whose body (according to the custom of the Battas) they had eaten about two months before…” Tengkorak yang dilihat Miller digantung di ‘sopo’ adalah tengkorak musuh yang dibunuh. Tetapi pemandu yang menemani Miller menambahkan bumbu bahwa dagingnya sudah dimakan dua bulan lalu. Dia mau menakut-nakuti Miller dan rombongan. Selanjutnya cerita Miller ini ditambah-tambahi lagi oleh para penulis Barat kemudian.
Tahun 1834 Munson dan Lyman, dua misionaris Amerika tewas dibunuh di cegat penduduk di Lobu Pining, Silindung. Peristiwa ini terjadi karena ada ke salah-pahaman. Seorang ibu secara tidak sengaja tertembak oleh pengiring dalam rombongan. Penduduk lalu mencegat dan membalas. Dalam perjalanan sebelumnya kedua misionaris selalu disambut ramah dan di jamu disetiap kampung. Tetapi oleh Belanda, yang sedang merencanakan ekspansi ke tanah Batak memberi banyak bumbu cerita yang menyeramkan.
Seorang eksentrik ahli bahasa, Van der Tuuk, diutus oleh Perkumpulan Alkitab Belanda ke tanah Batak untuk mempelajari bahasa Batak. Posnya ada di Barus. Tahun 1853 dia berhasil masuk ke jantung tanah Batak – ke Bakkara – pusat kekuasaan lembaga Singamangaraja. Cuma hanya beberapa hari tinggal di Bakkara karena warga mulai mecurigai tindak tanduknya. Warga mengusirnya. Van der Tuuk membuat lagi catatan perjalanan dan mengatakan “nyaris dimakan” penduduk. Hal yang lazim, untuk menunjukkan keberaniannya kepada badan zending.
Bahan-bahan diatas disebarluaskan sedemikian rupa. Tujuannya untuk dipakai sebagai pembenaran ekspansi. Pemerintah kolonial dan badan zending punya landasan kuat untuk segera memulai pekerjaan “menyebarkan peradaban” dan “mempertobatkan” orang Batak. Maka meluas cerita orang Batak makan orang. (ama pardomuan)
ridwan simanullang Says:    October 16, 2007 at 12:49 pmAku tidak tahu juga…apa ada hubungannyaDi Kampungku ada beberapa pohon yang sangat besar dan katanya pohon itu adalah milik marga tertentu. Diceritakan bahwa dahulu kala pada setiap saat menanam sebatang pohon tersebut dikorbankan seorang anak gadis dengan cara disembelih dan kemudian direbus untuk dikuburkan sebelum pohon ditanam di atasnya.(tidak tahu juga apakah sebagian ikut dimakan)Anak gadis yang dikorbankan tersebut biasanya diasuh dan dibesarkan lebih dahulu dan bahkan satu kamar dengan putri penguasa huta tersebutdan diperlakukan secara khusus dengan cara memenuhi segala permintaan dan keinginannya semasa hidupnya. Dan katanya hanya segelintir yang tahu bahwa si gadis tersebut adalah gadis yang dipersiapkan untuk korban.Tibalah saatnya, maka pada malam yang ditentukan si gadis tersebut akan diambil dari tempat tidurnya untuk dikorbankan sebagai syarat menanam pohon milik marga tersebut. Biasanya jenis pohon yang dipilih adalah ‘ hau bittatar’ atau ‘hau gorat’.Pernah juga katanya kejadian, entah pada marga apa ya, ternyata si gadis yang akan jadi korban mengetahui bahwa dia sedang dipersiapkan menjadi korban dan pada saat tiba waktunya si gadis dengan segala upaya berhasil bertukar tempat tidur dengan putri penguasa ‘huta’ tersebut sehingga yang menjadi korban adalah putri dari penguasa ‘huta’ tersebut. (jangan bayangkan bahwa pada jaman tersebut sudah ada lampu pada jaman sekarang, dan memang katanya tidak boleh lagi memeriksa wajah si korban pada saat mau disembelih)Akhirnya, marga tersebut, menjadi terkutuk sehingga tidak memiliki keturunan perempuan sampai beberapa generasi.Ya… ini hanya cerita rakyat yang pernah aku dengarkan dari orang-orang tua pada saat ditanya kenapa pohon tersebut (sambil menunjuk pohon yang dimaksud, sampai sekarang pun masih ada 3 pohon yang masih berdiri yang saya tahu dan tumbuhnya memang bukan di ladang tetapi menyatu dengan ‘huta’) kok agak dikeramatkan dan besar sekali (sampai diameter beberapa meter) dan katanya milik marga ‘anu’. Saya juga tidak tahu apakah mereka menjadi saksi hidup atau hanya mendengar cerita juga…

##################################################
Ya, orang Batak DULU memang KANIBAL..!!

Saya mau berbagi cerita yang saya dapat sewaktu
mengunjungi Huta Siallagan (Samosir) Maret 2007 lalu.
Silahkan ditambahi dan dikoreksi bila perlu.
Foto2 versi lebih besar bisa dilihat di bagian album

---------------------------------
Konon di suatu waktu antah berantah,
maka berkumpullah para raja di Huta Siallagan (perhatikan kursi2 batu di foto).
Tema rapat ini adalah pengadilan bagi terdakwa (musuh/penjahat),
serta tanggal terbaik untuk melaksanakan eksekusi potong kepala.

Setelah melihat ke Buku Laklak dapatlah ditentukan tanggal terbaik eksekusi.
Hari yang terbaik adalah hari dengan lambang padi.

Sebaliknya, hari terburuk (tidak boleh) adalah dengan lambang kalajengking.
Sang terdakwa kemudian dikembalikan ke penjaranya /pemasungan.
(kembali lihat gambar di atas).
Terdakwa akan diberi makanan terbaik upaya dagingnya enak!





Tibalah hari eksekusi.
Para raja kembali berkumpul, lengkap dengan sang Algojo.
Inilah tempat eksekusi itu. Raja2 berkumpul di kursi-kursi yang telah disediakan.









Terdakwa dibaringkan di atas "meja" pra eksekusi.
Kalo jaman sekarang, mungkin semacam tempat observasi sebelum operasi? ^_^

Terdakwa akan disayat2 sekujur tubuhnya,
meyakinkan bahwa ilmu2 kesaktiannya sudah benar2 lenyap.
Bila saat disayat tidak terdapat erang kesakitan, berarti terdakwa masih punya ilmu.
"Observasi" akan dilajutkan kembali dengan memberi air jeruk ke sekujur luka.

Masih belum mengerang kesakitan?
Siksa teruuuss..... Torehan2 pisau akan kembali menyayat seluruh tubuh.
Mengalirkan darah di setiap jengkal daging.
Berulang2 sampai diyakini bahwa ilmunya telah lenyap.

"Arrgghh....." jerit kesakitan memberi isyarat algojo untuk melaksanakan tugas.
Sang pesakitan dibawa menuju "sakkalan"-nya.
Jika sakkalan (tatakan) jaman sekarang terbuat dari kayu atau plastik, jaman dulu dari batu man..!

Leher sudah siap, tergeletak pasrah menunggu maut...
Sang algojo pun menghunus senjata (tidak jelas apakah pedang, pisau, golok, atau tangan kosong).
Dalam sekali tebas, "Jleebbb...!!"
Putuslah kepala, putuslah nyawa, lenyaplah si durjana.
Rakyat bersorak-sorai. Gembira menyaksikan suksesnya eksekusi.
(bila tidak putus dalam sekali tebas, sang algojo juga akan dipenggal)

Tubuh tanpa kepala berkelojotan lalu diam tak bergerak.
Tak bernyawa. tak ada lagi helaan nafas, hanya cucuran darah di setiap pembuluh.
Selanjutnya dibawa ke meja di hadapan para raja (lihat di gambar kedua).
Para raja mendapatkan jatah istimewa.. hati, ginjal, jantung, dll.
Sementara daging akan dicacah, dipotong kecil2 dan dibagikan kepada seluruh rakyat.
Sabar..sabar... jangan main dorong.. antri dong..
Semua kebagian, semua dapat, adil, dan merata.

Barbeque? Atau masak sop?
Tidak my man...!! Dagingnya dimakan MENTAH-MENTAH..!!
Mungkin kah jeruk yang dilumurkan membantu proses pematangan?
Seperti laiknya membuat masakan dekke naniura kah?
Wallahualam, saya belum pernah mencobanya ke daging manusia ^_^

Kepalanya... kepalanya... kepalanya....
Siapa yang mendapat kepala????
Bukan siapa2. Bukan paranak, parboru atau hula-hula.
Kepala akan dibuang ke danau toba.
Sejak hari itu, selama 7 hari ke depan, rakyat tidak diperbolehkan
memanfaatkan air danau untuk keperluan sehari2.
Baik untuk minum, mandi, mencuci, mencari ikan, dll.
Makanya bbrp hari sebelum eksekusi, rakyat harus bersiap2 untuk kebutuhan 7 hari ke depan,
Mengumpulkan cadangan air atau mencuci pakaian2 (dan mandi?)
Dipercaya, selama 7 hari itu, arwah si empunya kepala masih berkeliaran di sekitar danau.
Inilah dasar larangan itu.

Jadi, jika ada anekdot bahwa "orang batak makan orang",
Ya... ini mungkin benar adanya.. tapi....
Kalaupun benar, itu jaman dulu bung!!
Sebelum agama kristen masuk ke tanah batak.

Orang batak di jaman internet ini masih ada yg makan orang?
Masih..!! kadang memang masih makan orang kok...
Pasti pernah dong denger ini :
"Awas, jangan macam2 kow sama org batak ya...
'kumakan' kow nanti..!!"
Jadi, waspadalah.. waspadalah.. he...he...he....

SOURCE: http://mappa.multiply.com/journal/item/11?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

#################################################
Tanggapan:
Jika dahulu benar dulu SEBAGIAN (BUKAN SELURUHNYA) suku Batak itu kanibal maka untuk menyetop debat yang tidak ada akhirnya apakah dahulu SEBAGIAN suku Batak itu mempraktekkan kanibalisme maka saat ini hanya dapat dibuktikan dengan test DNA karena di dalam DNA terdapat rekam jejak para leluhur dan nenek moyang.

Selain informasi genetik, DNA juga bisa menginformasikan riwayat kehidupan nenek moyang kita. Di sinilah perubahan dalam tubuh terekam—seiring dengan perubahan pola makan, lingkungan, ataupun aktivitasnya—dan memberikan gambaran bagaimana sebenarnya pola kehidupan yang mereka jalani. Hasil perbandingannya dengan DNA populasi di berbagai tempat lain menggambarkan proses berlangsungnya migrasi dan bagaimana hubungan kekerabatannya. 

Wednesday, January 23, 2013

Sun Go Kong = Hanuman?

Sun Go Kong = Hanuman?

Menjawab pertanyaan satu teman di sini, saya akan berusaha menyajikan informasi dari sudut budaya sastra. Bila ada teman yang dapat menambah dari aspek agama atau kepercayaan dipersilahkan sekali. Mohon koreksinya bila ada yang salah pada rangkuman saya di bawah. Sun Go Kong adalah salah satu tokoh utama dalam salah satu novel klasik Tiongkok  Shi You Ji   Perjalanan ke Barat  karya Wu Cheng-en pada masa Dinasti Ming yang kemudian populer selama berabad2 lamanya baik di dalam maupun di luar Tiongkok. Dalam novelnya itu, Wu terlihat lebih menekankan tokoh Sun Go Kong daripada tokoh sejarah asli Pendeta Xuan Zang (Tang San-zhang/Tong Sam-Cong) dapat dilihat dari penokohan Pendeta Tong sebagai seorang yang baik hati namun lemah. Padahal dalam sejarahnya, Pendeta Tong mengadakan ekspedisi sendirian yang dapat membuktikan ketegarannya. Walaupun di tengah jalan ia bertemu dengan seorang teman bernama Shih Pan Tuo, namun ia kemudian melarikan diri ketika mereka menemui kesulitan. Kesulitan yang dimaksud adalah perampokan oleh bandit2 di tengah jalan. Saya di suatu kesempatan menyimak tayangan tentang Pendeta Tong di channel Discovery. Oleh Discovery, Pendeta Tong difilmkan sedang dikejar2 oleh para bandit berparas Turkistan (Asia Tengah) sebelum akhirnya sampai ke India dalam satu penggal cerita. Riwayat Sun Go Kong secara sekilas adalah tinggi badan 1.33 meter, pada umur 320 tahun ia menuju Gunung Hua Guo, menjadi dewa dengan gelar  Qi Tian Da Sheng  pada umur 357 tahun. 180 tahun kemudian, karena suka membangkang, ia dihukum ditimpa di bawah Gunung Wu Sing selama 500 tahun. Setelah itu, ia berguru kepada Pendeta Tong dan menjalankan perintah untuk mengawal Pendeta Tong mengambil kitab suci ke India. Ia dikisahkan adalah perwujudan dari sebuah kera batu.

Dalam perkembangannya, karena Sun Go Kong terkenal akan kesaktiannya, muncul opini bahwa Wu mengambil tokoh Sun Go Kong muncul dari inspirasinya atas cerita Ramayana dari India yang mana juga ada mengisahkan tokoh kera sakti Hanoman. Di dalam kalangan sastrawan Tiongkok sendiri juga terdapat pendapat yang mendukung opini ini, namun mayoritas menolak teori ini. Juga ada yang berpendapat bahwa Wu mendapat inspirasi dari Hanoman, namun Sun Go Kong kemudian digambarkan tanpa ada kaitan sama sekali denan Hanoman India. Lu Xun (1881~1936) adalah Bapak Sastra Modern Tiongkok yang terkenal. Ia berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah karya Wu yang mengambil inspirasi dari cerita karya Lee Gong-zuo yang hidup di zaman Dinasti Tang. Dalam novelnya berjudul  Gu Yue Du Jing , ia menceritakan tentang siluman sakti bergelar Huai Wo Shuei Shen yang akhirnya juga berhasil ditaklukkan oleh kekuatan Buddha. Setelahnya ia berganti nama menjadi Wu Zi Qi. Lu Xun berpendapat bahwa Wu Cheng-en mengambil tokoh Sun Go Kong atas modifikasi Wu Zi Qi. Lalu, sastrawan lain juga berpendapat bahwa tokoh Sun Go Kong adalah asli Tiongkok karena ada seorang pendeta yang juga terkenal di masa Dinasti Tang bergelar Wu Kong (Go Kong = Hokkian), nama asli Che Chao-feng. Namun Hu Shi, sastrawan lain berpendapat bahwa Wu mengambil inspirasi dari Hanoman yang dikisahkan dalam cerita Ramayana. Karena ia berspekulasi bahwa tidak mungkin cerita Ramayana yang terkenal itu tidak sampai di Tiongkok. Jadi pasti ada pengaruh Hanoman pada karya Wu Cheng-en tadi. Ada pula sastrawan lain Ji Xian-lin yang berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah Hanoman yang dimodifikasi menjadi Sun Go Kong tanpa ada kaitan sama sekali dengan Hanoman-nya sendiri kecuali sama2 merupakan kera sakti. Namun kera sakti Sun Go Kong jelas adalah perpaduan antara kepercayaan, cerita rakyat dan kreasi daripada penulisnya sendiri, Wu Cheng-en. Akhirnya giliran saya mengemukakan pendapat pribadi. Menurut saya, walaupun Ramayana adalah cerita lebih awal daripada Shi You Ji, namun mengatakan Sun
Go Kong adalah sama dengan Hanoman adalah suatu pendapat yang tidak seluruhnya benar. Kepopuleran Ramayana yang merupakan legenda agama Hindu di Tiongkok juga tidak terbukti karena agama Hindu tidak pernah menyebar ke Tiongkok seperti halnya di Indonesia. Sun Go Kong juga bukan ciptaan dari Wu sebenarnya, karena di masa sebelumnya, Dinasti Song Selatan, telah ada dikisahkan Sun Go Kong dalam buku  Da Tang San Zang Qu Jing Shi Hua . Bila tetap harus mengatakan Sun adalah Hanoman, maka darimana pula munculnya tokoh Zhu Ba Jie (Ti Pat Khai)? Wu adalah seorang sastrawan dan seorang sastrawan selalu berkarya berdasarkan ilham yang muncul waktu itu. Akhirnya, terserah kepada pribadi masing2 untuk lebih condong ke pendapat mana karena itu merupakan kemerdekaan masing2 individu.
Hanoman dan Sun Go Kong
Tadi waktu makan malam entah kenapa dalam pikiran saya tiba-tiba terlintas masalah kera dan monyet (?). Padahal tidak ada monyet atau kera yang lewat, Juga tidak habis melihat film Sun Go Kong ataupun nonton wayang yang ada adegan Hanomannya.
Terus mengapa pikiran tersebut menjadi istimewa bagi saya untuk di jadikan postingan kali ini? Saya masih ingat jelas saat mengikuti pelajaran biologi di SMA dulu dimana saat itu bu Guru (favorit saya) menerangkan perbedaan antara Kera dan Monyet.
Lho kok .memangnya berbeda? bukankah itu adalah satu makhluk dengan istilah atau penyebutan yang berbeda? (Begitu sanggahan teman ngobrolku ketika kujelaskan bahwa kera dan monyet adalah berbeda). Kera dan monyet ya
sama saja .suaranya juga nguuk-nguuuuk sambil garuk-garuk dan berlompatan di pohon. Saya meyakinkan teman ngobrolku tentang apa yang di jelaskan oleh bu Guru Bilologiku dulu. Begini:
SAAT BERJALAN: Kera berjalan selalu menggunakan kaki, sedangkan tangannya hanya sekedar membantu menyeimbangkan posisi tubuh dan mempercepat saat lari Sudah jelas perbedaan antara fungsi kaki dan tangan. Monyet selalu berjalan maupun berlari dengan keempat kakinya. Artinya tangan (kaki depan) dan kaki belakang berfungsi untuk berjalan dan memegang.
SAAT MEMANJAT: Kera memanjat layaknya manusia memanjat. Tangan untuk berpegangan dan kaki untuk menyangga tubuh saat naik. Monyet ketika naik ke pohon dengan berlompatan layaknya tupai. Tubuhnya jarang menyentuh pohon/ dahan.

SAAT MAKAN: Kera adalah Omnivora artinya ia makan buah maupun binatang seperti semut dan serangga lainnya. Ketika makan ada kecenderungan menggunakan alat sederhana. Dan yang pasti ketika makan hanya menggunakan kedua tangannya. Sedangkan monyet adalah herbivora alias pemakan tumbuhan (buah). Mengupas dan memakan menggunakan  tangan  tapi masih sering dibantu kaki belakang untuk memegang makanan dan mengambil makanan dari tempat tertentu.
SAAT GARUK-GARUK: Yang jelas keduanya tidak selalu sambil nguuukkk nguukkk, hehe   Kera menggunakan tangannya tapi moyet bisa dengan tangan maupun kaki.
YANG UTAMA: Kera tidak berekor sedangkan monyet berekor. Ini yang utama untuk identifikasi.
Setelah kutransfer ilmu Bu Guru favoritku kepada teman ngobrolku malam ini, ia mulai berpikir dan mengiyakan (sambil sedikit garuk-garuk-tapi yang ini nggak mirip, hehe..)
Jadi kesimpulannya adalah ada yang perlu kita renungkan tentang dua tokoh dalan judul postingan ini. Sun Go Kong dan Hanoman selalu disebut-sebut sebagai Kera sakti bahkan ada yang menganggap sebagai Dewa. Kedua tokoh tersebut adalah buah karya sebuah novel termasyur dunia dengan background keyakinan dan budaya yang berbeda. Hanoman lebih dulu hadir dalam kitab (novel) Ramayana jaman Hindu di India sedangkan Sun Go Kong muncul dalam novel klasik Tiongkok  Shi You Ji   Perjalanan ke Barat  karya Wu Cheng-en pada masa Dinasti Ming yang berlatar ajaran Buddha.
Namun kedua tokoh sakti yang di sebut kera tersebut ternyata digambarkan berekor panjang. Jadi, yang benar kera sakti apa monyet sakti ya?

The Forbidden Kingdom, film bergenre kung fu sudah diputar di bioskop-bioskop Indonesia. Film ini dibintangi Jet Li dan Jackie Chan, dua artist jagoan kung fu yang sudah malang melintang dalam film-film kung fu dan juga tak asing lagi bagi penggemar film di Indonesia. Pertemuan keduanya dalam satu film tentu memberikan penilaian tersendiri dan merupakan peristiwa yang pantas dicatat.
Film itu sendiri tidak mengangkat penokohan baru tetapi mengangkat tokoh cerita klasik ciptaan Wu Cheng En yang hidup di jaman dinasti Ming abad ke-16: Sun Go Kong, sang Raja Kera yang juga sudah tidak asing lagi bagi rakyat Indonesia. Dongeng ini diambil dari karya klasik Wu Cheng En: Xi You Ji, Perjalanan Ke Barat yang mengisahkan perjalanan ke India mengambil Kitab-Kitab Budha. Tentang perjalanan ke barat ini sendiri di samping karya Wu Chen En yang berupa fiksi ada juga karya lain yang berupa non fiksi yakni Catatan Perjalanan Ke Barat Zaman Tang Raya yang ditulis Tong Sam Cong di zaman Dinasti Tang sekitar abad ke-7.

Di Indonesia sendiri, di samping Kera Sun Go Kong dongeng Wu Cheng En itu, dikenal juga kera lain yang mungkin lebih populer, mendalam dan hidup dalam benak dan fantasi rakyat bahkan mengisi ruang kebatinan rakyat yakni Anoman, Si Kera Putih. Kedua Kera ini dikenal sebagai pembantu yang setia dalam menumpas keangkara-murkaan. Anoman sendiri pun adalah cerita fiksi dari India yang diambil dari Kitab Ramayana karya Walmiki. Karenanya tak heran beberapa pengamat sastra beranggapan bahwa Sung Go Kong Wu Cheng En ini diinspirasikan oleh Anoman Walmiki mengingat Kitab Ramayana lebih tua
usianya. Namun tentu saja penelitian lebih lanjut diperlukan.
Begitulah Kedua Kera Sakti ini memasuki batin rakyat Indonesia dan diterima sebagai pahlawan-pahlawan penumpas kejahatan. Walau begitu, dikenal juga cerita bahwa Anoman yang berumur panjang itu pun berakhir hidupnya di tanah Jawa pada masa Raja Jayabaya. Anoman gugur ketika melaksanakan tugas dari Raja Jayabaya. Yang mengalahkannya adalah Raja Kaladewa yang merupakan titisan Bathara Kala.
Karenanya penilaian terhadap The Forbidden Kingdom, tak cukup hanya diletakkan pada aspek-aspek teknik film, tetapi juga yang lebih penting memaknai simbol-simbol yang muncul dalam film The Forbidden Kingdom tersebut dalam konteks kekinian.

Kemunculan Sun Go Kong di abad ke-21 dengan cara baru dalam penceritaan baru melalui pemuda Amerika Serikat yang gila cerita-cerita kung fu sendiri sudah menunjukkan kemenangan (baca juga: keagungan Peradaban) Kebudayaan Tiongkok atas Amerika Serikat. Dan memang peradaban Tiongkok lebih tua dari peradaban Amerika Serikat. Dengan cara ini legenda Sun Go Kong tidak mati tapi terus hidup di kalangan pemuda bahkan semakin mendunia d`n terus menginspirasi. Begitulah memang seharusnya memperlakukan cerita klasik atau kuno agar tetap dapat diterima pemuda masa kini. Kalau mempertahankan pakem, tentu saja tak sampai tujuh turunan, cerita itu akan habis bersamaan habisnya usia si empunya cerita itu dan pendukungnya yang tak sanggup memperbaiki diri atau menyesuaikan dalam konteks kekinian. Waktu terus berjalan. Yang tua, pasti digantikan yang muda. Generasi muda sekarang tentu mempunyai selera estetik sendiri karena situasi dan kondisi hidupnya memang berbeda dengan masa lalu. Kita pun punya cerita-cerita kuno yang mungkin baik diceritakan untuk masa sekarang. Misalnya Saridin yang populer di daerah Pati, Blora dan sekitarnya (yang dalam petualangannya, diceritakan mengalahkan Sun Go Kong juga ?) Tinggal bagaimana membangun kemasannya yang bisa mengena di hati generasi sekarang. Dalam soal dimensi waktu yang berbeda pun barangkali pujangga kita pun tak ketinggalan. Lihatlah: bagaimana Anoman Si Kera Putih
yang hidup dalam Kitab Ramayana itu kembali dihidupkan dalam kitab yang berbeda, yakni dalam cerita carangan yang berkontekskan cerita Mahabarata. Sementara di India sendiri, tak ada Anoman dalam Kitab Mahabarata.

Kemunculan film ini memang tepat rasanya. Menghidupkan kembali cerita klasik rakyat Tiongkok sementara Tiongkok sendiri semakin menunjukkan kemajuannnya yang pesat sebagai bangsa. Tahun ini, Tiongkok menjadi tuan rumah untuk pesta akbar perdamaian dunia: Olimpiade, yang bersemboyankan One World One Dream. Kisah perjuangan kemandirian Tiongkok Baru pun dapat diikuti dalam Buku: Zhou Enlai Potret Seorang Intelektual Revolusioner karya Han Suyin terbitan Hasta Mitra.
Tongkat Sakti Sun Go Kong pun mengingatkan pada tongkat-tongkat sakti yang menemani perjalanan pemimpin-pemimpin bangsa. Misalnya Tongkat Nabi Musa yang membimbing perjalanan pembebasan Israel dari Perbudakan Fir aun. Tongkat kepemimpinan ini, di dunia akhirnya di tangan siapa: Amerika Serikat atau Tiongkok? Atau keduanya bisa bekerja sama? Dan bagaimana dengan kita?
Nama Sun Go Kong bagi masyarakat kita sudah tidak asing lagi. Sebuah stasiun televisi swasta pernah menayangkan film serial  Kera Sakti  ini sampai berulang-ulang. Sun Go Kong dikenal karena kesaktiannya melawan segala jenis siluman. Selain dia, tokoh sentral lainnya dalam film ini adalah biksu Tong yang selalu mengendalikannya selama perjalanannya ke Barat mencari kitab suci. Pertanyaannya, apakah tokoh Hsuan-tsang yang dalam cerita serial  Kera Sakti  terkenal sebagai biksu Tong itu benar-benar pernah hidup di Tiongkok? Dari beberapa literatur yang ada menunjukkan bahwa tokoh Hsuan-tsang ini adalah seorang biksu yang ditasbihkan pada umur 13 tahun dan hidup di Tiongkok sekitar tahun 602-664, dikenal juga dengan nama aslinya Chen-I, mendapatkan gelar San-Tsang atau Mu-Ch a-T i-P o (Moksadeva) atau Yuan-tsang (di Jepang dikenal dengan nama Genjo). Beliau tercatat sebagai biksu dan penziarah dari Tiongkok yang terbesar sepanjang sejarah dan hidup pada masa Dinasti Tang (618-907), yang menunggang kuda melakukan perjalanan ke India melewati Himalaya selama 4 tahun perjalanan (dalam usia 23 tahun). Beliau sempat tinggal selama 10 tahun di India untuk mempelajari dan menerjemahkan berbagai kitab Sansekerta Tripitaka ke dalam bahasa China, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 645 dengan membawa pulang 658 teks agama Buddha dan berbagai sutra Mahayana. Karya terjemahannya dan juga tulisan perjalanannya ke Asia Tengah dan India yang penuh dengan data yang akurat merupakan suatu fakta sejarah tak ternilai bagi para sejarawan dan arkeologis saat ini. Nama beliau dapat disejajarkan dengan para sesepuh Mahayana (Tripitaka Master) seperti Mahadeva, Asvaghosa, Nagarjuna, Atisa, Vasubandhu, Bodhidharma, Shanti-Deva, Asanga, Arya-Deva, Tao-An, Kumarajiva, Kobo-Daishi termasuk Buddhaghosa (Theravada). Mengembara ke India Terlahir dalam keluarga cendekiawan turun-temurun yang menganut paham Confucianis di mana atas pengaruh kakaknya yang menyenangi agama Buddha, akhirnya mereka berdua melakukan perjalanan ke Ch ang-an dan kemudian ke Ssu-ch uan (sekarang Szechwan) guna menghindari konflik politik yang terjadi. Semasa berada di Ssu-ch uan, Hsuan-tsang mulai mempelajari filosofi Buddhis tetapi menemukan banyak sekali perbedaan dan kontradiksi dari berbagai kitab yang dibacanya. Karena tidak menemukan jawaban yang memuaskan dari gurunya, akhirnya beliau memutuskan untuk pergi ke India. Hsuan-tsang muda melakukan perjalanan ke utara di Padang Pasir Takla Mak an melewati sumber mata air Turfan, Karashar, Kucha, Tashkent dan Samarkand untuk kemudian memasuki Gerbang Besi Bactria, melewati pegunungan Hindu Kush sampai ke Kapisha, Gandhara, dan Kashmir di sebelah Tenggara India. Dari sana beliau menaiki perahu menjelajahi sepanjang Sungai Gangga sampai ke Mathura, dan mencapai tanah suci agama Buddha di bagian timur Sungai Gangga pada 633. Hsuan-tsang mulai mengunjungi berbagai tempat keramat yang berkaitan dengan kehidupan sang Buddha di sepanjang sungai Timur sampai Barat. Kemudian sebagian besar waktunya dihabiskan di Nalanda (pimpinan universitas saat itu adalah Silabhadra yang bergelar  Mustika Kebenaran ) yang merupakan satu-satunya pusat pengkajian Buddha yang terbesar saat itu (Nagarjuna juga mulai mempelajari Buddha dari sana). Hsuan-tsang muda mempelajari bahasa Sansekerta, filsafat Buddhis dan filsafat India. Sewaktu berada di India, Hsuan-tsang terkenal akan kecendekiawanannya, sehingga raja yang berkuasa di India bagian utara, Raja Harsa menemui secara pribadi untuk memberikan penghargaan kepadanya. Akhirnya dengan bantuan dari Raja Harsa, beliau dapat menyelesaikan tugasnya dan kembali ke Tiongkok (tahun 643) dengan fasilitas yang disediakan oleh Raja berupa 20 ekor kuda yang membawa 527 peti naskah. Kembali ke Tiongkok Hsuan-tsang kembali ke Ch ang-an (ibu kota negara T ang) pada 645 setelah meninggalkan negaranya selama 16 tahun. Beliau disambut dengan meriah di ibu kota dan beberapa hari kemudian di depan khalayak ramai, Raja menawarkan posisi menteri di pemerintahan dengan pertimbangan bahwa Hsuan-tsang mempunyai pengalaman luas di berbagai negara asing. Namun terdorong oleh niatnya yang besar untuk mengabdi dalam Buddha, beliau menolak secara halus penawaran Raja tsb. Hsuan-tsang menghabiskan sisa waktunya dengan menerjemahkan sekitar 657 naskah yang dikemas dalam 520 peti (literatur lain menuturkan 527 peti) yang dibawanya kembali dari India. Beliau menyelesaikan 73 naskah (literatur lain menyebutkan 75 naskah) yang terbagi atas 1,330 bagian, di mana sebagian besar merupakan rujukan utama dalam Tripitaka Mahayana seperti Prajnaparamita Hrdaya Sutra, naskah Yogacara, Madhyamaka dan naskah Vasubandhu yakni Trimsika atau dikenal juga dengan nama Vijnaptimatrasiddhi. Selain itu terdapat juga naskah dari sejumlah sekte lainnya seperti dari Hinayana, Theravada, Vinaya, Mahasanghika dan Risalah, termasuk naskah pengetahuan umum dan naskah tata bahasa. Pokok-pokok Pikirannya Karya Hsuan-tsang lebih berdasarkan filsafat ajaran Yogacara (Vijnanavada/Wei-shih cung) yang dikembangkan oleh Asanga dan Vasabhandhu, di mana bersama dengan muridnya K uei-chi (632-682) mendirikan sekte Wei-shih (Hanya Kesadaran/Vijnana) yang tertuang dalam karya Hsuan-tsang , Ch eng-wei-shih-lun (Treatise on the Establishment of the Doctrine of Consciousness Only) yang menjelaskan bagaimana bisa terdapat suatu dunia emperikal yang umum untuk setiap individu yang memiliki badan dan penyerapan yang berbeda dapat merupakan pembentuk pikiran bersama terhadap suatu tujuan tertentu. Menurut Hsuan-tsang, benih karma universal yang tersimpan dalam gudang kesadaran (alayavijnana) merupakan pembentuk umum dan benih karma tertentu sebagai pembentuk pembeda masing-masing individu. Pokok utama ajaran ini mengatakan bahwa seluruh dunia ini terbentuk karena pikiran. Bentuk-bentuk tampak luar adalah tidak nyata (maya), tidak ada yang nyata diluar pikiran. Pendapat umum tentang adanya bentuk luar hanyalah disebabkan konsepsi yang salah dimana dapat dihilangkan dengan proses meditasi yang menarik kembali semua bentuk luar yang bersifat maya tersebut (semacam vipassana bhavana). Benih karma merupakan pembentuk pancaskandha yang terkumpul dalam gudang kesadaran dimana membentuk pikiran atas keberadaan dunia luar berdasarkan persepsi dan cita. Gudang kesadaran inilah yang harus disucikan dari dualitas subyek-obyek dan keberadaan yang maya dengan menempatkannya pada alam kemurnian yang dapat disamakan dengan kenyataan atau kesamaan yang menunjukkan sifat dasar dari semua benda sesuai apa yang telah ditentukan (tathata). Alam kesadaran inilah yang dicapai oleh para Bodhisattva sebagaimana tercermin dari konsep Trikaya. Perkembangan Ajaran Pokok pikiran ajaran tersebut sempat populer pada masa kehidupan Hsuan-tsang dan K uei-chi , tetapi karena filsafat dan terminologi ajaran tersebut yang kurang dimengerti dan sulit dicerna secara umum, demikian juga bentuk pemahaman yang berkaitan dengan analisa pikiran dan perasaan merupakan suatu hal yang asing bagi tradisi di Tiongkok saat itu, maka dengan meninggalnya Hsuan-tsang dan K uei-chi, sekte ini pun akhirnya mengalami kemerosotan. Pada saat meninggalnya Hsuan-tsang, Raja T ang mengumumkan hari berkabung nasional selama tiga hari guna menghormati segala pengorbanan yang telah dilakukan oleh Hsuan-tsang yang ditunjukkan oleh pengabdiannya yang tanpa pamrih dalam mengembangkan Buddhisme di Tiongkok. Tercatat dalam beberapa literatur bahwa pada masa kehidupan Hsuan-tsang, terdapat seorang biksu Jepang yang bernama Dosho sempat singgah ke Tiongkok pada tahun 653 dan belajar di bawah bimbingan Hsuan-tsang, di mana sesudah menyelesaikan pelajarannya, biksu Dosho kembali ke Jepang untuk mengenalkan doktrin tersebut, dan kemudian menjadi terkenal akan Vihara Gongo. Selama abad ke-7 dan ke-8, sekte ini dikenal dengan nama Hosso (Fa-hsiang) dan merupakan sekte yang paling mempengaruhi semua sekte Buddhis yang ada di Jepang sampai saat ini. Biksu Dosho merupakan biksu pertama di Jepang yang jasadnya dikremasikan secara Buddhis. Selain di Jepang, ajaran Hsuan-tsang juga menyebar ke Korea. Selain melakukan penerjemahan naskah-naskah, Hsuan-tsang juga menulis cerita perjalanannya ke Barat (India) yang diberi judul Ta-T ang Hsi-yu-chi (Catatan Perjalanan ke Barat semasa Dinasti T ang Agung), merupakan suatu catatan dari berbagai negara yang dilewatinya sewaktu melakukan perjalanan ke Barat mengambil kitab suci.

Monday, January 21, 2013

Penggunaan SUMPIT oleh Yonif Raider

Raider Bersumpit

“Senjata sumpit ini memang hebat dan tidak kalah dengan senjata api, pistol ataupun senapan. Oleh karenanya, satuan ini menjadi tertarik mengadopsinya menjadi salah satu peralatan tempur prajurit dan mengkombinasikannya dengan senjata organik militer mereka, Untuk dipergunakan bagi kepentingan tugas.”

Sebagai satuan tempur yang memang dalam kehidupan kesehariannya bergaul dengan senjata mematikan untuk membunuh musuh, maka Yonif 600/Raider yang bermarkas di Kalimantan ini terinspirasi oleh senjata yang biasa dipergunakan oleh Suku Dayak di pedalaman Kalimantan. Senjata Sumpit yang biasa diguakan oleh Suku Dayak ini untuk berburu binatang, dengan menggunakan anak sumpil yang ujungnya diberi racun dari ramuan getah tumbuh-tumbuhan dan bisa binatang buas, dapat menimbulkan efek kematian yang relatif singkat pada sasaran yang disumpitnya.

Realisasinya, pada Pebruari 2003 satuan ini membentuk “Tim Sumpit”, yang
personelnya diambil dari para prajurit batalyon keturunan asli Dayak. Sebulan kemudian,Yonif 600/Raider mendatangkan pelatih dari tokoh Dayak Pedalaman yang terkenal dengan sumpit beracunnya untuk melatih 25 orang prajurit tentang cara penggunaan sumpit dan pembuatan racun yang dipakai untuk anak sumpit.

Memang, sebelum masuk menjadi tentara, kedelapan puluh lima orang prajurit itu sudah terbiasa menggunakan sumpit dalam kehidupan sehari-harinya untuk berburu hewan di hutan. Namun didalam penggunaan ramuan yang dipakai untuk anak sumpit berbeda-beda, karena mereka berasal dari bermacam-macam Suku Dayak. Agar terdapat kesamaan dalam penggunaan ramuan racun anak sumpit, yang menghasilkan racun yang sangat bagus, mematikan dan ccpat rcaksinya, makamercka dibimbing sclama tiga bulan oleh para tokoh Suku Dayak pedalaman Kalimantan itu. Selain itu, mereka juga mendapat pelatihan tentang bagaimana cara membawa dan teknik menggunakan senjata sumpit di medan pertempuran, mengingat mereka juga harus tetap membawa perlengkapan perorangan, termasuk ransel dan sejata api.

Setelah latihan selesai, lalu keduapuluhlima orang prajurit itu disebar kekompi-kompi dan pada setiap seminggu sekali mereka memberikan pelatihan kepada rekan-rekannya yang lain, agar seluruh anggola Yonif 600/ Raider mampu menggunakan sumpit.

Inisiatif dan upaya keras untuk menjadikan Sumpit sebagai senjata prajurit ini ternyata tidaklah sia-sia. Terbukti saat Yonif 600/ Raider bertugas ke Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) 2004¬2005, personel Tim Sumpit yang disebar ke dalam tiap-tiap tim, dengan pembagian di setiap tim terdapat tiga hingga empat orang prajurit berkemampuan menggunakan senjata Sumpit, berhasil membunuh empat orang. pemberontak GAM, sekaligus menyila empat pucuk senjata AK-47 yang mereka pakai.

Ceritanya, pada Pebruari 2004 saat “Tim Anas-1 Kipan A Yonif 600/Raider yang dipirnpin Lettu Inf Mulyadi melaksanakan penyergapan di Kampung Blang Sukun, Pidie. Ketika itu, tim dibagi menjadi empat kelompok, salah sulu tim dipimpin Oleh Kopda Impung Upai, salah satu personel “Tim Sumpit, yang jabatan sehari-harinya di satuan adalah sebagai Tamtama Penembak SMR (Senapan Mesin Ringan). Sebelum kelompok lain masuk kedudukan, Kelompok-4 yang dipinpin Kopda Impung Upai, putra asli Dayak kelahiran Datah Bilang, Tenggarong 6 .luli 1977  ini adalah kelompok yang pertama kali masuk kedudukan. Saat akan masuk, terlihat satu orang pos tinjau GAM lengkap dengan senjata AK 47 sedang berjaga-jaga. Agar gerakan tetap rahasia dan kehadiran pasukan tidak diketahui musuh, Kopda Impung Upai lalu melumpuhkan pos tinjau tersebut dengan menggunakan sumpit. Anak sumpit tepat mengenai leher bagian belakang anggota GAM itu. Tidak lebih dari 10 detik, orang itu roboh dengan tidak menimbulkan suara berisik . Senjata lain mereka ambil. Dengan tewasnya pos tinjau GAM tersebut, kelompok lain dari pasukan Yonif 600/Raider dapat masuk kedudukan dengan aman tanpa diketahui GAM dan penyergapanpun dapat dilaksanakan dengan sukses tanpa ada korban dari pihak kawan.

Raider menggunakan sumpit sebagai senjata mematikan untuk menghadapi musuh di dalam penugasan inilah, yang merupakan ciri khas Yonif 600/Raider dan membedakan satuan kami dengan satuan raider lainnya di Indonesia” Danyonif 600/Raider letkol Inf R. Haryono. Penggunaan sumpit memang sangat cocok untuk pasukan raider, yang salah satu semboyannya adalah “senyap dalam bergerak”. Selain untuk menjaga kerahasiaan gerak pasukan,juga untuk “bunuh senyap”. Keberadaan senjata sumpit terasa tepat menggantikan fungsi senjata berperedam, yang Iebih diperuntukkan bagi aksi pertempuran kota atau Pertempuran .larak Dekat (PJD) dan tidak dipergunakan untuk medan-medan penugasan berupa hutan.

Dengan mempelajari kesuksesan penggunaan sumpit di medan tugas, maka sampai sekarang Yonif 600/Raider tetap memelihara kemampuan personelnya dalam menggunakan sumpit dan menjadikan penggunaan sumpit sebagai kualipikasi seluruh personel Yonif 600/Raider, sekaligus melakukan regenerasi personel Tim Sumpit dengan merekrut para prajuril batalyon yang berasal dari etnis Dayak. Suku Dayak mengenal berbagai macam senjata yang biasa digunakan untuk berburu dan berperang pada zaman dahulu atau untuk kegunaan sehari-hari, seperti di ladang. Misalnya sumpitan (sipet), mandau, lonjo (tombak), perisai (telawang), dan taji.

Senjata sumpit berupa buluh dari batang kayu bulat sepanjang 1,9 meter hingga 2,1 meter. Sumpit harus terbuat dari kayu keras seperti kayu ulin, tampang, lanan, berangbungkan, rasak, atau kayu plepek. Diameter sumpit dua hingga tiga sentimeter yang berlubang di bagian tengahnya, dengan diameter lubang sekitar satu sentimeter. Lubang ini untuk memasukkan anak sumpit atau damek. Secara tradisional, kalau ingin tepat sasaran dan kuat bernapas, panjang sumpit harus sesuai dengan tinggi badan orang yang menggunakannya, Bagian yang paling penting dari sumpitan, selain batang sumpit, yaitu pelurunya atau anak sumpitnya yang disebut damek. Ujung anak sumpit runcing, sedang bagian pangkal belakang ada semacam gabus dan sejenis dahan pohon agar anak sumpit melayang saat menuju sasaran.Racun damek oleh etnis Dayak Lundayeh disebut parir. Racun yang sangat mematikan ini merupakan campuran dari berbagai getah pohon, ramuan tumbuhan serta bisa binatang seperti ular dan kalajengking. Selain beracun, kelebihan yang dimiliki senjata ini dibandingkan dengan senjata khas Dayak lainnya, yakni kemampuan mengenai sasaran dalam jarak yang relatif jauh. Jarak efektif bisa mencapai puluhan meter, tergantung kemampuan si penyumpit. Selain itu, senjata ini juga tidak menimbulkan bunyi. Unsur senyap ini sangat penting saat mengincar musuh maupun binatang buruan yang sedang lengah.

(Sumber : Majalah Defender)

Saturday, January 19, 2013

SEJARAH WAYANG KULIT

WAYANG salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.
Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.

Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh panakawan dalam_ pewayangan sengaja diciptakan para budayawan Indonesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk memperkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.

Dalam disertasinya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897), ahli sejarah kebudayaan Belanda Dr. GA.J. Hazeau menunjukkan keyakinannya bahwa wayang merupakan pertunjukan asli Jawa. Pengertian wayang dalam disertasi Dr. Hazeau itu adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir. Dengan demikian, wayang yang dimaksud tentunya adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang.

Asal Usul

 Mengenai asal-usul wayang ini, di dunia ada dua pendapat. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt.

Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain.

Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.

Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pewayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain.

Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indonesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmurnya. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga India, Walmiki. Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya. Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata. Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita asli versi India, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130 - 1160).

Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata "mawayang" dan `aringgit' yang maksudnya adalah pertunjukan wayang.

Mengenai saat kelahiran budaya wayang, Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi. Pendapatnya itu didasarkan atas tulisan Robert von Heine-Geldern Ph. D, Prehistoric Research in the Netherland Indie (1945) dan tulisan Prof. K.A.H. Hidding di Ensiklopedia Indonesia halaman 987.

Kata `wayang' diduga berasal dari kata `wewayangan', yang artinya bayangan. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton di balik kelir itu. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Pada masa itu pergelaran wayang hanya diiringi oleh seperangkat gamelan sederhana yang terdiri atas saron, todung (sejenis seruling), dan kemanak. Jenis gamelan lain dan pesinden pada masa itu diduga belum ada.

Untuk lebih menjawakan budaya wayang, sejak awal zaman Kerajaan Majapahit diperkenalkan cerita wayang lain yang tidak berinduk pada Kitab Ramayana dan Mahabarata. Sejak saat itulah ceritacerita Panji; yakni cerita tentang leluhur raja-raja Majapahit, mulai diperkenalkan sebagai salah satu bentuk wayang yang lain. Cerita Panji ini kemudian lebih banyak digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber. Tradisi menjawakan cerita wayang juga diteruskan oleh beberapa ulama Islam, di antaranya oleh para Wali Sanga. Mereka mulai mewayangkan kisah para raja Majapahit, di antaranya cerita Damarwulan.

Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga memberi pengaruh besar pada budaya wayang, terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu. Pada awal abad ke-15, yakni zaman Kerajaan Demak, mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang disebut blencong pada pergelaran Wayang Kulit.

Sejak zaman Kartasura, penggubahan cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan mahabarata makin jauh dari aslinya. Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam. Sisilah itu terus berlanjut hingga sampai pada raja-raja di Pulau Jawa. Dan selanjutnya, mulai dikenal pula adanya cerita wayang pakem. yang sesuai standar cerita, dan cerita wayang carangan yang diluar garis standar. Selain itu masih ada lagi yang disebut lakon sempalan, yang sudah terlalu jauh keluar dari cerita pakem.

Memang, karena begitu kuatnya seni wayang berakar dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga terjadilah beberapa kerancuan antara cerita wayang, legenda, dan sejarah. Jika orang India beranggapan bahwa kisah Mahabarata serta Ramayana benar-benar terjadi di negerinya, orang Jawa pun menganggap kisah pewayangan benar-benar pernah terjadi di pulau Jawa.

Dan di wilayah Kulonprogo sendiri wayang masih sangatlah diminati oleh semua kalangan. Bukan hanya oleh orang tua saja, tapi juga anak remaja bahkan anak kecil juga telah biasa melihat pertunjukan wayang. Disamping itu wayang juga biasa di gunakan dalam acara-acara tertentu di daerah kulonprogo ini, baik di wilayah kota Wates ataupun di daerah pelosok di Kulonprogo.

SOURCE: http://senibudaya-indonesia.blogspot.com/2012/05/sejarah-wayang-kulit.html

Thursday, January 17, 2013

The Concept of Aji (agi) in Kanuragan and Tenaga Dalam

The Concept of Aji (agi) in Kanuragan and Tenaga Dalam

Kanuragan is more akin to sorcery,  where one invokes the aid of spirits, gods, ghost, spirits of dead people, ancestors, jins etc.,  to protect oneself, cure illnesses, cast spells and so forth.  Kanuragan invariably involves ritual initiation in which one acquires an aji which is a kind of power, knowledge and skill,  that the master or priest or shaman transmits.  This aji is like a spiritual gift.  When a student has received an aji,  he/she has received a particular power to perform a particular task, or to understand certain things, etc.  This aji is inherited from a long line of masters,  and is passed down to the next recipient.  Ajis can be quite specific and has specific characteristics,  for example, invulnerability to weapons or impact blows to the body,  having exceptional strength,  curing a particular type of disease,  casting out black spells,  telepathy,  clairvoyance, self-protection, protecting others, empowering objects, astral travel, helping others, entry to spiritual dimensions, meditation etc etc etc.

The aji has an existence on its own.  It is transmited from person to person,  or it sustains itself through the world of the spirits and gods (alam gaib – mystical world).  In this way,  the aji does not “die” when its possessor passes away.  In the lower stratum of the secret arts, for example,  in sorcery type of path,  the aji that remains with the person does so because it is connected to the spirit/ghost/jinn that has been invoked to be in close proximity or reside within the person or an object the person carries.  It is said that such a person who has benefited from such lowly ghostly demonic forces will have to “pay back”.  These people will die a horrific death,  for example,  having a long torturous death,  or,  as I have heard,  in some instances,  having their bodies “eaten up” by unseen forces.  Let this be a warning to those who indulge in sorcery to derive worldly benefit,  or those who cast black magic on others.  In such lowly arts,  the possessor of such spirits/ghosts/jinns should try to get rid of the articles of power, together with the associated aji and spirits/ghosts/jinns.  The assistance of a good master/priest/shaman is required.  Another way is to acquire a student to pass it on (and perform incalculable amount of repentance and purification as well).  Whoever accepts the articles or the aji also acquires the powers and responsibilities associated with it.  So,  watch out what you are learning and inheriting!  Be sure it is from a clean and unblemished source.

In connection with the above,  I again,  issue a stern warning to all readers,  never to indulge in the lower arts such as sorcery etc.  that involve spirits/ghosts/jinns.  Related to this is to request a sorcerer to cast spells on another person,  whether an enemy, business rival, love rival, lover, etc.  Also related to this are love spells and love potions.  Be warned that there are repercussions for these. 

I noted that some ladies acquire certain charms/amulets/gemstones etc for the purpose of making themselves look very attractive to men.  Some of these magical devices can even take the very innocent form of a nice diamond like gemstone that is implanted in the face or breast of the woman.  Be warned:-  do not accept such implants,  and if you have,  get rid of them as soon as you can.

back to the topic of the aji ………………………….

Ajis are also connected to magical incantations and mantras,  otherwise they have no intrinsic power and can not work.  Recitation of the incantation or mantra invokes the deity/spirit/ghost/jinn associated with it and makes the aji come to life.  The rite of initiation of the spirit/ghost/jinn and incantation/mantra is the transference of the associated aji.  That is why all students of magic have to acquire a transmission from another magician,  unless the conferral is direct from the deity/spirit/ghost/jinn,  which sometimes occurs only in exceptional cases (for example,  in Subud, Bambu Kuning, Reiki etc  where the founders receive a major transmission and awakening,  which can be quite dramatic). 

In Malay and Indonesian traditions,  there are certain requisites that are usually followed:-  there is usually a fast, a gift/offering to the master and the deity/spirit/ghost/jinn, an initiation rite, a commitment or advice, and sometimes, a test of the power. 

In most cases,  the apprentice has to fast in order to obtain his aji.  (whether for the initiation,  or,  subsequently,  to enter into a retreat to obtain power).   Some Malay/Indonesian paths begin with the initiation ritual first,  in which the master chants and bless the students and empowers holy water.  The student bathes and drinks the holy water.  Then the essence of path and secret formulas of the path are disclosed.   Then the master may provide the opportunity for the student to test the efficacy of the transmission.  For example,  if the path and aji is for invulnerability to sharp weapons,  the master may ask the student to subject himself to be struck by a blade.  This also tests the apprentice's faith and courage in the master, the path, and the aji. 

In some cases,  the apprentice thanks the master and his family with a ritual meal (selamatan).

Tenaga dalam mean for “Internal Power”.  It is the science of developing the inner vital bioenergy and spiritual energy (prana) as well as entering the spiritual realm via one’s own efforts.  Strictly speaking,  tenaga dalam is different from kanuragan.  However, in Malay and Indonesian traditions,  there is often an overlap between kanuragan and tenaga dalam,  and many practitioners practice both without any discrimination.  This is probably due to the heavy influence of religion and sorcery in such regions.

In tenaga dalam,  transmission is not as ritualized.  In fact,  many tenaga dalam paths involve mostly breathing exercises which look like Indian pranayama being adapted with Qi Gong (Chi Kung) from Chinese martial artist.  Much of tenaga dalam in Malaysia and Indonesia take place under the auspices of Silat.  For example,  Merpati Putih,  which is perhaps has the largest following in tenaga dalam in Indonesia,  is practised by many Silat masters, as well as Karate masters etc,  and even the Indonesian military.  Merpati Putih has different divisions:-  public, military, military elite, presidential and special bodyguards.  Merpati Putih training is said to be hard,  but very effective. 

Beside Merpatih Putih,  other big tenega dalam organisations are Satria Nusantara, Prana Sakti, and Marga Luyu. 

There is a National League of Tenaga Dalam Schools (Ikatan Perguruan Bela diri Tenaga Dalam, or IPBETADA),  founded in Yogyakarta in 1990.  The official protector is the Sultan of Yogyakarta, Hamengkubuwono X.

Tenaga dalam is basically the Indonesian version of Chi Kung and Pranayama.  Just like its counterparts,  it can be practised for health, healing, protection,  and its advanced practices are spiritual practices. 

While the ability to acquire protection from the pure breathing exercises of tenaga dalam may be acquired without much,  if any at all,  of mystical ritual,  it appears to be limited to withstanding physical blows to the body.  This makes it similar to Chinese and Japanese martial arts,  for example,  Wu Chu Chuan and Go Ju Ryu etc.    However,  it is believed (and even in Chinese tradition) that when one has acquired a very strong and formidable internal power,  one’s energy can extend beyond one’s physical body and affect the environment.  Black spells and ghosts are not likely to trouble a person with very strong tenaga dalam.  

In addition,  the advanced aspects of tenaga dalam involve the spiritual path.  In this respects,  the practices are really a higher practice than kanuragan.  The aji or sakti acquired by the tenaga dalam practitioner is stable and enduring,  whereas the power of a sorcerer is limited by his ability and hard practice,  and the reliability of the spirits/ghosts/jinns.  The power (aji) of the tenaga dalam practitioner is natural,  and is given by the grace of God.  It is bright and may startle the spirits/ghost/jinns.  Thus,  a strong tenaga dalam practitioner is likely to be able to neutralise the antics of a sorcerer.  This is why a teacher of Perisai Diri Silat in Bali stated confidently to me:-  “In Perisai Diri,  we say there is no kebal (invulnerability acquired by sorcery).  We have tenaga dalam.  We believe that our tenaga dalam will break any kebal from kanuragan,  so even if there is kebal,  there is no kebal for us in Perisai Diri.”  He said that he had encountered cases of kebal,  but it can be broken easily if you have a strong tenaga dalam.  What he meant was that while kebal may exist,  it can be broken by the tenaga dalam practised in Perisai Diri Silat,  and thus,  it is not effective or a good idea.  Like many Indonesian mystics I have encountered,  he said that kanuragan is a lower level of practice than tenaga dalam. 



Not only is tenaga dalam higher than kanuragan.  With tenaga dalam,  the kebal is natural,  and one does not have to abide by many “pantangan”  (spiritual taboos or prohibitions),  and therefore not subject to the whims of spirits/ghost/jinns,  which can be a hassle sometimes.  Thus,  it is also safer.  It is not a religion,  or connected to a religion (although it can be,  depending on the lineage).  It is breathing exercises that are excellent for health and vitality.  The aji obtained is natural.  The Indonesian mystics I met recommended tenaga dalam because it is very “clean”.  They believe the power is natural within us,  and given by God within us.  This aji needs to be awaken and activated by practice of pranayama and Samadhi and virtuous conduct.  Tenaga dalam is the way to go. 

Pak Sudi of Yellow Bamboo (Bambu Kuning) emphatically told me that aji is not really from outside.  The aji from spirits/ghosts/jinns is their own aji,  not ours.  Why try to accept an external thing?  He emphatically said that all the ajis we need are all within us already.  God already gave us all the aji.  All the aji is within us,  and all the initiation and master did was to bless us and open us up to God’s grace so that we may be cleansed and God can communicate with us and wake our ajis up.  Since our own ajis are from God,  they are good and safe.  We have different ajis (power, skills, abilities, knowledge) and not all ajis will be woken up at the same time.  It all depends on God’s grace.  So,  some practitioners may have healing ajis woken up.  Some have the ability to cast out black magic.  Some have invulnerability.  Some can knock down people from a distance.  Yellow Bamboo is the path to receive God’s grace so that our ajis will be woken up and we can contribute to God’s creation. 

Many spiritual practitioners,  irrespective of paths or lineages,  like to practise in sacred places where they believe spiritual energy (aji-ajian) is strong.  For example:-

* Mount Sumeru and Mount Bromo in east Java.

* Mount Agung in Bali.

* Tombs of the old masters and mystics  etc. 

* Practice places of ancient masters.

* Places sacred to certain deities.

There is rumour of many spiritual practitioners associated with the cult of Nyai Ratu Kidul, the Goddess of the Southern Seas,  who is probably the Indonesian version of the popular Chinese cult of Kuan Yin of the South Seas (Nan Hai Pu To San?).  Maybe this goddess has special affinity with the people of the region or the force of her aji emanates and resonates well in the region.  This is another way to understand what aji means in our South East Asian traditions. 

Written by John Chow,  to be copyrighted

12 November 2004

Tuesday, January 15, 2013

Anda Pecinta Beladiri? Takdir sudah menentukan demikian!!

Tulisan seorang sahabat yang menarik untuk disimak, semoga tulisan sahabat dibawah ini bisa memotifasi dan tidak menyia2kan apa yang sudah diberikan pada kita..

Salam,
HC


Kolonel Dave Grossman, seorang pendidik ilmu militer dalam bukunya "On Combat" (PPCT Publishing, 2007) menyitir sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa ternyata manusia juga memiliki spesialisasi genetik seperti yang dimiliki serangga. Kalau kita melihat bahwa di dunia serangga terdapat penggolongan alami masyarakat menjadi golongan ratu, pejantan, pekerja dan prajurit... hal yang saya berlaku juga di manusia.

Penelitian itu menyebutkan bahwa sekitar 2% dari manusia dilahirkan dengan catatan genetik untuk menjadi golongan prajurit, yaitu orang-orang yang secara alami akan tertarik pada kegiatan yang berbau kekerasan, perang dan segala pernak-perniknya, meskipun tidak seperti serangga xang perbedaan fisik antara pekerja dan prajurit terlihat jelas. Sedikitpun ini bukan kesalahan, ini sama saja seperti orang-orang yang secara alami tertarik pada tari, bahasa, rekayasa (engineering), bisnis dan banyak lagi.

Penelitian ini menyebutkan bahwa orang yang pada dasarnya bukan prajurit, perlu pelatihan mental khusus untuk bisa berperang dengan baik. Di banyak kasus yang diteliti di berbagai perang sejak abad 19, ditemukan bahwa banyak prajurit yang gugur tanpa sempat menembakkan senjatanya, semata-mata karena mereka tidak sanggup membidik dan membunuh sesama manusia. Ini tidak berlaku untuk orang yang terlahir sebagai prajurit... mereka pembunuh efektif yang alami dan bahkan menikmati kegiatan tersebut. Buat mereka, senapan dan pisau adalah benda seni yang indah yang kerap dielus dan disayang, ilmu berkelahi adalah seni yang memiliki nilai yang dalam yang perlu ditekuni sampai ke cakrawala yang tak terbatas. Itulah panggilan jiwa.

Jadi kalau di masa kecil dulu kita beramai-ramai masuk silat, dan ketika teman-teman kita beramai-ramai pula pindah ke bidang lain sementara kita beberapa gelintir masih menikmati berlatih silat... maka itu memang cetak biru di dalam sel-sel yang kita bawa. Tuhan atau alam (tergantung kepercayaan kita) memang sudah menentukan demikian.

"Follow every rainbow till you find your way"

Tinggal pertanyaannya buat kita-kita yang tidak berkarir di dunia prajurit, bagaimana supaya naluri dasar itu menjadi pendukung di kehidupan yang kita jalani... bukan malah jadi penghalang. (Antara)